Rabu, 23 Februari 2022

Merdeka Mencintai

@kulturtava
...
Wahai hati, kesadaran tidak boleh hilang. Seharusnya begitu. Saat hati sedang berbunga-bunga, yang sungguh terjadi tidak lagi berteduh pada koridor yang tepat. Terjadi penurunan kualitas,  berkompromi pada banyak hal. Merasa merdeka untuk mencintai. Tidak, tidak, tidak sama sekali.

Begitulah hati, sulit untuk menerjemahkan rasa yang hadir. Sulit untuk memerdekakan hati sendiri. Sebentar stabil sebentar kemudian labil. Cemburu pada sesuatu yang tidak berhak untuk dicemburui. Mencumbui sesuatu yang sama sekali tidak memiliki akses untuk itu.  Memperlihatkan apa lagi menyerahkan sesuatu yang harusnya masih tersembunyi.

Ketika hati merasa merdeka untuk mencintai, ini menjadi background hidup tidak bahagia. Dipenuhi kesukaran. Mengoyak pagi dan malam dengan kemalangan dan rasa bersalah. Sense of humor terlanjur tinggi. Untuk apa, berada dalam kerumunan hujan luka atas nama cinta. 

Perihal mencintai, hati tidak seharusnya merdeka mencintai. Syair-syair romantisme pun, ada batasan yang semestinya di pegang teguh, tidak menghidupi cinta yang bukan bagian diri. Apa lagi menari indah pada kenyamanan semu. Pintu hati selayaknya terkunci untuk cinta yang sedari awal sudah salah. Agar hati tak mati dan tenggelam dalam lautan luka. Akhirnya, semua alasan tentang cinta, memiliki batasan. 

Jadi bagiku, jangan dengan sengaja merasa merdeka untuk mencintai. Jangan dan jangan. Demikian saja! 

***
Rantauprapat, 23 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 22 Februari 2022

Persembunyian dengan Anda

@kulturtava
...
Berada di padang gurun. Gersang panas. Sudah seperti semak bulus di padang belantara. Tingkah langkah beraroma panas terik. Keadaan tak baik. Banyak persembunyian dengan anda telah dilakukan. Adapun pada waktu itu adalah kesalahan yang tidak seharusnya. Terlalu suam-suam kuku.

Sudah menjadi pecundang. Memberikan ruang bagi anda untuk basah oleh hujan. Menikmati anggur yang tidak dilarutkan dengan kebenaran. Berkamuflase, karena anda banyak dusta dan formalitas terjadi. Tampil rapi ketika di luar, sementara di dalam, berantakan tak karuan. Ketika anda mengubah hal baik menjadi terbalik, tenang teduh menjadi genting, tak ada cinta dalam persembunyian dengan anda.

Atas nama rasa nyaman, kecerdasan seketika menghilang, pendidikan dan gelar akademik tidak lagi berfungsi dengan selayaknya. Ada kronologi yang menyedihkan atas terjadinya kegagalan itu, sebab menikmati waktu senggang bersama kemalangan. Tahu dari awal, bahwa anda itu "longgur", persembunyian dengan anda itu kisah tragis yang ujung-ujungnya " Sad Ending". 

Terlampau banyak ketidakwaspadaann, ketidakhati-hatian. Ada kisah tentang kekalahan yang mau tak mau membuat rasa bersalah. Untuk lepas dari anda, butuh waktu yang cukup lama. Untuk terjadi perpisahan dengan anda, butuh keberanian lebih. Pasti ada dilema, yang buat kepala pusing dan buat bumi gelap pada hari cerah. But, pasti sanggup tanpa anda. Persembunyian dengan anda harus diakhiri. Anda harus tersingkir!

***
Rantauprapat, 21-22 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 21 Februari 2022

Jika Tanpa Kita maka Saya

@kulturtava
...
Sesungguhnya saya telah menyerahkan bagian yang tidak bagianmu. Dan ini pun adalah seutuhnya kekeliruan. Saya melanggar ketetapan yang menjadi rambu yang ada. Merasa diistimewakan, diberi penerimaan, merasa hangat pelukan kamu, itu hanya rasa yang sungguh-sungguh diciptakan sendiri oleh saya.

Kamu katakan rumah itu pasti, hanya belum dapat diisi. Itu bullshit. Pembodohan karena saya percaya. Tak akan pernah ada rumah, bahkan untuk lahan pun tak akan pernah tersedia. Tak akan pernah ada kata KITA. Well, jika tanpa kita maka saya akan tetap hidup, hidup yang lebih hidup. Semoga! 

Kamu itu penambah deretan kesalahan di seluruh saya, pecahan beling yang mampu melukai. Ada cinta yang harus mati terbunuh, itu kamu. Kamu seperti tinta hitam, gelap pekat. 

Dalam luasnya jejak-jejak sejarah yang masih harus saya jalani, kamu tidak lagi boleh menjadi penjelajah dan memberi language of love pada saya. Saya kamu sudah sad ending. Muak, jijik. Begitu bodoh, membiarkan diri jatuh sejatuh-jatuhnya pada kamu.

Jika tanpa kita maka saya, akan tetap hidup. Walau demikian, seditnya pasti ada kesedihan. Ada luka yang harus disembuhkan. Sejujurnya begitu! 

***
Rantauprapat, 21 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 20 Februari 2022

Perempuan yang Harus Melunasi Kewajiban

@kulturtava
...
Perempuan itu sakit tapi sehat, panas tapi dingin, kemarau tapi hujan. Terlalu membiarkan diri dalam teka-teki. Dipaksa untuk menerima ketidakadilan. Berkata ya untuk tidak, berkata tidak untuk ya. 

Saat tangis perempuan itu harus diredam. Di bawah guyuran shower kamar mandi, seolah ia mandi ternyata menangis tersedu, hingga ingusan dan kepala berdenyut tak karuan. Tangis perempuan itu jadi tak terdengar. Memilih dipadamkan dari pada bertengkar dengan pengusik. 

Hingga wajah memerah, perempuan itu meluangkan waktu menghabiskan detik, menit, hampir beberapa  jam berada di bawah terik matahari untuk menjauh dari kebisingan yang terdengar. Tak nikmat sama sekali.

Sebenarnya perempuan itu ingin keluar, menyembuhkan luka lara. Ia sedang terluka, tidak baik-baik saja. Namun, sadar tak ada teman atau tempat yang bisa dituju. Tak ada penerimaan yang akan didapat.

Lelah, berkata pada diri sendiri, ingin ISTIRAHAT lebih dulu. Lantas sadar, bukan ia yang punya hidup. Terlalu banyak kesalahan dan terlalu banyak dosa yang telah dicicipi.  Selagi masih bernafas, harus berbenah, esok belum tentu jadi milik perempuan itu. Ia harusnya melunasi kewajiban pada Sang Pemilik Hidup. Menjalani hidup dengan benar.  Bertanggung jawab atas ketidakadilan hidup yang dijalani. Karena hidup punya kesusahan sendiri. 

Perempuan itu harus melunasi kewajiban dengan benar. Perempuan itu punya Tuhan yang memiliki ketidakterbatasan dan tahu keterbatasan yang melekat di dirinya. Tamparan kata-kata yang seringkali didapati perempuan itu akan reda, jika berdamai dengan keadaan dan diri sendiri.

Perempuan itu tidak dan tidak ingin lagi menciptakan sinopsis yang berujung "Sad Ending" di memory yang ia punya. Dan sesungguhnya ia sadar, hidup yang masih dipunyai hari ini, tetap ada bagian yang mempesona dan itu pun pemberiannya Sang Maha.

***
Rantauprapat, 20 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 19 Februari 2022

Jika Tanpa Dia maka Saya

@kulturtava
...
Sepi, itu mungkin yang akan terjadi. Itu hanya kemungkinan, bisa menjadi bisa juga tidak. Karena sebenarnya masih ada dia yang lain dalam seluruhnya saya.

Dia pernah banjir kata-kata, menggoreng huruf-huruf yang menggoda. Mengusik dan hiruk pikuk di kepala saya, perlahan dibutakan dalam rasa, dibutakan kenyamanan. Perihal mengeja perasaan, saya gagal dalam seketika. Ketahanan diri saya ambruk.

Jatuh. 
Gersang.
Bodoh. 

Ah, sulit tidak merasakan getaran saat dia memberi sentuhan demi sentuhan. Dia unstoppable bicara tentang mendengarkan, tentang penerimaan. Awalnya begitu, mungkin itu marketing pemasaran untuk saya. 

Terbukti dia hanya tamu, memiliki daya pikat tapi tidak untuk rasa teduh. Dia hanya menikmati bukan untuk dinikmati. Konyol, terlalu gampang, akhirnya menjadi gamang.  Yang bersalah dalam hal ini, tentu saja saya. Bagaimana pun, yang mengizinkan dia menjamah dan memiliki akses perihal saya, ya saya sendiri.

Dia tidak seindah harapan yang saya pilih. Berlalu tanpa kata, menyimpan cerita duka. Ada jejak yang dia tinggalkan. Inilah fakta tentang proses saya yang disebabkan oleh dia.  Dia bukan lagi selayaknya oase yang menyejukkan. Saya tidak lagi boleh bersimpuh di bawah pohon cinta karena dia. 

Dia bukan lagi hasrat yang menjadi inginnya saya. Dan, jika tanpa dia maka saya akan bisa baik-baik saja. Harus bisa! 

***
Rantauprapat, 19 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 17 Februari 2022

Cinta dan Luka

@kulturtava
...
Begitulah cinta. Ada yang memberi bahagia,  ada yang memberi luka. 

Sudah tahu dia bukan rumah, tetap saja anda bermain dengan kemalangan. Dia bukan hasrat yang menjadi milik anda, kenapa anda membiarkan diri menjadi korban pun pelaku kedzolimen. Menyedihkan lagi penuh drama. Tak dapat mengukur diri.

Cinta dan luka, ada dalam lingkaran anda. Sepertinya lebih cenderung pada luka. Dia dan anda tak akan pernah merdeka. Ujung dari dia dan anda adalah TAK. Ada jurang yang tidak terseberangi di antara dia dan anda. 

Ada apa dengan tubuh anda? 
Dia menarik jatuh dan anda kompromi akan itu, bukan hanya satu kali, sudah tiga belas kali per hari ketujuh belas pada bulan kedua ini. Kembali anda jatuh dan tidak berhasil menghambarkan diri pada jerat yang memikat. Celaka! Atas nama cinta, anda mencipta badai. Menuai pahit pedih, buat bumi gelap pada hari anda, seperti bola mati.

Ketahanan diri anda ambruk. Akhirnya, anda adalah puing yang dicumbui angin liar dan anda telah memilih disetubuhi angin liar itu. Romantisme angin itu buat anda ada dalam keheningan. Anda mengizinkan dia membuat anda basah oleh hujan. Mengampangkan kebodohan hati yang tidak hati-hati. 

Ada sebuah kisah tentang kekalahan dan sketsa ketidakpantasan yang anda kotak-kotakan. Anda hanya bintik dalam semesta yang luas, merasa angkuh dengan lagi-lagi menjadi pendosa yang payah.

Cinta dan luka, anda memiliki keputusan akan itu! Memproses dengan benar atau membiarkan jadi tamu yang menawarkan rekam jejak yang payah. 

***
Rantauprapat, 17 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 12 Februari 2022

Begitulah Cinta

@kulturtava
...
Adakah cinta yang tidak ditumbuhi kecemasan? Entahlah, cinta punya kerumitan demi kerumitan yang harus dilalui. Pada fakta kehidupan, ada yang berakhir menjadi daun jatuh perihal cinta.  Terkadang basah oleh hujan bahagia namun seringkali basah oleh hujan luka lara. Ya, begitulah cinta. Ada yang menjadi, ada yang hanya menikmati tak memiliki.

Cinta itu hak. 
Masih adakah yang tidak mendapati cinta di ruang jejak dan ruang ingatan? Barangkali ada. Dan herannya, walau cinta tak selalu menawarkan bahagia, masih ada yang menikmati. Menikmati pedih perih, luka nestapa di hutan sendu. Cinta memiliki daya tarik tersendiri. Well, begitulah cinta. Penuh hiruk pikuk.

Hari ini dan hari itu, menjadi kemalangan, saat cinta berujung tak. Memilih menepi, mengambil jarak. Pada akhirnya, menimbulkan pertanyaan demi pertanyaan, kenapa harus membiarkan diri jatuh cinta? Kembali merumitkan diri sendiri. Akal dan hati bersitegang. Betapa ribet bicara tentang hati. 

Baiklah, cinta dapat membuat tenang teduh. Namun, sudah tidak terhitung banyaknya gamang yang diciptakan oleh cinta.  Yang harus ada dalam seni mencintai adalah : kalah mengalah demi kebaikan hati. Dipahami dan memahami. 
Sampai kapan? 
Sampai bumi masih ada dan  masih bernafas, begitulah semestinya cinta, 

***
Rantauprapat, 12 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 11 Februari 2022

Perihal Mengeja Perasaan

@kulturtava
...

Saya sesak napas. 
Berharap kesejahteraan saya merupakan kesejahteraan anda.
Tidak tahu, apa pernah merasa kasih sayang yang benar-benar benar dari anda. 
Ucap dan realita tidak sinkron, lebih ke anarkis yang saya rasa. 

Bagi saya, anda mencipta ambigu. Perihal mengeja perasaan, terkadang layu oleh angin timur, terkadang bersinar oleh angin barat. Ada tawa, lebih condong pada air mata. Walau demikian, anda tetap cinta istimewa. Kampung halaman bagi saya.

Pada hari itu, tentang sejarah yang dahulu kembali terulang, saya menuai kemarahan. Anda mencipta badai, pun tentang maaf dan terima kasih yang tidak pernah terucap, tetap saja saya yang harus dilarutkan dengan penerimaan. Sebab, kisah saya tidak akan pernah ada tanpa anda. 

Perihal mengeja perasaan, saya yang bertanggung jawab atas segala sesuatu dengan hati saya sendiri. Untuk apa lesap di hutan rasa dan pikiran yang penuh kemarau. Karena hidup punya kesusahan dan keajaiban sendiri. Penuh teka-teki yang tidak pernah diduga-duga.

Dan, ketika sepertinya kesejahteraan saya bukan merupakan kesejahteraan anda, saya akan berkompromi pada hal itu. Saya tetap ingin anda ada dalam teka-teki zaman yang dilalui oleh saya. Barangkali terlihat dan terdengar aneh, tapi yang mengetahui latar belakang anda dan saya ya saya sendiri.

***
Rantauprapat, 11 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 09 Februari 2022

Berakhir sebagai Daun Jatuh

@kulturtava
...
Dan aku, seperti puing-puing. Berakhir sebagai daun jatuh. Kering, murung, sunyi, ibarat kelabu yang punya warna kusam. Akibat ingin dimengerti, diterima, diharapkan, ternyata itu hanya angan-angan. Kenapa hati terlalu payah. 

Hu, lagi aku seperti pohon Anggur yang tidak riap tumbuhnya. Tersesat di hutan sendu. Lesap dari kata-kata bermakna.

Ini cinta atau cinta yang diduga semata.
Tak ada waktu bersama, tak pernah berjalan-jalan berdua, tak ada helaian kenangan indah secuil pun. 
Formalitas latar belakang, kalau pun terjadi pertemuan.

Seharusnya aku tidak mengenal kamu, terbukti kamu seseorang yang tidak memiliki nama. Entah ada rahasia besar apa dengan itu sehingga aku tidak merdeka untuk tahu. Adalah baik jika aku tetap kesepian, mencumbui malam seorang diri ketimbang dengan kamu yang hanya membutuhkan kehadiranku di saat-saat luang. 

Luruh dalam harapan yang tidak berhak kuharapkan. Kamu pemecah rekor dari pendahulu yang sudah singgah di hatiku untuk kategori penasihat ulung dan pemain hati terbaik yang menabur lara duka. 

Bagaimana kamu melakukan itu? 
Bolehkah aku belajar untuk itu? Terkadang ingin. Aku berdukacita, aku seorang perempuan yang diam-diam jatuh cinta pada cinta yang nyatanya telah berdua. Ya, lagi, lagi, dan lagi gagal menerjemahkan rasa yang hadir. Ada yang berkata, cinta tak pernah salah, menurutku, itu tidak benar. Seharusnya aku tidak jatuh cinta pada cinta yang telah sepasang. 

Akhirnya, aku berakhir sebagai daun jatuh.
Menjadi sisa. 

***
Rantauprapat, 09 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Ternyata Saya Bukan Rumah bagi Anda

@kulturtava
...
Ternyata Saya Bukan Rumah bagi Anda

Pertemuan pertama saya dengan anda, bulan pertama hari kesebelas. Setelah pertemuan itu, kurun waktu dua tahun ini, dua kali seminggu anda menemui saya, menanam pohon harapan yang dirimbuni kenangan manis. Saya pikir, anda memang tulus, tergoda dengan penerimaan yang anda tawarkan.

Saya mencoba dan berusaha membaca bahagia bersama anda. Bersusah payah untuk menjaga kesehatan perasaan, menggilai hal yang tidak terduga sebelumnya.

Dengan anda, saya menjadi liar. Tidak terkendali. Berkompromi pada banyak hal. Sedari awal saya tahu bahwa mencintai anda adalah kesalahan, namun hati yang tidak hati-hati ada dalam diri. 

Ternyata saya bukan rumah bagi anda, anda sudah memiliki rumah juga halaman yang luas. Ada pula pohon-pohon yang ditumbuhi banyak buah. Sial dan brengsek!  Penyesalan yang tidak termaafkan, yang tidak bisa lagi disesali.

Seperti lagu penyanyi pop Indonesia, bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja? Itu yang saya alami belakangan ini. Tidak baik-baik saja, dan anda tetap tidak peduli. Anda sudah mendapatkan apa yang dimau. 

Anda pemain hati terbaik yang pernah saya kenal. Memberi huruf-huruf mati tak bermakna, mengeringkan tulang. Saya kecewa, sangat ingin berlari, tak lagi berpangku pada anda. Buat apa terus menuju anda, hanya sisi luka yang tercipta.

Hey, belum terlalu terlambat bukan untuk saya menyelesaikan segala urusan dengan anda. Saya harus merdeka dari anda, segala hal mengenai anda. 

Saya harus memilih berhenti untuk mencintai anda. 
***
Rantauprapat, 08 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 08 Februari 2022

Ternyata Dia Bukan Rumah

@kulturtava
...
Payah.
Bodoh. 
Sedari awal jangan bermain dengan hati. Baiklah, menangislah seperlumu, kau butuh itu. Sedang terluka, tidak usah berpura-pura kuat, kau perempuan biasa. Cobalah merdeka dari perasaan yang sudah terbangun.

Kau dan dia tak akan pernah terjangkau. Di sini, di sana, di mana-mana, kau yang akan dipersalahkan. Tidak ada cinta yang benar untuk rasa di antara kau dan dia. Dia bukan tidak tahu jawaban dari harapan yang kau bangun, tapi kau sudah tahu jawabannya. 

Dua tahun kau mengira, dia akan menjadi rumah, dia memberi harapan untuk itu, kau biarkan dirimu jatuh pada harapan. Ini akibat kesadaran pun kebenaran ditinggal pergi, terperosok dalam keegoisan. Berkompromi dengan kesalahan.

TERNYATA DIA BUKAN RUMAH, ada cinta yang lain dalam relasi kau dan dia. Kau perempuan yang tidak diinginkan, tidak pernah sekalipun. Pegangan hidup bijak yang pernah disampaikan, itu hanya demi menenangkan perasaan, kau terperdaya. Bahkan saat dia memanggil namamu dengan manis, kau terbuai. Hati yang tidak hati-hati, berengsek bukan. Boom, ada air mata, ledakan besar seperti senggatan petir. 

Dia tidak akan pernah jadi rumah yang kau kira. Hello, sadarlah. Berhenti, bukan cukup dengan berhenti, tapi blokir segala hal tentang dia dalam isi duniamu. Itu sulit, bukan berarti tidak bisa. Sayangi dirimu sendiri. Selesai! 

***
Rantauprapat, 07 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 07 Februari 2022

Perempuan Maret di Februari yang Basah

@kulturtava
...
Maka haruslah perempuan itu bersyukur untuk hari ini, bulan kedua hari ketujuh, ada rekam jejak yang beraura positif yang terjadi. Akan tercipta kenangan yang menyenangkan.

Tiga puluh enam hari sebelum tiga puluh empat tahun memasuki perjalanan panjang perempuan itu, harapan yang disemogakan terjadi lebih awal. Perempuan itu adalah perempuan Maret di Februari yang basah, kali ini ia basah bukan disebabkan oleh air mata kekecewaan namun basah oleh hujan berkat, ada kebahagiaan.

Setidaknya, Februari tidak melulu tentang kesepian, kesunyian, duka luka. Tuhan masih mengizinkan perempuan itu alami hal yang manis. Di hati perempuan itu akan tersimpan lagi cerita tentang kebaikan Tuhan. 

Ada cinta hari ini.
Ada penerimaan.
Hari ini, perempuan itu terpisah dari nestapa yang nelangsa.

Yah, hari ini penuh kejutan tak terduga sebelumnya, kejutan yang berakhir pada kata "berterima kasih". Perempuan Maret di Februari yang basah hari ini, perempuan yang tidak berpura-pura tabah dan baik-baik saja, sebab ada bianglala yang terperangkap dalam rotasi dunianya. Menyenangkan dan indah. 

***
Rantauprapat, 07 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 06 Februari 2022

Anda dan Perempuan Itu

@kulturtava
...
Anda berkata pada perempuan itu : Belajarlah dengan akal. Berbuatlah, dengan hati. Banyaklah beramal. Jadilah manusia berbudi. Harta bukanlah harapan, tapi hidup harus berpedoman. Lucunya, hampir dua tahun mengenal, perempuan itu tidak mengetahui nama anda. Anda seperti seseorang tanpa nama. 

Well,  seperti apa yang anda katakan, perempuan itu ingin menghidupi hal demikian, di musim-musim hidup yang ia punya. Sebab yang anda katakan merupakan pegangan hidup yang bijak.

Perempuan itu ingin anda. Menjadikan rumah. Menjadi pegangan hidup. Yang dirasakan, anda memperlakukan ia dengan baik. Walau sulit, perempuan itu harus mampu berkata pada diri, siap laksanakan untuk tidak terlalu berpikir keras. Kenyataan akan buruk jika terus melakukan itu, perempuan itu sudah lama sakit dan akan terus menderita seorang diri.

Seseorang yang tidak memiliki nama seperti anda, ingin perempuan itu cepat sehat. Apa lagi perempuan itu, ia lebih-lebih ingin hal itu. Sudah terlalu lama dan lelah ia dengan keterbatasan, sehat tapi sakit, sakit tapi sehat. Aneh bukan.

Anda dan perempuan itu seperti hilang tapi ada. Berada dalam ketidakpastian. Namun, pandangan hidup bijak yang anda katakan merupakan hal yang beraroma manis untuk perempuan itu. Seperti perempuan itu yang telah memilih jatuh pada kebaikan anda, bak kekasih walau hanya dalam diam.

Apakah, anda dan perempuan itu akan menghidupi bersama pegangan hidup bijak itu? Ah, entahlah. Pertanyaan yang mudah, namun memiliki jawaban yang sulit untuk diterjemahkan.

***
Rantauprapat, 04-05 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 05 Februari 2022

Pegangan Hidup

@kulturtava
...
Anda berharap, perempuan itu mampu menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh, bahwa hidup itu tak henti tuk belajar dan menerima pun menjalani kenyataan. Ia harusnya tahu bahwa hidup penuh dengan kejutan yang berakhir pada kata tidak juga penolakan, penuh ketidakadilan.

 Perempuan itu harus mampu ikhlas dalam teka-teki zaman yang dilalui. Tidak harus berpangku pada kelemahan apa lagi ketidakpenerimaan. Bukankah hidup tidak pernah berkompromi dengan keadaan, hidup tetap melaju apa pun keadaan yang terjadi. Karena itu, perempuan itu harus menjadi seseorang yang tabah, pun memiliki pegangan hidup yang bijak dalam hidup.

Perempuan itu tahu, anda tidak ingin ia selalu patah, menjadi perempuan yang menyedihkan. Anda percaya, perempuan itu mampu menjadi perempuan dewasa yang benar-benar dewasa. Memiliki hari-hari yang penuh cinta, tanpa formalitas, tanpa bualan belaka. 

Benar, ada masa-masa di mana perempuan itu lemah, terpuruk, terluka. Membuat ia menangis. Itu wajar, manusiawi. Walau demikian, anda mau ia tetap semangat dan mampu menghapus air mata dengan kesadaran juga mampu menggunakan akal pun mendengar suara hati sesuai porsinya. Bagaimana perempuan itu bersikap, bisa menjadi cerminan diri. Berujung duka atau bahagia, perempuan itu bisa menentukan pilihan.

Ia tidak boleh berhenti lelah lesu dalam ketidakberdayaan, apa lagi sampai tidak menikmati hidup. Karena banyak seni dan cara-cara dalam menikmati hidup dan menghidupi pegangan hidup.

Anda tahu atau tidak, bagi perempuan itu anda adalah gandum yang ada di hatinya. Penerimaan anda itu penting untuk dimiliki, cara anda memanggil perempuan itu dengan sebutan "Lusyku" adalah kebahagiaan yang indah pada perempuan itu .

***
Rantauprapat, 05 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 04 Februari 2022

Mungkinkah Anda adalah Rumah bagi Saya?

@kulturtava
...
Kali ini, saya kembali gagal memperingatkan diri untuk hati-hati terhadap hati. Karena itu membuat saya jatuh ke dalam jerat, dan ke dalam berbagai-bagai hal yang hampa, dan yang mencelakakan.

Bulan Februari pada hari keempat, tahun kedua saya dengan anda, namun tetap saja ada ketakutan dan kebimbangraguan terhadap anda. Sulit untuk menerjemahkan rasa yang ada. Saya menikmati hasrat yang bukan bagian diri. 

Kemarin pun anda berkata, bahwa saya bukan perempuan yang hanya dijadikan tempat bermain di kala luang, sungguh ada rasa tenteram mengetahui itu. Namun, ketika saya bertanya : apakah harapan yang disemogakan oleh saya akan menjadi nyata? Anda hanya bisa memberi jawab, waktu yang akan menjadi jawab. Saya hanya terdiam tak bisa menuntut lebih.

Sederhana saja, saya masih mengharapkan kesejahteraan saya merupakan kesejahteraan anda. Huft, tetap saja banyak hal yang merumitkan apa yang menjadi harapan itu. Ingin menuju, ingin menggapai, ingin pulang ke arah anda, lagi-lagi itu adalah ketidakmungkinan. 

Anda mengatakan saya adalah kekasih, apakah itu benar? Entahlah. Walau anda masih memberikan perhatian, pelukan juga ciuman, sering saya merasa bahwa saya hanya beban di hari-hari yang anda lalui. 

Jujur, saya takut tentang ini. Hari keempat bulan kedua, kali kedua belas di kurun waktu seratus dua hari, saya dan anda ada dalam kepayahan. Banyak orang yang akan dan sudah tersakiti karena saya dan anda. Urusan anda dan saya tidak pernah selesai. Merepotkan dan buat kepala pusing. Ini perkara adu rayu dan hati yang tidak hati-hati. Dasar kesepian.

Mungkinkah anda adalah rumah bagi saya? 
Mungkinkah saya dan anda, akan sepasang? 
Atau anda akan berkhianat dari saya
Atau kesadaran yang akan membuat realita tidak berpihak, tidak berujung dan tidak berakhir baik. 
Itu lagi-lagi adalah pertanyaan yang masih mengganggu kepala dan hati saya

***
Rantauprapat, 04 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 01 Februari 2022

Februari yang Basah

@kulturtava
...
Perempuan Maret itu ada di Februari yang basah
Belum dua puluh empat jam berlalu, namun hari ini begitu sulit
Hambar dan hari ini, perempuan itu seperti Kupu-kupu yang tidak bisa terbang, patah. 

Ada hujan di awal Februari perempuan itu
Pagi dan malam yang ia lalui tersesat bersama risau
Ia membeku 
Tak mampu untuk berkata, bahkan untuk menangis sekali pun
Perempuan itu sadar, ia tidak berhak menuntut apa pun dan siapa pun. 

Mungkin sepanjang malam ini, perempuan itu akan kedinginan
Basah oleh hujan luka duka
Hujan air mata 
Seseorang berkata pada perempuan itu, itulah hidup.

Memilih untuk menepi
Kemudian, di hari-hari berikutnya, berharap ada hal baik yang terjadi
Ada cinta hari berikutnya
Dan perempuan itu mampu mengeja dan membaca bahagia.

Perempuan itu tidak ingin menciptakan gaduh yang payah
Ia harus menata hati
Merayu dan membujuk diri sendiri untuk bertahan dan kuat, terhadap hal-hal yang didengar dan yang dilihat
Mengabaikan dan mencoba tidak terlalu memikirkan sesuatu yang berujung rasa sakit.

Perempuan itu harus mampu berkata : 
Siap laksanakan, untuk tidak mencemburui apa yang bukan bagian diri
Berharap esok, ada cinta untuk perempuan itu, walau hanya sedikit dan Februari yang basah tidak lagi memeluk diri.

***
Rantauprapat, 01 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu