Senin, 16 Oktober 2023

Kepada Manusia yang Dibuang Seperti Rumput

@kulturtava
...

Duka dan keluh kesah selalu ada, dia mencoba untuk bersikap bodo amat. Ada saja yang akan meremukan dan menikam, bahkan terus menerus menghina, karena begitulah hidup.

Kepada manusia yang dibuang seperti rumput, kau memang memiliki hak untuk bicara semaumu dan menjatuhkan tanpa tahu latar belakang yang pasti, dan yang menjadi kewajiban dirinya adalah menentramkan hati dan tidak menanam kekhawatiran atas apa yang dituduhkan.

Selamat jalan kebencian kepada manusia yang dibuang seperti rumput, untukmu dia akan bersikap selayaknya. Tidak pula menghakimimu, karena kalau dia menghakimi, dia pun akan dihakimi. The power of awareness, lebih baik itu yang dipelihara. 


Kepada manusia yang dibuang seperti rumput, jujur dirinya terluka atas apa yang kau ucapkan, karena itu membuat luka pada gandum yang ada di hatinya. Ada air mata yang tumpah karena ucapmu. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutmu malam ini, menjadi jejak kesedihan yang terukir.

Inilah ketidakadilan dalam hidup. Keusilan hidup. Ada kesedihan diam-diam yang harus diterima, kepada manusia yang dibuang seperti rumput, bagaimanapun dia ucapkan terima kasih, karenamu dia belajar untuk tidak membiarkan gelap dan kosong menguasai dirinya. 

Dia tidak ingin mati dan tidak bahagia hanya karena khawatir yang berlebih atas apa yang kau sangkakan dengan bebas tanpa tahu batas. Kepada manusia yang dibuang seperti rumput, disisa hidup yang tersisa, dia akan memiliki cinta dan kasih sayang dengan segala keterbatasan yang ada. 

Malam ini dia memang tidak membencimu tapi dia juga terluka dan kecewa atas apa yang kau ucapkan, karena banyak hujan yang telah turun membasahi wajah-wajah gandum yang ada di hatinya.

Kepada manusia yang dibuang seperti rumput, semoga kau merasakan apa yang dia rasakan, damn! Semoga kau berjiwa. Karena apa yang kau anggap benar belum tentu itu menjadi kebenaran yang seutuhnya.

***

Rantauprapat, 16 Oktober 2023

Lusy Mariana Pasaribu

Jumat, 06 Oktober 2023

Kita adalah Saling

Pixabay.com
...

Bersamamu banyak tantangan, yang sering kali banyak komunikasi yang gagal. Kekerasan dan kekerasan berulang kali terjadi, dan sungguh sadar itu tiada berguna.


Kasih sayang tak lekang oleh waktu, ingin menghidupi itu terhadap kamu.

Bicara tentang kamu, bicara tentang cinta namun juga bicara tentang kekerasan. Sulit merdeka terhadap kamu. Karena kamu adalah harapan.


Kamu itu spesial pun berharga, tapi banyak kecemasan yang timbul karena apa yang diperbuat olehmu. Namun sadar, kecemasan ini harus diruntuhkan. 

Paham terhadap kamu tak boleh padam, tak boleh kerontang, asa untukmu akan tetap ada.


Pekerjaan rumahku adalah kamu, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Karena kamu adalah gandum yang ada di hatiku, ini adalah sebuah catatan perjalanan tentang aku, tentang kamu, tentang kita.


Kamu adalah salah satu nikmat hidup yang Tuhan percayakan. Aku tak boleh kehabisan kesadaran untuk kamu. Aku tidak boleh menjadi malam yang buta terhadap kenakalan yang terkadang masih kamu lakukan, aku yang masih terlalu dangkal terhadapmu.


Kita adalah saling. 


Aku kamu seharusnya saling mendekat ke arah yang benar bukan malah memadamkan dan mementingkan ekspektasi yang tidak seharusnya. Butuh berapa lama pun untuk menyelesaikan pekerjaan rumah terhadap kamu, aku akan berusaha menyelesaikannya dengan benar.


Kamu adalah cara untukku belajar menguasai diri, agar aku tak bersama kebodohan.

***

Rantauprapat, 06 Oktober 2023

Lusy Mariana Pasaribu

Minggu, 01 Oktober 2023

Seperti Jerami Ditiup Angin

@kulturtava
...

Minggu pertama bulan ini, menjadi pembuka yang panas. Banyak kata-kata yang berhamburan, banyak jiwa yang terserak, terbunuh oleh pedang yang mematikan.


Hari pertama di bulan ke sepuluh, adalah kegelapan yang berulang. Seperti jerami ditiup angin, terbuang. Sudah terlampau banyak mendengar dan melihat kehancuran, kenapa tidak belajar dari sejarah? pertanyaan demi pertanyaan, yang tidak akan bisa terjawab.


Kesenjangan yang dilakukan dengan sengaja, menjadi huru-hara yang penuh drama, banyak pergulatan yang merajai. Pemberontakan. Ini adalah musim dengan banyak kesedihan. Kenapa tidak memiliki cinta yang seharusnya?


Ke mana harus pulang dan kembali?

Tak adakah tempat untuk damai sejahtera dan tenang teduh?

Terlalu banyak air mata.

Seperti jerami ditiup angin, seperti itulah banyak jiwa hari ini. Terbunuh dalam senyap.


Memuakkan.

Mau berapa lama lagi ini terjadi, membiarkan paham yang seharusnya menjadi milik malah padam. Terlampau takut dan gemetar melewati malam ini, apa lagi untuk membuka mata esok hari. Keraguan merajai diri, mengganggu kepala. 


Kegagalan yang disengaja ini sungguh membuat kebekuan dan kekerasan hati. Ah, menyakitkan. Akankah kematian, membuat ini lebih mudah? Barangkali demikian, bukankah perpisahan yang selalu diinginkan. Seperti jerami ditiup angin, terhilang,  terbuang dan tak kembali.


Hari ini akan menjadi ingatan yang buruk dalam sejarah hidup.

***

01 Oktober 2023

Lusy Mariana Pasaribu