@kulturtava
...
Tak ada kasih mesra. Di sela detik waktu yang membuat berjeda, bersama ratapan, perempuan itu terbaring layu. Beraroma ketidakpedulian, ia diabaikan. Tersesat dalam kerumitan. Lalu perempuan itu pergi. Pergi dari perhatian yang ingin didapatkan.
Ya, dulu. Cinta, cinta, cinta. Begitu indah. Rayu sang kekasih jiwa begitu mempesona. Namun itu dulu, kini cinta itu telah berpindah haluan. Keyakinan dan komitmen seakan lepas dari ingatan. Harapan lalu, hanya tinggal kenangan. Cinta, sudah meninggalkan hati. Tak ada hembusan kesegaran dalam jiwa.
Lalu perempuan itu pergi, pergi untuk menggapai cinta yang sesungguhnya. Ia ingin meninggalkan sunyi sepi, ketika cinta semu membuatnya terdampar dalam kehampaan semu. Dalam harap cemas, perempuan itu tetap merindukan cinta baru yang akan tumbuh di relung hatinya.
Biarkanlah perempuan itu berharap. Bahkan pergi dari hasrat yang berbahaya. Datanglah cinta, datanglah cinta. Cinta yang lahir dari ketulusan. Hingga perempuan itu akan bisa tersenyum, melangkah dalam keindahan warna yang berwarna.
Begitulah perempuan itu dan harapannya tentang cinta. Akhir Januari 2021 adalah awal baru untuk cinta baru yang akan tumbuh di hati perempuan itu. Kuduga, suatu hari perempuan itu akan menemukan kebahagiaan di hidupnya.
Ah, semoga apa yang kuduga menjadi kisah nyata untuk perempuan itu. Karena tanpa cinta, hidup perempuan itu akan terasa hampa.
***
Rantauprapat, 31 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu