Senin, 25 September 2023

Rekam Jejak yang Dulu Bersemi Kembali

@kulturtava
...

Yang ada hanya amarah, keegoisan yang membabi-buta tanpa memikirkan susahnya yang lain. Dahulu suram, kemarin suram, hari ini? entahlah.

Rekam jejak yang dulu bersemi kembali, mempertontonkan kepada semesta, keadaan yang lebih buruk. Lebih banyak umpatan, kutukan dan kebodohan.

Mengapa kesadaran diri mulai pudar? Karena hanya bisa menuntut dan menuntut tanpa sadar diri, banyak yang kena self loathing. Ternyata tidak menabur pun bisa menuai. 

Terlalu banyak sandiwara, drama juga kontroversi, banyak virus yang mematikan. Kenapa harus kembali, kembali dan kembali? Rekam jejak yang menyusahkan, kenapa harus bersemi kembali?

Dahan dan ranting yang ada kan patah dan terbuang.

Jalan yang panjang dan berliu akan semakin sulit dilalui. Tidak ada keharmonisan, pengertian, bahkan cinta. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, ada kesedihan yang menjalar, berharap kematian menjemput namun tak kunjung datang. Karena kehidupan terlalu menyakitkan.

Sudah basah oleh hujan berkali-kali, kesedihan bukan lagi menjadi rahasia. Rakam jejak yang dulu sungguh buat sakit di kepala. Tidak ada rumah untuk mencari tempat berteduh, tempat berbagi dan berkeluh kesah, yang ada hanya ke pura-puraan. 

Ini adalah bayang-bayang yang tidak seharusnya ada, momen yang menyebabkan kebencian merajai. 

Rekam jejak yang dulu bersemi kembali, adalah tamu yang membuat segala gelap hadir, entah kapan akan berakhir. Terlalu memuakkan! 

Ah, begitulah hidup yang penuh huru-hara dan kemunafikan. 

***

Rantauprapat,  26 September 2023

Lusy Mariana Pasaribu


Minggu, 24 September 2023

Aku dan Dua Kebisingan

@kulrurtava
...

Muak, lelah, terperangkap. Hidup tapi mati, mati tapi hidup. Aku dan dua kebisingan yang tak lagi rahasia.


Dua kebisingan yang menjadi relasi. Gandum di antara ilalang. Kebahagiaan, damai sejahtera itu omong kosong. Pohon tua yang rantingnya rapuh, daun-daun layu yang terbang di tiup angin timur.


Menurunkan kenangan yang payah.


Ingatanku belakangan ini dipenuhi hal-hal yang menyakitkan. Dua kebisingan ini membuatku seperti jerami dan rumput kering habis terbakar dalam api. Susahku, tak ada yang pernah melihat. Asu, lebih kepada pura-pura tidak melihat. 


Aku dan dua kebisingan adalah kesia-siaan, di sebuah tempat di dalam gelap ternyata tidak akan pernah berakhir bersama. Pendosa yang mematikan, berlakon baik. Hahahh, dusta. Ini kisah tentang aku, hororyang mematikan, dan  bajingan yang brengsek.


Dua kebisingan yang seharusnya enyah.


Adalah hatiku yang ditanam luka, dan entah sampai kapan akan pulih. Hanya air mata dan huruf-huruf mati yang tercipta. Aku sudah lama layu dan tak berkembang, di depannya seperti lumpur di jalan yang diinjak-injak dan dibuang orang.

Aku tidak lagi tahan. 


***

Rantauprapat, 25 September 2023

Lusy Mariana Pasaribu