Kamis, 27 Januari 2022

Perempuan Itu Ada dalam Waktu Kebodohan

@kulturtava
...
Kalah
Perempuan itu telah kalah
Ia mengeraskan hati, ada dalam waktu kebodohan
Kurun waktu satu tahun, tepat pada hari keseratus, dosa itu merayu lagi, akhirnya perempuan itu terjerat. 

Pagi perempuan itu tidak lagi selayaknya pagi
Malamnya pun menjadi malam yang malang
Ia tidak mampu mengukur diri sendiri
Ada drama besar yang terjadi hari ini.

Sketsa perempuan itu penuh kamuflase
Terkadang ia menyamar menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh 
Terkadang ia menjadi diri sendiri yang penuh formalitas belaka.

Untuk sebuah hasrat yang menggoda, perempuan itu ada dalam waktu kebodohan
Pada suatu pagi, ia seolah berpamitan dari kejujuran
Bersembunyi dalam kepura-puraan
Menjamu diri dengan kasar.

Kali ini, di hari keseratus, perempuan itu yang memulai
Ia lalu lalang bersama kebodohan
Seperti layangan putus
Berteman dengan kemalangan di Januari yang payah
Terjebak dalam dilema, antara ya dan tidak.

Perempuan oh perempuan
Apakah pada suatu hari, ia akan bisa dan mampu mengatakan tidak untuk tidak dan ya untuk ya. semoga dan hanya perempuan itu yang bisa memberi jawab 

***
Rantauprapat, 27 Januari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 11 Januari 2022

Mendung di Awal Januari

@kulturtava
...
Teruntuk L, perempuan itu.

Terpaksa dan enggan menolak, bodoh dan payah. Ingin menangis tapi tak bisa, lalu sepi yang terjadi. Terdapat ratap dan kertas gigi. Ada mendung di awal Januari perempuan itu. Ia tak mendapati beranda rasa romansa yang sepatutnya. Kemalangan seolah mendekat pada perempuan itu.

Januari di hari kesebelas, ada panas dan dingin, kemarau dan hujan, ada penyesalan yang tidak termaafkan. Lagi, ada riwayat luka yang tercipta. Hati perempuan itu menjadi panas, juga mukanya menjadi muram. Dan itu karena kesalahan sendiri. Fragmen bulan Januari yang menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran yang berlebih. Ada ketidakjujuran dalam percakapan yang sia-sia.

Perempuan itu dan tahun kebaikan seolah tidak sefrekuensi, bagaimana pun hari ini ia gagal memelihara diri dari jerat yang mencelakakan. Tentang hari itu dan hari ini,  tentang 11 Januari yang terulang. Perempuan oh perempuan, jiwanya tertekan, ada mendung di mata perempuan itu. Ia tidak mengalami damai sejahtera.

Patah dan menyedihkan.

Perempuan itu menjadi orang asing bagi dirinya sendiri. Tidak bisa berhenti dari kebodohan. Berapa lama lagi harus seperti  itu. Apakah terus memenjara pada perhatian, memenjara pada kenyamanan, apa lagi memenjara pada kesepian, bukan menjadi pemberontak pada kesalahan yang benar-benar salah. Tidak ada cinta hari ini, yang ada malah gelombang yang beraura negatif dan menjadi elegi. Huft, perempuan itu adalah perempuan yang payah. Ia mengalami patah hati lagi dan lagi.

Apakah perempuan berhasil membuat dirinya keluar dari jerat yang mencelakakan?
Mampukah perempuan itu berhasil mengakhiri patah hati di awal Januari? Semoga ia benar-benar mampu menjadi perempuan dewasa yang benar dan tidak lagi menyayangi kedegilan. 

***
Rantauprapat, 11 Januari 2022
Lusy Mariana Pasaribu