Rabu, 30 April 2025

Ngeri Benar, Perempuan tanpa Kepala

www.wakingtimes.com
...

Ngeri benar, masih bernafas masih hidup namun menginginkan kematian karena jarak hidup dan mati seperti ingin yang meraba-raba perempuan itu. Karena sering kali ia menjadi perempuan yang tanpa kepala/kesadaran dan tanpa hati.

Ia perempuan yang sudah merasakan rumitnya gelombang ketidakadilan. Ia bertanya-tanya, apakah ia perempuan yang terlalu banyak menuntut. Tuntutan merasakan surganya keluarga, sebuah keadaan yang memberikan hangat dan nyamannya penerimaan.

Yang menjadi persoalan ia perempuan dengan kepala yang berisik. Banyak kegaduhan demi kegaduhan yang melintasi kepala perempuan itu. Terlalu banyak genangan air mata dan kebencian yang berujung dendam yang sudah bertamu dan menginap di hati perempuan itu, ia sesak dan kewalahan dengan pikiran dan diri sendiri.

Ada baiknya ia berhenti, berhenti untuk menuntut. Berhenti pula membiarkan kepala yang berisik menguasai diri dan pikiran. Sehingga luka dan duka tidak menjadi kebekuan yang menggerogoti kepala perempuan itu. Sebab jika membiarkan dirinya terus menjadi perempuan dengan kepala yang berisik, ia akan jadi perempuan dengan segala dilema yang tidak kunjung usai.

***

Rantauprapat, 04 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 20 April 2025

Harapan-harapan yang Gaduh

www.majalah-elfata.com 
...

Ah, banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan ada jawabannya. Entahlah, apa yang kamu inginkan dari situasi semacam ini? Harapan-harapan yang pernah bertamu kini menjadi harapan-harapan yang gaduh.

Sejarah hati yang kamu ciptakan adalah secara hati yang gagu. Bukankah cinta tidak ada selamanya, kamu ada itu sakit tapi anehnya ketika kamu tidak ada itu jauh lebih sakit.

Hari keenam belas bulan keempat, sudah berjanji pada diri sendiri, selalu mengiyakan apa yang diminta dan apa yang yang di mau, karena jika itu adalah kebahagiaanmu tidak apa-apa. Tak jarang kamu memberikan hari kesedihan yang merajalela, namun harus tetap diam sebab tidak boleh bersuara. Kamu adalah otoriter mutlak, yang tidak akan pernah disanggah.

Apakah sifat yang selalu merasa lebih baik dan benar begitu memikat? Sehingga banyak cerita-cerita yang harus terpaksa selesai, seperti harapan-harapan yang menjadi gaduh. Karena kamu tanpa ego/kedegilan adalah sesuatu yang asing.

Yang terlihat dan terasa adalah kamu selalu berbuat sesuka kamu, mengatur burung-burung yang kamu kuasai dan kamu jerat dalam sangkar.

Semestinya, kamu menjadi sandaran! Bukan menjadi ketakutan dan membuat rasa ingin menyerah. Terlalu banyak yang mati sebelum mati karena kamu. 

***

Rantauprapat, 17 April 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 15 April 2025

Kegelisahan yang Diam-diam Bertamu

Kulturtava
...

Banyak yang kukira salah, eh bukan, bukan ya aku kira salah tapi benar-benar salah. Dari bulan pertama hingga bulan keempat tahun ini, selalu saja ada kebisingan demi kebisingan yang mengganggu hati dan kepala.

Sudah tahu akhirnya akan ribut namun tetap saja itu terjadi dan memilih itu. Barangkali memang tidak bersama tidak masalah, tapi setelah pergi, kenapa kau terganggu dan selalu asik mengganggu dan minta kembali, dan plot twistnya setelah kembali, kembali kau tidak menghargai memancing keributan.

Semua kau cari tahu, tapi ada baiknya kau lebih baik diam. Bukan karena kompromi, tapi tidak apa-apa, memang itulah pilihanmu dari awal jadi tertawakan saja kisah ini. 

Aku terlalu sering mendapati diriku,  mengalami kegelisahan yang diam-diam bertamu. Dan narasi-narasi yang menggangguku, kukunci dalam puisi ku. Ramai di kepala. Diserbu masa lalu, terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalaku ketika kau saling adu perang.

Tidak bisa kah kau terus mencintai? Tidak Bisakah kau kalah dan mengalah untuk kebaikan. Aku tetap mengamini yang baik perihal kau, untuk tidak tersesat lama dan biarkan kemarau memguasai.

Ah, patah hati kali ini tidak akan aku biarkan terjangkau oleh hatiku. Sungguh, aku benar-benar mencintaimu dan aku berharap kau juga mencintai dirimu dan tidak menyia-nyiakan cinta yang ada padamu. Kegelisahan yang diam-diam bertamu karenamu, tidak akan membuatku kecewa dan patah hati, karena ku sadar, aku denganmu sudah merdeka. Karena kegelisahan yang diam-diam bertamu adalah salah satu seni dalam proses hidup. 

***

Rantauprapat, 15 April 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 06 April 2025

Tamu yang Meracau Hari-hariku

Kulturtava
...

Sangat-sangat lama terombang-ambing, lelah melumat hujan yang kau timbulkan. Lantas, apakah jika aku sudah benar-benar pergi, akan ada air mata untukku?Pertengkaran yang tidak aku tabur kenapa harus aku yang menuai akibatnya?

Berdiam dan menahan diri hanya untuk melihat kisah dari potongan perjuangan yang kau alami, ternyata hanya nyaris hujan yang kau tabur. Belum kudapati, seperti yang kau katakan, kau lakukan seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia.

Hari keenam bulan keempat, pagi ini kau pun membuatku kuyu.  Aku kesepian, toh pada akhirnya kau hanya dengan kekuasaan mu, otoritermu, tak pernah perduli perasaanku yang terpenting kau dengan mulutmu memuaskan amarah tanpa pandang bulu tanpa embel-embel.

Akupun kehabisan energi, sedapat mungkin Jika aku masih mampu aku akan menuruti segala egomu demi kebahagiaan dan kepuasanmu. Karena waktu yang ku punya denganmu mungkin terbatas, bukan mungkin tapi memang terbatas dan selagi masih ada waktu jika itu adalah rasa sakit bagiku tapi kebahagiaan bagimu, aku akan melakukannya.

Mungkin kau terlalu nyaman menunggangi aku, padahal sebenarnya aku harusnya kau tuntun dan kau dengarkan juga. Ini, hanya sepi yang kau tawarkan dan berakhir pada sunyi yang sia-sia. Yang hampir selalu kudengar adalah kau mengatakan tak ingin ribut, ternyata kau malah berteriak.

Aku butuh rumah, bukannya janji-janji yang tidak perlu divalidasi. Terseok-seok dalam harapan. Ini menghancurkanku, tapi tak boleh kuhidupi. Tak boleh jatuh karena perkaramu. Kau memang lebih dari tamu di hidupku, tamu yang meracau hari-hariku dengan segala kebisingan. Ya,  tapi begitulah hidup, aku harus membaca dan menikmati bersamamu dengan segala seni yang ada.

Kau seperti risalah yang mengajarkanku pahit dan sedikit manisnya gelombang kehidupan. Oh, terlalu berisik waktu yang kupunya tentang notifikasi untuk menjaga kewarasan terhadapmu, tapi sudahlah. Aku tetap bertahan menjalani sisa hidup yang masih ada.

***

Rantauprapat, 06 April 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 05 April 2025

Setelah Hujan Reda

Pexels
...

Ternyata tak ada tenang yang tersisa, bahkan setelah hujan reda. Ada saja hama- hama yang menjadi pengganggu dalam kepala. Berkata sudah hambar sudah mati rasa, itu semua omong kosong. Malah biarkan jiwa raga remuk tulang-tulang patah dan menjadi binasa.

Namun kembali lagi pembalasan bukan hak perempuan itu tidak harus mengerti batasan, terlebih sungguh ada ketakutan, kedatangan seseorang dengan segala narasi dan percakapan pagi ini mengguncang jiwa dan menyadarkan bahkan memberikan rasa takut. Bagaimana setelah ini, dan akan jadi seperti apa jika sudah tua?

Terlalu asik bermain-main, terlalu menikmati umpatan-umpatan yang diciptakan. Kenapa harus terjerumus dalam lumpur ketidakberdayaan dan keterbatasan??? Berharap ada kesempatan akan kemurahan Sang Maha Besar dalam menjalani sisa akhir hidup. Sebelum menyesal dan terlambat, karena siapa yang akan mencatat sejarah dalam gaung ingatan jika bukan diri sendiri.

Teruntuk perempuan itu, jangan menjadikan ruang sunyi pada perjalanan hidup dan berusahalah setelah hujan reda untuk bisa benar-benar menikmati waktu yang ada dan memiliki sepotong kisah yang benar-benar tidak melulu tentang luka-luka. 

Setelah hujan reda, memiliki kisah dan ingatan tentang relasi pertama yang memberikan oase yang menyegarkan, melepaskan pengampunan dan kasih. Sekali lagi, beruntung perempuan itu masih memiliki kesadaran pagi ini, karena akhirnya semua hanya menjadi kenangan.

Percaya akan ada rumah yang benar-benar rumah dan memberikan wadah untuk berteduh dan mendapatkan tenang teduh yang dirindukan dan jangan menjadi asing pada sesuatu yang tidak perlu divalidasi karena bagaimanapun dari awal sudah tahu kebenarannya hanya tinggal memberikan maaf dan penerimaan.

Ya, akan ada bianglala yang berwarna setelah hujan reda. Barangkali demikian!

***

Rantauprapat, 27-28 Maret 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Jangan Pasrah dan Menjadi Dungu, Berbahagialah!

Fineartamerica.com
...

Sunyi kau peluk erat, sepertinya kisah yang ada memiliki sejarah kelam dalam kehidupan. Lantas, mengapa membiarkan sunyi memeluk erat dan merelakan terbunuh?

Pagi menjelma hangat, namun luka merintih (henti), ke mana kekuatan dalam kesederhanaan? 

Entah masih ada, entah sebaliknya dan jikalau ada, berarti itu: kau.

Ini drama kehidupan yang kau jalani, dan yang sering terjadi tidak jujur pada realita. Hey kau, jangan pasrah dan menjadi dungu. Kau tak lagi muda, Jalanilah sisa akhir hidup yang masih akan ada dengan syukur dan penuh harapan. Jangan lagi sunyi kau peluk erat.

Kembali miliki kekuatan dalam kesederhanaan, kau itu berharga. Jangan lain menjalani hidup dengan egois yang tidak benar, karena keegoisan akan berakhir pada penyesalan. Sudahi ketidakwarasanmu selagi ada waktu, untuk apa menyia-nyiakan hidup dengan menjadi pembangkang dan bersikap seperti bunglon yang berubah-ubah.

Jangan coba-coba lagi menikmati sejarah kelam yang pernah ada dan yang pernah kau jalani dalam hidup, jangan coba-coba lagi mencicipi dosa dan membiarkan dirimu dipeluk hangat oleh sunyi.

***

Rantauprapat, 05 April 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 01 April 2025

Ini tentang Patah Hati

Pixabay
...

Maret beberapa hari yang lalu, di tengah keterbatasan dan ketidakberdayaan, perempuan itu masih berusaha untuk memberikan senyum bahagia, tiba-tiba saja saat ini menghantarkan air mata dan rasa sakit.

Mencipta sejarah baru, tengah malam yang kaku dan beku menjadi jam-jam yang kelabu. Mata telanjang perempuan itu terlalu lelah untuk menangis. Sepanjang perjalanan hidup yang telah dilalui nyaris hanya air mata yang menemani, terlalu sibuk memikirkan perkara-perkara yang lain juga terlalu egois untuk tidak memikirkan diri sendiri bahkan sampai tangan dan kaki tidak lagi berfungsi dengan sewajar-wajarnya.

Kemungkinan sebentar lagi bukan saja fisik perempuan itu yang tidak normal tapi juga kewarasan dan mental yang dipunya. Sialnya tidak ada yang perduli, seperti tengah malam buta saat ini, sendirian di keramaian, tidak ada yang perduli bukan. Tidak ada cinta dan tidak ada kebahagiaan di malam buta ni, karena yang ada tebang pilih meredupkan harapan dan sumber tawa yang harusnya ada.

Seperti jari-jari tangan yang tidak lurus bak  jelly lentur tidak bertenaga, seperti itulah hati ketika merasakan sakit yang berkepanjangan dan tidak lagi berdaya, menyerah pada kenyataan dan menyerah pada perasaan yang hancur. Ini seperti cinta tapi tersiksa, terluka tapi tidak bisa pergi. Ini seperti sejarah lama yang terus berulang sampai hari baru di bulan yang baru. Ini tentang patah hati.

Selepas tengah malam buta ini, saat cahaya matahari menunjukkan wajah, harusnya perempuan itu tidak lagi berekspektasi lebih terhadap drama-drama kehidupan yang akan dilihat dan didengar. Tidak terpikat pada harapan-harapan semu. Barangkali kejadian seperti ini kan terulang kembali di hari yang lain. 

Yang perlu dilakukan perempuan itu, selagi masih bisa hidup coba untuk egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Karena tidak ada yang akan melihat kesusahan dan memikirkan tentang tenang teduh dan kesejahteraanmu.

***

Rantauprapat, 01 April 2025

Lusy Mariana Pasaribu