Rabu, 30 September 2020

Ada Kesadaran yang Bertamu di Kepalaku!

@kulturtava
...
Tanpa ragu, siang di penghujung bulan September 2020 pada pukul 12: 39 WIB, akhirnya aku berani mempertanyakan pertanyaan yang lama ada di kepalaku. Aku pun mendapati jawaban dari pertanyaanku. Sungguh aku tidak menduga, atas perlakuan itu. 

Rasa abai dan ketidakadilan, betah bermukim di pintu kesadaran mereka. Di ketidaktahuanku, mereka membiarkanku berdiri dengan harap. Padahal, mereka diam dan meninggalkanku. 

Andai mereka bersikap adil. 

Kini, aku seperti kupu-kupu yang kehilangan sayap. Resah dan terbakar kekecewaan. Setidaknya hari aku paham atas pertanyaan yang lama kupendam. 

Kini, ada kesadaran yang bertamu di kepalaku. Aku tidak boleh membiarkan diriku putus asa. Terus-menerus mempersalahkan mereka. Dan amarah akan menyelinap di hatiku.

Aku memilih mengubah keadaan perasaanku. Menerima peristiwa atas jawaban yang kuterima. Walau sulit, aku akan memeluknya dengan kerelaan yang berujung pada keikhlasan. Tak ingin kehilangan harapan.

Kesadaran yang bertamu di kepalaku masih memberikanku sebuah harapan. Harapan adalah saksiku untuk berjuang dalam hidup. Helai-helai kekalahan, takakan buatku ketakutan.

***
Rantauprapat, 30 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 29 September 2020

Risalah Perempuan yang Terbebas dari Kisah Asmaranya

@kulturtava
...
Pagi di bulan kesembilan pada tanggal tiga puluh di tahun dua ribu dua puluh, tepat pukul delapan lebih dua puluh menit. Perempuan itu melepas seluruh impiannya terhadap seorang pria yang mengaku menginginkannya menjadi isteri.

Pria itu mencuri kepercayaan dari janji kisah asmara mereka. Ternyata perasaan yang terbit dari pria itu hanya setengah hati. Kisah mereka, sudah memberi risalah yang berbeda untuk perempuan itu.

Perempuan itu membaca sikap pria yang pernah menjadi kekasih hatinya. Ada perubahan besar yang terjadi. Kesejukan di dalam relasi mereka. sudah dipenuhi kekeringan. Sepertinya, sejak awal tidak ada cinta yang nyata dari pria itu.

Pagi ini, langkah kaki perempuan itu goyah. Duduk di tangga kekecewaan dan matanya mengeluarkan air mata. Hari ini, tatapan perempuan itu kosong. Sekarang, perempuan itu tidak lagi merangkul dan memeluk harapan terhadap pria yang mengaku mencintainya.

Perempuan itu memutuskan untuk tidak merenungi kegagalan kisah asmaranya. Karena waktu terus berjalan tanpa memahami dan mendengarkan risalah perempuan yang terbebas dari kisah asmaranya itu. Perempuan itu paham, tidak setiap hal yang ada di hidupnya akan berakhir pada titik bahagia.

Perempuan itu berdoa untuk dirinya sendiri agar kembali mendapati kisah cinta yang sesungguhnya selepas hari ini.

***
Rantauprapat, 30 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Teruntuk yang Maha Sempurna

Painting by Arthur Briginsky
...
Di kehidupan yang sudah dilewati perempuan itu, dia sering tiba pada malam yang penuh kemalangan. Kedamaian pun tak tercipta di semesta yang perempuan itu miliki. Dia berjalan sendu. Duka menusuk relungnya. 

Lama perempuan itu bermain hujan. Berselimut kekalahan. Pura-pura tak melihat dan menutup mata. Dia terluka dan mengubur desahannya agar tidak ada yang tahu. Tidak ada yang melihat di sekitarnya. Kecuali Tuhan yang maha sempurna.

Lautan malam pernah jadi saat ternyaman untuk perempuan itu memanen kegilaan terhadap hal-hal bodoh. Mencicipi rasa sakit yang tidak seharusnya perempuan itu cicipi. Tidak memperdulikan suara hati yang jelas dia dengar. 

Pada akhirnya, perempuan itu terbangun dari lelap yang buatnya terkapar luka dan rasa malu. 
Dia muak dan amat sangat lelah, menyimpan dan melakukan kepalsuan. Dia ingin dilepaskan dari jerat yang membuat dirinya terikat. 

Di kesadarannya, di sisa usia yang masih dipercakan Tuhan, perempuan itu tidak mau selalu memancing buaian nikmat yang sebenarnya cacat. Dan akan menjadi penghuni kamar hampa. Membakar diri pada bencana yang penuh kesia-siaan.

Teruntuk yang maha sempurna, perempuan itu bersimpuh dan memohon untuk diberikan kesempatan mendapatkan jalan pulang. Atas segala kisah rumit perempuan itu, perempuan yang sudah melangkah terlalu jauh dari kesukaan-Mu. Dia sungguh berharap bisa berbalik ke rumah yang benar. Kembali menari bersama huruf-huruf kesadaran di singgasana hidupnya. Yang kesukaannya ialah kesukaan Tuhan yang maha sempurna. 

Perempuan yang tidak lagi memiliki hati lemah pada hasrat yang menggoda. Tidak lagi melantur dari kebaikan-Mu. 

***
Rantauprapat, 29 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Terhadap Malam dan Kisah-kisah yang Kaku

@kulturtava
...
Seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah perempuan itu terjerat pada malam yang malang Perempuan itu menyerahkan hasratnya ke dalam api yang membakar. Sebenarnya ini kisah kelu yang menggelisahkan perempuan itu. 

Terhadap malam dan kisah-kisah yang kaku, dan telah perempuan itu alami. Dia sendiri menjadi pucat dan hanya menyimpan hal itu dalam ingatan. Manaburi duri sehingga resah dan kesakitan.

Perempuan itu melukis wajah malamnya dengan senyuman palsu. Tumpahan air dan rantai kering, dia titipkan pada kisah-kisah gelap yang dia sudah lakukan. Mengangap malam sebagai gelap yang tersembunyi, sehingga dia menyembunyikan banyak rahasia di semesta malamnya. 

Padahal di perjalanan waktu perempuan itu, dia sudah layu dan meredup. Perempuan itu membiarkan, perlakuan jahat dan luka menguasai dirinya. Dia rela membukakan pintu bagi siapa yang mengetuk rumahnya, walau sebenarnya dia tahu, ada wajah lusuh yang tidak boleh masuk ke rumahnya.

Perempuan itu kehausan kasih, dia memilih bermain hujan dan petir. Dia rapuh dan pergi ke arah yang salah. Keliru memang. Dia terbuai pada rayuan goda yang berayun-ayun di hatinya. Mata dan daun-daun telinganya basah, merelakan diri sendiri ditindih gerigi-gerigi hasrat yang kosong.

Berbagai kesedihan perempuan itu alami saat malamnya dibiarkan meredup tanpa makna. Ah, biarlah. Itu kata perempuan itu. Perempuan itu sudah lelah dan menyerah. 

***
Rantauprapat, 29 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 28 September 2020

Rasa yang Masih saja Kembali

www.etsy.com
...
Pernah, rasaku dan rasamu memberikan sebuah harapan yang indah tentang kita. Ya, rasa itu pun telah berlalu. Kau pergi ke selatan, aku ke utara. Lalu, rasaku dan rasamu tak lagi bersinar pada arah yang sama

Pada perjalanan yang terus kita lintasi, atas ijin Tuhan kita kembali bertemu dan ternyata kita menyadari bahwa aku dan kau masih tenggelam dalam peraduan yang dahulu. Kita adalah orang yang sama, yang tak bisa mengabaikan rasa yang masih saja kembali

Rasa yang pernah memberikan harapan indah tentang kita, ternyata masih berkuasa atas hatiku dan hatimu. Kita mungkin pernah kehilangan harapan akan cinta
Hingga, kita terbebas dari keterhilangan. Dan rasa cinta itu kembali kita temukan

Sunnguh mengejutkan memang, tapi kini kita memilih untuk bersimpuh di bawah harapan yang sama.  Harapan untuk saling terkoneksi dalam cinta kita, dengan saling melempar pengertian dan kepercayaan

Semoga!

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Di Balik Amarah yang Kesepian

@kulturtava
...
Sepi di tubuh waktunya. Baik itu di kaki pagi atau di kepala malam yang dia miliki. Di kesepiannya, dia terkadang tidak bisa mengendalikan diri dan perasaan. Pernah dia terjebak pada rasa yang membuai dirinya. 

Dia dan matanya tak lagi bening. Tiang semestanya rapuh. Kembali bermain hujan dan menegak ratapan atas nama cinta. Berlaksa patron yang salah membungkus hatinya. Entah sampai kapan dia membiarkan kakinya melangkah, menembus malam dengan keliaran dan bergelimang lumpur yang sesat. 

Semua hanya alasan. Dia sudah tertekan dalam keadaan sepi. Di balik amarah yang kesepian, dia membiarkan dirinya terjebak dalam hasrat berahi. Gelegar nafasnya seperti cerita kotor. Dia tidak mencukupi diri dengan kebenaran. Mengguyur diri dengan suasana luka. 

Sumatera, September 2020 dia lagi-lagi jatuh dalam api tangis yang dahsyat. Kebebasan dan kemerdekaan yang dia peroleh, dia isi dengan baris iklan yang unfaedah. Membiarkan matanya buta dan telinganya tuli, demi merangkak dan bisa tertawa saat mencium hasrat yang berbahaya.

Walau dirinya tahu, akan ada debu yang melekat dalam dirinya. Terkadang tanpa kaku, dia menikmati variabel yang menggoda hatinya. Air hujan yang dia akrabi, jadi saksi bisu atas debu yang melekat dalam dirinya.

Ketika nalar menghampiri, dia sebenarnya murka pada dirinya sendiri. Terus dan terus dia mempersalahkan diri. Bertanya, ke mana dirinya yang pernah terdampar di buritan akal sehat yang benar.

Dia berharap bisa menemukan dan menggapai pelita cahaya pada hatinya yang seringkali bermuram durja. Ingin menjadi seseorang yang tidak lagi menabur dan memanen sorat kegelapan di dalam usia yang masih dia punya.

Mungkin dia ditakdirkan tidak bahagia.
Mungkin juga tidak, jika dia mau berbalik arah dari virus yang telah membuat dia terikat. Itu pun jika dia masih memiliki kesempatan untuk berbalik.

***
Rantauprapat, 28 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 27 September 2020

Pria Timur yang Suka Berkencan dengan Buku

@kulturtava
...
Tidak pernah terpikir sebelumnya olehku, aku akan bercengkrama dengan seorang pria yang berasal dari Timur. Karena aku perempuan Sumatera yang belum pernah keluar dari Sumatera.

Aksaralah yang mempertemukan kami, tapi aku tidak lagi ingat tanggal dan bulan berapa tepatnya.

Pria itu adalah pria dewasa yang terkadang membuat baper karena suka mengusili aku. Pria itu berkisah, dia bisa menghabiskan waktu 24 jamnya, dari pagi menjelang siang, siang menjelang sore, sore menjelang malam, hingga malam menjelang pagi untuk membaca buku. 

Sejujurnya aku kurang menyukai kebiasaan pria itu, aku juga pernah mengatakan bahwa itu kebiasaan yang buruk dan tidak harus dipertahankan. Entah pria itu akan memahami atau tidak menggubris perkataanku sama sekali. Entahlah!

Sepertinya. Buku-buku yang ada di sekitar pria itu, seakan bicara dan merayu. Rebut dan raihlah aku. Seketika pria itu tanpa kompromi, akan berkencan dengan buku-buku itu. Di sentral halaman buku yang sedang pria itu baca, pria itu yakin akan menemukan banyak rahasia penting dan dia akan bergulat pada kemalasan yang sesekali menggoda demi mendapatkan makna yang diinginkan hatinya.

Aku pun meyakini, pria itu semakin memiliki pesona dengan buku di hidupnya. Sungguh. Dalam jiwaku, aku bersyukur bisa mengenal pria itu. Pria Timur yang suka berkencan dengan buku. Pria dewasa yang cerdas dan bebas mengalami kemerdekaan melalui buku yang dia inginkan.

Walau aku tidak akan pernah menjadi abjad yang ada di dalam buku pria itu. 
Setidaknya, dari percakapanku dengan pria Timur itu, aku sudah mendapatkan banyak ide berpuisi. Bukan hanya mendapatkan ide, aku juga sudah menuliskan puisi tentangnya. Puisi yang akan menjadi kenangan di perjalanan waktuku.


***
Rantauprapat, 27 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 26 September 2020

Pohon Kebaikan

Megan Wetzel
...
Ketika bersedih, hingga hujan airmata  terjatuh. Menyeret diri pada kemarahan. Kebaikanlah yang menyelamatkan hati dari rasa marah.

Saat dahan-dahan hati kehilangan kepercayaan, dan menyisahkan warna ragu yang akan menghitam. Tuhan datang pun memberi pohon kebaikan pada hati. Hingga hati akan menemukan kembali pencerahan dan kesadaran.

Saat hati bebas berkeliaran tanpa arah, terjatuh dalam daya pemikat yang keliru. Maka kebaikan akan menjadi rumah untuk kembali pulang. Kebaikan adalah hal yang dibutuhkan hati sebagai udara segar untuk menjadi lebih baik.

Sepertinya, kebaikan memang memiliki warna indah yang bersinar. Kepada pohon kebaikan, hati ingin ditenggelamkan di dalammu.  Karena kebaikan akan terukir indah dalam hati.

Dan seharusnya, pohon kebaikan terus dirawat dan dipelihara dalam hati. Agar pohon kebaikan itu tidak mengering, mati dan terbunuh.

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Aku Seorang Perempuan dan Kamu Pria yang Telah Mengabaikanku

@kulturtava
...
Belakangan ini, kita tidak saling bertukar cerita. Diam dan saling acuh tak acuh.

Pagi ini, aku memberanikan diri untuk melakukan percakapan denganmu. Menghubungimu lebih dulu.

Aku seorang perempuan yang kutahu, aku ini kekasihmu. Aku rindu, tapi sepertinya kamu melupakan aku. Hingga malam ini, aku menahan diri untuk mengerti batasan. Tidak menuntun dan menyudutkan kamu.

Aku bersitegang dengan nalar dan perasaanku. Rindu yang kurasa padamu, menjadi badai dan rumah paling sakit sepanjang hari ini. Kamu pria yang telah mengabaikanku, menjadi pria penganut sepi. Rinduku tidak bersambut di hatimu.

Entah kenapa, kamu tidak melemparkan respon atas perlakuan dan ucapanku. Kamu membiarkan diriku gelisah dengan sikap diammu. 

Di mana wujud kasih sayang dari rasa sayang yang pernah kamu ucapkan?. Bolehkah kamu kembali menjadi pria yang menerima keberdaanku dengan seutuhnya.

Aku seorang perempuan yang tidak ingin disandera kesepian apa lagi keraguan, bahkan menyimpan banyak tanya di kepalaku atas sikapmu yang abai. 

***
Rantauprapat, 26 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 25 September 2020

Perpisahan Itu Tetap Menyakitkan

@kulturtava
...
Aku melepaskan diri dari zona hatimu, walau sebenarnya perasaan cinta masih ada untukmu. Aku memilih berhenti dan tidak bersamamu lagi

Dengan hati-hati aku memberanikan diri untuk mengambil keputusan itu. Aku tahu keputusanku itu, akan  membuat kita berjarak dan menjadi tak biasa

Rasa cinta yang kurasa, belum mampu membuatku yakin atas ajakan menikah darimu. Pada dirimu, aku belum bisa menemukan kesungguhan untuk bersama membina rumah tangga

Meski aku yang memilih untuk berpisah, namun perpisahan itu tetap menyakitkan perasaanku. Dan aku tahu, bahwa aku sudah bukan lagi menjadi gula untuk kopi yang biasa kau nikmati 

Biarlah aku menjalani apa yang menjadi pilihanku, sementara kau menjalani rencana pernikahanmu dengan orang lain. Berbahagialah untuk pernikahanmu

Maka sebenarnya, kita memang tidak akan pernah berakhir pada kata kita. Kebersamaan kita pun akan sirna dan menghilang

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Suatu Sore di Bulan September Aku Tersadar

@kulturtava
...
Suatu sore, yang aku sendiri tidak ingat jam menunjukkan pukul berapa saat itu. Tapi aku ingat, itu di bulan September yang akan berakhir, September di hari yang kedua puluh lima. Aku dipeluk kesadaran. Kalau aku bukan buku yang ingin dia baca, aku bukan cerita yang dia inginkan menjadi ceritanya.

Aku tidak akan bisa menunda keberangkatannya pada apa yang dia ingin tuju. Dan aku sadar, duniaku tidak akan berakhir hanya karena dia akan menjadi asing padaku. Aku harus menerima kalau dia harus beranjak pergi dariku. 

Aku tidak bisa mundur ke fase waktu yang lalu. Walau saat itu aku terluka dan rapuh, aku kehilangan dia. Bukankah, setelah berhenti dari dia. Akan ada dia-dia yang lain. Dan mungkin akan bertemu di persimpangan yang entah di mana. Aku berpikir begitu. 

Aku tak mau menelusuri kronologi kehampaan, hanya karena mengalami ratapan yang tidak seharusnya kuratapi. Menangis dan membuat air mataku terkuras pada dia yang tidak memiliki kepemilikan atas hidup dan pilihan hatiku.

Suatu sore, saat aku tersadar. Aku kembali mengingat setiap percakapan demi percakapan yang pernah terjadi, dan sekarang ini sadar bahwa itu adalah percakapan yang tidak bertuan.

Kenapa harus terluka?, jika masih bisa sadar untuk tidak terluka.

Aku tak mau diseret-seret penyesalan dan terlempar jauh ke tumpukan kebodohan hati, jika tidak membiarkan dia pergi.  Yang terpenting, aku harus mempertahankan tempat berteduh yang bernama "PENERIMAAN" pada nalar dan hatiku. Hingga kebahagiaan tidak bersembunyi dari hidupku.

***
Rantauprapat, 25 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 24 September 2020

Ternyata, Kamu Memang Bukan Jawaban Doaku!

@kulturtava
...
Malam ini aku menangis, menyadari dengan sungguh, bahwa ternyata kamu memang bukan jawaban doaku.

Sebelum ini, kita saling bertengkar dan menjadi asing, aku pernah berpikir kalau kamu mungkin bukan jawaban doaku. Saat itu, aku masih menguji doaku. Berharap masih ada celah untuk kita tetap bersama. 

Namun malam ini, tidak ada lagi celah dan kemungkinan itu. Aku hanya bisa menangis, pipiku dijatuhi air mata, dan menyekanya seorang diri. Sesekali isakanku terhenti dan mereda, saat itu tanganku yang kehilangan kekuatan untuk menulis berusaha menuliskan rasa ke dalam puisi yang sedang kutulis ini.

Cinta yang kubiarkan tumbuh subur di hatiku, apakah tidak lagi mencintai aku?. Itu berkali-kali kutanyakan, pada diriku sendiri. Tadinya aku berharap, menemukan cinta yang sungguh di pelita hatimu. Tapi hari ini, aku merasakan duka kedua kalinya tentang perpisahan cinta. Pernah bulan Maret di tahun 2015 menjadi bulan yang menghitam untuk perasaannku. Kini bukan hanya Maret, tapi juga September 2020 menjadi bulan yang menghitam dan jadi saksi perayaan perpisahan cintaku. 

Malam ini adalah malam yang menawarkan kesedihan di dalam lembar ingatanku. Tak ada yang menyenangkan malam ini, perpisahan ini melukai hatiku. Tentang cinta, doa, dan harapanku terhadapmu, ternyata jawabannya adalah TIDAK. Sulit untuk menerima, tapi mau tidak mau, aku harus menerima itu. 

Ternyata, kamu memang bukan jawaban doaku.

Setelah malam ini, semua tentangmu pasti berubah. Dan aku harus membiasakan diri untuk itu. Aku tidak akan membiarkan perihalmu, memutari isi hati dan kepalaku. Yang kulakukan adalah, secepatnya membuat ranting hatiku beranjak dari harapan yang pernah kudoakan terhadap dirimu. Cinta yang pernah kupilih.



***
Rantauprapat, 24 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Tentang Seorang Pria yang Memanggil Perempuan Itu dengan Kata Sayang

@kulturtava
...
Perempuan itu saat ini sedang terjebak dalam fase kesendirian. Dan di bulan September ini perempuan itu berkenalan dengan seorang pria. Pria timur yang kegilaan membaca buku.

Perempuan dan pria itu sama-sama kategori orang dewasa. Saat ada kesempatan dan waktu, mereka akan berbagi cerita. Bertanya satu sama lain tentang kehidupan yang mereka lalui. 

Di antara obrolan mereka, pria itu pernah membuat perempuan itu terbawa suasana. Pria itu memanggil perempuan itu dengan kata sayang. Beberapa saat perempuan itu membiarkan perasaannya liar akan kata itu, namun dirinya sadar untuk tidak membuat kesalahan besar, dengan merawat rasa liar itu tumbuh di hati.

Dan saat mereka tidak bisa berbagi cerita, perempuan itu harus sadar bahwa mereka bukan siapa-siapa. Dan tidak ada perkara kepemilikan di antara mereka. Perempuan itu pun tidak ingin memperdebatkan tentang kebaperan dan akal sehatnya. Karena akal sehatnyalah yang harus dipertahankan.

Perempuan itu tidak ingin terluka pada apa yang pria itu lakukan, pria yang mencoba ngebaperin dirinya. Sore saat itu, saat pria itu datang dan dipersilakan masuk di perkarangan hatinya yang sepi, itu adalah saat-saat yang akan menjadi kenangan untuk perempuan itu. Dan akan dijadikan aksara puisi, karena perempuan itu adalah perempuan yang menyukai puisi. Setidaknya bercengkerama dengan pria yang kegilaan membaca buku itu, tidak membuat September perempuan itu selalu menghitam.

***
Rantauprapat, 24 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 23 September 2020

Risalah Seorang Perempuan yang Dicekam Ketakutan

@kulturtava
...
Ini sebuah risalah tentang seorang perempuan yang dicekam ketakutan,  juga merupakan perempuan yang menyukai puisi. Terkadang ia kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri. Tidak bisa membaca dan mengenali penerimaan untuk semestanya sendiri.

Bahkan untuk menyatakan perasaannya, ia tidak tahu bagaimana memilih kata-kata yang tepat agar ia tidak membuat gejolak di relasi yang dirinya punya. Hingga dirinya sendiri bisa disandera kesunyian.

Perempuan yang dicekam ketakutan itu, mencoba ikhlas atas realita hidup yang ia terima. Risalah seorang perempuan, perempuan yang seringkali dicekam ketakutan akan kesendirian. 

Bukankah, kesendirian tak selalu menciptakan luka. Kesendirian pun bukan babak akhir dari perpustakaan hidup yang dijalani.

Aku mau bilang pada perempuan itu, cobalah ikhlas dengan seutuh dan sepenuhnya menjadi kekasih dari penerimaan. Tutup layar dari perasaan yang tidak seharusnya kau miliki. 

Membatulah, pada suara-suara yang mengusik rasamu. Jangan mendengar dan menyimpan sesuatu di muatan hatimu, jika itu hanya akan melukai hatimu.

Bukankah hidup terlalu berharga jika hanya disia-siakan untuk meratapi hidup dan mempersalahkan keadaan.

***
Rantauprapat, 23 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 22 September 2020

Di Selasar Sepi, Kau Rayu Isak Tangisku

@kulturtava
...Sudah cukup hidup dalam kepura-puraan itu katamu. Saat bersamamu, aku bisa menunjukkan kebenaran padamu. Bukan karena keinginan, air mataku tumpah. Aku menerima kasih sayang yang palsu dari seseorang, seseorang yang membuat wajahku basah. Seseorang yang mengatakan aku adalah tondi-tondinya. 

Sejak ketidakadilan sering mengakrabi hidupku. Aku sering dipandang sebelah mata oleh seseorang itu. Terkadang timbul niat jahat di langit nalarku, aku ingin melupakan dan meninggalkan seseorang itu. Nyatanya, aku seringkali bersitegang dengan hatiku untuk melakukan pilihan itu.

Dalam kepatahan hati yang kurasa, aku memutuskan untuk berbagi rahasia padamu. Rahasia dari rasa yang kualami karena seseorang itu. Kau seorang pria yang bersedia menyalakan malam untuk ceritaku. Pria yang kukenal sejak Desember 2012. Kau terdiam sebentar mendengar isak tangisku. 

Kau mencari susunan kata-kata yang tepat untuk memberi jawaban padaku. Kau rayu isak tangisku, menenangkan perasaanku. Agar aku tidak menjadi perempuan yang disandera tangisan.

Di selasar sepi yang kurasa.
Aku tahu, aku dapat merasakan getaran kepedulian darimu. Tatap yang kau berikan tak memiliki tatap yang hampa.

Sungguh, kau pria yang istimewa. Ah, terkadang pikiranku liar, aku ingin memilikimu. Lalu aku melihat dan tersadar, sekarang ini kau pria yang sudah memiliki cinta di hatimu. Jika sudah bicara cinta, aku tak akan membiarkan perasaanku tumbuh subur untuk menjadi pembunuh pada cinta yang sudah kau punya. 

Aku tahu sakitnya dilukai. Aku tak ingin, pria yang sudah merayu isak tangisku, dilukai oleh perasaanku yang liar.

*tondi-tondi = kesayangan

***
Rantauprapat, 22 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kubiarkan Hasrat yang Salah Bertamu di Hatiku

@kulturtava
...
Aku terdiam, tertawa, dan menangis. Aku pernah melakukan itu karena seseorang. Aku tak mampu mencegah dia membuat aku terperangkap pada rasa yang seharusnya tidak boleh kumiliki.

Tersesat di taman hati, kenapa aku membiarkan dia menggodaku. Berkali-kali aku menipu perasaanku, terbuai pada ucapan "aku mencintaimu".

Aku sadar bahwa aku sudah tertipu. Aku malah asik dengan tipuan itu. Kubiarkan hasrat yang salah bertamu di hatiku.

Hingga malam tadi, saat aku menerima penolakanmu. Sikapmu yang apatis, menyadarkan lamunanku tentang kisah yang ada dalam imajinasiku. 

Kemungkinan, dia hanya sengaja menebar auranya. Kejahilan belaka. Aku yang tidak bisa menahan diri, mengapa membuat jiwaku tertambat pada pesona yang dia miliki. 

Mungkin dia, tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Karena dia tak pernah menggangap keberadaanku nyata. Dia katakan, untuk tidak lagi menghubungi apa lagi mencari dia. Ada sesal dan ratapan pada hatiku untuk dia. 

Malam ini, kisah tak akan pernah sama lagi. Aku mengatakan itu untuk diriku sendiri. Aku mau benar-benar melupa dan melepas kisah itu. Kisah dengan dia.

***
Rantauprapat, 22 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Seorang Perempuan, Hujan Air Mata, dan Penerimaan

tumblr.com
...
Saat aku tertidur, kau malah berangkat di malam hari untuk menyelesaikan tanggung jawabmu.

Dengan tubuhmu yang mulai rentan, rambut hitammu yang mulai memutih, juga lelahmu yang kau abaikan. Aku melihat perjuangan hidupmu. 

Dan. Sebelum kakimu melangkah malam ini, aku melihat kau menerima ratapan dan kenyataan yang membuat jiwamu dirundung duka.

Ratapan yang seharusnya tidak kau terima. Karena aku tahu kau tidak layak mendapatkan itu, menerima pemberontakan dari seseorang yang sudah yang sudah kau beri banyak penerimaan.

Memang aku tak melihatmu menangis,  tapi aku merasakan ada hujan air mata di hatimu. Raut wajahmu berubah seketika. Aku tahu kau tak kuasa, membunuh ucapan yang beracun dari perempuan itu. Yang kau lakukan hanya membiarkan perasaan kecewamu mati terbunuh. Agar kau tak kehilangan cahaya kasih di hatimu.

Tak kupungkiri, sesekali aku memang kecewa terhadap sikapmu. Kutemukan dirimu terperosok dalam kekeliruan. Menyimpang ke jalan yang bukan kebenaran yang seutuhnya. 

Namun ratapan yang kulihat malam ini, buat kesadaranku terbangkitkan, keharusan bagiku untuk menumbuhkan ladang kesadaran dan rasa maaf di halaman hatiku, ketika aku masih memiliki kesempatan untuk melihat dan merasakan kebersamaan bersamamu di musim hidupku.

Bahwa terlalu berharga, menyia-nyiakan penerimaan dan kebersamaan kita dengan mengucapkan kata yang merusak jiwa.

***
Rantau Prapat, 18 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 21 September 2020

Tuhan, Aku, dan Balada Seorang Perempuan yang Menyukai Puisi

Pinterest 
...
Aku mengenal seorang perempuan yang menyukai puisi. Perempuan yang tidak pernah memilih untuk hidup sendiri, namun kesendirianlah yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Tuhan, aku pernah membaca firman-Mu : Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri. Perempuan itu pun sudah meminta pada-Mu, tapi tak pernah perempuan itu mendapatkan jawaban atas doanya.

Perempuan itu hanya diam membisu, menerima realita hidup yang terjadi. Perempuan itu ingin berdamai dengan keadaan tapi penerimaan belum berjumpa dengan warna hatinya.

Ah, perempuan yang menyukai puisi. Kenapa kau lebih sering mengadu pada puisi. Apa kau tak berniat mencoba menjejaki kepercayaan terhadap orang lain?

Asa sang perempuan puisi telah terkuras untuk memberi kepercayaan terhadap orang lain. Perempuan itu sungguh tak kuasa, atas apa yang akan didengar dan diterima olehnya.

Perempuan itu lebih sering membasahi wajahnya dengan air mata dan menjatuhkannya ke dalam bait-bait puisi.

Warna kesunyian dan kemarahan berbisik pada hati perempuan itu, kenapa harus perempuan itu yang tidak terlahir normal dari rahim ibu yang sesungguhnya normal. Disabilitas fisik perempuan itu sandang, yang sayangnya tidak disandang sejak perempuan itu lahir.

Sungguh malang nasib perempuan itu, hanya bisa menerima tanpa penerimaan. Sudah tiga puluh dua kalender perempuan itu jalani,  perempuan itu tak tahu harus menyalahkan siapa atas keadaan hidupnya.

Oh Tuhan, aku tahu Engkau yang lebih tahu jalan hidup terbaik untuk perempuan yang menyukai puisi itu. Aku hanya ingin, perempuan itu memiliki pertemuan dengan kata kebahagiaan dalam hidupnya, walau hidupnya akan berakhir dengan KESENDIRIAN.

Aku juga berdoa pada-Mu Tuhan,  perempuan itu akan lekas menerima keberadaan hidupnya dengan penerimaan yang utuh. Menabahkan hati ketika melihat kebahagiaan orang lain yang tidak akan pernah bisa dirasakan perempuan yang menyukai puisi itu.

***
Rantauprapat, 22 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Tentang Seorang Pria dan Kegilaan Membaca Buku

@kulturtava
 ...
Di bulan September pada hari yang kesembilan belas, melalui jalur pribadi aku bercengkerama dengan seorang pria yang Tuhan kirimkan. Pria yang sudah memiliki kekasih. Pria Timur yang sudah menyelesaikan ujian tesis bulan Agustus lalu. Aku pun hanya bersua dengan pria itu melalui jaringan dan dunia maya. Yang kemungkinan besar tidak akan pernah bersua secara langsung.

Beberapa hari aku sudah mengobrol santai dengan pria itu, terkadang sampai melantur pada pembicaraan yang unfaedah. Saling memanggil sayang, yang kami tahu tidak ada rasa sayang di antara kami. Walau aku sedikit terbawa perasaan, mungkin karena aku sedang dalam fase kesendirian.

Di antara pembicaraan kami, selalu terselip kata "BUKU". Karena di halaman hidup pria itu, dia selalu sibuk bermain dengan buku.

Buku, aku hanya melihat buku yang dia baca di obrolan kami. Pria itu sudah seperti kegilaan membaca buku, hingga pria itu mengabaikan porsi tidur yang cukup. Mengesalkan bagiku,  pria itu sudah membiasakan diri terhadap hal itu. Karena itu adalah kebiasaan yang buruk menurutku.

Pria itu bisa tidak memejamkan mata untuk membaca buku. Ada kenikmatan yang berasal dari buku, kenikmatan yang besar, seperti berada dalam semenanjung kebahagiaan. Tulang punggung pria itu tak pernah patah  untuk menghabiskan waktu bersama buku.

Menurutku, halaman demi halaman buku yang dia baca tidak kalah penting dari perasaan cinta dan rindu yang dimilikinya untuk kekasih yang dia inginkan sebagai teman untuk menua bersama.

Mungkin, saat pria itu sudah menikah dengan kekasih hati yang dia cintai dan kami tak lagi berkomunikasi, pria itu akan rela tersesat dalam hutan lebat yang bernama buku. Mungkin juga tidak, karena pria itu sudah memiliki pemanis yang tidak boleh diabaikan.

***
Rantauprapat, 21 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Sepotong Kisah dari Seorang Perempuan yang Menyukai Puisi

@kulturtava
...
Lama perempuan itu tak meneteskan air mata. Tapi hari ini, senin di hari yang kedua puluh satu bulan September kau berhasil menghadirkan air mata di wajahnya. Perempuan itu kembali meneteskan air mata siang ini.

Hari ini, kau kembali mengulangi sejarah yang dahulu. Sektika perempuan itu diam membisu, tak lagi mampu berkata-kata mendengar apa yang kau ucapkan. Melihat kenyataan tentangmu yang tidak akan pernah menepati janji 

Ingin rasanya, perempuan itu mengungkit cerita yang dahalu. Agar kau ingat janji yang pernah kau beri untuknya. Akhirnya perempuan itu diam dan menerima luka yang dirasakan seorang diri.

Tidak ada cinta hari ini untuk perempuan itu.

Yang ada hanya air mata yang terjatuh, untuk melepaskan emosinya. 

Perempuan itu berlari, menulis rasa dan menyembunyikan luka hati pada puisinya. Karena perempuan itu adalah perempuan yang menyukai puisi.

Perempuan itu kembali meratapi dirinya karena apa yang kau lakukan. Tak bisa mempertahankan diri dari kesadaran, perempuan itu telah kalah. Perempuan itu membiarkan dirinya kalah pada pelukan kesunyian.

Perempuan itu melihat ketidakadilan yang kau lakukan, apa perempuan itu tidak berharga di matamu. Hingga kau selalu menyudutkan dan berbuat sesukamu terhadap dirinya.

Perempuan itu tidak pernah merdeka darimu. Selalu dikejar-kejar kecemasan. Dan lebih memilih diam juga sunyi untuk menghabiskan samudera waktu yang dipunya. Menenggelamkan diri pada puisi yang akan ditulis, karena puisi tak akan pernah mengkhianati perempuan itu.

***
Rantauprapat, 21 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 20 September 2020

Tentang Seorang Perempuan, Kejujuran yang Menyapa, dan September yang Menghitam

@kulturtava
...
Minggu, tepat di hari yang kedua puluh bulan September. Kejujuran tentang perempuan itu kembali menyapa, bau amisnya keluar dari persembunyian. Membakar kepercayaan dan harapan yang pernah tersemat pada perempuan itu.

Minggu, di tanggal kedua puluh bulan September ini, menjadi September yang menghitam untuk perasaannku. Aku kembali melihat, perempuan itu lupa belajar dari kesalahan yang pernah diperbuat.

Kenapa perempuan itu harus menahan diri untuk menempatkan kesadaran hati dalam nalar, yang ada malah meniup bara untuk hidupnya termasuk juga untuk hidupku.

Hari di mana kejujuran itu terkuak, akan menjadi ingatan yang buruk bagiku. Perempuan itu mengundang segala kesedihan. Aku tak ingin membenci perempuan itu, tapi rasa benci itu nyata ada untuknya.

Selama berbulan-bulan, bagaimana perempuan itu sanggup berkhianat pada kejujuran dan kepercayaan. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah hati perempuan itu sudah membeku dari rasa manisnya kepercayaan. Hingga perempuan itu tidak berani melawan hatinya yang mulai menghitam.

Aku ingin bertanya langsung pada perempuan itu, mengapa sanggup merusak kepercayaan yang bukan sekali dua kali diberikan untuknya? 
Entah aku akan menerima jawaban yang jujur atau tidak, mungkin lidah perempuan itu sudah kelu untuk mengatakan kebenaran kepadaku. 

***
Rantau Prapat, 21 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 19 September 2020

Manusia, Nelayan, dan Alam

Foto : Fauji Yamin
...
Di dalam sejarah kehidupan, ini sesungguhnya satu kesatuan yang seharusnya mengajarkan tentang keseimbangan.

Tentang manusia, nelayan dan alam. Yang membuat hidup lebih hidup atau tidak. Karena yang sering terjadi adalah manusia membiarkan alam dirusak untuk keegoisan diri, yang dengan sadar bahwa hal itu sudah merusak kehidupan dari manusia itu sendiri, misalnya kehidupan nelayan. 

Nelayan yang sudah menitipkan semangat pada tubuhnya yang mulai renta. Menebarkan jala di laut lepas, bersama asa, berharap cuaca bersahabat. Agar mendapat ikan-ikan yang akan dijadikan nafkah untuk keluarga. 

Bahkan alam semesta sudah memberikan ruang untuk perjuangan hidup manusia. Namun, manusia yang tidak memiliki moral sudah mencemari kehidupan itu sendiri. Merambah kawasan yang tidak seharusnya. Laut yang menjadi tempat nelayan mendapat sinar kehidupan mulai tergerus kehancuran dan kehilangan harapan, menjerit kesakitan. Menangis tanpa kekuatan.

Nelayan yang juga manusia biasa terkadang membakar amarah pada manusia liar yang tidak mengerti batasan dengan mengumpat dan mengucap sumpah serapah. 

Manusia, nelayan, dan alam semestinya tidak pernah kehilangan kesatuan. Sebab telah saling dikawinkan untuk kebutuhan hidup. Nelayan adalah manusia yang membutuhkan alam sebagi rumah untuk berjuang dalam mengapai rezeki.

Nelayan yang manusia biasa berharap agar manusia yang memiliki kekuatan dan kekuasaan lebih,  hatinya tidak lagi berkarat dan melekat pada hasrat yang tidak mempedulikan perasaan. Hingga bisa menghancurkan keseimbangan hidup.

Dan akhirnya akan berada di ambang keterasingan hidup, manusia bukan lagi menjadi manusia yang seutuhnya.

Jadi apakah. Manusia, nelayan, dan alam, akan terus bisa bersinergi dalam satu kesatuan? Aku sendiri tak tahu. Dan lagi-lagi, aku hanya berharap. Manusia, nelayan dan alam dihidupkan seindah ujaran cinta dari warnanya para pujangga.

***
Rantauprapat, 19 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 18 September 2020

Burju Ni Dainang

Pinterest
...
Inang. Dang hea disolsolan mu, mandapoton boru na sogon au. Boru na mangarihon godang hahurangan pe  boru na adong disabilitas di pardalanan ngoluna. Arian nang bodari, na hu dapoton sian ho holan, holong na inang dang hea muba. 

Hu boto, sai ditangiangkkon ho do au borumu on. Ilumi sai maruburan, tikki dibereng ho au mandele di bagas ni ngoluku.

Ho, inang pangitubu. Mauliate tu sude pambahenanmi tu au. Posma roham, di na menjalani ngoluku huboan do panjaloon. Hu ingot do inang, sude podamu. Ikkon benget do au marroha.

Di bagas ni roha dohot simanjujungki, hudok mauliate boi manghilala burju ni dainang. 

*Terjemahan Bahasa Indonesia 

Baiknya Seorang Ibu 

Ibu. Tak pernah kau sesali, mendapatkan anak perempuan seperti aku. Anak perempuan yang memiliki banyak kekurangan bahkan juga penyandang disabilitas. Siang ataupun malam, yang kudapatkan darimu adalah kasih sayang tanpa syarat.

Kutahu, selalu ibu doakan aku anak perempuanmu ini. Air matamu selalu bercucuran, saat kau lihat aku terluka dalam hidup.

Kau, ibu yang melahirkanku. Terima kasih buat segala yang sudah kau berikan untukku. Percayalah, aku akan menjalani hidup dengan penerimaan. Kuingatnya ibu, semua nasehatmu. Aku harus bisa memelihara hatiku dengan benar.

Dalam hati dan nalarku, aku bersyukur bisa merasakan, betapa baiknya seorang ibu.

***
Rantau Prapat, 17 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 16 September 2020

Bu, Apa yang Kau Pikirkan tentang Perempuan Itu?

tumblr.com
...
Menjadi ibu, adalah karunia yang tidak setiap perempuan mendapatkannya. Aku sungguh tidak tahu, apakah aku akan bisa menjadi seorang ibu atau tidak?

Yang menjadi persamaan antara aku dan ibu adalah, kita mengenal pun berdampingan dengan seorang perempuan yang ada di lingkaran hidup kita. Perempuan yang juga sudah memiliki anak perempuan. Perempuan yang usianya hampir separuh dari usiamu tahun ini.

Tapi aku tahu, tatapan dan telingamu seringkali tersakiti oleh perempuan itu. Perempuan muda yang sudah kau warnai kehidupannya, yang sudah seringkali kau terima keadaannya dengan penerimaan. 

Aku seringkali merasa, perempuan itu seperti orang asing terhadapmu bu! Bersikap merendahkan tanpa pernah berpikir, siapa perempuan itu tanpamu! 

Dan. Atas nama penerimaan, kau membiarkan dirimu kalah terhadap dirinya. Selalu seperti itu! Terkadang, aku yang marah atas sikapmu yang begitu. Tapi, mungkin itu sifat ibu yang aku belum bisa membacanya dengan benar. Karena aku belum menjadi ibu.

Sekalipun kau sudah menangis dan kesakitan karena sikap perempuan itu terhadapmu. Tak pernah terlihat olehku, kau kehilangan penerimaan pada perempuan itu. Penerimaan yang tanpa syarat. 

Aku hanya mempertanyakan.
Bu, apa yang kau pikirkan tentang perempuan itu?. Perempuan muda yang mudah diapit kesombongan. Yang berada dalam kerumunan yang bernama "AKU MAMPU".

Dan, aku tak akan pernah bisa membaca pikiranmu. Menurutku, dalam doamu, diam-diam kau pasti menjatuhkan tetes air matamu. Setiap tetes air matamu yang jatuh itu, merupakan bagian dari kasih sayangmu untuk perempuan itu.

Aku hanya tak ingin melihatmu tak bahagia. Bu, kau perempuan tangguh yang selalu dipenuhi sinyal beraroma protagonis. Dibalik luka, kau memelihara pengampunan. Hal itu, sudah menjadi aturan baku yang kau tetapkan.

Sudah kupastikan, kau adalah pemenang yang menjadi teladan bagi hidupku bu!
Aku sungguh mengagumimu. Aku bangga mengenal dan memilikimu bu! 

***
Rantau Prapat, 16 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 15 September 2020

Kepada Puisi, Perempuan Itu Menjatuhkan Rahasia

Pinterest 
...
Pada kecepatan dunia, perempuan itu terus bertambah usianya. Sehelai, dua helai rambutnya pun mulai berubah putih. Dunia perempuan itu berbeda dibandingkan dunia perempuan yang dikenalnya. 

Saat perempuan itu berada dalam kerumunan orang-orang yang bahagia, perempuan itu tidak merasakan bahagia yang seutuhnya.

Perempuan itu memiliki alasan untuk hal itu, dan tentunya merupakan rahasia bagi perempuan itu. Dan perempuan itu memilih menjatuhkan rahasianya tentang realita hidup, tentang cinta dan harapan yang dipadamkannya ke dalam puisinya.

Di antara hiruk pikuk banyak orang, perempuan itu masih merasa sendiri. Seakan tak ada yang perduli pada perasaannya, dia terkunci dan hanya diabaikan. Tak ada yang memahaminya. 

Perempuan itu yang memahami dirinya sendiri, perempuan itu tahu bahwa dia tidak boleh mengajukan keluhan tentang rahasianya, agar tidak terjadi gejolak yang besar karena dia. 

Kepada puisi, perempuan itu tahu bahwa rahasia yang sudah dijatuhkannya, tidak akan membuat perjalanan hidupnya menempel pada deret lara.

Puisi adalah oase bagi perempuan itu, saat ia dicekam ketakutan. Ah, biarlah perempuan itu bahagia bersama puisinya. 

***
Rantau Prapat, 15 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu

Senin, 14 September 2020

Bunga na Ummuli di Ngoluku

Pinterest
...
Tu ho inang, aluhonoku arsak ni rohakki. Namar sigor-gor di rohaku. Asa diboan ho inang au tu bagas tamiangmu. Hu boto dohot pos rohaku, tamiang ni dainang mangaleon au hagogoan.

Hea au mangkkaholongi nasala, manjalo nasala di rohaki. Dang hea, au ditinggalhon ho inang. Ale. Unang gabusi, unang marsandiwara, unang parmeam-meam rohami. Ido na di dokkhon hu tu au, asa unang sai tarilu-ilu au haduan. 

Molo hurimangi pambaenanki, husadari au sandiri do na mbahen arsak ni rohaki. Mauliate ma inang, tu sude pasingottanmi tu au. Ho, inagku na lagu. Bunga na ummuli di ngoluku. Dihaholngi ho au, tudoshon dirimmi.

Hu boto, dang hea lojo ho manangionkkon au saleleng uju ni ngolumi.

***
Terjemahkan bahasa Indonesia, 

Bunga yang Terbaik di Hidupku 

Kepadamu ibu, kusampaikan sakit yang ada di hatiku. Yang  membara di hatiku. Supaya ibu bawa aku di dalam doamu. Kutahu dan aku yakin, doa dari ibu itu memberi aku kekuatan.

Pernah aku mengasihi yang salah. Menerima yang salah di hatiku. Tak pernah ibu meninggalkan aku. Tapi, jangan lagi bohongi, jangan lagi bersandiwara, jangan lagi permaikan hatimu. Itu yang ibu bilang padaku, agar tidak menangis lagi aku di kemudian hari.

Kalau kurenungkan apa yang sudah kulakukan, kusadari aku sendiri yang sudah membuat hatiku terluka. Terima kasih ibu, untuk semua apa yang sudah kau lakukan. Kau, ibuku yang baik. Bunga terbaik yang ada di dalam hidupku. Kau mengasihiku, seperti mengasihi dirimu sendiri.

Kutahu, ibu tak akan pernah lelah mendoakan aku selama engkau hidup. 

***
Rantau Prapat, 13 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 13 September 2020

Apa yang Membuatku Mencintaimu?

Pinterest 
...
Kutulis puisi berdasarkan alasanku bisa mencintaimu. Barangkali kau seseorang yang tidak menyukai puisi, suatu hari akan membacanya.

Seperti hujan yang tak mengenal lelah, untuk jatuh berkali-kali. Begitulah aku, yang tak mengenal lelah untuk jatuh berkali-kali dalam cintamu.

Setelah mengenalmu, di sepanjang hidupku, aku dipastikan sudah memiliki teman hidup.

Darimu aku belajar, tentang menahan diri dan memerdekakan hati dengan jiwa yang bersabar. Bagaimana tidak, kau yang lebih sering mengalah demi menyenangkan hatiku. Kau memberikan selaksa cinta yang kunamakan kebahagiaan.

Namun, di antara kebahagiaan yang kau berikan terkadang juga membuatku tenggelam dalam kerumitan, disertai pertengkaran yang timbul. Tapi hal-hal yang seperti itu, memang harus ada dalam jalan cinta kita. Itu suata bumbu perekat dalam hubungan bukan.

Saat banyak kupu-kupu cantik lagi indah pun memikat yang mengusik rasamu, jika kau mau, sebenarnya hal seperti itu dapat kau raih. Namun, kau tak melakukan itu, kau mengajariku tentang menjaga kepercayaan

Kau tak ingin, menghanguskan rasa cinta yang telah kau miliki. Tak mau membuatku bercumbu dengan airmata kesedihan. Rasa cinta adalah kepastian yang harus dijaga.

Kau itu kasihku, yang sudah memutuskan bahwa kita harus saling menerima, saling menguatkan dan saling mencintai. Menjadi kekasih jiwamu, menjadikanku seseorang yang istimewa. Istimewa di hatimu 

Apa yang membuatku mencintaimu? Ya, alasanku mencintaimu itu adalah keseluruhan tentangmu adalah sisi positif bagiku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Harapan yang Tidak Boleh Lagi Kuharapkan

@kulturtava
...
Tentang harapan yang pernah kudoakan, cukup lama aku memeluk asa untuk itu. Tentang cinta yang kuinginkan. Cinta yang akhirnya mengabaikan.

Sempat aku berpikir, masih ada cela untuk jalan cintaku dengan seseorang yang sudah kudoakan. Kini aku menyadari bahwa, seseorang itu sudah dipastikan bukan jawaban doaku.

Saat ini, di jendela hatiku tak ada lagi hujan romantisme. Walau aku sedang berada pada halaman kesendirian, aku tak ingin kehilangan rumus kebahagiaan untuk hatiku sendiri.

Dan ini bicara tentang harapan yang tidak boleh lagi kuharapkan. Aku hanya mau terus menjalani hidup dengan baik, walau musim asmaraku sedang kemarau.

Aku sedang kehilangan, tapi aku tak mau kalah pada rasa di hati hanya karena kehilangan. Karena hidup tidak semata-mata tentang cinta.

***
Rantau Prapat, 13 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 12 September 2020

Perempuan yang Dicekam Ketakutan

@kulturtava
...
Ini bicara tentang pengertian yang tak dia miliki untuk diri sendiri. Sedang berhenti dari kata yang disebut sebagai penerimaan diri. Mencoba menghindar dari kenyataan yang dia terima, tapi tetap saja dia kalah. 

Sudut-sudut kehidupan yang dia jalani terlalu dikuasai kegelisahan bahkan ketakutan. Langit hatinya dibiarkan meredup menjelma pada kesunyian.

Perasaan yang semestinya bahagia karena kabar bahagia yang dia dengar, bukan bahagia yang dia rasakan. Karena yang terlihat dari kabar bahagia itu adalah perasaan yang dicekam ketakutan.

Dia sendiri tahu, esok atau lusa, dia tidak akan pernah mengalami seutuhnya kabar bahagia yang dia dengar. Nyaris, dia berpikir bahwa Tuhan yang adil, Tuhan yang dia percaya, tidak memberi keadilan tentang jalan hidupnya.

Yang bisa dia tulis, saat hujan air mata jatuh karena kesendiriannya, adalah sajak kepatahan. Sebab sajaknya adalah kebebasan baginya. Bebas menjatuhkan warna dan aroma yang dia inginkan.

Dia itu perempuan yang ingin merasakan apa yang perempuan lain rasakan. Dia perempuan yang ingin menjadikan hidupnya indah. Yang terjadi adalah lautan kenyataan membakar rasa penerimaannya  bahkan kesadarannya. 

Dan belakangan, dia menjadi perempuan yang dicekam ketakutan.

***
12.09.2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 10 September 2020

Perempuan Rapuh yang Memutuskan untuk Bahagia

@kulturtava 
Di kamar kecilnya yang pengap, perempuan itu sedang sendiri dan menangis. Perempuan yang rapuh itu sedang tawar hati. Harapan yang dia harapkan, tidak berpihak pada dirinya.
Penerimaan adalah hal yang harus dia lakukan.

Sulit baginya untuk menerima kenyataan. Sungguh, perempuan itu ingin hidup berdua dengan seseorang yang akan menjadi teman hidupnya. Tapi kesendirianlah yang dia dapatkan.

Berkali-kali perempuan itu, mencoba menyatu dalam keikhlasan. Merayakan waktu yang dimiliki dengan tidak lagi membuat luka. Luka yang tak seharusnya ada dari sejak lama.

Pada akhirnya, perempuan yang rapuh itu memutuskan untuk bahagia, walau dalam kesendirian. Tanpa tawar menawar dengan logika dam ketakutannya, perempuan itu percaya akan ada kasih sayang yang diterima olehnya.

***
Rantau Prapat, 10 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Dia, Perempuan yang Memadamkan Harapan

@kulturtava
...

Sulit mendefinisikan penerimaan melalui lisan. Saat kebenaran mengetuk nyata hidup. Terlalu banyak ketakutan yang terbawa di hati. Bersama air mata yang basah di wajah, ada redup yang dirasakan.

Cerita yang tersimpan akhirnya telah terungkap, seketika kesejahteraan pun tak lagi memayungi. 

Ada harap yang dia bangun. Harapan untuk bisa mengalami dan bertemu dengan cerita yang tersembunyi itu. Sepertinya dalam dirinya ada marabahaya, sehingga untuk menggapai harapannya adalah sesuatu yang disebut "KETIDAKMUNGKINAN".

Mempertanyakan Tuhan, kenapa tidak membantu dia menggapai harapannya. Walau sebenarnya dia tahu, dia tidak berhak mempertanyakan Tuhan dan tidak semua pertanyaan ada jawabannya. 

Sebenarnya dia tidak ingin singgah pada luka karena terlalu berharap, namun sudah lama dia terluka karena berharap pada hal yang mungkin tidak akan termiliki olehnya. 

Akhirnya, dia mencoba untuk memadamkan harapan. Harapan yang sesungguhnya ingin dia dapatkan.

Dia pun bersepakat pada sifat antagonis dan protagonis yang terkadang membuat gelisah. Untuk terlihat baik, dia memilih bertopeng. Sekalipun itu topeng kepalsuan.

Itu hidup yang dia jalani. Dia, perempuan yang memadamkan harapan. Harapan terhadap hal yang baginya adalah kesia-siaan.

***
10 September 2020, 15:32

Selasa, 08 September 2020

Kamu Melihat Sosok Ibu pada Dirinya

@kulturtava
...
Aku katakan kamu itu unik. Dari cerita yang kamu bagikan padaku, kamu hanya meneguhkan satu orang perempuan di hatimu. Kamu katakan, mencintai cukup satu kali dan cintamu tak akan berubah. Mencintai perempuan yang ketika itu, kamu melihat sosok ibu pada dirinya.

Namun menurutku, kamu hanya membiarkan dirimu terperangkap pada jerat yang bukan milikmu. Ini sudah lebih dari satu dasawarsa, kamu masih menggerogoti jiwamu dengan kesibukan tanpa mau melepaskan masa lalu. Kamu sendiri tahu, kalau perempuan itu sudah menikah. Mungkin juga sekarang ini, dia sudah memiliki anak yang banyak. 

Dia telah meninggalkanmu. Biarlah dia hanya menjadi kenangan. Di antara kamu dan dia, tidak ada lagi cinta. Karena cinta ada pada dua jiwa yang terikat. 

Kenapa kamu harus menutup segala rasa yang menghampiri. Apa kamu lupa, kehidupanmu bukan hanya tentang kebahagiaan hatimu?. Jangan lagi menangis pilu dalam kesendirian. Bukalah pintu hatimu. Jangan terlalu memujanya di hatimu, biarlah kamu hanya memiliki dia sebagai nostalgia indah.

Berpisah dan berpamitanlah, pada cinta yang kamu miliki terhadap perempuan itu. Perempuan yang kamu lihat memiliki sosok ibu dalam dirinya.

Kenapa harus membekukan ruang hatimu terhadap cinta yang sudah menawarkan rasanya dan ingin kamu terima sebagai permaisurimu! 

Jangan lagi mendekap sepi dan sembunyi dari cinta yang dihadirkan semesta padamu. 

***
Rantau Prapat, 09.09.2020

Masa Penerimaan

@kulturtava
...
Aku mendapati banyak hal yang patut kusesali. Pada dunia yang penuh hiruk pikuk, terkadang aku ingin berada dalam dunia yang sunyi. Karena sebenarnya aku enggan menyaksikan lagi, sejarah yang dahulu kembali terulang. Sejarah ketidakadilan, aku benar-benar tahu ada topeng kepentingan yang sudah membuatku kembali tersesat.

Waktu tidak akan ambil perduli terhadap apa yang terjadi. Entah itu akan membunuh dan mematikan perasaan. Realita hidup tak selalu mengajarkan arti penerimaan, yang ada malah serapah kepalsuan lagi kebencian.

Dengan sengaja, merebut senyuman dan kedamaian hatiku. Membuat palung jiwaku terpahat kemarahan. Tak bisa kupungkiri, aku sungguh kecewa.

Dengan perasaan kesal, aku mencoba berada dalam masa penerimaan. Walau nyata yang kualami, menelan partikel harap yang kuinginkan. Meski aku menyukai sebuah penerimaan. Saat aku bertemu dengan ketidakadilan, masa penerimaan sulit berada di sisiku. 

Aku hanya bisa diam, saat hal-hal yang terjadi dalam hidup menindih perasaanku dengan kelelahan dan kepenatan. Dalam banyak kisah perjalananku, pada akhirnya, tentang ketimpangan yang kualami, aku yang harus memilih, apakah aku perduli atau tidak perihal penerimaan yang harus kupilih.

Sebab waktu tak akan terhenti dan akan terus berjalan tanpa menerima apa yang kupilih. Aku yang harus memahami, bagaimana cara untuk menerima penerimaan terhadap nyata yang kualami.

***
Rantau Prapat, 08.09.2020, 21:33
Lusy Mariana Pasaribu 

Holan Sasada Ho Do

@kulturtava
...

Au do namado ho, sipata mabiar do rohaku. Godang na ro tu ho, naeng manggoda rohami.

Ale hupapos do rohaku, dang pola be au sangsi tu pergaulantai. Dang olo au sae manggangu rohoki, sai curiga tu ho.

Ho do di au, au pe songoni. Au do di ho. 
Sapala naung hupilit, dang tadikkonoku.

Hu haholongi ho hasian, dongani na ma au. Molo adong nasala hubaen, anju mau hasianku.

Na huida sian ho, naburjuonmi hasian. Balga ni holonghi tu ho di pambaenmi, sonang ma rohaki. Ima holongki

Rap hita nadua, unang lao ho sian lambungki. Mola lao ho, manetek ilukki.

Sae hot do ho di rohakki, na hupangido tu Debata, ho ma nian na gabe rokkapi. Saling setia ma hita nadua. 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 07 September 2020

Membangun Ruang untuk Ditempati Bersama

@kulturtava
...
Suasana yang berembus dalam cinta, pastilah tidak selalu membawa keharuman. Rasa bukan menjadi satu-satunya yang penting dalam hubungan yang dijalin

Mimpi-mimpi cinta yang ingin digapai, harus dilakukan berdua. Sepasang kekasih, harus meninggalkan keegoisan agar dapat membangun ruang untuk ditempati bersama

Dimulai dengan pengertian, tak selalu menutut kabar dan perhatian. Sepasang kekasih harus menaklukkan keraguan dan prasangka yang timbul dalam hati agar tidak jatuh ke pangkuan pertengkaran dan menyebabkan kematian dalam rasa cinta 

Sepasang kekasih harus saling terhubung dalam keutuhan dan keyakinan cinta, agar kisah cinta yang sudah dipilih dapat berjalan dengan baik. Saat kisah cinta harus terlibat masalah, hendaknya sepasang kekasih mengingat kembali komitmen yang telah diterbitkan saat pertama kali menjalin cinta 

Sepasang kekasih, haruslah menikmati dan mencintai cinta serta seni yang ada di dalam rasa cinta itu. Bersama dapat membangun ruang yang penuh cinta untuk ditempati berdua dalam menjalani bingkai-bingkai perjalanan cinta yang dipilih 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Sebuah Luka di Ruang Hati

@kulturtava
...
Ada yang perlu dibiarkan, menghilang tanpa dijelaskan. Entah sudah berapa banyak luka yang berjatuhan pada semesta perempuan itu.

Pada masa lalunya, kisah tentang hidupnya, ada sebuah luka di ruang hati perempuan itu yang dia biarkan tanpa penyelesaian. Perempuan itu telah muak terhadap ketidakadilan yang menimpa keadaannya. 

Perempuan itu terkadang gamang dan memilih diam dalam menjalani jejak di perhitungan waktu yang dia lalui. Dia pernah lari dari kenyataan untuk perduli pada dirinya sendiri. Merelakan diri berada dalam labirin gelap yang dingin dan tak bercahaya. 

Bagaimana semestinya perempuan itu hidup? Sesungguhnya, dia harus bersepakat dengan diri. 

Dalam pemahamannya, dia hanya bisa mempersalahkan diri sendiri. Mematikan rasa untuk tidak menimbulkan gejolak yang lebih besar. Perempuan itu sering menuntun bahagia tapi dia tidak akan pernah bahagia jika hanya menuntut dan tidak pernah mengakui bahwa dia pernah bahagia.

Sebenarnya, selalu ada pilihan untuk perempuan itu. Mau bahagia atau tidak? Itu adalah pilihan. Karena, realita hidup tidak seindah dan sebahagia itu. Seperti yang terdapat dalam puisi-puisi romantis yang sudah tertulis dari para pemuisi. 

***
Lusy Mariana Pasaribu 
Rantau Prapat, 08.09.2020

Saksi Sebuah Kedzoliman

@kulturtava
...
Hari ini, bukan lagi tentang cinta. Tidak ada cinta hari ini.

Lagi-lagi yang terlihat adalah ketidakadilan. Aku pikir lebih baik kau pergi dan berlari. Atau berjalan menuju keheningan.

Kau membutuhkan ketenangan terhadap peristiwa yang datang dan menjadi luka di hidupmu. Semesta yang terjadi pada duniamu, terlanjur memaksamu berada dalam riuh dusta. 

Duniamu sudah menjadikan dirimu saksi sebuah kedzoliman. Berbahaya!
Ada sakit hati yang kau rasakan, ingin melakukan pemberontakan. Kau pun sudah banyak menanggung luka. Terkadang, kau membiarkan dirimu tertidur di beranda kebencian.

Aku tahu, kau ingin berdamai dengan segala keadaan. Dan aku katakan, jangan meneguhkan luka di hatimu. Namun, ada rasa takut yang menggelegar di hatimu. Kau masih juga patah, saat bertemu orang-orang yang menyebabkan semestamu berantakan.

Katanya, setiap duka ada masanya. Aku harap duka yang kau rasa pun akan ada masanya. Kau kan terlepas dari pokok patah yang berwarna gelap. 

Segala suram yang membuatmu muak, jangan putus asa dan menghempaskan diri pada hal itu. Berserah sepenuhnya pada pertolongan Tuhan, pribadi yang menerima keberadaanmu seutuhnya.

Walau sulit, jangan mengisi pikiran dan memaksa hatimu berkelahi melawan kebenaran. 

***
Rantauprapat. 07 September 2020

Minggu, 06 September 2020

Ah, Seksinya Puisi!

@kulturtava
...
Tentang masa lalu, masa kini dan masa depan. Tentang kemarin, hari ini atau lusa. Tentang kepatahan dan keutuhan. Terhadap semua itu, bisa dijadikan bagian dalam bait puisi.

Puisi mampu menghidupkan dan memunahkan rasa yang ingin ditulis. Puisi juga mampu memadamkan pagi dan menyalahkan malam.

Aku dan kamu suka menenggelamkan diri dalam kata, karena kita menemukan adanya kemerdekaan melalui puisi.

Dengan dan tanpa airmata, kita bisa berbagi dengan puisi. Ketika kita kehabisan energi dan tawa menghadapi realita, kita akan memusarakan segala rasa yang bergemuruh di jiwa ke dalam puisi.

Ah, seksinya puisi! 
Puisi adalah candaan yang serius dan tajam. Kadang kala, puisi bisa lebih berbahaya dari pada kata yang terdengar. 

Puisi itu memang seksi. Memiliki ketajaman dari apa yang tertulis. Puisi itu bisa tentang aku, bisa juga tentang kamu. 

Benar, bahwa puisi yang seksi itu aku dan kamu.

Puisi adalah musim semi, musim hujan dan musim kemarau yang sudah atau akan kita rasakan!

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 05 September 2020

Sepertinya, Kau Bukan Jawaban Doaku!

@kulturtava
...
Sebelum aku menuju pada sebuah keputusan. Bersama keyakinan, aku siap menerima konsekuensinya. 

Tadi malam. Tepat sebelum hari berganti, aku mengendalikan perasaanku. Aku tak sanggup lagi menunggu kasih sayangmu. 

Ingin meloloskan diri dari harapan yang pernah kubangun terhadapmu. Sepertinya hanya aku yang gelisah dan yang selalu menanti kata-kata darimu.

Aku sudah memberikan perasaan dan cinta kepadamu, masih saja aku merasakan kesendirian. Apa kau tidak menganggapku ada dan aku tidak siapa-siapa. Lantas, di mana kata sayang yang pernah kau ungkapkan?


Sampai keputusan ini kuambil, saat aku menyadari episode kehidupanku tidak bisa bersatu denganmu, aku tidak membencimu dan tidak berniat untuk membencimu.

Sepertinya, kau bukan jawaban doaku! 
Aku harus siap untuk itu. 

***
05 September 2020.

Jumat, 04 September 2020

Puncak dari Penerimaan adalah Pemberian

@kulturtava
...
Aku menemukan banyak cinta darimu. Ketika kamu kehabisan energi dan diterbangkan sayap ketakutan, aku harus memberimu kekuatan untuk berjuang.

Tetap tersenyum dan tidak menyudutkanmu, itu yang akan aku lakukan. Aku tak mungkin menenggelamkanmu. Sering pula, aku menerima kepedulianmu. Demikian, aku memperdulikanmu. 

Seperti halnya air mata yang selalu bukan tentang kepatahan hati. Kebersamaan itu pun membutuhkan penerimaan dan pemberian. Aku ingin terus belajar untuk menghidupkan kepercayaan di antara kita.

Aku tidak akan menerima yang baik saja darimu, namun juga akan memberikan yang baik juga padamu. 

***
04 September 2020

Kamis, 03 September 2020

Hujan Hambar Datang di Halaman Hatiku

@kulturtava
...

Yang menjatuhkanku perlahan adalah apa yang terjadi padamu. Ternyata, kamu pernah sibuk bersembunyi untuk menikmati dan menjilati sajian berbahaya dengan lancang. 

Kamu, mengabaikan kebebasan yang dipercayakan padamu. Dan lihat, di perjalananmu ada kado terbaik yang kamu terima. Kecelakaan berlarian untuk menyambutmu. Aku tahu, itu sekaligus, wujud teguran Tuhan untukmu. Jika aku simpulkan, kamu seseorang yang masih sulit untuk mau dituntun. 

Kamu mengaduh perih, dan kesakitan. Sedikitpun aku tidak iba atas apa yang kamu rasakan. Ini menggambarkan relasi hati yang telah kamu lakukan.

Kuharap, setelah ini kamu akan membuka mata. Entah kamu akan tahu atau tidak. Hari ini, aku tak bertemu bahagia. Duka sedang berkunjung pada duniaku. Hujan hambar datang di halaman hatiku. Aku butuh kejujuran, bukan pembenaran.

Teringat sejarah masa lalumu. 
Syukur kepada Tuhan, kamu masih diberi kesempatan hidup. Kukira, itu adalah kesempatan bagimu untuk berbenah juga membersihkan hati.

Kemana kamu akan pergi?
Apa kamu akan kembali lagi berhamburan ke arah yang salah? Mencelupkan kaki ke wilayah yang bukan bagianmu. Entahlah, aku tidak bisa memastikannya. 

Aku hanya bisa berdoa, kamu tak lagi jatuh pada perkara yang tidak seharusnya. Karena aku mengasihimu juga mengasihi diriku sendiri.

***
04 September 2020

Hey Kamu, yang Pernah Aku Pilih!

@kulturtava
...
Perasaanku pernah dijatuhkan kebahagiaan. Dan perasaan itu telah berpindah haluan. Kejujuran dan pengakuanku, mampu mengubah keberadaan rasa itu. 

Terkadang rasa memang seperti embun, sebentar hilang lenyap. Jika tanpa ketulusan yang murni. Aku pernah enggan meninggalkan rasa ini. Terlalu takut kehilangan kamu.

Realita yang terungkap menjadi alasanku menjauh. Sikap tak pedulimu adalah tanda wujud kekalahan rasaku, yang buatku alami anomali hati. Aku meradang. Akhirnya aku berfikir untuk mencari arah yang berbeda darimu. 

Aku dan kamu tak pernah jadi pemenang di hati kita masing-masing.
Hey kamu, yang pernah aku pilih. Ternyata kamu hanya jadi sejarah di hidupku.

Kamu harus tahu. 
Tidak ada lagi air mata yang kujatuhkan karenamu. Semua sudah cukup! 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 02 September 2020

Ratapan yang Seharusnya Tidak Dirasakan

@kulturtava
...
Aku mengeruhkan kebenaran di hatiku dengan jejak berahi. Memasang jaring, menangkap keegoisan diri. Kuhempaskan diri ke arah yang salah.

Hatiku kubiarkan berhamburan di atas hasrat yang tak seharusnya kulakukan. Lembah hatiku, aku penuhi dengan bangkai yang busuk.

Aku membinasakan diriku sendiri. Kuberi minum, alur kehidupanku dengan racun. Tiada kesadaran di dalam nalar dan hatiku. Aku seakan terhilang entah kemana.

Pada tahun yang kedua ribu dua puluh, dalam bulan kesembilan, pada tanggal dua bulan ini. Aku merasakan suatu ratapan. Aku kaget melihat kebodohan hatiku. Rebah dan mati terbunuh pada ketidakberdayaan.

Kenapa, kubiarkan dia turun dan berkuasa atasku. Membuat dahan gairahku terseret pada dirinya. Aku hanya mendesah dan tidak mengeluh sedikit pun. 

Hingga saat aku membuka mata dan tersadar, bahwa aku telah menerima petaka di hidupku. Dan itu, telah menimbulkan noda pada jiwaku. Aku terjatuh ke dalam lubang kekalahan. 

Aku menangisi diriku karena telah berada di pelukan yang tidak semestinya. Aku tidak tahu ini kemarahan atau penyesalan yang tidak bisa kusesali lagi. Karena aku yang pergi dan mendatangimu.

Ini adalah ratapan yang seharusnya tidak dirasakan olehku, jika aku tidak menyerahkan diriku tertikam belati dari pasal cinta yang berbahaya.

September, 2020.

Seorang Perempuan dan Kekalahannya

@kulturtava
...

Ini kisah seorang perempuan dan kekalahannya.

Untuk waktu yang sudah berjalan, perempuan itu kembali melunak. Pada hatinya yang sudah terluka, perempuan itu masih memiliki rasa sayang terhadap kekasih hatinya.

Perempuan itu berusaha menyembunyikan rasanya. Mendiamkan nalarnya dan hanya menunggu kabar dari kekasihnya. Ia terus menunggu, tapi yang ia terima adalah rasa dingin.

Hatinya lah yang mengambil alih, ia kehabisan ego untuk tak mengacuhkan kekasihnya. Komitmen cintanya, cukup membuatnya untuk memaafkan.

Ia putuskan untuk mengalah dan menghubungi lebih dulu. Memberi kesempatan yang kesekian kalinya untuk cintanya.

Perempuan itu mencoba lagi untuk mengembalikan keyakinan hatinya. Mungkin ini adalah kekalahannya, kalah pada hatinya. 

Menurutnya, kekalahannya itu tidak salah. Untuk bercinta pada cinta yang telah ia ikatkan dalam hati adalah dengan menerima dan memberi pengampunan. Karena dalam cinta, pasti ada suka dan duka di dalamnya.

Dan dalam pasal cinta di wilayah hati perempuan itu, tidak mempertahankan ego adalah pilihan terbaik. 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 01 September 2020

Seorang Perempuan yang Memutuskan untuk Menjaga Kesetiaan Cintanya

@kulturtava
...
Ini kisah seorang perempuan yang harus ditinggal jauh, kekasih hatinya. Ya, suaminya harus meninggalkan dirinya karena tanggung jawab pekerjaan.

Ia harus menahan diri akan kebersamaan mereka. Karena cinta tak cukup untuk membina rumah tangga.

Akhirnya, perempuan itu belajar untuk menempatkan diri pada kerelaan. Rela untuk berpisah sementara waktu. Baginya. Setelah berumah tangga, perpisahan tidak seberbahaya yang ia bayangkan.

Dan yang menjadi kenyataannya. Terkadang, keraguan dan kecemburuan hinggap pun menyerang jiwanya. Yang perempuan itu lakukan adalah menyirami hatinya dengan kepercayaan. Diikatkannya kesetiaan cinta dalam hatinya.

Perempuan yang memutuskan untuk menjaga kesetiaan cintanya, akan menunggu kekasih hatinya kembali pulang. Dan mereka akan bercerita panjang kali lebar tentang apa yang mereka alami tatkala berpisah dan kemudian akan segera memanaskan api cinta mereka.

Kekasih hatinya adalah cinta dan harapannya. 

***
Lusy Mariana Pasaribu