Senin, 25 Mei 2026

Kebenaran yang Tak Berani untuk Disentuh

Pexels.com 
...

Langkah sunyi malam ini, terdiam dan tersadar. Mencoba merayu Tuhan untuk merasa tenang teduh. Ada kebenaran yang tak pernah berani untuk disentuh, mempertanyakan pertanyaan yang tak akan menemukan jawaban. Betapa miris ada di posisi saat ini. 

Sampai kapan cerita ini akan selesai. Ini kejujuran yang kasar tapi sungguh lama tidak tahan, pada siapa lagi berkata dan berkeluh kesah, jenuh harus selalu menjadi pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya. Pulihlah pulih, hati yang tidak tenang teduh. Pada hari kedua puluh lima bulan kelima, ada godaan jahat yang ingin menjatuhkan, seperti pantomim iblis dan mengeluarkan taringnya dengan gerakan dan wajah menakutkan.

Ada kebenaran yang tak pernah berani untuk disentuh, kebenaran yang menyatakan bahwa, tidak semua membutuhkan jalan pulang dan tidak semua membutuhkan rumah. Padahal kenyataan ada di depan mata, ada tanggung jawab yang harus dipikul. bersama. Ada rasa tidak cukuplah atau rasanya itu bukan urusanku lah. Wow, boom. Ada ledakan yang sengaja dijatuhkan.

Ada jiwa yang lelah dan ada pertanyaan mengapa engkau lelah hai jiwaku, namun pertanyaan itu sulit untuk terjawab. Ada beban emosional yang sulit untuk dideskripsikan seperti bunga liar yang tidak tentu arah. Haruskah mengulang kesalahan yang sama.

Kenapa tidak bertaut dengan keindahan dalam kebersamaan, apa merasa lebih mampu dan lebih bisa? Ini lebih dari seperti saling diam namun sayang, ini adalah pembiaran yang jahat, seperti pantomim si iblis. Menciptakan sejarah yang sulit untuk terbaca, sejarah yang suram dan penuh kegelapan. Ini soal hati yang kehilangan tenang teduh karena banyak hati yang menggerogoti dan menjatuhkan, melakukan pembiaran untuk seorang diri, malam ini dan malam-malam selanjutnya masih merayu Tuhan untuk memperoleh kekuatan menjalani hidup, karena memang banyak kebenaran yang tidak pernah berani untuk disentuh.

***

Rantauprapat, 25 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar