Selasa, 28 Oktober 2025

Setelah Percakapan yang Sial, Ada Ruang yang Tak Lagi Sama

Kulturtava 
...

Heran, perempuan itu sanggup berkata: aku yang mampus orang itu yang enak. Di mana rasa kepedulian?

Hari ini, hari kedua puluh delapan bulan kesepuluh, hari yang seharusnya menjadi sumpah pemuda untuk kemerdekaan tapi ternyata hari ini tidak menjadi merdeka bahkan tidak ada sumpah untuk kebersamaan yang ada malah terasing. Setelah percakapan yang sial, ada ruang yang tak lagi sama.

Bukankah perempuan itu juga adalah bagian dari sembilu kisah, ada dalam bagian yang merupakan pertanyaan yang tak akan pernah terjawab. Perempuan itu memilih lingkaran yang salah, memilih manusia yang dikarbit.

Sepertinya ruang yang tak lagi sama itu akan menjadi ketakutan dalam berelasi. Bagaimana esok dan nanti? Entahlah, sulit untuk membayangkannya. Ada belenggu yang tercipta setelah percakapan yang sial hari ini. 

Tidak ingin membuat mental menjadi rentan, memilih menjadi batu untuk perempuan itu. Tak ada lagi hati yang ceria untuk perempuan itu hari ini esok atau lusa, namun barangkali setelah lusa tidak ada lagi tampilan skeptis untuk perempuan itu karena bagaimanapun perempuan itu adalah ruang yang tak boleh kosong sebenarnya.

Andaikan tidak ada percakapan di sial hari ini, tidak ada ruang yang memberikan belenggu, terlalu sulitkah berproses dengan seharusnya tanpa memberikan jejak yang penuh luka? Haruskah menjadi ilalang yang tumbuh liar dengan sadar, ada ledakan hari ini yang membuat hati dan kepala berisik.

***

28 Oktober 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 26 Oktober 2025

Ilalang yang Tumbuh Liar

Kulturtava 
***

Tak pernah mau dan merasakan disabilitas, menjadi Ilalang yang tumbuh liar di mana ia ada.

Sepertinya ia ada untuk menyelesaikan masalah tanpa pernah dianggap ada. Hari ke dua puluh enam bulan kesepuluh, ia tidak baik-baik saja, ia bermandikan kotoran dan sumpah serapah. Ke mana ia harus berkeluh kesah dan pulang?

Ada yang berkata, ia berharga sama seperti yang lain? Hahah, itu terlalu menyakitkan, tak pernah ia dipeluk hangat.  Lebih kepada, kehilangan.

Ia ilalang yang tumbuh liar dan berkali-kali meregang nyawa. Ia seperti kisah yang disembunyikan hujan, tak terlihat dan terbaca.  Seharusnya ia tak pernah ada, well ia tak pernah berkuasa akan hidup, terbukti ia tetap ada.

Direndahkan, dalam diam dan tangis ia dilontarkan perkataan kasar, lalu tanpa dosa dan rasa bersalah mengucapkan maaf, ia muak tapi tak berdaya. Seluruh organ tubuh yang ia punya menolak untuk baik-baik saja sudah sejak sangat lama. Mau tidak mau, Ia Ilalang yang tumbuh liar kembali berkutat dengan hari-hari dan wajah-wajah palsu.

Tak ada yang memperbolehkan untuk selalu baik-baik saja dan mendapatkan kesejahteraan karena barangkali kesejahteraan hanya menjadi teman yang asing. Dan seiring berjalannya waktu, ia kembali pulang pada kata, sebab hanya dengan kata Ia bisa bercumbu dengan leluasa tanpa hambatan dan tanpa beban. Kata adalah rumah yang menerima tanpa penghakiman dan selalu memberi penerimaan.

Dan benar ilalang yang tumbuh liar itu harus memberi penerimaan pada diri sendiri, karena tidak ada orang lain yang menerima diri kalau tidak diri sendiri.

***

Rantauprapat, 26 Oktober 2025

Lusy Mariana Pasaribu 



Senin, 13 Oktober 2025

Adakah Kamu telah Belajar?

@Kulturtava
...

Terlalu sadis, ketakutan kala terintimidasi oleh keotoriteran kamu. Sampai kapan? 

Pahitnya hidup semakin bertambah pahit ketika tertekan menghadapi kamu.  Adakah kamu telah belajar? Sepertinya sama sekali tidak pernah, kesalahan yang berulang kali kamu lakukan sampai kini kamu lakukan hingga dua turunan.

Kamu terlalu gagah untuk mau mendengar orang lain. Mau sampai kapan harus selalu didengar dan dituruti? Tidakkah kamu bisa belajar untuk menahan diri sedikit dan mengerti rasa sakit orang lain, kenapa harus selalu pongah?

Terlalu banyak ekspektasi yang kamu tuntut, bukan hanya kamu yang ingin dimengerti tetapi yang lain juga. Kamu yang memanggil kamu yang memulai, tapi kamu tidak siap menjalaninya. Mungkinkah kamu mengerti batasan? Barangkali tidak sama sekali.

Adakah kamu telah belajar? Tidak selalu menjadi bunga yang angka, Andai huruf dan angka bisa dipilih tapi ini sama sekali tidak, seperti kelahiran yang tidak bisa di reshuffle, seperti itu pula kehidupan yang tak pernah bisa dipilih lahir dari siapa dan ada di keluarga yang apa. 

Boom, ledakan terjadi pada suatu malam. Melihat dan merasakan monster yang luar biasa, hari ketiga belas bulan kesepuluh, ada perbincangan dan aksi yang akan meninggalkan luka dan menjadi rekam jejak yang buruk pada pikiran.  Sebuah narasi akan menjadi bendera hitam dalam jangka waktu yang tak ditentukan. Andai bisa memberontak dan menjadi pemberontak, air mata ini bebas terjun dari bola mata telanjang yang pada akhirnya juga tidak berbunyi.

Yang disemai, yang dituai, yang menjadi momok tidak disemai tapi dituai. Malam ini menjadi benci, menjadi amarah dan menjadi kasih yang pura-pura. Terhadap kesabaran, itu hanya omong kosong bagimu. Tak ada bunga-bunga cinta, malam ini banyak luka, hari senin, lelaki dewasa dan lelaki kecil menyimpan bara dalam hatinya. 

Adakah kamu telah belajar? Mungkin tidak akan pernah.

***

Rantauprapat, 13 Oktober 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 09 Oktober 2025

Bukan Soal Bergurau dengan Pahitnya Hidup

@Kulturtava 
...

Tak semua hal harus dikompetisikan, Tapi semuanya harus diberikan penerimaan. Yang menjadi cerita pahit, ketika sudah diberikan penerimaan tapi tidak mendapat penerimaan balik. Hahah, ini bukan soal bergurau dengan pahitnya hidup, ini sejarah hidup yang sangat egois.

Burung dan kucing serta anjing yang tak dipelihara saja selalu datang, namun mengapa tidak demikian dengan manusia-manusia lemah dan liar, merasa lebih baik dengan keangkuhannya.

Terlalu mengecewakan, ini sebuah patah hati yang panjang. Ini bukan soal bergurau dengan pahitnya hidup, ini lebih dari itu. Mengapa dunia begitu berisik?

Dimana bukti dari ucapan jangan mengingat masa lalu? Bullshit, bualan tersembunyi dalam kata-kata.

Bagaimana cara menamatkan kisah toxic seperti ini? Entah, untuk pergi pun tak ada daya, terikat dan tak mampu. Api hanya tetap menjadi api, sampai umpatan kepuasan diri menjadi kenyataan, barangkali ada kesadaran, itu pun kalau ada hati jika tidak, tak ada yang tahu.

Tangisan yang keluar dari mata telanjang ternyata hanya omong kosong, Bagaimana mungkin bisa kembali merasakan ketulusan dengan memegang tangan yang mengharapkan kehangatan, itu hanya pemanis belaka dengan drama-drama di belakangnya.

Terlalu banyak pembuat kejahatan, enyahlah. Hidup ini bukan soal bergurau dengan pahitnya hidup  tapi bukankah lebih kepada tahu menempatkan cara berbicara yang benar dalam situasi dan kondisi seperti apa. Apakah harus ada kepergian dan perpisahan baru api menjadi kesadaran? Mungkin sebenarnya itu menjadi kemauan mutlak.

Ini adalah cerita yang menjadi catatan pagi hari ini. 

***

Rantauprapat, 08 Oktober 2025

Lusy Mariana Pasaribu