Rabu, 29 April 2026

Pada Suatu Malam

Pixabay.com 
...

Pada suatu malam di hari kedua puluh sembilan bulan keempat, sendirian lebih tepatnya dibiarkan sendirian, barangkali ada rasa malu karena keadaan yang disabilitas, menjadi beban mungkin. Benar sakit, tapi itu adalah pilihan, tidak boleh menuntut untuk mendapat perhatian lebih. Seperti hidup dari kehilangan demi kehilangan yang sengaja dibiarkan terjadi.

Mungkin lebih baik hanya menjadi penjaga di rumah walau itu bukan kewajiban tapi bukankah itu lebih baik, setidaknya masih tetap hidup, jangan bertanya dan jangan mengusik. Ini adalah duka di lingkaran dalam. Iya, ini adalah proses untuk terus menjadi manusia dari manusia-manusia yang berisik lagi merasa wow.

Ini seperti kemarau di musim penghujan. Dan untuk menjadi manusia untuk berserah pada kalah, benar-benar membutuhkan energi lebih. Karena masih saja ada perih yang berhati iblis. Yang katanya berharga sekalipun ternyata tidak sebegitunya. Ini adalah elegi dibalik akhir April. Tidak ada damai sejahtera, tidak pernah bisa berhenti di halaman yang sama.

Pada suatu malam, kisah dari rumah-rumah tanpa jendela kembali terjadi, manusia-manusia yang berisik itu membiarkan sayap-sayap itu patah. Menjadi pencuri kebahagiaan yang hebat, dan untuk menjadi Merdeka terhadap manusia-manusia seperti itu ternyata sulit walau sudah berusaha, pada suatu malam di akhir bulan keempat, adalah kisah sedih dan kesepian.

Selepas malam ini dan habis hari ini, pasti ini akan terjadi lagi, entah besok lusa atau ke depannya, dan terus berusaha lagi berdamai karena kehidupan ini punya pilihannya sendiri-sendiri. Bertemanlah dengan diksi dan bercinta lah dengan aksara, rayakanlah patah hati dengan huruf-huruf yang menari di kepala dan hati. 

Boom, ketika hanya dianggap debu, biarkanlah! Ketika dianggap tidak pernah ada dan dilibatkan, biarlah. Ketika yang disebut rumah tidak menjadi rumah, tidaklah apa-apa. Ini adalah usai yang tidak pernah selesai, berharap pada suatu malam yang lain, rasa sepi dan sunyi ini akan menjadi tempat untuk pulang dan memiliki percakapan yang berenergi.

Dan bukan hanya mengenggam tunggu untuk menuntut perhatian tapi benar-benar mendapat tempat pulangyangnyaman, berharap itu akan terjadi pada suatu malam yang lain.

***

Rantauprapat, 29 April 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Selasa, 28 April 2026

Perempuan yang Tidak Berserah pada Kalah

Pexels.com
...

Banyak konflik dan membuat badai tak terkendali, menyeret untuk kalah. Kekecewaan yang besar seperti sengatan listrik yang merambat ke seluruh tubuh. Kepala perempuan itu terasa mendidih. Seakan-akan bisu, Karena untuk mengeluarkan suara pun tidak mampu lagi karena ketika bersuara pun tidak pernah didengar.

Sudah terlalu banyak prosa demi prosa yang tertulis sebagai pelipur penat. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya untuk berdiri saja tidak mampu, rekam jejak masa lalu adalah kebodohan yang masih bertahan di dalam pikiran. Sudah sangat lama ingin kalah dan berserah pada kalah, dunia seolah tidak pernah menginginkan ada. Namun, jika tidak ada pun yang menginginkan ada akan tetap hidup, sampai masa hidup benar-benar selesai, Lantas kenapa menyusahkan diri sendiri.

Kata-kata dan juga umpatan-umpatan yang ada adalah drama yang takkan pernah usai. Tidak pernah mau sama sekali berada di posisi ini, ada di kerumunan hujan. Perempuan itu selalu disulitkan dengan percakapan-percakapan sial. Perempuan itu hanya mencumbui pagi dan malam dengan sepi dan sunyi. Berusaha terdamai dengan diri sendiri tapi sangat-sangat sulit. 

Perempuan itu pernah membiarkan diri tergelincir pada dosa yang merayu, menggaduhi isi kepala dengan hal-hal yang berisik, berisi kata-kata celaka dan membumihanguskan, kemudian ia sadar itu adalah sesuatu yang tidak benar.

Dan kini, helaian kenangan yang merupakan masa lalu akan menjadi bab demi bab dalam perjalanan hidup. Perempuan itu tidak harus menjadi gagu dalam mengisi wilayah hati dan pikiran apalagi berserah pada kalah. Karena hidup tidak selalu tentang luka. Perempuan itu harusnya menyudahi keliaran-keliaran yang bertandang mengganggu hatinya, keliaran yang memberikan dampak buruk dan mengakibatkan ingin berserah pada kalah. 

Ia mau menjadi perempuan yang tidak berserah pada kalah, walau sulit bukan berarti tidak bisa untuk dilakukan. Seperti puisi, terkadang kehilangan percakapan dan diurai menjadi kata-kata indah, terkadang kembali ditemukan syair-syair cinta yang indah. Ini adalah harapan demi harapan yang diterbitkan dan disemogakan oleh perempuan itu, perempuan yang tidak berserah pada kalah. Karena hidup punya kekejamannya sendiri dan bagaimana cara menjalani hidup dengan berbagai seni yang boleh untuk dipilih. Karena tidak ada sehasta apapun yang bertambah jika membiarkan diri terusik padahal hal-hal yang tidak berguna dalam hidup. Membuang air mata pada yang tidak penting tapi terkadang  begitulah hidup membiarkan diri jatuh, tapi jangan bersalah pada kalah.

***

Rantauprapat, 23 April 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 26 April 2026

Tidak Pernah ada Kata Patah bagi Kita

Kulturtava
...

Ternyata sakit, mendapati orang yang harusnya mengerti bersikap dan berterima kasih tapi melakukan hal yang sebaliknya, apakah tidak merasa kehidupan ini terbatas dan masa waktunya juga ada batas? Benar, kita semua adalah bom waktu. Dan malam ini menjadi sejarah dari cerita hidup tentang seseorang, apakah sudah kehilangan jiwa dan juga kesadaran?

Belum lama seseorang itu kembali, dikira-kira cinta ini akan kembali tumbuh dengan benar tapi nyatanya cinta itu karam, apakah hanya karena uang dan uang dan uang. Begitu takutnya kah, Bukankah seharusnya yang diusahakan adalah mengusahakan segala daya untuk melihat senyuman dari mereka yang masih bisa kita lihat.

Kenapa harus menjadi rumput liar yang tidak akan berguna dan berakhir dengan pembuangan, kenapa harus menjadi kisah-kisah rumah tanpa jendela, bukankah sebaiknya, tidak pernah ada kata patah bagi kita selagi masih ada kesempatan. Untuk apa menyerahkan diri pada keliaran demi keliaran yang menjatuhkan, kita mungkin merasa sakit tapi ada yang jauh lebih sakit dan kita abaikan.

Air mata mengalir begitu saja, melihat dan merasakan segala luka yang pernah kita buat terhadap mereka. Mereka yang tidak pernah patah terhadap kita, sudah menjadi kewajiban dan keharusan bagi kita juga untuk tidak pernah ada kata patah bagi mereka. Hari-hari ini adalah jahat dan apakah kita akan kembali berbuat jahat pada mereka, jawabannya sering sekali berbuat jahat ketika awareness tidak lagi dimiliki,  dan itu adalah kebodohan yang seharusnya tidak boleh lagi diulangi.

***

26 April 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 22 April 2026

Pelipur Penat adalah Berdamai

Kulturtava
...

Ingin berteriak, lari dari keadaan ini, muak. Tak ada yang bermakna. Takut bicara, sungguhlah menjijikkan, keotoriteran perempuan disamarkan dengan kata-kata yang implusif seolah-olah menjadi korban.

Bertahan walaupun sulit dan terpaksa. Kesabaran yang seperti apa lagi, kini kaki dan tangan sudah tidak boleh diungsikan dengan fungsinya, asu!

Jejak yang tersisa malam ini adalah tangis, rasa kerdil hati, andai kaki ini masih bisa berjalan, barangkali sudah lama merasakan tenang teduh dan kesejahteraan, andai saja. Mau berapa lama lagi, harus selalu mengatakan *ia* dan mengerti, tanpa boleh bersuara.

Sungguh penst dan gelisah. Namun, tidak boleh menyerah bukan. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, aduh. Seseorang yang harusnya memahami tapi tidak memahami, runtuh, sendirian. Kepada siapa harus mengadu juga bercerita? Tidak ada. Dan jalan yang harus diterima malam ini adalah berdamai dengan diri sendiri dan keadaan walau rasa ini masih sakit.

Ya, pelipur penat adalah berdamai. Sesungguhnya masih tidak baik-baik saja tapi tetap harus berdamai dengan diri sendiri. Nihil, hari kedua puluh dua bulan keempat adalah romansa hidup yang buruk, berdamai semoga benar-benar bisa berdamai malam ini. Karena untuk berekspresi dengan air mata saja ada ketakutan yang berisik di dalam hati dan pikiran, sesak sekali.

***

Rantauprapat, 22 April 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 15 April 2026

Peri Berhati Iblis

Foto pribadi 
...

Seperti peri tapi bermulut iblis, sial. Apakah harus selalu tentang duit, duit dan duit? Predator berbahaya. Manusia-manusia yang egois. Mengapa lebih nyaman dengan dunia maya daripada dunia nyata? Tidak membersamai dengan layak.

Runtuhnya rumah, runtuhnya kenyamanan.

Kenapa harus menjadi peri berhati iblis? Rusak sudah yang harusnya menjadi tempat pulang, kini hati telah terasa sempit. Sepertinya ke otoriter tak pernah mati. Dan kesepian yang ditiduri menjadi teman, merasakan luka seorang diri, seperti bunga liar yang menyimpan rasa luka dan hanya diam tak ada yang tahu. Menjadi seorang perempuan yang merana, apakah ada yang perduli? Tidak ada satupun sepertinya.

Kebanyakan hanya menjadi peri berhati iblis. Asu!

Takkan ada rindu, tak akan ada cinta. Hanya ada keekuan rumah, terasa hidup jika ada uang, uang dan uang. Hidup seperti apa yang dijalani ini? Hidup yang penuh kesialan, bangsat. Hidup tapi tak terasa hidup. Barangkali sampai mati dan mau menjemput takkan pernah memiliki narasumber dan sejarah hidup yang benar. Meminta mati pun itu bukan hak, tapi menjalani hidup yang seperti ini pun, apakah itu hak apa malah kewajiban?

Siapa yang harus dipertanyakan dan memberikan jawaban. Hidup ini terlalu mengerikan. Hidup hanya untuk memenuhi tanggung jawab yang bukan tanggung jawab pribadi. Tidak punya tanggung jawab sebenarnya tapi harus memenuhi tanggung jawab yang besar, padahal disabilitas ini sungguh memuakkan dan memalukan. Hingga memilih menutup diri dan sendirian.

Kenapa harus ada peri berhati iblis? Harusnya berhenti sedari awal dan tidak mengorbankan banyak manusia-manusia bodoh dan menjadi bodoh kemudian. Kepada siapa ini harus diceritakan. Enyahlah brengsek,  pikiran dan hati terlalu berisik.

***

Rantauprapat, 15 April 2026

Lusy Mariana Pasaribu