Oh, astaga, akhir Januari nampaknya masih enggan berhenti untuk menangis. Setelah selesai mengaudit pengeluaran pemasukan ternyata benar-benar minus. Ini sungguh kejutan yang memberikan trauma, kantong kosong kembali ingin berdering tapi memulai bulan yang baru esok hari, kantong benar-benar tipis.
Seperti gandum yang layu sebelum ia masak, seperti itulah kondisi kantong yang benar-benar kacau. Entah Kenapa, ini seperti fobia buruk. Gila banget, pembayaran bulan Januari benar-benar lebih besar pasak daripada tiang. Antara semut dan gajah yang harus diselesaikan serta tuntas, padahal semut tidak mampu hingga terseok-seok. Ini diskriminasi untuk si semut, tidak ada kesetaraan.
Gandum yang layu sebelum ia masak, tidak mengalami kemerdekaan bukan. Ini soal rasa kecewa, kenapa hanya ditanggung seorang semut yang kecil. Kantong yang tidak pernah berdiri untuk diri sendiri, berisi tapi seperti menjaring angin, terasa ada tertangkap tidak. Kepada kantong yang harus berisi untuk memenuhi segala kebutuhan dan kewajiban, semoga yang mengelola tidak menjadi gila karena segala desakan dan tanggung jawab.
Semoga juga yang mengelola tidak menjadi gandum yang layu sebelum ia masak, tidak pula menyusut karena ketakutan. Percaya kesusahan sehari cukup untuk sehari, semoga juga yang mengelola kantong yang harus berisi terkadang mampu pura-pura untuk bahagia dan pura-pura untuk baik-baik saja walau yang dibutuhkan hanya ketabahan. Tapi jangan melarikan diri dari tanggung jawab, dari tagihan demi tagihan yang akan disodorkan setiap hari, siap jika itu yang dilakukan akan menjadi guyuran batu sandungan.
Setidaknya tidak ada lilitan hutang demi hutang yang menyerang dengan membabi buta, harus tetap kuat dan mengerem diri, kontrol diri dan keuangan dengan doa pun sendi-sendi yang kuat akan mampu.
***
Rantauprapat, 31 Januari 2026
Lusy Mariana Pasaribu