Minggu, 31 Desember 2023

Terakhir Kali di Dua Ribu Dua Puluh Tiga

@kulturtava
...

Cerita pendek dan panjang tlah dilakoni.  Ini terakhir kali di dua ribu dua puluh tiga, juga minggu terakhir sebelum hari berganti. Kilas balik kehidupan satu tahun belakangan.

Ada krisis mental yang terjadi, bersyukur menjelang akhir tahun ada pemulihan yang terjadi sebelum kematian benar-benar ada.

Terakhir kali di dua ribu dua puluh tiga, nikmat mana lagi yang didustakan, masih dipercaya nafas kehidupan. Walau tidak sedikit, patah hati dan kegagalan yang terjadi.

Banyak gelisah juga keegoan, inilah hidup, ingin berkali-kali mati tapi belum tahu arti mati sesungguhnya. Hari ini, terakhir kali di dua ribu dua puluh tiga, inilah cinta. Camar yang sendiri tak pernah benar-benar sendiri.

Sudah lebih dari tiga ratus malam dengan segala gangguan-gangguan di pikiran, baik yang berujung tawa maupun duka, akhirnya ada juga hari ini, minggu terakhir kali di dua ribu dua puluh tiga, semoga tidak ada lagi kesedihan diam-diam apalagi menjadi pendosa yang bersembunyi dan angkuh. Semoga demikian.

Untuk sisa-sisa hari ini, biarlah berhasil mengakhiri patah hati yang masih nyangkut di hati pun kepala. Lalu akan bangun pagi hari di dua ribu dua puluh empat dengan harapan dan doa-doa baik.

Akan melihat hal-hal menyenangkan lagi manis dengan warna cerah, tidak dengan sengaja mencipta kebekuan rumah. Memberi tenang teduh bahkan kesejahteraan bersama.

Barangkali itu saja.

31.12.23// Lusy Mariana Pasaribu 




Minggu, 24 Desember 2023

Sunyi Bulan Desember

@kulturtava
...

Senin, bulan Desember tanggal dua puluh lima. Hari yang penuh syukur namun hari itu juga adalah hari kematian.

Jiwa-jiwa sepi masih merajalela. Kebisingan-kebisingan saling membunuh, tegar tengkuk tidak ada mengalah. Ini adalah sunyi bulan Desember. Seharusnya tidak seperti ini, ingin rasanya memusnahkan keadaan ini. Tapi apa daya, lihat saja bagaimana akhirnya. Karena hitungan hari tahun akan berganti, akan tetap seperti ini atau lebih parah.

Senin tanggal dua puluh lima, adalah kenakalan besar yang menjadi hujan badai. Well, ini adalah jam kehidupan yang benar-benar terjadi

Sungguh tak mampu, kalaupun berkeluh kesah kepada siapa? Sepi bulan Desember telah membunuh bnyanyak hati. Luka hati semakin merusak kesehatan hati, untuk apa dipertahankan! Lebih baik disingkirkan ke entah.

Wah, getir sekali sunyi bulan Desember kali ini. Tidakkah ada kesadaran! Janji-janji yang menyakinkan dan pernah terucap tak lagi diingat hanya demi ego, ini sunyi bulan Desember yang lebih gagu, beku, dan menyakitkan dari Desember yang lalu. 

Masih ada Tuhan pemilik segalanya yang akan memulihkan hati yang terluka, semoga ingat itu.

25.12.23// Lusy Mariana Pasaribu

Jumat, 22 Desember 2023

Bermula dari Kamu

@kulturtava
...

Damn, aku tidak pernah ingin untuk bermula dari kamu. Tidak ada kasih, tidak tanggung jawab. Hanya mau menuntut untuk didengar dan didengar, barangkali kamu tidak akan pernah sadar hanya kematian yang sudah kamu ciptakan. Banyak pembunuhan yang telah terjadi. 

Tidak ada kuantitas pun kualitas yang meningkat. Sepertinya aku akan juga berakhir karena kamu. Denganmu aku sakit, tanpamu aku juga jauh lebih sakit. Tapi ketika tanpamu aku tidak akan lagi melihat dan mendengar rasa sakit yang disengaja.

Aku tidak bisa memilih untuk bermula dari siapa, karena ini bukan pilihan.

Ini terlalu sakit, ini adalah kebenaran dari semua kehidupan yang ku lalui. Aku dan keinginan yang ada di kepalaku, ingin merdeka terhadapmu. Ternyata, tidak segampang itu. Untuk melatih diriku saja terhadap itu, aku masih jatuh bangun.

Hu, kini aku seperti bunga yang layu. Tidak bergairah. Pagiku seperti malam, malamku semakin kelam, tak bercahaya.  Ini adalah kisahku, aku bermula dari kamu dan sepertinya akan berakhir karena kamu juga. 

22.12.23// Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 19 Desember 2023

Aku Ingin Merdeka

@kulturtava
...

Air mata jatuh. Sunyi sepi ada padaku. Berpuluh tahun aku tidak pernah merdeka. Tapi ada menyadarkanku, untuk apa aku melukai diriku sendiri bahkan ketika aku sadar tidak ada pernah yang perduli saat aku jatuh dan terluka.

Ketika aku seperti kali yang habis airnya, toh aku yang harus membuat diriku sendiri bangkit untuk mendapatkan air. Ingin menemukan kedamaian, pun tenang teduh. 

Aku sadar, aku seperti pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya, aku juga adalah camar yang sendirian, aku juga pernah menjadi terdakwa, pelaku, dan korban kejahatan. Sering bersembunyi dalam sunyi malam. Dibalik itu, semua aku ingin punya cerita hidup yang bahagia. Benar-benar mengakhiri patah hati walau bukan aku yang menaburnya.

Aku ingin merdeka kali ini. Ingin lebih mencintai diriku sendiri. Bersikap bodo amat pada hal-hal yang merusak diriku.

Kepada luka, aku ingin berdamai. Kepada cinta yang kurasakan, walaupun cinta itu tidak terbalas, aku ingin berdamai. Karena bagiku sulit untuk berhenti mencintai.

Aku ingin merasa lebih hidup.

Setelah ini, akan banyak yang akan membuat aku murung dan lesap dari kesadaran, bahkan banyak keributan dan kebisingan yang mengganggu aku dan si kepalaku, tapi aku mau belajar membaca itu dengan penerimaan. Bukankah lebih baik membakar sampah dan membuangnya, daripada memelihara sampah itu menjadi tumpukan yang bau.

Sudah terlalu lelah menjadi para penjelajah ke pura-puraan di tanah gersang. Aku benar-benar ingin merdeka setidaknya untuk diriku sendiri.

Ini tentang kemauan dan tekad yang ingin disemogakan.

•••

Rantauprapat, 20 Desember 2023

Lusy Mariana Pasaribu


Senin, 18 Desember 2023

Seorang Perempuan yang Terdampar Sepi

pxhere.com
...

Perempuan itu berkata: ah, sungguh sial aku ini. Ia merasa yang paling terluka, padahal ia sadar, lelah pun mengeluh, pada akhirnya juga tidak ada ketenangan. 

Mengapa perempuan itu ingin diistimewakan? Jangan begitu, ada yang mengatakan pada perempuan itu.

Sampai hari ini pun, menjelang penghujung tahun ketika ia masih menderita banyak perempuan lain yang juga menderita. Perempuan itu terlalu mudah terprovokasi atas kebisingan-kebisingan yang ada di sekitarnya.

Ini terlalu sakit.

Bahkan untuk berpura-pura tidak dengar dan berpura-pura tidak melihat itu sulit. Karena ini adalah kisah yang berulang dan cerita yang sama setiap tahun. Ini lebih dari sekedar ditinggalkan dan meninggalkan.

Hidup tapi tidak hidup.

Mati tapi tidak mati.

Ada di pekuburan sepi. Ia seorang perempuan yang terdampar sepi. Tenang teduh seakan dimakamkan oleh hutan-hutan mati. Perempuan itu tidak merdeka bahkan untuk dirinya sendiri. Ia seperti daun layu yang diterbangkan angin, lagi-lagi gagal menghidupi apa yang yang ia tulis. Dasar perempuan.

Sudah terlalu banyak, chapter duka yang ia lalui. Berlaksa-laksa padang ilalang yang tumbuh, barangkali setelah kematian pun ilalang itu akan tetap ada.

Perempuan itu patah hati, tak lagi terhitung cerita yang terlalu berbahaya tlah ia lakoni. Perempuan itu seolah kehabisan cinta, tidak ada rumus kebahagiaan. 

Ini semua tentang luka.

Tentang rekam jejak yang belum tersembuhkan. 

***

Rantauprapat, 19 Desember 2023

Lusy Mariana Pasaribu




Kamis, 14 Desember 2023

Menggugat Diam

@kulturtava
...

Menjadi dewasa ternyata tidak mudah, hidup penuh luka dan dikorbankan.

Siapa yang menabur, siapa yang menuai. Ketika kejujuran ditinggal pergi, ada yang di kambing hitamkan. 

Gagal menyelamatkan diri, tidak ada yang perduli bahkan jika mati yang akan terjadi. Apakah akan ada penyesalan, sepertinya tidak.

Hari ke lima belas bulan ke dua belas, adalah sejarah baru dalam hidup.

Damn, membencimu adalah kata-kata yang tepat untuk diberikan pada tersangka yang meninggalkan kejujuran. Seseorang tidak hidup dengan layak belakangan ini. Sial memang.


Akhirnya hari ini hujan kejujuran dibuka. Di sana di kamar sempit, seorang perempuan menangis.

Akhirny memilih untuk bicara, menggugat diam adalah hal yang harus dilakukan. 

Pertanyaan gagu yang akhirnya tidak menjadi gagu. Hujan pagi ini ada satu kisah yang usai tapi belum selesai. 

Ah, ini adalah kisah kehidupan yang disembunyikan dengan diam. Sedang terluka, isi kepala penuh dengan keributan. 

Pagi ini, akhirnya berhasil menggugat diam. Rekam jejak yang baru kembali tercipta. Kepada luka, mau tak mau harus berdamai dan menerima.

Rantauprapat, 15 Desember 2023

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 11 Desember 2023

Sesuatu yang Ganjil, Seganjil Wanita Melindungi Pria

@kulturtava
...
Tersembunyi, banyak kekacauan. Masih terlalu pagi untuk mendengar dan melihat rekam jejak yang dulu, berantakan. Terlalu banyak kebisingan yang seharusnya tidak terjadi, ahhhh. Lagi dan lagi terjadi. Kenapa dan kenapa? Hari yang mematikan, hari keduabelas bulan keduabelas. Pagi para jahanam.

Ini adalah cerita mendapati penghujung tahun yang tak akan pernah usai jika kematian belum menjemput. Sesuatu yang ganjil, seganjil wanita melindungi pria. Yang ternyata hanya narasi. Tidak ada kemajuan yang akan terjadi, tak ada komitmen yang dipertahankan. 

Hanya nelangsa yang mampu dihadirkan dalam perlintasan sejarah menjelang akhir tahun barangkali juga ini akan menjadi kisah di awal tahun, hahha. Tertawa yang menyedihkan.

Seperti secangkir kopi pahit juga mendung yang kelabu. Tak ada sapaan manis, keributan yang keluar sudah tumpah ruah. Menjijikkan. Seseorang kembali ada dalam ruang gelap sbab ini. Terlalu suram. Dua kebisingan yang tak dapat dilerai.

Berjanji, berjanji, dan berjanji. Satu pun tak ada yang ditepati. Lupakah atau pura-pura lupa. Seseorang itu yang terlalu berekspektasi atau ini adalah sesuatu yang ganjil, seganjil wanita melindungi pria. Terhempit dalam kebisingan pagi ini, takut untuk menjalani kenyataan hari ini. Masih terlalu lama.

Rapuh. Menyesakan.

Suara-suara yang tak akan pernah didengar dan dianggap. Tidak berhasil hati-hati terhadap hati yang harus diselamatkan. Damn.

***
Rantauprapat, 12 Desember 2023
Lusy Mariana Pasaribu