Sabtu, 31 Oktober 2020

Terdampar dalam Kehampaan Mimpi

Painting by Tijana Dobic
...
Malam ini, aku menyembunyikan diri dari kisah malamku yang kaku. Terhadap malam dan kisah-kisah yang sedu, aku sendiri tidak bisa menyuarakan rasa seutuhnya.

Ada kesepian dan rasa sakit yang kurasakan. Seolah terdampar dalam kehampaan mimpi. Termangu dan diam dalam kegaduhan yang menaiki langit-langit nalarku. Mempersilahkan kemalamangan menangkapku dalam jerat. 

Sering konsonan dari ketidakpastian yang sempurna mengambil alih waktuku. Aku pun kehilangan kepercayaan terhadap diriku sendiri. Dengan mudah keyakinanku diterbangkan badai dan berakhir pada musim kering.

Aku pernah mengejar angin Timur sehari suntuk hanya untuk menikmati hujan, agar desir cintaku tak layu. Namun yang kuterima, aku hanya terdampar dalam kehampaan mimpi. Karena yang menjadi realitaku, aku menidurkan diri dalam sepi dan airmata. 

Aku tergelincir dalam hembusan angin hasrat yang berbahaya. Jatuh pada waktu kebodohanku. Ah, aku akhirnya membiarkan diri terdampar dan menjadi dingin. Memilih menepi bersama kekacauan yang berkuasa dalam diri.

Perlahan, menghambarkan diri pada keinginan-keinginan yang mendera perasaan. Dan tak lagi berteman dengan kehampaan yang membuatku menangis. Perasaan akan mampu mengatakan bahwa diriku tak lagi lesap bersama kehampaan mimpi. Waktu yang cerah tak lagi tersendat menghampiri, dan aku akan bergelayut pada waktu-waktu yang ranum. 

Bukankah, aku tak selalu harus layu dan mengalami kepatahan ketika terdampar dalam kehampaan mimpi.

***
Rantauprapat, 31 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 30 Oktober 2020

Pada Dini Hari Pukul Satu

@kulturtava 
...
Sumatera, pada sebuah malam aku menitipkan banyak rahasia. Pada dini hari pukul satu, aku menjadi saksi sebuah kedzoliman.

Itu semua terjadi karena tak ada cinta dalam diri. Aku bisa menjadi korban, tersangka, dan terdakwa dalam sebuah kasus yang sengaja kuciptakan. Terbuai dalam alunan hasrat. Hingga dengan sesuka dan semena-mena menyimpan rahasia di jiwaku.

Pernah pada dini hari pukul satu, malamku tak lagi terasa indah. Dengan angkuhnya aku melupakan keharusan, pergi berlayar pada berahi dan mencicipi dosa. Berkeliaran dalam kebodohan kemudian terlelap bersama airmata ratapan.  

Pada dini hari pukul satu, aku sering tak menjernihkan hatiku. Mengabaikan rambu peringatan yang terdengar jelas memekik di hatiku. Hingga langit malamku menjadi rumit, karena aku tak mampu mengerti diri sendiri. Layu oleh angin Timur, dan tak mekar saat angin Barat berhembus kencang ke arahku. 

Akhirnya aku dilucuti luka, tenggelam di gulungan keangkuhan diri. Pada dini hari pukul satu, aku sering membiarkan diriku menjadi pembangkang yang liar. Kehambaran yang mengangga memahkotai kepalaku, arakan bunga Anyelir dan Melati tak lagi mengendap di nalarku.

Aku bermain dengan hujan, berjalan di jalan yang tak biasa. Pada dini hari pukul satu, akulah seseorang yang payah. Seseorang yang sering jatuh pada ratapan yang seharusnya tidak kurasakan.

Lantas, akankah aku kembali  menjadi seseorang yang payah di saat dini hari pukul satu? Entahlah. Kuharap tidak demikian.

***
Rantauprapat, 27 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 29 Oktober 2020

Lo Ruhama di Mesopotamia Kehidupan

@kulturtava
...
Perempuan itu menangkap pemandangan yang menurutnya menarik. Ia rela tersesat dan berputar-putar di satu kenyamanan. Berada di padang gurun yang gersang.

Perempuan itu tidak menyayangi lagi kesadaran diri. Tetap saja menggangap hal yang salah sebagai pemandangan yang menarik. Mengabaikan oase yang menghampiri dirinya. Asanya sudah berkarat.

Tidak ada kasih yang perempuan itu hargai, halaman-halaman bukunya sudah berkabut. Di antara sungai- sungai kehidupan yang sudah perempuan itu lalui, ia sering lupa bagaimana cara merasa bahagia.

Saat tengah malam tiba, ia sering membiarkan tumbuh tunas yang salah di daerah hidupnya. Terkadang ia nyaman, saat dirinya ditiup angin Timur yang memberikan kelayuan. Masuk ke wilayah gelap yang membuat ia sendiri gagu. Ia menyelam dengan bebas kepada dahaga yang teramat salah. 

Perempuan itu dirundung pedih hati, ia sengaja melupa kebaikan yang harus ada dalam hidupnya. Ia mengizinkan dirinya menjadi perempuan yang merasakan "Lo Ruhama" di Mesopotamia kehidupan yang ia jalani.  Membesarkan onak di langit semestanya yang kesepian.

Kini, perempuan itu sudah terperangkap dalam lautan kabut yang menyesakkan. Ia menciptakan kekacauan yang besar untuk isi dunianya. Dikerumuni hujan penyesalan dan rasa bersalah, ia sudah menuliskan risalah yang penuh kemarau.

Ia perempuan yang telah memilih berkekasih dengan kebodohan hati. Mengundang luka yang membuat huruf-huruf kesadaran dan kebenaran telah mati di dinding kehidupannya. 

Entah berapa lama lagi perempuan itu menjalani risalah yang membuat ia mengalami rasa dari kata Lo Ruhama di hidup yang dijalaninya.

*Lo Ruhama = Tidak dikasihi
*Mesopotamia = Di antara sungai- sungai 

***
Rantauprapat, 05 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 28 Oktober 2020

Denting Kematian

@kulturtava
...
Denting Kematian

Perempuan itu berlari menerjang hujan, manangkap nada-nada ketakutan. Karena saat itu, tak ada lagi denting-denting merdu yang terdengar. Dia jatuh dalam ratapan, seperti jerami yang diterbangkan badai. Ingin melepaskan diri dari pelukan kesesakan.

Sayap dari langit malam perempuan itu patah, dinaungi alam kelam pekat. Kekecewaan dan kegetiran ada bersamanya. Denting kematian seakan memenuhi hati perempuan itu, jiwanya terlalu rapuh terhadap realita yang harus dia jalani. Tentang kesendirian, ketidakadilan, ketidakpenerimaan dan keraguan yang menyakitkan. 

Kerumpangan pun menghancurkan keteguhan hatinya. Bukankah kesendirian tidak  mengukur sebuah kebahagiaan. Namun, perempuan itu membiarkan dirinya termakan kesendirian yang berujung pada kesepian. Memilu dan hatinya menangis, kenapa dia sulit untuk menerima kenyataan hidup yang dia miliki.

Dia melahirkan kelesah untuk dirinya sendiri. Denting kematian seakan berbisik pada dirinya, karena dia yang membuat itu ada dalam dirinya. Entah berapa lama, perempuan itu akan bergelayut pada ketakutan. Perempuan itu sering terjaga dan bercengkrama dengan malam yang penuh kemalangan. Kesegaran tak lagi merambati jiwanya. Sebenarnya dia terasa kosong, kehilangan kebahagiaan yang berlimpah.

Dia sudah tersesat dalam gemuruh yang menghadirkan denting kematian. Ada sebuah kesedihan yang melayu dalam jiwanya. Perempuan itu membiarkan dirinya berpura-pura tuli dan berpura-pura buta terhadap keadaan hidupnya. 

Dari mana datangnya, suara denting kematian itu? Perempuan itu sebenarnya ingin keluar dari denting kematian itu, namun dia masih gagal hingga hari ini.

***
Rantauprapat, 28 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 27 Oktober 2020

Mawar yang Hidup

www.fatinia.com
...
Di hamparan warnaku,  aku ingin menidurkan kecemburuan yang timbul. Bahkan saat luka pancarkan aromanya pada semesta hatiku, aku ingin aroma itu berguguran bersama hujan yang basah

Aku ingin berada di taman yang menyejukkan, melihat mawar merah yang hidup lagi indah. Saat aku dirundung kesedihan, aku tetap ingin memiliki arah yang benar

Aku mawar yang hidup, sudah terbiasa melihat ketidakadilan hidup. Tapi duri yang ada padaku, akan mewarnai duniaku yang penuh haru biru

Aku ingin membersihkan hatiku dari racun berbisa yang membuatku hambar dan tumpul dari kebahagiaan

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 26 Oktober 2020

Akhir Pekanku yang Indah

@kulturtava
...
Pemberi semangat aku dapatkan, ada kalimat indah yang terbaca olehku. Bau melati di pagi hari, spesialis fiksi yang terberkati. Rasa lelah sepanjang hari ini seketika lesap dari tubuhku, ada rasa senang yang terasa. Aku kembali berbaur dengan keceriaan.

Ketulusan aku dapatkan di penghujung bulan Oktober ini, ketulusan dari teman literasi yang belum pernah bersua dengan nyata. Teman literasi yang pernah memberiku jimat indah, penulis dengan label bintang cinta.

Setidaknya, hari ini menjadi akhir pekanku yang indah. Aku pun menyadari bahwa di ketidakadilan hidup, masih ada hal-hal baik yang bisa diterima. Dan memberi kesadaran, bahwa dunia tidak sekejam yang dikatakan.

Aku akan membawa lagi kesan indah karena jejak yang tertulis. Dan untuk perasaanku malam ini, aku pun memutuskan untuk menuliskannya ke dalam puisi. Pada ruang literasi, teruslah terbang kebaikan. Mengalir memberikan sensasi yang bergelora.

Dalam kehidupan yang hanya sebentar saja dijalani, mari berbagi cerita melalui literasi. Hingga akan ada lagi kebahagiaan yang terasa, dan hal itu bukan hanya terjadi di akhir pekanku namun juga di akhir pekan teman yang lain.

***
Rantauprapat, 26 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 25 Oktober 2020

Tulisanmu Dikritik, Kenapa Harus Terluka dan Marah?

Unsplash.com
...
Untuk apa aku menulis? Aku menulis untuk menuangkan rasa di hatiku, aku menulis untuk melepaskan kesesakan di jiwaku. 

Apa yang kudapat dari menulis? Yang kudapat adalah kebahagiaan jiwa. Kenikmatan tersendiri bisa menyelesaikan tulisan yang sedang kutulis. Dan dominan yang kutulis pastilah artikel fiksi. Khususnya puisi. Walau puisiku bukanlah puisi yang menakjubkan. Aku tetap bahagia bersama tulisan-tulisan puisiku.

Kembali pada judul artikel ini. Tulisanmu dikritik, kenapa harus terluka dan marah? Aku menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi. Beberapa kali ada teman literasi yang mengkritik tulisan di puisiku. Dua hal yang paling kuingat adalah :
1. Tulisan di puisiku itu tak ada rima dan tak bermakna.
2. Kalau menulis puisi, menulis juga untuk orang lain
Dan kala itu, aku juga ingat jawabanku.  Aku katakan, mungkin puisiku tak ada rima dan itu hakku. Dan aku menulis puisi bukan untuk memikirkan orang lain tapi untuk diriku sendiri. Untuk kebahagiaanku. Jika kujawab dengan jujur, apakah aku terluka dan marah jika tulisanku dikritik? Jawabnya TIDAK, hanya sedikit terusik (manusiawi lah, hehe).

Kritikan itu, aku tak pernah remehkan sedikitpun. Karena bagiku itu wajar dan sah-sah saja. Ada yang berani dengan lugas mengkritik ada yang pura-pura baik dan mengkritik dalam hati. 

Jujur saja, aku pun pernah mempertanyakan tulisan orang lain di tulisanku? Bisa dibilang kritikan juga lah. Entah orang itu akan marah dan terluka?. Tapi menurutku, harusnya kita siap menerima jika tulisan kita dikritik? 

Karena melalui kritikan, kita bisa memiliki bahan pertimbangan dari sudut pandang orang lain. Tentunya yang kumaksud di sini, bukan kritik yang tak berdasar. Karena melalui kritikan, berarti ada yang memperhatikan apa yang kita tulis. 

Yang diperlukan saat tulisan atau apa yang kita tulis dikritik orang lain adalah, membuka hati dan nalar. Dan kita akan menerima hal tersebut dengan kesadaran. Hingga kita tidak akan merasa marah, kecewa dan terluka. 

Adakah orang yang tulisannya tidak pernah dikritik orang lain? Adakah orang yang tidak pernah mengkritik tulisan orang lain? Entahlah.

Tapi bagiku, ketika tulisanku akan dikritik di kemudian hari. Bagaimana pun aku akan mengelola perasaanku pada jalur yang tepat dan tidak membuang energiku pada kesia-siaan.  Maka dalam menulis, aku tak akan memaknai sesuatu secara berlebihan. Entah itu pujian atau kritikan. Karena aku akan tetap menulis apa yang kusukai dan bukan disukai orang lain.

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Mencicipi Dosa

@kulturtava
...

Adakah yang benar-benar tidak pernah mencicipi dosa? Entahlah. Adakah yang benar-benar tidak pernah membiarkan diri terayu grafik abstrak yang sebenarnya penuh noda? Aku tak bisa memastikan itu.

Karena menurutku, kekeliruan dan kebodohan adalah bagian dari manusia. Memberi tanpa bahagia, menerima pun tanpa bahagia. 

Dalam pemikiran manusia, terkadang ada rasa percaya, terkadang pun tidak ada rasa percaya. Karena manusia senang mencicipi dosa, dan menikmati kekonyolan hidup yang terkadang berujung pada kepalsuan hidup.

Mungkinkah ada manusia yang tidak pernah mencicipi dosa ? Aku tak tahu jawabnya. Berjalannya waktu, entah itu pagi atau malam, akan banyak rahasia yang ditinggalkan manusia. 

Manusia itu suka mempermainkan perasaan, baik itu persaannya sendiri, baik itu perasaan orang lain. Cara hidup manusia bisa tidak stabil terhadap hal-hal dan orang-orang tertentu. Menelanjangi sukma ketika hasrat menggoda dan menyapa. Dalam kegersangan hati, manusia akan mencium dan mencicipi dosa.

Ada manusia yang sudah pergi, berlari menjauh dari dosa. Namun, ketika kebutaan yang berkuasa. Manusia itu akan berkelakar dengan berani untuk kembali merasakan dosa, akhirnya mematung tak berguna.

Yang pasti, aku pun bagian dari manusia itu. Aku juga seringkali mencicipi dosa, pada sebuah malam aku pun pernah meninggalkan banyak rahasia. Dosa adalah bau yang tak sedap, nyatanya dosa tak pernah menjauh dari manusia. Walau hanya sesaat.

***
Rantauprapat, 25 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 24 Oktober 2020

Mati di Pekuburan Sepi

@kulturtava
...
Pernahkah kau ditusuk tangan ketakutan? Tenggelam oleh kesendirian. Kejamnya hidup dan ketidakadilan sudah melekat pada dirimu.

Itu yang sering terjadi padaku, takut akan kesendirian. Pada suatu titik, ketika cinta menawarkan lagi rasanya, itu adalah sebuah harapan indah. Karena aku pernah menyia- nyiakan cinta yang sudah hadir.

Dalam  belantara huruf-huruf kehidupan, aku tahu bahwa kehadiran dan perpisahan adalah dua sisi yang saling berdampingan. Namun yang terjadi padaku, keraguan yang berarus deras telah menghunusku. Buatku layu oleh angin Timur. Mengalami ratapan yang seharusnya tidak kurasakan.

Di kesendirianku, tak ada yang kebetulan. Bukankah sewaktu-waktu aku bisa pergi dari semesta. Aku bisa mati di pekuburan sepi. Bersamaan dengan datangnya malam sunyi, keinginan untuk meninggal lebih dulu mengelayutberati jiwaku. 

Bukankah hidup butuh waktu, terkadang aku lelah menjalani waktu. Aneh bukan,  seakan aku punah. Punah!

Ini yang menjadi keinginanku, meninggal lebih dulu. Karena aku lebih baik  mati dan tak merasakan takut, sebab ditinggalkan tanpa sandaran. Lebih baik aku tak ada, dari pada hidup pun tak memiliki apa-apa.

Aku sangat ingin keluar dari ketakutan ini. Aku perempuan payah yang rapuh. Akankah aku akan berada di ruang pemahaman dan mendapatkan dekapan yang benar hingga aku berada di tempat yang terang. 

Lelah memeras waktu, lelah pada penantian. Lelah dengan ketidakpastian dan ketidakpenerimaan. Lelah dengan keinginan yang keliru, keinginan untuk meninggal lebih dulu.

Apakah mampu sebuah keinginan menjadi sebuah kenyataan? Tentu saja ini menunjukkan ketidakpastian, ketidakpastian yang sempurna.

***
Rantauprapat, Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu

Tahap Keheningan

@kulturtava
...

Sore ini pada minggu ketiga dan sabtu keempat, aku terperangkap bersama suara seseorang. Dan ini menjadi malam yang tak cerah untukku. Kini aku tak lagi ceria, aku berada di tahap keheningan.

Suara dan kalimat dari seseorang itu, buatku terhanyut pada kesedihan yang berarus deras. Andai seseorang itu bukan siapa-siapa, aku tak akan ambil perduli.

Ah, sudahlah. Aku akan tetap berada di tahap keheningan beberapa waktu ini. Mungkin esok atau lusa, aku sudah lebih baik. Dan mampu memasuki gedung berpintu senyuman. Pastilah akan banyak kepura-puraan, kuharap itu tidak akan lama. 

Karena seseorang itu adalah dia yang buatku bergairah dan buatku gelisah. Saat dia buatku menghirup udara yang pengap dan alami debu-debu kekhawatiran, tentangnya masih ada ingatan baik yang tertinggal. Dan ingatan baik itu masih memiliki arti untukku.

Rasanya masih ada cinta untuknya, dan kemungkinan besar rasa itu tidak akan kadaluwarsa. Seberapapun besar ruang hatiku yang mengalami tahap keheningan karena seseorang itu, dia akan tetap aku kasihi.


Apakah setelah hari ini, seseorang itu tidak akan membuatku berada di tahap keheningan lagi, entahlah. Aku pasti menggelengkan kepala, sebab aku tak bisa memastikannya. 


***
Rantauprapat, 24 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 23 Oktober 2020

Duka Rindu

@kulturtava
...
Kujatuh, jatuh pada pesonamu. Kamu itu seperti doa yang memikat. Kita berdua tahu benar, bahwa kamu itu ada di ranting hatiku. Kepada kamu, segala raguku pernah lesap. Kamu meninggalkan rindu yang kecamuk dan buat hatiku pelik. Rindu ini gairah cinta yang menyakitkan. Bagaimana cara kusimpan rindu di hatiku. 

Kamu yang memupuk tunas-tunas cinta, dan aku pun bersedia merawatnya. Hingga akhirnya, aku memanen buah rindu yang menyakitkan. Ini duka rindu. Di antara bercangkir-cangkir puisi yang kutulis, kamu selalu mengelayutberati hatiku. Perihal kita yang jauh, tiada yang benar tahu akan seperti apa nantinya. Kita akan menjadi pengelana menuju titik atau tidak. Karena ini rindu, aku akan tetap menanti kamu lebih lama. Agar bisa melihat kamu dan menikmati sinar bulan bersama. 

Kuduga kamu selalu lalu-lalang dan menyambangi kepala malamku, buat malamku seakan lambat berlalu. Kamu itu adalah duka rindu yang menyala dan bersinar di lintasan waktuku. Ini rindu yang mematikan. Sepertinya, hanya aku yang mencintai duka rindu yang menyakitkan ini. Aku membiarkan rindu ini meraja diriku. Berharap kamu akan datang, karena sebenarnya kamu tak pernah pergi dariku. 

Aku mencarimu di antara rindu yang menyelinap. Ternyata aku tak menjumpai kamu. Rindu adalah rindu, rasa terjauh yang bisa kurasakan.  Walau aku tahu bahwa ini menyakitkan, aku sudah terlanjur membiarkan rindu ini meraja diriku dan menjadi duka rindu yang menyala.

Perjalanan yang akan merentanggambarkan garis rindu ini, apakah duka rinduku dapat menyetuh hatimu atau tidak?. Aku tidak tahu, apakah duka rindu akan menyambangi hatimu. Ah ya, ini hanya harapan yang kusemaikan. 

Ini duka rindu yang menyakitkan memang.

***
Rantauprapat, 24 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 22 Oktober 2020

Cinta, Jarak, dan Penghabisan

@kulturtava
...
Bicara tentang cinta, sejujurnya jarak pernah samarkanku dari komitmen yang seharusnya kujaga. Ada keraguan yang pernah menggenapkanku. Ada butir-butir air mata seseorang yang jatuh, karena aku tidak cukup memberi waktu dan telinga pada ceritanya.

Air mata seseorang yang jatuh itu, buatku dalam ketidakpastian. Seperti ada yang tercabut dalam hati, tersenyum pun aku enggan. Terasa hambar dan gersang. 

Aku ada dilema, tentang cinta yang menciptakan jarak atau jarak yang menciptakan dan memperkuat cinta. Tak ingin terjatuh pada penyesalan, jarak memang payah. Seringkali buatku sekarat.

Akhirnya aku merenung dan memutuskan, aku telah sampai pada keyakinan, seharusnya keraguan tak berintim dengan cinta dan jarak. Karena sebenarnya aku benci perpisahan yang disebabkan jarak dan keraguan, seperti penghabisan yang tak bermakna. Penghabisan yang buta, jika aku tak memperjuangkan komitmen cintaku. 

Aku tak akan menyeret diriku pada keraguan terhadap cinta yang disekat oleh jarak. Karena jika aku melakukan itu, aku akan menerima musim gugur yang berlarian dalam lahan hatiku.

***
Rantauprapat, 21 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 21 Oktober 2020

Kesendirian adalah Sesuatu yang Tak Terkatakan

@kulturtava
...
Aku tidak mau terjebak dalam kubangan kenangan. Menanti sesuatu yang merupakan ketidakpastian yang sempurna. Aku tahu, hingga saat ini, kesendirian masih saja menganga dalam hidupku. 

Aku tak ingin menjadi kaku dan bersetubuh dengan kesendirian, karena kesendirian adalah sesuatu yang tak terkatakan. Namun, kesendirian adalah sesuatu yang harus dijalani. Sejujurnya, aku memiliki ketakutan akan kesendirian.

Sampai saat ini pun, aku masih berjuang untuk menggigit dinginnya kesendirian. Ada kerumitan dalam diriku yang sulit bermetamorfosa. Seharusnya setiap hari, aku bermandikan penerimaan akan kesendirian yang masih melekat dengan diriku. 

Bersama putaran dunia, perlahan namun pasti, aku ingin mematahkan ketakutan dan menari bersama penerimaan lagi keikhlasan. Hingga paragraf dalam cerita hidupku akan ada warna dari indahnya kehidupan.

Kesendirian itu bukan suatu hal yang terkutuk!
Kesendirian tidak semata tentang kegelapan!
Kesendirian pun tidak selalu menciptakan neraka!

Dan jika kesendirian adalah kenyataan yang harus dihadapi, aku tidak ingin kalah dari realita hidup sebab pelihara rasa takut akan kesendirian. Karena kebahagiaan tidak akan pernah mati, jika aku memilih untuk bahagia.

***
Rantauprapat, 21 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 19 Oktober 2020

Kamu Pria yang Telah Membuatku Merasa Bersalah

@kulturtava
...
Aku seorang perempuan melankolis yang bersyukur bisa bercengkrama denganmu. Ada kesadaran hati yang pernah kuterima darimu.

Entah kenapa, belakangan kamu membuatku tidak nyaman. Buatku tenggelam dalam kesunyian. Aku ingin berbagi denganmu terhadap hal yang mengusik perasaanku. Namun, aku mendapati keengananmu merespon hal yang kubagikan. 

Seketika, senyum di sketsa wajahku terputus. Tanpa kata-kata, aku merasa menyesal telah berbagi rasa yang mengusik perasaanku. Sambil bergumam seorang diri, aku merasa menyesal padamu. Menyesal telah mengganggumu.

Kamu pria yang telah membuatku merasa bersalah, bukan karena apa. Tapi aku merasa bersalah pada diriku sendiri, mengapa memberi waktuku pada kesia-siaan. Seolah kamu memandang sebelah mata pada apa yang kusampaikan.

Aku tak akan menyalahkanmu, itu haknya kamu. Dan hakku juga untuk tak lagi bercoleteh padamu, aku memutuskan menyembunyikan diri dari hal-hal yang sebenarnya ingin kuceritakan padamu. 

Aku terdiam dan terhenti di halaman logikaku, untuk tidak lagi memasuki daerahmu tanpa izin. Aku melakukan itu, agar ranting-ranting hatiku tak lesap dari petikan yang bernama bahagia.

***
Rantauprapat, 19 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 18 Oktober 2020

Seperti Debu Jerami yang Diterbangkan Badai

@kulturtava
...
Seperti Debu Jerami yang Diterbangkan Badai

Di perjalanan hidup yang sudah berpuluh kalender aku lalaui, aku mengenal dan berelasi dekat dengan seorang perempuan yang sering bermain hujan dan membiarkan dirinya berada di padang gurun, di tanah yang gersang. Melupakan keharusan dan membuat hatinya meninggi. Menjadi seperti Singa pada kesadaran yang harus dimiliki.

Perempuan itu melakukan penyelewengan terhadap diri sendiri. Diam dalam kebodohan. Tak lagi berbunga seperti bunga bakung, karena dia menjulurkan akar-akar hidupnya dengan kehampaan. Hingga tak lagi berbau harum seperti yang diharapkan.

Sekarang aku melihat, perempuan itu pun merasa jenuh. Gemetar dan merasa bersalah dengan membuat kebodohan untuk diri sendiri. Mengapa mengizinkan hatinya dengan mudah menjadi, seperti debu jerami yang diterbangkan badai. Seperti asap dari tingkap. 

Aku adalah aku, aku seseorang yang berharap perempuan itu kembali. Kembali ke jalan yang lurus. Tidak melapisi hati dengan kejerian yang melangit. Nyatanya, aku masih saja gagal. Harapanku belum berjumpa dengan realita. Lagi-lagi dia tergelincir karena kesalahan. Kata-kata penyesalan tak membuat hati perempuan itu surut dari kelayuan.

Ranting-ranting perempuan itu tak lagi semerbak dan berkembang, sebab telah dimakan belalang pelahap. Aku menangis dan meratap. Melihat Buah perempuan itu sudah kering dan berlilitkan kain kabung. Dia hanya mengeluh, berteriak dan menjadi kering. 

Dia sendiri yang menghanguskan buah baik yang ada pada pohon hidupnya. Kini, penyesalan perempuan itu telah riap dan berawan. Kelam kabut yang pekat ada dalam hatinya.

Apakah perempuan itu akan tetap diam pada keputusan dan perbuatan yang keliru?. Menyimpan kebodohan untuk seterusnya. Meluaskan daerah di Mesopotamia hidupnya dengan angin badai.

Seharusnya perempuan itu tidak melakukan itu. Semoga di sisa waktuku, aku bisa melihat perempuan itu tidak selalu menjadi seseorang yang tengil, payah dan kalah.

Semoga! 
Karena perempuan itu seseorang yang kukasihi dan ada di muatan hatiku.

***
Rantauprapat, 18 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 17 Oktober 2020

Cinta Itu Bahasa Tuhan

Popbela.com
...
Apa itu cinta?  Bagiku cinta itu bahasa Tuhan. Sebab Tuhan mencintaiku, maka aku bisa mencintai diriku sendiri dan juga mencintai orang lain

Dalam fase waktuku, aku telah menerima banyak cinta. Dan yang terpenting itu adalah cinta Tuhan dan cinta keluarga

Cinta juga menjadikan hidupku memiliki cerita yang mengharu biru. Karena aku bukan hanya bahagia dan tersenyum sebab cinta, aku juga pernah dilukai dan menangis sebab cinta 

Sesungguhnya cinta adalah anugerah dalam hidup. Cinta juga irama yang indah bagiku. Tapi dalam realitaku, aku akan jujur mengatakan bahwa sering kali yang memiliki cinta lah yang tidak menghargai cintanya

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Bu, Terima Kasih Sudah Mencintaiku!

Pinterest
...
Bu, bukan sekali atau dua kali penerimaan terhadapmu lesap dari hatiku. Tapi sudah berkali-kali. Aku juga sering menatap wajahmu dengan  amarah, membiarkan hatiku berintim dengan kekecewaan dan kepedihan.

Padamu, aku juga mengizinkan hatiku kehilangan kasih sayang. Aku kaku dan menghisap aroma kebencian. Mengabaikan dan membuat hatimu layu. Menghimpitmu dalam rasa bersalah atas apa yang terjadi dalam hidupku. 

Karena kebodohan hatiku, aku lebih suka berada di genangan sepi dari pada berada dalam pelukanmu. Aku suka bersembunyi bahkan sering tak mau keluar dari kandungan labirin sepi. Kepak sayapku patah pada realita kehidupan yang sebenarnya kuterima.

Sesungguh dan sebenarnya, kau tetaplah kau, orang yang sama. Kau ibuku. Ibu yang sudah melahirkanku. Kau memberikan sinar dan menyelamatkan jiwaku. Kau tak membiarkan amarah tumbuh subur di antara rumput-rumput kedegilan yang pernah kau terima dariku.

Sabtu pukul sebelas pagi, tepat tanggal 17 Oktober 2020 di Rantauprapat, ada kesadaran hati yang merasuki hati dan pikiranku. Pori-pori kulit di seluruh tubuhku seakan menari dalam gumpalan bahagia.  Jendela hatiku tak lagi buram, kesadaran ini memberikanku keyakinan akan cinta yang kau miliki untuk diriku bu. 

Hari ini, aku merasakan cinta yang besar untukku. Aku perempuan payah yang harus bersyukur memiliki ibu seperti dirimu. Ibu yang hatinya luas akan penerimaan, pemahaman, dan hatinya yang sudah dikayakan kasih dan cinta. Ibu yang sudah merawat dan memasukkan aku ke fondasi pulau cintamu. 

Bu, terima kasih sudah mencintaiku dan memberikanku banyak-banyak kebahagiaan.

***
Rantauprapat, 17 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 16 Oktober 2020

Teka-teki Zaman

umma.id
...

Penuh misteri dan ketidakpastian yang sempurna. Di antara keliaran,  ada debu amarah yang mengepul. Ada juga curah hujan kekecewaan yang melimpah.

Ada yang merasa baik-baik saja, ada yang ingin menerima pencerahan. Ada yang seolah-olah memberikan harapan bahagia, namun nyatanya memberi kejerian untuk menjalani poros hidup.

Mengabaikan kebebasan yang dipercayakan. Mengisi sejarah hidup yang terdapat di koridor masa kini dengan narasi basa-basi. Yang terjadi pada akhirnya adalah perdebatan dan kegaduhan yang melangit. Gemuruh karena teriakan yang mengancam.

Apakah ini tentang ketidaktahuan? Tidak. Ini adalah ketidakpedulian! Tidak peduli tentang arti kehidupan. Banyak kegelisahan dan airmata yang berjatuhan. Ini teka-teki zaman yang sungguh buat hidup dikerubungi oleh beragam pertanyaan.

Di atas asa yang berlalu-lalang, masih terdapat kecemasan besar. Karena yang terasa adalah kata "lo ruhama" dengan tulus. Dan ada diaspora keangkuhan yang merajalela. Sungguh ini teka-teki zaman yang payah. 

***
Rantauprapat, 16 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 15 Oktober 2020

Malam, Rahasia, dan Hujan

@kulturtava
...
Terkadang diri ini harus membiarkan malam menjadi rahasia atas gundah gulana yang telah mencumbui hari perihal apapun yang  sudah dijalani. Bersulam kebisuaan, membuat tingkah penuh kepalsuan.

Hujan air mata pun menemani. Menerbarkan kejerian untuk diri. Seakan takut kehilangan kekasih pujaan, takut kehilangan kisah nostalgia yang penuh romantisme. Sementara kekasih pujaan itu masih menjadi ketidakpastian yang sempurna. 

Kenapa harus membiarkan diri terjerembab dalam malam, rahasia, dan hujan pada ketidakpastian yang sempurna? Membungkus diri dan menghamparkan rasa pada rasa yang mengering. 

Sementara. Di Mesopotamia hidup yang harus dihadapi, diri harus menghidupkan kesadaran. Hingga simfoni keindahan akan terasa dan membentangkan warnanya di angkasa yang dimiliki.

***
Rantauprapat, 14 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 14 Oktober 2020

Pohon Anggur yang Pernah Riap Tumbuhnya

@kulturtava
...
Perempuan itu pernah seperti pohon Anggur yang riap tumbuhnya. Menghasilkan buah yang baik lagi banyak. Namun, Di semestanya yang luas, dia tergoda oleh angin Timur.  Meruntuhkan dan menghancurkan buahnya yang baik tadi. Mempersembahkan malamnya pada estafet yang penuh kepalsuan dan rahasia-rahasia.

Dia seperti sepotong ranting kering yang terapung di air. Semak dan rumput duri sudah tumbuh  di antara kerumunan aktivitasnya. Perempuan itu sudah menanggung malu untuk dirinya sendiri, dan meratap karenanya. 


Perempuan itu sudah membajak kebodohan. Menyusup lincah hanya untuk merasakan malam yang bisa memberikan kenyamanan semu, menghujani hari-hari yang dia lalui dengan hal-hal yang unfaedah.  Merona terhadap pemikat yang sesungguhnya adalah kesalahan. Dia telah menuai kesalahannya dan memakan buah kebohongan yang dilakukannya. 

Sekarang, keriuhan bak perang timbul di dalam hati dan pikiran perempuan itu. Perempuan itu menyesal atas segala kompromi dahsyat  yang sudah dia lakukan. Memberikan duka hati yang tiada henti.

Namun, perempuan itu memiliki alasan untuk melakukan kebodohan itu. Dia pernah mendapatkan kegembiraan melalui kebodohan itu, walau hanya kegembiraan sesaat. 

Kini, perempuan itu tidak lagi menjadi pohon Anggur yang riap tumbuhnya. Apakah dia akan selalu terjerembab dalam hal ini? Entahlah 

*Riap = bertambah besar

***
Rantauprapat, 13 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 13 Oktober 2020

Dia Pria yang Mencintai Arkeologi

Sumber gambar : Facebook Wuri Handoko
...
Seperti yang aku baca melalui aksara-aksara yang dia rangkai, bisa kusimpulkan dia pria yang mencintai arkeologi. Membuat hal-hal yang berbau arkeologi menjadi bintang perburuan. Dia tak pernah terpaksa menyerahkan waktu, daya, dan pemikirannya kepada aktivitas arkeologi.

Baginya, arkeologi bukan kandungan mandul yang harus terabaikan. Tinggalan-tinggalan arkeologi adalah cagar budaya yang memiliki beragam makna.

Di periode sejarah hidup yang dilalui pria itu, aku tidak tahu pasti, entah sejak kapan dia sudah memutuskan menjadi tenaga yang memperhatikan sejarah dan keberlanjutan hidup dari arkeologi yang tertinggal. Mendokumentasikannya untuk menjadi sejarah di perjalanan hidupnya. 

Bicara arkeologi adalah bicara tentang perjalanan yang sudah memberikan masa indah untuk dirinya. Karena baginya, arkeologi bukan hanya mengenai remeh temeh benda yang dibuat manusia masa lampau. Namun arkeologi juga mengenai membangun Keindonesiaan melalui budaya.

Rumput dan onak tidak akan pernah tumbuh pun menutupi barang-barang arkeologi yang dia temukan, karena arkeologi itu berharga baginya. Dan dia pria yang akan bersorak-sorak lagi bersukacita bersama arkeologi.

Menurutku, dia pria yang memiliki pemahaman yang luas mengenai arkeologi, karena dia pria yang sudah jatuh mcinta pada dunia arkeologi. Dia akan memaksa dirinya untuk terus belajar dan tidak layu oleh angin Timur perihal arkeologi.

Walau arkeologi merupakan budaya masa lampau namun baginya hal itu tetap memiliki nilai yang memperkaya ilmu pengetahuan. Dia adalah pria dewasa asal Sulawesi yang berperawakan tinggi dan bernama Wuri Handoko. Pria yang kukenal melalui literasi.

***
Rantauprapat, 12 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 11 Oktober 2020

Jika Aku Harus Pergi

istockphoto.com
...
Jika aku harus pergi dari hatimu, pasti aku akan menangis. Hatiku akan mengalami kehampaan lagi kesenduan, sebab seseorang yang hatiku suka dan cintai harus kulepaskan dari duniaku

Jika aku harus pergi dari hatimu, aku ingin pergi tanpa sesal. Tak ingin ada ragu bersamaku perihal kenangan yang pernah tercipta karenamu

Jika aku pergi dari hatimu, itu bukan karena aku tak lagi mencintaimu. Tapi karena kisah kita memang harus diakhiri. Dimensi cinta kita tak akan pernah menjadi satu, dasar warna kita sudah jelas berbeda

Perihal aku yang harus pergi dari hatimu, kuyakin bahwa cinta tak selalu berkisah pada penyatuan. Walau aku tahu, cinta itu adalah anugerah. Tapi perpisahan cinta harus dipahami

Aku tak akan membiarkan hatiku terbelenggu dalam rasa yang tak akan pernah bisa termiliki. Kuharus ikhlaskan, pergilah cinta jika cinta itu bukan bagian hatiku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 08 Oktober 2020

Bu, Dia adalah Seorang Perempuan yang Tabah

@kulturtava
...
Bu, aku tahu kaulah yang sudah memberi kehidupan pada perempuan itu. Kini, perlahan satu dua helai rambut perempuan itu sudah mulai memutih. Seperti rambutmu yang sudah memutih. Sepertinya, kau yang mengabaikan perempuan itu belakangan ini. Kau tidak tahu apa yang dirasakan perempuan itu.

Entah sejak kapan, dunia perempuan itu menjadi asing dari kebahagiaan. Dia perempuan dewasa yang sudah cukup umur untuk menikah, sampai saat ini dia belum juga menikah dan mungkin menikah bukan menjadi bagian hidupnya. Dia membiarkan dirinya berada dikerumunan kesepian. Seakan menjadi tahanan kesunyian.

Aku merasa terluka menyaksikan perempuan itu seringkali meniduri kesepiannya. Menurutku, dia adalah seorang perempuan yang tabah. Dia berusaha untuk baik-baik saja, agar kau tidak terluka. Dan berusaha untuk memiliki penerimaan yang utuh terhadap situasi hidup yang dilalui.

Walau terkadang, penerimaan perempuan itu seperti kabut pagi dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. Ketika perempuan itu kembali disapa luka dan itu darimu bu. Aku melihat perempuan itu menangis, karena pernyataan yang telah kau ucapkan padanya. Kau mengatakan, kenapa dia tidak bisa melakukan sesuatu yang kau minta?. Mungkin kau atau sengaja lupa, bahwa dia memang tidak bisa. Andai dia bisa, dia akan merasa lebih berguna.

Bu, aku tahu aku tidak berhak mempersalahkanmu atas keadaan hidupnya. Aku hanya berharap, kau sebagai ibunya, benar-benar bisa menerima keseluruhan hidup perempuan itu dengan semestinya.

Untuk perempuan itu, hingga masa hidup yang dia miliki selesai di muka bumi, aku pun berharap dia akan bisa menyusuri alur waktunya dengan berani dan tidak menyimpan bara di dalam hatinya.

***
Rantauprapat, 09 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Narasi tentang Negeri Ini

Flickr.com
...
Narasi tentang Negeri Ini

Ini kisah tentang negeri ini, negeri yang katanya BHINEKA TUNGGAL IKA
Negeri yang istananya ramai oleh aksi demonstrasi. Banyak kekecewaan dan kepedihan yang terjadi dalam sekejap, yang akan terasa berat dirasakan. Sebab para elite yang dipercaya untuk duduk di istana sudah melaksanakan keputusan yang dianggap benar.

Negeri ini sedang terluka, merintih dalam tangis. Sedang tidak baik-baik saja. Mungkin sudah lama negeri ini, ditempati para tuan dan puan yang memiliki disabilitas nurani. Kami sebagai masyarakat yang keliru, sudah memilih dan mempercayai para tuan dan puan untuk menduduki istana di negeri ini. Hingga kami mengalami frustrasi dan kerumitan yang teramat dalam, kedamaian tidak lagi bermesraan dengan hati kami belakangan ini. Banyak pertanyaan yang mengusik perasaan kami. 

Mungkin para tuan dan puan biasa berpura-pura tuli dan berpura-pura buta terhadap keadaan yang terjadi. Namun kami sebagai masyarakat, tidak bisa berpura-pura tuli dan berpura-pura buta terhadap yang terjadi. 

Seakan para tuan dan puan membiarkan pancasila yang dikatakan sebagai ideologi dan dasar negeri ini, berlalu seperti kata-kata yang menguap. Seperti tidak ada lagi, keadilan sosial yang terasa. Para tuan dan puan yang sudah kami percaya telah melupakan janji yang pernah terucap, janji untuk mensejahterakan kami masyarakat yang sudah mempercayai kalian. 

Kini,
Kami hanya bertanya, sampai kapan para tuan dan puan menjadi apatis di negeri ini dan mengabaikan keberadaan Tuhan yang sudah nyata atas pancasila? Alangkah lucunya negeri ini. Negeri yang mengabaikan masyarakat demi kepuasan pribadi, demi kebenaran pribadi, negeri yang sudah melupakan sejarahnya. Setelah ini, kami hanya memiliki harapan baik untuk negeri ini, agar negeri ini tidak lagi ditempati orang-orang yang mudah jatuh tergelincir pada DISABILITAS NURANI.

***
Rantauprapat, 08 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 07 Oktober 2020

Puisi sebagai terapis Diri

Unsplash.com

...
Dalam kesedihan dan keputusasaan karena merindukan seseorang yang telah lepas dari hatiku. Aku rapuh. Kebersamaan tlah berakhir, rindu ini menyesakkan dan tidak lagi bisa ditahan, parahnya tak akan pernah bisa lagi terdengar olehnya.

Aku goyah, tak mampu lagi berpijak dengan kokoh. Aku perempuan yang kehilangan. Kehilangan sandaran dan buatku menderita. Untuk mendapatkan ketenangan, aku memilih menulis puisi. Aku bisa menangis sepuas-puasnya di dalam kata-kata puisiku.

Puisi sebagai terapis diri untukku, aku bisa mengenang kenangannya melalui puisiku. Semenjak kepergiaan seseorang yang mengisi warna di samudra hatiku, aku hanya ingin mengingatnya. Biarkanlah aku menulis perasaanku yang nyata di dalam puisiku.

Pada hamparan kata-kata yang keluar dari perbendaharaan hatiku, aroma tentangnya akan melekat dengan indah. Mata dan jemariku tak akan jemu untuk melihat dan menulis hal-hal mengenai dirinya, dan menerjemahkan tentangnya ke dalam tulisan-tulisan puisiku.

***
Lusy Mariana Pasaribu

Selasa, 06 Oktober 2020

Kesedihan Terperangkap di Matamu

@kulturtava
...

Untuk R!

Kau sendiri yang mengundang kesedihan dan kepatahan itu. Mencintai cinta orang lain. Lama kau dan dia menikmati kisah asmara. Saat dia tidak mendapatkan perhatian yang dia butuhkan darimu, tanpa ragu dia akan pergi dan menghilang dari kehidupanmu. 

Akhirnya di fase-fase di mana kalian harus berjarak, dia memilih pergi dari lokasi hatimu. Seketika kau terhempas dan hancur. Kau tak bisa menahan air matamu, kau menjadi gagu dan kaku. 

Dari cerita yang kau bagikan, aku tahu kau pernah melihat cahaya bianglala dari dirinya. Kau menaruh rasa yang sungguh untuknya, walau sebenarnya kau tahu rasa itu tidak akan pernah jadi milikmu. Kau yang keliru pada kesadaranmu, pernah tak mau tahu pada kebenaran yang kau lihat. Mengizinkan rasa yang salah bertamu lama di rumahmu. Hingga, kesedihan terperangkap di matamu. 

Ternyata, selama kau dan dia bermain hati, kau hanya dijadikan teman saat dia butuh dan kesepian dari cinta yang sudah ia miliki. Kau hanya sebatas kemungkinan-kemungkinan yang menurutnya menyenangkan. Kau sudah membuang waktumu dengan kesia-siaan.

Teruntukmu, R. Aku berharap kau berhenti dari rasa itu. Jangan lagi menangis pada hal yang seharusnya tidak kau tangisi. Dia bukan lagi rumah yang semestinya kau tuju. Bukan lagi muara yang bisa kau temui.

Sudahi perasaan yang kau miliki untuk dirinya, jangan lagi merangkul harapan padanya. Peluk yang pernah dia berikan, hanya peluk yang pura- pura.

Aku hanya bisa berharap, kau akan memaksa diri untuk lepas dari siklus yang pernah kalian lalui. Dan secepatnya kau akan menemukan sebuah cara melupa perihalnya dan kau akan kembali menemukan cinta yang baru untuk hatimu.

Setelah ini, jangan lagi biarkan hatimu jatuh pada cinta yang sudah dimiliki orang lain. Agar penyesalan yang sama tidak terulang kembali.

Rantauprapat, 06 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 05 Oktober 2020

Kebenaran yang Terungkap di Awal Bulan Oktober

@kulturtava
...
Saat ini yang kubutuhkan adalah keheningan dan terkapar di antara huruf-huruf puisiku. Malam tadi, aku memaksa diri untuk mendengar kejujuranmu. 

Rahasia-rahasia yang ditutupi selama berbulan-bulan sudah terbelah. Sebelum hari berganti, ada kabar yang serupa marahabahaya di kepala malamku. Marabahaya yang memberi kesadaran di kepalaku. Risalah dari laut bulan Oktober yang kuterima adalah kebenaran yang terungkap. Ada perasaan kecewa, marah, dan sakit di hatiku.

Aku mempersalahkan diriku, kenapa bisa tertidur lama di beranda kebohongan dan ketidakjujuran.

Di fase kekecewaan yang kualami, perlahan aku membujuk dan merayu diriku sendiri untuk membesarkan hati pada penerimaan. Bahwa kebenaran yang terungkap di awal bulan Oktober menjadi cerita yang seharusnya menyelamatkan hidupku dari desau luka yang berwarna gelap.

Setidaknya, kebenaran itu tidak akan membuat perjalanan waktuku terbawa kegersangan yang lebih parah. Dan kini, rasa sakitku tidak lagi akan bertambah dalam!

Aku akan meninggalkan segala suram yang telah membuat mendung di mataku. 


***
Rantauprapat, 06 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 04 Oktober 2020

Kembali Mekar oleh Angin Barat

@kulturtava
...
Lama jiwanya dicabik-cabik gersang. Mengeraskan hati dari kesadaran. Ia tunduk pada kehampaan, jatuh pada ratapan pilu sebab mengemis air mata bahagia. Terkapar dalam gemetar sepi, ia bersimpuh dan berharap semestanya akan kembali ditumbuhi bibit kebaikan.

Ia ingin membersihkan rumput yang telah menyemak, tak lagi mau menyerahkan diri pada kelayuan dan hati yang membatu dari kebenaran.

Di rentang harapan, ia mendapatkan pencerahan. Kesadaran mampir di ruang diri. Daun-daun yang ada dalam dirinya pernah layu oleh angin Timur, menjadikan ia perempuan dewasa yang payah. Namun, kisah itu telah berhenti dan berganti. Kini, sudah tercipta risalah yang baru untuk perempuan itu. Ia sudah menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh. Daun-daun yang ada dalam dirinya  kembali mekar oleh angin Barat.

Segala hal yang pernah perempuan itu lakukan, karena kuasa perusak mengontrol dirinya telah berakhir. Ia beranjak dari kerusakan, karena sudah tersiram kesejukan dan kesegaran, dan memasuki lingkup dan beranda yang benar. 

Perempuan dewasa yang bertumbuh itu, ingin telaga jernih yang akan berkuasa utuh di dalam isi hati dan kepalanya. Melanjutkan risalah yang bermakna ke dinding waktu yang masih boleh ia nikmati. 

Ia sungguh beruntung, bisa kembali mekar oleh angin Barat. Ada perasaan bahagia di dalam hati, itu adalah persembahan paling benar untuk semestanya. Bahagia yang benar-benar bahagia. 

***
Rantauprapat, 04 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 03 Oktober 2020

Layu oleh Angin Timur

@kulturtava
...
Apakah akhir segala hal yang perempuan itu lakukan? Hal yang membuat kuasa perusak mengontrol dirinya. Bersekutu dengan bulir yang kering dan hampa. Menghasilkan sengsara dan kesukaran yang bertumpuk-tumpuk. 

Perempuan itu terpesona pada warna gelap. Dan tidak lagi memedulikan nalar. Ia rela layu oleh angin Timur. Kelaparan dalam godaan. Ia berbaur dengan dinginnya lembah malam. Bunganya tak lagi segar, karena ia sudah mengejar lelah. 

Ia merumitkan diri sendiri, sebab telah menjadi bunga yang layu. Tak ada lagi senyum tulus yang berlabu di samudera hati. Ada badai besar yang telah menerjang dan menemui perempuan itu. Ia mengasuh harinya dengan desau risau, yang berujung pada kekeringan hati.

Perjumpaan dengan kesalahan, telah menjadi bayangan hitam untuk dirinya. Hingga ia mengucapkan, SELAMAT TINGGAL pada suara hati yang mengusik dirinya.

Perempuan itu menemukan dirinya di dalam tangis dan kemarahan. Jejak kesadaran tak lagi berakar di hidupnya. Ia sudah menuju hancur, karena membesarkan musim kebodohan di rongga hati dan sejarah hidup yang dimiliki. Jiwanya seringkali menyerah pada rasa sepi. Ia pun berpikir, dirinya tak pernah memiliki bahagia yang diharapkan.

Ada bau kesedihan yang terbakar. Perempuan itu telah kehilangan. Ada perpisahan yang ia terima. Merasa bahagia pada kebahagiaan yang sebenarnya semu. Perempuan itu gementar tanpa ampun, hatinya sudah pecah berkeping-keping. Ia tak bisa kembali menjadi bunga yang semula indah. 

Kini, perempuan itu hanya menyimpan tanya untuk dirinya sendiri. MENGAPA membiarkan dirinya layu oleh angin Timur?. 

Ternyata ia, perempuan dewasa yang payah. 

***
Rantauprapat, 03 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 02 Oktober 2020

Aku Puisi

depositphotos.com
...
Aku adalah puisi yang kini tidak kau sukai
Aku pun bait-bait puisi yang sudah lama kau tinggalkan
Kau mempersalahkanku atas keadaan hatimu
Hatimu kau buat membatu padaku

Aku puisi yang pernah kau tulis
Aku pun puisi yang pernah menamani musim di hidupmu
Kau pernah menjadikanku teman di beranda waktumu
Waktumu kini tak lagi diwarnai dengan indahnya puisiku

Aku puisi yang pernah membuatmu tersenyum lagi bahagia
Aku pun puisi yang pernah menjadi kisah romantis dalam hatimu
Kau dengan sengaja melupa tentang aku dan aksaraku
Aku dan aksaraku masih menunggu kehadiranmu, kehadiranmu untuk kembali beromantika padaku

Percaya atau tidak, aku puisi yang berharap kembali kau sukai

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Seorang Perempuan dan Cerita Malam yang Telah Membeku

@kulturtava
...
Ini kisah seorang perempuan dan cerita malam yang telah membeku. Perempuan yang dicekam banyak ketakutan. Di ketakutan yang dia rasakan, perempuan itu bertemu dengan godaan muram dan ganas. 

Perempuan itu tahu, jika dia menanggapi godaan yang datang, godaan itu akan memberi sayatan luka perih dan jejak di dinding hidupnya. Namun, dia tidak menolak dan hentikan godaan itu. Yang dilakukan perempuan itu adalah menikmati dan meniduri godaan itu, seolah dia berselimut ombak kebahagiaan.

Dia menjadi perempuan lemah karena kesepian. Mempersembahkan diri, untuk direnggut paksa hasrat.

Tanpa ragu, dia melepaskan kebenaran. Menikmati daya pikat yang salah dan buat isak tangisnya deras. Di hadapan tungku hasrat, perempuan itu pasrah dan terdiam. Dia tersenyum dalam kawanan berkabut, tak bercahaya. Merebahkan tubuh pada aroma telanjang yang dia kira memberikan bahagia.

Di kesunyian malam perempuan itu, sudah tumbuh suatu tunas yang tidak seakar dengan apa yang dia yakini. Tunas itu berkuasa atas dirinya. Memasuki kerajaan malam perempuan itu, hingga dia berhenti dari apa yang dia yakini. Hatinya bermegah pada kesalahan, berlaksa-laksa cerita malam yang membeku telah menewaskan dirinya dalam gelap. Perempuan itu menduduki tanah kotor, berbuat sekehendak hati. Perbuatan-perbuatan licin melanda dan dia dihanyutkan. Dia tergelincir dan jatuh. 

Perempuan itu melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Menghamburkan diri 
Memasuki daerah-daerah terlarang. Malam itu, perempuan itu gagal memagari hati dan pikirannya dengan seluruh keyakinannya. Malam itu menjadi ruang gelap yang menyimpan  segala rahasia.

Kini, perempuan itu benar-benar menangis dalam sesal. Perempuan itu melahirkan mendung, kegelisahan dan laut tamparan untuk dirinya sendiri. Dia menipu diri sendiri. Akhirnya perjalanan malam perempuan itu usai dan telah menjadi cerita malam yang telah membeku.

Entah bagaimana dengan perempuan itu setelah malam di ruang gelap itu?

***
Rantauprapat, 02 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 01 Oktober 2020

Jika Nanti Kau Sudah Menikah

Pixabay
...
Jika nanti kau menikah, di saat itu aku akan benar-benar kehilanganmu. Dan kau tak lagi membutuhkan aku. Aku pun tak lagi bisa berteduh di bawah pohon keindahan semestamu

Jika nanti kau sudah menikah, aku pasti bersedih bahkan menangis. Namun, aku tetap harus merelakanmu. Yang tersisa adalah kenanganmu. Dan aku hanya bisa menyimpan kenanganmu di dalam kepalaku

Jika nanti kau sudah menikah, aku memilih mengendalikan diri. Agar kehidupanku tetap berjalan dengan baik. Walau aku tahu, aku akan kesulitan tanpamu. Sebab cinta bukan hanya sekedar kata memiliki 

Jika nanti kau sudah menikah, aku berdoa agar kau dilimpahi kebahagiaan. Aku akan bahagia jika menemukanmu bahagia. Biarlah pagimu dihadiahi embun-embun sejuk, juga malammu dihadiahi bintang yang bersinar terang, bahkan lembar demi lembar halaman kehidupanmu dihadiahi kebaikan yang bertahan dengan sangat lama 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak Ada Cinta Hari Ini

Pixabay
...
Tidak ada cinta hari ini, hati dan jiwa kita dihujani pertengkaran yang tak kunjung usai. Daun-daun kesedihan berkeliaran di hulu hati kita

Kita terjerembab pada keegoisan diri, kehabisan kepercayaan untuk saling terkoneksi dalam cinta. Menyimpan kesombongan di dalam hati

Tak ada lagi perasan bahagai hari ini, kita memilih menjadi apatis, pasrah dan menghanguskan bunga-bunga cinta yang pernah mekar di dalam hati kita

Janji yang pernah terucap untuk menua bersama telah menjadi bulan belaka. Tidak ada cinta hari ini, kita telah kehilangan dan janji itu hanya menyisahkan sekelumit kisah di perjalanan hidup kita

Keegoisan yang bertahta dalam hati kita telah memisahkan kita. Bersama-sama kita membiarkan diri menghirup udara kehancuran hati

Tidak ada cinta hari ini, karena kita telah terpenjara pada pelukan yang bernama kekeringan dan kelayuan hati

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Hari Ini, 2 Tahun yang Lalu

Pexels.com
...
Dalam jiwaku pernah terdapat kebencian untukmu. Entah mengapa kala itu, aku memilih menyalahkanmu atas apa yang kualami

Aku pun pernah begitu kaku untuk berbaur bersamamu, menjadikanmu asing bagiku. Tapi itu adalah kisah lalu, aku sudah berdamai dengan hatiku. Aku telah berhasil bangkit dari keasinganku

Kini, aku sudah kembali menyukaimu. Dan tak lagi perlu menyembunyikan diri dari keindahanmu. Sejak dua tahun lalu, kau pun telah menemani perjalanan di musim-musim hidupku

Hari ini, 2 tahun yang lalu, aku sudah kembali berbahagia bersamamu. Bersamamu aksara puisiku. Puisi membawa banyak kisah yang beragam untuk hatiku. Karena puisi selalu menawarkan warna yang mempesona dalam jiwaku

Sungguh, aku tak ingin kembali mengulang kesalahan yang sama dua kali. Kesalahan yang merugikan diriku sendiri. Hari ini 01 Oktober 2020, aku mengatakan bahwa bersama puisi aku bahagia. Dan aku tak ingin berpaling hati darimu lagi

***
Lusy Mariana Pasaribu
[Rantauprapat, 01 Oktober 2020]