Rabu, 28 Juni 2023
Bu, Apa yang Kau Pikirkan tentang Kami Anak-anakmu?
Selasa, 27 Juni 2023
Bajingan yang Berengsek
Selasa, 20 Juni 2023
Adalah Hatiku
Sabtu, 17 Juni 2023
Aku dan Kisah si Bajingan
Rabu, 14 Juni 2023
Bajingan dan Horor yang Mematikan
Haruskah tanpa batas? Kebablasan yang menjijikan.
Tanpa malu, datang dengan wajah tanpa dosa. Mengumpat dan mengumpat. Dasar bajingan, bajingan, dan bajingan. Muak. Berpuluh tahun menyaksikan hal-hal bodoh.
Setengah putaran di tahun ini adalah tahun yang beri rasa sakit dengan dahsyat. Dua dasawarsa dan rahasia, terpaksa diam seribu bahasa. Namun, rahasia itu harus terungkap walaupun dengan cara yang berbeda. Bak candu, dan tato permanen yang tak akan pernah terhapus. Horor yang mematikan.
Aib, saat ini kehabisan kata-kata baik. Seperti kali yang habis airnya, kering kerontang. Ini adalah kisah keliaran-keliaran yang merajai hasrat dalam diri. Ini menjadi topik pilihan dan artikel utama yang tidak akan pernah tergantikan, bahkan akan menjadi terpopuler sepanjang nafas masih ada.
Tak ada tenang teduh. Tak ada kemerdekaan. Dosa bertambah sbab kebablasan yang menjijikan. Tak patut. Bajingan, bajingan, dan bajingan. Lebih baik mati dan musnah saja.
Jangan pernah ada lagi rindu. Tak lagi mau membaca segala kebohongan-kebohongan yang ada, hati tlah menyerah kalah. Untuk menangis saja, rasanya menyesakkan.
Terlalu sakit untuk melupakan apa lagi memaafkan kali ini.
Enyahlah sesegera mungkin!
Sirna bersama kewarasan di dalam persembunyian, tak akan pernah terlihat. Boom!
***
Rantauprapat, 14.06.2023
Lusy Mariana Pasaribu
Selasa, 13 Juni 2023
Hujan dan wajah-wajah Duka
Damn, hari ketiga belas bulan keenam tahun dua ribu dua puluh tiga, sejarah yang dahulu kembali terulang. Dahulu suram, hari ini menjadi suram yang kembali. Rasa sakit itu mengangga lebih dalam. Aroma masa silam yang pernah terkubur tlah hidup dan menjadi lebih besar.
Kata-kata belaka hanya mengeringkan tulang, hati sungguh memberontak tidak lagi menjadi berani. Ada perpisahan hari ini, klise, dari dahulu sebenernya pun tlah berpisah.
Hanya kepura-puraan. Hujan di bulan juni. Hujan yang mengguyur dengan dahsyat. Ini adalah suram yang kembali. Krisis kesadaran. Mencipta kehancuran diri, tidak merdeka dalam banyak hal. Sudah dipeluk dalam doa malah kebablasan dalam liar.
Malang, ikatan yang membumi hanguskan. Tak ada kebahagiaan hari ini, hilangnya jejak cinta. Kepalsuan belaka. Yang terlihat hanya wajah-wajah duka.
Ibarat sebatang pohon tua yang tak lagi menghasilkan apa-apa, yang telah layu dan akan mati namun masih saja memberikan rasa susah dan lelah jika dipelihara. Bak kerumunan hujan, terasa mematikan.
Dekapan masa lalu hari ini terulang dan menjadi babak baru yang tak berujung hingga kematian terjadi. Berharap ada kematian yang terjadi, ironisnya. Seorang pria angkuh, seorang perempuan tersakiti, ilalang yang tumbuh di chapter hari ini. Manusia yang kesetanan dan setan yang ada di nafsu manusia.
Bagaimana melewati sisa malam ini?
Terpaksa mengajak mata untuk tidak terlelap, lantas bagaimana selanjutnya? terlalu takut menghadapi kenyataan. Apakah aroma masa silam yang terbuka di setengah perjalanan tahun ini mampu terselesaikan atau malah lebih suram.
Duka, luka, dan masih sangat lelah.
Hujan marah dan benci masih meracau hingga malam-malam begini barangkali juga hingga tengah malam atau fajar menyingsing. Hidup ini terlalu suka mengusili. Entahlah.
Boom, ledakan besar terjadi.
***
Rantauprapat, 13.06.2023
Lusy Mariana Pasaribu