Pada suatu malam di hari kedua puluh sembilan bulan keempat, sendirian lebih tepatnya dibiarkan sendirian, barangkali ada rasa malu karena keadaan yang disabilitas, menjadi beban mungkin. Benar sakit, tapi itu adalah pilihan, tidak boleh menuntut untuk mendapat perhatian lebih. Seperti hidup dari kehilangan demi kehilangan yang sengaja dibiarkan terjadi.
Mungkin lebih baik hanya menjadi penjaga di rumah walau itu bukan kewajiban tapi bukankah itu lebih baik, setidaknya masih tetap hidup, jangan bertanya dan jangan mengusik. Ini adalah duka di lingkaran dalam. Iya, ini adalah proses untuk terus menjadi manusia dari manusia-manusia yang berisik lagi merasa wow.
Ini seperti kemarau di musim penghujan. Dan untuk menjadi manusia untuk berserah pada kalah, benar-benar membutuhkan energi lebih. Karena masih saja ada perih yang berhati iblis. Yang katanya berharga sekalipun ternyata tidak sebegitunya. Ini adalah elegi dibalik akhir April. Tidak ada damai sejahtera, tidak pernah bisa berhenti di halaman yang sama.
Pada suatu malam, kisah dari rumah-rumah tanpa jendela kembali terjadi, manusia-manusia yang berisik itu membiarkan sayap-sayap itu patah. Menjadi pencuri kebahagiaan yang hebat, dan untuk menjadi Merdeka terhadap manusia-manusia seperti itu ternyata sulit walau sudah berusaha, pada suatu malam di akhir bulan keempat, adalah kisah sedih dan kesepian.
Selepas malam ini dan habis hari ini, pasti ini akan terjadi lagi, entah besok lusa atau ke depannya, dan terus berusaha lagi berdamai karena kehidupan ini punya pilihannya sendiri-sendiri. Bertemanlah dengan diksi dan bercinta lah dengan aksara, rayakanlah patah hati dengan huruf-huruf yang menari di kepala dan hati.
Boom, ketika hanya dianggap debu, biarkanlah! Ketika dianggap tidak pernah ada dan dilibatkan, biarlah. Ketika yang disebut rumah tidak menjadi rumah, tidaklah apa-apa. Ini adalah usai yang tidak pernah selesai, berharap pada suatu malam yang lain, rasa sepi dan sunyi ini akan menjadi tempat untuk pulang dan memiliki percakapan yang berenergi.
Dan bukan hanya mengenggam tunggu untuk menuntut perhatian tapi benar-benar mendapat tempat pulangyangnyaman, berharap itu akan terjadi pada suatu malam yang lain.
***
Rantauprapat, 29 April 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar