Minggu, 28 Februari 2021

Telah Degilkah Hatimu pada Keberterimaan?

@kulturtava
...
Malam ini hujan deras turun, suasa begitu dingin. Betapa tak ada sejahtera yang terasa di saat ini. Telah degilkah hatimu pada keberterimaan, hingga rasa takut yang menaungimu. Pada saat kesukaran menghadang, harusnya kamu mampu memelihara diri dari kesukaran. Bukan malah tersesat dalam gelapnya kesukaran.

Kau malah berpikir tak henti tentang paradigma yang mengkotak-kotakan keterbatasanmu. Hatimu kau biarkan degil karena kepayahanmu sendiri. Kau patah hati. Dalam langkahmu, kau berjalan lunglai  tanpa semangat. Seharusnya kau memiliki ASA dalam hidup.

Telah degilkah hatimu pada pemahaman tentang impian tak selalu beriringgan dengan kenyataan. Terkadang realita bisa dan sangat bisa menjadikan diri tak tenang teduh. Bukan berarti itu menjadikanmu hampa. 

Kuharap. Di satu hari yang lain, kau kembali bangkit, untuk melangkahkan kaki keluar dari keterpurukan. Lihat, burung yang tidak menabur saja bisa menuai. Apalagi kau yang bisa menabur. Kau pasti bisa menuai. Yang terpenting, kau jangan kaku di antara duri-duri tajam kehidupan yang terlihat pun terjadi dengan nyata.

Jika kau terus mendegilkan hati dan membiasakan diri redup dan terbenam dalam kehampaan dan kekhawatiran yang berlebih, kau yang tidak bisa memaknai hidup dengan sentuhan cinta. Hidup yang sebenarnya penuh keindahan. Barangkali, nanti. Kau akan benar-benar menjadi seseorang yang tak lagi mendegilkan hati pada keberterimaan hidup. Aku sebagai seseorang yang ada di hidupmu, berdoa pada Tuhan untuk itu.

Sekarang aku berharap dan menunggu kau kembali bangkit. 

***
Rantauprapat, 23 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kebenaran Lepas dari Ingatan

@kulturtava
...
Ahh, perempuan oh perempuan. Kenapa kebenaran lepas dari ingatanmu. Pada hari terakhir minggu itu, hari terakhir di bulan pertama. Kau merasakan ratapan yang seharusnya tidak kau rasakan.

Sebab noda gelisah dan gentar menimpamu. Padahal, kau sudah memelihara diri dari kesukaran. Saat dosa itu merayu lagi, hatimu terjual dengan murah. Kau lupa pada batasan, kepandiran yang paling menguasai jiwamu.

Padahal kau tahu, kalau kau itu sampah yang sudah di daur ulang. Lupa pada hakikat keberadaan. Ah, batasan yang benar lepas dari ingatan. Perempuan oh perempuan, kenapa engkau mudah jatuh pada kesia-siaan.

Oh perempuan, untuk apa kau layu oleh angin timur. Kau menjadi tidak bertumbuh dengan riap. Tak ada gunanya, tenang teduh lepas dari ingatan. Apa lagi basah oleh hujan.

Sepatutnya, kau mengheningkan cipta pada dosa yang merayu. Menghambarkan diri pada keinginan-keinginan semu. Berhentilah mencari tahu jawaban-jawaban dari pertanyaan yang mengusik perasaanmu. 

Mengapa kau sandarkan dirimu pada ketidakberdayaan. Ahh perempuan, jangan lagi-lagi bermain dengan kemalangan. Seharusnya, jalan yang benar tidak lepas dari ingatanmu. Dan kau bisa melanjutkan perjalanan hidup yang masih dianugerahi padamu dengan perasaan damai sejahtera.

***
Rantauprapat, 31 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Ragu yang Mengikat Rasa

@kulturtava
...
Aku sedang. Aku sedang  digelayutberati kebimbang raguan. Terlalu takut, melihat keterbatasanku, melihat keterbatasanmu. 

Jujur, ada ragu yang mengikat rasa. Sampai ada air mata cinta. Bukan tak ada bahagia, namun seringkali kesedihan buat ragu itu menyeruak. Saat aku sedang sayang-sayangnya, apakah kedatanganmu hanya untuk canda dan kepura-puraan?

Tak ingin, satu hanya menjadi peribahasa. Tak mau lagi, menjadi kecut dan tawar hati. Aku tahu, atas ijin kita kisah ini ditulis dan dimulai. Sepertinya apa akhirnya? Aku sedang dalam keraguan untuk menterjemahkan itu. 

Ada ragu yang mengikat rasa.
Pagi merindu 
Malam merindu.
Namun, ada rindu tanpa kata.

Memilihmu, akankah memilikimu? 
Ragu masih sedang terus mengoda.
Kini, keyakinan hati sangat dibutuhkan.

Apakah diriku dan dirimu, akan kembali? 
Atau akan terus lari dan bersembunyi! 

Pada segala keadaan, aku akan berdamai dengan penerimaan. Walau itu sulit. 

***
Rantauprapat, 22 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 25 Februari 2021

Terima Kasih, Kamu

@kulturtava
...
Terima kasih, kamu. 
Kamu, seseorang yang sebelumnya asing bagiku. Datang dengan pertanyaan, bagaimana jika aku memasuki kehidupanmu? Apakah kamu risih, tanyamu kala itu. 

Kesendirianku termentahkan karena kebersamaan yang hadir bersamamu. 

Mendung di mataku, yang disebabkan ketakutan yang menduduki sebagian hati dan pikiranku, perlahan berguguran. Sebenarnya, kamu yang membawaku ke zona romantisme. Yang terkadang menjelma hura hara. Menimbulkan patah hati kadang kala. Namun, aku sudah memutuskan untuk memberi kepercayaan terhadap hatiku padamu. 

Terima kasih, kamu. 
Pria 07 Aprilku. 
Sudah saatnya, aku melangkah. Meninggalkan ketakutan dan kesendirianku. Padamu, kuingin melengkapi ilustrasi yang ada bersamaku. Karena aku merasakan, kesediaan untuk menerima kenyataan tentangku darimu. Terlebih saat tatapanku ragu dan kebekuanku terlihat dengan liar, kamu mampu meredam emosimu. Pun tidak menyudutkanku. Terima kasih, kamu. Kekasih yang kupilih.

Wahai kamu. Sekarang ini, tanpa ragu
holan sasada ho do, yang kuminta di dalam doaku, untuk menjadi teman hidupku. Semoga semesta merestui. 

***
Rantauprapat, 25 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 24 Februari 2021

Terjerat pada Waktu yang Malang

@kulturtava
...
Pagi itu, pada hari yang kedua puluh empat bulan kedua, perempuan itu tidak bisa menguasai diri sendiri. Ia menyerahkan waktu luangnya pada hasrat yang menggoda. Dosa itu merayu lagi, dan ia jatuh pada ratapan.

Ia terjerat pada waktu yang malang, dengan sadar menjadi gelembung dan kupu-kupu yang sayapnya patah atas kehendak sendiri. Payah, angkuh, bodoh. 

Perempuan itu sudah asing dari koridor yang sebenarnya, ini hal yang menakutkan, tapi ia sulit untuk memberontak. Lagi-lagi, ada penyesalan yang tak termaafkaan untuk diri sendiri. Pada hari ini, ia bersembunyi di balik kata "lugu".

Akhirnya kalah pada hasrat yang bukan milik perempuan itu, liar dan ganas. Menikmati basah oleh hujan. Sepertinya, ia akan menjadi kecut dan tawar hati. Terancam, karena hati perempuan itu tak lagi tenteram.

Ia marah pada diri, tapi turut pula menikmati kebodohan. Perempuan itu mengheningkan cipta dari kebenaran, pagi tadi sebenarnya kegirangan sudah melayu. Ia mengadopsi kesia-siaan.

Selalu menjadi alasan untuk kalah, ketika waktu senggang yang perempuan itu miliki tidak disertai kebenaran. Tak perduli pada hati nurani, terjerat pada waktu yang malang.

Ah, untuk kesekian kalinya. Perempuan itu tergoda pada dosa yang merayu. Sampai kapan, perempuan itu terus jatuh dan tak melepaskan diri dari zona berbahaya? 
Sebenarnya ia takut dan gentar, tapi lagi-lagi ia hanya diam dan membisu. 

Jujur, perempuan itu sedih. Ia merasakan longgur berbunyi dengan keras di dalam hati dan kepalanya. Tapi untuk bangkit, ia sulit. Tak ada tenang teduh hari ini pada perempuan itu. Seperti pohon Anggur yang tidak riap tumbuhnya, begitulah drama yang diciptakan perempuan itu pada dirinya sendiri hari ini. Terjerat pada waktu yang malang.

***
Rantauprapat, 24 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 23 Februari 2021

Berapa Lama Aku Ingin Mencintaimu?

@kulturtava
...
Akhirnya, aku berhasil mencairkan keterasingan di antara hati kita. Ragu yang mengikat rasa, sudah dimentahkan. Setelah sekian lama, kita saling diam. Bertahan dalam keegoisan.

Ternyata masih ada cinta hari ini. Aku perempuan 16 Maret sudah jatuh hati padamu pria 07 April. Di antara waktu yang dipenuhi kekosongan, akhirnya kamu datang memberi kelegaan. Menyederhanakan hal yang rumit dalam relasi kita. 

Semoga satu bukan hanya peribahasa untuk kita kali ini. Mencintaimu itu rumit, begitu pula sebaliknya. Yang kuingin, rasa kita tidak berkhianat pada harap. Aku terlampau takut memikirkan, setelah tidak denganmu akan seperti apa nantinya.

Kamu adalah filosofi yang ingin kupelajari. Sampai kita ada di tahap perhentian yang bernama titik. Aku tahu, jatuh cinta dan dicintai itu belum tentu terjadi berkali-kali. Aku menyemogakan, kita menjadi sepasang dan menjadi satu.

Aku mencintaimu. Lantas, jika aku ditanya, berapa lama aku ingin mencintaimu? Selama yang kumampu. Bukan berarti, aku membenci. Bukankah banyak seni dalam mencintai, yang terkadang meninggalkan banyak kericuhan dan keresahan. Mengakibatkan kerumitan di hatiku.

Berapa lama aku ingin mencintaimu? 
Bisakah kita menjadi sepasang?
Bisakah kita menjadi satu? Merupakan pertanyaan demi pertanyaan yang kumau mampu menumbuhkan bahagia di duniaku. 

Ini cerita tentang aku dan seseorang yang kuharap menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

***
Rantauprapat, 23 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 22 Februari 2021

Aroma Penghapus Kenangan

@kulturtava
...
Aku sudah menemukan aroma penghapus kenangan dari kisah cintaku yang terdahulu. Kini, sudah ada cinta baru yang tumbuh di hatiku. Ada harapan yang ingin kuraih kali ini.

Sudah beberapa waktu ini, aku sedang basah. Basah oleh hujan berkat, kehadiran seseorang yang tak pernah kuduga sebelumnya. Ya, kamu, seseorang yang sudah mementahkan duka karena ketakutan pun kesendirianku. Sungguh, aku ingin menggapaimu. 

Kamu yang bertamu dan mendekat ke arahku, menghadirkan aroma penghapus kenangan. Tanyamu kala itu, bagaimana jika aku masuk di kehidupanmu? Sejenak aku terdiam, namun itu pertanyaan yang kusyukuri. Dan, apakah aku juga seseorang yang akan menjadi aroma penghapus kenangan dari kisah lalumu? Kuharap demikian adanya.

Rasa ini. Aku sungguh ingin tidak lagi berkhianat pada harap. Aku ingin bersamamu, menemani kisah hidupku. Dengan segala kesulitan yang akan ada, barangkali demikian. Bersama bahagia yang menari-nari, tentu aku tak boleh mengabaikan keberterimaan. Aku ingin menuju dirimu, lantas apakah itu akan beriring  dengan realita. Aku hanya bisa menyemogakan itu dalam doa dan usaha yang kumampu. 

Yah, terhadap kamu, seseorang yang memberikan aroma penghapus kenangan dari kisah laluku. Aku sudah memutuskan untuk berpaut dan melepaskan keraguan terhadap diriku sendiri. Padamu, kuingin menggapai cinta yang sesungguhnya. Semoga yang kusemogakan pun menjadi semogamu.

Dan kita, sama-sama menjalani setiap tanda baca yang harus dihadapi hingga kita berada di pencapaian hasil yang berada di titik. Ada kalanya lampu kuning, merah dan akhirnya kembali hijau. Bisakah kita seperti itu? Semoga akan menjadi nyata.

***
Rantauprapat, 20 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 21 Februari 2021

Ketika Satu Hanya Peribahasa

@kulturtava
...
Ah, lagi-lagi keraguan menduduki pikiranku. Bagaimana tidak, sikap abai seseorang yang kusemogakan untuk menjadi jawaban dari pertanyaanku, membuat hal-hal yang kutakutkan malah menjadi-jadi.

Mungkinkah ini menjadi sebuah kejadian yang melatarbelakangi kehilangan. Mematahkan harapan. Mementahkan kebahagiaan yang diinginkan. Ketika satu hanya peribahasa, akankah kalimat ini akan berujung pada hatiku? 

Aku sudah sejauh ini. Melepaskan ketakutan pada disabilitas yang menghantuiku. Tapi kali ini, sepertinya ada keraguan yang mengikat rasa. Entah karena keterbatasanku. Entah karena keterbatasanmu. 

Ketika satu hanya peribahasa? Yang terjadi adalah patah hati. Aku menjadi kaku/gagu. Merasakan ratapan yang tidak ingin kurasakan. Mungkin sebenarnya, perasaan kita hanya sebagai persinggahan bukan perasaan yang ingin menetap.

Ketika satu hanya peribahasa? Sepertinya perasaanmu dan perasaanku adalah ajang untuk berpura-pura di dalam canda. Ahhh, menyebalkan bukan. Hati dan mata tersibukkan pada keegoisan.

Huft, sakit sekali. Ketika satu hanya peribahasa. Aku jadi kecut dan tawar hati.

Saat-saat seperti ini, aku ingin menjadi  batu, agar aku tidak lagi mendengar dan memperdulikan yang kudengar dan kurasakan. Harus merelakan dan melepaskan diri dari aroma penghapus kenangan yang kuingin jadi teman hidupku. Ternyata rasa, bisa berkhianat pada harap.

Apa lebih baik dari awal, tidak membuka hati. Lebih baik jomblo sepertinya dari pada seperti ini.

***
Rantauprapat, 21 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 20 Februari 2021

Berkhianat pada Harap

@kulturtava
...
Ah, menyesakkan hati ketika realita berkhianat pada harap. Pernah meyakinkan hati kalau sudah menemukan jawaban dari pertanyaan/ketakutan, lalu keraguan menghempaskan keyakinan itu.

Di teka-teki zaman ini, sepertinya harus mampu untuk memiliki self awareness, saat hati/logika berkhianat pada harap. Yang terjadi adalah , di Mesopotamia kehidupan hanya terlihat Lo Ruhama.

Namun, inilah ketidakpastian yang sempurna. Tak ingin menjadi lalang di antara gandum, nyatanya ada sebuah jurang yang tak terseberangi. Malah menjadi pohon Anggur yang tidak riap tumbuhnya.

Tentang kisah, 
Tentang kejadian yang hanya bisa direlakan, 
Tentang harapan yang tak bersinergi dengan hidup, 
Lagi-lagi, yang diperlukan hanya berdamai dengan keadaan. Yang diperlukan hanya keberterimaan. 

Dan jangan biarkan isi hati/kepala dibunuh dengan segala sarkas/rusuh yang memang terlihat saat realita berkhianat pada harap. Jangan pula menjadi gaduh dan gagu terhadap ketidakadilan hidup yang membuat patah hati.

Memang begitulah kehidupan, ada saatnya merasakan bahagia, ada saatnya pula merasakan luka. 

***
Rantauprapat, 19 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 19 Februari 2021

Tentang Rumah Kita

Ilustrasi : itsbeautifultree.com
...

Ini cerita tentang rumah kita.
Rumah kita yang dahulu sebenarnya bukan rumah kita.
Kini, aku menyaksikan sendiri kemurahan Tuhan. Rumah kita telah benar-benar menjadi rumah kita. Tempat kita berbagi kisah dan membangun banyak harapan. 

Februari, menjadi bulan kasih sayang yang melengkapi kenangan rumah kita. Di sini, di Rantauprapat. Hari kedelapan belas dan kesembilan belas bulan kedua, yang kita semogakan menjadi nyata. 

Ini rumah kita, rumah yang semakin tidak membuat kita bersekat. Rumah yang tidak menjadi aroma penghapus kenangan, rumah (tempat) yang tak berkhianat pada harap. Rumah kita adalah kampung halaman tempat pulang dan sesuatu yang bisa termiliki.

Ada perasaan bahagia tentunya. Dan aku tak bisa melupa atas kejadian yang bernama kemurahan Tuhan untuk rumah kita. Ketakutan demi ketakutan yang menghantui sebelum ini, akhirnya terpatahkan.

Rumah kita. Rumah impian yang di dalamnya ada banyak cinta. Cinta orang tua, cinta anak bahkan cinta saudara. Ini cerita buat kita. Banyak senyawa yang sudah/akan tercipta dari rumah kita. 

Hari ini dan saat itu. Hari ini adalah saat di mana, kita benar-benar hidup di rumah kita. Saat itu, saat kita melukiskan banyak harapan bahagia untuk rumah kita. Rumah kita di bangun atas nama cinta. Kini, kita sudah menghidupi cinta itu.

Syukur dan terima kasih kuucapkan pada Sang Maha Sempurna atas kemurahan yang boleh kusaksikan untuk rumah kita.

***
Rantauprapat, 19 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 18 Februari 2021

Pun Aku

@kulturtava
...
Benar. Aku adalah kekasihmu. Aku menjadi perempuan yang menerima kesadaran hati karenamu. Kini, aku kalah. Pun aku digelayutberati kekhawatiran. Oh hidup, kenapa aku harus berbeda?

Kau tahu dengan pasti, betapa aku takut memulai. Aku menahan diri untuk karena ketakutan. Setelah memulai, ketakutan yang lain kembali menjadi-jadi dalam diriku. Aku takut kehilangan. Bukan hanya aku, kau pun sudah memiliki ketakutan yang sama. Dan aku menangis, kau pun menangis. Tapi yang siapa yang benar-benar menangis dan benar-benar takut kehilangan, sepertinya itu akan menjadi sebuah rahasia.

Masih bolehkah aku berharap? 
Menyemogakan tentang kita. Atau kita,  aku/kau akan benar-benar kehilangan. Menunggu hiruk pikuk untuk terjatuh. Bahkan sebelum pertarungan yang sebenarnya dimulai, kita sudah memilih berpisah. 

Pun aku, kian bertanya. Di kedalaman hati, apakah kita sebagai kekasih : benar-benar saling menginginkan. Mencairkan keterasingan dan mengakhiri patah hati yang merayu. Lalu seperti apa, apakah kita akan menjadi kampung halaman dari cinta yang sudah terjalin? Pun aku tidak tahu untuk memastikan itu.

Atau, akan ada jurang yang tak terseberangi di antara hati kita? Kita memilih, namun tak memiliki. Ahh, menyesakkan memang. Pada waktu-waktu yang memberi keraguan, aku hanya pasrah. Mengenai perjalanan hati, mencintaimu tapi dengan banyak tapi lainnya...

Akankah kita tersesat dan berputar-putar pun benar-benar menghilangkan kisah yang kita pilih? 

Pada akhirnya.
Tentang keinginanku, 
Tentang harapanku,
Aku hanya bisa menyemogakan. Meski aku sendiri tidak cukup yakin. Entah yang kusemogakan akan menjadi masa depan dalam semestaku. 

***
Rantauprapat, 18 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 17 Februari 2021

Merasa Sedih dan Gentar

@kulturtava
...
Lagi. Perempuan itu merasa sedih dan gentar. Rasa nyaman sepertinya tak lagi berteduh di bawah pohon keyakinan. Lalu, perempuan itu pergi bersama penyesalan. Kebingungan dan gelisah.

Perempuan itu mempersilahkan gelombang yang membuat jeda ada di antara hati. Mempersalahkan diri dan mempertanyakan. Seperti gelembung dan kupu-kupu yang hilang arah. Perempuan itu dalam kebingungan, tak tahu arah mana yang harus dituju. 

Melumat kesepian. Perempuan itu ingin menepi dan memilih sunyi menjadi teman. Ia tak mampu bersuara. Merasa hanya menjalani hidup dengan memberi beban. 

Ya, sepertinya tidak ada cinta hari ini. Apakah perempuan itu hanya bersimpuh di dalam hamparan semu? Entahlah. Perempuan itu kalah. Sebuah cara melupa ingin dilakukan oleh perempuan itu. Agar ia tidak berada di entah. Agar mendung tak bertahan lama dalam mata perempuan itu.

Perempuan itu menyerah. Bertahan dalam keegoisan. Jatuh pada dosa yang merayu. Dosa yang menghakimi diri sendiri. Hari ini, perempuan itu merasa sedih dan gentar. Hari ini kembali perempuan itu pada hujan. Hujan ratapan yang seharusnya tidak dirasakan.

Seharusnya, perempuan itu tidak jatuh pada kesia-siaan karena ketidakberterimaan. Namun seringkali ia kalah. Hari ini, perempuan itu sedang patah hati. Bagaimana dengan besok? Tak ada yang bisa mengetahui, bahkan perempuan itu sendiri. 

Lalu, siapakah sebenarnya perempuan itu? Apakah aku? Mungkin ya, mungkin juga tidak.

***
Rantauprapat, 16 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 16 Februari 2021

Jurang yang Tak Terseberangi

@kulturtava
...
Aku tak ingin ada jeda di antara kita. Ada jurang yang tak terseberangi. Mengenai kamu yang merupakan pertanyaan yang menyusahkanku, aku tetap merindukan bisa menapaki sejarah bersamamu. Kali ini, aku terlampau takut memikirkan, setelah tidak denganmu, akan seperti apa nantinya.

Aku ingat betul, 
Saat itu, saat di mana kau membuatku mengalami keberterimaan dan riwayat luka tidak lagi menguasai diriku. Dan, saat kamu bertanya : bagaimana jika aku masuk di kehidupanmu? Itu pertanyaan yang secara tidak langsung memberikan teduh dalam hatiku.

Sebab kehadiranmu memberikan kesempatan bagiku untuk merasakan kembali damai sejahtera perihal masa depan yang sebenarnya penuh ketidakpastian yang sempurna. Di antara kita. Aku sungguh tahu, banyak keterasingan yang nyata, namun keterasingan itu bukan seharusnya mencipta jurang yang tidak akan terseberangi oleh aku/kamu.

Kesunyian jiwa yang pernah menggenapkan aku/kamu biarlah menjadi sebuah pembelajaran. Pada ketidakpastian yang sempurna, kita tidak boleh membiarkan diri terjerembab dalam hamparan semu. Bersimpuh dalam hasrat yang berbahaya.

Tapi biarlah, kita meminta dan berserah sepenuhnya pada pertolongan Sang Maha Sempurna. Lalu di manakah kita akan berakhir? Akankah pada kejadian yang bernama patah hati atau sebaliknya, entahlah. Aku tak bisa memastikan itu. Karena aku/kamu bukan manusia yang berpangkat Tuhan. 

***
Rantauprapat, 16 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kenapa Layu?

@kulturtava
...
Dalam kemalangan, perempuan itu sudah kehilangan damai sejahtera. Mau tak mau, ia bertahan dalam sunyi. Di selasar sepi, ia menjadi layu. Kenapa layu? Lagi-lagi kesengajaan ia rasakan. Gandum itu memberi ketidakadilan. Tatap hampa yang penuh ratapan. Ia ingin mati. Tak berhasrat bahkan tak bergairah.

Apakah perempuan itu akan terus seperti ini? Kenapa layu? Kenapa harus berbeda? Perempuan itu juga ingin berbahagia. Hidup rasanya telah berkabar, bahwa perempuan itu memang berbeda. Lantas, mengapa ketenang teduh harus berhenti? 

Seberapa banyak, keberterimaan yang harus dimiliki perempuan itu? Kembali perempuan itu pada hujan, hujan air mata. Ya, malam ini ia telah kembali pada hujan. Lalu, perempuan itu pergi bersama penyesalan dan sedu sedan.

Ia tidak suka kegelapan tapi malam ini, pada kepala malam perempuan itu, ia ingin bersimpuh di dalam hamparan mimpi. Lupa pada duka luka. Ia seperti berada dalam gantang. Bak pohon Anggur yang tidak riap tumbuhnya. Perempuan itu telah kalah pada patah hati. 

Kenapa layu?  Karena perempuan itu membiarkan degil hati berada dekat dengannya. Membiarkan perjamuan sunyi menjadi teman. Perempuan itu tidak sanggup mengakhiri patah hati yang merayu. 

Februari, bulan yang penuh cinta. Kenapa harus memuara pada riwayat luka?  Perempuan oh perempuan, kenapa layu diri dan hatimu? Berdiri di ujung lara. Ketika asa diadukan dengan realita yang menganga. Akhirnya. Kenapa layu? Karena, perempuan itu telah beku, dingin dan berantakan.

***
Rantauprapat, 09 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 15 Februari 2021

Kamu adalah Pertanyaan yang Menyusahkanku

@kulturtava
...
Aku tahu, kamu adalah pertanyaan yang menyusahkanku. Tapi, aku tak ingin terus seperti ini. Akankah kita akan berada dalam pohon bunga yang indah? Kuharap demikian.

Caramu datang, mendekat ke arahku. Adalah kejadian yang melatarbelakangi kisah ini terjadi. Aku ingin berbahagia. Dan ada kamu di dalamnya. Tentu pasti ada dilema. Setidaknya ada kamu. Ini doaku tahun ini.

Kamu adalah kampung halaman yang ingin kutuju. Jawaban dari pertanyaanku, dari ketakutanku. Namun jeda di antara kita, memberi kesenjangan yang sulit terdefenisikan.

Mampukah kita berhasil menyelamatkan diri dari kesukaran yang bertumpuk-tumpuk, yang jelas terlihat? Atau kita akan menghadapi duka kehilangan, lagi. 

Kita sama-sama tahu, kamu/aku bukan tokoh pertama yang pernah tercipta perihal mencinta. Namun, kali ini tanpa ragu, kuharap kita bisa menjadi tokoh utama yang saling berdampingan.

Aku merasakannya sendiri.
Cinta ini, tidak seperti cinta yang dahulu. Walau kamu adalah pertanyaan yang menyusahkanku, sungguh aku merasakan penerimaan dari kamu. 

Adalah, kamu. Yang sudah menghadirkan kesadaran bertamu di kepalaku. Bahwa, kekhawatiranku mungkin sebenarnya tidak begitu.

Di benakku kini, kamu pertanyaan yang menyusahkanku akan menjadi jawaban nyata dari ketakutanku. 

***
Rantauprapat, 15 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 14 Februari 2021

Tidak, Kukatakan Kepadamu!

@kulturtava
...
Pagi tadi, kamu buatku berada dalam kerumunan hujan. Hujan ratapan. Dan waktuku menjadi kesepian. Hening, sunyi, tapi aku tak ingin kelelahan untuk menghadapi kamu. 

Aku berusaha menghidupi penerimaan diri. Dan akalku tidak sesempit gantang kecil. Aku tak mau dikaburkan amarah. Tidak, kukatakan kepadamu, aku tidak akan tenggelam dalam kesia-siaan. Kamu itu bagian dari diriku.

Ya, aku tahu mungkin, aku bisa saja kembali merasakan mendung karena kamu. Namun, aku tak mau terdampar dalam sepi. Aku ingin meruntuhkan rasa yang bisa membuat kita berjarak.

Aku melebur bersama rasa maaf. Memaafkan diri sendiri dan juga memaafkan kamu. Kenapa? Karena aku tak ingin kehilangan nutrisi baik buat kesehatan jiwaku. Tidak, kukatakan kepadamu. Aku tidak akan membiarkan patah hati menduduki hati dan pikiran tentang kamu. 

Bagaimana pun, jauh sebelum ini, banyak kebaikan yang sudah kuterima darimu. Aku masih percaya, kamu itu merupakan salah satu rumah yang nyaman bahkan teduh untuk kembali pulang.

***
Rantauprapat, 13 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 13 Februari 2021

Pada Segala Kebahagiaan, Aku Ingin Menghidupi

@kulturtava
...
Dengan hati jujur, aku bersyukur bisa diingatkan. Dalam hatiku, aku menyimpan harapan baik. Dengan bibirku, aku bisa menceritakan kejadian yang bernama kenyamanan. Atas keberterimaan dan keyakinan hati, aku bergembira. Aku akan bergemar pada keikhlasan terhadap disabilitas pun ketidakadilan hidup.

Sebelum ini, aku sering bahkan berkali-kali menjadi orang asing di semestaku. Menyembunyikan diri, karena hancur jiwaku karena kekhawatiran yang berlebih. Disabilitas nurani menjadi trauma psikis dalam hidup. Ratapan menyesaki dada. Dari atasku ada cela dan penghinaan, hingga jiwaku menangis karena duka hati dan melekat pada debu. Bahkan, aku sulit memelihara diri dari kesukaran.

Ya, aku sering salah melafalkan hidup. Kaku dan gagap mensyukuri hidup. Malah bermain-main dengan kemalangan dan dosa yang merayu. Aku hidup, tapi tak sungguh-sungguh hidup. Begitulah, aku mengerti bahagia tanpa menghidupi bahagia. Apa karena aku tak memiliki seseorang yang kesejahteraanku merupakan kesejahteraannya? Entahlah, mungkin ya. Mungkin juga tidak.

Akhir Januari pun menjadi kejadian yang bernama warna baru di perjalananku. Ada yang mendekat ke padaku, kesunyian hati menjauh dariku. Air mataku berlinang seperti aliran air, itu pun karena kebahagiaan. Dan kini. Pada segala kebahagiaan, aku ingin menghidupi.

Biarlah aku tulus dalam menghidupi bahagia, supaya aku jangan jatuh dan tenggelam di dasar samudera kesedihan, seperti canang yang gemerincing. Aku pun harus menerima keterbatasan yang kumiliki.  Ahh, aku tidak tidak boleh mencemburui kebahagiaan orang lain.

***
Rantauprapat, 04 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Seperti Cangkang Kosong

@kulturtava
...
Siapa yang suka menjadi cangkang kosong? Siapa yang ingin menjadi lalang di antara gandum? Aku rasa tidak ada. 

Namun. Di antara jeda yang berjarak, di antara lelah yang tergesa, di antara kesenjangan yang payah. Aku gagal memelihara penerimaan. Aku seperti cangkang kosong.

Patah hati menggelayutberati jiwa. Sulit memelihara diri dari kesukaran. Bahkan kalah untuk mencairkan keterasingan. Saat aku seperti cangkang kosong, saat itu ada mendung di mataku. Tentunya dengan banyak hujan, hujan airmata.

Pada bulan Februari, aku jatuh saat dosa itu merayu lagi. Waktu yang berbeda, hari yang berbeda, penerimaan yang berbeda. Sepertinya, aku telah berjalan bersimpangan dengan teduh, dengan tenteram.

Aku mengalami hari tanpa surya. Duka luka menyembunyikanku dari cahaya hidup. Tidak tahu ingin ke kanan atau ke kiri. Aku layu oleh angin Timur. Kapan aku kembali mekar dari Timur? Aku sendiri menunggu untuk bangkit.

Sebenarnya. Aku tak menyukai kesenduan ini. Tak menyukai, saat banyak pertanyaan menyeruak di kepalaku. Aku ingin menghentikan rasa yang bodoh ini. Beralih dari mata muram ini. 

Rasanya, kesedihan/kemalangan diciptakan bukan untuk dipelihara. Karena hidup tidak semata-mata tentang duka/kehilangan.

***
Rantauprapat, 12 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 11 Februari 2021

Maaf, Aku Ketakutan

@kulturtava
...
Entah pada siapa, aku menyampaikan ketidaksejahteraanku. Tak ada yang bisa kupercaya, bahkan pada gandum yang ada di hati. Yang ada pedih, perih.

Tuhan, Engkau yang Maha Sempurna. Engkau tahu kegelisahanku. Aku ketakutan, kuyakin bahwa Engkau tahu. Ingin rasanya menerima jawaban, kenapa harus aku yang seperti ini. Kenapa harus aku yang berbeda. Lagi-lagi, aku pun tahu tidak setiap pertanyaan ada jawabannya.

Aku tersisih. Ada kesenjangan yang payah merumitkan diri. Aku tak ingin terus seperti ini, tapi sungguh aku tak berdaya. Kali ini, kubiarkan kemalangan menduduki jiwa dan pikiranku. Membiarkan diriku seperti berada di entah. 

Maaf, aku ketakutan. Ada yang salah dalam diri. Sulit, seperti gelembung dan kupu-kupu saat ini. Hilang arah. Aku tahu aku tak bisa. Aku juga sudah berusaha menghidupi penerimaan. Tapi penerimaan itu yang tidak ada padaku. 

Hari ini, aku gagal untuk mengakhiri patah hati. Aku hidup tapi sebenarnya tak hidup. Aku sehat tapi sebenarnya telah lama aku sekarat. Aku ingin membatu, tak mendengar dan tak melihat segala disabilitas yang memberi ratapan. Dan, aku ketakutan. Aku khawatir. Aku tahu dengan pasti,  kekhawatiran tidak menambah sehasta apa pun dalam hidup. Tapi, saat ini, aku tak bisa menahan diri atas air mata ini.

Tadinya, kukira, Januari 2021 adalah sesuatu yang mampu membuatku berpaling dari kemalangan. Ternyata, itu hanya perkiraan belaka. Saat, penerimaan hanya menjadi sebuah wacana, itu hanya memberi ketakutan. Tanpa terkontrol, pikiranku bersimpangan dengan teduh. 

Sudah berpuluh tahun, aku ketakutan. Entah ada yang benar-benar memberikan penerimaan dengan benar, entah tidak. Entahlah. Aku sudah terlalu lama berada dalam pelarian. Tahukah rasanya jadi aku? 
Ah, tidak usah tahu dan jangan sampai merasakan rasa seperti aku. 

Ah, ini kisah pilu. Ya, ini tentang perempuan yang memiliki keterbatasan dalam banyak hal. Namun, aku tahu, jika aku masih hidup saat aku ingin mati sekali pun, itu bukan hasil usahaku.

Ah sudahlah, selama aku masih bernafas, aku harus berusaha untuk baik-baik saja. Setidaknya sampai masa hidupku usai. Walau sebenarnya itu sulit. Seharusnya, aku ingat dan tak boleh lupa. Di saat kutak berdaya, di saat aku ketakutan. Masih ada Tuhan. Dan apa yang mustahil bagiku, itu sangat mungkin bagi-Nya. 

***
Rantauprapat, 11 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 10 Februari 2021

Mencairkan Keterasingan

@kulturtava
...
Malam ini tak seperti kemarin. Barisan  duka yang ada dalam pandang hidup, perlahan berguguran. Ada sesuatu yang mencairkan keterasingan.

Lama sudah hati tak damai sejahtera.
Tapi tidak malam ini. Senyum yang sudah lama gugur, kembali mekar di malam ini. Tenang teduh yang seharusnya tidak boleh direnggut dari jiwa. 

Pada perkataan bibir yang disangka untuk menjatuhkan, biarlah hati yang akan memahami maksud sebenarnya. Karena sesungguhnya, itu untuk kebaikan semesta. Dimana cinta dirasa, tak akan membiarkan tenggelam dalam kesalahan lagi kesia-siaan.

Mencairkan keterasingan, itu adalah inginku. Kenapa, karena engkau seorang yang kuharapkan tak tersesat di dunia keangkuhan. Untuk apa menggegam erat sesuatu yang sudah tahu salah. Apa lagi menjadi manusia yang berpangkat Tuhan.

Masih mempunyaikah hati nurani dan perduli pada kesulitan jiwa? Biarlah terpaut pada kebenaran. Mencairkan keterasingan, agar tidak tersesat dalam kerumitan apa lagi dalam gelapnya kesukaran.

Terhempaslah pada tenang teduh. Kebahagiaan akan tumbuh di relung hati.

***
Rantauprapat, 10 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 09 Februari 2021

Kembali Aku pada Hujan

@kulturtava
...
Rindu. Ragu. Keduanya rasa itu bercampur jadi satu. Pada cinta yang ada di hati, aku hanya menunggu dan menanti. Apa kamu, kekasih yang kupilih untuk tempat cintaku tumbuh akan kalah-mengalah demi kebersamaan dan kebaikan. Mencairkan keterasingan. 

Pada letih hati, ingin rasanya kamu membawa bahagia. Agar aku tak tersesat dan khawatir. Dan jeda ini, jeda pada dua hati tidak akan membuat berjarak. Untuk apa bertahan lama dalam keegoisan. Aku tak ingin mencintai kamu hanya dalam diam. 

Walau butuh waktu bagi kamu untuk menerima bahwa keraguannya itu keliru. Aku akan memberikan waktu itu. Aku sudah memberikan hatiku untuk kamu ada di rencana hidupku. Akhirnya, pada suatu malam di hari itu. Ada kesadaran yang bertamu di hati dan kepalamu. Ya, satu kalimat darimu, itu sangat membuatku tersentuh. Kalimat, aku masih mengharapkanmu. 

Kamu mengasingkan keraguan yang berarus gaduh dari hatimu. Segala duga yang bersemayam di semesta, perlahan pudar dan gugur. Atas perjumpaanmu dengan kesadaran, perjumpaanku dengan air mata pun seketika menyusut. Dan, kembali aku pada hujan. Hujan kebahagiaan.

Kamu/aku, atas nama cinta kita mulai berjalan dengan keberterimaan dan harapan. Tak menyurutkan langkah saat kesukaran menghampiri. Aku masih ingin menyaksikan, kita berjalan lebih jauh dan terjerat pada komitmen yang lebih bermakna. Aku tak ingin kita terus seperti ini, berada dalam pohon bunga yang sebenarnya memberi ketidakpastian yang sempurna.

Kembali aku pada hujan. Hujan kebahagiaan. Tentunya ada kamu di dalamnya. Aku tak ingin membunuh harapan itu. Tak ingin mengheningkan cipta dari harapan untuk bersamamu.

***
Rantauprapat, 09 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 08 Februari 2021

Diam Tak Bersuara, Tersisa Kerapuhan

@kulturtava
...
Teruntuk A! 

Februari dalam tujuh hari, penuh tanda tanya. Terdapat ketidakpastian yang sempurna. Kau bilang, aku laki-laki, tapi kenapa aku yang malah diam tak bersuara. Aku hanya diam, entah harus menjawab apa. Ada penyesalan yang tak termaafkaan. Tersisa kerapuhan.

Pasti. Kau pasti tahu aku kecewa juga terluka, sebab keraguan dan keinginan hatimu yang menurutku bodoh. Apa daya, aku terlanjur membuka hati dan memberi kepercayaan terhadap hati yang payah ini.

Sudah terlalu lama sendiri, tapi kesendirian bukan berarti sebuah kemalangan. Setelah memohon hadirnya cinta. Setelah tak sendiri, tetap saja hati luka dan dapatkan duka. Apakah kali ini, hati akan kembali berkhianat? 

Berkali-kali pada waktu yang masih terlalu dini, aku sudah tiduri sepi dan bersimpuh di hening air mata. Aku merasa kalah. Diam tak bersuara, tersisa kerapuhan. Aku ingin kesedihan yang terperangkap dalam mata ini secepatnya kabur. 

Hanya kepada keberterimaan, aku ingin mengheningkan cipta. Tentang aku/kau, itu adalah kejadian. Entah kejadian itu akan berlanjut, entah akan terhenti.

Wahai hati, yang memberikan ragu. Sampai kapan, tak akan tegur sapa dalam perbincangan yang berenergi. Aku/kau, pernah memiliki bahagia. Namun, ragu yang ada padamu membuat aku menanggung duka kehilangan. Yang ada. Jeda, berjarak,  dan jauh. 

Aku diam tak bersuara. Kau bertanya, ada apa denganmu? Entah, aku tak harus menjawab apa. Dan masa depan yang pernah kuduga, telah membuatku mati. Mati di pekuburan sepi. Aku sunyi. Merasa sepi, aku merindukanmu. Tapi, aku takut. Enggan rasanya untuk bicara.

Sekarang. Aku ingin membatasi hati, entah benar, entah tidak. Terisa kerapuhan, ini perihal keping-keping jatuh cinta. Tentang, riwayat luka dan kebahagiaan. Tentang senyum yang gugur dari bibirmu dan dari bibirku, tentang kegirangan yang melayu. 

***
Rantauprapat, 08 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 07 Februari 2021

Februari dalam Tujuh Hari

@kulturtava
...
Hari ketujuh di bulan kedua, pria itu memberi kidung duka bagi perempuan puisi tapi perempuan itu tidak menangis. Semenjak awal ia takut memulai. Kini, ia hanya berserah, seperti apa sebenarnya yang akan diterima, ia akan memeluk kesadaran.

Perempuan itu ingin pindah dari perasaan, ingin pamit tapi masih terlalu dini untuk itu. Tidak mudah memadamkan rasa yang telah tumbuh. Sebegitulah ia dan Februari dalam hari ketujuh. Indah dan kemalangan menduduki jiwa perempuan itu. Ia sungguh ingin menjemput cinta di balik pria itu. Nyatanya pria itu yang ragu dan ingin berjarak.

Pertanyaan menyeruak pada perempuan itu, kalau ingin berjarak, kenapa membuka diri untuk cinta. Hati dan cinta menjadi MARABAHAYA yang besar, kini.

Lalu bagaimana? Selepas Februari dalam tujuh hari. Pasti akan resah dan terluka. Mungkin saling diam padahal sesungguhnya menunggu. Atau menyerah tanpa perjuangan. Bahkan berpisah tanpa perpisahan yang semestinya. Februari dalam tujuh hari. Bum, terjadi ledakan keras di dalam hati perempuan itu. Ia seperti jerami yang diterbangkan badai karena pria itu.

Pria yang ia duga akan menjadi jawaban dari ketakutannya. Jawaban dari doanya. Ia seperti berada di entah. Seperti berada di arus air yang tidak tenang.

Untuk kedua kalinya, perempuan itu tak lagi mampu berpura-pura pada rasa. Ia pun membuka diri dan berani merotasi hati untuk berkomitmen dengan cinta. Tapi sepertinya, cinta tak ingin menetap dalam samudera hati perempuan itu. Ia menanggung duka kehilangan. Namun, ia ingin mengakhiri patah hati yang merayu.

Walau sebenarnya tidak mudah, perempuan itu akan membujuk nalar dan hatinya untuk bergegas-gegas menghidupi bahagia. Agar duka yang sudah tumbuh, tak membesar dan menciptakan kerumunan yang gaduh.

Dalam diam, perempuan itu tetap menyimpan hal manis yang telah dimiliki pada Februari dalam tujuh hari dan menjadi kenangan.

***
Rantauprapat, 07 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Penyesalan yang Tak Termaafkaan

@kulturtava
...
Sayang. Rasa sayang macam apa yang ingin berjarak. Yang bertahan dalam keraguan bahkan yang bertahan dalam keegoisan. Menjadi sebuah dilema, mau seperti apa nantinya. Lalu. Masihkah harus berharap. Sudah digantungkan. Diacuh tak acuhkan. Diabaikan. 

Rasa. Sudah usaikah? Sudah habis musnahkah?. Menjadi penyesalan yang tak termaafkaan. Ada banyak tanya, tapi tak ada air mata kali ini. Mungkin air mata sudah lelah untuk mengisi bola mata yang telanjang.

Hari ini, penolakan itu sudah amat menjadi duka luka. Saat itu, saat tak ada respon yang seharusnya. Tak ada percakapan yang manis, karena ragu sudah menciptakan hura-hara. Menyerah sebelum memulai. Sebelum memperjuangkan.

Lagi, sulit membaca waktu. Sulit menerjemahkan rasa. Sulit menahan diri dari ketidakpastian yang sempurna. Ingin mengheningkan cipta dari kegaduhan. Namun, tetap saja gagal. Tentu saja, hal ini merupakan rentetan rasa sakit karena mencintai. Penuh elegi. 

Lantas, harus bagaimana? Haruskah kalah-mengalah dan menanggung duka kehilangan atas penyesalan yang tak termaafkaan. Rasa dan kenyamanan yang pernah menari, haruskah dibiarkan melayu. Kini, tiada bertumbuh kegirangan dalam hati. Ah, sunyi sepi ini sungguh menyiksa. Tapi biarlah cinta menemukan muaranya sendiri.

***
Rantauprapat, 07 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 06 Februari 2021

Menanggung Duka Kehilangan

@kulturtava
...
Bagaimana caranya supaya yang kita cintai itu tidak terluka? Pertanyaan yang kuterima tepat pukul 00:00 WIB pada hari keenam di bulan Februari. Pertanyaan yang belum atau bahkan tak akan pernah kujawab. 

Ada yang menawarkan duka, enggan untuk menerima tapj tak bisa ditolak. Ada jeda di persimpangan pertemuan, jeda yang menjauh sepertinya. Rasa-rasanya terlalu dini, jika ini waktunya pamit.

Ini tentang dia yang menyembunyikan luka. Dia, perempuan yang menanggung duka kehilangan. Takut untuk memulai, lebih takut untuk berpisah. Mata telanjang perempuan itu perih karena tangisan. 

Perempuan oh perempuan, lagi-lagi kau jatuh pada kenyamanan yang sia-sia. Kau kaku dan beku, entah kau akan kembali mekar atau malah merayakan kehilangan. Jika ini berakhir pada kesendirian, kau tak harus menganggap sepi kesendirian itu. 

Dan, aku beranggapan ada saatnya kita menanggung sebuah kehilangan. Hilang karena jeda, atau hilang tanpa perpisahan yang layak. Ah, duka pun tak harus dirawat dan dipelihara bukan. 

Seharusnya dan selayaknya perempuan itu memelihara diri dari kesukaran. Tidak menjadi gong yang gemerincing apa lagi layu oleh angin timur yang meniupkan aromanya.

Di antara ketakutan demi ketakutan yang menghantui perempuan itu, pernah ada yang ia yakini sebagai jawaban dari ketakutannya. Pun sebagai jawaban doanya. Kini, jawaban yang ia yakini itu berganti nama dan berganti wajah pada nama keraguan yang berarus gaduh dan berakhir pada jeda yang jauh. 

Ya, duka kehilangan adalah tanda dari kekalahan rasa. Rasa yang sulit dipahami kadang kala. Hu, aku berharap perempuan itu akan mampu melewati duka kehilangan yang ia rasakan. Perempuan itu pun tidak kehilangan tabah dan mampu untuk tenang teduh.

***
Rantauprapat, 06 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 05 Februari 2021

Februari, Jeda, Berjarak, dan Duka Hati

@kulturtava
...
Februari, bulan kasih sayang yang melekat pada sebagian orang. Tadinya, ia juga berharap akan merasakan kasih sayang di bulan kasih sayang ini. Tanpa direncanakan, ia malah patah hati. Lagi, ia sulit membaca waktu. Seseorang yang ia istimewakan, meminta berjarak. Barangkali juga sedikit menjauh, yang akan berujung ke mana. Mempertahan hubungan atau memberi perpisahan. Entah. 

Ada jeda yang diinginkan kekasih hati perempuan itu. Tumbuh duri dan perasaan bersalah, yang barangkali hanya mempertahankan ego. Februari pada hari yang kelima, telah menjadi duka hati untuk perempuan itu.

Tak ada perbincangan yang berenergi malam ini. Perempuan itu menganggap sepi bahkan hambar perasaan yang ia rasakan. Ingin segera beranjak dan berpaling, mengakhiri patah hati yang menggoda. Ketika Februari memberi memberi mendung di mata perempuan itu, akhirnya ia menabung air mata bersama jeda yang berjarak dan duka hati yang sulit terdefenisikan.

Jeda yang diinginkan kekasih perempuan itu menghimpit jiwanya. Ia menjadi dungu, kaku. Ia berpikir, kenapa harus membuka hati jika seperti ini. Kekasih hati yang ia pilih, telah mencuri hatinya sekaligus memberi patah hati. Ia pun tertatih di sudut malam. Tak ada yang merayu isak tangis perempuan itu. Ah, malangnya. Namun, perempuan itu paham bahwa cinta dan mencintai adalah sesuatu yang terkadang sulit dipahami.

Dengan hati-hati perempuan itu menguasai diri. Ia tak ingin tenggelam dalam samudera kesedihan karena duka hati. Perempuan itu itu masih menunggu Februari akan kembali bersemi dan mekar untuk menjadi musim semi yang indah. Dan pada suatu malam yang entah kapan, ia akan kembali tenang teduh. Tak menjadi gelembung dan kupu-kupu yang hilang arah.

***
Rantauprapat, 05 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 04 Februari 2021

Menangis karena Duka Hati

@kulturtava
...
Kali ini, ia kembali berlilitkan kain kabung. Sungguh, kegirangan melayu dari hati perempuan itu. Ia telah memilih membuka hati, ia harus siap jika menangis karena duka hati. Ia tahu benar, bahwa hati merupakan sesuatu yang sulit terdefenisikan.

Ada jeda yang menggetarkan perempuan itu. Entah akan berujung seperti apa? Tak ada kelegaan yang terasa. Perempuan itu menjadi gusar terhadap perasaannya. Ia berlambat-lambat untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Ia tertindas karena rasa yang salah. Rasa yang berlebih. Perempuan itu ingin menyimpang tapi sekarang ia takut, takut kehilangan. Duka ini tak melapangkan hati perempuan itu. Jeda ini menggetarkan jiwanya. Ratapan membelit perempuan itu.

Lagi, ia bersekutu dengan rentetan kemalangan. Duka hati telah menindas perempuan itu. Habis mata perempuan itu oleh air mata. Bilakah ada yang menghiburkan perasaannya? Agar ia tak sesat dan mencondongkan hati pada kedegilan hati.

Benar. Sesungguhnya, perempuan itu hendak tenang teduh dalam sukacita. Ia ingin berpaling. Tak ingin berkarat dalam kesusahan dan kesesakan jika menangis karena duka hati terlalu lama.

Perempuan itu ingin luput dari sengsara. Ia ingin mampu memelihara diri dari kesukaran. Biarlah ketenteraman dan kesejahteraan menjadi milik perempuan itu. Agar ia tak sesat seperti domba yang hilang.

***
Rantauprapat, 04 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 03 Februari 2021

Ada Jeda di Antara Kita

@kulturtava
...
Aku telah berusaha untuk baik-baik saja dengan segala nyata dari keberadaan diriku dan dirimu. Pun menerima segala yang terjadi di antara kita.

Pada rotasi waktu yang tak pernah kutahu. Setelah lima tahun perpisahanku dengan dia, kau hadir dan masuk di kehidupanku. Semula, ada ketakutan dan keraguan di dalam hatiku.

Entahlah, aku sedang bingung. Tak tahu apa yang harus kuperbuat. Ada jeda di antara kita. Bagaimana mungkin, aku meneguhkan hatiku untuk kita, ada disabilitas di antara kita. Terlebih dia yang dahulu pernah bersamaku atas nama cinta adalah dia yang berelasi dekat denganmu. 

Jujur, ada ketertarikan lebih terhadapmu. Tapi, ratapan menyesaki dada. Takut untuk mencoba. Lebih takut untuk kehilangan. Berpikir, setelah tidak denganmu, akan seperti apa nantinya.

Bukankah, kehadiran cinta adalah sebuah nikmat yang sebenarnya harus disyukuri. Tapi, terhadapmu aku sulit menghidupi itu. Ada jeda di antara kita, jeda yang memberi kesenjangan dan pilu bagiku. Aku tak ingin muram. Nyatanya, untuk memeluk harapan, aku terlampau takut. 

Selepas hari ini, selepas keterbukaan hari ini, apakah kita bisa saling menggapai? Entahlah, aku ingin berharap. Lagi-lagi logika mematahkan harapanku. 

***
Rantauprapat, 01 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 02 Februari 2021

Sungguh, Kegirangan Melayu

@kulturtava
...
Menangis. Meratap. Sebab, sudah dirampas dari hati perempuan itu sebuah kesejahteraan. Telah dibuatnya pohon keyakinan perempuan itu menjadi musnah. 

Ia, seperti berlilitkan kain kabung. Karena cinta baru yang tumbuh di hatinya. Sungguh, kegirangan melayu dari antara hati. Sudah lenyap sukaria.  Hari ini, ia menjerit karena takut kehilangan. 

Dingin malam sudah menyapa. Terasa gelap gulita, kelam pekat dan kelam kabut. Ia gementar dalam sepi dan isak tangis. Bahkan, tak ada yang merayu isak tangis perempuan itu lagi. Ia ingin berbalik tapi sulit. Ia tak ingin menyesal atas cinta baru yang tumbuh di hatinya.

Dua hari di perjalanan Februari, penuh ketidakpastian yang sempurna. Seperti teka-teki zaman yang sulit terdefenisikan. Entah seperti apa, ia menyusuri jalan di kepala malamnya. Hari ini yang kemudian menjadi hari itu, telah menjadi malang. Sejarah yang dahulu kembali terulang, sejarah perpisahan. Akankah benar-benar terjadi? Sesuatu yang sebenarnya belum pasti dimulai, tapi pasti diakhiri.

Ditinggalkan dan dilepaskan dari hati. Diam, membisu dan ada jeda yang terjadi. Jeda yang memberi kesenjangan. Ahh, sungguh kegirangan melayu dari hati. Mendung terjadi di mata perempuan itu. Ia tiduri sepi dan membiarkan sedu sedan dan angin malam menerpa jiwanya. 
 
Detik ini seakan lambat berlalu. Wahai, hari ini, perempuan itu hanya ingin menepi. Dan cinta itu, biarlah menemukan jalannya sendiri. Di sini, di Sumatera, perempuan itu tak tahu bagaimana setelah malam ini. 

Ia hanya ingin menghapus air matanya dan tertidur, semoga tertidur dan memejamkan mata walau dalam tangis sekalipun. Oh, kegirangan melayu dari hati perempuan itu.

***
Rantauprapat, 02 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Menjemput Cinta di Balik Pria Tapanuli

@kulturtava
...
Ada tawa kebahagiaan yang hadir. Mata perempuan itu basah karena kesadaran yang diberikan si pria Tapanuli. Perempuan itu terlalu larut dalam ketidakberdayaan. Padahal sesungguhnya ketidakberdayaan tidak begitu. Terlalu berandai-andai pada disabilitas yang sebenarnya bukan disabilitas. 

Perempuan itu telah lama berkelit dan bermain-main dengan kekhawatiran yang berlebih. Hingga ia tak tenang teduh. Ia mengelabuhi dan bersaksi dusta pada dirinya sendiri, merasa baik-baik saja padahal sesungguhnya tidak begitu. Kehadiran si pria Tapanuli adalah warna baru yang sebelumnya tidak dimengerti oleh perempuan itu. Tentang pria itu, dia menjadikan perempuan itu kembali mencintai harapan, mencintai dirinya sendiri.

Cinta, cinta, cinta. Dengan keyakinan dan penuh kehatian-hatian, perempuan itu ingin menjemput cinta di balik pria Tapanuli itu. Di mempesonanya perhatian, perempuan itu meminta dan berdoa pada Sang Maha Sempurna Si Pemilik Waktu, untuk memberikan apa yang diinginkan dan dibutuhkan perempuan itu. Semoga jalan ketakutan dan kesendirian akan terpatahkan dari semestanya. 

Ahh Tuhan, semoga Engkau berkenan menjawab doa perempuan itu. Ya, hari ke dua puluh sembilan di bulan pertama dan awal Februari menjadi harapan baru untuk perempuan itu. Hari ini, perempuan itu berpikir lebih jernih. Merajut harapan baik dan tak usah memelihara patah hati.

Biarlah, setelah ini. Perempuan itu mengheningkan cipta pada ketakutan yang belum tentu berujung kenyataan. Menghidupi bahagia dan percaya bahwa akan ada masa depan untuknya. Bagaimana pun, ia bukan manusia yang berpangkat Tuhan. Yang tahu apa yang digariskan untuk semestanya.

Seharusnya, perempuan itu bersyukur dan bersemangat atas hidup yang masih dianugerahi padanya. Semoga ini menjadi tahun kemurahan untuk perempuan itu. Bukan, bukan. Semoga ini menjadi tahun kemurahan untuk perempuan itu dan juga untuk pria Tapanuli itu. 

Ya, perempuan itu aku. 

***
Rantauprapat, 02 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 01 Februari 2021

Perempuan Itu dan Tanggal Kadaluwarsa

@kulturtava
...
Yang perempuan itu rindukan adalah penerimaan. Penerimaan dari gandum yang ada di ladang hidupnya. Gandum yang ia harapkan menjadi air gula yang manis. Biarkan ia merindukan penerimaan itu. Sudah terlampau lama, kemalangan seolah tak kenal tanggal kadaluwarsa di dunia yang ia miliki. Harapan dan kenyataan sering sekali tak berjalan seiring.

Malam ini, masih sama bagi perempuan itu. Masih sunyi, padahal sesungguhnya ia dipenuhi suara hiruk pikuk bahkan suara tangis yang gaduh. Antara sakit atau sehat, sehat atau sakit, atau keduanya. Semua tak ada tanggal kadaluwarsa. Perempuan itu hanya manusia terbatas. Ia sengsara dan tersiksa tapi gandum itu malah menjadi lalang. Akankah duka yang sudah lama membeku dalam kerumitan perempuan itu, memiliki tanggal kadaluwarsa? 

Suatu ketika, perempuan itu berpikir dalam hatinya:
Kenapa harus aku, kenapa gandum itu berbuat dan berkata begitu padanya. Hingga terkadang ia mencintai kegelapan, padahal sesungguhnya ia sangat takut terhadap kegelapan. Sampai-sampai perempuan itu mengira, hanya kemalangan yang akan ia jumpai di sisa hidupnya. 

Perempuan itu sering diburu ketidakpastian yang sempurna. Keraguan dan kekhawatiran yang berlebih, kepura-puraan menjadi hal yang tak mengenal kadaluwarsa. Ah, perempuan itu membiarkan dirinya tenggelam dalam raut wajah yang sedu sedan. Merelakan diri hanyut di arus hampa. 

Perempuan itu seharusnya tidak mencintai kesedihan terlalu lama hingga rasa sedih itu menjadi rasa sakit yang lupa tanggal kadaluwarsa. Sebaiknya, sebagai pendosa yang payah dan angkuh, perempuan itu mencipta catatan yang manis untuk dirinya sendiri. Dan selagi masih bernafas, kebahagiaan pun harusnya lupa tanggal kadaluwarsa dalam dunia perempuan itu.

***
Rantauprapat, 16 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu