Seperti peri tapi bermulut iblis, sial. Apakah harus selalu tentang duit, duit dan duit? Predator berbahaya. Manusia-manusia yang egois. Mengapa lebih nyaman dengan dunia maya daripada dunia nyata? Tidak membersamai dengan layak.
Runtuhnya rumah, runtuhnya kenyamanan.
Kenapa harus menjadi peri berhati iblis? Rusak sudah yang harusnya menjadi tempat pulang, kini hati telah terasa sempit. Sepertinya ke otoriter tak pernah mati. Dan kesepian yang ditiduri menjadi teman, merasakan luka seorang diri, seperti bunga liar yang menyimpan rasa luka dan hanya diam tak ada yang tahu. Menjadi seorang perempuan yang merana, apakah ada yang perduli? Tidak ada satupun sepertinya.
Kebanyakan hanya menjadi peri berhati iblis. Asu!
Takkan ada rindu, tak akan ada cinta. Hanya ada keekuan rumah, terasa hidup jika ada uang, uang dan uang. Hidup seperti apa yang dijalani ini? Hidup yang penuh kesialan, bangsat. Hidup tapi tak terasa hidup. Barangkali sampai mati dan mau menjemput takkan pernah memiliki narasumber dan sejarah hidup yang benar. Meminta mati pun itu bukan hak, tapi menjalani hidup yang seperti ini pun, apakah itu hak apa malah kewajiban?
Siapa yang harus dipertanyakan dan memberikan jawaban. Hidup ini terlalu mengerikan. Hidup hanya untuk memenuhi tanggung jawab yang bukan tanggung jawab pribadi. Tidak punya tanggung jawab sebenarnya tapi harus memenuhi tanggung jawab yang besar, padahal disabilitas ini sungguh memuakkan dan memalukan. Hingga memilih menutup diri dan sendirian.
Kenapa harus ada peri berhati iblis? Harusnya berhenti sedari awal dan tidak mengorbankan banyak manusia-manusia bodoh dan menjadi bodoh kemudian. Kepada siapa ini harus diceritakan. Enyahlah brengsek, pikiran dan hati terlalu berisik.
***
Rantauprapat, 15 April 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar