Ingin berteriak, lari dari keadaan ini, muak. Tak ada yang bermakna. Takut bicara, sungguhlah menjijikkan, keotoriteran perempuan disamarkan dengan kata-kata yang implusif seolah-olah menjadi korban.
Bertahan walaupun sulit dan terpaksa. Kesabaran yang seperti apa lagi, kini kaki dan tangan sudah tidak boleh diungsikan dengan fungsinya, asu!
Jejak yang tersisa malam ini adalah tangis, rasa kerdil hati, andai kaki ini masih bisa berjalan, barangkali sudah lama merasakan tenang teduh dan kesejahteraan, andai saja. Mau berapa lama lagi, harus selalu mengatakan *ia* dan mengerti, tanpa boleh bersuara.
Sungguh penst dan gelisah. Namun, tidak boleh menyerah bukan. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, aduh. Seseorang yang harusnya memahami tapi tidak memahami, runtuh, sendirian. Kepada siapa harus mengadu juga bercerita? Tidak ada. Dan jalan yang harus diterima malam ini adalah berdamai dengan diri sendiri dan keadaan walau rasa ini masih sakit.
Ya, pelipur penat adalah berdamai. Sesungguhnya masih tidak baik-baik saja tapi tetap harus berdamai dengan diri sendiri. Nihil, hari kedua puluh dua bulan keempat adalah romansa hidup yang buruk, berdamai semoga benar-benar bisa berdamai malam ini. Karena untuk berekspresi dengan air mata saja ada ketakutan yang berisik di dalam hati dan pikiran, sesak sekali.
***
Rantauprapat, 22 April 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar