Rabu, 31 Agustus 2022

Bukanlah Suatu Kesalahan

@kulturtava
...
Seperti saat ini, perempuan itu diliputi kekhawatiran yang beralasan. Ini tentang harapan yang disemogakan olehnya. Entah apa dan bagaimana, ia kepayahan untuk mendapatkannya. Ia memikirkan tentang keterbatasan yang melekat di diri, disabilitas bukanlah suatu kesalahan. Tak pernah ia ingin menjadi seperti itu.

Perempuan itu bertanya, apakah kelemahan fisik itu dosa? Sering diabaikan, dianggap tak ada. Diragukan tanpa dasar yang pasti.

Bagaimana pun, perempuan itu harus berusaha menghidupi bahagia di segala kekurangan. Berbangga dengan hidup yang masih ada. Berdamai dengan keadaan, walau demikian menyulitkan. Namun, tidak berdamai dengan keadaan, itu jauh lebih sulit. Terbukti, perempuan itu pernah memiliki niat bunuh diri.

Bukanlah suatu kesalahan, jika perempuan itu tetap berharap ada keajaiban terhadap hal-hal yang disemogakan. Ia sadar bahwa tak akan bisa memaksakan skenario perjalanan hidup, berserah penuh pada pemilik hidup. Karena ini adalah sejarah hidup bagi perempuan itu, dan kebimbangan raguan tak boleh menduduki jiwa dan pikiran terlalu lama.

***
Rantauprapat, 31 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 28 Agustus 2022

Kepada Hati Perempuan Itu

@kulturtava
...
Sadarlah wahai perempuan, jangan menggerutu pada hal yang sudah pasti merusak suasana hati. Kau perempuan yang tidak diinginkan, barangkali hanya untuk menenteramkan kegelisahan diri.  Malang sungguh. Terlalu lelah berlari dari kejujuran. Kau perempuan payah. Tak terhitung corat-coret ada di zonamu. Untuk apa menuai dari apa yang bukan kau tanam. Menulis prosa demi prosa patah hati. 

Perempuan oh perempuan, kepada hatimu, jangan miliki segenggam rindu pada jerat yang mencelakakan. Menyusahkan diri. Kau harus bisa untuk memutus circle toxic relationship. Kepada hati perempuan itu, yakinlah tak ada cinta, tak ada sayang bila mendua. Yang hanya dikira-kira, meluangkan waktu di kala luang dan sendiri. Kau tidak bisa menuntut apa dan siapa pun. Janji dalam berbagai-bagai rayuan tabu karena itu tersembunyi.

Ibarat alunan asmara dan perjalanan penuh liku, kau butuh keberanian untuk berhenti. Diskriminasi yang tidak seharusnya, jangan lagi buatmu menjadi penghasil sampah terbaik. Bertimbun kisah tersembunyi, kisah yang belum diceritakan. Sudah cukuplah, tak usah lagi kau membangun hasrat yang tidak hasratmu, kausemaikan keinginan-keinginan bodoh bersama rintik hujan. 

Kepada hati perempuan itu, janganlah bersekutu dengan penyakit ketakutan, kesendirian, itu buat kau menyerahkan diri pada kebinasaan. Tak ada yang benar-benar menerima. Apa lagi yang tidak akan pernah menjadikan kau pilihan dan artikel utama di hari-hari yang ada. Pada kebenarannya, bukankah yang asing akan tetap menjadi asing. Senandung kelabu di cuaca mendung.

***
Rantauprapat, 28 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 26 Agustus 2022

Mengapa Sulit?

@kulturtava
...
Atas nama penerimaan, entah apa yang harus dilakukan perempuan itu? Berbicara dianggap sebagai penggangu, berdiam diri juga akan dipersalahkan. Mengapa sulit? Mengapa sulit bagi perempuan itu? Benar, perempuan itu tidak pernah merdeka. Seperti pohon anggur yang tidak pernah riap tumbuhnya. Harus berkompromi dengan kepala, agar hati terselamatkan. 

Dibutuhkan atau tidak. Ini tentang perjalanan yang tidak pernah direncanakan. Disabilitas, diterima atau terpaksa menerima, dan perasaan yang sulit terdefenisikan. Menerima kenyataan. Gagal bertumbuh dewasa. Definisi tidak berhasil menghambarkan diri pada jerat yang memikat. Amarah, tidak bahagia, dan aura yang suram.

Membiarkan toxic relationship, menyakiti diri. Perempuan itu tidak lagi tahan, namun harus bertahan, ada yang hilang dalam rasa,  mengeluarkan kata-kata pedas pun memberi luka. Berdamai dengan air mata, gelap dan sunyi menjadi sekutu. Mencumbui malam dengan hati yang tidak hati-hati. 

Mengapa sulit bagi perempuan itu untuk berhenti? Apa tidak ada perikemanusiaan dan perikeadilan? Apa karena perempuan itu terbatas dan berbeda? Bagaimana tidak insecure, yang sungguh terjadi sangat mengucilkan hati. Memilih menepi. Dilahirkan tanpa kekurangan, tanpa sebab akibat yang logis, perempuan itu kesulitan untuk menghidupi hidup. Bernapas pun menjadi sulit. Mengapa sulit? Tak pernah ingin sendiri. Tak pernah ingin berbeda.

Entah perempuan itu berhutang pada siapa, harus membayar dan menuai hingga menua. Dan kehidupan perempuan itu ternyata teramat lucu, tidak menabur namun menuai. Lucu yang tidak diwarnai dengan tawa. Hanya tidak tahu, ingin mempersalahkan apa dan siapa. Mengapa sulit? Kata tanya yang paling paripurna untuk perempuan itu puluhan tahun ini. Sering melakukan persembunyian, seperti kucing yang mengendap-ngedap agar tidak mengalami gangguan, tapi gagal. Telinga dan perasaan perempuan itu sering dinodai oleh taburan yang tidak diperbuat atas kehendak dirinya.

***
Rantauprapat, 26 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 15 Agustus 2022

Cerita Perempuan Itu Hari Ini

@kulturtava
...
Self healing, berharap ada. Kesejahteraan pun menjadi. Sulit memahami kalimat 'bahagiakan dulu dirimu sendiri, baru bisa bahagiakan orang lain'. Sering tidak bisa lakukan itu, biarkan bullying dapati diri demi tenang teduh yang lain. 

Demi kebaikan perempuan itu, kamu meredam ego, kembali berada di neraka kata-kata. Akankah ada belas kasih di wujudkan, berharap untuk itu. 

Kamu terluka. 

Hujan di bulan Agustus, bisakah tidak hanya menjadi hujan air mata? Malam ini perempuan itu masih berkali-kali tidak bisa berhenti menangis. Terlalu takut melihat yang akan terjadi. Apakah tabu memberi maaf terlebih dahulu? Perempuan itu bertanya pada diri sendiri.

Merdeka untuk memaafkan dan dimaafkan, titik tamu yang disemogakan. Balada etika yang tidak seharusnya mampu menjadi pembunuh karakter. Kekecewaan yang tidak tersampaikan. Ketika kasih sayang dikalahkan nafsu amarah. 

Lembah dan hutan sakit hati akibat ucap yang dilontarkan, tidak buat hancur berkeping. Perempuan itu ingin kamu menghidupi bahagia, walau sebenarnya tidak mudah. 

Ini cerita perempuan itu hari ini, sungguh ingin yang disemogakan terjadi hari esok. Amin

***
Rantauprapat, 15 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 13 Agustus 2022

Perempuan Itu Tidak Lagi Tahan

@kulturtava
...
Kalah.
Memyerah.
Menjadi sembilu. 
Terlampau banyak efek traumatis.
Perempuan itu mempertimbangkan hal yang akan dilakukan untuk mengakhiri rasa sakit, sungguh ingin menyingkirkan rasa sakit yang berpuluh tahun dialami.

Akhir-akhir ini perempuan itu tidak lagi tahan, sakit tapi hanya diabaikan. Berujung pada kematian kah atau akan terselamatkan. Ada dalam keraguan. Kerumunan duka bersama risau pun menyertai. Butir air mata tak jemu membasahi. Menjadi perempuan yang kehilangan nurani. 

Damai, tidak dijaga betul-betul. Hari ini, perempuan itu berserah penuh pada kalah. 
Hujan kebohongan, kemarahan, keegoisan bertubi menghantam. Bersembunyi di balik kata ROHANI, ternyata menjadi kata-kata sia-sia. Ini yang menjatuhkan, perempuan itu tidak lagi tahan akhirnya. 

Tentang kasih, bullshit.
Ada tapi tidak ada
Tidak ada tapi mungkin ada. 

Gagu, perempuan itu selalu ditawari kesedihan tanpa secuil bahagia. Begitu penuh kerumitan. Masa lalu, perempuan itu, dan masa depan sepertinya tidak bisa sefrekuensi. Saat-saat ini seakan menjadi musium patah hati terberat dalam hidup. Padang ilalang tumbuh dengan riap. 

Perempuan itu ingin menjaga kesehatan mental dan fisik, tapi keadaan terlalu menyulitkan. Diharapkan namun tidak sepenuhnya menjadi. Secepatnya, dalam senyap perempuan itu ingin putuskan rantai kegelapan. Konyol barangkali, seolah perempuan itu mampu. 

Hu, perempuan itu tidak ingin berkhianat dari tanggung jawab terhadap hidup, yang sungguh terjadi adalah hidup penuh ketidakadilan terhadap hal-hal yang perempuan itu jalani, pada hari ini perempuan itu tidak lagi tahan.

***
Rantauprapat, 14 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Malamnya Perempuan Itu Semakin Kelam

@kulturtava
...
Malam ini, perempuan itu tidak memiliki cara membahagiakan diri sendiri. Tidak bergairah melakukan apa pun.

Hari ini, tanggal tiga belas Agustus, perempuan itu kembali kalah. Bersama air mata menghabiskan waktu. Ternyata tenteram tidak menjadi teman hari ini, banyak huru hara. 

Sejarah dahulu kembali terulang. Tidak ada kepedulian. Merasa mampu. Malamnya perempuan itu semakin kelam, tak ada kedewasaan. Gagal naik kelas. Perempuan itu pernah menulis, mengapa harus lari? Kemudian kembali menulis, akhirnya kau kembali. Hari ini, kisah itu terjadi lagi. Kembali atau tidak, keadaan yang memberi jawab, entah akan menjadi entah tidak. 

Malam ini menjadi hujan Agustus bagi perempuan itu, ada ketakutan, kekhawatiran yang beralasan, ada pula kelam kabut yang menguasai. O, mengapa hari-hari perempuan itu penuh kamuflase. Tak ada waktu tanpa menghadirkan kisah nyeleneh yang sempurna.

Semua salah. Tak ada yang benar-benar saling mengasihi, tak ada yang saling memaafkan. Sesudah malam ini, perempuan itu sungguh terlalu takut melihat dan mendengar keributan yang mungkin akan terjadi di dunianya.

***
Rantauprapat, 13 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 10 Agustus 2022

Malamnya Perempuan Itu

@kulturtava
...
Dan tangisnya tak boleh diketahui dan didengar. Sering melakukan apa yang bukan diingin. Andai tak bertemu disabilitas. Andai yang tidak pernah terjadi. Banyak kepalsuan baik di pagi maupun malam hari perempuan itu. 

Namun, malamnya perempuan itu lebih menyenangkan. Bebas berekspresi bahkan melakukan hal-hal nyeleneh yang melepaskan penat. Bukan perempuan itu tidak mengetahui bahwa hidup penuh ketidakadilan, tapi apakah benar tidak ada penerimaan yang benar-benar benar untuk dimiliki?

Perempuan itu ingin menepi dari hiruk pikuk dan balada hidup yang dijalani, walau sebentar saja. Ingin yang hanya sekadar ingin. Terlalu didikte dan harus mengiyakan lagi menurut. Harus tegar dan kuat, namun perempuan itu tidak merdeka untuk mengatakan bahwa ia lemah, sudah sangat lemah. Apakah ada yang peduli dan menyadari? 

Hari ini. 
Terlalu banyak luka yang perempuan itu rasa dan terima. Tatapan dan ucapan yang mematikan. Malamnya perempuan itu yang menenangkan, berbagi segala kesusahan di bawah guyuran shower kamar mandi.

Ia hidup tapi mati.
Ia mati tapi hidup.
Mempertanyakan kepulangan yang sangat-sangat dimau. Angkuh dan tidak ada apa-apanya, berpayung pada amarah. Diresahkan dan meresahkan, karena sesungguhnya perempuan itu takkan ke mana-mana tanpa bantuan. Lagi-lagi tentang disabilitas yang tidak terlihat.

Ia masih belajar menjadi perempuan yang berdamai dengan keadaan! Pahit namun ini adalah catatan perempuan itu hari ini.
Telah terjadi dan menjadi hambar. Pada kesempatan yang lain, apakah malamnya perempuan itu lebih baik dan memiliki makna dari sekedar menyenangkan terhadap hal-hal yang nyeleneh.


***
Rantauprapat, 10 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 05 Agustus 2022

Aduh! Celakalah Aku!

@kulturtava
...
Yang kesekian kali, aku malas dengan kehidupan. Menggerutu. Menikmati umpatan yang keluar demi kepuasan diri. Rencana merinci tenang teduhku menjadi gagal. Aku seolah speech delay hari ini. Menutup diri. Aduh! Celakalah aku!

Hari ini aku ditelanjangi kemarahan, patah dan menyedihkan. Memperkeruh suasana hati yang sudah keruh. Sentuhan demi sentuhan liar, kubiarkan. Problematika otomatis terjadi. Hal-hal yang sudah kupahami, lagi-lagi tidak dihidupi. Tak sanggup kugenggam awareness. Tidak hati-hati dengan rayuan. Membebastugaskan logika. 

Aduh! Celakalah aku hari ini!  Ketika aku tersesat di sudut kehilangan, malah dipermainkan waktu yang luang, sepi dan sunyi. Tak sengaja, tak sengaja, dan tak sengaja. Bukan, bukan,  yang sungguh terjadi adalah hasrat hampa dan kata abu-abu. Tidak hitam tidak putih. 

Ada apa antara kemarahan, ketidakhati-hatian dan aku? Tidak pernah terlintas di duniaku, agar aku menjadi sosak yang mencuri perhatian, entah apa yang dimau dariku. Apa aku seperti nada yang memikat? Mungkin aku terlalu terburu-buru menanggapi apa yang kulihat, kudengar, dan yang kurasakan dengan kemalangan. Barangkali otakku kutinggalkan di entah. Terlalu overthinking.

Do and don't,  aku ada di kebimbangraguan. Pasrah, lebih condong pada kata bodoh sebenarnya. Sudah tak terbilang kata goodbye terucap baik secara lisan maupun tertulis, yang ada berujung pada omong kosong. Dilanggar dan diingkar. Tidak berkualitas. Tidak bisa kumengerti. Tidak bersyukur. Kerinduan untuk mencintai diri sendiri dan berbenah, tak lagi terealisasi, dipenjarakan senyi senyap. Aduh! Celakalah aku! Jika terlalu lama diam dan takluk terus-menerus pada keinginan-keinginan yang bukan inginku. 

Aduh! Celakalah aku! Karena merumitkan diri sendiri, ibadahku menjadi sia-sia. Hampa! 

***
Rantauprapat, 05 Agustus 2022
Lusy Mariana Pasaribu