Sabtu, 23 Oktober 2021

Buku Cerita Perempuan Itu

@kulturtava
...
Maret dua tahun lalu, tepatnya Maret di hari ke enam belas pada tahun dua ribu sembilan belas, perempuan itu dihadiahi buku yang berjudul : Sebuah seni untuk bersikap bodo amat. Dan itu benar dilakukan, selama dua tahun ini buku itu tidak pernah dibaca. Perempuan itu bodo amat terhadap buku itu. Dasar bodoh, menyia-nyiakan buku yang isinya sangat berdampak. Akhirnya itu tersimpulkan setelah membaca buku itu pada bulan Oktober di hari ke dua puluh dua. 

Sering bahkan teramat sering, perempuan itu menjadi lebih bahagia. Menjadi lebih sehat. Menjadi lebih wow. Ironisnya, itu hanya demi menutupi kekurangan. Itu kegagalan. Sebenarnya tidak mampu untuk itu. Karena jika sedang tidak bahagia, sedang tidak baik-baik saja. Jangan memaksakan diri. Begitu saja seharusnya. Yang menjadi realita, perempuan itu tidak merdeka melakukan hal itu. 

Buku cerita perempuan itu dipenuhi ketakutan, kecemasan yang menimpa ia menjadi lebih cemas dan takut. Setelah membaca buku hadiah itu, buku sebuah seni untuk bersikap bodo amat. Ia menertawakan diri sendiri. Berpikir dan bertanya, mengapa ia tidak mendatangkan sikap bodo amat terhadap sisi hidup yang telah dilalui. Tentunya tidak di setiap aspek.

Perempuan itu tahu, ia berbeda, ia terbatas. Karena inilah fakta tentang buku cerita perempuan itu. Ia harus belajar buat bersikap bodo amat terhadap hal-hal yang menjatuhkan, yang menimbulkan ketakutan, kekhawatiran yang mungkin akan terjadi. Perempuan itu harus bertumbuh dan belajar memiliki sikap, kerelaan untuk menjadi berbeda. Dan itu tidak apa-apa, karena tidak ada yang sempurna. Dan, kenapa harus membiarkan kekhawatiran dan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi membunuh kesehatan perasaan pun pikiran?

Perempuan itu harus mencintai diri sendiri dengan sederhana. Menghidupi bahagia dan jangan berusaha untuk merumitkan diri dengan kekhawatiran yang berlebih.

Hari ini,  Oktober pada hari yang kedua puluh tiga, perempuan itu mengalami masa sukar namun mengalami pula pencerahan dan ia harus tetap kuat. Pilihan yang harusnya dilakukan, mengandalkan dan berserah penuh pada Sang Pemilik Kehidupan. Tidak terlalu gusar. Mengenai sesuatu yang perempuan itu namakan harapan, ia harus percaya, jika itu bagian hidupnya, itu akan menjadi nyata. Dan, sudah berusaha untuk itu. 

Benar, dalam buku cerita perempuan itu, ia harus harus benar-benar merdeka terhadap diri sendiri dahulu. Kemudian, tidak selalu berinisiatif terhadap semua hal, namun untuk setiap hal yang penting dalam hidup. 

***
Rantauprapat, 23 Oktober 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 19 Oktober 2021

Perempuan Itu adalah Aku

@kulturtava
...

Tak mau terkulai layu. Hari ini, perempuan itu disapa kesadaran lagi. Terdengar jelas, bahwa hari ini adalah kesempatan. Besok belum tentu jadi milik perempuan itu. Tak ada yang bisa mengetahui waktu.

Begitu banyak rahasia dan telah menjadi beban hidup. Kemarau panjang yang diizinkan perempuan itu buat ia terhilang. Memikirkan sesuatu yang bukan bagian diri padahal tak mampu apa-apa. 

Perempuan itu ingin memiliki the power of no pada sesuatu yang tidak benar. Tak berlama pada kegetiran. Tak terkungkung pada malam dan pagi yang malang. Apa lagi merasa sendiri di saat merasa tak mendapatkan penerimaan. Perasaan yang hanya dikira-kira.

Terlalu sering membiarkan baper yang kebablasan merajai hati dan pikiran. Ngarep pada hal yang sudah tahu bukan bagian perempuan itu. Menjadi penggangu dan perusak kepercayaan. Dasar, perempuan yang payah. Hilang dan pergi dalam kesedihan, bahkan berada di entah. Perempuan itu tidak merdeka. Tidak menghidupi bahagia.

Bodoh bukan. Gagal mengakhiri patah hati padahal tahu dan mengerti, tidak ada yang benar-benar memahami perempuan itu selain diri sendiri.

Ah, sudahlah.

Kesadaran yang bertamu di kepala perempuan itu malam ini, berharap tidak sia-sia. Tak pula hanya berteori, namun ada tindakan nyata yang terjadi. Beranjak jauh-sejauhnya dari tikungan yang merusak diri. Jika tidak, perempuan itu akan menangisi hal-hal yang itu-itu melulu, penyesalan yang berulang.

Benar, adalah baik bagi perempuan itu untuk berhenti dari kebodohan demi kebodohan yang dilakukan. Benar-benar berhenti. Jika esok, perempuan itu masih bernafas, biarlah ada kesadaran untuk menghargai kesempatan dan belajar menjadi manusia yang tahu diri. 

Sesungguhnya itu harapanku. Bahwa aku sungguh ingin perempuan itu mampu menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh.

Karena kebenarannya, perempuan itu adalah aku. 

***
Rantauprapat, 08 Oktober 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 06 Oktober 2021

Perempuan Itu dan The Power of No

@kulturtava
...
Lagi-lagi perempuan itu menangis. Jatuh pada kekeliruan. Sebelumnya, ia sudah kehilangan berkali-kali demi kebaikan anda. Menutupi kesalahan demi kesalahan. Dan hari ini yang anda perbuat malah rasa sakit. Membuat perempuan itu tidak merdeka. Menghempaskan perempuan itu pada kesedihan. Karena anda, perempuan itu rela terperangkap dalam jerat pada lingkaran-lingkaran anda yang lain. 

Lima Oktober tahun pertama perempuan itu dengan anda, tahun pertama untuk kejadian yang sudah terlalu lama terjadi. Bosan, lelah. Tersesat dan kehilangan. Seperti titik-titik yang tidak menemukan titik. Sejarah dahulu kembali terulang. Masa kecil yang menakutkan. Anda seperti monster yang memberikan dampak jera. 

Perempuan itu ingin menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh. Ingin berhenti dan tidak lagi nakal. Namun ada saja yang menjadikan itu gagal. Tekanan, rayuan, ketidakpenerimaan, penolakan. Ah, entahlah. Rekam jejak yang anda tinggalkan itu, sudah buat perempuan itu alami kematian. 

Tidak ada cinta hari ini. Yang ada hanya rasa sakit. Penyesalan yang tidak termaafkan. Pertemuan dan tamu yang tidak pernah direncanakan  berakibat kesalahan yang berulang. Pertemuan yang ambigu, ada kebahagiaan ada pula luka yang buat kepala pusing. Tidak bisa berhenti, tidak bisa atau tidak mau? Perempuan itu tidak merdeka untuk memberi jawab. Mau sampai kapan dan berapa lama lagi? Penolakan anda menjerumuskan perempuan itu. Seperti Ikan yang terperangkap dalam jerat yang mencelakakan.

Kesunyian menenggelamkan perempuan itu. Andai waktu bisa diulang. Andai yang tidak akan pernah terjadi. Mungkinkah harapan yang disemogakan perempuan itu akan menjadi nyata. Benarkah perempuan itu adalah perempuan yang diinginkan atau hanya tempat bermain dan persinggahan di kala luang? Apakah patah hati akan diderita seorang diri oleh perempuan itu? 

Hal yang seharusnya mudah untuk perempuan itu, kini seakan menjadi sangat sulit. Anda sudah memberi rasa sakit yang tidak akan terlupa, sekalipun ingin lupa atau pura-pura lupa. Bahayanya perempuan itu masih mau dipeluk anda.
 Ini akibat tak hati-hati dengan hati. Bukankah sudah terlampau banyak kebodohan demi kebodohan yang perempuan itu lakukan bersama anda.

Entah akan menjadi seperti apa, anda dan perempuan itu? Entahlah. Anda datang dan menawarkan rasa, rasa yang sungguh-sungguh rasa atau rasa yang dikira-kira karena hasrat semu.  Move on dan the power of no, akankah itu ada di kamus perempuan itu untuk anda? 

Jadi, perempuan itu belum tahu sudah bisa berhenti dari anda atau belum!

***
Rantauprapat, 05 Oktober 2021
Lusy Mariana Pasaribu