Kamis, 31 Desember 2020

Mengakhiri Patah Hati di Ujung Tahun

@kulturtava
...
Aku seharusnya tahu aku tidak sendirian. Aku harus menghidupi, bahwa aku memiliki kebahagiaan. Bukankah dalam realita, tenang teduh tak selalu sejalan dan seringkali bersimpangan dengan hidup. 

Entah kenapa, aku seseorang yang payah ini terlalu asik dengan patah hati. Di antara harapan-harapan yang membeku, aku sering tiduri sepi. Aku rasa aku ada di entah, ketika jauh dari keberterimaan.

Bukan pula aku tak pernah memutuskan untuk berpisah dari patah hati, namun yang masih menghampiri pikiranku adalah hal yang menyakitkan. Sebab, rasa sakitku begitu malang. Padahal, rasa sakitku tidak begitu. 

Karena keraguan, aku sibuk bersama airmata bernama patah hati. Terhampar dalam kehampaan mimpi yang semu. Kemarahan makin lelap. Patah hati akhirnya menawarkan hal yang pandir di lembah ingatan. 

Bila patah hati membuatku menampung penat, aku ada di mana, sehingga kubiarkan penat dan rusuh terbit atasku. 

Hari ini, di tengah malam ini, di Desember yang dingin ini, aku mau mengakhiri patah hati di ujung tahun ini. Sebelum esok, sebelum pagi yang baru tiba, sebelum mulai menjalani tahun yang baru. Lewat doa, lewat keyakinan, lewat yang diusahakan, aku akan berusaha mengakhiri patah hati. Tak ingin menjadi gelembung dan kupu-kupu yang sayapnya penuh luka. 

Aku bisa. 
Aku harus benar-benar menghidupi, bahwa ada masa depan bahagia untuk diriku. Dan aku harus tahu, bahwa menidurkan patah hati dalam duniaku akan mengundang segala kesedihan padaku.

Setelah ini, kuduga aku mungkin bisa saja kembali patah hati, barangkali. Tetapi kuingin, patah hati tak menguasai dan menduduki pikiranku dengan kapasitas yang berlebih.

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 29 Desember 2020

Aku dan Perempuan Itu

@kulturtava
...
Di perjalanan waktuku, aku mengenal seorang perempuan Sumatera yang usianya hampir sama dengan usiaku. Ada beberapa persamaan yang terdapat dalam diri perempuan itu dengan diriku. Dia dan aku sama-sama menyukai puisi. Namun, perempuan itu lebih mahir bercengkerama dengan diksi ketimbang aku. 

Belakangan, aku merasa bersedih atas apa yang dialami perempuan itu. Dia melakukan kesalahan dengan membiarkan hal-hal yang tidak layak menggerogoti jiwanya. Memilih menjadi redup padahal sebenarnya perempuan itu bisa bersinar. Aku berpikir, mengapa perempuan itu memilih untuk menjadi redup.

Dia membiarkan dirinya habis terbakar pada keangkuhan. Padahal perempuan itu bukan anak kemarin sore, bahkan dia seseorang yang sudah menikmati pendidikan yang cukup untuk memiliki pemikiran yang rasional. Kupikir, pendidikan yang cukup tidak menjamin perempuan itu untuk bersikap logis. Nampaknya, dia terlalu minder akan sisi kiri dan kanannya. 

Apakah yang mendera perempuan itu sesungguhnya? Entahlah. Sepertinya,  apa yang mendera perempuan itu, sangat mengganggu kesehatan jiwanya. Jiwanya terasa kosong. Aku dan perempuan itu memang tidak terlalu banyak bicara. Aku hanya menduga, dari lembar-lembar puisi yang dia tulis, perempuan itu telah mengalami kekeringan dan kerapuhan. Hari-harinya seperti rumput, sebentar ada, sebentar layu. 

Dia melebur dalam gemuruh. Seperti pohon Anggur yang tidak riap lagi tumbuhnya. Bak jerami yang diterbangkan badai, karena perempuan itu sudah layu oleh angin Timur. Merasakan ratapan yang seharusnya tidak dirasakan. 

Aku peduli pada perempuan itu.  Sayangnya, perempuan itu yang tidak mempedulikan hidupnya sendiri. Karena dia telah meledakkan warna kelam kabut yang pekat di seluruh dunianya. Musik kesepian yang berhembus kencang di daun telinganya membuat dia tertidur dalam sedu.

Dalam hening yang teramat panjang, aku tak ingin perempuan itu kehabisan amunisi baik. Kuharap, suatu waktu, perempuan itu akan menemukan arti kedamaian. Sehingga tidak lagi-lagi perempuan itu kehilangan musim yang baik. Bukankah hidup laksana perang, penuh perjuangan. Pada kesempatan lain, aku sungguh ingin perempuan itu mendapat kegembiraan yang seutuhnya. Makna hidup yang harus dimilikinya bersama penerimaan. 

***
Rantauprapat, 30 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Gunung Batu Keluputan

@kulturtava
 ...
Saat waktumu luang dan saat tengah malam, kamu jatuh dan beradu dengan kesadaran. Pori-pori tubuhmu rusuh seakan dillit kabut. Menjahili diri dengan pikiran-pikiran brutal. 

Kamu pun berperan sebagai saksi sebuah kedzoliman, bahkan kamu rela menjadi pelaku sebuah kedzoliman. Memenuhi diri dengan kisah tragis yang berlapis-lapis. Menghangatkan tubuh yang gemetaran dengan ratap yang amat rahasia. 

Terjerumus terlalu jauh ke dasar kebodohan. Menulis cerita hidup dengan murka dan kehangatan amarah. Lama sudah, kamu melakukan hal bodoh seperti itu. Kamu pernah begitu terpikat dan hal itu menjadi kesukaanmu. Tak ragu melemparkan diri dan terperangkap pada godaan hasrat yang menggoda.

Dalam jeda waktu, kamu mendengar suara yang benar. Suara yang kamu dengar bertanya, maukah kamu kembali membuka mata, merengkuh rasa manis yang seharusnya dan bermakna indah. Dan saat itu, kamu memberi jawab, ya kamu mau untuk kembali.

Jawabmu sudah menempatkan kamu,  berada dalam gunung batu keluputan. Kamu berhenti mengejar hasrat yang berbahaya. Kamu menyaksikan dirimu sendiri memiliki pengendalian diri, saat dosa itu merayu lagi. Kamu sadar untuk bersikap benar, ketika tanpa sengaja kamu berada di taman yang penuh rayuan. 

Namun waktu dan realita, mampu merubah suasana dan keyakinan. Kamu berharap, dirimu benar-benar menghambarkan diri dari rasa yang nyatanya tidak sebagaimana adanya,  agar kamu tidak dikudap oleh keangkuhan yang hampa.

Sederhananya, kamu ingin tinggal bersama keberanian yang akan membuat dirimu selalu berada di gunung batu keluputan hingga penutup masa hidupmu selesai. Dan kelakuan serong tidak lagi mengencani duniamu.

Kerinduanmu, setelah berada di gunung batu keluputan, kamu akan mengerti melepaskan diri dari kemalangan. Menginginkan damai sejahtera ada di daerah hidupmu. Sehingga ketandusan tidak menjadi sasaran hidupmu. Menabur dan menuai apa yang semestinya. Ya, kamu akan luput dari nestapa yang tidak terpulihkan.

***
Rantauprapat, 13 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 26 Desember 2020

Tuhan, Aku, dan Perempuan yang Terjebak di Hutan Sendu

@kulturtava
...
Aku melihat perempuan itu terjatuh dalam ketidakpenerimaan. Hari-harinya seperti bunga di padang, tiada keindahan yang dia rasakan. Perempuan itu menyaru kelu dalam nestapa dan kesenduan. Rapuhnya kehidupan menempel pada jiwanya. 

Pada perempuan itu, cinta dan kebahagiaan seakan bersembunyi. Dia tak peduli pada kesadaran, membiarkan diri menabur duri dan angin. Akhirnya dia menuai badai. Mengerikan apa yang sudah perempuan itu terima karena kebodohan hatinya. Terkadang dia putus asa.

Saat pagi, dahan-dahan waktu perempuan itu seakan tiada gairah. Saat malam tiba, dia sering melemahkan hati terhadap hal-hal yang membuat dirinya nyaman. Malamnya menciptakan banyak jejak yang menyakitkan.

Kuduga, perempuan itu telah mengalami trauma psikis dalam hidupnya. Jiwanya rapuh, sepertinya dia sudah tahu rasanya disakiti itu tidak menyenangkan. Namun, dia dengar sadar menyakiti diri sendiri. Melakukan hal gila hanya untuk melupakan kesedihan. Dia seorang perempuan yang terjebak di hutan sendu. 

Sesungguhnya, aku cemas jika perempuan itu terus seperti itu. Terus terjebak di hutan sendu. Tuhan, aku rindu perempuan itu mencari alamat kesadaran akan penerimaan hidup. Tak lagi meniduri kesepiannya, dan menggendong luka-luka yang berdebu.

Aku berbisik pada diriku sendiri, semoga perempuan itu tidak selalu berkekasih dengan kelesah. Tuhan, aku sungguh ingin perempuan itu mengalihkan pandang dari rumput-rumput kedegilan yang ada di pekarangan nalarnya. Tidak lagi keras kepala terhadap kenyataan hidup.

Tuhan, kupikir dia harus kembali ke arah yang benar. Aku sedih jika perempuan itu terus seperti itu, ketakutan yang tidak seharusnya ditakutkan. Karena jika seperti itu, dia sudah bersekutu dengan keangkuhan diri. Melupa akan pemilik hidup yang sebenarnya pemilik hidupnya. 

Bukankah seharusnya perempuan itu takut terhadap kematian, kematian yang seperti apa yang akan dia miliki. Dan dia memang harus takut. Sebaiknya, perempuan itu tidak membiarkan diri terjebak di hutan sendu yang teramat. Kukira perempuan itu harus mematahkan ketakutan yang menghantui dirinya.

***
Rantauprapat, 30 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 25 Desember 2020

Aksaraku Lebih Bermakna dari Suaraku

@kulturtava
...
Aksarku telah menciptakan maknanya sendiri. Di kedalaman hutan kata-kata, aku mendapatkan kesenangan melalui aksaraku

Ketika aku terasing, tersingkir dan terombang-ambing di lautan kehidupan bahkan ketika suaraku tak terdengar, hanya melayang di udara, aksaralah yang menyelamatkan kesehatan perasaanku

Saat hadirku dianggap tak berarti dan hanya dianggap sebagai kesuraman, aksaraku bersedia menemani perjalanan waktuku dan menumbuhkan bunga-bunga kesejukan di hatiku

Adalah aksara, yang buat jiwaku berselimut pada penerimaan dan buatku berpelukan pada kesadaran. Aku hanya ingin menuai kedamaian hati melalui aksaraku

Benar, dalam episode hidup dan pusara waktu yang kulalui, terkadang aksaraku lebih bermakna dari suaraku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Aku Hilang Tanpa-Mu

Dorina Costras
...
Hatiku sering tercuri, tercuri oleh keangkuhan diri. Keangkuhan diri seringkali kubiarkan merajai diriku. Aku tersengat amarah karena ketidakpenerimaanku akan hidup 

Perjalanan hidupku banyak diisi kisah-kisah tak bermakna baik. Aku merasa baik-baik saja tanpa-Mu, tapi aku keliru. Sungguh aku menyadari tanpa-Mu aku terhilang 

Aku menyesal atas apa yang telah kulakukan. Menyesal merelakan diriku sering berselimut payung kebodohan hati. Aku pun memutuskan untuk tak akan berpaling lagi dari-Mu. Dengan keyakinan, aku hanya ingin berusaha

Karena aku tahu, bersama-Mu aku akan memiliki arti hidup

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Jarak Hidup dan Mati dan Desember yang Dingin

@kulturtava
...
Terkadang.
Kesendirian, kesunyian, dan ketidakberterimaan adalah paham yang sulit dipahami. Semakin dewasa, kecemasan semakin menimbulkan rasa cemas yang berlebih. Menyia-nyiakan mutiara diri pada yang tak semestinya.

Terkadang pada pagi hari, yang terasa adalah malam. Pada malam hari yang gelap, terkadang yang terasa benar-benar malam yang malang. Ingin mendekati kematian, tapi tak mati. Jarak hidup dan mati hanya setipis satu lembar kertas, masih hidup tapi ingin mati. Padahal hanya menjalani hidup yang diberikan. Ah, dasar payah. 

Ah, dimulai dari Januari di bulan pertama setiap tahun, ada saja disabilitas nurani yang diterima. Hingga di bulan Desember, bulan penghujung tahun, menjadi Desember yang dingin.

Malangnya, diri ingin bertransformasi menjadi seseorang yang memiliki keberterimaan, namun seringkali gagal. Yang ada, masih berada dalam gantang. Seperti gelembung dan kupu-kupu yang hilang arah.

Ingin melepaskan diri dari aroma dosa yang merayu, tapi saat luka hati membelah perasaan, dengan sadar jatuh dalam ratapan yang seharusnya tidak dirasakan, kembali mencicipi dosa. Ada kepunahan dan yang terjadi adalah mengucapkan hal-hal yang pandir. Kemerosotan akhlak menjadi benih yang tidak seharusnya diidentifikasi nalar.

Dalam mencari kebahagiaan, di antara jarak hidup dan mati yang tipis, jangan hanya melihat selumbar di mata yang lain, seharusnya melihat juga balok yang ada pada diri sendiri.

Ini sebuah keadaan, sebuah perjalanan, sebuah ketidakpastian yang sempurna, yang sudah lama dijalani, yang telah memberikan trauma psikis. Dan akankah ada sebuah jalan kembali, selagi masih bisa sadar, harusnya ada yang diusahakan, biar tak ada sesal. Harusnya sebuah cara melupa dan sebuah cara untuk memiliki keberterimaan dimiliki diri. 

Walau sulit, tak ada yang lebih baik dari menerima keberadaan hidup. Tidak lagi terjebak pada hasrat diri yang ingin mati. Sudah, harus ada yang diusahakan, mengakhiri kesunyian yang dipersembahkan pada diri di Desember yang dingin di ujung tahun. Sebab, rasa sakit yang dirasakan mungkin tidak begitu sakit! 

***
Rantauprapat, 25 Desember 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 23 Desember 2020

Mencintai yang sia-sia

@kulturtava
...
Berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia? Melakukan kebohongan demi sebuah perhatian, yang nyatanya tidak kamu dapatkan. Kamu berkata-kata seorang diri. Kamu marah dan berbuat dosa.

Sudah lama kamu berpeluk erat dengan dusta. Menjadi seseorang yang mengisi diri dengan hal-hal yang pandir. Mencintai yang sia-sia.

Seharusnya kamu lebih tenang, berjalan dengan tenteram. Pagi tadi, kamu menemukan sebuah pagi yang terasa malam. Menjalani hari tanpa surya. Malam ini, yang kamu temukan sepi sunyi yang hampa.

Sampai kapan, kamu jatuh pada kesia-siaan? 
Saat ini, tak kamu temukan hidup yang memberikan nada-nada penerimaan dan kebahagiaan yang tenang teduh.

Kapan kamu akan kembali pada jalur kebenaran? Memiliki semangat hidup yang tak lekas pudar dan menciut. 

Untuk apa kamu memiliki catatan khusus atas marabahaya yang kamu lakukan. Memelihara kesia-siaan atas rasa cemas yang sebenarnya tidak begitu. Memikirkan perkara yang tidak seharusnya dipikirkan.

Kenapa kamu harus menyerah di hadapan ketidakpastian yang sempurna? Kamu seperti ranting-ranting yang patah, seperti pohon anggur yang tak riap tumbuhnya.

Sesungguhnya kamu tidak kesepian. Tapi kamu yang membuat dirimu kesepian. Resah, menyedihkan. Menggugurkan keteguhan hatimu sendiri. Mencintai yang sia-sia.

Terlelap bersama kebodohan. Terlihat menderita, padahal sama sekali tidak. Kamu itu seseorang dengan karakter yang bebal. Ini musim dingin, sampai kapan kamu terjebak dalam keadaan dingin yang mengakibatkan luka dan tekanan. 

Jika mencintai yang sia-sia bisa membunuh keteguhan hatimu, lantas untuk apa itu kamu teruskan? Entah, aku hanya ingin bertanya. Karena kamu sungguh tak terbaca.

***
Rantauprapat, 23 Desember 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 22 Desember 2020

Cinta Tanpa Tapi

@kulturtava
...
Mungkinkah ada cinta tanpa tapi. Entahlah. Karena dalam menjalani cerita cinta, terkadang ada kecemburuan dan keraguan yang hinggap. Cinta bisa menarik rasa pada seseorang, tapi juga bisa menghempas rasa dari seseorang itu.

Cinta pun bisa membuat seseorang bicara, tapi juga bisa membuat seseorang diam. Karena cinta ada harapan yang tumbuh, ada pula harapan yang mati. Bicara tentang cinta, banyak seni mencintai di dalamnya.

Di halaman-halaman kehidupan, para pelakon cinta terkadang kehilangan percakapan dalam proses mencintai. Ada suka dan duka, seperti terdapat dalam etalase kaca yang akan rapuh dan pecah jika tidak dijaga dengan baik.

Seperti cinta yang mampu merayu rindu, cinta juga mampu memadamkan rindu. Tersimpan banyak rahasia dalam cerita cinta, tapi tak dipungkiri ada banyak rahasia yang terungkap karena cinta.

Cinta memberi rasa sakit dari kehilangan, membuat ketertarikan akan hidup bisa redup. Tapi hal itu bisa dibantahkan saat cinta memberikan motivasi dalam menjalani hidup.

Bukan sekali atau dua kali aku merenung, adakah cinta tanpa tapi. Aku pernah merasa kecewa terhadap cinta. Cintaku menyimpan gelombang-gelombang kegelisahan. Namun di suatu waktu, aku berpikir cintaku memberikan kesempatan baik padaku. Kesempatan mendapatkan kebahagiaan.

***
Rantauprapat, 03 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kenangan yang Baik

Pixabay
...
Di kerajaan hatiku, banyak kenangan yang tersimpan. Menikmati indahnya kenangan adalah sesuatu yang buatku dapat tersenyum, tentunya yang kumaksud adalah kenangan yang baik. Dan kumau hanya mengingat kenangan yang baik di hatiku 

Aku tak ingin lupa pada kenangan baik yang diriku terima, bagian cerita dari lembaran-lembaran kisah di hidupku pasti akan mencipta kenangan tersendiri pula

Kenangan, kenangan dan kenangan adalah sesuatu yang setiap orang miliki. Dan aku sendiri ingin mencipta kenangan yang baik dalam sejarah hidupku

Pada kenyataannya bukan hanya kenangan baik yang tercipta di sejarah hidupku, ada kenangan buruk yang tercipta. Kenangan yang memberiku luka, rasa sakit, dan airmata. Dan aku tak ingin terpenjara pada kenangan yang seperti itu, jika aku menyimpan bahkan mengingatnya di hatiku 

Aku harus mengisi ruang jiwaku dengan hal-hal yang baik, agar damai ada dalam hidupku. Dan mengingat kenangan yang baik adalah caraku untuk bisa tersenyum dan mendapatkan rasa damai

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Pada Perempuan Itu

Pinterest
...
Pada perempuan itu, aku melihat cinta yang tulus. Di hidupku, ia tak akan pernah tergantikan. Perempuan itu telah mengisi ruang hatiku dengan penuh

Perempuan itu, sudah membuatku menikmati banyak cinta darinya. Bagiku, melihat senyumnya sudah memberikan rasa nyaman. Ia mampu menyembunyikan segala luka, agar aku tak terluka

Sekarang ini, perempuan itu sudah disinggahi banyak uban. Aku menyasiksan sendiri, perjuangannya dalam menjalani hidup. Perjuangannya untuk mencintai cinta yang ia miliki

Ia tak pernah membiarkan dirinya, meringkuk di sudut ketakutan apa lagi kelemahan. Ia adalah perempuan tangguh yang istimewa. Dan tentang dirinya, aku akan selalu mengingatnya di dalam hatiku 

Aku bisa bercerita banyak hal mengenai perempuan itu, karena aku adalah perempuan yang sudah lahir dari rahim perempuan itu. Ya, perempuan itu adalah ibuku, perempuan tercantik di hidupku.

Pada perempuan itu, aku dijari bagaimana menjalani hidup dengan rasa syukur. Ia telah mendidik dan memberiku banyak ilmu. Perempuan itu adalah perempuan yang kuingin bahagia ada bersamanya, dan aku pun ingin bisa memberinya bahagia

***
Rantauprapat, 22 Desember 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 21 Desember 2020

Seseorang yang Bukan Siapa-siapaku

@kulturtava
...
Ketika dia bertanya, kamu tahu apa yang paling indah dari semua tulisanmu? 
Ya, karena aku bingung. Aku tidak menjawab. Aku malah bertanya balik saat itu. Aku bilang apa? Aku bingung.

Dia pun menjawab pertanyaannya sendiri, dia bilang jawabannya adalah kata pertama dari pertanyaannya. 

Seketika aku tertawa lepas, dia menggamit malamku dan buatku menikmati waktu bersama senyuman.

Melalui pertanyaan yang dia tanyakan, buatku bertemu huruf-huruf manis. Huruf yang berisi seperangkat kebahagiaan. Anehnya, antara aku dan dia, tak ada kepemilikan. Tak ada cinta yang bisa ditemukan, namun melalui dia seorang pria yang berasal dari kota Semarang, ada kesepian yang terhapus dari linimasa malamku. 

Ada bau Melati di malam hari yang terasa. Dia, seseorang yang bukan siapa-siapaku mengenai asmara telah menjadi bagian dari perjalanan malamku. Dia dan namanya sudah memberikan setitik rasa bahagia. Kemungkinan besar, darinya aku tak akan terima luka. Karena dia bukan siapa-siapaku, tapi aku sudah terima rasa bahagia.

Kini, dia sudah ada di senyumku. Itu sudah menjadi bagian sejarah hidupku bukan. Kuharap, akan ada senyuman berikutnya yang berasal darinya. 

Itu hanya harapanku. 

***
Rantauprapat, 28 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Berdoa Bukan Hanya Pada Hari Minggu

Painting by Arthur Briginsky
...
Apakah berdoa melihat hari? Pasti tidak.

Dan pada Tuhan yang Maha Sempurna, aku berdoa pada-Mu. Aku berdoa setiap hari dan bukan hanya pada minggu, bukan hanya pada hari sabat-Mu.

Dasar aku manusia yang payah, aku sudah berdoa tapi tetap saja aku masih memiliki kekhawatiran yang berlebih. 

Aku benar-benar sudah merusak doa yang kupanjatkan, mencicipi dosa di waktu senggang yang sudah Engkau berikan. Sudah bersikap lancang pada-Mu.

Benar, aku berdoa bukan hanya pada hari minggu. Namun seringkali aku berdoa bukan berdoa yang sebenarnya. Aku lupa cara berdoa.

Sesungguhnya, aku ingin berdoa dengan benar. Doa yang tidak salah alamat dan Tuhan yang sempurna, tak akan enggan menjawab dan mengabulkan doa-doaku. 

***
Rantauprapat, 20.12.20
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 20 Desember 2020

Seperti Jerami dan Akan Terbakar

@kulturtava
...
Hari ini, pada pagi yang dingin ini. Bicara perempuan itu kurang ajar, tanpa sadar ia telah berbuat fasik, ia telah gegabah. Mungkin ia berbahagia melakukan itu. 

Pagi ini, surya kebenaran tak terbit bagi perempuan itu. Ia seperti jerami dan akan terbakar oleh kefasikannya. Ia sudah meninggalkan duri bagi perempuan lain. Ia mencuri ketenteraman hati pada perempuan yang ada di sisinya. 

Dan karena luka yang perempuan itu lakukan, sudah turun pula hujan air mata bagi perempuan lain. Tersenyum pun enggan, apa lagi untuk melakukan percakapan. Ritual hening dan memilih sunyi yang akan terjadi hari ini, perempuan itu yang kurang ajar, perempuan lain yang terluka.

Kebebasan kata-kata perempuan itu mengandung kekejaman rasa. Dan menyebabkan perempuan yang lain sudah berjumpa kekalahan pagi ini, dan ingin marah pada perempuan itu.

Perempuan yang lain itu ingin perempuan itu bermetamorfosis pada keberterimaan, memiliki kejernihan berpikir. Dan tentu tak akan berakhir seperti jerami yang diterbangkan badai pun akan terbakar oleh kefasikannya.

Benar. Perempuan lain yang ada di sisi perempuan itu tak punya hak apa pun atas jembatan yang ingin dilaluinya. Itu hanya menjadi keinginan baik yang ada di dalam diri untuk perempuan itu. Sungguh! 

***
Rantauprapat, 21 Desember 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Sejak Kamu Dikuasai Kekhawatiran yang Berlebih, Berbahaya!

@kulturtava
...
Untuk L! 

Bukankah, kekhawatiran tidak akan menambah sehasta apa pun dalam hidup. Namun masih saja kamu dikuasai kekhawatiran yang berlebih.

Kamu sudah berdoa dan mempunyai Tuhan di hidupmu. Saat hal-hal yang absurd terjadi, kamu seakan lupa pada Tuhan, kamu pun menjadi khawatir yang berlebih.

Ah, sungguh berbahaya memang. Sejak kamu dikuasai kekhawatiran yang berlebih, keberterimaan sulit untuk kamu terjemahkan. Dan lagu sendu yang hanya kamu putar pada daftar galeri musikmu. 

Atau mungkin juga, saat kamu merasa bahaya sebab merelakan dirimu dikuasai keadaan yang khawatir. Maka sebenarnya keadaan kamu makin terasa berbahaya.

Sejak kamu dikuasai kekhawatiran yang berlebih, berbahaya untuk dirimu sendiri. Rasa tenteram sudah kabur dari hatimu. Tidak lagi tenang teduh. Kamu merasa kalah dan gamang, seolah hari-harimu tidak akan baik-baik saja. 

Tidakkah segala yang berlebih, akan membuat kamu berasa ada di entah. Jauh dari kebenaran. 

Wahai kamu, buat apa ciptakan riwayat luka karena kekhawatiranmu yang berlebih. Sebaiknya kamu menghilangkan segala khawatirmu, hingga prahara tidak lagi menjadi bagian hidupmu.

Mungkin, rasa kekhawatiranmu tidak begitu mengkhawatirkan sebenarnya. Cukup sudah, harusnya kamu meninggalkan segala suram yang menyesakkan hati.

***
Rantauprapat, 20.12.20
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 19 Desember 2020

Memang Tidak Lucu!

@kulturtava
...
Tuhan yang maha sempurna, tidak akan pernah tergesa-gesa membawa siapa pun pulang dan kembali pada-Nya. 

Beralih ke tempat-Nya, bukan salah satu cara untuk menghibur siapa pun.

Sesungguhnya, sifat manusia adalah mempersalahkan. Saat ada seseorang dalam hidupnya pergi kembali pada Tuhan, malah mempertanyakan kepergian seseorang itu? 

Apakah Tuhan itu lucu dan seolah diam, saat ada yang kembali pada tempat-Nya? Tentu tidak.

Ya, karena Tuhan memang tidak lucu soal kematian dan kehidupan.

***
Rantauprapat, 20.12.20
Lusy Mariana Pasaribu 

Ibuku adalah Kisah yang Paripurna

Pinterest /hnillustration.etsy.com
...
Ibuku adalah kisah yang paripurna dan menjadi bintang yang paripurna pula. Bagiku, duniaku berpusat pada kebahagiaan ibuku. Kebaikan hati ibuku adalah gambaran nyata yang sungguh indah bagiku.

Wahai ibu, terima kasih buat segala cinta dan kebaikanmu. Lidahku tak akan pernah kelu untuk berkata, aku mencintaimu.

Benar, aku sungguh ingin membuatmu bahagia. Mengisi relung jiwamu, dengan nada-nada cinta yang benar. Biarlah matamu basah, bukan karena airmata ratapan. Namun, airmata suka cita.

Aku sungguh mengagumimu bu dengan penuh cinta. Pada yang Maha Sempurna, terima kasih terpanjatkan untuk kebersamaan yang masih aku dan ibuku miliki. 

Bagiku, ibuku adalah kidung terindah yang ada di dalam duniaku. Ibuku pun adalah bunga indah yang dipenuhi keistimewaan dan tidak akan pernah layu dari hatiku.

***
Lusy Mariana Pasaribu 


Jumat, 18 Desember 2020

Kenangan yang Menyakitkan

Fine Art America
...
Aku ingin melupakan semua kenangan bersamamu. Yang membuatku sering mengakrabi sunyi. Baik itu perihal kebersamaan, kenyamanan yang pernah mengisi semestaku. Dan terlebih perihal kenangan yang menyakitkan karena kisah kita yang tak mungkin bersama

Kenangan itu adalah lagu yang paling sendu bagiku, dan tak lagi ingin kusimpan di galeri hatiku. Hingga aku sadar, bahwa terkadang aku membiarkan hatiku memilih cinta yang salah.

Jendela hatiku kini ingin kembali berpetualang menemukan cinta dari kekasih yang sesungguhnya, merasakan hidup kembali di episode kehidupanku. Menyimpan cinta yang benar untuk jiwaku, yang memperlakukan diriku dengan sungguh. Menemani dan menaungi hatiku dengan cahaya cinta yang dimilikinya

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Aku Rasa Aku Ada di Entah

@kulturtava
...
Entah apa yang merasukiku, saat aku sering bergumul dengan kekhawatiran yang berlebih. Di antara malam-malam yang membeku, aku jauh dari kebenaran. Seakan kekeliruan adalah kerabat di lautan hatiku. 

Aku rasa aku ada di entah, saat aku memutuskan ingin mati di pekuburan sepi. Terlalu takut pada kenyataan. Masih terjebak pada ketidakpastian yang sempurna. Sering memutuskan untuk bersembunyi, aku rasa aku ada di entah saat aku menjadi perempuan yang dipatahkan keraguan yang sempurna.

Aku seakan terjajah pada konflik yang paling rimbun di dalam pelabuhan hatiku. Desember kali ini menjadi Desember yang paling dingin karena diselimuti kekhawatiranku. Sering pula, aku mengucapkan selamat malam pada pagi hariku, sebab aku masih bersenandung dalam air mata. Menjadi pecundang yang payah, saat itu aku rasa aku ada di entah.

Aku tak berdaya saat dikuasai nafsu jahat dan bodohnya itu adalah keraguan yang kupertahankan. Ah, aku rasa aku ada di entah, saat aku tak berpijak pada keikhlasan.

Entahlah. 
Walau aku tahu kekhawatiran tak menambah sehasta apa pun di hidupku, aku masih memiliki kekhawatiran yang berlebih. Sekarang pun aku masih khawatir terhadap ketidakpastian yang sempurna. Terhadap teka-teki zaman.

Aku rasa aku ada di entah, saat aku lupa berdoa dan membiarkan harapan yang benar kubiarkan pergi dari hidupku. Ah, kenapa aku terlalu sibuk memikirkan kekhawatiranku. 

Aku mau mengakhiri ketakutan yang membuat ratapan terdapat dalam bingkai-bingkai hidupku, tak mencipta kontradiksi dengan sengaja. Aku harus peduli pada diriku sendiri dan aku tak lagi berada lagi di entah. Tak jauh dari kebenaran.

***
Rantauprapat, 18 Desember 2020
Lusy Mariana Pasaribu 


Kamis, 17 Desember 2020

Sejarah dalam Hidupku

Wordpress.com
...
Haruskah aku membiarkan hatiku layu dan akhirnya mati, karena perpisahan kita. Aku tahu bahwa perpisahan kita tetaplah menyakitkan, bukankah setiap pertemuan yang ada akan berujung pada perpisahan

Tapi perpisahan yang kurasakan ini karena pilihan hatiku sendiri. Walau ada kemungkinan kita bersama, aku tetap tak akan memilih kemungkinan itu

Sebab jika kemungkinan itu kupilih, yang ada rasa sakit akan menemaniku terus-menerus. Dan di dalam poros waktuku, aku tak ingin memeluk semak berduri yang pasti memberikan rasa sakit jika bersamamu

Perpisahan kita mengajari diriku untuk merelakan dan memilih yang terbaik untuk hidupku. Selepas perpisahan ini, aku ingin hidup baik-baik saja, dan perpisahanku denganmu akan menjadi sejarah dalam hidupk. Kusederhanakan menjadi sebuah kenangan

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 16 Desember 2020

Aku Ingin Berhenti Mencintaimu

Deslegte.com
...
Mungkin kau tak akan pernah tahu, apa yang membuat hatiku mengalami kerumitan? Aku sungguh ingin berhenti mencintaimu setelah kau berlalu pergi dari hatiku, namun itu hanya keinginan yang tak pernah terwujud sampai sekarang ini. Menyedihkan bukan, aku belum mampu membasuh perihalmu dari hatiku

Bertahun, hari-hariku dipenuhi aroma dirimu. Aku berteduh di bawah pohon cintamu, aku bagai bunga Lotus yang mekar karena sinar rembulan yang kau berikan. Hingga hari itu, aku mendengar ucapan perpisahan pun ucapan selamat tinggal darimu tanpa ada pertemuan terakhir saat itu 

Bodohnya aku, perpisahan darimu tak membuatku berhenti merindukan bahkan mencintaimu. Aku ingin menyerah dan mengakhiri perasaanku terhadapmu, tapi sampai saat ini aku masih belum mampu berhenti mencintaimu. Ternyata tak mudah bagiku untuk berhenti mencintaimu

Kau itu sangat menyebalkan, sudah meninggalkanku tapi perihalmu masih belum surut dari hatiku. Berharap akan segera tumbuh cinta yang baru di hatiku, agar aroma dirimu benar-benar terkikis dan lagi bertautan dengan hatiku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 15 Desember 2020

Kamulah Cinta dan Kisah Cinta

@kulturtava
...
Saya bersyukur atas pertemuan yang diizinkan Tuhan. Pertemuan saya dengan kamu. 

Kamu hadir dan telah memberikan hal yang istimewa. Ini bukan rasa yang berlebihan. Namun kebenaran yang sudah saya terima. Bagaimana tidak, saat kemarau dan arogansi hidup buat diri saya ditampar, kamu tidak membiarkan kehidupan saya layu. 

Kamu itu pria yang sudah memberi kesadaran, agar saya tidak menikam diri pada gemuruh yang akan membuat hasrat terbuang dan terkurung dalam sunyi. 

Dalam sketsa hidup saya yang begitu banyak kisah, saya yakin kamulah cinta dan kisah cinta yang ingin saya miliki seutuhnya.

Apa yang membuat saya mencintai kamu? Dan mengingini kamu menjadi kisah cinta yang seutuhnya dalam hidup, karena bersama kamu banyak kebahagiaan yang berjatuhan di musim hidup saya. Dan keindahan akan terpetik oleh saya. 

Kamulah cinta yang sudah menempatkan saya di wadah yang berwarna asa agar kebahagiaan yang berlimpah beriringgan dan bersahabat dengan kehidupan saya. 

***
Rantauprapat, 15 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 14 Desember 2020

Kesepian, Pengakuan Seorang Pendosa yang Payah, dan Hari Tanpa Surya

@kulturtava
...
Diam dalam hening. Butuh menepi dalam keadaan hidup. Kejujuran tak lagi termiliki, parahnya itu untuk diri sendiri. Ya, itu pengakuan seorang pendosa yang payah. 

Merasa hari-hari yang tersisa hanyalah kehampaan. Lebih seperti duka, bukan, lebih tepatnya sebuah kemalangan. Tak berhasrat untuk hidup. Melemahkan tubuh yang sudah memang kurang berdaya. Mengabaikan mindfulness demi ada dalam hamparan semu. Menjalani hari tanpa surya. 

Bisakah menjalani hari tanpa surya?, 

Entah. Merelakan diri mengalami syair-syair cuaca di kerumunan luka. Dekapan masa lalu dan aroma masa silam mampu membuat padang ilalang kemunafikan tumbuh di waktu kehidupan.

Kesepian adalah isi dalam chapter di fragmen sekarang ini. Hari tanpa surya, tak ada cahaya matahari yang menyengat tubuh dalam babak demi babak isi wilayah semesta yang ada. 

Di jendela Desember ini.
Hari dan dunia yang dicekam ketakutan semakin mendominasi. Tak berhasrat hidup, ingin mati, tapi tak mati. 

Ini semua hanya alasan tentang hujan yang tidak seharusnya menjadi hujan. Ini semua hanya tentang kebodohan.

Dan perihal replika bahagia, itu tak lagi ada dalam kolase hati. Saat ini, semua musim bak hamparan dusta dan kepalsuan. Seperti ada di hutan-hutan mati. Di sini, Sumatera pada tengah malam sebelum pukul 00:00. Ah, ini adalah tempat persembunyian waktu yang paling memikat. 

Kesepian dan kesendirian beserta rahasia di dalamnya, akan terhempas sementara waktu. Dan esoknya kembali merasakan hari tanpa surya. Ini tentang asa yang diperbolehkan pergi, sebab asa yang dijumpai telah dipadamkan. 

Asataga. Ternyata hati sudah lama bertempat tinggal pada kata payah. Tak pernah bercerita apa adanya. Lagi-lagi ini semua tentang luka. Ibarat sayap burung ranggung yang ditiup angin Timur. Berada dalam gantang, seperti perburuan waktu terhadap gelembung dan kupu-kupu yang hilang arah. 

Ini bukan ketentuan waktu.
Jujur, ini hikayat airmata.

***
Rantauprapat, 14 Desember 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 13 Desember 2020

Melepas Kegelisahan dengan Menulis Puisi

hub.packtpub.com
...
Sesungguhnya dalam hidup, pastilah saya berdampingan dengan kesunyian dan keramaian, kedamaian dan kegelisahan. Bukankah hidup memang seperti itu

Dalam perjalanan pun, proses dan dinamika hidup terkadang saya harus berhenti ketika ada di lampu merah dan kembali berjalan ketika di lampu hijau 

Kala gelisah meniupkan rasanya dalam jiwa saya, saya memilih melepas kegelisahan dengan menulis puisi

Tak ingin diselimuti kegelisahan terlalu lama, saya memilih menulis puisi sebagai luapan emosi jiwa saya. Itu keputusan yang saya ambil, karena puisi merupakan hal yang saya sukai 

Angin kegelisahan yang menerbangkan bunga kesunyian pada jiwa saya, perhalan bisa menghilang dan tak lagi terasa ketika saya berhasil menyelesaikan puisi yang saya butuhkan

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 12 Desember 2020

Merawat Harapan

Pixabay
...
Aku ingin terus merawat harapan baik dalam hatiku. Bahwa harapan adalah jejak-jejak yang ingin kuraih dalam hidup

Harapan menciptakan kerinduan perihal banyak hal di hatiku. Biarkan aku terus merawat harapan, harapan bisa memberikan kedamaian di jiwaku yang kadang kala penuh hura hara

Waktu demi waktu yang berganti dalam kehidupanku, aku tidak akan tahu harapanku akan menjadi sia-sia atau tidak. Dalam doa aku hanya bisa mengatakan apa yang menjadi harapanku, berharap harapanku menjadi nyata. Jika pun yang terjadi sebaliknya, bahwa harapanku tidak menjadi nyata, aku tidak akan tenggelam dalam rasa benci

Aku tetap ingin merawat harapan baik dalam hatiku perihal perjalanan hidup yang kulalui. Sungguh, aku menyukai harapan. Harapan menyediakan ruang pengharapan dalam semesta hidupku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Cinta Itu Sederhana

unsplash.com
...
Cinta itu memang sederhana, yang tidak sederhana adalah merawat cinta itu agar tetap bertahan 

Seperti ombak yang terdapat dalam lautan luas, seperti itu pula kesetiaan yang harus terdapat dalam cinta yang sederhana

Cinta itu memang sederhana, ia tak perlu selalu dipuja dan disanjung tapi ia perlu dipelihara dan dijaga dengan kasih sayang pun kepercayaan

Bicara tentang kesederhanaan cinta, bicara tentang batasan dan kisah penerimaan di dalamnya. Walau sesungguhnya menemukan cinta yang sederhana itu butuh perjuangan

Cinta itu memang sederhana, yang tidak sederhana dan menjadikannya rumit adalah si pemilik cinta itu sendiri. Si pemilik cinta sulit menerjemahkan kesederhanaan cinta dan seni dalam mencintai itu sendiri 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 11 Desember 2020

Gelembung dan Kupu-kupu

@kulturtava
...
Gelembung dan Kupu-kupu

Resah gelisah yang dilekatkan. Ia menikmati, bukan, sebenarnya bukan menikmati, tapi ia menenggelamkan hati dan berada dalam ruang pikiran yang hampa. 

Ia beranggapan bahwa dirinya adalah seseorang yang sendiri. Mencintai dirinya, ia sulit lalukan. Ia seperti gelembung dan kupu-kupu yang hilang tanpa arah. 

Menjadi seseorang yang basah oleh hujan. Menanam ketakutan di pekarangan hati. Rela kisah-kisah yang kaku menikahi waktu senggangnya, dirinya tak lagi tenang teduh. Ia perempuan dewasa yang bernama kepayahan. 

Dengan sendirinya, ia menciptakan belasungkawa dan konflik. Ini teka-teki zaman dan masih tentang ketidakpastian yang sempurna. Bak gelembung dan kupu-kupu yang sayapnya didorong oleh angin. Adapun sayapnya adalah sayap seperti burung ranggung. Menjelajahi malam dengan kelayuan hingga tidak tumbuh dengan riap. 

Kebahagiaan yang tercuri itu adalah miliknya. Bersama ketidakpastian yang sempurna, akhirnya ia menemukan sedu sedan. 

Terhadap ketakutan yang ia lekatkan, ia menderita sengsara dan mengalami kesusahan lagi berkeliaran seperti kawanan domba. Melenyapkan harapan yang sesungguhnya harus dimiliki. 

Benar. Ia tersandung dan memunahkan hasrat untuk hidup lebih lama. Menyerah dan tak menghidupkan semangat, itu yang ia lakukan.

Kini, ia seseorang yang berada dalam gantang. Inilah balada perempuan yang sudah membiarkan dirinya seperti gelembung dan kupu-kupu tanpa arah dan menjelajahi hari-hari yang mengering dan dilalui tanpa arti. 

Malangnya, ia tak ingin mengingat ada Tuhan yang Maha Sempurna yang bisa menolong hidupnya. 

***
Rantauprapat, 12 Desember 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Seorang Perempuan dan Trauma Psikisnya

@kulturtava
...
Kegilaan dan nafsu jahat bersemayam di nalar hati pria itu. Lumpur maksiat menjadi penghuni di ruang hasratnya. Entah karena apa, pria dewasa yang berperawakan tinggi itu sudah meninggalkan kesadaran hati.

Pria itu sudah menyeret aroma luka dan renjana yang menghantuinya pada perempuan itu, perempuan yang seharusnya dilindungi.

Pria dewasa itu seperti burung yang terbebas dari sangkar. Bebas untuk melakukan apa saja, memberikan noda dan guyuran air hujan pada perempuan itu. Menjajah setiap bentuk tubuh dan menanam benih kotor pada mahkota perempuan itu.

Perempuan itu hanya mampu memejamkan mata dan menahan rasa sakit yang akan menjadi sejarah terburuk di semesta hidupnya. Dia sudah tersayat oleh duka pun mengalami masa-masa yang teramat kejam. 

Perempuan itu menangis, menyesali dan meratapi hidupnya. Bayangan dosa sudah melekat pada tubuhnya, seumur hidupnya dia sudah tidak murni. Perempuan itu telah mengalami trauma psikis. Dan selalu membasahi halaman-halaman di bab buku kehidupannya dengan nestapa. 

Trauma psikis yang perempuan itu rasakan sudah membakar hatinya. Lusinan kericuhan menghiasi waktu yang dilaluinya. Dia sering tertidur dalam sedu. Musim hidupnya telah menjadi ranting yang kering.

Dan dia telah memilih hanya berkekasih dengan kesendirian. Perempuan itu tak ingin menerbitkan kesedihan besar pada semesta orang lain, karena perempuan itu sudah membenci setiap hal yang ada di semestanya sendiri. Pria itu sudah menabur angin di dalam hidupnya, dia pun menjadi perempuan yang payah, karena dia sendiri yang sudah menuai puting beliung akibat pria itu.

***
Rantauprapat, 11 Oktober 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 10 Desember 2020

Perempuan dalam Gantang

@kulturtava
...
Saat badai hidup menerpa jiwa perempuan itu, kesukaran menghadang sebab kesendirian dan kekhawatiran melabuhkan kerisauan. Mata perempuan itu lebih memilih basah karena terjaga di kepala malam yang ia miliki sebab dikuasai kisah-kisah yang kaku.

Ia coba tenangkan jiwa, namun kalah pada ketakutan yang menghantui perasaannya. Perempuan itu melayangkan mata dan melihat, ada sebuah gantang yang muncul.

Gantang itu merupakan kejahatan yang sudah ia lakukan. Kejahatan pada dirinya sendiri, ia tidak menerima keberadaan dirinya. Perempuan itu terlalu sering didorong oleh angin ketakutan. 

Banyak sumpah serapah yang keluar dari perbendaharaan perempuan itu, ia bahkan ingin mati di pekuburan sepi. Ia gelisah untuk pergi. Mencoba menenteramkan hati, namun kesukaran masih menjadi bagian dari hatinya. 

Di pelataran hati, ia sering menumbuhkan benih ilalang. Di waktu senggang, perempuan itu malah mencintai kebodohan. Menciptakan belasungkawa terhadap dirinya sendiri.

Malam ini, ada pencerahan yang ia terima. Perempuan itu pun kembali merindu pesona laut penerimaan dan keteguhan hati hadir dalam jiwanya.
Kali ini perempuan itu sadar bahwa kekhawatiran tidak menambah sehasta apa pun dalam hidup dan ketakutan tidak berarti harus selalu dilekatkan dalam hati.

Benar dan jujur. Perempuan yang diterpa kekhawatiran itu, ingin menerjemahkan ketakutan yang tidak selalu harus dilekatkan dalam hati. Perempuan itu akan terus melayangkan mata dan berharap tidak lagi ingin mati di pekuburan sepi.

***
Rantauprapat, 10 Desember 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Akhirnya Kau Menikah

Pixabay
...
Akhirnya kau menikah. Kau melanjutkan hidupmu dengan perempuan pilihan orangtuamu. Kini kita terasa sangat asing

Sekarang kau bebas dan bisa menjadi pria yang seutuhnya bersama perempuan itu. Berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersamanya, bahkan kau sudah leluasa menikmati anggur dan buah ranum yang terdapat di dalam tubuhnya. Dia akan melahirkan banyak keturunan untukmu

Sekarang kau sudah menikah, sementara aku harus tahu diri untuk benar-benar melepasmu dan terpisahkan dari hatiku. Aku pun tak lagi berhak memikirkanmu. Walau sebenarnya, pernikahanmu akan menjadi kepedihan untuk hatiku. Tapi aku sadar, itu bukan menjadi kesalahanmu seutuhnya

Aku juga telah mengambil keputusan, aku akan memaafkan dan menerima permintaan maafmu karena telah meninggalkanku. Aku berharap, tanpamu di duniaku aku akan tetap mendapatkan kebahagiaan. Dan aku percaya itu

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 08 Desember 2020

Ingin Terus Berdampingan Denganmu

@kulturtava 
...
Kita dipertemukan atas ijin sang pemilik semesta. Kita pun saling berbagi kisah dan cerita hidup, saling mendukung dan melengkapi. Menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing 

Di antara hati kita, tak pernah ada rasa menguasai. Tak pernah saling mengekang, sebab hati kita berselimut kepercayaan 

Di relung hatiku, kau telah menjadi seseorang yang penting bahkan amat penting. Dalam episode kehidupanku, aku ingin terus berdampingan denganmu dalam cahaya cinta yang tulus

Kau adalah pilihan hatiku yang terbaik. Kau juga keindahan yang Tuhan berikan untuk hidupku. Hatiku teguh untuk menjadi milikmu dan aku yakin untuk mengunci hatiku hanya pada hatimu. Yang kuingin, kita berdua bersama mencipta banyak warna untuk kanvas kita

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 07 Desember 2020

Kebahagiaan adalah Pilihan

@kulturtava
...
Memilih menjadi bahagia, akan menjadikanku sebagai pribadi yang memiliki rasa damai di hati. Aku tak memerlukan izin orang lain untuk merasa bahagia, aku tak akan mengizinkan orang lain merampas rasa bahagia yang sudah kupilih di dalam hatiku 

Terkadang, aku harus menepi dan berdiam diri sejenak, menjauh dari keriuhan hidup, agar aku bisa menikmati rasa bahagia. Bahagia semacam lampu penerang yang harus ada dalam jalan hidupku 

Berita baiknya, bahwa kebahagian adalah pilihan diriku sendiri

Mungkinkah aku tak bahagia? Sangat mungkin, jika aku mengizinkannya. Jadi kapankah aku akan bahagia? Ya,  ketika aku memilihnya dan aku tak memblokir rasa bahagia itu karena situasi yang kualami

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 06 Desember 2020

Ada 3 Manfaat Membaca Novel

Novel Sandra Brown, dokpri
...
Saat remaja saya menyukai komik sebagai bacaan saat waktu luang. Beranjak kuliah, saya mulai beralih pada novel. Karena belum memiliki uang yang cukup, kala itu saya tak mampu membeli novel sendiri. Yang saya lakukan adalah menyewa novel untuk dibawa ke rumah dan dikembalikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Entah sudah berapa lama saya melakukan hal itu, saya tak menghitungnya dengan pasti. Beberapa waktu kemudian, setelah saya lebih dewasa dan akhirnya bisa mendapatkan uang sendiri, saya mulai membeli dan mengkoleksi novel untuk bahan bacaan saya.

Masih ingat betul, novel pertama yang saya beli beberapa tahun lalu adalah novel karya Tere Liye yang berjudul Pukat. Novel Pukat merupakan novel series empat kakak beradik dengan judul Amelia, Burlian dan Eliana. Dan keempat novel telah saya baca dan miliki. Saya juga memiliki novel dari karya Tere Liye yang lain. Juga dari penulis yang lain.

Belakangan saya mulai membaca dan membeli novel romantis yang juga beraroma dewasa. Dan yang paling terakhir, tepatnya tanggal 24 Mei 2020 kemarin, saya membeli beberapa novel romantis karya Sandra Brown.

Bagi saya pribadi, ada kebahagiaan bisa memiliki dan membaca novel sendiri. Ada juga manfaat yang saya dapatkan dari membaca novel, di antaranya adalah :

1. Dengan membaca novel, saya mendapatkan rasa bahagia. Kenapa saya katakan begitu, melalui cerita dan kisah yang saya baca, saya bisa tersenyum dan tertawa sendiri. 

2. Dengan membaca novel, saya bisa mendapatkan ide dan insipirasi dalam berpuisi. Banyak kosakata baru yang belum pernah kutahu saat membaca novel. Selain kosakata baru, melalui novel yang saya baca, saya juga bisa memperluas daya imajinasi saya.

Novel seperti hal yang menyenangkan untuk kujelajahi dalam dunia kata. Dan ada beberapa puisi saya yang tertulis, setelah saya menyelesaikan bacaan novel yang saya miliki. Salah satu puisi yang tertulis dan teringat saat menulis artikel ini adalah puisi yang berjudul 
"Rindu yang Kulirikkan dalam Nyanyian Puisi".

3. Dengan membaca novel, saya mendapatkan wawasan baru dalam kehidupan. Walau novel sebenarnya merupakan karya fiksi, tapi tetap saja itu hasil dari pemikiran orang lain. Pemikiran orang yang sangat berbeda dengan diri sendiri dan setelah membacanya,  ada energi dan pengetahuan baru untuk saya pribadi.

Kesimpulannya, selain berpuisi, membaca novel pun merupakan hal yang menarik minat saya sejak lama dan saya menyukainya. Saya akan tetap menikmati bacaan yang saya sukai,  bukan hanya membacanya, saya pun menghargai karyanya dengan membeli bahan bacaan tersebut.

Salam literasi

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 03 Desember 2020

Rasaku, Rasamu, dan Rasa Kita

Rasaku, Rasamu, dan Rasa Kita
...
Rasaku itu membuat hatiku rindu
Karena sepertinya daun-daun hatiku mulai berakar pada hatimu
Rasaku memerlukan rasamu

Rasamu itu sesuatu yang kusukai
Karena sepertinya, rasamu telah hadir dan mekar di dalam rasaku
Rasamu pun telah terpana pada rasaku

Rasaku dan rasamu tidak hadir begitu saja, hingga menjadi rasa kita
Rasaku dan rasamu berbaur jadi satu
Bersama harapan, kuharap rasamu tidak akan meninggalkan dan menghempaskan rasaku

Rasaku adalah rasamu
Wahai rasa! 
Teruslah tumbuh, berakar, dan jangan beranjak pergi dari hati kami

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 01 Desember 2020

Aku Memilih Duduk Menepi

@kulturtava
...
Kesedihan dan kepedihan terkadang membuatku terhempas dan membawaku jauh ke langit yang bermuram durja

Aku, memang perempuan melankolis. Terkadang rasa ini menyusahkan diriku. Dan akan sebenarnya ingin memusiumkan sifat ini, tapi itu tak bisa kulakukan

Aku memilih duduk menepi dari hiruk pikuk dan keramaian manusia yang terasa hanya memberikan kepalsuan. Dan aku memilih untuk menyuguhkan diksi dalam aksara puisiku

Aku bisa tenggelam dalam sepi, jika aku menginginkannya, karena ternyata duduk menepi dari kelelahan yang menyapa bisa menjadi kenyamanan tersendiri untuk diriku

Menepi juga terkadang kebutuhan bagiku, mengistirahatkan diri dari luasnya warna-warni yang dunia berikan untukku

***
Lusy Mariana Pasaribu