Sial, haruskah selalu sial. Karena hanya kata itu yang terpikir dalam keadaan yang seperti ini, *sial*. Sesak nafas dan sulit mengalami damai sejahtera. Dalam diam dikasih yang terlupa hanya ada keegoan dan amarah.
Seseorang yang harus sesungguhnya menjadi tempat pulang dan menjadi rumah malah menjadi kesialan, merebut apa yang tidak seharusnya direbut, menghancurkan kemurnian dan kejiwaan. Jangan menangis seseorang berkata demikian tapi bagaimana mungkin tidak menangis diperlakukan tidak adil.
Luka lama bukan makin pudar tapi makin menganga. Dimanfaatkan, sempit sungguh tidak ikhlas untuk memaafkan barangkali terpaksa namun melupakan sama sekali tidak. Hari keenam belas bulan kelima, seperti mati dilumat kehancuran.
Dalam diam dikasih yang terlupa ingin rasanya menangis, merasa bersalah tapi harus menjadi batu untuk tidak menyesali apapun. Walau tidak ada bahagia di relung hati, bunga-bunga kebersamaan pun berlalu karena kebenaran siklus dalam kehidupan, sungguh menyakitkan. Kejadian hari ini membuat kembali teringat akan serpihan dan sentuhan kenangan yang suram.
Cahaya redup, Ini kisah seorang dari manusia-manusia lemah yang berakhir pada disabilitas dan harus mati karena cinta atau tanggung jawab. Karena demi memenuhi kecintaan dan kepuasan dari manusia-manusia lemah yang mau tak mau harus selalu dipenuhi, harus rela sendirian dan menjadi kisah-kisah yang seperti rumah tanpa jendela.
Haha, hancur dan payah sendirian. Dalam diam dikasih yang terluka dan juga terlupa. Entah terjadi apa tidak, Pada suatu hari akan terbebas dari cerita-cerita ini, cerita-cerita yang tidak penting, apakah akan bisa tenang teduh! Itu yang di semogakan barangkali.
***
Rantauprapat, 16 Mei 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar