Bulan belum berganti ke bulan yang baru, namun kisah dengan perempuan itu selalu bertambah ke memori yang gelap yang seram. Tidak ada rasa bahagia, sebaiknya memang menjauh dan menjadi asing seasing-asingnya. Patah hati mendengar dan melihat suara dan tingkah perempuan itu. Perempuan itu berkata "mamakmu" itu. Wow, kenapa ada keputusan kemarin untuk menerima perempuan itu kembali.
Bukankah jika perempuan itu tidak bisa menjadi berkat, setidaknya tidak menjadi batu sandungan.
Perempuan itu pergi ke rumah luka namun pulang dengan masih membawa luka itu sudah seharusnya pergi kembali dengan luka-luka yang ada jangan lagi meninggalkan luka sehingga timbul bara api yang menjadi durhaka. Bagaimana mampu mencoba untuk berpura karena sudah terlalu sakit. Seharusnya tidak pernah membaca perempuan itu.
Sudah satu tahun kembali tapi yang ada hanya mengecap narasi sejarah dari kegagalan yang masih dipertahankan, lantas untuk apa kembali. Diberikan wadah untuk berubah ternyata tidak sama sekali, nggak mampu mencoba untuk berpura menghadapi segala drama perempuan itu. Karena yang lebih dulu berpura adalah perempuan itu dengan segala motivasi yang dipunya.
Lagi-lagi perempuan itu, satu tahun ke belakang hanya menerka-nerka hatimu, namun pagi tadi beberapa jam yang lalu hatimu tidak pernah berirama dengan hati yang sudah memberikan wadah untukmu berubah, yang ada hanya keterpaksaan dan kepentingan pribadimu. Semoga apa yang perempuan itu tabur tidak kembali dituai melalui keturunan yang sudah dimiliki.
Melalui cerita perempuan yang tidak penting itu, aku juga belajar untuk menahan diri dan menahan ucapan dan juga tidak mengumpat kepada seseorang yang harusnya tidak menerima itu. Dan setelah pagi ini, masih berulang kali dalam banyak tahun jika masih bernafas di muka bumi akan bertemu perempuan itu, aku akan merayu hati dan kewarasanku untuk melakukan percakapan dengan perempuan itu, di sela-sela jeda akan ketidaksanggupan dan kelelahan.
***
Rantauprapat, 20 Mei 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar