Kamis, 27 Maret 2025

Pagi Ini dan Sebuah Percakapan

SHUTTERSTOCK
...

Jangan menangis. Ini masih terlalu pagi untuk bercengkrama dengan air mata. Tidak ingin menjadi chaos.

Terlalu banyak yang tersembunyi, banyak kebenaran yang tidak seutuhnya. Bukankah lebih baik untuk menjaga hati dengan menjaga jarak. Apakah itu yang dinamakan ketulusan, tidak menjadi sandaran bahagia untuk janji yang pernah terucap dan terjalin bahkan sampai puluhan tahun.

Terlalu kejam takdir dari perjalanan ini, ketika mendapat tuduhan terselubung dan dipersalahkan, akan mencoba tetap baik-baik saja dan menerima. 

Tak ada keharmonisan, tak ada bunyi-bunyi cinta, malah menjadi seperti permainan yang tak kunjung selesai, aneh bukan. Ini bukan soal lagi hambar atau tawar, ini benar-benar menjijikkan. Tak apa, akan ikut alur permainan ini, menyerah untuk tidak lagi kompromi, menyerah pula untuk berinteraksi. Entah hari yang kapan, akan terlihat siapa yang akan kalah. 

Pagi ini dan sebuah percakapan menyadarkan, sudahi untuk bermain-main lagi dengan hati, jangan menggubris sesuatu yang enggan untuk digubris, sampai hujan benar-benar reda. Sudahi sedihmu kawan.

Bertemanlah dengan kata-kata dan bercumbulah dengan diksi, karena dengan kata-kata bisa bercinta tanpa tapi, dan abaikan saja janji yang takkan pernah lunas. Berharap dapat melalui pagi ini dengan baik, bahkan juga selepas pagi ini atau hari ini semoga bisa tetap baik. Karena tidak ada yang benar-benar peduli jika berujung pada lingkaran chaos, yang ada hanya memperdulikan ego dan kepentingan untuk memuaskan diri pada pertengkaran dan pertengkaran.

Jadi, sudahi sedihmu kawan. Jangan mau terikat dan lepaskan api membara yang bermain-main dalam kepala. Jangan mau jadi sekarat seperti ruang lama yang tidak tertempati, lagi ada kesadaran dan kesempatan berjuanglah untuk bebaskan kesehatan diri.

***

Rantauprapat, 26 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 25 Maret 2025

Siapa yang Akan Kusebut Rumah?

Pexels
...

Ini bukan soal berani atau tidak berani, ini soal memaafkan yang tak kunjung usai. Aku benci keadaan ini. Aku telah tersesat dan menjadi liar, mulutku menjadi nakal. Mengumpat dan mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya. 

Boom, seperti ada ledakan besar beberapa menit yang lalu, tepatnya pukul 16.07. Hari kedua puluh lima bulan ketiga tahun ini. Aku mendengar suara yang seakan ingin membunuh, pandangan yang ingin menenggelamkan ke dasar laut. 

Kembali lagi pertanyaan itu kenapa harus aku? Apakah aku harus selalu kalah dan mengalah? Akankah air mata selalu kan jadi teman, sampai menangis pun aku sulit. 

Lantas di mana semua janji yang pernah terucap? Ingin menjadi seseorang yang lebih baik, menjadi sandaran dan penolong yang lebih baik? Mata, hati dan telinga selalu sakit dengan semua janji-janji tak pernah dipenuhi.

Aku yang menderita, di tengah keterbatasan aku harus tetap berjuang untuk memiliki kesadaran dan kewarasan terhadap mentalku. Aku gemetaran, aku takut, untuk membaca kamu pun saat ini pun aku sulit. Apakah aku harus memunguti bahagia, tapi dari bahagia siapa yang harus kupunguti. Bahkan sepertinya sisa hari ini akan menjadi hujan bagiku, 

Siapa yang akan kusebut rumah jika seperti ini? Aku sendiri pun takut untuk berteduh, seakan tak ada yang menginginkan aku ada, hidup ini terlalu lucu untukku, sore hari ini aku sangat untuk melaluinya, karena jika besok aku masih ada, apa yang akan kulihat dan kudengar itu pasti lebih sakit daripada sore hari ini.

Adakah yang bisa mengeluarkan tangan dan melihat kesusahanku? Yang bisa memberikan pertolongan untuk menghilangkan kesedihan ini. 

Entah siapa yang benar-benar akan kusebut rumah? Tolong hentikan kepedihan ini. 

Hentikan!

***

Rantauprapat,  25 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 24 Maret 2025

Ada Kisah dibalik Air Mata

Pixaby.com
...

Aku tidak baik-baik saja, tapi harus tetap baik-baik saja, aku tahu aku tidak sendirian faktanya aku sendirian. 

Kehabisan kata-kata dan kehabisan energi.

Aku yang bodoh, membiarkan diriku tersesat dalam helaian kenangan yang merusak mentalku dan kewarasanku. Sudah terlalu banyak air mata yang keluar. Air mata yang berujung pada kesia-siaan. Kisah dibalik robekan masa lalu ternyata tak pernah selesai.

Bahkan tak pernah ada kata saling yang ada satu hanya peribahasa.  Keharmonisan hanya menjadi kata-kata, menahan diri itu hanya omong kosong. Dan aku membiarkan diri untuk itu, untuk terjatuh pada perdebatan dan perdebatan yang tak pernah memikirkan aku. 

Aku harusnya bisa merdeka, karena memerdekakan hati itu penting. Kenapa harus basah oleh hujan? Kenapa harus ada di kerumunan hujan? Benar ada kisah di balik air mata, bukan berarti harus hanyut dalam kisah itu. 

Ingat, ledakan apapun yang yang aku sudah rasakan itu tidak boleh membuat aku hancur berkeping-keping. Walaupun tidak ada cinta, tidak ada rindu, tidak ada romantisme, aku tidak boleh kalah, apalagi menjadi gagu.

Barangkali pada suatu hari, aku akan mengalami kisah yang paripurna dan menjadi catatan penting belajar dari kisah dibalik air mata hari ini, tak boleh pula kehilangan oase untuk menjalani hidup. Karena selama bumi masih ada, akan selalu ada perjuangan yang tak  habis-habisnya di semesta hidup. 

***

Rantauprapat, 24 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 


Minggu, 23 Maret 2025

Enyahlah, Brengsek!

Kulturtava
...

Mengerikan rasanya, malam ini tak bisa menyelamatkan diri. Terdampar dalam relationship yang toxic bahkan benar-benar toxic. Enyahlah, Jika boleh meminta malam ini atau lebih cepat sebelum berlalu malam ini. Aku tahu aku salah jika meminta kematianmu, tapi sungguh aku menginginkan itu sempurna dan segera.

Jejakmu adalah rasa sakit dalam gaung ingatan, banyak dosa yang yang dicicipi karenamu. 

Dasar predator,  brengsek. 

Mulutnu liar dan nakal, suka bermain-main atau menyakiti. Aku muak, ingin menyakiti dan melukai namun lagi-lagi itu tidak berhasil. Aku pikir kau terlalu berani dengan segala hal gila yang kau lakukan,  kebohongan demi kebohongan, menimbulkan keributan dan perpecahan masih nyaman dengan hal itu.

Kau duri, seharusnya tidak pernah ada. Enyahlah brengsek. Tidak akan lagi ribut, itu bullshit. Asu, kenapa aku yang harus jadi korban? Aku menjadi pembunuh untuk diriku sendiri. 

Dengan mata telanjang, aku selalu menyaksikan pertempuran demi pertempuran karenamu. Aku bertanya-tanya, apakah isi otakmu hanya tentang kedegilan serta kegilaan? Kau adalah definisi ketidaktahuan diri, Tapi entah mengapa, kau tak pernah cepat di bumi hanguskan dari dunia yang masih ada.

Kenapa harus hidup sesuka hati, padahal kau adalah seseorang yang tak berdaya, angkuh. Lagi-lagi pandanganku kalah terhadapmu, suram yang mendekapku dan tak berjalan dengan membebaskan jiwa. 

Enyahlah, brengsek!


***

Rantauprapat,  23 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 22 Maret 2025

Sunyi Kehilangan Cahaya

Pixabay 
***

Gema tak berbalas, kepercayaan mulai memudar. Sunyi kehilangan cahaya, ada kisah dibalik air mata. Langka lorong tanpa ujung, akhirnya hati yang setegar baja pun runtuh. Nama dinding bisu, kita lagi mampu berkata-kata.

Merasa sendirian, sunyi kehilangan cahaya. Gemetar dan layu sudah.

Dalam ringkas ingatan, hanya sedikit kebahagiaan yang menari-nari dalam diri. Mungkinkah akan ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang mandiri? Sejauh ini, kita hanya bercumbu dengan realita yang malang.

Kita terlalu gagu untuk jatuh pada dosa yang merayu, seperti gema yang tak berbalas, seperti itu pula kita biarkan kebodohan bertahta. Kenapa harus jatuh dan menggelitik waktu yang senggang dengan kesuraman yang ada.

Bukankah boleh berharap, kisah di balik air mata tidak mau tentang kegagalan dan kepatahan. Kita tidak harus selalu basah oleh hujan. Walaupun gema tak selalu berbalas, tak juga membiarkan diri mati dan terbunuh dalam hamparan sepi yang kelabu. 

Segemetar dan setidak berdaya apa pun, lepaskan diri dari mencumbu hasrat yang tidak seharusnya, mungkin saja di alur kehidupan yang akan datang kita akan bisa menikmati hidup yang benar-benar hidup. Dan Sunyi tak lagi kehilangan cahaya.

***

Rantauprapat,  22 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 20 Maret 2025

Berada di Antara Paragraf yang Belum Selesai

Deposit photo 
...

Walaupun aku sudah layu, bak debu dan abu. Membisu karena terpaksa, dengan sadar mencicipi dosa. Ada saja keributan yang mengusik kepalaku. Tapi sampai saat ini, aku sering berada di antara paragraf yang belum selesai, seperti ada di persimpangan yang memberikan ragu dan gagu.

Karena aku seseorang yang membutuhkan validasi, validasi yang memang benar-benar  benar. Adakah yang benar membutuhkan aku? Adakah yang menginginkan aku untuk pulang ketika aku tersesat? Adakah yang tulus menerima aku dengan segala kesusahanku?

Karena sejauh ini aku masih bernafas, banyak kisah yang memenuhi paragraf hidupku tentang segala rasa sakit, tentang nyaris hujan yang ada di mataku. Duniaku penuh tipu-tipu, semuanya omong kosong seperti omong kosong tentang cinta. Karena cinta hanya peribahasa, pergi ketika cerita belum benar-benar usai dan menjadi usang.

Lagi-lagi, aku berada di antara paragraf yang belum selesai. Entah, pada suatu hari, aku akan benar-benar memiliki paragraf dan kisah yang utuh. Sebab aku dan isi kepalaku mempunyai ceritanya sendiri, barangkali tidak setiap orang memiliki paragraf yang utuh.

Aku ingin tertawa, menertawakan kisahku yang penuh kebisingan dan huru-hara. Karena kisahku di sembunyikan banyak hujan dan tentunya hujan gamang dan kebodohan. Karena aku gagal bahkan seringkali gagal mengakhiri patah hati, karena aku berada dalam kerumitan, bukan hanya berada di antara paragraf yang belum selesai, aku juga membiarkan diriku berada di antara kisah-kisah rumah tanpa jendela. Terlalu cengeng dan melankolis, sering bertengkar dan ribut dengan isi kepala yang mengganggu.

Damn, seharusnya aku tidak boleh di tawan ragu. Seperti ombak laut yang ganas. Tidak boleh pula membiarkan sepi membunuh bahkan ketika berada di paragraf yang belum selesai. Selama masih bernafas, tetap berusaha untuk berproses dan tumbuh.

Demikian!

***

Rantauprapat, 20 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 19 Maret 2025

Kau Ada, Sunyi yang Lupa pada Cahaya

Pixaby.com
...

Bertambah ketidakbenaran dalam buku sejarah, seperti kemarin mengucapkan maaf namun itu hanya kedegilan yang terulang. Kau ada namun seperti sunyi, sunyi yang lupa pada cahaya. Menipu dan berbuat semaunya dengan kasar.

Kau ada, namun hanya memberikan ruang yang hampa pun sunyi. 

Seperti pagi ini, seakan menjadi malam. Penuh dengan gelap nan murung. Kau ada, seperti sunyi yang lupa cahaya. Karenamu tidak ada percakapan yang bersinergi, hanya ada kehambaran. Kau ada, apakah sebaiknya tak pernah ada? Ops, hanya ucapan dari aku yang berwajah lelah dan letih, itupun karena kau ada. Ini masih pagi tapi banyak kisah yang sudah membeku karena kau ada.

Kau ada, seperti sunyi yang lupa cahaya.

Pagi ini tak ada tenang teduh. Tak ada damai sejahtera, tak ada senyuman. Hanya ada mendung dan luka-luka yang tak terlihat. Apa yang dipertahankan dari kau ada? Sepertinya tidak ada, dari pagi ini apa yang bisa kau ambil dan kau jadikan pelajaran? Apakah akan terus menjadi bebal dan memberikan kesusahan?

Sunyi yang lupa pada cahaya, ini terlalu menyesatkan. Kau ada sama seperti tamu yang berisik dan mengganggu isi kepala, kalau ada sama seperti mendung menghantarkan kelabu. 

Dan kau tahu, aku adalah seseorang yang harus bertahan menjalani sisa hidup dengan seseorang sepertimu. Ah, ini seperti kepergian yang terus muncul untuk dilakukan namun selalu tertahan.

***

Rantauprapat, 19 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 16 Maret 2025

Enam Belas Maret

Freepik.com
...
Hari yang terasa magis, hari itu adalah hari keenam belas bulan Maret, hari yang menjadi kenangan dari sejarah hidup bagi seseorang.

Sudah berapa dasawarsa menjalani hidup, banyak perjuangan dan lika-liku yang rumit, banyak pula kepura-puraan yang terjadi. Enam belas Maret adalah pengingat bagi seseorang, tentang kesalahan yang tidak seharusnya dilakukan, tentang duka-luka, tentang rasa syukur yang harus dimiliki.

Ini tentang apa yang masih ada dan tak akan disesali, ini bukan tentang kepura-puraan yang tabah atau tentang kesendirian yang merajai, enam belas Maret adalah sejarah seseorang untuk mampu mementahkan kekhawatiran akan kesendirian.

Barangkali seharusnya, belajar benar-benar untuk berani mengatakan tidak pada hal yang tidak perlu. Melawan kesedihan yang diam-diam mengusik dan memberikan ketidaktenangan, sehingga dalam waktu yang sangat singkat bukan hanya kesedihan yang ada. 

Dan pada hari yang kapan, enam belas Maret menjadi berbeda untuk seseorang yang memiliki sejarah dengan angka-angka itu, semoga! Bisa merasakan nikmatnya hidup dengan awarness.

Selamat ulang tahun untuk seseorang yang dilahirkan pada tanggal enam belas Maret.

***
Rantauprapat, Maret 2025
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 14 Maret 2025

Sejarah Perempuan Itu

basenotes.net
...

Pada suatu hari ia dilahirkan, hari keenam belas di bulan ketiga, dan tanpa pemberitahuan pada suatu hari pula ia menjadi berbeda. Ia menjadi penghuni kisah-kisah rumah tanpa jendela, perempuan itu pucat, kusut dan gemetar, lama ia ingin mengakhiri patah hati yang bersemayam, lagi-lagi gagal.

Malam ini, hari keempat belas bulan ketiga, hari kedua yang tersisa sebelum ulang tahun perempuan itu, ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengusik yang tidak perlu diusik, lebih baik diam daripada menyakiti diri sendiri.

Sejarah perempuan itu adalah sejarah yang penuh kekelaman, keraguan yang berlebih, karena ia sering kali diliputi perasaan-perasaan yang rumit. Misalnya seperti rindu di rumit cemburu, seperti juga hantu-hantu yang berkeliaran di kepala perempuan itu, seperti pertanyaan-pertanyaan bodoh yang harusnya tidak ada karena bagaimanapun tidak akan pernah menemukan jawaban. Tapi entah kenapa malam ini, perempuan itu disadarkan jika ia memang harus berjuang setidaknya untuk dirinya sendiri, walau sesakit dan semengerikan apapun yang akan dilalui pun dihadapi kedepannya,  sebab memang tidak mungkin orang lain yang berjuang untuk diri perempuan itu.

Dan sudah seharusnya, perempuan itu harus mengamini dan mengimani yang baik-baik dalam hidup. Perempuan itu adalah pohon anggur yang harus riap tumbuhnya,  berproses dan tumbuh dengan benar.  Apapun keadaan perempuan itu saat ini, tak ada yang perlu disesali dan tak ada yang perlu disalahkan, itu adalah jejak yang harus dijalani dan itu adalah sejarah perempuan itu, sejarah yang harus diisi dengan narasi-narasi yang memberikan value dan tenang teduh. Selagi bisa memperbaiki diri maka perbaiki.

Selamat menikmati usia yang baru untuk perempuan itu. Dan boom, masih berharap ada ledakan yang berisi kebaikan demi kebaikan untuk sejarah perempuan itu.

***

Rantauprapat, 14 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 12 Maret 2025

Kegaduhan yang Berisik

@kulturtava
***

Terlalu liar. Terlalu ego, terjerat pada sketsa yang seperti itu-itu saja, kegaduhan yang berisik. Jenuh jenuh dan jenuh, seperti ada di persimpangan. Lebih baik diam, tapi tahu rasanya dipaksa untuk bicara, yang ada hanya irama kesedihan.

Terlalu banyak khianat, berulang-ulang dan berulang-ulang terjadi, mau sampai kapan kegaduhan yang berisik ini terjadi?

Diam-diam kegaduhan yang berisik memberikan hati pada hati yang lain, memberi niat untuk ada di persimpangan yang lain. Memberi niat untuk menyerah. Hidup ini terlalu lucu, bahkan untuk menangis saja harus bersembunyi.

Menjadi bertanya-tanya, apakah kegaduhan yang berisik ini seperti candu yang tidak pernah lepas? Ini seperti keterasingan yang menggoda, hidup tapi tak hidup. Bagaimana rasanya? Ah, sulit menjelaskan. Karena tenang teduh hanya peribahasa.

Bisakah berharap, kegaduhan yang berisik ini tidak selalu menghantui pikiran dan hati! Karena masa hidup pun adalah terbatas, tapi kenapa kegaduhan yang berisik ini tidak terbatas.

Seperti punya tubuh tapi tidak bisa digunakan. Pun layaknya punya kepala tapi yang berisi hanya kegaduhan yang berisik.

Seperti punya tangan tapi tidak bisa dimaksimalkan, dipakai sebagaimana mestinya. Yang lebih menyakitkan punya kaki tapi tidak bisa untuk berdiri atau berjalan.

Ah, ngerinya. Jika sejarah hidup harus di isi dengan kegaduhan-kegaduhan yang berisik. Namun seharusnya tidak boleh mati hanya karena kegaduhan demi kegaduhan yang berisik bukan. Semoga masih tetap berjuang dan bertahan menjalani sisa sejarah hidup yang ada.

***

Rantauprapat, 12 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 



Selasa, 11 Maret 2025

Bagai Daun yang Menolak Jatuh

www.wakingtimes.com
***

Ada seseorang yang menuliskan, waktu yang menelan bayang retak senja. Film berulang, tak sama cahaya. Bagai daun menolak jatuh. Kau ada, dunia harus jatuh. Entah dunia seperti apa yang harus jatuh? Karena sejauh mata memandang, hanya ada luka yang tak terlihat. Seperti ada di kerumunan hujan. Seperti cermin yang retak.

Dunia harus jatuh seseorang itu menuliskannya, seperti syair-syair tentang luka, kisah-kisah rumah tanpa jendela, tentang kegamangan serta kegugupan yang berlebih. Kau ada, kau yang seperti apa? Kau itu seperti kanvas kecil yang tidak berarti apa-apa. Bukan hanya tidak berarti apa-apa, pada dasarnya kau memang bukan siapa-siapa. Kau seperti ranting yang patah.

Waktu yang menelan bayang retak senja, begitu sunyi hingga sering berada di ruang sunyi. Mencumbui pagi dan malam dengan kegamangan yang tak berarti. Lagi, ingatan tentang penerimaan hanya ilusi seperti luka-luka pada bahasa yang asing. Membiarkan diri menikmati waktu senggang dengan padang ilalang yang liar, kau ada seseorang itu menuliskanmu, Kau seperti apa? Hanya pertanyaan yang sulit mendeskripsikan jawabannya.

Kau ada tapi tak benar-benar ada. Sudah lama tenggelam tapi tak mati, menyakitkan.

Benar-benar sakit! Bagai daun menolak jatuh namun akhirnya benar-benar jatuh, dipaksa dan ada dalam tekanan, tidak berdaya. Seperti film yang berulang. Memuakkan.

***

Rantauprapat, 10-11 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 09 Maret 2025

Seperti Film yang Terus Berulang

@kulturtava
***

Terjerat pada lingkaran yang sama.

Ah, siklus yang mengerikan. Seperti film yang terus berulang, tak ada yang menemani. Tidak pernah ingin, seperti pohon yang tidak riap tumbuhnya. 

Sudah beberapa dasawarsa bernafas, selama itu pula kepala selalu berisik lebih berisik daripada ranting-ranting pohon yang patah/hancur. Sadar memang tidak pernah untuk menerima kata sayang, tapi dengan sadar pula tidak pernah minta untuk ada. Hampir setiap hari yang dijalani hanya bahasa asing yang terdengar. Kenapa harus terus bersama, jika hanya untuk tenggelam.

Terlalu banyak predator yang berbahaya, bajingan yang brengsek, menimbulkan nyaris hujan pada banyak mata. Tidak pernah terbayang dan terpikir akan menjadi seperti ini. Sehat tapi sakit, sakit tapi sehat. Disabilitas yang bukan disabilitas. Ah, entahlah. 

Ini seperti sejarah yang berulang, seperti film yang terus berulang, rentetan kejadian dan kejadian terus berputar di dalam kepala. Sepertinya hidup ini terlalu banyak mengusili dan terlalu lucu hingga mengantarkan narasi yang entah.

Apakah pernah benar-benar ada?Sepertinya tidak demikian, karena ada yang pernah mengatakan, lebih baik mati dan minum racun itu.

Apakah malu mengakui ada? Karena sepertinya tidak pernah dianggap dan tidak pernah didengar, seperti seseorang tanpa kepala dan seperti memiliki suara tanpa nama. Ini lebih daripada sepertinya, ini yang dialami dan dirasakan.

Merasa sendirian. KesKesepian. Gelisah/ketakutan.

Pada suatu hari berharap, ada keajaiban yang terjadi. Ada rumah yang benar-benar memberikan tenang teduh.

Karena sadar bahwa hidup bukan milik sendiri, ada sang maha sempurna yang memiliki segala sesuatu atas hidup ini,  hanya terus berharap dan berdoa ada kesempatan untuk bisa merasakan nikmatnya hidup dengan sukacita tanpa embel-embel tanpa kamuflase.

Sudah.

Barangkali demikian.

Ketika merasakan film yang sedang berulang, bukan hanya film yang memberikan air mata dan rasa sakit tapi film yang memberikan sukacita dan memberikan alur happy ending. 

Karena bagaimanapun, harus sadar bahwasannya terbatas dan tidak bisa tanpa bantuan, ketika merasa menerima ketidakadilan, pandangan dan ucapan yang menyakitkan, harus bisa menguasai diri dan tidak memberi umpatan, untuk menjadi lebih baik. Harus berserah dan percaya pada masa depan yang akan sang pemilik hidup berikan.

Itu saja.

***

Rantauprapat, 09 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 03 Maret 2025

Perempuan Itu dan Narasi yang Entah

@kulturtava
...

Ada-ada saja keusilan yang terjadi, janji tinggal janji. Hidup tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Hari Senin minggu pertama bulan ketiga lagi-lagi terjadi narasi yang entah, entah menuju kepada apa.

Apa perempuan itu terlalu gamang dan buta, untuk menerka terhadap tipu muslihat yang terjadi. Sudah terlalu banyak ego dan kompromi. Tapi tetap saja tidak mau berbalik arah dari hal-hal yang salah.

Selalu saja ada tangis, entah itu tangis dalam diam, entah itu tangis dengan suara atau tangis yang tertahan. Bermimpi tentang surga, apakah pernah menjadi nyata atau hanya menjadi narasi yang entah.

Pernah berharap banyak hal yang baik namun bodohnya sangat sadar pula sangat-sangat pernah mengumpat hal-hal yang tidak baik. 

Namun sungguh masih berharap, pada hari yang entah kapan, benar-benar ada keajaiban tercipta narasi yang bukan hanya entah. Melainkan ada kepedulian yang menyatu, sungguh perempuan itu berharap demikian.

***

Rantauprapat, 03 Maret 2025 

Lusy Mariana Pasaribu

Minggu, 02 Maret 2025

Perempuan Itu Berada dalam Sejarah yang Berulang

@kulturtava
...

Perempuan itu berada dalam sejarah yang berulang


Sekalipun perempuan itu tidak pernah berpikir akan jadi seperti apa dirinya hingga hari ini tapi yang menjadi kenyataan perempuan itu terus berada dalam sejarah yang berulang, sejarah yang ia sendiri tidak pernah menabur. 


Pagi harinya pernah menjadi malam.

Malam harinya pernah menjadi kelam, yang untuk menyambut pagi ia takut.


Seringkali ia diam-diam menangis seringkali pula diam-diam mempertanyakan sesuatu yang tidak pernah menemukan jawabannya. 


Entah apa yang menyebabkan hari kedua di bulan ketiga tahun ini, Jari-jemarinya yang tidak lurus tidak bisa berfungsi dengan baik, tenaganya hilang ketika di pagi hari, perempuan itu berada dalam sejarah yang berulang, sejarah yang memberikan rasa sakit yang tidak nyaman. Mengganggu dunia dan semesta perempuan itu.


Perempuan itu teringat kembali akan apa yang terlintas dalam hati dan pikiran, apa benar ada bunga-bunga cinta yang tulus untuk dia? Apa benar ia pernah dianggap benar-benar ada, perempuan itu perlu menepi, benar-benar menepi. Tapi lagi-lagi ke mana perempuan itu harus berteduh?

Akankah ada tangan yang menerima umuran tangan perempuan itu dan memberi kenyamanan serta penerimaan?

***

Rantauprapat, 02 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu