Tak ingin keluh kesah ini menjadi sejarah pemberontakan.
Ah, seandainya tidak pernah sepertinya ini.
Seandainya yang takkan pernah terjadi.
Ternyata sakit, mendengarkan jawaban-jawaban yang diberikan.
Sesungguhnya, tidak ada yang akan menerimanya.
Ke timur berjalan, tak ada seorang pun. Juga barat, tak ada siapapun. Ke utara juga demikian. Hingga ke selatan, tak melihat apa-apa, hanya sendirian.
Selalu mengenakan tudung muka, tak terlihat siapapun.
Padahal sama-sama lahir telanjang, nama kenapa hanya sendiri yang selalu mengenakan tudung muka, basah kuyup oleh hujan lebat dari kata-kata yang dipenuhi kelaliman. Merayakan dari keterbatasan dan ketidakmampuan.
Akan berakhir nihil dan berujung selalu dengan tudung muka?
Terkutuklah, hal-hal yang sering terjadi malah dibiarkan dalam pembiaran. Barangkali sedari awal tidak pernah tumbuh dengan kasih sayang dan selalu dibiarkan dengan tudung muka boleh dikatakan tidak pernah dianggap.
Menderita, penuh dengan cerita akan luka.
Bukan hanya pada malam tak terlihat tapi pada siang hari pun bersembunyi.
Dipatahkan seperti pohon kayu.
Hah, bukan hanya karena gelap gulita tudung muka dikenakan tapi lebih menjaga diri sendiri dengan kewarasan yang masih tersisa sedikit.
Ini catatan di minggu ketiga hari Minggu, hari kedua puluh satu bulan keenam siang hari pukul tiga belas menit tiga puluh satu.
***
Rantauprapat, 21 Juni 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar