Berapa lama dan banyak lagi pun waktu untuk menerima luka-luka yang engkau jaga, atas nama janji akan diterima, karena ada luka yang tak dimengerti karena tidak pernah mengalami luka itu. Terkadang, banyak hal-hal yang tidak perlu engkau rasakan pun akhirnya terasa juga padamu.
Namun yang menyakitkan, engkau lebih banyak bercerita kepada orang lain. Membuka aib dan hal-hal yang tidak perlu kepada khalayak yang tidak perlu tahu sebenarnya. Bingung sebenarnya, bener memang engkau perempuan yang tidak menyerah pada kalah tapi engkau juga perempuan yang bersembunyi di balik kata-kata "itulah kekuranganku".
Pada kebenarannya, bukannya engkau adalah semua rumah, tempat pulang, harusnya begitu namun apakah karena luka-lukamu atau karena apa yang kau sembunyikan, entah ketakutanmu entah juga keangkuhan sebenarnya, rumah bukan menjadi rumah lagi. Dan kini kadang kala engkau menjadi perempuan yang tidak pernah terbaca.
Atas nama janji, akan tetap menghargai dan menerima, walau seringkali juga kepahitan yang diterima darimu. Perempuan yang bersembunyi di balik kata-kata, adalah seseorang yang takkan pernah terlupa dan tergantikan dan lebih kepada penerimaan, sebab serpihan-serpihan hati yang pernah engkau terima bahkan masih engkau terima belum terjangkau oleh akan pikiran.
Dari bulan pertama hingga kedua belas sepanjang tahun, bukankah selayak dan sepatutnya tidak setiap hal harus diceritakan, karena akan banyak si pahit lidah yang menjadi bumerang dan batu sandungan, kepada perempuan yang masih sampai saat ini bersembunyi di balik kata-kata "inilah kekuranganku" lebih baik menahan diri dan tidak bercerita tentang hal-hal yang tidak perlu untuk dikonsumsi hingga menjadi artikel utama dan menjadi pergunjingan pun akhirnya menjadi luka-luka yang akan engkau jaga.
***
Rantauprapat, 04 Mei 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar