Jangan menangis. Ini masih terlalu pagi untuk bercengkrama dengan air mata. Tidak ingin menjadi chaos.
Terlalu banyak yang tersembunyi, banyak kebenaran yang tidak seutuhnya. Bukankah lebih baik untuk menjaga hati dengan menjaga jarak. Apakah itu yang dinamakan ketulusan, tidak menjadi sandaran bahagia untuk janji yang pernah terucap dan terjalin bahkan sampai puluhan tahun.
Terlalu kejam takdir dari perjalanan ini, ketika mendapat tuduhan terselubung dan dipersalahkan, akan mencoba tetap baik-baik saja dan menerima.
Tak ada keharmonisan, tak ada bunyi-bunyi cinta, malah menjadi seperti permainan yang tak kunjung selesai, aneh bukan. Ini bukan soal lagi hambar atau tawar, ini benar-benar menjijikkan. Tak apa, akan ikut alur permainan ini, menyerah untuk tidak lagi kompromi, menyerah pula untuk berinteraksi. Entah hari yang kapan, akan terlihat siapa yang akan kalah.
Pagi ini dan sebuah percakapan menyadarkan, sudahi untuk bermain-main lagi dengan hati, jangan menggubris sesuatu yang enggan untuk digubris, sampai hujan benar-benar reda. Sudahi sedihmu kawan.
Bertemanlah dengan kata-kata dan bercumbulah dengan diksi, karena dengan kata-kata bisa bercinta tanpa tapi, dan abaikan saja janji yang takkan pernah lunas. Berharap dapat melalui pagi ini dengan baik, bahkan juga selepas pagi ini atau hari ini semoga bisa tetap baik. Karena tidak ada yang benar-benar peduli jika berujung pada lingkaran chaos, yang ada hanya memperdulikan ego dan kepentingan untuk memuaskan diri pada pertengkaran dan pertengkaran.
Jadi, sudahi sedihmu kawan. Jangan mau terikat dan lepaskan api membara yang bermain-main dalam kepala. Jangan mau jadi sekarat seperti ruang lama yang tidak tertempati, lagi ada kesadaran dan kesempatan berjuanglah untuk bebaskan kesehatan diri.
***
Rantauprapat, 26 Maret 2025
Lusy Mariana Pasaribu