Pixabay
...
Sialan, ingin berhenti memandikan diri dengan orang lain, tapi aku tidak bisa kemana-mana, hanya terduduk di atas sarung tipis, gemetarlah tubuhku atas segala kisah-kisah yang ada, tidak bolehkah aku kesal hati. Aku, perempuan itu dan bocah kecil adalah kisah yang tiada dusta, telah lama tertangkap oleh jebak dan tertahan oleh jerat. Jika suatu hari aku tidak ada lagi, akankah ada yang menangis untukku, benar-benar merasa aku telah pergi dari hidupnya.
Mengapa hari-hariku tidak kuhabiskan dalam kemujuran, hanya berkutat dengan perempuan itu dan bocah kecil, yang sudah menangkap dan membuatku tertahan oleh jerat dan jebak. Mau tidak mau selalu berkutat dengan bencana.
Aku seperti jerami di depan angin. Seperti sekam yang diterbangkan badai, lemah dan tidak tahu apakah pernah merasakan kenikmatan atau tidak. Duaarrr, self love itu tidak pernah kulakukan hanya demi perempuan itu dan bocah kecil yang seringkali menambah beban dalam hidupku tapi lagi-lagi manusia-manusia itu terlalu berisik.
Ingin menolak pasrah akan ini, tapi sungguh daya tidak memiliki sedangkan untuk menggerakkan kaki dan tangan saja sulit, tidaklah yang tahu rasanya 24 jam hanya terkurung dan berteman dulu sepi dan huruf-huruf vokal maupun konsumen yang takkan pernah menolak untuk dituliskan. Aku tidak suka keadaan ini, lagi-lagi sial sbab manusia-manusia itu adalah tempat aku bergantung.
Untuk diriku yang senyumnya telah lama direbut lalu untuk diriku yang sudah lama juga tertahan oleh jerat, tetaplah bertahan untuk hidup di tengah segala keterbatasan dan ketidakmampuan untuk berjalan, masih saja ada orang tua sudah sangat kacau dan menderita ketika orang tua tidak ada, tetaplah memiliki kesadaran untuk alarm menjalani hidup.
Aku yang seperti ini entah siapa yang menjadi pelaku utamanya, dari aku belum mengenal dunia sudah terlalu banyak sentuhan sentuhan liar yang menjelajahi seluruh tubuhku hingga membuat tertangkap oleh jebak pada dosa yang merayu, hingga mati mungkin takkan pernah aku selesai untuk dibaca karena terlalu suram dan sial untuk diceritakan.
Jalan hidup yang ku lalui terlalu suram, terlalu sakit untuk memiliki teman hidup, aku, perempuan itu dan bocah kecil, ada lah kisah sunyi yang seumur hidup akan aku tanggung, adakah yang ingin berbagi dan menghapus air mataku, itu hanya bullshit karena yang harusnya menjadi sandaranku malah yang menghancurkan aku. Perlahan tadi pasti barangkali aku akan gila dengan segala hal yang harus diselesaikan karena perempuan itu dan bocah kecil dan embel-embel di belakangnya.
Akhirnya, aku akan mati dalam segala keterbatasan, Kesunyian dan kegamangan yang gagu tanpa kenikmatan hidup karena yang selalu di 24 jamku adalah keributan dan keributan, materi dan materi yang ingin dipuaskan dahaganya oleh aku yang tertangkap oleh jebak dan tertahan oleh jerat, aku manusia lemah yang dipercayakan masih hidup hingga hari ini, hari kedelapan belas bulan keenam, namun seperti berenga-berenga yang berkeriapan dan gumpalan-gumpalan tanah di dalam lembah, yang tidak cukup aman untuk hidup seseorang diri yang akhirnya tetap sendirian.
***
Rantauprapat, 18 Juni 2026
Lusy Mariana Pasaribu