Sabtu, 27 Juni 2026

Seperti Bara Api dalam Kegelapan

Unsplash 
...

Tadinya, aku berpikir bahwa dirimu seperti bara api yang terang dalam kegelapan tapi bersamamu aku hanya bergaul dengan dusta. 

Pernahkah akan ada sebuah romantisme yang kurindukan? Jawabannya adalah tidak, karena ternyata aku hanya tamu, ah, tamu yang tidak pernah dianggap olehmu. 

Sebegitu menyedihkan perjalanan yang kulalaui, sepertinya yang kau kabur sulit untuk dituai olehku namun apa yang ku tabur dengan gampangnya kau tuai. 

Biarlah tercabut apa yang tidak menjadi bagianku sekalipun aku akan terseok-seok dan hanya terduduk seorang diri dua puluh empat jam di kamar yang busuk tanpa udara.

Sekalipun ternyata engkau tidak seperti bara api yang terang dalam kegelapan dan aku tidak punya daya untuk melawan. Aku tidak akan membuat mulutku berdosa dengan mengucapkan sumpah serapah. 

***

Rantauprapat, 27 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 23 Juni 2026

Kekacauan-kekacauan yang Sama

SHUTERSTSOCK 
...

Untuk perempuan itu, mengapa kau tak berubah, diantara waktu yang luruh, ucapanmu kembali memberikan sejarah yang menyakitkan, satu kata yang membekas di relung hati. Pagi ini dengan sadar dan sengaja kembali mengulang kekacauan-kekacauan yang sama, sadar melihat lengan yang tak berdaya tapi mengapa membiarkan untuk dijatuhkan.

Wahai perempuan yang lahir bulan Agustus apakah masih engkau tidak merdeka tapi jika boleh memilih tidak ada yang pernah mau dan lahir dari perempuan yang hanya mengantar riuh hujan badai dari ucap bibirnya. Algoritma yang berulang-ulang namun satu kata pagi ini merupakan hal yang menjadi artikel utama dari segala ucap yang pernah ada, amazing.

Pagi di hari kedua puluh tiga bulan keenam ada sejarah baru dalam ingatan,  memuakkan. Ini adalah dilema dari kedisabilitasan seseorang, tidak ingin menjatuhkan air mata dari mata telanjang tapi ini terlampau sakit, mungkin selama hampir empat dasawarsa, perempuan senja itu melipat satu kata itu di dalam hatinya yang ternyata menjadi duri dalam ucapan.

Haha, sudah lama tahu bahwa engkau perempuan adalah perempuan yang tidak pernah boleh untuk dibantah tapi pagi ini, baru mendengar dan melihat apa yang terjadi selama hampir hidup empat dasawarsa,  yang tersembunyi dalam kandungan hatimu.  

Pengertian yang kau ajarkan dan selalu kau ucapkan ternyata itu tidak kau hidupi, untuk apa minta maaf setelah rasa sakit yang kau tancapkan di hati atas ketidaksenanganmu terhadap kedisabilitasan seseorang yang terjadinya itu karena dirimu dan seseorang yang kau pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Tidak ada gunanya rasa bersalah, kekacauan-kekacauan yang sama terus berulang. 

Hari kedua puluh tiga pagi tadi, tercengang-cengang mendapati dan mendengar ucapan itu, sesungguhnya menyesal untuk semua setiap yang terjadi, harusnya memang tidak perlu ada, tapi siapa yang berhak menentukan hidup. 

Jika fisik yang dilukai itu akan sembuh seiring waktu tapi jika kata-kata yang diucapkan mau bagaimanapun berdamai dengan diri sendiri akan tetap meninggalkan jejak, mencoba untuk melupa, hahahaha, menertawakan diri sendiri di atas rasa sakit, sama-sama ulat,  sama-sama berenga, sama-sama yang didaur ulang tapi merasa lebih baik dan lebih rohani, sehingga boleh mengucapkan kata-kata sampah jika ketidaksenangan yang terjadi.

***

Rantauprapat, 23 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 22 Juni 2026

Tudung Muka

Pixabay 
...

Tak ingin keluh kesah ini menjadi sejarah pemberontakan.

Ah, seandainya tidak pernah sepertinya ini.

Seandainya yang takkan pernah terjadi.

Ternyata sakit, mendengarkan jawaban-jawaban yang diberikan. 

Sesungguhnya, tidak ada yang akan menerimanya.

Ke timur berjalan, tak ada seorang pun. Juga barat, tak ada siapapun. Ke utara juga demikian. Hingga ke selatan, tak melihat apa-apa, hanya sendirian.

Selalu mengenakan tudung muka, tak terlihat siapapun. 

Padahal sama-sama lahir telanjang, nama kenapa hanya sendiri yang selalu mengenakan tudung muka, basah kuyup oleh hujan lebat dari kata-kata yang dipenuhi kelaliman. Merayakan dari keterbatasan dan ketidakmampuan.

Akan berakhir nihil dan berujung selalu dengan tudung muka?

Terkutuklah, hal-hal yang sering terjadi malah dibiarkan dalam pembiaran. Barangkali sedari awal tidak pernah tumbuh dengan kasih sayang dan selalu dibiarkan dengan tudung muka boleh dikatakan tidak pernah dianggap.

Menderita, penuh dengan cerita akan luka.

Bukan hanya pada malam tak terlihat tapi pada siang hari pun bersembunyi.

Dipatahkan seperti pohon kayu.

Hah, bukan hanya karena gelap gulita tudung muka dikenakan tapi lebih menjaga diri sendiri dengan kewarasan yang masih tersisa sedikit.

Ini catatan di minggu ketiga hari Minggu, hari kedua puluh satu bulan keenam siang hari pukul tiga belas menit tiga puluh satu.

***

Rantauprapat, 21 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 18 Juni 2026

Tertangkap Oleh Jebak dan Tertahan Oleh Jerat

Pixabay
...

Sialan, ingin berhenti memandikan diri dengan orang lain, tapi aku tidak bisa kemana-mana, hanya terduduk di atas sarung tipis, gemetarlah tubuhku atas segala kisah-kisah yang ada, tidak bolehkah aku kesal hati. Aku, perempuan itu dan bocah kecil adalah kisah yang tiada dusta, telah lama tertangkap oleh jebak dan tertahan oleh jerat. Jika suatu hari aku tidak ada lagi, akankah ada yang menangis untukku, benar-benar merasa aku telah pergi dari hidupnya.

Mengapa hari-hariku tidak kuhabiskan dalam kemujuran, hanya berkutat dengan perempuan itu dan bocah kecil, yang sudah menangkap dan membuatku tertahan oleh jerat dan jebak. Mau tidak mau selalu berkutat dengan bencana.

Aku seperti jerami di depan angin. Seperti sekam yang diterbangkan badai,  lemah dan tidak tahu apakah pernah merasakan kenikmatan atau tidak. Duaarrr, self love itu tidak pernah kulakukan hanya demi perempuan itu dan bocah kecil yang seringkali menambah beban dalam hidupku tapi lagi-lagi manusia-manusia itu terlalu berisik. 

Ingin menolak pasrah akan ini, tapi sungguh daya tidak memiliki sedangkan untuk menggerakkan kaki dan tangan saja sulit, tidaklah yang tahu rasanya 24 jam hanya terkurung dan berteman dulu sepi dan huruf-huruf vokal maupun konsumen yang takkan pernah menolak untuk dituliskan. Aku tidak suka keadaan ini, lagi-lagi sial sbab manusia-manusia itu adalah tempat aku bergantung. 

Untuk diriku yang senyumnya telah lama direbut lalu untuk diriku yang sudah lama juga tertahan oleh jerat, tetaplah bertahan untuk hidup di tengah segala keterbatasan dan ketidakmampuan untuk berjalan, masih saja ada orang tua sudah sangat kacau dan menderita ketika orang tua tidak ada, tetaplah memiliki kesadaran untuk alarm menjalani hidup.

Aku yang seperti ini entah siapa yang menjadi pelaku utamanya, dari aku belum mengenal dunia sudah terlalu banyak sentuhan sentuhan liar yang menjelajahi seluruh tubuhku hingga membuat tertangkap oleh jebak pada dosa yang merayu, hingga mati mungkin takkan pernah aku selesai untuk dibaca karena terlalu suram dan sial untuk diceritakan. 

Jalan hidup yang ku lalui terlalu suram, terlalu sakit untuk memiliki teman hidup, aku, perempuan itu dan bocah kecil, ada lah kisah sunyi yang seumur hidup akan aku tanggung, adakah yang ingin berbagi dan menghapus air mataku, itu hanya bullshit karena yang harusnya menjadi sandaranku malah yang menghancurkan aku. Perlahan tadi pasti barangkali aku akan gila dengan segala hal yang harus diselesaikan karena perempuan itu dan bocah kecil dan embel-embel di belakangnya.

Akhirnya, aku akan mati dalam segala keterbatasan, Kesunyian dan kegamangan yang gagu tanpa kenikmatan hidup karena yang selalu di 24 jamku adalah keributan dan keributan, materi dan materi yang ingin dipuaskan dahaganya oleh aku yang tertangkap oleh jebak dan tertahan oleh jerat, aku manusia lemah yang dipercayakan masih hidup hingga hari ini, hari kedelapan belas bulan keenam, namun seperti berenga-berenga yang berkeriapan dan gumpalan-gumpalan tanah di dalam lembah, yang tidak cukup aman untuk hidup seseorang diri yang akhirnya tetap sendirian.

***

Rantauprapat, 18 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 14 Juni 2026

Apakah Hatimu Seperti Empedu yang Pahit?

Pinterest.com 
...

Terkadang kesendirian itu adalah hal yang diperlukan, Tapi kini kesendirian itu adalah teman yang tidak pernah meninggalkan dan menyadarkan bahwa hidup terkadang tidak memberikan pilihan namun tetap harus dipilih.

Apakah hatimu seperti empedu yang pahit? Mampu untuk memberi tapi tidak dilakukan. Begitu beratkah hatimu untuk berbagi. Tidak pernah mau seperti ini untuk dikasihani, ternyata satu bagimu adalah peribahasa.

Di Bawah langit Juni yang dingin, bukan hanya harus mengisi diri dengan kewarasan tapi juga harus mengisi diri dengan kesadaran untuk membatasi diri, dengan segala keadaan mencukupkan diri barangkali kemalangan tidak seperti itu. Menangis dan rasanya sesak tapi jika diteruskan jelas-jelas tidak berguna karena hanya terluka sendirian dan tidak ada yang akan mengerti.

Apakah hatimu seperti empedu yang pahit? 

Haruskah selalu duduk di kamarmu yang sepi tanpa jendela, hanya bercengkrama dengan sunyi dengan huruf-huruf mati, akankah ada yang memberikan cahaya kehidupan atau tidak ada yang peduli sama sekali, apa hanya tanggung jawab sendiri orang tua yang masih ada, kebutuhan rumah yang harus diselesaikan dan tidak ada pemasukan tetap. Apakah karena tidak berkeluarga dan itu menjadi tanggung jawab. 

Bukan pula sebenarnya keberatan tapi bagaimana lagi cara mengeja bahagia jika seperti ini, langkah ini sunyi bahkan tertatih-tatih. Kamu, kamu semuanya sialan. Ini seperti menjadi kidung luka yang dibebankan sendirian. Hari ini di hari keempat belas bulan keenam, sangat memerlukan panduan untuk bertahan hidup. 

Terlalu banyak hama-hama yang harus dihadapi yang tanpa disadari sudah seperti empedu yang pahit. Dua angka lagi menuju empat dasawarsa, masa muda yang dihabiskan hanya untuk menyelesaikan tanggung jawab yang sebenarnya bukan untuk dipikul sendirian, ternyata pusat dunia atau tidak mau tidak mau harus tetap tabah dan tidak gamang apalagi gagu ketika ditinggalkan sendirian. Well, begitulah hidup.

Jadi jika pertanyaannya, apakah hatimu seperti empedu yang pahit? Jawabannya adalah Iya dan tidak tergantung manusianya dan latar belakangnya. Karena bagaimanapun sudah banyak batasan yang dilanggar jadi tetap berjuang menjalani kehidupan di musim yang membingungkan ini.

***

Rantauprapat, 14 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 12 Juni 2026

Di Bawah Langit Juni yang Dingin

Pixabay 
...

Ah, seandainya saudara itu bisa dipilih. Setelah kepergian orang tua, ternyata banyak hama yang seperti bajingan, bahkan baru saja mengatakan aku untuk pergi keluar dari rumah orang tuaku, barangkali engkau mengisi pikiran dengan angin.

Di bawah langit Juni yang dingin, diam-diam menginginkan kehancuranku. Banyak perkataan yang tidak berfaedah, hanya ada percakapan yang tidak berguna. Berkata kasar dan mengumpat kepadaku.  

Bukan aku yang mempersalahkan tapi dari mulutmu sendirilah yang mempersalahkan engkau,  yang harus menjadi tempat sandaran tapi malah tidak sama sekali. Bibirmu lah yang akan menjadi saksi untuk menentang dirimu sendiri, dilahirkan sebagai yang pertama tapi kelakuan minus , nol.

Senyapnya keadilan setelah orang tua tidak ada. Salahkah dan terhinakah aku memilih masa depan, memilih perempuan menjadi pendamping hidupku,  apakah harus aku selalu menjadi sepatu roda berputar pun kemana engkau ingin. Di Bawah Langit Juni yang dingin, terlebih di hari kedua belas bulan keenam keadaan ini sedang tidak baik-baik saja. 

Salahkah ada orang asing yang masuk ke dalam hidupku, ada di tengah-tengah duniaku yang menjadi pilihan masa depanku? engkau mengatakan pilihanku Itu kotoran, sepertinya engkau sudah menggeletar terhadap emas dan rupiah.  Dan ternyata yang dikandung hatimu itu hanya tipu daya.

Suaraku tidak pernah berarti dan tidak pernah terdengar setelah orang tuaku tidak ada, begitu hina aku bagimu. Harusnya rantingku menghijau dan mengandalkan engkau. Tapi aku salah, hari ini engkau memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya, engkau melahirkan kejahatan dan kebinasaan. Seperti pohon anggur yang gugur buahnya, apa yang merangsang engkau untuk menjadi seperti ini? Hartakah, atau kekuasaankah? Kenapa engkau menjadi manusia yang pertama lahir di keluarga ini? tidak pernah menjadi teladan.

Ingin menangkap aku, mengurung aku dalam sangkarmu. Manusia sialan kamu semuanya, ah, seandainya saudara bisa dipilih. Padahal sebenarnya aku bukan tidak perduli. Aku hanya ingin lebih menjaga batasan, karena ada masa di mana, aku hanya butuh diriku sendiri tanpa perlu untuk menjelaskan apapun. Bagaimana masa depanku, apakah itu harus berdasarkan pilihan kamu semuanya. 

Aku hanya ingin memeluk romantisme bersama keluarga pilihanku bukan hanya memeluk kesia-siaan yang sudah lama tertanam dalam diriku, apalagi menanggung penderitaan yang tidak harus aku tanggung. Apalagi karena kamu-kamu semua aku akan mencerai beraikan rumah tanggaku, itu tidak akan menjadi pilihanku. Tidak mau lagi terikat akan omong kosong itu. Di Bawah langit Juni yang dingin, Aku berharap bisa hidup dengan tenang dan tentram bersama keluarga yang kupilih.

***

Rantauprapat, 12 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 10 Juni 2026

Diam! Mengapa Mengejar Jerami yang Kering?

Kulturtava 
...

Masih terus belajar untuk menerima keadaan. Memaknai genggaman kesabaran yang harus terus dipegang, terlalu banyak menghadapi pemimpin gila dalam sejarah hidup. Kenapa harus tersudut dan terdesak, hingga tertekan seorang diri?

Ternyata tidak semudah itu untuk berdiam diri. 

Diam! mengapa mengejar jerami yang kering? Itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Banyak makna yang hilang, terlalu mengatur tanpa mau diatur. Terlalu banyak sepi sunyi yang diseduh, ini bukan hanya sesekali tapi terlampau sering.

Hari-hari terlalu mencekik, pagi hari terasa menjadi malam yang gelap, malam hari seperti tak pernah berlalu, tidak pernah ingin panik dan tidak pernah ingin mengejar jerami yang kering namun yang menjadi realitas penuh tragedi.

Sampai kapan harus di grogoti darah yang tidak perlu dikorbankan, apakah harus terus menerima dan meratapi nasib yang tidak bisa kemana-mana dan bergerak sekalipun. Diam! Berteori gampang tapi tidak jika diaplikasikan. Sesak, ini sudah diambang batas.

Diam. Jika tidak menjadi korban tidak akan pernah merasa, jarak hidup dan mati juga di dunia yang masih dingin. Tidak lagi memiliki gunung batu keluputan. Benar cinta itu tanpa tapi tapi mau sampai kapan mencintai yang sia-sia. Berkorban sendirian dan mencintai sendirian barangkali. 

Ini bukan lagi soal dikuasai kekhawatiran yang berlebihan ini lebih kepada mengapa mengejar jerami yang kering. Tidak ada kenangan yang baik, tidak ada kisah yang paripurna. Ingin berhenti mencintai sebab mau berapa lama lagi akan berada di entah.

Ini adalah pengakuan pendosa yang payah, pendosa yang tidak riap tumbuhnya, boom, terlalu berbahaya dan terlalu kesepian. Berharap tidak lagi berada di dalam gantang di dalam waktu yang lama. Dan tidak lagi mengejar jerami yang kering. Dan keluar dari trauma psikisnya.

***

Rantauprapat, 10 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 03 Juni 2026

Apa yang Akan Kamu Lakukan?

Kulturtava 
...

Kenapa tidak setiap orang punya ambang batas? Apa yang harus kamulakukan, apa harus selalu diam jika diolok-olok? Sesak dada ini, kepala ini penuh. Sudah berusaha untuk menyediakan hati tapi lagi-lagi itu tidak berarti. Kenapa kamu harus selalu patah hati? Harus selalu merayakan ketidakberdayaanmu.

Adakah yang akan mengerti? Kenapa membiarkan dirimu sendiri sesak? jiwamu letih, tidak ada yang mencari sejarah hati dan kehidupan untuk kau. Apa yang akan kau lakukan. Ah, kiranya tenang teduh tapi tidak sama sekali. Terlampau banyak kebenaran yang tak pernah berani kau sentuh, kamu terlalu menjadi pengecut dan pecundang. Membiarkan dirimu sendiri dimakan oleh gegat dan menjadi kain lapuk.

Apa yang akan kamu lakukan? Tidak ada yang sudah mendengarkan suaramu, bahkan gelombang-gelombang laut pun terselubung dengan malu untuk mengacuhkan. Diam-diam dikasih yang terlupa, kau tak mampu untuk mencoba berpura. Sebab banyak cerita-cerita yang tidak penting dengan segala keangkuhannya, kini dunia sudah terbalik dan payah!

Hidup itu berat dan selucu itu bukan. Mulutmu tertawa dan bersorak-sorak tapi di dalam perih pedih, kepalamu terlalu berisik dengan segala tanggung jawab yang tidak harus diselesaikan namun menjadi bebanmu. Kamu terlalu payah. Musimmu terlalu kemarau dan kering, kamu sedang menanti-nanti musim dingin dan akankah itu terjadi? tak ada yang tahu.

Apa yang akan kamu lakukan, tak ada yang tersisa, tak ada yang ingin berbagi langit malam denganmu. Malangnya kamu sudah tersesat dan tidak ada rumah tempatmu pulang apalagi yang menjadikanmu rumah untuk pulang. Apa yang akan kamu lakukan? Jika kamu hanya dianggap air mata dan bunyi yang tak bersuara.

***

Rantauprapat, 03 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 01 Juni 2026

Seperti Kain yang Akan Dimakan Gegat

Pixabay 
...

Merindukan Hening yang Terlupa. Tak ada tangan yang tergenggam, terbakar oleh kecemasan yang disengaja. Banyak jalan yang hilang, tidak memilih kata-kata yang terucap. Tidak bisa membantah.

Bagaimana dapat membantah? Terlalu semena-mena, hanya memperbanyak luka. Tlah lama dibumihanguskan, seperti malam yang kehilangan rembulan, bumi yang menggigil. Terlalu berisik dengan ketakutan.

Seolah-olah tidak pernah ada, tidak pernah penting, padahal seharusnya menjadi yang dipertahankan, kini merindukan hening yang di bumihanguskan, menghembuskan nafas sudah terasa sulit.

Ah, kenapa harus terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Kenapa harus dicuri hening dan sengaja memberi keributan dalam diam dan tatapan. Membuat meraba-raba dalam diam di kegelapan yang tidak ada terangnya.

Apakah harus menjadi orang yang layu rapuh seperti kayu lapuk? Dan masih merindukan hening yang terlupa, pada suatu pagi dan pada suatu malam yang lain mencoba melepaskan walau sulit. Tidak mau seperti kain yang akan dimakan gegat!

Apalagi karena diri sendiri membiarkan jiwa berduka cita dan menjadi hina.

***

Rantauprapat, 01 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Satu Juni, Sejarah Hati dan Kehidupan

Foto pribadi dengan bantuan meta Al 
...

Pria itu dilahirkan tepat pada bulan Juni Di tanggal pertama, menjadi sejarah hati yang akan terus dikenang, pria dengan segala sejarahnya, dengan segala hitam putihnya. 

Banyak pertentangan memang, ketidaknyamanan, kepahitan yang pernah ada dan luka yang ditorehkan tapi di atas itu semua, bersyukur masih ada pria itu di dalam hidup.

Hari ini, usia pria itu tidak lagi muda genap sudah enam puluh empat tahun, dan sadar terhadap hari ini belum tentu terus ada dan akan ada, sehingga cerita-cerita yang masih ada akan menjadi kenangan dan sejarah di dalam akal dan pikiran.

Terhadap pria itu pernah banyak pertanyaan-pertanyaan bodoh dan kekecewaan kekecewaan yang itu-itu saja, sungguh akan menyesal jika tidak pernah memberi maaf kepada pria itu. Pernah dan seringkali ada kesedihan yang diam-diam sebab pula pria itu, ada ketidak sabaran.

Namun masih ada hari ini itu adalah hal yang baik, menjadi sejarah hati di bulan Juni. Pria itu adalah seseorang yang ku panggil bapak, selamat ulang tahun bapak, di usia senjamu tetaplah sehat. Ada cinta dari kami anak-anakmu, dalam cinta dalam satu Juni. 

Jangan menyerah untuk terus berharap yang baik untuk anak-anakmu, barangkali benar kau adalah pria dengan samudra di kepalamu, tidak terjangkau dan terselami oleh kami tapi kami tahu, kau adalah seorang bapak yang berjuang dari a sampai z, menuju hancur sampai berkeping-keping untuk kebaikan anak-anakmu.

Satu Juni, hari di mana sejarah hati dan kehidupan tidak akan pernah terlupakan, selamat ulang tahun untuk bapak kami dan terima kasih untuk keanehanmu sebagai seorang bapak yang tetap teguh dalam menjalani sandiwara kehidupan.

***

Rantauprapat, 01 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 30 Mei 2026

Ah, Kiranya Terkabul Keinginanku

Kulturtava 
 ...

Adakah masa depan sehingga aku harus bersabar terhadapmu? 

Melalaikan ucapan-ucapan yang semena dari mulutmu.

Bagaimana jikalau aku belum berdamai dengan diri sendiri, mengumpat terhadapmu. Menginginkan hal-hal yang membumihanguskan.

Ah, kiranya terkabul keinginanku.

Bisa saja aku berubah menyesal.


Malam tadi, aku tidak bisa melompat-lompat kegirangan sbab lisanmu. Malamku lunglai, runtuh, tidak baik-baik saja, apakah kekuatanku seperti kekuatan batu, sbab itu perkataanmu tergesa-gesa untuk menjatuhkanku.

Apakah kalimatku sudah menunjukkan kecurangan sehingga langit-langit mulutmu begitu melukai?


Ah, kiranya terkabul keinginanku.


Akankah kepadamu akan pula dijatuhkan malam-malam yang penuh kesusahan?

Aku masih berusaha untuk tidak dicekam gelisah hingga dapat mengistirahatkan bola mata telanjang ini. 

Dalam kesedihan hati, masih mencoba merayu Tuhan untuk memperoleh kekuatan untuk tidak mengeluh.


Sungguh, aku tahu, tidak boleh berkeras dan malah melakukan kesalahan dan ada di kegelapan, terhuyung-huyung dan gemetar dibalik keinginanku yang implusif.


***

Rantauprapat, 30 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 25 Mei 2026

Kebenaran yang Tak Berani untuk Disentuh

Pexels.com 
...

Langkah sunyi malam ini, terdiam dan tersadar. Mencoba merayu Tuhan untuk merasa tenang teduh. Ada kebenaran yang tak pernah berani untuk disentuh, mempertanyakan pertanyaan yang tak akan menemukan jawaban. Betapa miris ada di posisi saat ini. 

Sampai kapan cerita ini akan selesai. Ini kejujuran yang kasar tapi sungguh lama tidak tahan, pada siapa lagi berkata dan berkeluh kesah, jenuh harus selalu menjadi pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya. Pulihlah pulih, hati yang tidak tenang teduh. Pada hari kedua puluh lima bulan kelima, ada godaan jahat yang ingin menjatuhkan, seperti pantomim iblis dan mengeluarkan taringnya dengan gerakan dan wajah menakutkan.

Ada kebenaran yang tak pernah berani untuk disentuh, kebenaran yang menyatakan bahwa, tidak semua membutuhkan jalan pulang dan tidak semua membutuhkan rumah. Padahal kenyataan ada di depan mata, ada tanggung jawab yang harus dipikul. bersama. Ada rasa tidak cukuplah atau rasanya itu bukan urusanku lah. Wow, boom. Ada ledakan yang sengaja dijatuhkan.

Ada jiwa yang lelah dan ada pertanyaan mengapa engkau lelah hai jiwaku, namun pertanyaan itu sulit untuk terjawab. Ada beban emosional yang sulit untuk dideskripsikan seperti bunga liar yang tidak tentu arah. Haruskah mengulang kesalahan yang sama.

Kenapa tidak bertaut dengan keindahan dalam kebersamaan, apa merasa lebih mampu dan lebih bisa? Ini lebih dari seperti saling diam namun sayang, ini adalah pembiaran yang jahat, seperti pantomim si iblis. Menciptakan sejarah yang sulit untuk terbaca, sejarah yang suram dan penuh kegelapan. Ini soal hati yang kehilangan tenang teduh karena banyak hati yang menggerogoti dan menjatuhkan, melakukan pembiaran untuk seorang diri, malam ini dan malam-malam selanjutnya masih merayu Tuhan untuk memperoleh kekuatan menjalani hidup, karena memang banyak kebenaran yang tidak pernah berani untuk disentuh.

***

Rantauprapat, 25 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 21 Mei 2026

Mengulang Kesalahan yang Sama

Kulturtava 
...

Perempuan itu masih di sini, menari-nari dalam diam dan kebodohan. Seolah berhasil melakukan pembunuhan dalam keangkuhan. Mengulang kesalahan yang sama, mau sampai kapan seperti itu. Menjadi pemegang kendali dalam rupiah dan tidak menganggap apa yang menjadi tanggung jawab tidak tanggung jawab perempuan itu.

Yang disangka-sangka dan dikira ketika perempuan itu datang membawa cahaya pengharapan, malam menjadi bara api di kegelapan.

Kenapa tidak memberikan damai malah tenggelam dan menari-nari dalam kehancuran, parahnya menjadi duka dan luka yang liar. Ingin menutup mata dan menutup telinga serta memejamkan mata untuk tidak melakukan percakapan dengan perempuan itu, tapi bagaimanapun juga banyak hal yang dipikirkan. Dan saat ini masih memilih jalan itu berpura-pura. Harus melatih diri untuk kecewa secukupnya terhadap perempuan itu.

Ketika yang diharap tidak menjadi air mata memperlihatkan fakta sebaliknya, apakah itu dinamika hidup? Ya, begitulah hidup. Namun tidak harus selalu menjatuhkan air mata kepada pembuat air mata yang akan masih tetap ada di dalam hidup. Pergilah dengan kesadaranmu. Entah mengapa, harus selalu bersinggungan dengan perempuan itu dan entah sampai kapan. Ketika perempuan itu masih melakukan kesalahan yang sama, masih terus belajar untuk kecewa secukupnya.

Terhadap perempuan itu, lebih baik menahan diri dan tidak bersuara karena jika bersuara pun yang ada malah menimbulkan rasa sakit dan itu masih terjadi sampai pagi ini. Apakah cinta akan tetap luruh terhadap perempuan itu, berharap tidak namun entahlah. Karena hati ini kadang tidak hati-hati. Sudah tahu akan diberikan badai tapi hati ini masih tidak terkontrol dan kadang kala sungguh menjengkelkan.

Bullshit untuk perempuan itu dan juga untuk hati ini yang kadang tidak hati-hati.

***

Rantauprapat, 21 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 20 Mei 2026

Lagi-lagi Perempuan Itu, Mencoba untuk Berpura

Foto pribadi 
...

Bulan belum berganti ke bulan yang baru, namun kisah dengan perempuan itu selalu bertambah ke memori yang gelap yang seram. Tidak ada rasa bahagia, sebaiknya memang menjauh dan menjadi asing seasing-asingnya. Patah hati mendengar dan melihat suara dan tingkah perempuan itu. Perempuan itu berkata "mamakmu" itu. Wow, kenapa ada keputusan kemarin untuk menerima perempuan itu kembali.

Bukankah jika perempuan itu tidak bisa menjadi berkat, setidaknya tidak menjadi batu sandungan. 

Perempuan itu pergi ke rumah luka namun pulang dengan masih membawa luka itu sudah seharusnya pergi kembali dengan luka-luka yang ada jangan lagi meninggalkan luka sehingga timbul bara api yang menjadi durhaka. Bagaimana mampu mencoba untuk berpura karena sudah terlalu sakit. Seharusnya tidak pernah membaca perempuan itu.

Sudah satu tahun kembali tapi yang ada hanya mengecap narasi sejarah dari kegagalan yang masih dipertahankan, lantas untuk apa kembali. Diberikan wadah untuk berubah ternyata tidak sama sekali, nggak mampu mencoba untuk berpura menghadapi segala drama perempuan itu. Karena yang lebih dulu berpura adalah perempuan itu dengan segala motivasi yang dipunya.

Lagi-lagi perempuan itu, satu tahun ke belakang hanya menerka-nerka hatimu, namun pagi tadi beberapa jam yang lalu hatimu tidak pernah berirama dengan hati yang sudah memberikan wadah untukmu berubah, yang ada hanya keterpaksaan dan kepentingan pribadimu. Semoga apa yang perempuan itu tabur tidak kembali dituai melalui keturunan yang sudah dimiliki.

Melalui cerita perempuan yang tidak penting itu, aku juga belajar untuk menahan diri dan menahan ucapan dan juga tidak mengumpat kepada seseorang yang harusnya tidak menerima itu. Dan setelah pagi ini, masih berulang kali dalam banyak tahun jika masih bernafas di muka bumi akan bertemu perempuan itu, aku akan merayu hati dan kewarasanku untuk melakukan percakapan dengan perempuan itu, di sela-sela jeda akan ketidaksanggupan dan kelelahan.

***

Rantauprapat, 20 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 16 Mei 2026

Dalam Diam di Kasih yang Terlupa

Pexels.com 
...

Sial, haruskah selalu sial. Karena hanya kata itu yang terpikir dalam keadaan yang seperti ini, *sial*. Sesak nafas dan sulit mengalami damai sejahtera. Dalam diam dikasih yang terlupa hanya ada keegoan dan amarah. 

Seseorang yang harus sesungguhnya menjadi tempat pulang dan menjadi rumah malah menjadi kesialan, merebut apa yang tidak seharusnya direbut, menghancurkan kemurnian dan kejiwaan. Jangan menangis seseorang berkata demikian tapi bagaimana mungkin tidak menangis diperlakukan tidak adil.

Luka lama bukan makin pudar tapi makin menganga. Dimanfaatkan, sempit sungguh tidak ikhlas untuk memaafkan barangkali terpaksa namun melupakan sama sekali tidak. Hari keenam belas bulan kelima, seperti mati dilumat kehancuran.

Dalam diam dikasih yang terlupa ingin rasanya menangis, merasa bersalah tapi harus menjadi batu untuk tidak menyesali apapun. Walau tidak ada bahagia di relung hati, bunga-bunga kebersamaan pun berlalu karena kebenaran siklus dalam kehidupan, sungguh menyakitkan.  Kejadian hari ini membuat kembali teringat akan serpihan dan sentuhan kenangan yang suram. 

Cahaya redup, Ini kisah seorang dari manusia-manusia lemah yang berakhir pada disabilitas dan harus mati karena cinta atau tanggung jawab. Karena demi memenuhi kecintaan dan kepuasan dari manusia-manusia lemah yang mau tak mau harus selalu dipenuhi, harus rela sendirian dan menjadi kisah-kisah yang seperti rumah tanpa jendela.

Haha, hancur dan payah sendirian. Dalam diam dikasih yang terluka dan juga terlupa. Entah terjadi apa tidak, Pada suatu hari akan terbebas dari cerita-cerita ini, cerita-cerita yang tidak penting, apakah akan bisa tenang teduh! Itu yang di semogakan barangkali.

***

Rantauprapat, 16 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 14 Mei 2026

Dunia Terbalik, Payah!

Pixabay.com.
...

Masa depan masih terlalu panjang, bersama manusia-manusia lemah yang ada seperti kematian mendekat. Perempuan yang angkuh dengan segala kebodohannya dan kemauan yang menuntut, laki-laki yang enggan bekerja dan merasa selalu harus dimengerti dan diperhatikan. 

Ini cerita yang tidak akan pernah selesai. Ingin melupakan namun sungguh itu mustahil, selama bumi masih ada, bumi masih ada berputar, tidak akan pernah bisa melupa yang ada pura-pura melupa.

Mengapa tenang teduh terasa sangat jauh.  Kenapa sepertinya hanya berpusat pada semua kemauan yang diingini perempuan itu? Sejujurnya muak dan letih.

Tidak ada sedikitpun di hati perempuan itu rasa saling memiliki. Sebaiknya mungkin kau tidak pernah kembali, seharus dan sepatunya namamu dan kehadiranmu adalah dilupakan. Kenapa malah yang seharusnya kau mengerti malah mengerti dirimu. Dunia terbalik, payah!

Hal-hal yang seharusnya kau berikan dan kau mengerti malah kau yang menerima kebaikan dari itu semua. Hey, perempuan itu lebih baik kau enyah. Kenapa harus mati karena tanggung jawab tapi kau malah bersenang-senang dan menikmati hidup dengan foya-foya. Suatu hari entah di hari yang kapan, akankah akan mendapatkan apa yang kau tabur? Seperti dunia terbalik yang sudah kau lakukan.

Siapa yang harus bersikap seperti tuan rumah malah merasa seperti tamu yang harus dilayani, belakangan hanya ada luka yang tersimpan di dalam memori. Kenapa akan berakhir menjadi pembicaraan yang buruk ketika melakukan percakapan dengan perempuan itu.

Bersama perempuan itu entah sampai kapan akan selesai. Seperti berada di musim yang kering seperti daun yang berterbangan tanpa arah, tidak berguna sama sekali.

***

Rantauprapat, 14 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Rabu, 13 Mei 2026

Perempuan Itu dan Keangkuhannya

Kulturtava
...

Benar memang terhadap perempuan itu sudah terbiasa kecewa, sampai hal yang di luar nalar juga sudah terbiasa kecewa. Tapi tetap saja jika dilakukan dengan sengaja itu sangat menyakitkan. Malam hari ini hari ketiga belas bulan kelima, menangis dalam diam karena tidak bisa menyelesaikan tanggung jawab. Sulit untuk menari-nari dalam sukacita dan kedamaian. Dengan perempuan itu belum merdeka sampai dengan malam ini. 

Ada yang mengatakan kecewa secukupnya sehingga tidak timbul rasa sakit yang berlebih, barangkali itu benar tapi untuk malam ini itu sudah di aplikasikan. Entah kepada siapa lagi harus bercerita,  apakah beban ini harus ditanggung seorang diri. Siapa yang akan merangkul kita, perempuan itu hanya sibuk, di bawah matahari segala masalah bertambah jadi rumit dan sukar, tidak ambil pusing.

Dari perempuan itu belajar banyak hal, ternyata tidak semua ibu membutuhkan ibu, kemudian belajar untuk mengakrabi duka dan kesenjangan ekonomi. Sudah menahan diri untuk tidak terlalu dekat tapi tetap saja gagal karena perempuan itu selalu berkata itu tanggung jawabmu. Miris bukan, Karena untuk berdiri dan berjalan saja sulit apalagi mengerjakan hal yang lain sehingga setiap apa yang perempuan itu katakan, sedapat mungkin diam dan berkompromi.

Apakah harus mati karena tanggung jawab atau malah mati karena cinta?

Kenapa harus ada di cerita perempuan itu dan keangkuhannya. Seandainya saja kehidupan bisa dipilih tidak pernah mau berelasi dengan seseorang seperti perempuan itu. Bukan hanya fisik yang terluka dan bukan hanya fisik yang disabilitas namun mental dan jiwa juga hampir menuju disabilitas karena perempuan itu. Seperti tidak semua pertanyaan ada jawabannya mungkin juga seperti itulah, kenapa bisa berelasi dengan perempuan itu tak ada jawabannya.

Ini kisah yang belum tuntas dan cerita yang tidak penting juga karena di dalam cerita ini adalah manusia-manusia lemah yang berisik yang barangkali juga akan mati karena cinta dan tanggung jawab, yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab seutuhnya, demikianlah hidup yang harus dijalani.

***

Rantauprapat, 13 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 10 Mei 2026

Cerita-cerita yang Tidak Penting

Pexels.com 
...

Jika memaksakan diri sepertinya terlalu melelahkan, namun untuk menahan diri pun hanya menyakiti diri sendiri. Apakah harus selalu berkorban dan berkompromi, menciptakan helaian kenangan yang tidak begitu baik. Ini adalah cerita-cerita yang tidak penting namun berisik. 

Ini seperti dosa yang merayu dalam cerita-cerita yang tidak penting, selaksa kenangan yang kehabisan energi dan kesadaran diri. Ternyata tidak ada kata saling, yang ada malah ego yang merajalela. Seperti kidung yang memberikan narasi patah hati. 

Kenapa tidak belajar dari drama-drama lalu, dan beberapa jam lalu adalah kebodohan yang seharusnya tidak terjadi, menjadi kata-kata yang sia-sia, tidak peduli dan hanya membiarkan menjadi angin berlalu. Kepada perempuan itu, kenapa engkau masih seperti itu. Kau adalah prosa yang menyakitkan, huruf-huruf yang mati, puisi yang tidak akan pernah selesai.

Kau seperti menyalakan bara, plot twistnya kau sudah menjadi ibu tapi malah bersikap seperti itu kepada seseorang yang kau panggil ibu. Barangkali cerita-cerita yang tidak penting ini adalah chapter yang tidak akan pernah selesai dan menjadi drama-drama yang gagu dalam hidup. Kepada perempuan itu, berbaliklah jika masih bisa. 

Hidup terlalu singkat untuk berakhir menjadi kolase yang berujung kalah pada padang ilalang penyesalan dan memilih tidur pada musium patah hati yang gagu dan batu.

***

Rantauprapat, 10 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 06 Mei 2026

Hidup Memang Selucu Itu Bukan

Foto pribadi 
...

Pura-pura siap kehilangan ternyata bullshit, lebih baik dari awal yang tidak pernah bersama. Terlalu meresahkan bersama manusia-manusia lemah lagi berisik apalagi bertingkah seperti bajingan.  Ada susah tapi barangkali tidak ada tidak jauh lebih susah tapi kenapa begitu sudah melepaskan. Malah membiarkan tontonan demi tontonan atas keributan demi keributan. Aneh!

Lantas mau berapa lama lagi atau berapa banyak waktu lagi yang diperlukan untuk melihat tontonan ini. Sudah berpuluh tahun hampir mati karena tingkah konyol dari manusia-manusia ini. Seandainya bisa memilih tapi kehidupan ini bukan kita yang punya. Barangkali hidup memang selucu itu bukan, terlalu batuk tidak menghargai makna hidup.

Sesak dada ini, serpihan demi serpihan luka yang diberikan hanya bisa ditahan dan tak bisa bersuara, kenapa harus dikelilingi oleh manusia-manusia seperti ini. Apakah manusia-manusia seperti ini tidak bisa tenang teduh, mungkin juga damai yang diperlihatkan belakangan habis sekedar pura-pura karena berbicara tentang duit dan duit. Menjengkelkan.

Kenapa hidup harus selucu ini, mempermainkan dan memporak-porandakan hati. Tidak ada cinta, memaksakan bersama, memberikan banyak luka, barangkali kesialan memang harus terkurung dengan kamar sempit hampir dua puluh empat jam penuh, melihat dan mendengar segala kebodohan dan kebodohan yang terjadi. Hidup memang selucu itu bukan, teramat lucu hingga tertawa pun tidak bisa.

Ah, entahlah. Sungguh sudah lama berharap, lebih baik manusia-manusia seperti ini di bumi hanguskan tapi tidak tahu apakah yang diharapkan ini benar-benar akan terjadi cepat atau tidak sama sekali. 

***

Rantauprapat, 06 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 04 Mei 2026

Perempuan yang Bersembunyi di Balik Kata-kata

Kulturtava 
...

Berapa lama dan banyak lagi pun waktu untuk menerima luka-luka yang engkau jaga, atas nama janji akan diterima, karena ada luka yang tak dimengerti karena tidak pernah mengalami luka itu. Terkadang, banyak hal-hal yang tidak perlu engkau rasakan pun akhirnya terasa juga padamu. 

Namun yang menyakitkan, engkau lebih banyak bercerita kepada orang lain. Membuka aib dan hal-hal yang tidak perlu kepada khalayak yang tidak perlu tahu sebenarnya. Bingung sebenarnya, bener memang engkau perempuan yang tidak menyerah pada kalah tapi engkau juga perempuan yang bersembunyi di balik kata-kata "itulah kekuranganku".

Pada kebenarannya, bukannya engkau adalah semua rumah, tempat pulang, harusnya begitu namun apakah karena luka-lukamu atau karena apa yang kau sembunyikan, entah ketakutanmu entah juga keangkuhan sebenarnya, rumah bukan menjadi rumah lagi. Dan kini kadang kala engkau menjadi perempuan yang tidak pernah terbaca.

Atas nama janji, akan tetap menghargai dan menerima, walau seringkali juga kepahitan yang diterima darimu. Perempuan yang bersembunyi di balik kata-kata, adalah seseorang yang takkan pernah terlupa dan tergantikan dan lebih kepada penerimaan, sebab serpihan-serpihan hati yang pernah engkau terima bahkan masih engkau terima belum terjangkau oleh akan pikiran. 

Dari bulan pertama hingga kedua belas sepanjang tahun, bukankah selayak dan sepatutnya tidak setiap hal harus diceritakan, karena akan banyak si pahit lidah yang menjadi bumerang dan batu sandungan, kepada perempuan yang masih sampai saat ini bersembunyi di balik kata-kata "inilah kekuranganku" lebih baik menahan diri dan tidak bercerita tentang hal-hal yang tidak perlu untuk dikonsumsi hingga menjadi artikel utama dan menjadi pergunjingan pun akhirnya menjadi luka-luka yang akan engkau jaga.

***

Rantauprapat, 04 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 01 Mei 2026

Perempuan yang Tidak Akan Pernah Terbaca

Unsplash 
...

Menangis, percaya atau tidak perempuan itu mengharapkan kedatangan. Ingin terlihat mandiri dan tangguh tapi karena nihil, di segala keterbatasan belakangan ini, barangkali butuh ekstra lebih untuk menerima perhatian. Perempuan yang tidak akan pernah terbaca, terkadang A terkadang B, melihat dan mendengar keluh kesah, seperti ada di persimpangan hati, menjadi sadar untuk menjaga jarak lebih baik.

Barangkali perempuan itu tidak bisa tidur atau tidak pernah benar-benar tidur, ia merasa terluka, dan berkata apa karena aku miskin, sesak dada mendengar itu. Karena masih aku ada kalian berharga, perempuan itu berkata. Seketika air mata ini mengalir, berharap masih ada kesempatan dan tidak memiliki penyesalan yang akan menghantui seumur hidup.

Perempuan itu adalah perempuan yang tidak akan pernah terbaca. Ia menyimpan cerita, cerita yang tidak seluruhnya diketahui. Luka-luka dan kegetiran hidup. Hari ini perempuan itu seperti ada di tempat angker, padahal seharusnya tidak demikian. Karena perempuan yang tidak terbaca itu adalah artikel pilihan dan seharusnya menjadi artikel utama yang diminati tapi pada kenyataannya itu bohong.

Lebih baik menjauh dan menahan diri.

Di perjalanan perempuan itu, masih belajar hidup dengan segala emosi, seni dan rasa sakit, perempuan yang tidak terbaca itu bukan karena tidak pantas menjadi artikel utama tapi karena banyak hal-hal yang tidak penting dan yang tak perlu menjerat perempuan itu. Dan semoga tidak ada penyesalan sebab beranggapan perempuan itu adalah bagian yang tidak penting.

Dan setelah ini, ingin melihat perempuan itu tersenyum di balik rasa sakit yang ia rasakan. Sebisa dan semampu mungkin, ingin perempuan itu dirayakan. Karena perempuan yang tidak terbaca itu adalah tempat pulang dan kampung halaman, selagi masih ada waktu dan kesempatan. Harus terus mencintai perempuan itu. Dan berusaha tidak lagi menyakiti. 

Ini adalah hujan Mei bagi perempuan itu, yang pasti dan terpenting segala hal tentang perempuan yang tidak terbaca itu adalah tidak pernah biasa-biasa saja. Perempuan yang tidak pernah terbaca itu adalah sebuah alasan untuk terus berjuang dan menikmati hidup dengan segala seni di dalamnya. 

***

Rantauprapat, 01 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 29 April 2026

Pada Suatu Malam

Pixabay.com 
...

Pada suatu malam di hari kedua puluh sembilan bulan keempat, sendirian lebih tepatnya dibiarkan sendirian, barangkali ada rasa malu karena keadaan yang disabilitas, menjadi beban mungkin. Benar sakit, tapi itu adalah pilihan, tidak boleh menuntut untuk mendapat perhatian lebih. Seperti hidup dari kehilangan demi kehilangan yang sengaja dibiarkan terjadi.

Mungkin lebih baik hanya menjadi penjaga di rumah walau itu bukan kewajiban tapi bukankah itu lebih baik, setidaknya masih tetap hidup, jangan bertanya dan jangan mengusik. Ini adalah duka di lingkaran dalam. Iya, ini adalah proses untuk terus menjadi manusia dari manusia-manusia yang berisik lagi merasa wow.

Ini seperti kemarau di musim penghujan. Dan untuk menjadi manusia untuk berserah pada kalah, benar-benar membutuhkan energi lebih. Karena masih saja ada perih yang berhati iblis. Yang katanya berharga sekalipun ternyata tidak sebegitunya. Ini adalah elegi dibalik akhir April. Tidak ada damai sejahtera, tidak pernah bisa berhenti di halaman yang sama.

Pada suatu malam, kisah dari rumah-rumah tanpa jendela kembali terjadi, manusia-manusia yang berisik itu membiarkan sayap-sayap itu patah. Menjadi pencuri kebahagiaan yang hebat, dan untuk menjadi Merdeka terhadap manusia-manusia seperti itu ternyata sulit walau sudah berusaha, pada suatu malam di akhir bulan keempat, adalah kisah sedih dan kesepian.

Selepas malam ini dan habis hari ini, pasti ini akan terjadi lagi, entah besok lusa atau ke depannya, dan terus berusaha lagi berdamai karena kehidupan ini punya pilihannya sendiri-sendiri. Bertemanlah dengan diksi dan bercinta lah dengan aksara, rayakanlah patah hati dengan huruf-huruf yang menari di kepala dan hati. 

Boom, ketika hanya dianggap debu, biarkanlah! Ketika dianggap tidak pernah ada dan dilibatkan, biarlah. Ketika yang disebut rumah tidak menjadi rumah, tidaklah apa-apa. Ini adalah usai yang tidak pernah selesai, berharap pada suatu malam yang lain, rasa sepi dan sunyi ini akan menjadi tempat untuk pulang dan memiliki percakapan yang berenergi.

Dan bukan hanya mengenggam tunggu untuk menuntut perhatian tapi benar-benar mendapat tempat pulangyangnyaman, berharap itu akan terjadi pada suatu malam yang lain.

***

Rantauprapat, 29 April 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Selasa, 28 April 2026

Perempuan yang Tidak Berserah pada Kalah

Pexels.com
...

Banyak konflik dan membuat badai tak terkendali, menyeret untuk kalah. Kekecewaan yang besar seperti sengatan listrik yang merambat ke seluruh tubuh. Kepala perempuan itu terasa mendidih. Seakan-akan bisu, Karena untuk mengeluarkan suara pun tidak mampu lagi karena ketika bersuara pun tidak pernah didengar.

Sudah terlalu banyak prosa demi prosa yang tertulis sebagai pelipur penat. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya untuk berdiri saja tidak mampu, rekam jejak masa lalu adalah kebodohan yang masih bertahan di dalam pikiran. Sudah sangat lama ingin kalah dan berserah pada kalah, dunia seolah tidak pernah menginginkan ada. Namun, jika tidak ada pun yang menginginkan ada akan tetap hidup, sampai masa hidup benar-benar selesai, Lantas kenapa menyusahkan diri sendiri.

Kata-kata dan juga umpatan-umpatan yang ada adalah drama yang takkan pernah usai. Tidak pernah mau sama sekali berada di posisi ini, ada di kerumunan hujan. Perempuan itu selalu disulitkan dengan percakapan-percakapan sial. Perempuan itu hanya mencumbui pagi dan malam dengan sepi dan sunyi. Berusaha terdamai dengan diri sendiri tapi sangat-sangat sulit. 

Perempuan itu pernah membiarkan diri tergelincir pada dosa yang merayu, menggaduhi isi kepala dengan hal-hal yang berisik, berisi kata-kata celaka dan membumihanguskan, kemudian ia sadar itu adalah sesuatu yang tidak benar.

Dan kini, helaian kenangan yang merupakan masa lalu akan menjadi bab demi bab dalam perjalanan hidup. Perempuan itu tidak harus menjadi gagu dalam mengisi wilayah hati dan pikiran apalagi berserah pada kalah. Karena hidup tidak selalu tentang luka. Perempuan itu harusnya menyudahi keliaran-keliaran yang bertandang mengganggu hatinya, keliaran yang memberikan dampak buruk dan mengakibatkan ingin berserah pada kalah. 

Ia mau menjadi perempuan yang tidak berserah pada kalah, walau sulit bukan berarti tidak bisa untuk dilakukan. Seperti puisi, terkadang kehilangan percakapan dan diurai menjadi kata-kata indah, terkadang kembali ditemukan syair-syair cinta yang indah. Ini adalah harapan demi harapan yang diterbitkan dan disemogakan oleh perempuan itu, perempuan yang tidak berserah pada kalah. Karena hidup punya kekejamannya sendiri dan bagaimana cara menjalani hidup dengan berbagai seni yang boleh untuk dipilih. Karena tidak ada sehasta apapun yang bertambah jika membiarkan diri terusik padahal hal-hal yang tidak berguna dalam hidup. Membuang air mata pada yang tidak penting tapi terkadang  begitulah hidup membiarkan diri jatuh, tapi jangan bersalah pada kalah.

***

Rantauprapat, 23 April 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 26 April 2026

Tidak Pernah ada Kata Patah bagi Kita

Kulturtava
...

Ternyata sakit, mendapati orang yang harusnya mengerti bersikap dan berterima kasih tapi melakukan hal yang sebaliknya, apakah tidak merasa kehidupan ini terbatas dan masa waktunya juga ada batas? Benar, kita semua adalah bom waktu. Dan malam ini menjadi sejarah dari cerita hidup tentang seseorang, apakah sudah kehilangan jiwa dan juga kesadaran?

Belum lama seseorang itu kembali, dikira-kira cinta ini akan kembali tumbuh dengan benar tapi nyatanya cinta itu karam, apakah hanya karena uang dan uang dan uang. Begitu takutnya kah, Bukankah seharusnya yang diusahakan adalah mengusahakan segala daya untuk melihat senyuman dari mereka yang masih bisa kita lihat.

Kenapa harus menjadi rumput liar yang tidak akan berguna dan berakhir dengan pembuangan, kenapa harus menjadi kisah-kisah rumah tanpa jendela, bukankah sebaiknya, tidak pernah ada kata patah bagi kita selagi masih ada kesempatan. Untuk apa menyerahkan diri pada keliaran demi keliaran yang menjatuhkan, kita mungkin merasa sakit tapi ada yang jauh lebih sakit dan kita abaikan.

Air mata mengalir begitu saja, melihat dan merasakan segala luka yang pernah kita buat terhadap mereka. Mereka yang tidak pernah patah terhadap kita, sudah menjadi kewajiban dan keharusan bagi kita juga untuk tidak pernah ada kata patah bagi mereka. Hari-hari ini adalah jahat dan apakah kita akan kembali berbuat jahat pada mereka, jawabannya sering sekali berbuat jahat ketika awareness tidak lagi dimiliki,  dan itu adalah kebodohan yang seharusnya tidak boleh lagi diulangi.

***

26 April 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 22 April 2026

Pelipur Penat adalah Berdamai

Kulturtava
...

Ingin berteriak, lari dari keadaan ini, muak. Tak ada yang bermakna. Takut bicara, sungguhlah menjijikkan, keotoriteran perempuan disamarkan dengan kata-kata yang implusif seolah-olah menjadi korban.

Bertahan walaupun sulit dan terpaksa. Kesabaran yang seperti apa lagi, kini kaki dan tangan sudah tidak boleh diungsikan dengan fungsinya, asu!

Jejak yang tersisa malam ini adalah tangis, rasa kerdil hati, andai kaki ini masih bisa berjalan, barangkali sudah lama merasakan tenang teduh dan kesejahteraan, andai saja. Mau berapa lama lagi, harus selalu mengatakan *ia* dan mengerti, tanpa boleh bersuara.

Sungguh penst dan gelisah. Namun, tidak boleh menyerah bukan. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, aduh. Seseorang yang harusnya memahami tapi tidak memahami, runtuh, sendirian. Kepada siapa harus mengadu juga bercerita? Tidak ada. Dan jalan yang harus diterima malam ini adalah berdamai dengan diri sendiri dan keadaan walau rasa ini masih sakit.

Ya, pelipur penat adalah berdamai. Sesungguhnya masih tidak baik-baik saja tapi tetap harus berdamai dengan diri sendiri. Nihil, hari kedua puluh dua bulan keempat adalah romansa hidup yang buruk, berdamai semoga benar-benar bisa berdamai malam ini. Karena untuk berekspresi dengan air mata saja ada ketakutan yang berisik di dalam hati dan pikiran, sesak sekali.

***

Rantauprapat, 22 April 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 15 April 2026

Peri Berhati Iblis

Foto pribadi 
...

Seperti peri tapi bermulut iblis, sial. Apakah harus selalu tentang duit, duit dan duit? Predator berbahaya. Manusia-manusia yang egois. Mengapa lebih nyaman dengan dunia maya daripada dunia nyata? Tidak membersamai dengan layak.

Runtuhnya rumah, runtuhnya kenyamanan.

Kenapa harus menjadi peri berhati iblis? Rusak sudah yang harusnya menjadi tempat pulang, kini hati telah terasa sempit. Sepertinya ke otoriter tak pernah mati. Dan kesepian yang ditiduri menjadi teman, merasakan luka seorang diri, seperti bunga liar yang menyimpan rasa luka dan hanya diam tak ada yang tahu. Menjadi seorang perempuan yang merana, apakah ada yang perduli? Tidak ada satupun sepertinya.

Kebanyakan hanya menjadi peri berhati iblis. Asu!

Takkan ada rindu, tak akan ada cinta. Hanya ada keekuan rumah, terasa hidup jika ada uang, uang dan uang. Hidup seperti apa yang dijalani ini? Hidup yang penuh kesialan, bangsat. Hidup tapi tak terasa hidup. Barangkali sampai mati dan mau menjemput takkan pernah memiliki narasumber dan sejarah hidup yang benar. Meminta mati pun itu bukan hak, tapi menjalani hidup yang seperti ini pun, apakah itu hak apa malah kewajiban?

Siapa yang harus dipertanyakan dan memberikan jawaban. Hidup ini terlalu mengerikan. Hidup hanya untuk memenuhi tanggung jawab yang bukan tanggung jawab pribadi. Tidak punya tanggung jawab sebenarnya tapi harus memenuhi tanggung jawab yang besar, padahal disabilitas ini sungguh memuakkan dan memalukan. Hingga memilih menutup diri dan sendirian.

Kenapa harus ada peri berhati iblis? Harusnya berhenti sedari awal dan tidak mengorbankan banyak manusia-manusia bodoh dan menjadi bodoh kemudian. Kepada siapa ini harus diceritakan. Enyahlah brengsek,  pikiran dan hati terlalu berisik.

***

Rantauprapat, 15 April 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 23 Maret 2026

Katanya Berharga

Kulturtava
...

Ada yang mengatakan perempuan itu berharga, nyatanya tidak sama sekali. Itu hanya perkataan tapi perbuatan sama sekali tidak mengindikasikan hal itu. Yang ada ia selalu sendiri dan terkurung dalam kamar sempit. Semua sibuk dengan dunianya tanpa pernah bertanya bagaimana perasaan perempuan itu.

Apa kabar kepedulian? apakah sudah begitu mahal,  sehingga enggan untuk perduli.

Katanya berharga tapi itu hanya bualan belaka. Tidak semua pertanyaan ada jawabannya seperti pertanyaan kenapa harus perempuan itu yang seperti itu, kenapa ia yang berbeda? Kenapa organ tubuhnya enggan untuk berkompromi dan menjadi lebih sehat.

Rasanya makin bertambah usia hari-hari terlalu semakin sunyi dan sepi, seperti tidak ada nyawa. Ini bukan sekedar prasangka atau rasa sensitifitas, ini lebih kepada kebenaran yang katanya berharga. Andai perempuan itu tidak seperti itu, boleh dikatakan tidak cacat barangkali juga perempuan itu akan menikmati hari-hari, bisa tertawa berlari dan berjalan dengan kakinya. 

Andai, itulah andai jika akan pernah menjadi nyata. Siang ini hari kedua puluh tiga bulan ketiga, kepala perempuan itu terlalu berisik dengan tawa-tawa mereka yang membiarkan ia sendirian di tengah kesendirian. Yang katanya berharga ternyata tidak ada kesetaraan. Barangkali seperti inilah hidup, yang katanya berharga adalah keindahan yang tak pernah terlihat sama sekali.

Yang katanya berharga, itu adalah kisah dari seorang perempuan yang memiliki catatan-catatan kecil dan sepotong hari dalam lipatan waktu dan seringkali ada pada kisah antara tingginya langit dan bumi, tak terjangkau yang tak tersentuh untuk diterima orang lain.

Perempuan itu kecewa dan ada air mata yang secara otomatis membasahi wajah, sepertinya tidak hari yang dilewati tanpa perjuangan untuk berdamai dengan segala luka. Luka itu tidak pernah ia tabur tapi harus ia tuai, mungkin itu juga salah satu seni untuk menikmati hidup. Menabur tanpa menuai barangkali.

***

Rantauprapat, 23 Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 16 Maret 2026

Hey Enam Belas Maret

Unsplash 
...

Ketemu lagi dengan tanggal ini, tanggal di mana dilahirkan. Tak pernah di beri pilihan dan tak pernah memilih lahir di keluarga yang seperti apa, namun ada di semesta ini adalah kisah-kisah dengan rasa syukur yang menggetarkan hati. Walaupun sebenarnya ada rasa pesimis dan juga skeptis terhadap hari-hari, terkadang sudah lama ingin mati, terkadang juga sadar bahwa hidup yang punya itu bukan kita. Lebih sering menyembunyikan luka dari tatapan-tatapan itu.

Hey enam belas Maret, kembali lagi bernostalgia dan hari ini diingatkan untuk bersyukur atas pertambahan usia. Masih dipercayakan sandaran untuk bertahan menjalani sisa hidup. Bersyukur dan berdoa pada pemilik hidup untuk nikmat yang ada. Tidak boleh ada yang terlewat kecuali dengan doa hari ini. Romantisme Maret ada di enam belas Maret, itu sejarah hidup seseorang. Mencintai tanggal lahir, hey enam belas Maret, teruslah berjuang setidaknya dengan segala daya hingga akhir. 

Berharap, memiliki damai sejahtera dan tenang teduh. Cerita-cerita hidup tidak selalu tentang kisah-kisah rumah tanpa jendela, tidak pula selalu tenggelam dalam sendu. Karena tentang rumah memiliki karakter yang masing-masing. Hey enam belas maret, ketika pun hari ini menjadi ruang sunyi untukmu yang dilahirkan hari ini, tidak apa-apa itu adalah perjalanan hidup, tetaplah memiliki kesadaran diri. Siapa yang akan mencatat hari ini kecuali dirimu sendiri, bahkan ketika hari ini adalah tanggal yang terlupakan sekalipun itu pun menjadi kenangan.

Selamat untuk seseorang yang bertambah usia di enam belas Maret hari ini, tetaplah sehat. Hari ini adalah sepotong kisah dari perjalanan seseorang. Karena itu adalah hal yang dirindukan. Sekali lagi, selamat ulang tahun untuk seseorang, untuk kamu perempuan itu. Semoga lampu-lampu dalam akal dan pikiran tidak begitu berisik dengan banyak gangguan.

Nikmati hari ini semoga menjadi sejarah kenangan yang manis.

***

Rantauprapat, Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Jumat, 13 Maret 2026

Berhenti di Halaman yang Sama

Kulturtava 
...

Geli, menggelikan. Kehidupan yang telanjang seakan penuh kejutan. Ternyata tidak berhenti di halaman yang sama. Tidak satu peribahasa, yang satu ada di jalan a dan yang satu lagi ada di jalan z.

Bagaimana mungkin mampu menahan diri?

Janji demi janji yang terucap namun terlupakan, hari ketiga belas bulan ketiga menyadarkan untuk tidak terlalu terusik dengan segala hidup dan tidak mau diusik. Menyakitkan.

Sungguh percakapan tadi adalah penyesalan, karena perjalanan ke depan masih terlalu panjang. Ketika mengatakan masih memiliki saja sudah bersyukur padahal itu semua omong kosong, barangkali sebenarnya ketika sudah tiada dan tidak lagi merasakan kehadiran baru benar-benar menyesal. Melupakan janji, hahhah. Berhenti di halaman yang sama sepertinya tidak demikian. Ini adalah catatan hari ketiga sebelum usia bertambah, tentang kalimat-kalimat panjang yang sepertinya tidak akan pernah selesai hingga maut memisahkan.

Ada di persimpangan dan menjadi perantara itu menyakitkan, mendengar dan melihat itu adalah kesalahan yang harusnya tidak terjadi. Siang hari yang menyebalkan, siang hari yang menjadi huru-hara dan menimbulkan kepala yang berisik. Terlalu memuakkan, sesak. Bagaimana rasanya terkurung dan tidak bisa bergerak kemana-mana. Yang dikira bisa memberikan penerimaan dan bisa berhenti di halaman yang sama ternyata tidak sama sekali. Apakah benar-benar cinta atau benar-benar tulus?

***

Rantauprapat, 13 Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 09 Maret 2026

Ada Apa dengan Malam Ini?

Kulturtava 
...

Hu, boom. Ledakan yang telah lama padam kembali hidup dengan dahsyat. Satu malam dan percakapan yang tidak berenergi membangkitkan trauma. Ada apa dengan malam ini? Sial.

Cerita di balik obrolan yang tidak manis, berharap masih ada tenang teduh. Tetap melangitkan harapan-harapan baik. Bukankah seharusnya lebih baik menahan kata-kata daripadta mengucapkan hal yang sampah.

Ada apa dengan malam ini? Kenapa membiarkan mata itu kembali basah, ada ketakutan dari kekecewaan, kegelisahan yang begitu. Tidak lagi mau terulang kepada kejadian-kejadian yang lalu, terperangkap dalam kisah sedih. Keputusan-keputusan yang dahulu tidak lagi memang bisa diubah namun keputusan-keputusan yang sekarang harus benar-benar pikirkan untuk jangka panjang.

Ada apa dengan malam ini? Ada apa dengan hati? Berharap selepas malam ini, kondisi jauh lebih baik. Tidak ada lagi hujan , tidak ada lagi kemarau yang berkepanjangan. Tidak boleh dan tidak akan membiarkan ini menjadi pertarungan yang tidak berkepanjangan. Kabut lembah di malam kesembilan bulan ketiga, menjadi ruang untuk menahan diri lebih baik dan tidak menjadi batu sandungan. Tidak menjadi sialan yang akan tetap sial.

Barangkali demikian.

***

Rantauprapat, 09 Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 06 Maret 2026

Aku Pernah

Aku Pernah
...

Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat nyaman, aku pernah mengalami kelucuan yang aneh. Pernah pula ingin menjadi senyawa kimia alami yang meredakan ternyata gagal. Sebisa mungkin tidak membiarkan sayap-sayap itu patah, hahahaha, ternyata aku yang berulang-ulang patah.

Pernah membenci, seperti jaringan kanker yang tersebar tanpa terdeteksi, hingga terseok-seok dan menjadi pencuri kebahagiaan yang hebat, lagi-lagi terpuruk dengan liar. Aku adalah gandum yang layu sebelum masak, disabilitas sialan. Adakah disabilitas juga kecacatan, kecacatan yang menawan? Barangkali tidak.

Adakah yang bersedia menjadi tempat aku pulang? Sejauh ini, hanya seperti katak dalam tempurung. Bulan demi bulan adalah bulan yang mengerikan, hari-hari yang basah dan musim yang angkuh. Pernah memilih berdiam diri, lagi-lagi banyak hal yang berisik di kepala,  mengganggu kesejahteraan dan tenang teduh.

Ini bulan di mana aku dilahirkan, entah kelahiran yang pernah diharapkan atau tidak sama sekali, ingin selalu merasa cukup. Cukup yang benar-benar cukup atau cukup dalam arti benar-benar tidak cukup. Ini adalah catatan hati dan kejujuran yang telanjang. Pernah menjadi perempuan yang memakan bola matanya sendiri, mau makan segala gelisah dari mata itu. 

Aku pernah bahkan masih ada dalam lingkaran manusia-manusia lemah lagi berisik.

Sebelum hari keenam belas bulan ketiga, dengan segala keluh kesah aku memilih untuk tidak punah. Sedikitpun cinta yang tersisa dalam diri harus diikuti pengampunan dan belas kasih. Bagaimanapun tidak dibutuhkannya aku, akulah yang membutuhkan. Karena hari ini, esok, lusa, hingga ada di persimpangan usia yang baru di hari keenam belas bulan Maret, berulang-ulang sadar memilih tetap menyayangi. 

Pada suatu hari, aku akan mampu untuk mengakhiri patah hati yang bersemayam dan tenang teduh tanpa dihantui kisah-kisah rumah tanpa jendela, tanpa kebahagian dan penerimaan.

***

Rantauprapat, 06 Maret 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Sabtu, 28 Februari 2026

Elegi di Balik Februari

Kulturtava
...

Ternyata bahagia itu tidak selalu menular, sepertinya itu hanya kepada keberuntungan. Disabilitas atau lebih tepat ditunjukkan oleh kata-kata *cacat*, tidak pernah mau di posisi seperti ini. Hal kecil sekalipun perlu bantuan orang lain, ini adalah elegi dibalik Februari yang katanya romantis.

Kalau boleh memilih lebih baik tidak pernah ada dan dilahirkan, terlebih ketika mendapati perkataan *lelah/capek* karena membantu. Seperti tak pernah nyata dan tak pernah terlihat. Kepala ini sesak, penuh, terhadap keributan-keributan yang juga terdengar. Sial, asu.

Elegi di balik Februari, penuh dengan si pahit lidah. Kehidupan adil yang macam apa yang harus diterima, hanya ada kebinasaan. Kebekuan hati, kebekuan rumah, hanya dijadikan bahan pelengkap, hahhah, bukankah lebih baik di bumi hanguskan.

Ini kisah seorang perempuan dan huruf-huruf mati menjadi teman.  Di ambang malam disertai gerimis akhir bulan itu, merasa hancur tak kala penerimaan yang dibutuhkan benar-benar tidak memberi. Hanya bersama huruf-huruf mati melepaskan kegelisahan dan cerita-cerita konyol yang mengganggu kepala.

Rumah ternyata bukan rumah.

Dan, gerimis malam ini di akhir Februari adalah elegi. Entahlah dan enyalah, cukup sulit merekayasa hati untuk menjadi baik-baik saja.

***

28 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Jumat, 20 Februari 2026

Kelucuan yang Aneh

Foto pribadi
...

Ada apa dengan malam ini? Terlalu hebat perempuan itu berkata, sudah ku jual-jualanmu! Seolah uang itu adalah untuk pribadi. Merasa lucu, lucu yang aneh. Perempuan itu berkata terlalu enak dan marah, karena suaminya direndahkan. Hello, suami seperti apa yang harusnya dibanggakan dia.

Nggak pernah mau dan tak pernah ingin dia kembali. Belum genap dua belas bulan dia kembali, terlalu banyak keributan, ego yang terlalu tinggi dan merasa dibutuhkan. Kenapa harus semua yang seperti ini? menuai, menuai dan menuai namun tidak pernah menabur, semua yang buruk dan menuai semua akibat itu. Ingin marah ingin mengumpat, perempuan itu tadi berkata , apakah semua harus mengerti, sepertinya tidak pernah ada yang mengerti karena tidak pernah ada di posisi yang seperti ini.

Punya kaki tapi tidak bisa digunakan punya tangan tapi tak bisa digunakan. Sekolah tinggi nan jauh tapi hanya jadi pajangan ijazah itu. Andai bisa melangkah, berdiri dan berjalan sudah lama memang tidak pernah ada lagi, hanya duduk tenang diatas kasur yang sungguh tidak membuat nyaman.

Perempuan itu hanya memikirkan perasaan suami, memuakkan. Ini adalah tragedi menuai tanpa menabur, ini adalah kelucuan yang aneh. Ini adalah pola yang berulang, adakah yang pernah mau seperti ini? Sendiri dan sendiri,  semut yang menanggung banyak beban gajah. Ini juga adalah jejak dari kesalahan yang tertimbun, ini adalah kecacatan yang mau tak mau harus dijalani hingga mati.

Ucapan dan pemikiran perempuan itu tadi adalah sampah yang mau tak mau menjadi rekam jejak di perjalanan. Bagaimana nanti jaga jarak, memang seperti itu lebih baik daripada bicara sesukanya dan tidak punya etika. Selepas malam ini akan terlihat akan menjadi batas yang asing atau tidak. 

Hari ini adalah, hari yang paripurna dengan kelucuan yang aneh. Hari kedua puluh bulan kedua, hari yang diisi dengan helaian kenangan yang buruk. Menjadi kata-kata yang tidak bermakna, entahlah. Terlalu takut, gagu dan gamang. Apa benar selalu mengerti karena sepertinya tidak pernah sama sekali, tapi ya sudahlah. Asu, toh juga bukan kita yang punya kehidupan ini. Ingin meminta mati tapi sadar masih banyak dosa, jika diizinkan mati akan seperti apa kehidupan selepas kematian? Terlalu rumit hidup atau mati.

***

Rantauprapat, 20 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 18 Februari 2026

Ketika Rumah Tidak Lagi Menjadi Tempat Nyaman

Foto pribadi
...

Mau sampai kapan seperti ini? Tidak ada rasa saling kalah mengalah. Hanya ada aku aku dan aku, selalu menjadi pusat dari segalanya. Bukankah seharusnya rumah adalah menjadi tempat yang nyaman. Namun lagi-lagi menunjukkan diri dan ke otoriteran.

Kenapa tidak ada batasan diri. Mengapa sulit untuk merasakan kasih sayang, yang ada hanya keributan dan keributan juga keegoan demi keegoan. Mengetuk pintu hati yang sudah berpuluh tahun tapi tak juga terbuka. Mengapa tidak belajar bersyukur dan mencukupkan diri.

Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat nyaman, ke mana lagi pelarian? Ke mana lagi mencari tenang teduh. Kali ini, hati harus lebih hati-hati dan waspada. Marah dan kecewa itu sudah pasti. Bukankah tidak boleh berdosa karena orang lain, sekalipun itu adalah relasi pertama dalam hidup. Belum genap dua bulan menjalani tahun ini, sebegitunya huru-hara yang terjadi karena perkara kecil bahkan sangat kecil namun demi kepuasan ego, segala ucapan keluar bahkan yang sampah sekalipun.

Berdoa satu-satunya jalan keluar untuk menetralkan hati. Karena banyak yang dikira bisa berubah ternyata tidak sama sekali. Sepertinya tidak akan pernah selesai, akankah benar-benar selesai setelah kematian ada dan benar-benar diizinkan oleh Tuhan? Sudah selesai? Entahlah, terlalu sulit mendeskripsikan kehidupan ini.

Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat nyaman, setidaknya harus tetap memiliki awareness dalam diri. Tidak boleh membiarkan diri jatuh dengan kesadaran pada dosa yang merayu. Yang benar berdoalah karena berdoa adalah satu-satunya cara juga untuk mencintai dan mengampuni walau itu sulit tapi bukan mustahil untuk dilakukan.

***

Rantauprapat, 18 Februari 3026

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 17 Februari 2026

Senyawa Kimia Alami yang Meredakan

Foto pribadi
...

Hal-hal kecil yang dijaga untuk cinta tetap hidup ternyata juga menghianati. Tidak menjadi senyawa kimia alami yang meredakan, malah jadi boomerang. Sudah bau tanah, tapi masih menjadi sosok yang kurang perhatian, harus selalu dimengerti, bullshit.

Menuntut tanpa mau dituntut.

Kenapa repot-repot menyusahkan diri. Orang-orang itu saja tidak pernah menganggap ada dan menganggap penting. Ketika yang diharapkan menjadi tempat pulang dan menjadi senyawa kimia yang alami yang meredakan, menyatakan diri sama sekali tidak layak, anggap saja seperti angin, berhembus begitu saja, entah ke mana.

Hey perempuan, mau sampai kapan seperti itu. Minta saja kepada Tuhan supaya seseorang itu mati, dan tidak menjadi bahan kesusahan di hatimu. Begitu saja repot. Bukankah ada dan tidak ada seseorang itu, kau akan sama saja. Seharusnya kau lebih merdeka setelah seseorang itu tidak ada.

Gila bukan, ini kisah singa yang berkuasa dengan semut-semut yang selalu harus tunduk dan taat. Februari katanya bulan romantis, itu tidak berlaku untuk setiap orang barangkali. Karena Februari bisa saja sial, buktinya terjadi malam ini. Hujan sedang turun deras-derasnya ditambah umpatan, pandangan dan cara bicara yang tajam dari perempuan itu.

Senyawa kimia alami yang meredakan, itu hanya tinggal kata-kata. Bahkan air mata saja enggan jatuh malam ini. Antara rasa marah kepala puyeng, fobia masa lalu dan anomali terhadap perempuan itu.

***

Rantauprapat, 17 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Bagaimana Mungkin Membiarkan Sayap-Sayap Itu Patah?

Pxhere.com 
...

Hei otak dan hati sialan, kenapa kamu sekali marah? Karena tindakan dan perkataan hal-hal kecil membuat terluka dengan mudah. Bukankah hidup tidak ada yang seperti jalan tol, lurus tanpa hambatan.

Tapi begitulah hidup, seringkali membiarkan kejadian demi kejadian menjadi gandum yang layu sebelum masak. Namun, tidak boleh terbawa perasaan untuk jatuh ke dalam hal-hal yang tidak seharusnya, jatuh pada dosa yang berharga.

Bukankah lebih banyak kebaikan yang terima daripada rasa sakit, ada hal-hal kecil yang harus dijaga untuk cinta tetap hidup. Bagaimana mungkin membiarkan sayap-sayap itu patah? cinta dari mereka adalah kekuatan, mereka tidak boleh dilupakan. Bagaimana mungkin membiarkan sayap-sayap itu patah? Karena otak kecil yang sering kali kalah, lebih baik merajalela di balik puisi bukan pada kenyataan. Tidak ada kebahagiaan ketika membiarkan diri digerogoti kenakalan karena terbawa perasaan yang naif.

Karena ketika sadar atau tidak sadar membiarkan sayap-sayap itu patah, akan ada sakit hati yang menjadi sebuah alasan untuk tidak memiliki rasa syukur. Lebih baik diam, ketika hati memang sakit. Berhenti jadi mainan perasaan yang tidak benar, kehidupan itu seni dan harmoni yang bisa dipilih menjadi seperti apa berjalan dan berujung.

Lantas, untuk apa memilih membiarkan sayap-sayap itu patah kalau masih bisa untuk tidak dikatakan.

***

Rantauprapat, 17 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 13 Februari 2026

Seperti Jaringan Kanker Tersebar tanpa Terdeteksi

Kulturtava 
...

Rasa sakit ini seperti jaringan kanker tersebar tanpa terdeteksi, sepertinya tidak ada yang pernah mau menjadi beban, seandainya juga tidak cacat tidak akan pernah mau begitu dibantu bahkan ke kamar mandi sekalipun/ urusan-urusan pribadi yang seharusnya orang lain tidak tahu.

Haruskah menyalakan? Keadaan kaki yang sulit bergerak atau jari-jari tangan yang tidak lagi lurus yang bahkan tidak lagi bisa menulis belakangan. Seandainya punya senyawa kimia yang meredakan, hahah. Akankah pada suatu hari bisa lebih bahagia? Kepada siapa harus berkeluh kesah? Tidak ada tempat rumah yang dituju/tidak ada tempat pulang.


Catatan siang ini, tidak ada seni yang bisa menenangkan. Semua kalah pada ucapan dan tatapan itu. Padahal sudah jelas ada kesenjangan keterbatasan, namun tidak ada kalah mengalah dan pengertian. Ternyata tidak semua niat baik dibalas dengan kebaikan.

Mau seberapa banyak lagi, apakah tidak cukup dengan rela kehilangan. Tidak ada juga yang mau membiarkan kotoran tercecer di mana-mana. Karena tidak berhak bertanya, kenapa harus aku yang seperti ini? Menuai tanpa menabur.  Ternyata gandum yang layu sebelum ia masak, sekarang adalah aku.

Kesedihan siang ini adalah badai yang tidak pernah dikira akan datang.  Tadinya berpikir benar-benar ada kaberterimaan. Haruskah semua tentang uang, betapa mengerikannya badai hari ini. Seperti jaringan kanker tersebar tanpa terdeteksi, seperti itulah rasa sakit yang dirasakan. Ada yang mengatakan, pelangi datang sehabis hujan, apakah terjadi dengan kejadian siang ini? tak ada yang tahu jawabnya.

Tidak ada romansa, tidak ada karena kemesraan, tetap harus sendiri dan tidak boleh berisik menebarkan rasa sakit jadi bercintalah dengan huruf-huruf yang menjadi teman karena ia tidak akan menjadi hakim yang memberi tuntutan dan mengotori isi kepala.

***

Rantauprapat, 13 Februari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 09 Februari 2026

Benar-benar Pencuri Kebahagiaan yang Hebat

Foto pribadi 
...

Apa yang sebenarnya dicari? Kesombongan berkedok kasih sayang atau gaya hidup yang hedonis. Hari kesembilan bulan kedua, benar-benar menjadi pencuri kebahagiaan yang hebat. Tapi akan coba memahami, rela kehilangan demi kebahagiaan seseorang.

Ada senyum pagi ini tapi bisa saja itu adalah senyum yang berbohong. Anomali dari tenang teduh. Ada juga neraka yang tersirat namun pagi ini neraka itu menjadi neraka yang indah. Siapa yang peduli? Entahlah.

Walau demikian, kisah pagi ini setidaknya bisa mendapatkan kata terima kasih sudah bersyukur. Katika banyak latar belakang yang terjadi di balik itu, ketakutan akan kematian menyadarkan lebih baik kehilangan dari pada merasakan penyesalan ketika tidak bisa memberikan kebahagiaan.

Benar-benar pencuri kebahagiaan yang hebat, hari ini setidaknya kembali berhasil menghadapi post power syndrome yang sudah lama merajalela. Hari ini masih bisa menggagalkan keegoisan diri, besok belum tentu. Jadi bener lah kalimat yang mengatakan kesusahan sehari cukup untuk sehari.

Cerita pagi ini adalah romantisme yang akan terekam dalam memori, dan tidak ada penyesalan yang terjadi pagi ini.

***

Rantauprapat, 09 Februari 

Lusy Mariana Pasaribu