Rabu, 10 Juni 2026

Diam! Mengapa Mengejar Jerami yang Kering?

Kulturtava 
...

Masih terus belajar untuk menerima keadaan. Memaknai genggaman kesabaran yang harus terus dipegang, terlalu banyak menghadapi pemimpin gila dalam sejarah hidup. Kenapa harus tersudut dan terdesak, hingga tertekan seorang diri?

Ternyata tidak semudah itu untuk berdiam diri. 

Diam! mengapa mengejar jerami yang kering? Itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Banyak makna yang hilang, terlalu mengatur tanpa mau diatur. Terlalu banyak sepi sunyi yang diseduh, ini bukan hanya sesekali tapi terlampau sering.

Hari-hari terlalu mencekik, pagi hari terasa menjadi malam yang gelap, malam hari seperti tak pernah berlalu, tidak pernah ingin panik dan tidak pernah ingin mengejar jerami yang kering namun yang menjadi realitas penuh tragedi.

Sampai kapan harus di grogoti darah yang tidak perlu dikorbankan, apakah harus terus menerima dan meratapi nasib yang tidak bisa kemana-mana dan bergerak sekalipun. Diam! Berteori gampang tapi tidak jika diaplikasikan. Sesak, ini sudah diambang batas.

Diam. Jika tidak menjadi korban tidak akan pernah merasa, jarak hidup dan mati juga di dunia yang masih dingin. Tidak lagi memiliki gunung batu keluputan. Benar cinta itu tanpa tapi tapi mau sampai kapan mencintai yang sia-sia. Berkorban sendirian dan mencintai sendirian barangkali. 

Ini bukan lagi soal dikuasai kekhawatiran yang berlebihan ini lebih kepada mengapa mengejar jerami yang kering. Tidak ada kenangan yang baik, tidak ada kisah yang paripurna. Ingin berhenti mencintai sebab mau berapa lama lagi akan berada di entah.

Ini adalah pengakuan pendosa yang payah, pendosa yang tidak riap tumbuhnya, boom, terlalu berbahaya dan terlalu kesepian. Berharap tidak lagi berada di dalam gantang di dalam waktu yang lama. Dan tidak lagi mengejar jerami yang kering. Dan keluar dari trauma psikisnya.

***

Rantauprapat, 10 Juni 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar