Minggu, 31 Januari 2021

Lalu Perempuan Itu Pergi

@kulturtava
...
Tak ada kasih mesra. Di sela detik waktu yang membuat berjeda, bersama ratapan, perempuan itu terbaring layu. Beraroma ketidakpedulian, ia diabaikan. Tersesat dalam kerumitan. Lalu perempuan itu pergi. Pergi dari perhatian yang ingin didapatkan.

Ya, dulu. Cinta, cinta, cinta. Begitu indah. Rayu sang kekasih jiwa begitu mempesona. Namun itu dulu, kini cinta itu telah berpindah haluan. Keyakinan dan komitmen seakan lepas dari ingatan. Harapan lalu, hanya tinggal kenangan. Cinta, sudah meninggalkan hati. Tak ada hembusan kesegaran dalam jiwa. 

Lalu perempuan itu pergi, pergi untuk menggapai cinta yang sesungguhnya. Ia ingin meninggalkan sunyi sepi, ketika cinta semu membuatnya terdampar dalam kehampaan semu. Dalam harap cemas, perempuan itu tetap merindukan cinta baru yang akan tumbuh di relung hatinya.

Biarkanlah perempuan itu berharap. Bahkan pergi dari hasrat yang berbahaya. Datanglah cinta, datanglah cinta. Cinta yang lahir dari ketulusan. Hingga perempuan itu akan bisa tersenyum, melangkah dalam keindahan warna yang berwarna. 

Begitulah perempuan itu dan harapannya tentang cinta. Akhir Januari 2021 adalah awal baru untuk cinta baru yang akan tumbuh di hati perempuan itu. Kuduga, suatu hari perempuan itu akan menemukan kebahagiaan di hidupnya.

Ah, semoga apa yang kuduga menjadi kisah nyata untuk perempuan itu. Karena tanpa cinta, hidup perempuan itu akan terasa hampa.

***
Rantauprapat, 31 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 30 Januari 2021

Hujan Deras di Akhir Januari

@kulturtava
...
Padahal malam ini, aku ingin menghidupi bahagia. Tapi ingin itu menjadi ingin yang hanya sekedar ingin. Karena hujan deras telah jatuh di akhir Januari. Malangnya, hujan itu jatuh bukan dari langit malam. Dan masih terlalu panjang tahun ini, masih ada empat puluh delapan minggu lagi. Mau tak mau, pada segala yang terjadi sekalipun itu lara, aku harus mau untuk berjabat tangan. Pasti ada tenang teduh yang akan bersimpangan dengan hidup.


Hujan deras yang jatuh bukan dari langit malam.
Seperti badai dan menyebabkan malam menjadi malang. 
Segala kebahagiaan yang mengisi waktu di pagi hari hingga sore seketika tak berarti. 

Tak ingin sebenarnya, lara dan kemalangan menduduki sebagian hati dan pikiran. Yang ada, lara menjadi milik malam ini. Haruskah kalah-mengalah, menjadi pertanyaan demi pertanyaan mengepung diri. Bahkan ingin menjadi pemberontak, barangkali. Tidak, sepertinya lebih memilih menjadi pecundang. Diam-diam dan mahir berpura-pura, bak jerami yang diterbangkan badai.

Hujan deras di akhir Januari.
Biarlah hanya memberi jeda untuk bahagia. Sebab, tak ingin kemalangan akan enggan untuk beranjak pergi. 
Harus berjalan maju, tak ada nilai estetik dari diri yang tidak berjalan maju. Apa lagi dari diri yang tanpa kepala. Mungkin hujan deras sedang bercanda, tak perlu terlalu patah hati.

Tak ada yang salah pada hujan deras di akhir Januari, sekalipun tidak turun dari langit. Percayalah.

Mungkin lara dan kemalangan yang dirasakan malam ini, sebenarnya tidak begitu.

***
Rantauprapat, Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 29 Januari 2021

Perempuan Oh Perempuan

@kulturtava
...
Banyak tuduhan diajukan padamu hari ini, hari di mana sejarah yang dahulu kembali terulang. Penuh luka dan duka. Kau membelenggu kesadaranmu dan menyerahkannya kepada pohon keangkuhan yang sia-sia. 

Hari ini, kau sama sekali tidak membantah tuduhan itu. Hanya isak tangis yang menjadi reaksimu. Entah kau menyesal entah tidak. Perempuan oh perempuan, mau sampai berapa lama lagi kau seperti ini.

Kejahatan apa yang telah kami lakukan, hingga kau berhasil menjadi lalang pada gandum yang kita miliki. Sepertinya, kau akan terhitung di antara orang-orang yang penuh kepandiran. 

Perempuan oh perempuan, mengapa kau meninggalkan jejak kejujuran? Mungkin di depan manusia kau bisa bersandiwara. Hingga menjadi manusia yang berpangkat Tuhan. Tapi di depan Tuhan, kau tak pernah bisa bersandiwara. Ahh, inilah saat persembunyianmu terungkap. 

Hati kami gundah karena tekanan yang kau berikan. Setelah hari ini, bisakah kejujuran kau miliki lagi? Lagi-lagi ini menjadi pertanyaan yang besar dan sulit untuk menduga. Berulang kali terkecoh, saat memberi harapan dan kesempatan padamu. 

Hari ini, biarlah kami marah. Besok, semoga lebih tenang teduh dalam menerima kenyataan yang kau beri. Kami tidak bisa pura-pura saja menanggapimu. Sesungguhnya, tak ada niat untuk menjatuhkanmu. Atas duka luka hari ini, semoga daun kepandiranmu akan layu. 

Usai sudah kau membelenggu kesadaranmu. Biarlah kau belajar dari kejadian ini dan tidak lagi-lagi pedih menampar kami dan itu disebabkan olehmu. Dan kita tidak akan lagi tenggelam di dasar samudera kesedihan. 

Perempuan oh perempuan. Bila saja kau tak berlawanan dengan kejujuran, mungkin duka luka ini tak begitu dalam.

***
Rantauprapat, 29 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 28 Januari 2021

Tentang Hari Ini dan Saat Itu

@kulturtava
...
Entah kenapa, kau tak pernah jera membuat gaduh. Kau berulangkali gagal untuk usai dari kata yang menyesatkan. Sulit bagimu untuk berjaga-jaga dari rayu yang menggoda.

Kau perempuan dalam gantang yang sungguh menyulitkan. Hu, aku ingin marah. Biarlah hari ini mungkin juga besok, barangkali juga lusa aku menepi darimu. 

Tentang hari ini dan saat itu. Adalah ingatan yang buruk menurutku. Saat itu, ketika kejujuran ditinggal pergi dari hatimu. Hari ini adalah hari yang penuh kemalangan bagiku. Mengapa kau biarkan mata hatimu buta?

Kau dihantam kerasnya kedegilan hati. Mengheningkan cipta dari kebenaran lagi pengertian. Lagi-lagi kau memberikan duri yang tajam. Bukan malah memelihara gandum tapi mengawetkan lalang di hidupmu. Seakan gandum yang kau miliki tidak lagi begitu penting. Menjadi asing seasing-asingnya. 

Tentang hari ini dan saat itu. Hari ini adalah sejarah yang dahulu kembali terulang lagi dan saat itu, saat di mana  kau tidak berlawanan dengan dosa yang merayu. Dan ya, aku hanya perempuan biasa, yang ketika berulang kali kau sakiti pada hal yang itu lagi itu lagi, kemarahan tak bisa lesap dari hatiku dengan mudah. 

Mungkin kau memang seperti itu, perempuan yang mudah jatuh pada kesia-siaan. Tahukah kau wahai perempuan? Perlakuanmu memberi banyak ratapan air mata. Tapi ah, kumengeluh pun tak ada gunanya. Ikatan di antara kita begitu erat. Namun, mau sampai kapan aku kehilangan demi kebahagiaanmu!

Dan kini, aku tetap berharap kedegilan hatimu akan kering gugur. Mungkin sebenarnya, kau pun merasa luka dan duka, tapi pohon angkuh yang bersemayam dalam jiwamu buatmu mengalami disabilitas nurani.

Tentang hari ini dan saat itu, aku masih berharap kau tak selalu dibungkam waktu kebodohan. Di antara kepadatan manusia, mungkin tak lama lagi, saatnya kau menikah, ada masa depan bahagia untukmu. Dan air mata tak mengisi ruang dalam duniamu. 

***
Rantauprapat, 28 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Ketika Kejujuran Ditinggal Pergi

@kulturtava
...
Kejujuran tak kamu biarkan terletak pada hatimu. Tak ada kewaspadaan dalam dirimu, dengan mudah kamu jatuh pada hal yang menyesatkan. Akhirnya, hari ini, kabar-kabar tentang hal-hal yang kamu sembunyikan, semuanya terungkap.

Lagi-lagi kau seperti ini, menjadi lalang pada gandum yang menaungimu. Seperti gempa bumi, kamu melawan dalam pemberontakan. Dipukul kalah oleh angin kedegilan. Karenamu, banyak gelisah dan kuatir yang timbul. 

Tentang hari ini dan saat itu. Hari ini, semua yang bersembunyi tampak. Dan saat itu, saat kejujuran ditinggal pergi dari hatimu. Kini yang ada hanya ratapan dan kesia-siaan. Oh, entah apa yang merasukimu. Seperti ada perusak yang mengikat dirimu. 

Di kesunyian pagi yang dingin, yang belum penuh hiruk pikuk, bagiku kamu menjadi seseorang yang menakutkan. Jatuh pada kenikmatan yang menjerumuskan. Apa yang memaksamu, meningglkan kejujuran.

Berbulan, kamu menutupi kebohongan demi kebohongan yang lain. Namun hari ini, kamu tak lagi bisa berdusta. Aku sudah bertanya. Ah, kamu hanya sanggup untuk diam tak berkesudahan. Saat ini, aku ingin berada di entah. Agar, detik-detikku tak kurasakan pada kemarahan.

Anehnya, kamu yang bersalah. Aku yang menangis. Akhir di sisa Januariku penuh huru-hara. Langkahku kusut. Kamu membawa bunga-bunga layu dan tandus bagiku. Aku letih dan meronta karena kehampaan yang kamu sebabkan.

Inilah konsekuensi ketika kejujuran ditinggal pergi, kedamaian dan kesejahteraan pun berlari. Ah, rasanya aku pantas marah. Kini, dalam isak tangisku. Aku, masih berharap, setelah hari ini. Di suatu hari yang kapan. Kamu akan bosan pada kesia-siaan dan kedegilan. Kamu pun akan lelah pada kebohongan.

***
Rantauprapat, 27 Januri 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 26 Januari 2021

Sebab Kesejahteraanmu adalah Kesejahteraanku

@kulturtava
...
Bilamana perihal jeda dan kesenjangan yang payah merumitkan kita, aku yang harus mengalah. Karena aku paham batasanku. Luka yang kuterima darimu, tidak akan membuatku jera mencintaimu. Sebab kesejahteraanmu adalah kesejahteraanku. 

Bagaimana pun, ada rasa syukur dalam diriku, bahwa kau adalah bagian dari hidupku. Selain luka, aku merasakan banyak kebahagiaan darimu. Aku tak lupa itu. 

Benar, kau seseorang yang ada di muatan hatiku. Selama kau masih bernafas dan selama aku masih bernafas, aku rela kalah-mengalah demi kenyamanan kita. Walau terkadang, aku memilih untuk berpura-pura di depanmu. 

Ya, akan ada saatnya. Karena kesenjangan yang payah, kau mengundang gelisah bagiku. Namun, pemahamanku terhadapmu tak akan kubiarkan mati. Aku akan tetap menyambutmu di hatiku. Kau salah satu dari beberapa kampung halaman yang ada di hidupku. 

Terkadang aku sulit membaca dirimu, ada saatnya di suatu detik, kau menjadi udara yang ramah. Seperti air gula yang manis. Di suatu detik yang lain, kau seperti udara yang kotor. Seperti air deras yang keruh. Atas hal ini, aku tak ingin menjadi pecundang. Dan membuat jiwaku jatuh pada keluh kesah. Apa lagi sampai melestarikan air ratapan yang penuh pertanyaan.

Yang pasti, kau merupakan sejarah yang mengisi ruang-ruang buku kehidupanku. Sejarah yang memberi banyak kenangan. Seperti teka-teki zaman, kau sulit ditebak. Mempunyai keindahan dari sepi dan keramaian yang kau timbulkan. Ah, tak seharusnya aku membiarkan diriku berlebihan menanggapi sikapmu. Sebab kesejahteraanmu adalah kesejahteraanku. Titik. 

***
Rantauprapat, 26 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Mendung di Mataku

@kulturtava
...
Ah, lagi-lagi luka yang kuterima. Bukan aku tak ingin memiliki keberterimaan, tapi sungguh ini terlampau sakit. Tanpa sebab, bak kilatan petir. Sorot mata dan ucapmu yang tajam mengundang mendung di mataku. Butiran air pun jatuh di wajahku. 

Dulu, aku memiliki seseorang yang bisa merayu isak tangisku. Kini, aku hanya seorang diri. Dan aku harus tahu diri untuk memelihara diri dari kesukaran ini. Bagaimana pun, kau tak akan pernah tahu rasanya jadi aku. 

Sebenarnya, dirimu ada di hatiku. Kesejahteraanmu pun adalah kesejahteraanku. Bahkan, aku pernah kehilangan demi kebahagiaanmu. Sepertinya itu tidak berlaku untukku, nyatanya kesejahteraanku bukan berarti kesejahteraanmu. Barangkali, ini adalah salah satu bentuk ketidakadilan hidup. 

Karenamu, aku bersekutu dengan rentetan gelisah. Dirimu mengkudeta kedamaian jiwaku, aku menjadi begitu resah. Aku hanya ingin melawati hari ini, hingga malam tiba, aku akan tertidur dan saat jarum jam berganti pertanda pagi telah tiba. Aku akan membuka mata dan keluar dari kamar kecilku, melangkah dengan perasaan yang benar dan mampu melihatmu dengan cara yang benar.

Ini kehidupanku, mau tak mau, aku yang harus berusaha memelihara diri dari kesukaran. Entah akan terjadi lagi, di suatu detik yang kapan, mendung di mataku akan menjadi kehidupanku, dan itu disebabkan olehmu, aku tak ingin terdampar di tengah pilu. Aku harus membaca kehidupanku dengan bersalaman dan memeluk erat-erat penerimaan.

Lantas, sampai kapan aku harus menyaksikan hal-hal yang seperti ini? Sampai kapan aku harus melangkah dengan penerimaan? Barangkali, sampai aku masih bernafas. 

***
Rantauprapat, 25 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 24 Januari 2021

Mengapa Engkau Tertekan, Hai Jiwaku?

@kulturtava
...
Seluruh hidupku milik-Mu tapi aku masih menabur benih kebencian dan kehancuran. Aku manusia yang payah dan merumitkan diri sendiri. Aku berkabung di bawah impitan kekhawatiran. Segala ragu bergulung melingkupi aku. 

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?. Pertanyaan yang sulit terdefenisikan. Pertanyaan yang sulit kujawab, barangkali aku telah gagal memahami diriku. Gelisah yang ada dalam diriku. Jiwaku gundah gulana. 

Malangnya, dalam kepadatan hidup yang penuh ketidakadilan. Jiwaku bukan merindukan Sang Maha Sempurna si Penguasa Waktu, tapi malam menikmati waktu bersama kebodohan. Siang malam, air mataku jadi teman.

Saat jiwaku tertekan, aku menjadi manusia yang berpangkat Tuhan. Menjadi korban, pelaku, dan tersangka atas kedzoliman yang kulakukan. Terkadang, aku malah gempita merayakan ratapan yang kurasakan.

Bukan sekali atau dua kali, aku membunuh naluriku, kejadian yang bernama kepedihan malah kusimpan baik-baik dalam jiwaku. Aku seperti lalang di antara gandum. Ketika perasaanku mampu menimbulkan pertanyaan seperti. Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? Ah, mungkin gelisah telah tumbuh terlalu lebat.

Untuk hidup pun, terkadang aku tak bergairah. Menerima perlakuan yang menimbulkan pedih hati. Kataku dalam hati, ada harapan yang harus kupadamkan. Dan harusnya, aku ingat pada Sang Pemilik Hidup. Haus pada Tuhan dan berharap pada-Nya. 

Karena tak sepantasnya, aku membuat jeda dari Tuhan. Bagaimana jika Tuhan, pemilik hidup melupakan aku? Aku sama sekali sudah tidak bernilai.

***
Rantauprapat, 24 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 23 Januari 2021

Memelihara Diri dari Kesukaran

@kulturtava
...
Perempuan itu ingin memelihara diri dari kesukaran. Ia tak ingin tergelincir menuju jalan badai. Bola matanya sering basah oleh hujan air mata, karena gandum yang ada di muatan hatinya. Perempuan itu tak akan pernah tahu bagaimana alinea hidup akan berlangsung. Namun jika resah berkuasa atas dirinya, perempuan itu tahu bahwa ia tak akan membaca kehidupan dengan semangat.

Ia harus menahan diri dan membangun penjara untuk tidak mencintai kesukaran. Agar tidak terikat pada hal yang bernama kepandiran. Ya, perempuan itu ingin melanjutkan hidup tanpa bermanja pada hasrat yang menggoda. Tanpa ragu, ia ingin beranjak dari paradigma khawatir yang berlebih.

Benih-benih kehidupan yang ia miliki, harus jatuh di tanah yang tepat. Agar tidak menjadi kesia-siaan. Kesukaran yang bertumpuk-tumpuk ada, harus membuat perempuan itu tegar. Senantiasa sabar, tapi bukan pasrah. Namun, tetap berjuang. Menanam harapan dan kepercayaan, bahwa akan ada masa depan bahagia untuk dirinya. Kesukaran tak akan membuatnya gelap dan merasakan ratapan yang seharusnya tidak dirasakan.

Ketika berhasil memelihara diri dari kesukaran, akan ada penerimaan diri. Karena yang terbaik adalah, mencintai hidup dan menjauhi hal-hal yang fasik. Ahh, perempuan itu sungguh ingin memelihara diri dari kesukaran. Tuhan mengizinkan bertemu dengan lalang, namun juga mengizinkan untuk merasakan gandum. Dan perempuan itu yakin, selama detak jantungnya masih berdegub, ia mampu berjuang untuk hidup lebih baik.

***
Rantauprapat, 22 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 20 Januari 2021

Kita dan Tahun Kemurahan

Painting by Arthur Briginsky
...
Tak ada satu pun manusia yang berkuasa atas maut. Bahkan saat ingin mati karena kefasikan yang dialami tetap tidak akan mati kalau belum saatnya. Selagi masih dibawah matahari, hal-hal yang celaka dan sia-sia kapan saja bisa terjadi.

Ketika wajah kehidupan tak ramah juga penuh awan gelap disertai kilatan petir, basah di halaman air mata. Jangan menyerah kalah. Berjuang untuk memakamkan luka. Semoga tahun yang sedang dijalani menjadi tahun kemurahan dari Sang Maha Sempurna. Percaya dan lakukan saja bagian kita. 

Memasuki awal baru di setiap musim, akan datang hari-hari yang panas dan dingin. Terkadang, tanpa tahu kenapa, kita akan merasa ada di entah. Penuh kebimbangan. Namun, kita masih punya Tuhan. Lewat doa, kita mengirimkan pesan, mohon kasih sayang Tuhan memberkati masa hidup dengan tahun kemurahan.

Kita adalah ciptaan yang harus menyimpan pengharapan dalam cara yang benar, agar kita tak jauh-jauh dari sisi keberterimaan. Dan melahirkan keyakinan, akan ada tahun kemurahan di perjalanan hidup. Tahun kemurahan, biarkan berjalan dan menjadi milik kita yang percaya dan yakin. 

Mulai bulan ini hingga bulan-bulan ke depan, biarlah kita terjebak dalam merayakan hari keberterimaan. Untuk apa kita pada hidup, karena hidup bukan untuk dipersalahkan tapi hanya untuk dijalani dan disyukuri. Dan dari pada memperumit diri dengan segala rumus kehidupan, bukankah lebih baik mohon Tuhan beri tahun kemurahan pada kita. Hingga kita akan mampu memilih diam, saat percakapan membuat kita terasing. 

Begitu saja, benar begitu saja.

***
Rantauprapat, 18 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 19 Januari 2021

Sebuah Malam dan Kejujuran dalam Percakapan yang Berenergi

@kulturtava
...
Di dalam hatimu, yang tak boleh tersentuh lagi olehku, ternyata masih ada cinta untukku. Kejujuran yang buatku salah tingkah. Dasar payah. Bagai kilatan petir, perasaan ini antarkan rindu pada dirimu. Kenangan masa lalu tak lagi bisa kusembunyikan. 

Aku tak pernah mengharap dan menduga, setelah enam tahun menyudahi kisah kita, kejujuran yang seperti itu akan terdengar lagi. Dan di sini, kejujuranmu seperti air gula untuk hatiku. Aku kembali mempersilahkan diriku jatuh pada ingatan tentangmu. Ini sebuah jalan yang tak ada ujung sebenarnya, aku tahu itu. Tapi malam ini aku telah gagal. 

Kamu kekasihku, namun itu dulu. Sudah lama berlalu. Ah, hati-hati hati. Aku gagal, percakapan yang tak disengaja malam ini, menjadi percakapan yang berenergi bagiku. Seperti kecupan manis yang pernah kumiliki darimu. Ada pula air mata yang tumpah, mataku basah. Kini, aku menyesal atas keputusanku perihal perpisahan kita. Ahhh, penyesalan yang tidak bisa kusesali lagi.

Ini malam, masih sama. Sendiri, karena pada akhirnya percakapan kita terhenti. Dan dini hari akan datang, pagi akan kembali. Kamu yang tak akan pernah kembali, karena kamu telah lama pergi. Aku menyadari, bahwa kita tidak akan pernah bisa bersama. Entah di suatu masa kapan pun. Karena mencintai cinta orang lain itu tidak akan baik. 

Kejujuran dalam percakapan yang berenergi malam ini, mau tak mau aku dejavu. Mengenai hal ini, ada rasa senang di hati. Tapi aku tak ingin berimajinasi terlalu dalam. Aku takut terjebak pada hasrat yang bukan milikku lagi. Dengan ejaan kata yang pasti, aku harus menghidupi bahagia dan percaya bahwa kesendirian tidak selalu membawa kemalangan.

Tapi malam ini, setidaknya aku bahagia. Dan di kamar kecil yang sepi ini, aku perempuan dewasa yang masih payah ini memilih berpuisi. Sekarang, malam ini aku menikmati rindu tapi rindu ini tidak akan kubiarkan memeluk erat-erat hati dan jiwaku. Aku hanya rindu tapi tak ingin kembali. Begitu saja. 

***
Rantauprapat, 19 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 18 Januari 2021

Kampung Halamanku adalah Kau

Pinterest
...
Kau, adalah kampung halamanku. Yang mengajariku keberterimaan dan kerendahan hati. Saat pencarian tak selalu menemukan, saat keadilan tak selalu bicara, saat seperti itu yang diperlukan hanya berdamai dengan keadaan. Itu yang sering kau ucapkan.

Adalah kau,
Yang tiada ambil perduli terhadap ucapan orang yang tidak berdampak baik padamu. Ya, adalah kau yang selalu berusaha mengerdilkan hasrat pada keinginan yang menggoda.

Kampung halamanku adalah kau, tempatku pulang dan berkeluh kesah. Saat aku tawarkan duka karena luka yang kurasa melahirkan benih-benih amarah, kau mampu menenangkanku. Kau rayu isak tangisku dan buatku kembali tenang teduh. Saat aku tak perduli pada diri sendiri, kau mengubah cara pandangku. Di lautan keperdulianmu, aku merasa bersyukur.

Saat aku terhempas gelombang ratapan, air mata tumpah, sesak nafas yang terasa, bukan sehari dua hari, tapi sudah banyak hari, aku bersyukur memilikimu sebagai kampung halaman. Aku tahu ke mana harus pulang dan kembali.

Satu hal yang tak kulupa, kau adalah kampung halamanku yang memberi kenyamanan. Di kedalaman hatiku, kau mampu memberi keseimbangan dalam waktu yang kulalui. Kau seperti air gula dan sinar pagi yang indah bagiku.

Kepadamu kampung halamanku, aku membayang tentang perjalanan kita ke depan. Kita adalah bagian yang saling melengkapi dan di lain waktu, kita juga akan saling bertengkar tapi kita akan kalah-mengalah untuk kembali beromantika pada embun-embun kebersamaan.

Kini, aku tahu bahwa kampung halaman tak selalu bicara tentang tempat. Aku, tak menyesal menjadikanmu kampung halamanku. Sungguh, aku tak menyesal.

Kau itu ibuku.

***
Rantauprapat, 17 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 17 Januari 2021

Fragmen Bulan Januari

@kulturtava
...
Terkadang, seringkali aku tak pandai membaca diriku apalagi membaca dirimu. Bahkan, aku pun sering tak pandai membaca asa. Januari adalah bulan pertama di setiap tahun, baru beberapa minggu dilalui, aku harus kalah dan mengalah.

Pun detak yang perlahan, bunyi seperti dahan patah, bak jerami yang diterbangkan badai. Januari ini, patah hati kembali menduduki pikiranku. Mengapa? Aku seakan enggan tersadar dari kesepian.

Tapi ternyata rasa sepiku tidak begitu. Entah, saat keberterimaan kumiliki. Aku enggan tersadar dari keberterimaan, yang memberikan bahagia.

Namun realita, tak membiarkan aku hanya mampu mencintai. Bahwa sepi dan kegaduhan bisa dan mampu membuatku merayu bahkan mencicipi dosa.

Setelah sadar sudah mencicipi dosa, tenang teduh tak lagi dirasakan. Titik ratap dan kertak gigi yang terasa. Butuh penghibur lara dan penghapus sesak. Walau hanya melalui telinga yang siap mendengar keluhku, itu sudah lebih baik. Tak perlu air gula yang semanis madu. 

Biarlah angin Desember yang penuh patah hati, yang penuh halaman-halaman gelisah dan sudah kuakhiri, kembali bermain-main dan menjadi peristiwa penting di fragmen bulan Januari bahkan di bulan-bulan selepas Januari.

Aku harus dan mau untuk baik-baik saja dan yang harus diusahakan adalah berdamai dengan segala realita. Aku harus menghidupi hal itu.

Karena kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Ah, sulit untuk mempercayai itu memang. 

***
Rantauprapat, 02 Desember 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 16 Januari 2021

Menikah, Tidak Menjadi Bagian Hidup Setiap Orang

www.kompas.com
...
Dunia pernikahan pasti penuh warna, baik suka maupun duka. Menikah pun harus siap berbagi dengan seseorang yang telah dipilih untuk menjadi teman hidup. Berani menikah, harus berani berkomitmen seumur hidup dengan orang lain. Karena menikah adalah sesuatu yang dapat mengikat diri.

Ada yang mengatakan dunia pernikahan adalah dunia yang indah. Ada pula yang mengatakan sebaliknya. Tapi setiap orang yang sudah menikah, harusnya mensyukuri dan menjaga dunia pernikahannya dengan baik. Karena pernikahan adalah berkat yang Tuhan berikan.

Dalam perjalanan hidup ini, tidak setiap orang mendapatkan berkat untuk menikah. Ya, itu adalah fakta.

Kenapa saya katakan begitu?. Apa yang menyebabkan kalau menikah, tidak menjadi bagian hidup setiap orang? 

1. Seseorang itu sendiri yang memutuskan untuk tidak menikah. Seseorang yang meyakini bahwa dengan melajang hidupnya akan lebih berdampak dan bermanfaat untuk dirinya, untuk orang lain, dan untuk Tuhan

2. Seseorang itu tidak bisa menikah karena faktor disabilitas fisik yang melekat dalam dirinya. Walau ada juga yang mengalami hal ini, seseorang tetap menikah. Tapi ini tidak berlaku pada setiap orang yang mengalami disabilitas. Menikah adalah impian bagi perempuan atau laki-laki, tapi karena keterbatasan fisik, bisa dan sangat bisa pernikahan itu tidak teraih dalam hidup perempuan dan laki-laki yang memiliki keterbatasan fisik.

3. Tekanan orang sekitar, mungkinkah seseorang yang tertekan bisa tidak menikah. Sangat mungkin, karena ada seseorang yang sangat ingin menikah tapi tidak juga menikah, karena ada ketakutan dalam dirinya. Takut akan gagal dan tidak mampu membina rumah tangganya. Keadaan yang dilihatnya, lebih berkuasa dalam dirinya. Keadaan yang mendorong seseorang itu menyakini bahwa pernikahan bukan bagian hidupnya. 

Ketika pernikahan bukan menjadi bagian hidup setiap orang. Orang itu mau tak mau harus menjalani hidup dengan penerimaan dan keikhlasan.

Bagi saya pribadi, pernikahan adalah karunia Tuhan yang harus dan sangat harus dijaga, disyukuri dalam hidup. Saya pun berdoa pada Tuhan, akan ada seseorang yang hadir dan menjadi teman hidup saya. Amin

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 14 Januari 2021

Oh Hidup, Peluklah Diriku!

@kulturtava
...
Hari ini aku sehat. Besok, apakah aku sehat? Tak ada yang tahu. Ketika waktu membuatku kaku, karena kemalangan menduduki sebagian hatiku, maka gelisah hatiku. Memacu detak jantungku kian tak beraturan.

Ketika kesejahteraan tak jalan seiring denganku, sebab gandum yang ada padaku malah menjadi lalang. Terundung pada sikap yang sepatutnya tidak kurasakan. Lagi-lagi, aku melihat wajah Januari yang kusam. Hingga banyak tanya yang bertamu di kepalaku.

Terkadang ada rasa percaya. Terkadang rasa percaya itu mengerdil bahkan redup. Pada suatu detik,  aku dilahirkan. Entah kelahiranku diharapkan entah tidak. Karena pada suatu detik yang lain, aku ingin mati. Dan itu diharapkan olehku. 

Pernyataan seperti,
Kau berbeda. Mungkin kau tak pantas untuk menghidupi bahagia. Kau selalu terhampar dalam hamparan mimpi yang semu. Sebaiknya segera sadar. Dan, bum! Ledakan keras ada di dalam kepalaku.

Ah, aku lelah. Lelah menjadi pendosa yang angkuh. Perasaan hampa meluas pada diriku. Oh hidup, peluklah diriku pada kesadaran hati yang benar. Barangkali itu yang harus kuucapkan dan kumiliki.

Dan, bum! 
Saat waktu kembali mencipta jarak padaku. Saat kesedihan tak lagi terkatakan, saat tak ada satu pun manusia yang bisa menolongku, aku pun malah berjeda dari Sang Maha. Payah, dasar aku pendosa yang angkuh.

Bagaimana mungkin, aku berkata :
Oh hidup, peluklah diriku dengan kesadaran hati yang benar. Sementara aku pun memilih berjeda dari Tuhan. 

Aku menjadi paham kini, kenapa aku membiarkan diriku menjadi pendosa yang angkuh. Karena aku tidak menemukan keberterimaan atas hidup yang Tuhan berikan padaku. Semakin sepi, aku sering kabur bersama kepura-puraan.

Sudah lama aku sakit, sudah berwarna karat. Aku sudah dewasa, sampai kapan pada ratapan yang seharusnya tidak kurasakan. Bukankah tak akan ada hidup yang selalu memberikan apa yang kumau. Selama bumi masih ada, katakanlah :
Oh hidup, peluklah diriku dengan segala keberterimaan. 

Begitu saja, barangkali.

Tentunya, tidak lagi berjeda dari Sang Maha Sempurna!

***
Rantauprapat, 14 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 13 Januari 2021

Cabo de Flores

@kulturtava
 ...
Bersuku indah. Tentang sebuah kabar yang menyapa dari Tanjung Bunga. Masih samar-samar dan belum pasti. Dan masih bertanya, mengapa kabar yang tak pernah diketahui ini malah menghampiri.

Agar waktu tak terlihat basah, jangan paksakan kebingungan menguasai. Aneh awalnya. Masih terlalu pagi untuk mengerdilkan hasrat. Lantas, untuk apa mulai memusuhi sesuatu yang asing. Jangan kelamaan dibekap resah. 

Cabo de flores,
Satu kalimat yang terlintas. Menikmati cerita yang akan tertuang. Bagaimana cara memulai, butuh keberanian untuk menjalani. Dengan penuh asa dan harapan, biarlah ini menjadi air gula yang manis. Lagi-lagi ingin memeluk erat-erat, tentang yang dinamakan harap. Meninggalkan segala khawatir yang menggoda.

Akankah ini menjadi sebuah jawaban yang meneduhkan? Ah, entahlah. Sulit untuk menerjemahkan itu. Sudah pergi terlalu lama karena tidak tenang teduh, pernah ada harap yang kian layu kini seolah memiliki cahaya untuk kembali mekar. 

Di lembar ingatan, biarlah ini menjadi ledakan manis. Dan, bum! 
Selamat jika dari kedalaman hati, ada senyuman yang terasa. Tidak ada yang bodoh dan salah tentang ini.

Sebenarnya, semua ini tentang sebuah cara untuk menerjemah rasa bahagia. Memilih menjadi rumit atau menyenangkan, itu kembali bagaimana cara memulai dan menjalani.

Namun, jangan terburu-buru mengemas dan memeluk segala harap. Mungkin cerita yang tertuang itu hanya menjadi cerita yang bukan tidak layak diceritakan. Sebaiknya sedari awal, miliki kesadaran untuk setiap hal yang terjadi. Entah itu akan selaras dengan harapan atau bersimpangan dengan harapan.

***
Rantauprapat, 13 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 12 Januari 2021

Mengapa Hatimu Panas dan Mukamu Muram?

@kulturtava
...
Hatimu sangat sedih, sampai kamu ingin mati. Entah apa yang di benakmu, saat kamu menginginkan hal itu. Menangis dengan sedihnya. Padahal tak semua hal adalah tentang kesedihan, bahkan hatimu diciptakan Tuhan bukan untuk patah berkali-kali.

Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 
Apakah hatimu sedang marah pada hidup?
Atau, hatimu sedang terluka pada hasratmu yang tidak tergapai.

Ketika hari mulai gelap, saat kamu jatuh pada ratapan, kamu mengambil keputusan yang salah. Menjadikan malammu kaku dan malang. Tak seharusnya kamu begitu, menyia-nyiakan hidup yang bukan pemiliknya. 

Mengapa kamu tak perduli pada dirimu? Hatimu panas dan mukamu muram.
Kamu terlalu asik dengan patah hati dan kekhawatiran.

Jangan bodohi dan racuni dirimu, dengan hasrat yang kamu tahu bukan milikmu. Kamu harus belajar menghambarkan diri terhadap hal-hal yang bukan bagianmu. Tentang kekhawatiran, itu wajar saja. Tapi, apa gunanya mendudukkan itu pada hatimu. Jika karena itu hatimu panas. Enyahkan itu dari dirimu, berusahalah untuk itu. Seperti burung yang terbang landai, tidak menabur namun bisa menuai. Itu karena pemeliharaan Tuhan. Apa lagi kamu, makhluk istimewa yang Tuhan ciptakan, tidak dipelihara oleh-Nya. 

Siapa yang tahu hari esok? 
Tak ada satu pun manusia yang tahu. Hidup memang begitu bukan, tak selalu menyediakan kebahagiaan. Dan tidak setiap hal menjadi bagianmu. Kamu perlu belajar untuk berdamai dengan segala yang terjadi. Memang tidak mudah.

Sebenarnya kamu tak perlu terlalu khawatir, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Lantas, mengapa hatimu panas dan mukamu muram? pada sesuatu yang sebenarnya membuat kamu tidak bertumbuh dengan riap. Sebentar lagi dini hari dan berganti pagi. Jika kamu masih bernafas, itu bukan hasil usahamu tapi pemberian Sang Maha Sempurna, bersyukurlah dan jalani hidup dengan sepatutnya.

***
Rantauprapat, 12 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Benarkah Kesejahteraanku adalah Kesejahteraanmu?

@kulturtava
...
Malam ini berjalan lebih dingin. Kupikir aku memang payah. Menangis seorang diri di kebisuan malam. Aku mencoba menerima hidup, namun ucapmu membunuh kedamaianku. Entah kau sadar atau tidak, ucap dan suaramu itu berarti untukku. 

Di Rantauprapat, ternyata malam ini kesedihan menjadi milikku. Kau tahu aku sedang sakit, aku sedang terluka, tapi kau menambah rasa sakit itu. Kau menambah kecemasanku. Kini. Aku menyaksikan bahwa ucapmu yang mengatakan padaku, kau ingin kesejahteraanku terus ada, ternyata hanya tipu muslihat.

Karenamu, aku diangkut ke dalam pembuangan. Kau menjadi kengerian pada malamku. Apakah aku menjadi beban hidup untukmu? Saat ini, aku mempertanyakan pertanyaan di dalam hatiku. Benarkah kesejahteraanku adalah kesejahteraanmu?

Rasa sakit ini, aku ingin menghentikan. Sebelum malam berganti pagi. Sebelum tanggal berganti. Andai, jawaban dari pertanyaanku adalah tidak. Ternyata kesejahteraanku tidak merupakan kesejahteraanmu. Aku yang salah jika menuntut lebih. Aku menjadi ratu tega, mengharapkan sesuatu yang sulit kau beri. Aku harus meredam hasrat untuk mendapatkan kesejahteraan darimu. Mau tak mau, aku tak bisa menolak setiap ucap yang akan kau suarakan. Itu hakmu. 

Sesungguhnya, itu adalah andai yang tak pernah kuinginkan.

Aku mencintaimu, dan jangan racuni cintaku. Aku tak ingin menyerah pada kesedihan ini. Terhadap segala kesedihan yang menimpaku malam ini, yang disebabkan olehmu, aku ingin berdamai. Aku berusaha untuk mencintaimu selama sisa nafas yang masih dipercaya Tuhan bagiku.

Lantas, benarkah kesejahteraanku adalah kesejahteraanmu? Entahlah, namun aku memiliki harapan baik untuk pertanyaan itu. Biarlah Tuhan, biarlah aku menyaksikan itu akan nyata.

***
Rantauprapat, 11 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 10 Januari 2021

Di antara Keberterimaan dan Riwayat Luka

@kulturtava
...
Melupa rasa sakit. Tak membiarkan kesedihan menduduki jiwa. Nalar dan hatiku sepakat, untuk menghidupi bahagia. Memiliki keberterimaan, lewat doa dan kerelaan. Seperti keberterimaan, luka tetap memiliki riwayat sendiri dalam bagian hidup.

Di antara keberterimaan dan riwayat luka, aku masih belum mampu menghambarkan diri dan mengerdilkan hasrat untuk setiap hal yang terjadi. Aku masih mengundang pagi dan malamku dengan segala kesedihan. Barangkali, aku memang perempuan yang payah. Yang susah untuk bertumbuh.

Diam-diam, acapkali aku masih membiarkan diriku dikecam rasa takut. Keberterimaan itu tidak semudah teori. Namun, terhadap rintangan yang menghadang, aku benar-benar tak ingin menjadi perempuan berhati lemah. Aku mencoba kendalikan ucap dan pikiran, hingga riwayat luka tidak menjadikan kedurjanaan hidup yang berbahaya bagiku.

Aku harus benar-benar berserah dan menyerahkan doaku pada Tuhan. Karena Tuhanlah, satu-satunya tempat pengaduan yang paling tepat. Tuhan menciptakan kesedihan dan luka, bukan untuk dicintai. Memang segala sesuatu ada waktunya, ada waktu untuk bersedih dan menangis. Ada pula waktu untuk bahagia dan tersenyum. Karena Tuhan itu sumber segala kebaikan.

Bicara soal hidup, pasti tak akan pernah baik-baik saja. Masalah demi masalah akan terjadi, bahkan bisa menyembunyikan bahagai,  bahkan bisa menjadi riwayat luka. Keberterimaan akan hidup menjadi peran penting. Yang terpenting itu adalah peran Tuhan yang harus kupercaya. Dan harus belajar untuk menjadi perempuan yang bertumbuh, bertumbuh dengan riap. 

***
Rantauprapat, 10 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 09 Januari 2021

Dingin dan Panas, Kemarau dan Hujan

@kulturtava
...
Selama masih bernafas, atas nama kehidupan, segala hal mengenai perasaan dingin dan panas, kemarau dan hujan akan bisa kapan saja terjadi. Semangat yang terkadang ada, terkadang terpendam.

Dalam sejarah hidup, pasti pernah merasakan mendung. Namun, bukankah mendung tak selamanya kelabu. Nyatanya, selama bumi masih ada, tempat kesendirian dan tempat keramaian terkadang adalah hampa. Penuh hiruk pikuk yang palsu.

Mengerti dan tidak dimengerti. Dingin dan panas. Kemarau dan hujan. Hitam terlihat putih. Putih pun terlihat hitam. Ingin mati tapi tak mati. Yang mati mungkin ingin hidup. Ah, payah. Harusnya memperjuangkan sisa nafas yang ada, barangkali harus mencintai hidup. 

Hai perempuan, ketika kandungan isi hati bersimpangan arti dengan kebenaran barangkali juga sedikit rasa damai, tak usah berontak jiwa. Tinggalkan saja segala sedu sedan. Semestinya, perjalanan di bumi ini harus tetap memiliki asa. Walau kadang deru cemburu itu terbangun, jangan tamat pada kegelapan cemburu. 

Bersama air mata dan bersama teduh jiwa, mengapa harus mengutuk hidup? 
Kemarau dan hujan akan silih berganti . Untuk apa hanya diam dalam kebisuan, menantikan dingin dan panas yang berlapiskan dusta. Apa yang harus dilakukan? Entahlah. Mungkin hanya keberterimaan akan kehidupan dunia. 

Hai perempuan, bersama jiwa teduh, ketika kebahagiaan telah padam biarkan jiwa melepas kesesakan. Sungguh lebih mulia menghargai hidup dari pada terlalu sibuk memikirkan tentang kemarau dan hujan, apa lagi dingin dan panas hidup yang masih ada. 

Ahh, Tuhan tahu itu. Dalam gelap malam dan dalam terang pagi, harus mau dan berusaha untuk mengakhiri patah hati. Jika gagal hari ini, coba lagi esok hari. Miliki mindfulness diri. Dan tak akan merasa diri berada di entah.

***
Rantauprapat, 09 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 08 Januari 2021

Di Sebuah Bilik Pengakuan

@kulturtava
...
Kepada : L

Sudah banyak malam yang kamu lalui dengan ketidaktenang teduhan, lantas apa yang kamu dapatkan? Kamu dicekam kekhawatiran yang berlebih, tanpa malu-malu kamu pun merayu dosa. Hanya untuk melupakan kesedihan.

Mengapa kamu tidak hati-hati pada hati. Barangkali, kamu sudah tahu ketidakberdayaan kapan saja bisa datang. Di sebuah bilik pengakuan, kamu pernah mengaku sebagai pendosa yang payah. Mengubah diri menjadi kaku, menjadi seseorang yang bukan kamu. Menjadi kaya dalam kepandiran.

Merelakan hujan ratapan yang seharusnya tidak kamu rasakan menyentuhmu dengan leluasa bahkan mendekapmu dengan hasrat yang dingin. Kamu dibebani rasa takut yang sesungguhnya tidak begitu, mengkhawatirkan hari esok. Padahal hari esok belum tentu milikmu. Dan cobalah mengerti, tidak setiap pertanyaan ada jawabannya.

Aku melihat dan mendengarmu dari bilik pengakuan. Tanganmu gemetar, rambutmu basah, menahan rasa perih dan cemburu yang begitu hebatnya. Dalam diam kamu menangis. Mengeluarkan hujan air mata pada sesuatu yang sebenarnya tidak begitu perlu. Dan, aku tak lagi ingin melihat kamu seperti itu.

Harus kuakui bahwa hidupmu tidak mudah, namun selagi kamu masih hidup berjuanglah untuk hidup dengan layak dan menjadi seseorang yang tabah. Setidaknya untuk dirimu sendiri. Aku tak ingin, kamu berada dalam lingkaran jiwa yang sedu dan rapuh. 

Kepada L, berdasarkan apa yang tidak ada padamu, berdasarkan yang bukan bagian hidupmu, maka hendaklah sekarang ini kamu mengerdilkan hasrat untuk itu. Inilah pendapatku tentang hal itu. Jangan memandang pilu kebahagiaan orang lain, jangan memandang pilu ketika kamu diabaikan. Apa lagi sampai meracuni hatimu sendiri. 

Ah, biarlah. Biar bila aku berharap.

***
Rantauprapat, 08 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 07 Januari 2021

Tenanglah Jiwamu, Hai Perempuan

@kulturtava
...
Ini kisah seorang perempuan

Dunianya terkadang penuh kemalangan, dan ia harus berdamai dengan keadaan itu. Saat ia lekatkan penerimaan, kekhawatiran seringkali menduduki sebagian hati dan pikirannya. Ia tak tenang teduh. Berlaku seperti orang yang pandir, mempertanyakan kenapa dan kenapa ia harus berbeda? Mengapa, ia yang harus menerima ketidakadilan? Kekhawatiran akhirnya mendukakan hatinya.

Terkadang ia ingin melakukan pemberontakan, melawan ketidakadilan. Lagi-lagi ia kalah pada keterbatasan, bahkan untuk melawan kelemahan dirinya sendiri ia tak mampu. 

Gemetar tanganku dan air mataku seolah membeku, saat aku menyaksikan, perempuan itu lesap dari kedamaian. Tumbuhnya tak lagi riap. Pagi datang, tapi yang ia rasa adalah malam. Malam datang, yang ia rasa adalah malam kaku yang penuh nestapa. 

Ia seperti lalang di antara gandum, menjadi perusak dan penggangu percakapan yang ditumbuhi anggrek indah. Di antara segala kepura-puraan yang perempuan itu lakukan, aku mencoba melupa dan memahami tingkah lakunya. Yang kusesali, aku tak mampu menbuat perempuan itu menahan diri saat keberterimaan gagal ia miliki. Akhirnya sering ia jatuh ke dalam jerat dan yang hampa dan yang mencelakakan. Berbagai-bagai duka pun ia alami. 

Pernah. 
Pada hari itu, kira-kira pukul satu lebih tiga puluh menit siang hari, aku keluar dan mendapati perempuan itu, lalu kataku kepada perempuan itu : mengapa kamu tidak memiliki keberterimaan dan melekatkan hal yang fasik pada hatimu, bahkan kekhawatiran menduduki pikiranmu? Kamu seperti jerami dan akan terbakar oleh kepandiranmu. Bukankah hal itu tak menambah sehasta apa pun dalam hidupmu hai perempuan.

Kataku lagi : tenanglah jiwamu, hai perempuan. Ingatlah bahwa ada Tuhan. Tuhanlah pemberi berkat dan pemberi apa yang kamu butuhkan. Percalah, kesusahan sehari cukup untuk sehari. Aku tahu tidak mudah, namun percayalah. Dan berusaha untuk menjadi gandum yang tumbuh dengan benar dan berbulir dengan rimbun.

Aku adalah perempuan yang sesungguhnya menginginkan perempuan itu tak mengaduk kata bebal dan bodoh di dalam isi hati dan kepalanya. Selepas ini, saat patah hati kembali perempuan itu alami. Saat harapannya tidak terwujud, saat ketidakadilan menyapa perjalanan hidupnya. Kuharap, perempuan itu telah mampu memiliki keikhlasan dan keberterimaan yang benar. 

Karena bersimpangan dan berselisih jalan dengan yang sepatutnya dimiliki, akan membuat jiwa tak tenang teduh. Oleh sebab itu, tenanglah jiwamu hai perempuan.

***
Rantauprapat, 07 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 05 Januari 2021

Jangan Mencemburui Kebahagiaan Orang Lain

@kulturtava
...
Untuk L!

Kebahagiaan adalah pilihan. Dan kau tahu itu dengan pasti. Nikmati saja keindahan dan kebahagiaan yang menjadi bagian dalam hidupmu. Benar, bahwa tidak setiap hal berhak kau miliki. Dan jika kau harus terjatuh, jangan salahkan orang lain. Bangkit dan berusahalah.

Ingat, jangan mencemburui kebahagiaan orang lain. Selamatkan saja duniamu dengan mensyukuri hidupmu, yakinlah bahwa berharap itu baik dan tak ada salahnya. Tapi jangan memaksakan diri untuk terus berharap pada cerita yang tak akan pernah menjadi ceritamu. 

Kau yang lebih tahu, kemarin, hari ini, esok bahkan lusa. Kau tetap adalah kau. Hiduplah dengan pantas dan hiduplah dengan bahagia. Jangan simpan keburukan di hatimu. Teruslah bahagia bersama hal yang kau sukai, bersama puisi yang tak akan pernah mendustai perasaanmu. Jangan simpan rasa kecewa, walau hidupmu dipenuhi kesuraman dan kesepian.

Kata yang paling kau butuhkan dalam hidupmu adalah penerimaan. Berat memang untuk melakukan itu, tapi itu harus kau lakukan. Jangan biarkan hatimu berkeliaran dalam kekhawatiran yang berlebih, jangan mencari sesuatu yang tak akan pernah kau dapatkan.

Apakah kau mau, hatimu terpenjara pada bilik nestapa? Bangunkan hatimu dan miliki kesadaran untuk tetap bersyukur atas hidup yang telah Tuhan beri untukmu

Berusahalah untuk memastikan bahwa kau mampu tidak menuntut lebih pada orang lain dan yang terpenting, jangan biarkan dirimu lupa, bahwa kau tidak akan membiarkan dirimu terluka karena mencemburui kebahagiaan orang lain. 

***
Rantauprapat, 05 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kemalangan Seolah Enggan Beranjak

@kulturtava
...
Aku ingin mati, aku ingin mati, kata perempuan itu. Tapi sampai saat ini, perempuan itu belum juga mati. Walau sebenarnya perempuan itu sudah sangat mencintai kematian. Sudah beberapa puluh tahun ini, mungkin lebih dari satu dasawarsa.

Bukan pula, perempuan itu tidak belajar arti menerima kenyataan. Bukan pula, ia mengingini keberadaan diri yang seperti itu. Maka ia mengharap mati tapi tak dapat. Ia hidup tapi sekarat yang tersisa.

Ia mencoba baik-baik saja. Namun sesungguhnya ia tak pernah baik-baik saja terhadap tatapan orang-orang melihat cara ia berjalan. Kemalangan seolah enggan beranjak. 

Aku akan mati, aku akan mati bersama sedu sedan dan sunyi sepi, kembali perempuan itu katakan.
Disabilitas nurani jauh lebih rumit dari disabilitas fisik, itu adalah kesenjangan yang payah. 

Huh, aku payah kata perempuan itu. Ya, saat ia menyaksikan orang-orang dengan segala tatapan mata yang penuh tanda tanya, ia seakan kehabisan nafas di setiap detiknya. Pertanyaan-pertanyaan seperti,  kenapa harus aku yang seperti ini? Mengepung perempuan itu.

Terasa begitu sesak. Menahan luka yang teramat perih. Ini tentang sebuah luka yang telah mengguburku dalam kepura-puraan, perempuan itu berkata. Aku sudah mati, barangkali oleh hasrat yang bukan milikku lagi, lanjut perempuan itu.

Ah, sungguh menyedihkan! 
Ingin mati tapi tak mati, seolah berpangkat Tuhan. Dasar perempuan yang payah.

***
Rantauprapat, 05 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 03 Januari 2021

Saat Mencari Tuhanmu, Aku Menemukan Tuhanku

Painting by Arthur Briginsky
...
Padamu cinta tak bersembunyi. Entah mengapa, kamu menjadi penghapus duka. Bersejarah baik pada semestaku. Saat keangkuhan dunia buatku tertunduk, ada cinta darimu yang memberikan nada-nada keindahan.

Ah, dasar hati yang mudah jatuh pada hati yang tak selaras dalam beribadah. Sujudku dan sujudmu, tidak berakhir pada Tuhan yang sama.

Kuharap, kita diizinkan bersama dan bersatu. Akankah kasih sayang Tuhan memberi kita kesempatan. Berbusana keikhlasan, aku memilih mencari Tuhanmu. Memilih untuk mencari secercah terang, sebab telah lama aku sibuk menganggumi sosokmu yang mampu hadirkan tenang teduh dalam hatiku. 

Kamu mampu punahkan sunyi sepi yang terbit atasku. Di perjalanan, saat aku mencari Tuhanmu, aku dihadapkan pada segala kebenaran dan itu pun kamu juga yang menyuarakan suaramu. Cinta itu tak bernoda, tapi tidak setiap cinta harus dimiliki. Terkadang, suara itu penyelesaian bukan

Pada impian dan asa yang kuharapkan. Pada yang kuusahakan, itu adalah kesia-siaan, aku dikurung pada sesuatu yang pandir. Bermata gelap hanya karena ego. Seakan menjadi manusia berpangkat Tuhan. Dan, aku sadar. Saat aku mencari Tuhanmu, aku menemukan Tuhanku. Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan yang pada-Nya cintaku harus lebih utama. Mencintai Tuhan sepatutnya lebih dari apa pun.

Ini bukan tentang kekang keegoisan yang dipertahankan. Ah, aku tak akan menjadi pembangkang dari Tuhanku. Dan kamu itu seperti air gula. Manis. Namun, terkadang cinta memang begitu. Tak selalu memberi hal yang manis, ada untuk dinikmati. Kamu air gula dan cerita yang sudah mengunjungi duniaku dengan kebaikan. Sepertinya pada kisah kita, di sana tertulis : kita tidak berujung pada satu narasi yang sama. 

Kita akan baik-baik saja dan harus mau mengeja rela dan ikhlas. 

Terlebih aku. 

***
Rantauprapat, 03 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 02 Januari 2021

Lalu Sepi

@kulturtava
...
Malam ini, baru saja satu malam melewati malam pergantian tahun, malam yang penuh perpisahan, ternyata bukan hanya tentang malam yang penuh perpisahan, ada pula hati yang berpisah. Hidup seakan tergadai pada kesombongan yang tak  tertunduk, dengan mudahnya hati pun berbuat jahat dan menjadi pelaku sebuah kedzoliman. 

Tak ada kerelaan hati untuk memahami. Hanya yang menggelisahkan hati tercipta. Membuang segala pengertian, meringkuk dalam resah yang liar. Tahun 2021 di hari Sabtu yang pertama, penuh dengan taburan kisah yang penuh sedu sedan. Lalu sepi yang berjatuhan membasahi hati.

Kenapa sibuk mencari damai, sementara dalam hati yang ada hanya kepura-puraan. Kesepian ini pun menular dan tertransfer pada yang lain. Terompet sunyi di tahun baru benar-benar menjadi terompet sunyi sepi dan memiliki kenangan awal tahun ini.

Binar-binar bahagia yang turun di awal tahun malam pertama seakan sirna dan meredup. Malangnya, ini hanya karena ego yang tak terkendali. Kesombongan pun menjadi liar dan tak terkendali. Dosa itu akhirnya merayu lagi. 

Lalu sepi meniduri kesepiannya.

Kegaduhan seolah tak pernah diam. Malam ini, sepasang kaki melangkah ke luar di tengah malam membawa sepasang kaki mungil di dalam pangkuan untuk menjauh dari sebuah suara yang seolah menenggelamkan pada lara, yang mungkin sebenarnya tidak begitu.

Ke mana mencari pembenaran? 

Di hati yang ego, atau di kesadaran yang kehilangan. Kehilangan kesadaran dan hati nurani. Benar, yang dibutuhkan hanyalah menahan diri. Kalau bukan untuk dirimu, setidaknya untuk si pemilik kaki mungil itu. 

Bukankah hidup tidak hanya mengenai paripurnanya rasa bahagia namun adanya penerimaan saat ketidakselasaran muncul. Adakah estetik dari mempertahankan ego? Entah,  sulit untuk menerjemahkan itu mungkin. Lalu apa, lalu sepilah yang membunuh.

***
Rantauprapat, 02 Desember 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 01 Januari 2021

Terdapat Ratap dan Kertak Gigi

@kulturtava
...
Pada hari itu, keluarlah perempuan itu dan duduk sendirian di tepi kamar kecil yang pengap itu. Sesudah ratap yang terbit dan ia terima, layulah ia dan menjadi kering. Karena ia tidak merasakan tenang teduh.

Ia seperti berada di semak duri. Pada waktu ia menabur, ia sudah berusaha menabur yang baik, namun yang ia terima adalah patah hati. Semak duri seakan menghimpit dirinya. Terdapat ratap dan kertak gigi dalam hari-hari yang ia miliki.

Bunyi seperti dahan patah ada pada perempuan itu, kekuatiran dan tipu daya yang ia usahakan untuk menjauh dari hatinya, kembali menduduki pikiran dan perasaannya. Tak lain, tak bukan karena gandum yang ada di zona dunianya. Gandum itu seakan menjadi lalang di perjalanan waktunya.

Sesungguhnya ia tidak ingin melihat, tidak ingin mendengar, dan tidak ingin mengerti atas sikap yang tak sepatutnya terjadi. Namun ia lagi-lagi kalah pada relasi pertama. Ada hal yang tersembunyi dalam diri dan ia harus menahan diri untuk itu. Membiarkan ratap dan kertak gigi menjadi bagian hidup. Barangkali harus begitu. Ah, begitulah ia harus kembali memeluk erat-erat keberterimaan.

Sebuah cara melupa akan lara sudah terbiasa ia lakukan. Ia memiliki kategori yang cukup baik dengan label mahir untuk berpura-pura bahagia demi tidak terjadi gejolak yang besar. Begitulah realita, kepedihan sering menggoda dan kebahagiaan bersimpangan dengan hidup.

Terhadap ratap dan kertak gigi yang menyapa perempuan itu, ia harus mau dan mampu berdamai dengan realita. Kemalangan pun tak akan menjarah perempuan itu terus-menerus jika memiliki keberterimaan akan hidup, walau sesungguhnya itu amat sulit.

***
Rantauprapat, 01 Januari 2020
Lusy Mariana Pasaribu