Sabtu, 27 Juni 2026

Seperti Bara Api dalam Kegelapan

Unsplash 
...

Tadinya, aku berpikir bahwa dirimu seperti bara api yang terang dalam kegelapan tapi bersamamu aku hanya bergaul dengan dusta. 

Pernahkah akan ada sebuah romantisme yang kurindukan? Jawabannya adalah tidak, karena ternyata aku hanya tamu, ah, tamu yang tidak pernah dianggap olehmu. 

Sebegitu menyedihkan perjalanan yang kulalaui, sepertinya yang kau kabur sulit untuk dituai olehku namun apa yang ku tabur dengan gampangnya kau tuai. 

Biarlah tercabut apa yang tidak menjadi bagianku sekalipun aku akan terseok-seok dan hanya terduduk seorang diri dua puluh empat jam di kamar yang busuk tanpa udara.

Sekalipun ternyata engkau tidak seperti bara api yang terang dalam kegelapan dan aku tidak punya daya untuk melawan. Aku tidak akan membuat mulutku berdosa dengan mengucapkan sumpah serapah. 

***

Rantauprapat, 27 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 23 Juni 2026

Kekacauan-kekacauan yang Sama

SHUTERSTSOCK 
...

Untuk perempuan itu, mengapa kau tak berubah, diantara waktu yang luruh, ucapanmu kembali memberikan sejarah yang menyakitkan, satu kata yang membekas di relung hati. Pagi ini dengan sadar dan sengaja kembali mengulang kekacauan-kekacauan yang sama, sadar melihat lengan yang tak berdaya tapi mengapa membiarkan untuk dijatuhkan.

Wahai perempuan yang lahir bulan Agustus apakah masih engkau tidak merdeka tapi jika boleh memilih tidak ada yang pernah mau dan lahir dari perempuan yang hanya mengantar riuh hujan badai dari ucap bibirnya. Algoritma yang berulang-ulang namun satu kata pagi ini merupakan hal yang menjadi artikel utama dari segala ucap yang pernah ada, amazing.

Pagi di hari kedua puluh tiga bulan keenam ada sejarah baru dalam ingatan,  memuakkan. Ini adalah dilema dari kedisabilitasan seseorang, tidak ingin menjatuhkan air mata dari mata telanjang tapi ini terlampau sakit, mungkin selama hampir empat dasawarsa, perempuan senja itu melipat satu kata itu di dalam hatinya yang ternyata menjadi duri dalam ucapan.

Haha, sudah lama tahu bahwa engkau perempuan adalah perempuan yang tidak pernah boleh untuk dibantah tapi pagi ini, baru mendengar dan melihat apa yang terjadi selama hampir hidup empat dasawarsa,  yang tersembunyi dalam kandungan hatimu.  

Pengertian yang kau ajarkan dan selalu kau ucapkan ternyata itu tidak kau hidupi, untuk apa minta maaf setelah rasa sakit yang kau tancapkan di hati atas ketidaksenanganmu terhadap kedisabilitasan seseorang yang terjadinya itu karena dirimu dan seseorang yang kau pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Tidak ada gunanya rasa bersalah, kekacauan-kekacauan yang sama terus berulang. 

Hari kedua puluh tiga pagi tadi, tercengang-cengang mendapati dan mendengar ucapan itu, sesungguhnya menyesal untuk semua setiap yang terjadi, harusnya memang tidak perlu ada, tapi siapa yang berhak menentukan hidup. 

Jika fisik yang dilukai itu akan sembuh seiring waktu tapi jika kata-kata yang diucapkan mau bagaimanapun berdamai dengan diri sendiri akan tetap meninggalkan jejak, mencoba untuk melupa, hahahaha, menertawakan diri sendiri di atas rasa sakit, sama-sama ulat,  sama-sama berenga, sama-sama yang didaur ulang tapi merasa lebih baik dan lebih rohani, sehingga boleh mengucapkan kata-kata sampah jika ketidaksenangan yang terjadi.

***

Rantauprapat, 23 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 22 Juni 2026

Tudung Muka

Pixabay 
...

Tak ingin keluh kesah ini menjadi sejarah pemberontakan.

Ah, seandainya tidak pernah sepertinya ini.

Seandainya yang takkan pernah terjadi.

Ternyata sakit, mendengarkan jawaban-jawaban yang diberikan. 

Sesungguhnya, tidak ada yang akan menerimanya.

Ke timur berjalan, tak ada seorang pun. Juga barat, tak ada siapapun. Ke utara juga demikian. Hingga ke selatan, tak melihat apa-apa, hanya sendirian.

Selalu mengenakan tudung muka, tak terlihat siapapun. 

Padahal sama-sama lahir telanjang, nama kenapa hanya sendiri yang selalu mengenakan tudung muka, basah kuyup oleh hujan lebat dari kata-kata yang dipenuhi kelaliman. Merayakan dari keterbatasan dan ketidakmampuan.

Akan berakhir nihil dan berujung selalu dengan tudung muka?

Terkutuklah, hal-hal yang sering terjadi malah dibiarkan dalam pembiaran. Barangkali sedari awal tidak pernah tumbuh dengan kasih sayang dan selalu dibiarkan dengan tudung muka boleh dikatakan tidak pernah dianggap.

Menderita, penuh dengan cerita akan luka.

Bukan hanya pada malam tak terlihat tapi pada siang hari pun bersembunyi.

Dipatahkan seperti pohon kayu.

Hah, bukan hanya karena gelap gulita tudung muka dikenakan tapi lebih menjaga diri sendiri dengan kewarasan yang masih tersisa sedikit.

Ini catatan di minggu ketiga hari Minggu, hari kedua puluh satu bulan keenam siang hari pukul tiga belas menit tiga puluh satu.

***

Rantauprapat, 21 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 18 Juni 2026

Tertangkap Oleh Jebak dan Tertahan Oleh Jerat

Pixabay
...

Sialan, ingin berhenti memandikan diri dengan orang lain, tapi aku tidak bisa kemana-mana, hanya terduduk di atas sarung tipis, gemetarlah tubuhku atas segala kisah-kisah yang ada, tidak bolehkah aku kesal hati. Aku, perempuan itu dan bocah kecil adalah kisah yang tiada dusta, telah lama tertangkap oleh jebak dan tertahan oleh jerat. Jika suatu hari aku tidak ada lagi, akankah ada yang menangis untukku, benar-benar merasa aku telah pergi dari hidupnya.

Mengapa hari-hariku tidak kuhabiskan dalam kemujuran, hanya berkutat dengan perempuan itu dan bocah kecil, yang sudah menangkap dan membuatku tertahan oleh jerat dan jebak. Mau tidak mau selalu berkutat dengan bencana.

Aku seperti jerami di depan angin. Seperti sekam yang diterbangkan badai,  lemah dan tidak tahu apakah pernah merasakan kenikmatan atau tidak. Duaarrr, self love itu tidak pernah kulakukan hanya demi perempuan itu dan bocah kecil yang seringkali menambah beban dalam hidupku tapi lagi-lagi manusia-manusia itu terlalu berisik. 

Ingin menolak pasrah akan ini, tapi sungguh daya tidak memiliki sedangkan untuk menggerakkan kaki dan tangan saja sulit, tidaklah yang tahu rasanya 24 jam hanya terkurung dan berteman dulu sepi dan huruf-huruf vokal maupun konsumen yang takkan pernah menolak untuk dituliskan. Aku tidak suka keadaan ini, lagi-lagi sial sbab manusia-manusia itu adalah tempat aku bergantung. 

Untuk diriku yang senyumnya telah lama direbut lalu untuk diriku yang sudah lama juga tertahan oleh jerat, tetaplah bertahan untuk hidup di tengah segala keterbatasan dan ketidakmampuan untuk berjalan, masih saja ada orang tua sudah sangat kacau dan menderita ketika orang tua tidak ada, tetaplah memiliki kesadaran untuk alarm menjalani hidup.

Aku yang seperti ini entah siapa yang menjadi pelaku utamanya, dari aku belum mengenal dunia sudah terlalu banyak sentuhan sentuhan liar yang menjelajahi seluruh tubuhku hingga membuat tertangkap oleh jebak pada dosa yang merayu, hingga mati mungkin takkan pernah aku selesai untuk dibaca karena terlalu suram dan sial untuk diceritakan. 

Jalan hidup yang ku lalui terlalu suram, terlalu sakit untuk memiliki teman hidup, aku, perempuan itu dan bocah kecil, ada lah kisah sunyi yang seumur hidup akan aku tanggung, adakah yang ingin berbagi dan menghapus air mataku, itu hanya bullshit karena yang harusnya menjadi sandaranku malah yang menghancurkan aku. Perlahan tadi pasti barangkali aku akan gila dengan segala hal yang harus diselesaikan karena perempuan itu dan bocah kecil dan embel-embel di belakangnya.

Akhirnya, aku akan mati dalam segala keterbatasan, Kesunyian dan kegamangan yang gagu tanpa kenikmatan hidup karena yang selalu di 24 jamku adalah keributan dan keributan, materi dan materi yang ingin dipuaskan dahaganya oleh aku yang tertangkap oleh jebak dan tertahan oleh jerat, aku manusia lemah yang dipercayakan masih hidup hingga hari ini, hari kedelapan belas bulan keenam, namun seperti berenga-berenga yang berkeriapan dan gumpalan-gumpalan tanah di dalam lembah, yang tidak cukup aman untuk hidup seseorang diri yang akhirnya tetap sendirian.

***

Rantauprapat, 18 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 14 Juni 2026

Apakah Hatimu Seperti Empedu yang Pahit?

Pinterest.com 
...

Terkadang kesendirian itu adalah hal yang diperlukan, Tapi kini kesendirian itu adalah teman yang tidak pernah meninggalkan dan menyadarkan bahwa hidup terkadang tidak memberikan pilihan namun tetap harus dipilih.

Apakah hatimu seperti empedu yang pahit? Mampu untuk memberi tapi tidak dilakukan. Begitu beratkah hatimu untuk berbagi. Tidak pernah mau seperti ini untuk dikasihani, ternyata satu bagimu adalah peribahasa.

Di Bawah langit Juni yang dingin, bukan hanya harus mengisi diri dengan kewarasan tapi juga harus mengisi diri dengan kesadaran untuk membatasi diri, dengan segala keadaan mencukupkan diri barangkali kemalangan tidak seperti itu. Menangis dan rasanya sesak tapi jika diteruskan jelas-jelas tidak berguna karena hanya terluka sendirian dan tidak ada yang akan mengerti.

Apakah hatimu seperti empedu yang pahit? 

Haruskah selalu duduk di kamarmu yang sepi tanpa jendela, hanya bercengkrama dengan sunyi dengan huruf-huruf mati, akankah ada yang memberikan cahaya kehidupan atau tidak ada yang peduli sama sekali, apa hanya tanggung jawab sendiri orang tua yang masih ada, kebutuhan rumah yang harus diselesaikan dan tidak ada pemasukan tetap. Apakah karena tidak berkeluarga dan itu menjadi tanggung jawab. 

Bukan pula sebenarnya keberatan tapi bagaimana lagi cara mengeja bahagia jika seperti ini, langkah ini sunyi bahkan tertatih-tatih. Kamu, kamu semuanya sialan. Ini seperti menjadi kidung luka yang dibebankan sendirian. Hari ini di hari keempat belas bulan keenam, sangat memerlukan panduan untuk bertahan hidup. 

Terlalu banyak hama-hama yang harus dihadapi yang tanpa disadari sudah seperti empedu yang pahit. Dua angka lagi menuju empat dasawarsa, masa muda yang dihabiskan hanya untuk menyelesaikan tanggung jawab yang sebenarnya bukan untuk dipikul sendirian, ternyata pusat dunia atau tidak mau tidak mau harus tetap tabah dan tidak gamang apalagi gagu ketika ditinggalkan sendirian. Well, begitulah hidup.

Jadi jika pertanyaannya, apakah hatimu seperti empedu yang pahit? Jawabannya adalah Iya dan tidak tergantung manusianya dan latar belakangnya. Karena bagaimanapun sudah banyak batasan yang dilanggar jadi tetap berjuang menjalani kehidupan di musim yang membingungkan ini.

***

Rantauprapat, 14 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 12 Juni 2026

Di Bawah Langit Juni yang Dingin

Pixabay 
...

Ah, seandainya saudara itu bisa dipilih. Setelah kepergian orang tua, ternyata banyak hama yang seperti bajingan, bahkan baru saja mengatakan aku untuk pergi keluar dari rumah orang tuaku, barangkali engkau mengisi pikiran dengan angin.

Di bawah langit Juni yang dingin, diam-diam menginginkan kehancuranku. Banyak perkataan yang tidak berfaedah, hanya ada percakapan yang tidak berguna. Berkata kasar dan mengumpat kepadaku.  

Bukan aku yang mempersalahkan tapi dari mulutmu sendirilah yang mempersalahkan engkau,  yang harus menjadi tempat sandaran tapi malah tidak sama sekali. Bibirmu lah yang akan menjadi saksi untuk menentang dirimu sendiri, dilahirkan sebagai yang pertama tapi kelakuan minus , nol.

Senyapnya keadilan setelah orang tua tidak ada. Salahkah dan terhinakah aku memilih masa depan, memilih perempuan menjadi pendamping hidupku,  apakah harus aku selalu menjadi sepatu roda berputar pun kemana engkau ingin. Di Bawah Langit Juni yang dingin, terlebih di hari kedua belas bulan keenam keadaan ini sedang tidak baik-baik saja. 

Salahkah ada orang asing yang masuk ke dalam hidupku, ada di tengah-tengah duniaku yang menjadi pilihan masa depanku? engkau mengatakan pilihanku Itu kotoran, sepertinya engkau sudah menggeletar terhadap emas dan rupiah.  Dan ternyata yang dikandung hatimu itu hanya tipu daya.

Suaraku tidak pernah berarti dan tidak pernah terdengar setelah orang tuaku tidak ada, begitu hina aku bagimu. Harusnya rantingku menghijau dan mengandalkan engkau. Tapi aku salah, hari ini engkau memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya, engkau melahirkan kejahatan dan kebinasaan. Seperti pohon anggur yang gugur buahnya, apa yang merangsang engkau untuk menjadi seperti ini? Hartakah, atau kekuasaankah? Kenapa engkau menjadi manusia yang pertama lahir di keluarga ini? tidak pernah menjadi teladan.

Ingin menangkap aku, mengurung aku dalam sangkarmu. Manusia sialan kamu semuanya, ah, seandainya saudara bisa dipilih. Padahal sebenarnya aku bukan tidak perduli. Aku hanya ingin lebih menjaga batasan, karena ada masa di mana, aku hanya butuh diriku sendiri tanpa perlu untuk menjelaskan apapun. Bagaimana masa depanku, apakah itu harus berdasarkan pilihan kamu semuanya. 

Aku hanya ingin memeluk romantisme bersama keluarga pilihanku bukan hanya memeluk kesia-siaan yang sudah lama tertanam dalam diriku, apalagi menanggung penderitaan yang tidak harus aku tanggung. Apalagi karena kamu-kamu semua aku akan mencerai beraikan rumah tanggaku, itu tidak akan menjadi pilihanku. Tidak mau lagi terikat akan omong kosong itu. Di Bawah langit Juni yang dingin, Aku berharap bisa hidup dengan tenang dan tentram bersama keluarga yang kupilih.

***

Rantauprapat, 12 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 10 Juni 2026

Diam! Mengapa Mengejar Jerami yang Kering?

Kulturtava 
...

Masih terus belajar untuk menerima keadaan. Memaknai genggaman kesabaran yang harus terus dipegang, terlalu banyak menghadapi pemimpin gila dalam sejarah hidup. Kenapa harus tersudut dan terdesak, hingga tertekan seorang diri?

Ternyata tidak semudah itu untuk berdiam diri. 

Diam! mengapa mengejar jerami yang kering? Itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Banyak makna yang hilang, terlalu mengatur tanpa mau diatur. Terlalu banyak sepi sunyi yang diseduh, ini bukan hanya sesekali tapi terlampau sering.

Hari-hari terlalu mencekik, pagi hari terasa menjadi malam yang gelap, malam hari seperti tak pernah berlalu, tidak pernah ingin panik dan tidak pernah ingin mengejar jerami yang kering namun yang menjadi realitas penuh tragedi.

Sampai kapan harus di grogoti darah yang tidak perlu dikorbankan, apakah harus terus menerima dan meratapi nasib yang tidak bisa kemana-mana dan bergerak sekalipun. Diam! Berteori gampang tapi tidak jika diaplikasikan. Sesak, ini sudah diambang batas.

Diam. Jika tidak menjadi korban tidak akan pernah merasa, jarak hidup dan mati juga di dunia yang masih dingin. Tidak lagi memiliki gunung batu keluputan. Benar cinta itu tanpa tapi tapi mau sampai kapan mencintai yang sia-sia. Berkorban sendirian dan mencintai sendirian barangkali. 

Ini bukan lagi soal dikuasai kekhawatiran yang berlebihan ini lebih kepada mengapa mengejar jerami yang kering. Tidak ada kenangan yang baik, tidak ada kisah yang paripurna. Ingin berhenti mencintai sebab mau berapa lama lagi akan berada di entah.

Ini adalah pengakuan pendosa yang payah, pendosa yang tidak riap tumbuhnya, boom, terlalu berbahaya dan terlalu kesepian. Berharap tidak lagi berada di dalam gantang di dalam waktu yang lama. Dan tidak lagi mengejar jerami yang kering. Dan keluar dari trauma psikisnya.

***

Rantauprapat, 10 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu