Sabtu, 31 Januari 2026

Gandum yang Layu Sebelum Ia Masak

PublishousNOW
...

Oh, astaga, akhir Januari nampaknya masih enggan berhenti untuk menangis. Setelah selesai mengaudit pengeluaran pemasukan ternyata benar-benar minus. Ini sungguh kejutan yang memberikan trauma, kantong kosong kembali ingin berdering tapi memulai bulan yang baru esok hari, kantong benar-benar tipis.

Seperti gandum yang layu sebelum ia masak, seperti itulah kondisi kantong yang benar-benar kacau. Entah Kenapa, ini seperti fobia buruk. Gila banget, pembayaran bulan Januari benar-benar lebih besar pasak daripada tiang. Antara semut dan gajah yang harus diselesaikan serta tuntas, padahal semut tidak mampu hingga terseok-seok. Ini diskriminasi untuk si semut, tidak ada kesetaraan.

Gandum yang layu sebelum ia masak, tidak mengalami kemerdekaan bukan. Ini soal rasa kecewa, kenapa hanya ditanggung seorang semut yang kecil. Kantong yang tidak pernah berdiri untuk diri sendiri, berisi tapi seperti menjaring angin, terasa ada tertangkap tidak. Kepada kantong yang harus berisi untuk memenuhi segala kebutuhan dan kewajiban, semoga yang mengelola tidak menjadi gila karena segala desakan dan tanggung jawab. 

Semoga juga yang mengelola tidak menjadi gandum yang layu sebelum ia masak, tidak pula menyusut karena ketakutan. Percaya kesusahan sehari cukup untuk sehari, semoga juga yang mengelola kantong yang harus berisi terkadang mampu pura-pura untuk bahagia dan pura-pura untuk baik-baik saja walau yang dibutuhkan hanya ketabahan. Tapi jangan melarikan diri dari tanggung jawab, dari tagihan demi tagihan yang akan disodorkan setiap hari, siap jika itu yang dilakukan akan menjadi guyuran batu sandungan.

Setidaknya tidak ada lilitan hutang demi hutang yang menyerang dengan membabi buta, harus tetap kuat dan mengerem diri, kontrol diri dan keuangan dengan doa pun sendi-sendi yang kuat akan mampu.

***

Rantauprapat, 31 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 30 Januari 2026

Masih Senyum yang Sama

Unsplash 
...

Melihat foto yang di minta dengan sengaja dengan si pria Tapanuli, ada senyum yang timbul dari sudut bibir ini. Seseorang yang pernah menjadi narasi besar dalam hidup dan kini bisa dikatakan menjadi narasi kecil pun tidak lagi. 

Masih senyum yang sama itu adalah komentar yang disampaikan terhadap si pria Tapanuli. Dengan lantang disampaikan, apakah berusaha untuk sengaja melupakan? Kemudian dijawab, bagaimana mungkin sengaja dilupakan sedangkan diingat saja tidak. Mungkin pertanyaan itu adalah pertanyaan sampah,  yang pada akhirnya memberi celah untuk membuka kembali komunikasi.

Malam tadi hari kedua puluh sembilan bulan Januari, mengingatkan bahwa itu adalah juga tanggal yang sama ketika pernah memulai komunikasi. Masa-masa yang dirindukan kala itu. 

Pernah dia membisu, penolakan si pria Tapanuli yang menjadikan satu adalah peribahasa, dia memilih mengabaikan dan pergi ke pada tujuan yang lain. Kehilangan kata, kehilangan kepercayaan, berakhir pada daun jatuh karena ternyata dia memilih rumah yang lain.

Walaupun, belum berapa lama rumah yang dia pilih ternyata bukan rumah yang dia mau, bukankah penyesalan memang selalu datang terlambat. Dan ajakan beberapa kali untuk lari kawin merupakan ketidakwarasan, jika di "ia" kan. Karena dia akan lebih sial dan susah jika bersama dengan perempuan yang diajak kawin lari dan juga tidak boleh terjadi. Si pria Tapanuli tidak boleh layu seperti rumput yang tidak berguna, dia pernah jadi kecatatan yang menawan dalam perjalanan hidup.

Malam tadi melihat gambar dirinya dan ternyata masih senyum yang sama dijumpai, di antara kebrterimaan dan riwayat luka yang terjadi, kembali berharap si pria Tapanuli kan kembali mendapatkan kesejahteraan dan tenang teduhnya walau dengan perempuan siapapun yang akan menjadi pilihan kedua, setelah gagal dengan perempuan pertama yang dipilih.

Pagi ini membayangkan masa-masa itu, ini kisah di Januari lima tahun yang lalu, masa-masa di mana berharap, menjadi selalu si pria Tapanuli tapi itu sudah lama berlalu. Masih senyum yang sama, senyum yang mempesona dari si pria Tapanuli, dan masih bisa melihat senyum itu juga merupakan hal yang menyenangkan. Berharap hal-hal yang baik tetap terjadi untuk dia dalam hidup.

***

Rantauprapat, 30 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 29 Januari 2026

Sial, Sialan Kau!

Foto pribadi 
...

Banyak ketelanjangan yang tersaji, pandangan yang membunuh, ucapan otoriter. Perempuan-perempuan tangguh yang sengaja menindas.

Sial, sialan kau.

Terkadang ingin menahan diri, tapi terkadang merasa benar-benar sendirian. Tatapan itu terlalu sinis untuk diterima. Malam ini hari kedua puluh sembilan bulan pertama, selalu sakit di hati dan berisik di kepala. Ketelanjangan yang terjadi benar-benar muak.

Entahlah, sepertinya kenikmatan malam ini benar-benar tidak akan selesai. Kenikmatan untuk tidak mengumpat, kenikmatan untuk menahan diri, kenikmatan yang merasa sial barangkali.

Sial, sialan kau malam ini. Perempuan-perempuan yang mengganggu, percakapan yang tidak berenergi. Malam yang angkuh. Di kepala saat ini menggunakan amarah, sepertinya terlalu munafik para perempuan-perempuan itu. 

Dua jam kurang untuk melalui malam ini, memilih bercinta dengan kata-kata dan menari-nari dengan huruf-huruf mati, mengurangi kesesakan hati terhadap kesialan yang terjadi hari ini terlebih malam ini. Bagaimana dengan besok? Tidak ada yang tahu jawabnya. Karena untuk menutup mata dan merebahkan tubuh sepertinya sulit malam ini, insomnia terlalu mengganggu dan sulit untuk berkompromi untuk tidur malam ini.

Terlalu gemetar, terlalu bersedih, terlalu takut. Karena kesialan malam ini adalah sejarah yang dahulu terulang. Penghujung Januari yang masih setia dengan hujan kalau tidak terlalu deras dan memberikan efek banjir. 

Dasar sial.

***

Rantauprapat, 29 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 27 Januari 2026

Semoga Tersedak Kopi

Foto pribadi
...

Pernah membencimu sampai ke pembuluh darah, semoga tersedak kopi sampai mati. Pernah berharap demikian, namun ini malam mendapati kabar dan kebenaran segala sesuatu yang seharusnya tidak tahu, ada rasa sedikit penyesalan. Kenapa sulit berdamai dengan masa lalu? Kenapa harus memberi umpatan.

Bukan hanya sekali atau dua kali, melampiaskan keluhan terhadapmu, berbicara dalam kepahitan jiwa tentangmu. Namun malam ini tidak lagi berharap kau tersedak oleh kopi, Itu bukan lagi sesuatu hal yang di semogakan.

Diam-diam berharap selepas malam ini dirimu bisa membuka halaman baru yang bersampul berwarna. Ternyata dirimu adalah kecacatan yang menawan dalam hidup, semoga jadi pembelajar kehidupan dan menghargai kesempatan. Semoga tersedak kopi, selepas malam ini tidak pernah lagi ada dalam niat terhadapmu.

***

Rantauprapat, 27 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 25 Januari 2026

Seperti Katak dalam Tempurung

Foto pribadi
...

Bermuka dua, asu. Mencoba berdiam diri tapi gagal, siang ini adalah lelah yang telah datang bertandang. Bukan perkara duit, bukan perkara kelaparan, tapi ketidaktaatan dan ketidakdisiplinan membuat huru-hara yang panjang.

Di waktu yang entah kapan menjadi wanita yang tangguh dan teladan sehingga dikagumi, di waktu yang lain menjadi wanita seperti singa yang memamerkan otoriter dan membunuh.

Siang ini adalah obrolan sampah, lebih baik menjadi batu dan pemeluk hening. Ingin meledak tapi kehabisan daya kehabisan energi, karena memberontak pun akan tetap kalah. Ingin mengatakan dikasih hati minta jantung, sepertinya terlalu kasar. Entah kenapa harus selalu terkurung, seperti katak dalam tempurung yang tak bisa ke mana-mana. Tak mampu, tapi harus menahan diri demi tercapainya amarah seseorang, begitulah keadaan siang ini.

Semua terasa sial dan membunuh.

***

Rantauprapat, 25 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 23 Januari 2026

Tempat Pulang

Pxhere.com
...

Bagaimana mungkin aku menjadi manusia yang keras kepala terhadap perempuan itu? Betapa bodoh dan angkuhnya aku menjadi seorang perempuan.

Aku terbengkalai akan kesadaran, hanya sibuk mengeluarkan keluh kesah, tanpa tahu diri. Benar, sampai sejauh ini aku selalu mengatakan "ia" terhadap setiap perkataan dan permintaan perempuan itu, tapi tidak dengan ketulusan. Namun ketika melihat rasa sakit perempuan itu, aku sadar dengan segala kebodohan dan keliaran ku terhadap perempuan itu adalah salah.

Perempuan itu adalah rumah tempat untuk pulang dan berteduh. Ini tentang rumah yang sudah seharusnya dan sepatutnya diberi kebahagiaan selagi masih mampu, bukankah adalah kebahagiaan, ketika masih bisa melihat senyum dan suara perempuan itu. Masih bisa merasakan masakan yang dimasak oleh perempuan itu, adalah kenikmatan yang sering kali tidak dihargai olehku, begitu tidak bersyukurnya aku.

Duh, betapa aku menjadi seorang perempuan yang tidak tahu diri, bagaimana mungkin aku pernah mengucapkan ada tidak ada perempuan itu aku akan sama saja, kebodohanku yang terbesar pernah mengucapkan hal-hal bodoh demikian. Setelah ini dan setelah hari ini, aku benar-benar mau belajar menghargai sisa hidup bersama perempuan itu, tidak mau menjadi seseorang yang akan merasa kehilangan dengan penyesalan. Menjadi sampah yang keras kepala.

Doa, harapan dan yang ku semogakan, di masa tua perempuan itu, bisa merasakan sejahtera dan kebahagiaan yang memberikan senyuman sukacita tanpa embel-embel beban, perempuan itu adalah tempat pulang yang berharga dalam hidupku. Ya, perempuan itu adalah ibuku, perempuan batak yang luar biasa tangguh. Maaf untuk setiap tangisan yang pernah sengaja keluar dari bola mata telanjangmu. Terima kasih sudah menjadi ibuku, berlebih untuk cintamu yang tanpa batas.

***

Rantauprapat, 23 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 20 Januari 2026

Sore Mengerikan di 17.27

Foto pribadi 
...

Hari kedua puluh bulan pertama, sore mengerikan di 17.27, dengan mudah mengucapkan kata sampah *tai* kepada seseorang yang sudah menghidupi dari lahir, anak laki-laki yang belum genap berusia 10 tahun. Kutukan dari mana sehingga perempuan itu, selalu sial dan merasakan sakit karena perbuatan bocah laki-laki itu. 

Apakah membesarkan bocah laki-laki itu adalah hal yang salah? Hampir 10 tahun sepertinya lebih banyak huru-hara dan kesialan dari pada damai sejahtera dan tenang teduh.

Ibaratnya nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau, ya hanya tinggal menyelesaikan bubur itu hingga selesai, seperti itu juga barangkali terhadap bocah laki-laki itu, bukankah penyesalan memang selalu datang di akhir. Sore mengerikan di 17.27 hari kedua puluh, tidak ada harmoni yang ada adalah meredupkan tawa. Ini kisah lama yang berulang-ulang-ulang terjadi hampir selama 10 tahun. 

Ini tentang patah hati dan penyesalan, seluruh energi dan daya tahan tubuh hilang seketika, ada kesedihan yang terang-terangan menghampiri sore ini. Karena bukan hanya perkataan sampah yang diterima perempuan itu, luka fisik dengan sengaja diberikan bocah laki-laki itu, karena bocah itu tahu perempuan itu cacat dan tidak mempunyai daya untuk melawan apa menyelamatkan dirinya sendiri.

Di manakah harapan yang bersemayam untuk bocah laki-laki itu? Menguap entah kemana, hanya ada ratapan dan air mata. Bagaimana selepas hari ini, bagaimana nanti dengan perempuan itu? Tidak ada kata terlambat untuk belajar, apakah peribahasa itu akan berlaku untuk bocah laki-laki itu menjadi anak yang lebih baik, untuk perempuan itu apakah dia bisa belajar memberi penerimaan terhadap bocah laki-laki itu? Terlalu sulit dan rumit karena sepertinya anak laki-laki usia 9 menuju 10 tahun tidak sewajar dan sepantasnya melakukan kekerasan seperti itu.

Entah akan jadi seperti apa, bukan kehendak perempuan itu tapi kehendak sang pencipta, ini adalah keluhan perempuan itu hari ini, sore mengerikan di hari kedua puluh bulan pertama.

***

Rantauprapat, 20 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 18 Januari 2026

Adakah Aku Pernah Berharga Untukmu?

Kulturtava
...

Aku tidak tahu, apakah keberadaanku memang berharga untukmu? Apakah aku adalah seseorang yang kau nanti-nanti. Karena yang kurasakan, ketika kau dirayakan beberapa kali dalam satu tahun, di mana jelas-jelas aku ada tapi tak terlihat, karena keterbatasan kakiku yang sulit untuk bergerak dan melangkah, kau tidak pernah mencari aku dan memanggilku untuk hadir. Hanya asyik dengan perayaanmu dan dana yang harus dikeluarkan, karena itu kewajiban juga untukku.

Malam ini aku tidak bahagia, aku tidak sejahtera, aku menangis tapi ku putuskan untuk tidak lagi tawar hati, karena ketika tawar hati aku yang susah. Sebenarnya sudah biasa dan sudah lebih dari 3 dasawarsa aku menerima tatapan maut yang ingin mematikan dan membunuh. 

Adakah aku pernah berharga untukmu? Sepertinya tidak walau ketika aku pertanyakan ini, jawaban sampah yang akan kudengar. Aku dan kau adalah irama dan relasi yang dekat tapi berjauhan.

Akan tetap menjalani tanggung jawabku selagi aku mampu dan berbunyi brimo, menghasilkan uang untuk mengusir ketakutan dan kecemasanmu akan uang. Selagi kau hidup, akan tetap berusaha untuk memberikan kepuasan dan memenuhi segala keinginan-keimanannya hatimu, walau aku tetap harus berdiam diri. Karena ketika aku bersuara pun tidak pernah didengar, itulah paradoks diriku malam ini. Aku adalah camar cacat yang sendirian.

Gaung ingatanku malam ini, diisi kesadaran bahwa waktu ini adalah terbatas dan aku tidak tahu siapa yang akan lebih dulu menyelesaikan pertandingannya di bumi, dan sedapat mungkin, aku tetap akan memiliki penerimaan atas luka yang kau berikan, karena kau tidak pernah menjadi teladan yang benar-benar bagiku, walau  demikian, malam ini aku tidak melarikan diri dan jatuh pada dosa yang menggoda untuk dinikmati apalagi terjebak pada hutan kebodohan yang sendu lagi liar, sekalipun aku tidak pernah berharga untukmu.

***

Rantauprapat, 18 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Sebab Itu Aku Tidak Tawar Hati

Unsplash
...

Aku sudah benar-benar muak, menderita dalam dunia. Aku pernah menuliskan mengapa engkau tertekan hai jiwaku? Bukankah dunia ini hanya sementara. Sudah berkali-kali aku dihadapi dengan kesedihan-kesedihan bodoh. Tapi sampai saat ini aku gagal membuat jiwaku tidak tertekan. Pernah menjadi perempuan yang memakan bola matanya sendiri, dibiarkan air mata menguasai diri.

Terlalu burukkah aku sehingga aku tidak bisa mendapatkan tenang teduh dan kesejahteraan? Haruskah selama sisa hidupku hanya ada kesendirian dan memenuhi tanggung jawab? Sepertinya aku dengan sadar memilih mencintai orang lain dalam suatu hal yang harus diselesaikan tapi meracuni diri sendiri walau dengan terpaksa.

Aku bisa apa? untuk melangkah pun, aku tidak mampu sendiri. Sehat tapi sakit seperti mati tapi hidup. Aku manusia yang sudah lama menjadi pembunuh, pembunuh diriku sendiri dengan mematikan kebahagiaan yang harus kurasakan. Aku juga pernah harus memelankan suaraku, untuk kepuasan seseorang.

Terlalu banyak jejak-jejak dari tangan-tangan liar di seluruh tubuhku dan juga ucapan-ucapkan sampah yang ada di kepalaku. Tetapi semua tidak lagi berarti, aku sudah lama mati. Aku ingin tidur, Aku tidak mau menjadi penjual kesedihan dan meminta-minta penerimaan. Pernah menjadi pencuri, pencuri untuk mendapatkan perhatian tapi tak pernah tercapai.

Sakit sekali tapi, tak ada yang benar-benar peduli pada diri kita, kalau bukan kita sendiri. Karena ketika aku jatuh dari seluruh badan memar dan terluka, aku yang merasakan seorang diri, yang ada banyak umpatan yang kuterima. Aku bosan hidup, tentu saja bosan dengan segala lingkaran yang kuhadapi.  Pagi ini aku berbicara dalam kepahitan jiwaku, aku melampiaskan keluhanku. 

Yang pasti atas segala luka, aku tidak akan tawar hati. Karena celakalah aku jika aku membiarkan diriku jatuh dalam dosa yang terus-menerus, kenapa aku lupa aku masih punya Tuhan sang penguasa hidupku dan seluruh hari-hariku. Bukankah tanpa adanya izin Tuhan aku tidak akan keluar dari kandungan.

Dan bukannya hari-hari umurku hanya sedikit jadi aku tidak tahu kapan aku akan benar-benar mati, sebab itu aku tidak tawar hati. Di kesendirianku yang hingga hari ini, masih ada pemeliharaan Tuhan yang menjaga nyawaku dan keterbatasanku.

***

Rantauprapat, 18 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 13 Januari 2026

Januari yang Basah dan Musim yang Angkuh

Kulturtava
...

Sialan, tidak ada tempat dan rumah untuk pulang. Bahkan untuk merasa teduh dan sekedar baik-baik saja terasa mustahil. Yang menawarkan menjadi rumah juga hanya bualan apa lagi yang diharapkan menjadi rumah, hanya omong kosong.

Ini kisah di Januari yang basah dan musim yang angkuh. Seorang perempuan yang mengharapkan penerimaan, ia tak pernah mau berbeda, tak pernah mau sendiri dan sunyi, tapi selalu harus di paksa kuat untuk memenuhi semua ekspektasi.

Hujan yang menetap hampir 24/7 selalu ada dari balik bola matanya. Kemarin, di sela waktu berdiam diri, ada gagal yang merayu dan hari ini perempuan itu hanya menonton pertunjukan,  pertunjukan yang memberikan api tanpa boleh berkomentar apapun. Karena ia harus tahu diri, lebih baik mundur teratur daripada merusak damai yang sudah dieja.

Ketika terjerat dan tenggelam pada musim yang yang angkuh, mau tak mau perempuan itu harus melepaskan sekumpulan keinginan demi terlihat baik-baik saja, walau tak berani mengais bahagia, karena hukum yang harus dipatuhi harus selalu taat ketika itu sakit dan mengorbankan diri sendiri.

Ini tentang luka, ini tentang kehilangan. Ini tentang Januari yang basah, tapi lagi-lagi harus selalu tetap memiliki praduga yang baik karena ini adalah relasi pertama yang tidak akan pernah tertukar. Siapa tahu entah di hari yang kapan dan tahun yang kapan ada bahagia yang bisa dicuri dan membiarkan dirinya dicuri dengan ikhlas, barangkali demikian.

***

Rantauprapat, 13 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 12 Januari 2026

Bajingan, Tanpa Memberi Jeda

Pinterest.com
...

Cinta, ternyata tidak mampu menghapuskan segala berita tentang luka dan luka. Bajingan, tanpa memberi jeda menghancurkan kepercayaan. Terlalu terlihat mencolok, apa salahnya jika harus diselesaikan saat itu, tapi yang didapat adalah mata dan ucapan tajam yang ingin membunuh.

Mau sampai kapan harus selalu diam dan mengerti keadaan, sepertinya juga berdiam diri adalah seni mencintai diri sendiri tidak sepenuhnya berhasil. Ada saja bajingan-bajingan berisik yang mengganggu kepala. 

Entah siapa yang terlalu angkuh, tanpa memberi jeda, para bajingan liar memberikan hujan yang menetap dari bola mata telanjang. Diremehkan sudah biasa, dianggap tidak ada juga biasa, lantas kenapa harus menuntut ini dan itu.

Di sini, di hari kedua belas bulan Januari, muncul kisah-kisah rumah tanpa jendela. Brengsek, bersama hujan malam dan huruf-huruf kapital yang sama sekali tidak bernilai, jari-jari menari tanpa batasan dan menjadi pembunuh waktu agar mata tidak terlelap, ada kisah yang harus diselesaikan. Karena ada juga luka yang harus dirayakan untuk menjadi pengingat.

Hey hati, sadar dan berjaga-jagalah. Terhadap bajingan yang brengsek, yang tanpa memberi jeda memberi luka, kau bisa memaafkan tapi tidak melupakan. Kenapa harus memperdulikan kesejahteraan yang bukan kesejahteraanmu.

***

Rantauprapat, 12 Desember 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 10 Januari 2026

Si Dunia Abu-abu dan Hantu Siang Hari

PublishousNOW
...

Untuk apa menjadi reaktif terhadap orang seperti itu, si dunia abu-abu dan hantu siang hari. Menghabiskan energi jika meladeni orang seperti itu. Salahkah mengucapkan terima kasih, tapi balasan yang didapati adalah tidak perlu. Begitu dangkalnya kah duniamu, terkadang memang merasa cukup menghadapi orang sepertimu disia-sia lebih bagus antipati, menjaga jarak sejauh mungkin. Hanya berharap dan menguras untuk menikmati kehidupan, sial. 

Terlalu banyak kata-kata sampah yang sudah kau keluarkan dari mulutmu. Bapakmu, hantu, tidak perlu, dan tidak usah pala tanya. Aduh, kenapa ada di lingkungan yang benar-benar sampah? Sayangnya ini lingkungan yang tidak bisa dipilih tapi harus berjalan, sampai mati barangkali. Ini hidup yang tidak ideal sama sekali. Ini seperti mati dilumat kebodohan dan keliaran, yang mengatasnamakan saudara. Tapi jangan sampai jatuh pada pemakaman tidak keberdosaan. Ini adalah babak setelah kembali pulang dan memiliki kekuasaan. Siang ini adalah dunia yang suram, karena di dunia abu-abu dan hantu siang hari menghantarkan diri pada keegoisan.

Tak ada keceriaan dan kegembiraan karena hantu siang hari, menjadi hantu yang benar-benar menakutkan. Karena ternyata ada dusta di balik yang mengatasnamakan cinta. Merasa paling populer, paling dibutuhkan, merasa segala-galanya, seolah tanpa ia hadir dunia tidak berputar. Karena ada yang berpikir barangkali, lebih baik hancur dan terbata-bata daripada merasa direndahkan. KENAPA? Karena itu adalah pemikiran seseorang yang selalu mengucapkan kata-kata sampah, tanpa sadar sudah memberikan luka sampai berkeping-keping hancur yang mau tak mau harus dijalani dan diselesaikan hingga maut memanggil.

Kenapa tidak sadar dan berbalik dari kejatuhanmu yang pernah ada, hai si dunia abu-abu dan hantu siang hari.

***

Rantauprapat, 10 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 09 Januari 2026

Penyakit Mulut dan Dunia Abu-abu

Pixabay
...

Asu, sebaiknya memang kau tak pernah kembali, kau yang memilih pergi kemudian kembali sesukamu. Penyakit mulutmu, bau dan memberikan rasa sakit padahal jelas-jelas sudah memberi pertolongan padamu. Hari ini terlalu sulit merekayasa dunia abu-abu dan penyakit mulutmu menjadi sesuatu yang hangat juga damai. Padahal kau itu seorang ibu yang memiliki anak perempuan juga. Sakit bahkan terlampau sakit, siapapun tidak pernah mau ada di posisi ini.

Masih sembilan hari menjalani tahun ini dan lebih banyak hari yang yang dilalui dengan bencana karena penyakit mulutmu. Sepertinya kau kembali pada duniamu yang tanpa aturan. Hanya kemauanmu yang harus selalu di dengar dan dilakukan, dengan gampangnya kau merespon "tidak usah palah tanya". 

Hari kesembilan di bulan Januari, tidak ada bahagia tidak ada kenyamanan, itu semua karena penyakit mulut dan dunia abu-abumu. Terlalu munafik. Sudah menahan diri untuk merasa cukup terhadap sikapmu, tapi lagi-lagi kenyataan menghantam, memuakkan. Sudah pernah ada di ambang kehancuran tapi lagi-lagi kekuasaan yang ada padamu sebentar menguasai dan membuat memaksakan lumpuh pada kesadaran dan tata krama yang benar.

Akan mencoba berdiam diri, karena itu adalah seni menyelamatkan diri sendiri. Tidak sampai malam ini berlalu tidak mau hanyut dalam pemakaman akal yang kau berikan. Tidak pula akan menangis karena itu membuang-buang air mata yang tidak seharusnya jatuh karenamu, seseorang dengan tingkat tinggi dalam penyakit mulut dan dunia abu-abu. 

Ya begitulah kenyataan hidup dengan segala drama dan kebodohan liar yang mengikuti. Well, harus memiliki pikiran yang bernilai, dengan tidak meninggalkan jejak duka dan duka cita yang berkepanjangan hari ini. Malam ini takkan bersembunyi dari penyakit mulut dan dunia abu-abumu, akan menggugat kebenaran. Berharap ada kesadaran yang menghampiri akal liar dan mulut tajammu. Kalau ternyata kau tetap bebal, benarlah Ilham yang mengatakan tidak usah memberikan mutiara kepada babi, dan penyesalan lah yang menjadi teman. 

***

09 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Berdiam Diri adalah Seni Mencintai Diri Sendiri

Pxhere.com
...

Barangkali tidak ada hari yang tidak akan mendengar dan mendapat kata-kata pedas, sebegitunya hidup di minggu pertama ini. Lagi-lagi ini adalah proses dan aku memilih berdiam diri. Menurutku berdiam diri adalah seni mencintai diri sendiri. Tidak ada huru-hara, tidak ada marah. Mencintai diri sendiri dengan tenang.

Aku tidak tahu sampai entah kapan, yang aku tahu pasti kejadian ini akan pasti terulang dan diulang-ulang baik dengan sadar atau tidak sadar, karena ini adalah enam Januari untuk kesekian kali, namun aku memilih merdeka dan tidak boleh terbelenggu benci dan rasa tidak nyaman.

Kata yang terdengar tidak harus tersimpan, aku tidak akan menjadi perempuan yang tertancap pada paku kata-kata. Disandera waktu pada ucapan-ucapan gila yang bodoh, memberi jeda pada bola mataku dan akalku dengan memikirkan air mataku yang bebas terjun membasahi.

At least, berdiam diri adalah caraku menyelamatkan diri sendiri. Menjadi matang dengan menyenangkan dan menerima diri. Tidak lagi akan membuat hati sakit dalam ocehan-ocehan yang jatuh pada hati dan pikiran, lebih baik berdiam diri dan bersukaria pada huruf-huruf mati yang bisa menjadi kata-kata indah dan kalimat yang luar biasa dan tak akan pernah menghianati, itu adalah seni yang menyenangkan bagi diri.

***

06 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Selalu Cukup

Freepik
...

Ada yang benar dan ada yang tidak benar, ada hitam ada putih, seumur hidup tumbuh dengan gejolak, apakah mampu merasa selalu cukup atau sebaliknya.

Seiring berjalannya waktu, seiring tubuh yang makin melemah, seiring umur yang semakin bertambah, ternyata ada kesadaran dan ketakutan, alasannya cinta tidak selalu tentang angka tapi tentang pengampunan, sorot mata yang tulus dan senyuman yang bener.

Ternyata juga tidak selalu sulit untuk merasa selalu cukup. Jangan selalu membaca ekspektasi dengan berlebih-lebihan atau ugal-ugalan yang menimbulkan keliaran. Pada suatu subuh di hari keempat Januari, ada perbincangan antara hati dengan pemilik hati, apapun keadaan, apapun situasi, apapun keterbatasan jangan membiarkan diri menjadi hamba kebodohan dan seseorang yang memiliki kepahitan dalam hidup. 

Selepas pagi ini barangkali akan kembali berjumpa dan di akrabi dengan kesialan demi kesialan, namun jangan langsung goyah dan bendera hitam berkuasa, coba tenangkan diri dan menerima, kalau perlu menutup dirimu, Iya itu lakukan. Berteman dengan sunyi dan sepi itu tidak masalah, mengeja huruf-huruf mati, menulis prosa, namun tetap kuasai diri. 

Jadi tidak ada kata tidak mungkin untuk selalu merasa cukup, ini tentang kasih. Terhadap kesabaran, rayu dan dekatilah kesabaran itu sehingga memilikinya. Pada pagi hari yang ini, ternyata kamu telah mengisinya dan memiliki: selalu cukup dan selepas pagi ini semoga kamu bisa menghidupinya.

***

Rantauprapat, 04 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 05 Januari 2026

Catatan Kecil di Hari Kelima Malam Ini

Unsplash
...

Bersama keegoan, ada hujan yang jatuh di hati. Hujan yang tidak boleh menjadi badai, harus menjaga tubuh dan merawat jiwa demi tercapainya kewarasan. Belajar ikhlas untuk selalu merasa cukup.

Ini catatan kecil di hari kelima malam ini, tidak amarah menguasai diri. Jangan jatuh pada kekerasan hati. Malam ini, ketika hujan membasahi bumi, kembali ada luka duka dari mulut berbisa seorang perempuan pada perempuan lain mirisnya perempuan itu harus berteduh pada kata cinta diikuti pengampunan.

Lima hari kebelakang, kabar hati perempuan itu baik-baik saja atau lebih tepatnya mencoba baik-baik saja karena  sudah berjanji akan selalu merasa cukup, belum ada beberapa jam setelah berjanji dalam hati sudah kembali bergejolak perempuan itu, karena ini adalah hidup dan pertarungan yang tak ada ujung hingga maut memisahkan.

Ini masih terlalu awal terhadap gejolak-gejolak yang akan terjadi dan mungkin akan lebih besar, tidak ada lomba tidak ada yang dimenangkan dan tidak ada yang diperebutkan yang ada adalah kesadaran diri untuk menguasainya, tetap memiliki kesabaran dan kecukupan.

Bahkan ketika kesedihan diam-diam menggerogoti, jangan kalah itu. Memiliki sejarah yang benar dan menjadi rekam jejak yang berwarna, ini adalah catatan kecil di hari kelima malam ini.

***

05 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 




Sabtu, 03 Januari 2026

Sebuah Catatan untuk Manusia-manusia Lemah lagi Berisik

Unsplash
...
Manusia-manusia yang tidak pernah tenang, yang satu asal bicara dan yang satu tidak pernah mau kalah. Tahun baru saja berganti belum ada satu minggu, tapi kembali bergejolak dengan cepat. Tanpa aba-aba tanpa pemberitahuan membiarkan huru-hara terjadi, ucapan-ucapan sampah. 

Mau tak mau harus tetap memiliki kewarasan, bukankah cinta memiliki pengampunan. Ya, ini adalah seni yang harus dimiliki untuk menghadapi manusia-manusia lemah lagi berisik. Pukul 16.00 kurang lebih pada tanggal tiga Januari, dosa kembali merayu karena pertengkaran dari manusia-manusia lemah, terlalu sulitkah untuk kalah mengalah, sampai harus mengorbankan perasaan orang lain.

Hey, ini adalah sebuah catatan untuk manusia-manusia lemah lagi berisik, seharusnya dan sepatutnya enyalah, menghilang dengan sangat jauh. Kedengaran egois memang tapi mau sampai kapan, hanya mementingkan diri sendiri dan kepuasan terhadap ucapan sampah yang keluar dari mulut kotor itu?

Gaun ingatan sudah terlalu juga berisik terhadap manusia-manusia yang lemah yang tak kalah berisik, lupa diri akan umur, katanya sayang tapi tindakan tidak mau melakukan itu, kuasa otoritas lebih penting dari banyak hal. Benar memang cinta harus diikuti pengampunan, namun itu tidak menjadi alarm yang langsung on baru saja disakiti secara verbal.

Jadi berusahalah dulu untuk selamatkan diri, jangan kalah dari hujan yang terus datang dan menyapa dalam tiga hari ini. Serotis-erotisnya dosa yang merayu, tetapi harus menang dan yang bercumbu pada penerimaan adalah akal sehat dan juga hati yang benar. Berharap ratusan hari yang masih akan dijalani di tahun ini, tetap menjadi manusia-manusia yang memiliki kewarasan dan catatan untuk manusia-manusia lemah lagi berisik, ingatlah waktu yang terbatas dan jangan lagi menjadi manusia-manusia yang tumpul. 

Berharap dan disemogakan saja dulu, karena bukan ada manfaatnya jika harus dibinasakan bukan. Apalagi harus berahi pada kebinasaan dan menjadi bandit idiot. 
Untuk manusia lemah lagi berisik yang menjadi objek tulisan pada prosa ini, sungguh mengharapkan yang baik terjadi, jangan menjadi bangsat terus-menerus. 

***
03 Januari 2026
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 02 Januari 2026

Cinta diikuti Pengampunan

Unsplash
...

Benarkah cinta dikuti pengampunan, tidak layak menerima maaf tapi diberi maaf. Atau itu hanya sekedar narasi. Dan sengaja melupa dari perbuatan-perbuatan tidak bermoral dari seseorang yang suka mendominasi.

Ada seseorang yang kelihatan rohani, tapi itu hanya permukaan di luar karena yang menjadi realita seseorang itu adalah seseorang yang memiliki nilai tentang uang-uang dan uang. Jadi tidak mudah ketika mengatakan cinta diikuti pengampunan, karena ada seseorang atau banyak orang yang memanfaatkan kalimat itu.

Dalam hidup seseorang yang lain terlalu banyak tragedi dan sentuhan kejahatan yang terjadi, rela menjadi pelajur-pelajur yang mengatasnamakan kenyamanan di waktu senggang dengan padang ilalang liar demi tercapainya keegoan. Terlalu bodoh untuk mengakrabi dosa yang telanjang. 

Mungkin benar kalimat itu bahwasanya cinta di ikuti pengampunan tapi untuk menghidupi kalimat itu yang sulit. Terlebih antara seseorang dan seseorang lain ada keterbatasan dan fobia takut gagal walau sadar kita semua adalah sampah, sampah yang didaur ulang, karena tidak ada satupun seseorang yang benar-benar bersih. Jadi untuk mengatakan cinta diikuti pengampunan itu benar-benar sulit, seperti usaha menjaring angin terasa ada tapi tidak bisa ditangkap.

Cinta diikuti pengampunan, ada di ambang rasisme tanpa ujung. Apakah ingatan masa lalu yang tak bisa lepas seperti dendam dan kepahitan melingkupi cinta yang diikuti pengampunan, sampai kapan? Cinta di ikuti pengampunan seperti membiarkan rasa yang tersiksa. 

Namun di atas itu semua barangkali adalah keikhlasan atas segala derita dari seseorang kepada seseorang yang lain atas dasar cintamu, sangat tidak mudah tapi berdoalah semoga mampu menjalani sehingga kalimat cinta diikuti pengampunan akan terjadi.

***

Rantauprapat, 02 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 01 Januari 2026

Januari adalah Kejujuran yang Telanjang

Freepik
...

Ini tentang kenapa harus basah oleh hujan? Tentang kehilangan kepercayaan, juga tentang bara yang sengaja dijatuhkan dengan kata-kata sampah. Januari adalah kejujuran yang telanjang. Ada hati yang jatuh berkali-kali, ada keributan yang terus-menerus ada dan menjadi.

Juga tentang masa depan yang tidak pernah dipedulikan, hanya dijadikan pemuas dari nafsu dari keinginan-keinginan bodoh. Siapa yang perduli kesejahteraannya, kehidupan yang sial bukan. Ini Januari jadi awal mula patah hati yang tercipta tapi tak pernah diingini, seorang perempuan cacat dengan segala serpihan hati.

Banyak ilalang yang tumbuh liar, perempuan itu selalu ada di persimpangan antara hidup dan mati. Perempuan itu tidak pernah baik-baik saja, tapi siapa yang akan menyadari itu. Ia adalah kali yang habis airnya. 365 hari akan di hadapi dengan segala kepalsuan disertai dengan dunia yang kejam yang benar-benar kejam.

Januari adalah kejujuran yang telanjang, ini juga tentang seorang perempuan dan sepatu yang tidak pernah terpakai, perempuan ini tidak akan pernah bisa memakai sepatu karena kakinya yang sebelah lebih kecil daripada kakinya yang lain, untuk berdiri sendiri saja ia tidak mampu apalagi untuk berjalan terlebih berlari.

Barangkali tidak ada yang pernah mau menjadi perempuan yang hanya berteman dengan huruf-huruf mati, menjadi perempuan tua dengan segala keterbatasan. Sudah terlalu banyak kisah selama kurang lebih tiga dasawarsa pada hati perempuan itu. Tidak ada rumah tempat ia pulang, juga tak ada rindu yang akan membawa ia pulang. Sore itu di akhir tahun menjadi hujan pertama yang akan menembus di awal tahun dan tepatnya hari ini. 

Perempuan itu, pada suatu hari akan berhenti mengejar penerimaan untuk pernah dianggap ada.

***

Rantauprapat, 01 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Hari Pertama Tahun Ini

pngtree
...

Banyak yang disemogakan. Bersyukur dan berharap mampu menjalani ratusan hari yang ada tahun ini.

Hari pertama tahun ini, hari yang sepi sunyi. Sendirian bersama suara-suara di kepalaku. Belum ada satu jam di tahun ini, sudah ada patah hati yang bersemayam dan dipilih, inilah hidup. 

Apakah tahun ini akan benar-benar merdeka? Tak bisa dipastikan. Awal tahun akan memiliki sejarah sendiri, akakan didominasi dengan prosa yang menenggelamkan dan mematikan atau sebaliknya.

Hari pertama tahun ini , semoga ada kebaikan dan berusaha menikmati perjalanan hidup yang akan terlihat dengan nyata.

***

Rantauprapat, 01 Januari 2026

Lusy Mariana Pasaribu