Selasa, 24 Agustus 2021

Sketsa tentang Ketidakpantasan dan Perempuan Itu

@kulturtava
...
Tak pernah menjual sesuatu yang salah. Pria dewasa itu tega melukai kepercayaan perempuan itu. Bukankah tidak benar, melakukan diskriminasi di balik kata terima kasih. Sejarah yang dahulu kembali terulang pagi tadi. Sketsa yang suram lalu lalang di benak perempuan itu. Yang ada hanya ketakutan. Sentuhan itu menjijikkan.

Usapan tangan pria dewasa itu seperti sengatan listrik yang mematikan. Ada ketidakpantasan yang ia alami. Dari pria itu, perempuan itu menerima kebencian.

Di manakah hati nurani? 

Bibir perempuan itu mengumpat dan mengucap sumpah serapah. Bibir yang entah sengaja atau tidak, telah dijatuhi noda. Ia benci keterbatasannya. Bercinta saat ia tak ingin melakukan. Perempuan itu berpikir, apakah ia seperti perempuan murahan. Mudah bagi pria dewasa memberikan sentuhan, andai itu dari pria dewasa yang bukan siapa-siapa. Lah ini, pria dewasa itu adalah pria yang harusnya menjaga perempuan itu.

Dan lagi, perempuan itu menyalahkan diri sendiri. Berjalan dalam kegelapan. Menjadikan hari seperti burung yang terperangkap dalam jerat yang menghancurkan. Mempertanyakan tentang identitas diri, tentang hubungan darah. 

Dengan alasan yang pasti, perempuan itu telah kalah dan hujan dengan suka rela menyapa. Hidup yang penuh misteri menyatakan kekejaman hari ini pada perempuan itu. Ah, sungguh malang bukan.

***
Rantauprapat, 24 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 22 Agustus 2021

Lagi, Perempuan Itu Telah Jatuh

@kulturtava
...
Benar, perempuan itu mencintai anda. Namun, malam ini ia memilih berhenti untuk jeda perihal mencintai anda. Anda perempuan dewasa yang mudah jatuh tergelincir pada bujuk rayu seseorang yang bermulut manis. Brengs*k. Entah kenapa anda selalu memberikan perhatian lebih. Padahal ada tertulis: jangan berikan mutiara pada bab*. Lagi-lagi anda mengabaikan itu dengan pasti.

Yang ada, anda memberikan insinuasi yang terselubung. Menyudutkan perempuan itu, anda telah berhasil melakukan sesuatu yang menyakitkan perasaan perempuan itu.  Karena anda, malam perempuan itu seperti burung yang terperangkap dalam jerat. Malam yang malang. Ia perempuan yang terjebak di hutan sendu. 

Sembilan belas Agustus, H-1 hari bahagia seseorang yang bukan darah daging anda. Menjadi hari yang penuh lagu patah hati. Lagi,  perempuan itu telah jatuh.  Jatuh pada ratapan yang disebabkan anda. Anda yang lebih mementingkan seseorang yang BERULANG-ULANG menipu perasaan anda. 

Sementara jika perempuan itu yang merusak kepercayaan anda, tanpa kompromi anda akan menjadi monster yang paling ditakuti. Yang perempuan itu heran, kenapa anda tidak pernah berpikir bagaimana rasa sakit yang BERULANG-ULANG anda tinggalkan. Apa anda malu perempuan itu ada di lingkaran hidup anda? Sepertinya jika perempuan itu tidak lagi ada, anda tidak bermasalah. Pada kemungkinannya perempuan itu hanyalah beban yang menyusahkan. 

Andai anda tahu, perempuan itu benar-benar benar ingin pergi dan menjauh sejauh-jauhnya dari anda. Agar anda terbebas dari kesusahan. Terdengar payah,  namun perempuan itu berharap terjadi keajaiban untuk harapan yang lama ia bangun.  Seperti kata anda, perempuan itu tidak pernah memberikan apa-apa pada anda.  Hingga saat ini pun, perempuan itu masih dihidupi oleh anda. Bodoh, anda lupa, andalah penyebab utama apa yang menimpa perempuan itu. Disabilitas yang sebenarnya bukan disabilitas. Sulit dipahami.

Ah, perempuan gagal mengakhiri patah hati. Tidak mampu menjaga kesehatan mentalnya. Baper yang kebablasan ia biarkan menduduki jiwa dan pikiran. Menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh, tidak terjadi malam ini. Bagaimana dengan besok? Entahlah, mungkin perempuan itu memilih menjatuhkan rahasianya dalam kepura-puraan. Lucu bukan.

Dan, sesuatu yang basah telah jatuh di wajah perempuan itu. Malam ini sulit untuk perempuan itu memejamkan mata. Ia harus menahan diri dari amarah yang menghampiri. Terlihat baik-baik saja padahal sesungguhnya tidak begitu. Demi kebahagiaan anda bersama seseorang yang benar-benar telah bermain-main dengan perasaan anda. Hu, sudahlah. Inilah hidup yang penuh ketidakadilan pun ketidakpenerimaan yang seseungguhnya.

***
Rantauprapat, 19 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 14 Agustus 2021

Tentang Suatu Hari Lain

@kulturtava
...
Perempuan itu pernah jatuh dan jatuh cinta pada anda. 
Pernah bukan berarti masih jatuh cinta pada anda!
Tak ada lagi kesediaan untuk menerima. Cukup, perempuan itu sudah lama berhenti. Dan ada sisi baik berhenti dari anda, mengurangi rasa sakit.

Kemudian, anda yang meluangkan waktu untuk memasuki wilayah perempuan itu. Saat ia bertanya, lalap itu yang anda jawab dan katakan. Perempuan itu sesungguhnya tidak pernah bermaksud mengusik, andalah yang terlalu ketus. Lagi, meninggalkan rekam jejak yang payah.

Pada akhirnya, tentang suatu hari yang lain.  Tidak ada berita untuk itu. Itu harapan yang tidak boleh lagi diharapkan. Sepertinya dahulu pun, anda tidak pernah tulus. Perempuan itu saja yang keliru, meletakkan kebahagiaan pada anda. 

Perempuan itu benar-benar marah pada anda. Ia, diajarkan memaafkan tapi kali ini sikap ketus anda, membuat perempuan itu terbawa emosi yang berlebihan. Sial bagi perempuan itu, ia pernah menulis puisi manis untuk anda. Ternyata itu hanya imanjinasi perempuan itu. Hanya omong kosong belaka.

Setelah perpisahan yang disepakati, kali ini tanpa airmata ratapan. Perempuan itu teguh menyakini, tentang suatu hari yang lain. Itu tak akan pernah menjadi nyata antara ia dan anda. Jika kemudian, anda kembali memasuki kehidupan perempuan itu, ia akan mewaspadai perasaan yang hadir. Berhati-hati, takut baper yang kebablasan merasuk secara langsung.

Perempuan itu tidak lagi ingin menjadi Ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan karena anda. Karena antara anda dan ia, tidak ada cinta yang benar-benar benar. Anda dan perempuan itu adalah ketidakpastian yang sempurna.

***
Rantauprapat, 13 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 12 Agustus 2021

Kita adalah Ketidakpastian

@kulturtava
...
Kebodohan kala itu.

Pada harapanku,  aku pernah menginginkan sebuah rumah denganmu. Rumah yang memberi penerimaannya kamu terhadap ketakutan pun keterbatasanku. Begitu ingin, hingga lupa bahwa kamu bak kilatan LONGGUR yang bernama bahaya. 

Andai, aku bisa terus berandai-andai untuk menjadi selalumu. Aku juga tahu, itu andai yang tak pernah mungkin terjadi. Karena hidup terus memberikan realita. Realitanya adalah kita adalah KETIDAKPASTIAN dari KETIDAKMUNGKINAN. Tidak bisa aku terus menjadi PEMBOHONG untuk diriku sendiri karena merawat cinta padamu.

Mau tak mau, harus melepaskan. Walau sulit dilakukan. Ingin menuju matamu. Menjadi semogamu. Tak berdaya, karena aku yang akan jauh lebih terluka. Banyak yang akan tersakiti jika melakukan itu. Aku pernah menemukan titik kenyamanan saat ada di dekatmu. Larik dari sepasang matamu adalah hal yang bernama cinta yang pernah tumbuh di hatiku. Cinta yang keliru menuju jalannya. Hingga tak akan pernah bisa dihahalkan.  Bukan tak bisa, tapi terlampau sulit.

Kala itu, kisah sepi dan kacau seketika bisa terlepas. Denganmu, aku pernah rela kalah-mengalah dan terperangkap pada rima yang penuh sajak romantisme. Walau tak selamanya, penuh dengan dialog dan percakapan yang berenergi.

Sering aku bersedih setelah membaca dan mengingat harapan yang terbangun terhadapmu. Karena sampai saat ini, kamu masih sibuk di kepalaku. Aku pernah menginginkan sebuah rumah denganmu. Pernah bukan berarti aku  masih menginginkan hal itu. Karena aku tahu, kamu adalah cinta yang berujung salah pada awal pun akhirnya.

Walau sebenarnya perkara kepemilikan hati, itu sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Itu saja. Namun, siapa yang menguasai hati, itu bisa dipilih.

***
Rantauprapat, 20 Juli sd 11 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 11 Agustus 2021

Lagi, Perempuan Itu Seperti Ikan yang Terperangkap dalam Jala yang Mencelakakan

@kulturtava
...
Perempuan itu dan sebuah kisah kekalahan.

Keterbatasan.
Sendiri. 
Takut. 
Khawatir yang berlebih.
Dosa yang merayu.
Enggan namun tidak bisa menolak.
Membuka gelap dan membawanya masuk.
Membiarkan lagu patah hati bersenandung dengan indah. 
Layu dan menjadi duka. Tegar teguh seolah kadaluwarsa dan Rest In Peace.

Mencintai cinta orang lain. Menuntut penerimaan lebih. Bukankah itu menunjukkan kekeliruan. Sepertinya oksigen kesadaran sudah mengasing dari hati.  Mengapa hal yang benar, sulit menetap di musim hidup? Bermain-main dalam waktu yang malang. Lagi dan lagi perempuan itu seperti Ikan yang terperangkap dalam Jala yang mencelakakan. Buat diri berjalan dalam kegelapan. Lesap dan terbunuh dari tenang teduh. Parah. Payah. Bum,  Sial bukan. 

Kata-kata, ingin berhenti. Ingin menyudahi kisah yang berbahaya. Lagi-lagi gagal. Kalah dan hancur berkeping saat tidak ada yang mampu memahami. Ilustrasi demi ilustrasi yang merayu diri tentang romantika kebahagiaan terlalu menduduki jiwa dan pikiran. Hingga lupa tentang hidup yang memang tidak pernah adil. Ketidakberhasilan, keterasingan bukan semestinya buat jiwa bermekaran pada hari-hari yang sendu. Ya, seperti Ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan.

Hu, rumit memang. Bahkan jauh lebih rumit.
Saat diri bertanya berulang kali, rasa sayang yang seperti apa yang ada? 
Ternyata, hanya diam panjang yang menjadi penghuni tetap di setiap jawaban.

Ada yang menawarkan penerimaannya. Penerimaan yang beraroma manis. 
Memberikan cinta.
Cinta yang membuat diri merasakan nikmatnya peraduan hasrat yang menggoda.
Tapi cinta itu cintanya orang lain.
Menolak, tak mampu.
Menerima, lebih tak mampu.

Ingin menjalani hidup yang seperti apa? 
Apakah sanggup menyembunyikan diri dari kesalahan? 
Meninggalkan kepura-puraan.
Seolah membual. Ingin berhenti, ternyata kekalahan yang tercipta. Sejarah yang dahulu kembali terulang. Menjadi perusak. Menjadi pelaku dan terdakwa dalam penembakan yang buat detik air hidup berhenti.

Sampai berapa lama lagi,  bercengkrama dan basah oleh hujan yang tak seharusnya? 
Apakah akan ada jalan yang berbeda untuk perempuan itu? 
Secepatnya, ia harus menemukan jawabannya. Agar tidak menjadi abu-abu. Dan melahirkan prahara bahkan penyesalan yang tak termaafkaan.

Malam tadi, perempuan itu sadar untuk berhenti dan menyudahi kisah yang berbahaya itu.

***
Rantauprapat,  20 Juli sd 10 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 09 Agustus 2021

Perempuan Itu, Telah Jatuh

@kulturtava
...
Perempuan itu bingung menggangap kamu sebagai apa, kekasih kepunyaannya atau bukan. Dikatakan kekasih, bisa. Dikatakan bukan siapa-siapa juga bisa. Jika bersentuhan, ingin rasanya menolak. Jika ada keberpisahan, rindu rasanya nampak terlihat. Terlebih ciuman liar yang pernah terjadi, sulit dilupakan. Ah, entahlah. 

Sedapat mungkin, perempuan itu ingin terlihat wow setiap ada kamu. Berdandan selayaknya perempuan dewasa, mungkin untuk menyenangkan hatimu. Haha. 

Aku ingin berhenti, perempuan itu sudah berkata berulang kali. Berulang kali pula itu tidak terjadi. Sialnya, perempuan itu malah menikmati fase-fase itu. Padahal tak pernah ada janji yang terucap darimu, janji menyemai kebersamaan sekalipun. 

Bodoh. Perempuan dan pria itu telah jatuh. Jatuh hati dan jatuh pada ratapan yang menggoda. Tanpa aba-aba, kamu melakukan aksi yang tak pernah dibayangkan perempuan itu. Kini, kamu mengikuti apa yang dimau, BERHENTI dan membatasi diri. 

Terasing dan keparat. Perempuan itu malah menangis. Kenapa menyesali kepergianmu. Padahal sesungguhnya perempuan itu mengerti, bahwa ia dan kamu sulit untuk dihalalkan. Tetap saja, kamu masih mengusik kepala perempuan itu. Perhatian yang masih kamu berikan, pertanyaan seperti : bagaimana keadaanmu? Kenapa tadi menangis? Ha, perempuan itu butuh kamu. Tidak ingin kamu bersikap dingin, lagi-lagi kebimbang raguan ada. Dan lagi, ia kalah pada keterbatasan yang terlihat. 

Parahnya, perempuan itu masih berharap kamu kembali memberikan perhatian lebih. Harap yang tak lagi boleh terjadi. Ya, kamu si pria borjong. Pria brengs*k yang telah mululuhkan perempuan itu dalam waktu singkat. Perempuan itu lagi-lagi menerima kekalahan yang kejam, bertanya, kenapa harus basah oleh hujan? 

Kamu pria brengs*k yang menyebalkan. Sungguh-sungguh menyebalkan. Perempuan itu ingin menggigit kamu dengan sangat teramat sakit. Dan entah sudah berapa banyak puisi yang perempuan itu tulis untuk menggambarkan perasaan terhadap kamu.

Mau tak mau, rela tak rela, mampu tak mampu. Perempuan itu harus benar-benar berhenti kali ini. 

***
Rantauprapat, 08 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 08 Agustus 2021

Dan Lagi

@kulturtava
...
Apakah hasrat yang menggoda itu, begitu memikat? Mungkin tidak. Mungkin perempuan itu terlalu lelah, tak lagi sanggup untuk menolak. Lebih tak sanggup untuk menerima.

Dan lagi,
Perempuan itu tersesat dan tak tahu arah pulang. Seperti berada di semak belukar kehidupan, tak mendapat oase yang meneduhkan. Ia seperti daun-daun mati. Yang tampak mata hanya kekosongan. Sulit menahan diri dari kesedihan, kebimbang raguan ada di dalam diri. Tak menghidupi keberterimaan. Terkadang seperti ini, terkadang seperti itu. Kebanyakan seperti entah, tak terbaca.

Wajah sendu perempuan itu mengandung ratapan yang sulit terdefenisikan. Jatuh sejatuh m-jatuhnya bersama hujan. Hujan air mata.

Mendung tak selamanya kelabu, perempuan itu tahu dengan pasti. Dan lagi, ia gagal bangkit dari keterpurukan sebab kelabu itu. Langit hatinya dibiarkan menghitam. Benar-benar menangis. Terluka oleh kebodohan. Menahan pedih perih. Perempuan itu menjadi saksi terhadap dirinya sendiri, saksi akan kekejaman hidup. Mau tak mau, meniduri sepi. Meniduri sepi yang menggigit.

Hari ini, perempuan itu serba salah atas sikapnya sendiri. Sulit berkata ia untuk ia, dan sulit berkata tidak untuk tidak. Menolak enggan, menerima pun enggan. Menjadi abu-abu. Entah sampai kapan, perempuan itu tidak bisa melawan perasaan yang keliru. Ia perempuan dewasa yang berada dalam ketidakpastian.

Kini, perempuan ingin berhenti.
Lalu esok, apakah perempuan itu masih ingin berhenti dari hasrat yang menggoda? Yang terjadi, ia tidak diacuhkan. Sakit dan terdampar dalam kehampaan. 
Entah, perempuan itu akan menemukan jawabnya. 

Dan lagi, hari ini perempuan itu kembali berdansa dengan sebuah kekalahan. Menangis seorang diri dalam kesunyian diri.
Mungkin perempuan itu tidak pernah diinginkan malah tidak pernah dianggap ada! 
Mungkin dan sangat mungkin.

***
Rantauprapat, 07 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 05 Agustus 2021

Pernah Bukan Berarti

@kulturtava
...
Perempuan itu pernah gagal mengakhiri patah hati, bukan berarti harus selalu gagal. Ia benar perempuan dewasa yang payah bukan berarti tak bisa bertumbuh dengan riap. Saat lagi-lagi tak mampu menghambarkan diri dari keinginan-keinginan yang keliru, itu bukan bicara tentang  kesengajaan. Lebih kepada, sensitif yang kebablasan.

Saat cinta berujung salah perempuan itu pernah,
Membuat bumi gelap pada hari cerah 
Mengalami hari-hari yang pahit pedih
Seperti Burung yang terperangkap dalam jerat 
Juga seperti Ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan 
Bahkan bak gelembung dan Kupu-kupu yang sayapnya patah.

Kemudian, ketika perempuan itu gagal menerjemahkan cinta.
Ia pernah, 
Merasakan ratapan yang seharusnya tidak dirasakan 
Menjadi perusak dan membunuh ketenteraman hatinya
Menciptakan rahasia demi rahasia yang berbahaya di pagi dan malamnya. 
Bersimpuh dalam hasrat yang menggoda.
Bertahan dalam keegoisan.

Kemarin, ia mendapatkan percakapan yang berenergi.
Pernah bukan berarti harus selalu jatuh pada waktu yang malang. Sulit pasti. Tetap harus berusaha membaca diri sendiri. Mungkin perempuan itu terlalu kesepian. Bukan mungkin, ia sengaja melupa tentang hakikat hidup dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesepian. Seharusnya perempuan itu tidak begitu, begitulah saat tidak bisa berdamai dengan keadaan. 

Jatuh, patah, dan lesap dari kebenaran. 

Perempuan itu pernah bersama sebuah kisah tentang kekalahan. Pernah bukan berarti harus, harus selalu kalah-mengalah pada kemalangan.

***
Rantauprapat, 31 Juli 2021
Lusy Mariana Pasaribu