Minggu, 16 November 2025

Demikian Kisah Pagi Ini

Kulturtava
...

Asu, ini rasanya menangis. Tapi bola mata telanjang ini tidak boleh mengeluarkan air mata. Drama pagi ini menjadi panggung manipulasi, lisan itu kembali menyakiti. Memberikan jejak dengan segala kepahitan dan luka.

Mungkin salah dan bukan mungkin lagi tapi memang selalu salah, mendapatkan ucapan tidak ada etika hanya karena minta tolong di pagi hari kira-kira pukul delapan, Apakah uang sumber segalanya mungkin saja memang iya. 

Tidak pernah mau terikat dan terbelenggu tapi apa daya, ada disabilitas yang harus disadari. Apakah harus menjadi batu dan rumput mati untuk menyenangkan dan melengkapi segala kepuasan yang dibutuhkan. Hati ini sakit tapi masih dapat mungkin menyelesaikan tanggung jawab bahkan yang bukan tanggung jawab sekalipun tapi lagi-lagi terpuruk dengan segala rekam jejak yang pernah terjadi.

Barangkali memang tak pernah ada di ingatan dan di lingkaran hidup sehingga rela mengabaikan dan menganggap tidak ada. Jadi tidak masalah tidak pernah terlihat. Karena yang menjadi faktanya, tidak ada yang memperhatikan kesusahan, tenang teduh, kesejahteraanmu. 

Lama bernarasi dan memiliki wacana untuk mengakhiri patah hati, ternyata itu impossible, karena di suatu hari yang entah kapan seperti pagi ini selalu saja ada kegagalan untuk mengakhiri patah hati. Seperti kisah-kisah rumah tanpa jendela, seperti itulah kisah pagi ini. Dasar asu, realita yang penuh huru-hara, ini adalah peringatan untuk lebih baik diam. Karena yang menjadi layar dan jendela terbuka adalah waktu adalah terbatas, Sakit bersama tapi lebih sakit ketika tidak bersama karena kelahiran tidak bisa dipilih dari keadaan yang seperti apa dan di mana, kelahiran juga memiliki rahasianya sendiri.

Demikian kisah pagi ini.

***

Rantauprapat, 16 November 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 13 November 2025

Antara Kebenaran dan Sepenggal Kebencian


Pixabay
...

Bukan sekedar bersama dan baik-baik saja, ketika gesekan menggoda kenapa memilih jatuh dan menjadi batu. Monster menguasai, lelah dan muak. Kenapa lagi-lagi seperti ini? Apakah ini tandan dan awal kebisingan yang mengganggu, tak ada yang tahu.

Malam tadi hari ketiga belas di bulan kesebelas, ada kesialan menghampiri. Ada hujan menghantarkan dosa yang merayu. Antara kebenaran dan sepenggal kebencian, merasa tersakiti dan berhak untuk marah, merasa lebih benar dan mengintimidasi. Entah akan menjadi apa selepas malam ini?

Ada apa dengan hati? 

Ada kesenjangan mendominasi, seperti mengalami disabilitas, ada-ada saja keributan dibiarkan menganga dalam jiwa, ketika jauh ingin mendekat, namun ketika dekat ingin menjadi retak, tak ada lagi cinta, tak ada lagi kepedulian. Yang ada hanya kepedihan dan air mata.

Beberapa jam sebelum malam Ini habis, semoga tidak ada keheningan yang tak teruraikan, hanya berharap itu terjadi. Mata telanjang ini tidak ingin menonton layar kehidupan tentang hal-hal yang tidak seharusnya esok hari,  bullshit tentang kepura-puraan, memuakkan. 

Antara kebenaran dan sepenggal kebencian itu adalah catatan dan plot twist malam ini, masih ada empat puluh delapan hari menghabiskan tahun ini, berharap tidak menemukan hal-hal yang seperti malam ini lagi, tahu kenapa? karena tidak ingin berziarah ke masa lalu.

***

Rantauprapat, 13 November 2025

Lusy Mariana Pasaribu 


Sabtu, 01 November 2025

Kamar Sunyi dan Keheningan yang Tak Teruraikan

SHUTTERSTOCK 
...

Pukul 02.00 pagi lebih sedikit WIB, hari pertama bulan kesebelas, ada hujan kembali terulang dan dilanjutkan pukul 07.00 lebih sedikit, masih di hari yang sama hujan yang lebih besar kembali terjadi, hujan yang menghantarkan luka. Ada keheningan yang tak teruraikan, ada dosa yang merayu. 

Ada Ilalang yang tumbuh dengan liar, kamar sunyi menjadi saksi. Kenapa harus ada percakapan yang sial, ini bukan selalu bergurau tentang pahitnya hidup, bukankah harusnya ada penerimaan? Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada belajar dari kesalahan yang sama, bagaimanapun ucapan sudah keluar dari mulut telanjang takkan pernah lagi bisa diubah, akan ada jejak yang membekas.

Cerita pukul 02 dan 07 pagi hari ini, akan menjadi catatan yang plot twist, di hari yang kapan menjadi pribadi yang saling menerima dan di hari yang ini menjadi pribadi yang ganas dan entah, apakah rasa sakit tidak menjadi pelajaran? apakah rasa sakit tidak menjadi ketakutan akan Kehilangan? 

Kamar sunyi dan keheningan yang tak teruraikan, apakah akan berlanjut di hari esok, lusa dan seterusnya?

Akhir pekan ini dan di awal bulan kesebelas tahun ini, akan menjadi ingatan yang suram. Ada ucapan yang amburadul dan kenangan membekas, ada predator berbahaya mengintai. Di kamar yang sunyi pagi ini tak ada bahasa cinta yang tersisa, yang ada seperti dosa berjalan. Ada tamu dengan keberisikan yang mengganggu kepala. 

Lelah dan benar-benar lelah, bukan hanya tentang fisik yang sudah lama tidak bersahabat tapi juga tentang mental yang  tidak waras jika terus seperti ini, masih ada enam puluh hari lagi yang harus dilalui untuk menjalani tahun ini, apakah hujan dipukul 02 dini hari akan kembali terulang? 

Tidak ingin pasrah dan menjadi dungu tapi untuk bertahan pun sulit apalagi berjuang, disabilitas ini sungguh mengganggu. Enyalah, brengsek hidup jika terus seperti ini penuh dengan kesialan demi kesialan. Kenapa dan kenapa harus ada di paragraf yang dipenuhi huruf-huruf mati dan tanpa ada pohon-pohon cinta yang memberi kehangatan dan kebahagiaan. Tapi demikianlah hidup penuh dengan huru-hara. Dan untuk mengadopsi kesejahteraan dan tenang teduh sulit untuk berhasil.

***

Rantauprapat, 01 November 2025

Lusy Mariana Pasaribu