Heran, perempuan itu sanggup berkata: aku yang mampus orang itu yang enak. Di mana rasa kepedulian?
Hari ini, hari kedua puluh delapan bulan kesepuluh, hari yang seharusnya menjadi sumpah pemuda untuk kemerdekaan tapi ternyata hari ini tidak menjadi merdeka bahkan tidak ada sumpah untuk kebersamaan yang ada malah terasing. Setelah percakapan yang sial, ada ruang yang tak lagi sama.
Bukankah perempuan itu juga adalah bagian dari sembilu kisah, ada dalam bagian yang merupakan pertanyaan yang tak akan pernah terjawab. Perempuan itu memilih lingkaran yang salah, memilih manusia yang dikarbit.
Sepertinya ruang yang tak lagi sama itu akan menjadi ketakutan dalam berelasi. Bagaimana esok dan nanti? Entahlah, sulit untuk membayangkannya. Ada belenggu yang tercipta setelah percakapan yang sial hari ini.
Tidak ingin membuat mental menjadi rentan, memilih menjadi batu untuk perempuan itu. Tak ada lagi hati yang ceria untuk perempuan itu hari ini esok atau lusa, namun barangkali setelah lusa tidak ada lagi tampilan skeptis untuk perempuan itu karena bagaimanapun perempuan itu adalah ruang yang tak boleh kosong sebenarnya.
Andaikan tidak ada percakapan di sial hari ini, tidak ada ruang yang memberikan belenggu, terlalu sulitkah berproses dengan seharusnya tanpa memberikan jejak yang penuh luka? Haruskah menjadi ilalang yang tumbuh liar dengan sadar, ada ledakan hari ini yang membuat hati dan kepala berisik.
***
28 Oktober 2025
Lusy Mariana Pasaribu