Jumat, 28 Juli 2023

Kenapa Harus Kembali, Kenapa dan Kenapa?

@kulturtava
...
Kisah horor yang mematikan, masih dalam cerita yang suram. Kenapa harus kembali, kenapa dan kenapa?

Kau yang memilih pergi, dan seharusnya sudah sejak lama. Sungguh keadaan baik-baik saja tanpa kehadiranmu, kemarin sejak bertemu denganmu, tidak ada kemerdekaan yang terjadi. Hari ini pun demikian. Lantas besok, bagaimana kisah selanjutnya? Bahkan lusa, jika bertemu denganmu, kabar apa yang akan terdengar? Damn, menjijikkan. Dasar manusia yang berperilaku tidak seperti manusia seharusnya. Asu!

Apakah setelah ini kau tetap eksis dengan segala perbuatanmu? Seperti anjing hitam dengan mata tajam dan ingin membunuh mangsanya. Kenapa kau harus kembali? 

Sepertinya sampai hari ini kau tak sadar, banyak kematian yang terjadi karena kau kembali. Banyak hati yang telah terbunuh, tak ada yang menginginkanmu. Tak ada yang ingin kautemukan. Kau yang harusnya terbuang, seperti lumpur di jalan. Dihempaskan sangat-sangat jauh. 

Kenapa kau harus kembali?

Kau adalah petualangan yang tak ingin lagi ada. Tak ada damai sejahtera, tak ada kebahagiaan, tak ada cinta. Barangkali sampai kau mati. Apakah saat kau mati, akan ada air mata untukmu? Entahlah, semoga saja tidak!

Ingin berhenti di sini. Malam ini, hari ini. 

***
Rantauprapat,  27-28 Juli 2023
Lusy Mariana Pasaribu

Pendosa yang Berpura-pura Baik

@kulturtava
...
Bermula sebab pertemuan yang tak diduga, membuka segala yang mati dan kenyamanan yang membuat bodoh. 

Mendidih, di mana-mana kompromi. Sedari dini sudah dipaksa berbuat yang tak ingin dibuat. Tak bersuara apa lagi berteriak. 

Terlihat baik dengan segalamu, kaukian liar, memanipulasi dengan tindakan, malah membinasakan. Seolah menjadi harapan, sebaiknya kau hanya ingatan yang buruk.

Hanya sibuk menikmati waktu yang malang. Penuh gairah amarah, kebencian, emosional, sebaliknya juga pencemburu akut. Ingin dihindari dan dimiliki pada saat yang sama. Relasi macam apa? Dasar pendosa yang pura-pura baik.

Maaf, maaf, dan maaf yang tak berujung! Kepergian adalah pilihan yang harus dilakukan tetapi diam-diam jatuh dalam dosa yang merayu. Ada penyesalan dan hasrat yang dirumit cemburu.

Aish, dengan air mata dijatuhkan dengan itu pula aku menikmati hujan yang salah. Terbiasa melakukan pembelaan diri dengan perbuatan yang disangka baik tapi berujung maut.

Pendosa itu adalah aku! Demi dipeluk kau, aku bisa berhenti dari kejujuran. Tersesat di kompas kesendirian! Yang paling kubenci adalah membiasakan diri mati pada kesadaran, tak sadar akan sisa hidup. Dasar, pendosa yang payah. Pendosa yang berpura-pura baik. Munafik.

Aku seperti lumpur di jalan, melakukan pemberontakan dalam diam di kala luang. Di April yang basah, ada kejujuran pendosa yang payah dan dilarutkan dalam abjad-abjad yang penuh air mata.

***
Rantauprapat, 17 April 2023
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 17 Juli 2023

Akhirnya Hanya Kesia-siaan

@kulturtava
...
Hanya benar-benar menerka, mengira-ngira, perasaan nyaman yang menggoda. 

Dalam hitungan hari, terbuai pada dosa yang merayu. Merindukan sifat-sifat manja, bersenda gurau tapi berujung pada kesia-siaan.

Permintaan-permintaan yang bertentangan dengan hati pun pikiran,  hanya hasrat dan nafsu yang ada. Belum ada titik temu, namun sudah berdialog kepada dosa, pada hujan yang basah. Menjadi liar, berisik, bertengkar di kepala.

Terlalu banyak gombalan yang bergelora, akhirnya hanya kesia-siaan. Abu-abu, seperti tidak hitam dan tidak putih. Mati tapi hidup, hidup tapi mati.

Ingin hal-hal yang romantisme tapi faktanya adalah horor yang mematikan. Rekam jejak yang payah. Hari yang ke-17 bulan ke-7, adalah kembang api terakhir di senggang waktu dengan segala kebodohan. 

Selepas malam ini, takkan bisa lagi menjadi bidadari yang benar-benar menari-nari, kembali kepada keheningan. Ah, lagi-lagi perpisahan. Ini seperti patah hati, namun kali ini oh begitu sakit. Jejak kata malam ini: akhirnya hanya kesia-siaan.

Besok, lusa, dan hari-hari berikutnya, tak akan lagi pernah bertemu. Hiruk- pikuk hidup, ternyata bertemu dalam ketidaksengajaan bisa jadi bencana mematikan. 

Antara nyaman dan kesepian, adalah rasa yang tak perlu divalidasi. Hati-hatilah dengan hati, jika tak ingin berada di kubangan kebodohan yang berujung pada; kesia-siaan.

***
Rantauprapat, 17 Juli 2023
Lusy Mariana Pasaribu

Rabu, 05 Juli 2023

Di Sebuah Tempat, di Dalam Gelap

@kulturtava
...
Menyia-nyiakan hidup, sibuk dengan waktu luang yang penuh kekonyolan. Tak ada cinta yang dihargai. Terlalu banyak cerita yang buat diri tersesat. Dasar bajingan, sontoloyo.

Siapa yang menabur, namun siapa yang menuai. Ironisnya kehidupan.

Muak dengan semua ini. Tak pernah tahu akan dilahirkan di mana dan di besarkan dengan keadaan apa. Tak pernah boleh bersuara apa lagi menuntut.

Yang bisa dilakukan adalah, berdansa dengan penerimaan walau rasa sakit yang selalu ada. Bak pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya, pagi dan malam seolah terbunuh, tak pernah tenang teduh.

Di sebuah tempat, di dalam gelap. Itulah zona nyaman yang dibutuhkan. Persembunyian yang tepat. Keheningan diri tanpa gangguan.

Berbeda, lantas selalu diperlakukan semaunya. Sepertinya semua hanya kamuflase, kepalsuan belaka.

Diam, pergi, lalu menghilang.

Seringkali ingin manjadi pencuri, mencuri kebahagiaan orang lain. Bodoh memang, angkuh. Keinginan konyol bukan. 

Berkhianat pada kenyataan hidup, hahhah.

Di sebuah tempat, di dalam gelap. Memilih bernafas dengan baik, tidak keropos dalam kesadaran. Mencoba menertawakan diri sendiri dan keadaan yang sontoloyo.

Tidak terbakar dan mati dalam kata-kata yang membunuh. Damn!

Why do you love? Entah di hari yang kapan, di hiruk pikuk dunia yang fatamorgana, ada yang bisa membuat  menyatakan pertanyaan itu. 

***
Rantauprapat, 06 Juli 2023
Lusy Mariana Pasaribu