Minggu, 31 Desember 2023

Terakhir Kali di Dua Ribu Dua Puluh Tiga

@kulturtava
...

Cerita pendek dan panjang tlah dilakoni.  Ini terakhir kali di dua ribu dua puluh tiga, juga minggu terakhir sebelum hari berganti. Kilas balik kehidupan satu tahun belakangan.

Ada krisis mental yang terjadi, bersyukur menjelang akhir tahun ada pemulihan yang terjadi sebelum kematian benar-benar ada.

Terakhir kali di dua ribu dua puluh tiga, nikmat mana lagi yang didustakan, masih dipercaya nafas kehidupan. Walau tidak sedikit, patah hati dan kegagalan yang terjadi.

Banyak gelisah juga keegoan, inilah hidup, ingin berkali-kali mati tapi belum tahu arti mati sesungguhnya. Hari ini, terakhir kali di dua ribu dua puluh tiga, inilah cinta. Camar yang sendiri tak pernah benar-benar sendiri.

Sudah lebih dari tiga ratus malam dengan segala gangguan-gangguan di pikiran, baik yang berujung tawa maupun duka, akhirnya ada juga hari ini, minggu terakhir kali di dua ribu dua puluh tiga, semoga tidak ada lagi kesedihan diam-diam apalagi menjadi pendosa yang bersembunyi dan angkuh. Semoga demikian.

Untuk sisa-sisa hari ini, biarlah berhasil mengakhiri patah hati yang masih nyangkut di hati pun kepala. Lalu akan bangun pagi hari di dua ribu dua puluh empat dengan harapan dan doa-doa baik.

Akan melihat hal-hal menyenangkan lagi manis dengan warna cerah, tidak dengan sengaja mencipta kebekuan rumah. Memberi tenang teduh bahkan kesejahteraan bersama.

Barangkali itu saja.

31.12.23// Lusy Mariana Pasaribu 




Minggu, 24 Desember 2023

Sunyi Bulan Desember

@kulturtava
...

Senin, bulan Desember tanggal dua puluh lima. Hari yang penuh syukur namun hari itu juga adalah hari kematian.

Jiwa-jiwa sepi masih merajalela. Kebisingan-kebisingan saling membunuh, tegar tengkuk tidak ada mengalah. Ini adalah sunyi bulan Desember. Seharusnya tidak seperti ini, ingin rasanya memusnahkan keadaan ini. Tapi apa daya, lihat saja bagaimana akhirnya. Karena hitungan hari tahun akan berganti, akan tetap seperti ini atau lebih parah.

Senin tanggal dua puluh lima, adalah kenakalan besar yang menjadi hujan badai. Well, ini adalah jam kehidupan yang benar-benar terjadi

Sungguh tak mampu, kalaupun berkeluh kesah kepada siapa? Sepi bulan Desember telah membunuh bnyanyak hati. Luka hati semakin merusak kesehatan hati, untuk apa dipertahankan! Lebih baik disingkirkan ke entah.

Wah, getir sekali sunyi bulan Desember kali ini. Tidakkah ada kesadaran! Janji-janji yang menyakinkan dan pernah terucap tak lagi diingat hanya demi ego, ini sunyi bulan Desember yang lebih gagu, beku, dan menyakitkan dari Desember yang lalu. 

Masih ada Tuhan pemilik segalanya yang akan memulihkan hati yang terluka, semoga ingat itu.

25.12.23// Lusy Mariana Pasaribu

Jumat, 22 Desember 2023

Bermula dari Kamu

@kulturtava
...

Damn, aku tidak pernah ingin untuk bermula dari kamu. Tidak ada kasih, tidak tanggung jawab. Hanya mau menuntut untuk didengar dan didengar, barangkali kamu tidak akan pernah sadar hanya kematian yang sudah kamu ciptakan. Banyak pembunuhan yang telah terjadi. 

Tidak ada kuantitas pun kualitas yang meningkat. Sepertinya aku akan juga berakhir karena kamu. Denganmu aku sakit, tanpamu aku juga jauh lebih sakit. Tapi ketika tanpamu aku tidak akan lagi melihat dan mendengar rasa sakit yang disengaja.

Aku tidak bisa memilih untuk bermula dari siapa, karena ini bukan pilihan.

Ini terlalu sakit, ini adalah kebenaran dari semua kehidupan yang ku lalui. Aku dan keinginan yang ada di kepalaku, ingin merdeka terhadapmu. Ternyata, tidak segampang itu. Untuk melatih diriku saja terhadap itu, aku masih jatuh bangun.

Hu, kini aku seperti bunga yang layu. Tidak bergairah. Pagiku seperti malam, malamku semakin kelam, tak bercahaya.  Ini adalah kisahku, aku bermula dari kamu dan sepertinya akan berakhir karena kamu juga. 

22.12.23// Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 19 Desember 2023

Aku Ingin Merdeka

@kulturtava
...

Air mata jatuh. Sunyi sepi ada padaku. Berpuluh tahun aku tidak pernah merdeka. Tapi ada menyadarkanku, untuk apa aku melukai diriku sendiri bahkan ketika aku sadar tidak ada pernah yang perduli saat aku jatuh dan terluka.

Ketika aku seperti kali yang habis airnya, toh aku yang harus membuat diriku sendiri bangkit untuk mendapatkan air. Ingin menemukan kedamaian, pun tenang teduh. 

Aku sadar, aku seperti pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya, aku juga adalah camar yang sendirian, aku juga pernah menjadi terdakwa, pelaku, dan korban kejahatan. Sering bersembunyi dalam sunyi malam. Dibalik itu, semua aku ingin punya cerita hidup yang bahagia. Benar-benar mengakhiri patah hati walau bukan aku yang menaburnya.

Aku ingin merdeka kali ini. Ingin lebih mencintai diriku sendiri. Bersikap bodo amat pada hal-hal yang merusak diriku.

Kepada luka, aku ingin berdamai. Kepada cinta yang kurasakan, walaupun cinta itu tidak terbalas, aku ingin berdamai. Karena bagiku sulit untuk berhenti mencintai.

Aku ingin merasa lebih hidup.

Setelah ini, akan banyak yang akan membuat aku murung dan lesap dari kesadaran, bahkan banyak keributan dan kebisingan yang mengganggu aku dan si kepalaku, tapi aku mau belajar membaca itu dengan penerimaan. Bukankah lebih baik membakar sampah dan membuangnya, daripada memelihara sampah itu menjadi tumpukan yang bau.

Sudah terlalu lelah menjadi para penjelajah ke pura-puraan di tanah gersang. Aku benar-benar ingin merdeka setidaknya untuk diriku sendiri.

Ini tentang kemauan dan tekad yang ingin disemogakan.

•••

Rantauprapat, 20 Desember 2023

Lusy Mariana Pasaribu


Senin, 18 Desember 2023

Seorang Perempuan yang Terdampar Sepi

pxhere.com
...

Perempuan itu berkata: ah, sungguh sial aku ini. Ia merasa yang paling terluka, padahal ia sadar, lelah pun mengeluh, pada akhirnya juga tidak ada ketenangan. 

Mengapa perempuan itu ingin diistimewakan? Jangan begitu, ada yang mengatakan pada perempuan itu.

Sampai hari ini pun, menjelang penghujung tahun ketika ia masih menderita banyak perempuan lain yang juga menderita. Perempuan itu terlalu mudah terprovokasi atas kebisingan-kebisingan yang ada di sekitarnya.

Ini terlalu sakit.

Bahkan untuk berpura-pura tidak dengar dan berpura-pura tidak melihat itu sulit. Karena ini adalah kisah yang berulang dan cerita yang sama setiap tahun. Ini lebih dari sekedar ditinggalkan dan meninggalkan.

Hidup tapi tidak hidup.

Mati tapi tidak mati.

Ada di pekuburan sepi. Ia seorang perempuan yang terdampar sepi. Tenang teduh seakan dimakamkan oleh hutan-hutan mati. Perempuan itu tidak merdeka bahkan untuk dirinya sendiri. Ia seperti daun layu yang diterbangkan angin, lagi-lagi gagal menghidupi apa yang yang ia tulis. Dasar perempuan.

Sudah terlalu banyak, chapter duka yang ia lalui. Berlaksa-laksa padang ilalang yang tumbuh, barangkali setelah kematian pun ilalang itu akan tetap ada.

Perempuan itu patah hati, tak lagi terhitung cerita yang terlalu berbahaya tlah ia lakoni. Perempuan itu seolah kehabisan cinta, tidak ada rumus kebahagiaan. 

Ini semua tentang luka.

Tentang rekam jejak yang belum tersembuhkan. 

***

Rantauprapat, 19 Desember 2023

Lusy Mariana Pasaribu




Kamis, 14 Desember 2023

Menggugat Diam

@kulturtava
...

Menjadi dewasa ternyata tidak mudah, hidup penuh luka dan dikorbankan.

Siapa yang menabur, siapa yang menuai. Ketika kejujuran ditinggal pergi, ada yang di kambing hitamkan. 

Gagal menyelamatkan diri, tidak ada yang perduli bahkan jika mati yang akan terjadi. Apakah akan ada penyesalan, sepertinya tidak.

Hari ke lima belas bulan ke dua belas, adalah sejarah baru dalam hidup.

Damn, membencimu adalah kata-kata yang tepat untuk diberikan pada tersangka yang meninggalkan kejujuran. Seseorang tidak hidup dengan layak belakangan ini. Sial memang.


Akhirnya hari ini hujan kejujuran dibuka. Di sana di kamar sempit, seorang perempuan menangis.

Akhirny memilih untuk bicara, menggugat diam adalah hal yang harus dilakukan. 

Pertanyaan gagu yang akhirnya tidak menjadi gagu. Hujan pagi ini ada satu kisah yang usai tapi belum selesai. 

Ah, ini adalah kisah kehidupan yang disembunyikan dengan diam. Sedang terluka, isi kepala penuh dengan keributan. 

Pagi ini, akhirnya berhasil menggugat diam. Rekam jejak yang baru kembali tercipta. Kepada luka, mau tak mau harus berdamai dan menerima.

Rantauprapat, 15 Desember 2023

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 11 Desember 2023

Sesuatu yang Ganjil, Seganjil Wanita Melindungi Pria

@kulturtava
...
Tersembunyi, banyak kekacauan. Masih terlalu pagi untuk mendengar dan melihat rekam jejak yang dulu, berantakan. Terlalu banyak kebisingan yang seharusnya tidak terjadi, ahhhh. Lagi dan lagi terjadi. Kenapa dan kenapa? Hari yang mematikan, hari keduabelas bulan keduabelas. Pagi para jahanam.

Ini adalah cerita mendapati penghujung tahun yang tak akan pernah usai jika kematian belum menjemput. Sesuatu yang ganjil, seganjil wanita melindungi pria. Yang ternyata hanya narasi. Tidak ada kemajuan yang akan terjadi, tak ada komitmen yang dipertahankan. 

Hanya nelangsa yang mampu dihadirkan dalam perlintasan sejarah menjelang akhir tahun barangkali juga ini akan menjadi kisah di awal tahun, hahha. Tertawa yang menyedihkan.

Seperti secangkir kopi pahit juga mendung yang kelabu. Tak ada sapaan manis, keributan yang keluar sudah tumpah ruah. Menjijikkan. Seseorang kembali ada dalam ruang gelap sbab ini. Terlalu suram. Dua kebisingan yang tak dapat dilerai.

Berjanji, berjanji, dan berjanji. Satu pun tak ada yang ditepati. Lupakah atau pura-pura lupa. Seseorang itu yang terlalu berekspektasi atau ini adalah sesuatu yang ganjil, seganjil wanita melindungi pria. Terhempit dalam kebisingan pagi ini, takut untuk menjalani kenyataan hari ini. Masih terlalu lama.

Rapuh. Menyesakan.

Suara-suara yang tak akan pernah didengar dan dianggap. Tidak berhasil hati-hati terhadap hati yang harus diselamatkan. Damn.

***
Rantauprapat, 12 Desember 2023
Lusy Mariana Pasaribu

Rabu, 01 November 2023

Seperti Daun Layu Diterbangkan Angin

@kulturtava
...

Kau seperti daun layu diterbangkan angin, tak berguna. Tapi seringkali harus berkompromi terhadap dirimu, memuakkan memang. Ketidaksempurnaan dalam hidup pasti ada, tapi jika memanfaatkan ketidaksempurnaan itu dengan berbagai hal dan alasan sungguh menjijikkan.

Selalu ada ketegangan yang terjadi dan keributan di kepala karena yang kau lakukan. Kau lesap seperti daun layu yang diterbangkan angin. Tak lagi terlihat.

Musim kagaduhan akan selalu tercipta, mau tak mau harus bersikap kompromi akan kehadiranmu. Seperti ganjil dan genap yang akan selalu bertemu, begitu juga diriku yang akan selalu bertemu dengan dirimu. Walau lelah akan terus berusaha untuk kompromi.

Apakah kau pernah melihat susahku? Sepertinya tidak, karena yang kau pentingkan adalah dirimu. Aku rela kehilangan, bahkan sudah beberapa kali kehilangan demi kebahagiaanmu. Tapi aku juga lelah, keresahan yang kurasakan hanya aku yang merasakan. 

Aku ingin mati karena sejujurnya, aku sudah lama mati. Bahkan fisikku sudah tidak berdaya, apakah ada yang tahu dan melihat? Semua seolah berada di entah.

Rabu, hari pertama di bulan kesebelas, lagi-lagi kau memberikan rasa sakit, keusilan yang kau lakukan memberikan rekam jejak yang payah di awal bulan ini. Ini kisah tentang rasa sakit dan patah hati terhadap kompromi yang tidak seharusnya diberikan, 

Di suatu hari yang entah kapan, bisakah kau menjadi seseorang yang tidak lagi seperti daun layu yang terbangkan angin?

***

Rantauprapat, 01 November 2023

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 16 Oktober 2023

Kepada Manusia yang Dibuang Seperti Rumput

@kulturtava
...

Duka dan keluh kesah selalu ada, dia mencoba untuk bersikap bodo amat. Ada saja yang akan meremukan dan menikam, bahkan terus menerus menghina, karena begitulah hidup.

Kepada manusia yang dibuang seperti rumput, kau memang memiliki hak untuk bicara semaumu dan menjatuhkan tanpa tahu latar belakang yang pasti, dan yang menjadi kewajiban dirinya adalah menentramkan hati dan tidak menanam kekhawatiran atas apa yang dituduhkan.

Selamat jalan kebencian kepada manusia yang dibuang seperti rumput, untukmu dia akan bersikap selayaknya. Tidak pula menghakimimu, karena kalau dia menghakimi, dia pun akan dihakimi. The power of awareness, lebih baik itu yang dipelihara. 


Kepada manusia yang dibuang seperti rumput, jujur dirinya terluka atas apa yang kau ucapkan, karena itu membuat luka pada gandum yang ada di hatinya. Ada air mata yang tumpah karena ucapmu. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutmu malam ini, menjadi jejak kesedihan yang terukir.

Inilah ketidakadilan dalam hidup. Keusilan hidup. Ada kesedihan diam-diam yang harus diterima, kepada manusia yang dibuang seperti rumput, bagaimanapun dia ucapkan terima kasih, karenamu dia belajar untuk tidak membiarkan gelap dan kosong menguasai dirinya. 

Dia tidak ingin mati dan tidak bahagia hanya karena khawatir yang berlebih atas apa yang kau sangkakan dengan bebas tanpa tahu batas. Kepada manusia yang dibuang seperti rumput, disisa hidup yang tersisa, dia akan memiliki cinta dan kasih sayang dengan segala keterbatasan yang ada. 

Malam ini dia memang tidak membencimu tapi dia juga terluka dan kecewa atas apa yang kau ucapkan, karena banyak hujan yang telah turun membasahi wajah-wajah gandum yang ada di hatinya.

Kepada manusia yang dibuang seperti rumput, semoga kau merasakan apa yang dia rasakan, damn! Semoga kau berjiwa. Karena apa yang kau anggap benar belum tentu itu menjadi kebenaran yang seutuhnya.

***

Rantauprapat, 16 Oktober 2023

Lusy Mariana Pasaribu

Jumat, 06 Oktober 2023

Kita adalah Saling

Pixabay.com
...

Bersamamu banyak tantangan, yang sering kali banyak komunikasi yang gagal. Kekerasan dan kekerasan berulang kali terjadi, dan sungguh sadar itu tiada berguna.


Kasih sayang tak lekang oleh waktu, ingin menghidupi itu terhadap kamu.

Bicara tentang kamu, bicara tentang cinta namun juga bicara tentang kekerasan. Sulit merdeka terhadap kamu. Karena kamu adalah harapan.


Kamu itu spesial pun berharga, tapi banyak kecemasan yang timbul karena apa yang diperbuat olehmu. Namun sadar, kecemasan ini harus diruntuhkan. 

Paham terhadap kamu tak boleh padam, tak boleh kerontang, asa untukmu akan tetap ada.


Pekerjaan rumahku adalah kamu, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Karena kamu adalah gandum yang ada di hatiku, ini adalah sebuah catatan perjalanan tentang aku, tentang kamu, tentang kita.


Kamu adalah salah satu nikmat hidup yang Tuhan percayakan. Aku tak boleh kehabisan kesadaran untuk kamu. Aku tidak boleh menjadi malam yang buta terhadap kenakalan yang terkadang masih kamu lakukan, aku yang masih terlalu dangkal terhadapmu.


Kita adalah saling. 


Aku kamu seharusnya saling mendekat ke arah yang benar bukan malah memadamkan dan mementingkan ekspektasi yang tidak seharusnya. Butuh berapa lama pun untuk menyelesaikan pekerjaan rumah terhadap kamu, aku akan berusaha menyelesaikannya dengan benar.


Kamu adalah cara untukku belajar menguasai diri, agar aku tak bersama kebodohan.

***

Rantauprapat, 06 Oktober 2023

Lusy Mariana Pasaribu

Minggu, 01 Oktober 2023

Seperti Jerami Ditiup Angin

@kulturtava
...

Minggu pertama bulan ini, menjadi pembuka yang panas. Banyak kata-kata yang berhamburan, banyak jiwa yang terserak, terbunuh oleh pedang yang mematikan.


Hari pertama di bulan ke sepuluh, adalah kegelapan yang berulang. Seperti jerami ditiup angin, terbuang. Sudah terlampau banyak mendengar dan melihat kehancuran, kenapa tidak belajar dari sejarah? pertanyaan demi pertanyaan, yang tidak akan bisa terjawab.


Kesenjangan yang dilakukan dengan sengaja, menjadi huru-hara yang penuh drama, banyak pergulatan yang merajai. Pemberontakan. Ini adalah musim dengan banyak kesedihan. Kenapa tidak memiliki cinta yang seharusnya?


Ke mana harus pulang dan kembali?

Tak adakah tempat untuk damai sejahtera dan tenang teduh?

Terlalu banyak air mata.

Seperti jerami ditiup angin, seperti itulah banyak jiwa hari ini. Terbunuh dalam senyap.


Memuakkan.

Mau berapa lama lagi ini terjadi, membiarkan paham yang seharusnya menjadi milik malah padam. Terlampau takut dan gemetar melewati malam ini, apa lagi untuk membuka mata esok hari. Keraguan merajai diri, mengganggu kepala. 


Kegagalan yang disengaja ini sungguh membuat kebekuan dan kekerasan hati. Ah, menyakitkan. Akankah kematian, membuat ini lebih mudah? Barangkali demikian, bukankah perpisahan yang selalu diinginkan. Seperti jerami ditiup angin, terhilang,  terbuang dan tak kembali.


Hari ini akan menjadi ingatan yang buruk dalam sejarah hidup.

***

01 Oktober 2023

Lusy Mariana Pasaribu 



Senin, 25 September 2023

Rekam Jejak yang Dulu Bersemi Kembali

@kulturtava
...

Yang ada hanya amarah, keegoisan yang membabi-buta tanpa memikirkan susahnya yang lain. Dahulu suram, kemarin suram, hari ini? entahlah.

Rekam jejak yang dulu bersemi kembali, mempertontonkan kepada semesta, keadaan yang lebih buruk. Lebih banyak umpatan, kutukan dan kebodohan.

Mengapa kesadaran diri mulai pudar? Karena hanya bisa menuntut dan menuntut tanpa sadar diri, banyak yang kena self loathing. Ternyata tidak menabur pun bisa menuai. 

Terlalu banyak sandiwara, drama juga kontroversi, banyak virus yang mematikan. Kenapa harus kembali, kembali dan kembali? Rekam jejak yang menyusahkan, kenapa harus bersemi kembali?

Dahan dan ranting yang ada kan patah dan terbuang.

Jalan yang panjang dan berliu akan semakin sulit dilalui. Tidak ada keharmonisan, pengertian, bahkan cinta. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, ada kesedihan yang menjalar, berharap kematian menjemput namun tak kunjung datang. Karena kehidupan terlalu menyakitkan.

Sudah basah oleh hujan berkali-kali, kesedihan bukan lagi menjadi rahasia. Rakam jejak yang dulu sungguh buat sakit di kepala. Tidak ada rumah untuk mencari tempat berteduh, tempat berbagi dan berkeluh kesah, yang ada hanya ke pura-puraan. 

Ini adalah bayang-bayang yang tidak seharusnya ada, momen yang menyebabkan kebencian merajai. 

Rekam jejak yang dulu bersemi kembali, adalah tamu yang membuat segala gelap hadir, entah kapan akan berakhir. Terlalu memuakkan! 

Ah, begitulah hidup yang penuh huru-hara dan kemunafikan. 

***

Rantauprapat,  26 September 2023

Lusy Mariana Pasaribu


Minggu, 24 September 2023

Aku dan Dua Kebisingan

@kulrurtava
...

Muak, lelah, terperangkap. Hidup tapi mati, mati tapi hidup. Aku dan dua kebisingan yang tak lagi rahasia.


Dua kebisingan yang menjadi relasi. Gandum di antara ilalang. Kebahagiaan, damai sejahtera itu omong kosong. Pohon tua yang rantingnya rapuh, daun-daun layu yang terbang di tiup angin timur.


Menurunkan kenangan yang payah.


Ingatanku belakangan ini dipenuhi hal-hal yang menyakitkan. Dua kebisingan ini membuatku seperti jerami dan rumput kering habis terbakar dalam api. Susahku, tak ada yang pernah melihat. Asu, lebih kepada pura-pura tidak melihat. 


Aku dan dua kebisingan adalah kesia-siaan, di sebuah tempat di dalam gelap ternyata tidak akan pernah berakhir bersama. Pendosa yang mematikan, berlakon baik. Hahahh, dusta. Ini kisah tentang aku, hororyang mematikan, dan  bajingan yang brengsek.


Dua kebisingan yang seharusnya enyah.


Adalah hatiku yang ditanam luka, dan entah sampai kapan akan pulih. Hanya air mata dan huruf-huruf mati yang tercipta. Aku sudah lama layu dan tak berkembang, di depannya seperti lumpur di jalan yang diinjak-injak dan dibuang orang.

Aku tidak lagi tahan. 


***

Rantauprapat, 25 September 2023

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 22 Agustus 2023

seperti Jerami dan Rumput Kering Habis Terbakar dalam Api

@kulturtava
...
Celaka, entah pergi dan lari ke mana harapan yang disemogakan? Yang ada hanya gaduh dan keotoriteran.

Keadaan saat ini, seperti malam yang gelap gulita, tak ada cahaya. Seperti jerami dan rumput kering habis terbakar dalam api. Musnah jadi abu.

Dari awal sudah tak bahagia, kenapa coba-coba dipertahankan. Dan akhirnya, berakhir tak bahagia. Terjebak dalam ikatan. Dahulu suram,  kini lebih suram, apalagi besok? Mungkin hanya celaka yang ada.

Bersama tapi tak berakhir bersama.

Tak ada cinta
Tak ada kesabaran
Hanya bualan belaka semua
Sandiwara, lantas membiarkan kesehatan mental terganggu.

Seperti jerami dan rumput kering yang habis terbakar dalam api, seperti itulah perasaan saat ini. Ingin bersembunyi dan hilang, tapi ke mana tempat persembunyian yang bisa dituju? Untuk berdiri berjalan pun tak mampu lagi.

Jika tak pernah merdeka, lebih baik saling diam dan melepaskan. Tak ada huru-hara, tak ada perang. Tak ada lagi perasaan yang mati, mati dalam kesunyian dan perkuburan sepi.

Ini adalah catatan perjalanan yang kelam, terulang dengan kesalahan yang sama. Tak pernah ada maaf, yang ada hanya menuntut. Kemarahan, keegoisan, ingin dimengerti sepenuhnya seutuhnya terlihat di pelupuk mata.

Sungguh teramat lelah, tapi tak berdaya untuk pergi. Walau keadaan dan perasaan, seperti jerami dan rumput kering yang terbakar dalam api, kan tetap bertahan dalam keterpaksaan sekalipun, sampai terlihat kebaikan hati yang mengalah.

Semoga saja harapan yang terlihat.

***
Rantauprapat, 23 Agustus 2023
Lusy Mariana Pasaribu

Sabtu, 19 Agustus 2023

Ingatan Malam Ini

https://shutterstock.com
...
Sakit, hari ke sembilan belas bulan kedelapan, menjadi rekam jejak yang menyulitkan. Sebegitu tidak pantaskah untuk dihargai? Hingga perlakuan yang tidak pantas diterima.

Bahkan hanya untuk mengeluh, seakan tidak ada ruang dan tempat.

Ingatan hari ini, ingatan tentang perempuan yang sering sekali merendahkan, mengeluarkan huruf-huruf mati dan membunuh dengan perkataan yang pedas. Malam ini, dunia seakan runtuh. Tak dapat membaca bahagia, apalagi membaca realita. Kehilangan, benar-benar kehilangan. 

Untukmu perempuan itu, perempuan yang mencipta ingatan hari ini. Karenamu, Luka-luka dahulu yang pernah ada, kembali mengusik hati dan perasaan. Ini juga kisah tentang bersama tapi tidak berakhir bersama, Kamu perempuan yang tidak pernah melihat susah orang lain. 

Ingin rehat dari semua ini, ingin merdeka. Malam ini seperti ada dan tiada. Omong kosong tentang ikatan.

Dengan segala ingin, untuk kesombongan yang kamu ucapkan pun ciptakan, sangat ingin untuk memiliki penerimaan terhadap kamu. Sungguh benar-benar ingin penerimaan itu.

***
Rantauprapat, 19 Agustus 2023
Lusy Mariana Pasaribu

Minggu, 13 Agustus 2023

Tidak Berakhir Bersama

@kulturtava
...
Aku ingin tidur
Tak berjaga
Ucapan yang buatku tak merdeka

Aku sakit, bahkan lebih sakit dari sakit asmara. Bersama namun sesungguhnya tidak berakhir bersama, hanya kepura-puraan.

Jiwa yang merdeka, ah
Aku sulit untuk itu

Telah berbalik dan pergi
Dicari tapi sia-sia 
Terlalu banyak hujan yang turun
Jejak di antara huruf-huruf mati, kematian yang diinginkan

Bukankah cinta dan keperdulian harusnya bawa bahagia, yang kualami tidak demikian. 

Mungkin, suatu hari nanti dapatkah berakhir bersama, terkadang sangat ingin namun terkadang tak ingin. Aku muak.

Air mataku jatuh saat menerima resesi dari ucap-ucapan yang mematikan.

Bersama tapi sesungguhnya tidak berakhir bersama.
Kosong juga mati.

***
Rantauprapat, 13 Agustus 2023
Lusy Mariana Pasaribu

Sabtu, 12 Agustus 2023

Apa Kamu Pernah Melihat Susahku?

@kulturtava
...
Harusnya aku tidak menangis dan berduka karenamu?

Tak ada angin Utara dan Selatan yang bertiup di kebun hatiku karenamu, entah apa yang mesti kulakukan tiba-tiba kembali dan mengganggu malamku?

Apakah kamu melihat susahku?
Apakah aku boleh marah dan kecewa?
Ingatan dan harapan terhadapmu, kini membuatku bingung. Kamu bukan kampung halamanku, tapi kamu ku jadikan pekerjaan rumahku. Aku pernah melukis jejak kehidupan dan kamu ada di dalamnya, konyol.

Kesehatan mentalku pun terusik, gagal melindungi diri dan perasaanku. Damn, pada dasarnya memang kekonyolanku, tidak akan pernah ada nama di antara aku dan kamu.

Malam ini, aku harus menepikan rindu tak bernama yang mengusik perasaanku.

Kamu adalah kebisingan yang aku biarkan ada, yang aku kira pernah menganggap aku ada dan penting. Itu hanya omong kosong, mendengarkan uneg-unegku saja kamu enggan.

Apakah kamu pernah melihat susahku? Jawabannya pasti tidak. 

Terlalu rumit dan membingungkan.

***
Rantauprapat, 12 Agustus 2023
Lusy Mariana Pasaribu

Rabu, 02 Agustus 2023

Omong Kosong tentang Cinta

@kulturtava
...
Lucu, selalu menyebut cinta, cinta,  cinta dan cinta, yang menjadi realita kehidupan itu bullshit. Hanya ego dan tak pernah berbagi. Bertepuk sebelah tangan bukan.

Ini tentang kamu dan perasaan yang berantakan. 

Terlalu banyak tantangan, kamu hanya memberi angin kemarau. Bersamamu terlalu banyak luka duka, terkadang takut kehilangan kamu, takut jika kamu pergi, namun apakah itu kebutuhan atau hanya sekedar keinginan. 

Omong kosong tentang cinta. Kamu banyak memberi resesi, bukan hanya tentang materi, tentang perasaan pikiran dan fisik. Damn, andai boleh memilih alur cerita hidup. 

Disabilitas ini, kamu adalah latar belakangnya, entah kamu sadar entah tidak. Karena selama ini, terhadapmu tidak boleh ada sanggahan kata TIDAK! Kamu biarkan ini terus terjadi, entah akan berakhir seperti apa dan bagaimana, tak pernah ada humor karena yang ada hanya horor di rekam jejak hidup.

Kesendirian dan kesunyian, itu background yang sering kamu berikan. Membuat menyerah, gagal menjaga apa yang harus dijaga. Tidak memberi kesehatan mental yang seharusnya.

Sepertinya, mayoritas nilai minus yang kamu berikan. Kapan, kapan dan kapan, kamu akan memberikan nilai plus dalam menjalani hidup? Kenapa harus kamu, pertanyaan yang tidak akan bisa terjawab. Tidak akan pernah bisa memilih.. Seolah-olah memberikan cinta, memberikan harapan, tapi itu semuanya hanya omong kosong. Tidak boleh terlalu memikirkan tentang kamu.

Jadi begitulah hidup! 
Penuh rekam jejak yang payah dan menyakitkan.

***
Rantauprapat, 03 Agustus 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 28 Juli 2023

Kenapa Harus Kembali, Kenapa dan Kenapa?

@kulturtava
...
Kisah horor yang mematikan, masih dalam cerita yang suram. Kenapa harus kembali, kenapa dan kenapa?

Kau yang memilih pergi, dan seharusnya sudah sejak lama. Sungguh keadaan baik-baik saja tanpa kehadiranmu, kemarin sejak bertemu denganmu, tidak ada kemerdekaan yang terjadi. Hari ini pun demikian. Lantas besok, bagaimana kisah selanjutnya? Bahkan lusa, jika bertemu denganmu, kabar apa yang akan terdengar? Damn, menjijikkan. Dasar manusia yang berperilaku tidak seperti manusia seharusnya. Asu!

Apakah setelah ini kau tetap eksis dengan segala perbuatanmu? Seperti anjing hitam dengan mata tajam dan ingin membunuh mangsanya. Kenapa kau harus kembali? 

Sepertinya sampai hari ini kau tak sadar, banyak kematian yang terjadi karena kau kembali. Banyak hati yang telah terbunuh, tak ada yang menginginkanmu. Tak ada yang ingin kautemukan. Kau yang harusnya terbuang, seperti lumpur di jalan. Dihempaskan sangat-sangat jauh. 

Kenapa kau harus kembali?

Kau adalah petualangan yang tak ingin lagi ada. Tak ada damai sejahtera, tak ada kebahagiaan, tak ada cinta. Barangkali sampai kau mati. Apakah saat kau mati, akan ada air mata untukmu? Entahlah, semoga saja tidak!

Ingin berhenti di sini. Malam ini, hari ini. 

***
Rantauprapat,  27-28 Juli 2023
Lusy Mariana Pasaribu

Pendosa yang Berpura-pura Baik

@kulturtava
...
Bermula sebab pertemuan yang tak diduga, membuka segala yang mati dan kenyamanan yang membuat bodoh. 

Mendidih, di mana-mana kompromi. Sedari dini sudah dipaksa berbuat yang tak ingin dibuat. Tak bersuara apa lagi berteriak. 

Terlihat baik dengan segalamu, kaukian liar, memanipulasi dengan tindakan, malah membinasakan. Seolah menjadi harapan, sebaiknya kau hanya ingatan yang buruk.

Hanya sibuk menikmati waktu yang malang. Penuh gairah amarah, kebencian, emosional, sebaliknya juga pencemburu akut. Ingin dihindari dan dimiliki pada saat yang sama. Relasi macam apa? Dasar pendosa yang pura-pura baik.

Maaf, maaf, dan maaf yang tak berujung! Kepergian adalah pilihan yang harus dilakukan tetapi diam-diam jatuh dalam dosa yang merayu. Ada penyesalan dan hasrat yang dirumit cemburu.

Aish, dengan air mata dijatuhkan dengan itu pula aku menikmati hujan yang salah. Terbiasa melakukan pembelaan diri dengan perbuatan yang disangka baik tapi berujung maut.

Pendosa itu adalah aku! Demi dipeluk kau, aku bisa berhenti dari kejujuran. Tersesat di kompas kesendirian! Yang paling kubenci adalah membiasakan diri mati pada kesadaran, tak sadar akan sisa hidup. Dasar, pendosa yang payah. Pendosa yang berpura-pura baik. Munafik.

Aku seperti lumpur di jalan, melakukan pemberontakan dalam diam di kala luang. Di April yang basah, ada kejujuran pendosa yang payah dan dilarutkan dalam abjad-abjad yang penuh air mata.

***
Rantauprapat, 17 April 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 17 Juli 2023

Akhirnya Hanya Kesia-siaan

@kulturtava
...
Hanya benar-benar menerka, mengira-ngira, perasaan nyaman yang menggoda. 

Dalam hitungan hari, terbuai pada dosa yang merayu. Merindukan sifat-sifat manja, bersenda gurau tapi berujung pada kesia-siaan.

Permintaan-permintaan yang bertentangan dengan hati pun pikiran,  hanya hasrat dan nafsu yang ada. Belum ada titik temu, namun sudah berdialog kepada dosa, pada hujan yang basah. Menjadi liar, berisik, bertengkar di kepala.

Terlalu banyak gombalan yang bergelora, akhirnya hanya kesia-siaan. Abu-abu, seperti tidak hitam dan tidak putih. Mati tapi hidup, hidup tapi mati.

Ingin hal-hal yang romantisme tapi faktanya adalah horor yang mematikan. Rekam jejak yang payah. Hari yang ke-17 bulan ke-7, adalah kembang api terakhir di senggang waktu dengan segala kebodohan. 

Selepas malam ini, takkan bisa lagi menjadi bidadari yang benar-benar menari-nari, kembali kepada keheningan. Ah, lagi-lagi perpisahan. Ini seperti patah hati, namun kali ini oh begitu sakit. Jejak kata malam ini: akhirnya hanya kesia-siaan.

Besok, lusa, dan hari-hari berikutnya, tak akan lagi pernah bertemu. Hiruk- pikuk hidup, ternyata bertemu dalam ketidaksengajaan bisa jadi bencana mematikan. 

Antara nyaman dan kesepian, adalah rasa yang tak perlu divalidasi. Hati-hatilah dengan hati, jika tak ingin berada di kubangan kebodohan yang berujung pada; kesia-siaan.

***
Rantauprapat, 17 Juli 2023
Lusy Mariana Pasaribu

Rabu, 05 Juli 2023

Di Sebuah Tempat, di Dalam Gelap

@kulturtava
...
Menyia-nyiakan hidup, sibuk dengan waktu luang yang penuh kekonyolan. Tak ada cinta yang dihargai. Terlalu banyak cerita yang buat diri tersesat. Dasar bajingan, sontoloyo.

Siapa yang menabur, namun siapa yang menuai. Ironisnya kehidupan.

Muak dengan semua ini. Tak pernah tahu akan dilahirkan di mana dan di besarkan dengan keadaan apa. Tak pernah boleh bersuara apa lagi menuntut.

Yang bisa dilakukan adalah, berdansa dengan penerimaan walau rasa sakit yang selalu ada. Bak pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya, pagi dan malam seolah terbunuh, tak pernah tenang teduh.

Di sebuah tempat, di dalam gelap. Itulah zona nyaman yang dibutuhkan. Persembunyian yang tepat. Keheningan diri tanpa gangguan.

Berbeda, lantas selalu diperlakukan semaunya. Sepertinya semua hanya kamuflase, kepalsuan belaka.

Diam, pergi, lalu menghilang.

Seringkali ingin manjadi pencuri, mencuri kebahagiaan orang lain. Bodoh memang, angkuh. Keinginan konyol bukan. 

Berkhianat pada kenyataan hidup, hahhah.

Di sebuah tempat, di dalam gelap. Memilih bernafas dengan baik, tidak keropos dalam kesadaran. Mencoba menertawakan diri sendiri dan keadaan yang sontoloyo.

Tidak terbakar dan mati dalam kata-kata yang membunuh. Damn!

Why do you love? Entah di hari yang kapan, di hiruk pikuk dunia yang fatamorgana, ada yang bisa membuat  menyatakan pertanyaan itu. 

***
Rantauprapat, 06 Juli 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 28 Juni 2023

Bu, Apa yang Kau Pikirkan tentang Kami Anak-anakmu?

Tumblr.com/finehoney
...
Terluka namun berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Senyumanmu tak pernah pudar untuk kami.

Bu, tetaplah kuat.
Kami, anak-anakmu membutuhkanmu.

Dalam hidup, ada saja sampah dan bajingan berengsek yang buatmu terluka, sudah lebih setengah abad perjalanan hidup, kau tetap berjerih lelah untuk beri rasa cintamu.

Bu, apa yang kau pikirkan tentang kami anak-anakmu kala kekejaman dunia memberi kehilangan? Apakah rasa takut kami akan menyerah kalah, apakah kecewa akan ketidakadilan yang menimpa kami, ah bu, begitulah hidup yang penuh drama.

Sesungguhnya. Aku terkadang lelah, sepi sunyi, muak atas luka yang terasa. Barangkali juga demikian dengan keempat adik-adikku.

Seluka apa pun perasaan kami, pasti kau jauh lebih terluka. Maafkan kami bu, masih sering mengumpat di belakangmu.

Rekam jejak yang terjadi kembali belakangan ini, menyadarkan kami, bahwa kau adalah sandaran yang luar biasa mengagumkan bagi kami. Sebelum ini, entah sudah berapa kali dasawarsa dan rahasia yang buatmu sesak dan penuh air mata. Maaf, maaf, dan maafkan kami bu yang masih gagal menjadi kebanggaanmu.

Terima kasih buat segalamu yang kami rasakan.

Berlaksa kata-kata bermakna dan hujan kebahagiaan semoga itu ada bersama kita bu, kita harus saling terikat dalam doa

***
Rantauprapat, 28 Juni 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 27 Juni 2023

Bajingan yang Berengsek

@kulturtava
...
Hujan yang sangat dahsyat turun sebab ulah si bajingan yang berengsek. Banyak kehilangan yang terasa. Banyak air mata yang tumpah. Musim dingin yang menusuk. Pendosa yang angkuh. Tak memiliki rasa bersalah.

Tak ada tanggung jawab.
Perkataan sampah, hanya menanam benih tanpa mau menuai.

Di mana value yang harus dimiliki?
Tahu dan paham tata tertib, namun mengabaikan.
Turut dan memiliki pikiran yang tajam, sayangnya ke arah yang menjerumuskan pada ketidakpantasan.

Bajingan yang berengsek, kisah yang suram. Membakar dan menghanyutkan sampah. Entah akan berakhir, entah tidak. Keranjingan hasrat yang menjijikan. Lebih baik musnah dan mati. Namun, keinginan itu tidak pernah berhasil.

Hanya pergi yang tidak berujung.
Memuakkan.
Segera akan kembali datang. Barangkali demikian.
Semoga tidak, 
Lebih menarik jika patah dan tak tumbuh kembali.

Jangan pernah kembali.
Semua telah berlalu
Kejujuran telah ditinggal pergi

Sampah dan masalah yang terus-menerus ada adalah bajingan yang berengsek, mati dan terkutuklah!
Sentuhan, suara, dan pandangan mata yang tidak pernah ingin lagi terasa, terdengar, apa lagi terlihat, sungguh ini harapan yang disemogakan.

***
Rantauprapat, 27 Juni 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 20 Juni 2023

Adalah Hatiku

@kulturtava
...
Kau sudah seperti itu, kali kesekian selama puluhan tahun hidup mendengar kalimat yang membunuh'dan terasa di jurang maut.

Perkataan yang demikian, menjebloskan aku ke dalam penjara yang paling gelap. Kemarau menghantuiku.

Duniaku semakin suram. Ikatan yang toxic ada bersamaku.
Tak ada yang baik dari perjalanan ini.

Aku berbeda
Aku disabilitas
Ini tidak pernah menjadi mauku
Segalaku berantakan

Aku ingin pulang namun tak ada tempatku berpulang
Tak ada kampung halaman yang bisa kutuju

Adalah hatiku yang harus tetap kuat.
Menjaga kewarasan.
Trauma psikis tidak harus bertahta di pikiran.

Terkutuklah aku, jika aku biarkan omongan-omongan buruk membunuhku.

Ingatanku, aku yang bertanggung jawab. Hal-hal yang kotor, yang berbau sampah, lebih baik disingkirkan.

Yang kumau belum tentu yang orang lain mau!

***
Rantauprapat, 20 Juni 2023
Lusy Mariana Pasaribu

Sabtu, 17 Juni 2023

Aku dan Kisah si Bajingan

@kulturtava
...
Beginilah hidup, penuh keisengan dan keusilan. Ah, sial memang.

Terlalu panjang jeda antar kesadaran dan tanggung jawab, bajingan yang harusnya menjadi kepatutan malah jatuh pada dosa yang merayu. Aku, pikiranku mengeluarkan banyak umpatan walaupun berujung kesia-siaan.

Ini sepak terjang yang paling gila dan menjijikkan.

Terluka, sakit, kisah yang dahulu suram, terang-terangan terbuka kembali, dasar bajingan, bajingan, dan bajingan. Aku marah, muak, dan malu. Namun, aku harus kuat demi ibu.

Bu, apa yang kau pikirkan tentang bajingan itu? Kau tak mengatakan rasa sakit dan terlukamu, namun jauh lebih terluka atas yang terjadi. Karena setengahnya aku ada berasal dari dia. Kuatlah bu, agar aku kuat. Banyak hujan air mata yang tumpah, secara tiba-tiba dan beruntun. Gagu aku membaca hiruk pikuk duniaku.

Ini aku dan cerita perjalanan di bulan juni, sesak untuk membayangkan apa lagi yang akan dibayar di perjalanan ke depan, bulan juni saja masih ada setengah putaran lagi. Sbab ulah bajingan, terlalu banyak wajah duka. 


Tuhan, kuatkan aku terlebih ibu.

Aku memutuskan memiliki penerimaan. Biarlah Tuhan yang berperkara terhadap si bajingan. Jika aku kalah, ibu juga akan kalah. Tak ada teduh jika terus meraung dalam ratap tangis.

Bu, tetaplah sehat.

***
Rantauprapat, 17 Juni 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 14 Juni 2023

Bajingan dan Horor yang Mematikan

@kulturtava
...

Haruskah tanpa batas? Kebablasan yang menjijikan.

Tanpa malu, datang dengan wajah tanpa dosa. Mengumpat dan mengumpat. Dasar bajingan, bajingan, dan bajingan. Muak. Berpuluh tahun menyaksikan hal-hal bodoh.

Setengah putaran di tahun ini adalah tahun yang beri rasa sakit dengan dahsyat. Dua dasawarsa dan rahasia, terpaksa diam seribu bahasa. Namun, rahasia itu harus terungkap walaupun dengan cara yang berbeda. Bak candu, dan tato permanen yang tak akan pernah terhapus. Horor yang mematikan.

Aib, saat ini kehabisan kata-kata baik. Seperti kali yang habis airnya, kering kerontang. Ini adalah kisah keliaran-keliaran yang merajai hasrat dalam diri. Ini menjadi topik pilihan dan artikel utama yang tidak akan pernah tergantikan, bahkan akan menjadi terpopuler sepanjang nafas masih ada.

Tak ada tenang teduh. Tak ada kemerdekaan. Dosa bertambah sbab kebablasan yang menjijikan. Tak patut. Bajingan, bajingan, dan bajingan. Lebih baik mati dan musnah saja.

Jangan pernah ada lagi rindu. Tak lagi mau membaca segala kebohongan-kebohongan yang ada, hati tlah menyerah kalah. Untuk menangis saja, rasanya menyesakkan.
Terlalu sakit untuk melupakan apa lagi memaafkan kali ini.

Enyahlah sesegera mungkin!
Sirna bersama kewarasan di dalam persembunyian, tak akan pernah terlihat. Boom!

***
Rantauprapat, 14.06.2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 13 Juni 2023

Hujan dan wajah-wajah Duka

@Kulturtava
...

Damn, hari ketiga belas bulan keenam tahun dua ribu dua puluh tiga, sejarah yang dahulu kembali terulang. Dahulu suram, hari ini menjadi suram yang kembali. Rasa sakit itu mengangga lebih dalam. Aroma masa silam yang pernah terkubur tlah hidup dan menjadi lebih besar.

Kata-kata belaka hanya mengeringkan tulang, hati sungguh memberontak tidak lagi menjadi berani. Ada perpisahan hari ini, klise, dari dahulu sebenernya pun tlah berpisah.

Hanya kepura-puraan. Hujan di bulan juni. Hujan yang mengguyur dengan dahsyat. Ini adalah suram yang kembali. Krisis kesadaran. Mencipta kehancuran diri, tidak merdeka dalam banyak hal. Sudah dipeluk dalam doa malah kebablasan dalam liar.

Malang, ikatan yang membumi hanguskan. Tak ada kebahagiaan hari ini, hilangnya jejak cinta. Kepalsuan belaka. Yang terlihat hanya wajah-wajah duka.

Ibarat sebatang pohon tua yang tak lagi menghasilkan apa-apa, yang telah layu dan akan mati namun masih saja memberikan rasa susah dan lelah jika dipelihara. Bak kerumunan hujan, terasa mematikan.

Dekapan masa lalu hari ini terulang dan menjadi babak baru yang tak berujung hingga kematian terjadi. Berharap ada kematian yang terjadi, ironisnya. Seorang pria angkuh, seorang perempuan tersakiti, ilalang yang tumbuh di chapter hari ini. Manusia yang kesetanan dan setan yang ada di nafsu manusia.

Bagaimana melewati sisa malam ini?
Terpaksa mengajak mata untuk tidak terlelap, lantas bagaimana selanjutnya? terlalu takut menghadapi kenyataan. Apakah aroma masa silam yang terbuka di setengah perjalanan tahun ini mampu terselesaikan atau malah lebih suram.

Duka, luka, dan masih sangat lelah.
Hujan marah dan benci masih meracau hingga malam-malam begini barangkali juga hingga tengah malam atau fajar menyingsing. Hidup ini terlalu suka mengusili. Entahlah.

Boom, ledakan besar terjadi.

***
Rantauprapat, 13.06.2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 06 Juni 2023

Rindu yang Tak Boleh Dirindukan

@kulturtava
...
Adalah seorang perempuan dewasa yang menahan diri dari seorang yang pernah beri perhatian lebih, dari suara dan wajah itu. Seorang dengan label rindu.

Perempuan patah hati tanpa ada kejelasan. Lebih kepada jeda berkepanjangan. Tanpa kabar, tanpa suara.

Ada apa dengan perempuan itu?
Bodoh yang dipelihara, seorang yang telah hilang, menghindar, dan menjauh, tidak akan pernah menjadi tempat apa lagi rumah yang nyaman, itu adalah rindu yang tak boleh dirindukan.

Biarkan saja, hati berkata begitu.
Nalar tidak sefrekuensi, tidak sesederhana itu.
Rasa rindu, benci, marah menjadi satu. Mengganggu hati dan kepala perempuan itu. 

Juni sebelum minggu pertama selesai menjadi hari huru hara, kecewa namun tak boleh dikeluhkan, rindu tapi tak boleh dirindukan. Perempuan itu harus dewasa dalam mengelola perasaan. Toh, pada dasarnya ia tidak pernah memiliki ikatan apa pun.

Perempuan itu harus terbiasa dengan harapan-harapan yang disemogakan yang berujung gagal.

***
Rantauprapat, Juni hari keenam 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 29 April 2023

Saya, Perempuan Itu, dan Elegi

@kulturtava
...Perempuan itu merasa dia spesial, mendapatkan pembelaan yang terlalu. Menjijikkan. Tak tau malu. Relasi yang salah.

Cuaca panas yang ekstrem melanda diri, saya mengalami akhir bulan yang basah. Karena perempuan itu, ada rasa duka yang terjadi.

Kenapa dan mengapa perempuan itu menjadi ikatan? Bapak ibu pun memberikan tempat yang tidak seharusnya. Menjaga kewarasan terhadap perempuan itu, ah. Menyesakkan. Berulangkali kericuhan timbul sebab perempuan itu. Ia juga menyampaikan secara tertulis bahwa ia seseorang yang sakit mental. Ambigunya, perempuan itu tidak sakit mental ketika mencicipi makanan enak dan menerima duit. Hahahaha, lucu bukan.

Saya, perempuan itu dan elegi adalah kisah hari ini. Tidak ada cinta untuk perempuan itu tapi bapak ibu selalu memberi cinta. Ironisnya. Yang menjadi luka duka, saya gagal bersikap bodo amat terhadap perempuan itu.

Ah, hidup ini terlalu asyik mengusili. Penuh drama dan sandiwara.

***
Rantauprapat, 30 April 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 17 April 2023

Seperti Lumpur di Jalan

@kulturtava
...
Parah, berantakan, seperti lumpur di jalan, tak berharga. Berulangkali berjanji dan berulangkali ingkar. Mau menjadi seperti apa? Dengan mudah kompromi terhadap kamalangan.

Basah, sentuhan demi sentuhan liar yang mematikan dibiarkan merajai. Tak akan mampu menjadi pohon anggur yang riap tumbuhnya. Layu oleh angin timur dan barat. Tak mampu melawan godaan.

Perempuan, pria, dan hasrat yang gagu. Plin plan, kebablasan yang tidak terelakkan. April yang basah. Entah apa yang dimau, hanya kenikmatan semu. Seusai kemalangan, hanya patah hati yang ada.

Tanpa suara, senggugukan seorang saja, diabaikan. Menangis tak menyelesaikan masalah. Adakah jalan kembali? Atau dibiarkan mengeras pun membatu.

Seperti lumpur di jalan, diinjak. Begitulah kisah hari ini, panas dingin, terang gelap, hidup mati, mati hidup, tak jelas, gamang, carut marut. Hu!

Penyesalan yang tidak termaafkan!

***
Rantauprapat, 17 April 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 11 April 2023

Tentang Kamu yang Saya Namakan Harapan, Ternyata Hanya Menjadi Kenangan

@kulturtava
...
Tak akan ada lagi esok, hari ini tlah pupus dan sudah. Merasakan ketidakadilan, tebang pilih. Hanya bisa menerima tanpa mendapatkan jawaban pasti. Hu, hari kesebelas bulan keempat menjadi sejarah baru bagi saya, sebab ini tentang kamu yang saya namakan harapan, ternyata hanya menjadi kenangan. Kegagalan, kesepian dan menepi. 

Hari ini seolah menjadi pemberhentian. Ada jarak hidup dan mati di April yang basah. Selepas hari ini, akan jadi seperti apa, entahlah. Kamu adalah realita hidup dengan segala kehororan. Menakutkan. Tak tersedia lagi ruang untuk saya dan kamu, tertutup sudah. Di antara saya dan kamu, ada harapan yang kini menjadi kenangan. 

Kamu adalah harapan yang lama disemogakan tapi tidak menjadi, background yang melekat padamu buat saya seperti debu yang berhamburan di jalan. Terlalu gamang dan sulit menerjemahkan kehilangan kamu.

Benar, tanpa kamu saya akan seperti berada di entah. Terlebih untuk melihat saja, sudah tak bernyali. Bagaimana pun tetap harus bertahan hidup, bersama kewarasan atau keterpaksaan. Hidup tanpa hasrat seperti hidup tapi mati dan mati tapi hidup.

Kesadaran yang bertamu di kepala, sungguh membuat kepala sakit dan rasanya mau pecah. Mengumpat di hati, meledak di pikiran. Sialnya, mau tak mau, saya harus mengusahakan untuk berdamai dengan segalanya saya agar bisa tetap menjalani hidup.

Sulit bahkan sangat sulit, namun entah di hari yang kapan, bisa saja kamu dan saya yang berbeda adalah proses yang akan buat hari saya seperti bunga, indah dan berharga.

***
Rantauprapat, 11 April 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 16 Maret 2023

Selamat Ulang Tahun untuk Kamu

@Kulturtava
...
Tak ada yang tahu batas hidup di muka bumi ini, seperti hembusan nafas saja. Sebelum kamu pergi dan tak ada lagi, harus menjaga diri hingga tidak menjadi ejekan orang dungu.

Pernah jatuh pada dosa yang merayu. Menikmati hujan yang tidak seharusnya, seperti lumpur di jalan. Ada penyesalan yang tak termaafkan. Hari itu dan hari ini, entah kamu mendapatkan cinta entah tidak buat kamu yang notabene adalah sampah yang didaur ulang kambuh pada kedegilan. Permainan layang-layang masa lalu, kamu buka dan nikmati walaupun itu adalah kesia-siaan belaka.

Hidup suka mengusili memang. Kamu tidak memiliki alasan untuk bertahan hidup, berkali-kali ingin mati dan sudah meminta untuk itu tapi selalu saja gagal, lucu sebentar dan sebentar kemudian mengerikan. Kamu tidak pernah merdeka untuk berbicara, disabilitas yang entah sejak tahun berapa melekat padamu buat kamu seperti debu yang berhamburan di jalan.

Kamu si layang-layang putus, harus bertahan di tengah gempuran tebang pilih dan tak dianggap. Entah kamu akan tetap sendiri, entah kamu akan tetap disabilitas yang buat kamu berdiri pun tidak lagi mampu. Tragisnya.  Berusaha tetap berjuang selesaikan tanggung jawab yang ditanggungkan kepadamu.

Dan, kamu si layang-layang putus masih sama seperti dulu. Perempuan dewasa yang gagal bertumbuh. Seperti pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya. Lebih sering layu dan tidak menghijau. Jika hari ini, kamu masih bertahan, hari di mana kamu dilahirkan, barangkali kelahiran yang tak diharapkan. Banyak yang diam ketika kamu menangis.

Penerimaan yang benar, sepertinya tak ada dalam catatan sejarah hidup. Well, hidup punya kesusahan sendiri. Kamu telah tersesat bukan berarti harus tersesat selamanya. Dan, di antara ketidakmampuan, ketidakmungkinan, luka, amarah, ketidakberterimaan yang kamu alami, belajar untuk memaafkan. Memaafkan dirimu sendiri dan memaafkan segala keberadaan yang ada. Kamu harus malu pada Tuhan. Kesalahan kamu tak terhingga, jangan seperti yang paling baik dan benar dengan segala keterbatasannya kamu. Jangan menyerah pada hidup jika masih dipercayai untuk hidup.

Di balik itu. Selamat ulang tahun untuk kamu. Entah di saat yang kapan, semoga kamu pernah menjadi cahaya bagi yang lain. Walau itu hanya kemungkinan yang disemogakan. 

***
Rantauprapat, Maret 2023
LMP

Senin, 23 Januari 2023

Balada Disabilitas dan Perempuan Itu

@kulturtava
...
Adakah seorang ibu yang menyuruh anak perempuannya mati, minum racun? Ternyata ada. Bahkan ibu itu pernah membunuh anaknya, memasukkan kepala ke dalam bak mandi. 

Ia, ibu yang tidak pernah menghidupi diri sebagai ibu. Tak pernah memikirkan kesejahteraan anaknya. Trauma psikis. Auto imun. Disabilitas. Anak perempuan ibu itu bukan anak-anak lagi, tapi anak itu gagal bertumbuh. 

Anak perempuan itu tidak mampu untuk berdiri sekalipun, bukan hanya disabilitas fisik namun tlah disabilitas psikis. Karena ulah ibu yang tlah melahirkannya. Kalau toh pada akhirnya ia harus mati dengan racun dan itu atas perintah ibunya, untuk apa anak perempuan itu ada dan dilahirkan. Sesungguhnya telah lama mati dan terbunuh, menjadi mayat tanpa bau. 

Hari lepas hari, hanya menjadi pengemis yang mengharapkan kasih tulus. Tak pernah ada selama bernyawa, hanya mengumpat dan memberontak seorang diri. Balada disabilitas, tak mampu walaupun ingin lepas dan terbebas. Korban pembunuhan yang tragis. 

Anak perempuan itu ingin mengakhiri hidup dan melakukan perintah ibunya, tapi ke mana mencari racun, berjalan pun tak mampu. Malang. Andai kematian anak perempuan itu menjadi, ibu yang melahirkannya pun tidak akan pernah menyesal, ucapannya adalah kalau mati ya ditanam. 

Hanya menertawakan diri sendiri, senyum sinis, air mata yang ingin ditumpahkan pun tak berkoordinasi dengan baik. Kali ini, air mata tak menjadi teman yang sejalan. Rentang dua hari berturut-turut, per hari kedua puluh dua, tidak bisa terbaca entah sampai kapan, hanya rasa trauma yang tercipta. Dusta dan kepura-puraan. Ibunya lebih baik dan bangga, ketika berhasil memberikan mutiara kepada bab* ketimbang kepada anak perempuannya.

Anak perempuan itu tidak berhak mempersalahkan siapa-siapa atas disabilitas dan trauma psikis yang melekat. Entah seperti apa menjalani sisa hari ini, persetan dengan cinta, persetan dengan keterbatasan. Anak perempuan itu kalah dan ada dalam waktu kebodohan. Basah oleh hujan, menikmati hasrat liar yang bukan haknya. 

Dengan kerelaan, memberikan dosa yang dahsyat menjamah dan terpuaskan atas dirinya. Anak perempuan itu berpikir, setidaknya satu atau dua jam, sengaja melupa atas rasa sakit yang sedang merajai. Dan terbukti benar, haha. Namun, anak perempuan itu tetaplah anak perempuan yang gagal bertumbuh. Ada penyesalan yang tidak termaafkan. Layu oleh angin timur. Pion yang penuh elegi, pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya. Seperti penjepit pakaian yang tua dan usang dan tidak terpakai, tak dibutuhkan lagi.

Hu, menyakitkan. Ini balada disabilitas dari anak perempuan itu. Penuh sesak dan huruf-huruf mati yang tidak bermakna. Biarlah kuat dan mampu menjalani realita hidup, ketika akan terbunuh di masa selanjutnya. Barangkali ibunya akan meminta ulang. 

***
Rantauprapat, 23 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 22 Januari 2023

Seperti Sekam yang Dihamburkan Angin'

@kulturtava
...
Ha, lucu yang menyakitkan. Benar-benar benci hari ini. Hari kedua puluh dua bulan pertama. Omong kosong tentang cinta hari ini. Memuakkan. Teramat banyak noda dalam cinta yang dipertahankan, terpaksa dipertahankan tepatnya.

Seperti sekam yang dihamburkan angin, tak bermakna, tak bernyawa. Mempertanyakan komitmen kebersamaan yang tlah dipertahankan, untuk apa? Yang menjadi hanya rekam jejak yang suram. Air mata yang tak ingin dikeluarkan, keluar dengan sendirinya disertai rasa benci. 

Sudah demo besar-besaran terhadap ucap dan sikap yang terjadi tapi tak pernah ditanggapi. Kenapa terjadi lagi hari ini, di mana kesejahteraan yang harusnya dilakukan? Ego dan keotoriteran yang merajalela. Mungkin sebaiknya hari ini tidak pernah ada, luka dan luka yang diberikan. Ada perempuan yang gagal bertumbuh hari ini dan memilih mengurung dirinya di kamar yang pengap.

Drama hari ini sungguh buat tawa sinis, umputan demi umpatan bahkan adegan fisik yang menakjubkan. Fakta dan fiksi yang sempurna, menyesakkan. Terkadang, tak mampu untuk bertahan tapi kehidupan bukan yang dimau. Terkadang ingin menerima hak yang seharusnya tapi kewajiban pun tidak pernah dilakukan.

Andai, hari ini tidak seperti sekam yang dihamburkan angin, pasti ada kesejahteraan dan tenang teduh. Pasti ada rumah tempat tinggal yang seutuhnya. Bak elegi pion yang terluka, pemulung yang mencari keberterimaan. Entah, esok lebih baik walau hanya sekedar ketidaksengajaan.

Hidup ini memang lucu bukan. Sedang terluka dan terbunuh, hampir menjadi mayat, namun masih bisa tersenyum palsu. Dahsyat luar biasa.

***
Rantauprapat, 22 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 16 Januari 2023

Ia, Air Mata, dan Huruf-huruf Mati

@kulturtava
...
Ia memang berbeda, disabilitas. Itu bukan inginnya, hari keenam belas bulan pertama sudah sangat memberi realita yang pahit. Ia butuh sandaran dan pengertian lebih, namun tak akan pernah ada yang tulus. Lemah semakin lemah, tak ada tenang'teduh.

Ketidakadilan hidup adalah hari ini dan hari itu. Tak ada cinta. Omong kosong tentang cinta. Ia seorang anak yang bukan anak-anak lagi, ah seandainya ia bisa dewasa. Malangnya ia lebih parah dari anak-anak. Untuk berdiri sendiri pun tidak mampu. Tak bisa kerjakan apa-apa tanpa bantuan.

Ia menangis, kenapa harus berbeda. Terbengkalai seperti mesin usang yang tua. Adakah yang perduli tangisnya, ibu atau bapaknya? Ia sering dibiarkan seorang diri di dalam rumah yang kecil. Ia hanya tunduk pasrah, menjalani sisa hidup yang sudah sangat lama ia tak ingin. Ia sudah lama mati, terbunuh.

Ia seperti pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya, layu oleh angin timur. Tak ingin mengumpat, tak ingin patah hati tapi masih saja gagal. Tak pernah mudah memerdekakan hati sendiri bukan. Ia terbuang, dari awal ia tak pernah diharapkan barangkali. Hanya candaan yang terlanjur menjadi. Parah.

Ah, hidup ini penuh teka-teki yang berbahaya. Januari ternyata masih basah, penuh air mata. Hidup ini juga misteri, pikiran yang tidak terpikirkan pun bisa dipikirkan. Terluka, menangis atas apa yang terjadi. Tergantung bagaimana ia memandang proses hidup. 

Hari keenam belas dari tiga ratus enam puluh lima hari, apa yang pun sudah terjadi dan akan terjadi berikutnya, ia harus berjuang untuk menjalani kisah-kisahnya. Berbeda dan disabilitas, tidak pernah ia mau tapi ia juga sadar hidup ini bukan tentang apa yang iamau. Jadi ia memilih untuk tidak memilih. Tidak menjadi dirinya sendiri pun lebih baik, berpura-pura baik-baik saja kan ia lakukan, agar tidak menerima kata-kata yang penuh huruf-huruf mati dan menimbulkan rasa sakit.

Karena tak akan yang benar-benar mengerti ia, ini realita hidup.

***
Rantauprapat, 16 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 07 Januari 2023

Lenyap Seperti Bayangan

@kulturtava
...
Ia ingin lenyap seperti bayangan, hilang seketika. Ada tapi tak ada, sehat tapi sakit. Harus memedulikan air mata yang lain namun air matanya tak akan pernah ada yang peduli.

Hari ketujuh bulan pertama, tanda-tanda perusuh menghampiri. Tak ada cinta, tak ada yang dapat dimiliki. Mau tak mau berpura-pura tersenyum walau pedih perih sebenarnya. Untuk tidak menjadi cemoohan.

Ia kesepian, hari-hari yang membosankan. Gagal menghambarkan diri pada jerat dosa. Tak dapat membaca malam ini, bak mentari yang meredup. Lenyap seperti bayangan. 

Andai ada kesempatan lain untuk ia, namun hidup bukan tentang andai tapi realita. Dan ini bukan tentang apa yang ia mau. Tak boleh memilih karena ia tak pernah terpilih. Fana. Ketidakadilan hidup sedang bermain-main, menertawakan segala tentang ia. Keras, menyakitkan. Tak boleh mengeluarkan suara, dalam diam ia menahan tangisannya.

Mencoba dan harus berhasil menetramkan rasa berduka yang ia alami hari ini. Sangat sulit, ia harus menjadi tenang teduh untuk bisa menguasai diri. Tidak menjadi duri apa lagi badai bagi dirinya sendiri. 

***
Rantauprapat, 07 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 05 Januari 2023

Air Mata

@kulturtava
...
Kenapa kau hanya membagi air hujan untuknya? Hujan air mata. Selalu ia salah pada pemandanganmu. Ia kau biarkan kelaparan dilahap keinginanmu yang lebih prepare pada orang lain. Heran memang.

Terkadang, kau perlu menurunkan standarmu untuk memperhatikan. Ia memang lemah, tak berdaya, tak bisa apa-apa tanpa bantuan tapi bukan pula ia tak punya perasaan. Sering sembunyi-sembunyi mencari perhatianmu tapi entahlah.

Tak ada kepemilikan antara kau dan ia, bukan siapa-siapa. Sepi, gila, tak ada tenang teduh, hanya air mata. Realita dan ketidakadilan hidup sedang bermain-main dan berguyon dengannya. Ia sedang dipecundangi dan ditertawakan. 

Kelaparan bukan melulu tentang perutnya tapi, ia tersesat dan kegilaan pun menjadi. Rekam jejak yang payah terjadi, menimbun emosi negatif,  karena kau melepas gara. Air hujan yang baru kaucampakkan buat ia menjadi layu seperti kembang.

Kau anggap ia dungu, ia hanya perempuan yang gagal bertumbuh. Dengan kata-kata, kau bunuh segala yang menjadi inginnya. Air hujan yang dahsyat sungguh sangat menakutkan baginya.

***
Rantauprapat, 05 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 02 Januari 2023

Ia Layu Seperti Rumput yang Tak Berguna

@kulturtava
...
Ah, kiranya tak seperti ini. Hujan duka, lara, kemalangan menghampiri. Yang selalu terjadi dan terjadi lagi, auto imun pun disabilitas buat tersisih.

Ia layu seperti rumput yang tak berguna, hari ini basah oleh hujan lebat kesepian yang teramat. Realita menghancurkan segala harapan. Baginya, disabilitas sangat menakutkan, tapi ketidakberterimaan yang dahsyat lebih menakutkan.

Entah ada yang memikirkan kesejahteraan untuknya, peduli air matanya, atau belas kasih tulus. Ia seperti ditelan ke dalam dunia orang mati, tak memiliki siapapun. Sendiri!

Kemarin dulu, kini, mungkin juga esok, ia tak akan pernah dianggap ada seutuhnya. Sepi dan ia adalah koordinasi yang tak terlepaskan. Hu, ini tentang kengerian yang berbahaya. Sepertinya hati yang tulus tidak menjadi untuk nya namun hati yang terpasung selalu ia terima.

Mencuri penerimaan, andai bisa dilakukan, ia akan lakukan itu. Ia layu seperti rumput yang tak berguna, kisah yang berantakan. Adakah yang dapat membuat ia memiliki rasa yang berbeda dari hari ini, suatu hari nanti?

***
Rantauprapat, 02 Januari 2023
Lusy Mariana Pasaribu