Senin, 31 Agustus 2020

Pukul Empat Pagi

Pixabay
...
Pukul empat pagi
Aku terbangun hari itu, dan entah mengapa aku tak lagi bisa memejamkan mataku

Aku memutuskan untuk berselancar pada akun media sosialku. Dan di halaman beranda aku media sosialmu, kau meninggalkan jejak yang menyakitkan perasaanku. Aku menemukan, tuduhan yang tak mendasar darimu dan itu bersemayam di kalimat dusta yang pedas darimu

Seperti mimpi yang tak pernah kumimpikan. Kenyataan yang kejam menyala di hatiku, kau seseorang yang dekat denganku, memberiku pukulan yang keras di kepalaku

Kau mencuri kedamaian di jiwaku. Dan aku sendiri tak tahu, kenapa mengizinkan hatiku disakiti olehmu. Aku menyalahkan diriku sendiri hari itu

Pukul empat pagi hari itu, aku kecewa

Aku ingin memperbaharui hatiku dari perasaan ini, agar aku tak terperangkap dalam kehampaan

Dan, 
Hari ini, aku sudah mampu meraih penerimaan terhadapmu. Aku sudah benar-benar bisa tersenyum saat berhadapan denganmu

***
Lusy Mariana Pasaribu
[Rantauprapat, 14.08.2020, 08:35]

Katanya Sayang

@kulturtava
...
Sejujurnya, aku berharap bisa bercengkrama denganmu kemarin malam. Kau malah bersikap dingin dan tak mengizinkan itu terjadi.

Katanya sayang, nyatanya aku lebih sering termagu dalam sepi karenamu. Aku terjebak dalam kegelisahan. Ingin rasanya aku mencuri waktumu. 

Entah kenapa, seakan kau mengabaikan rasaku yang ada untukmu. Katanya kau sayang, tapi kau tak mau memahami arus rinduku yang ingin diselimuti aroma cintamu.

Aku merasakan, frekuensi hatimu telah mendingin. Mengapa kau begitu, itu adalah tanya yang ingin kuketahui jawabnya. 

Mungkin ini adalah kisah kita yang sedang diisi kemarau. Namun setidaknya. Aku berharap kau tidak seperti angin, yang akan mudah berubah arah. Karena aku tak ingin kehilanganmu. 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Akhirnya Aku Menemukanmu

@kulturtava
...
Aku tidak tahu, entah apa yang menyebabkan hatimu dingin dan membatu dariku.

Kau tahu, aku jatuh tergelincir pada kegelisahan tanpa hadirmu. Ini sikap bekumu yang kesekian, pergi menghilang sesukamu. Kusadari, sejak kau menghilang, aku sendiri, sepi dan melihat diriku terhempas karena itu. 

Sampai-sampai aku mendramatisir setiap hal yang terjadi di semestaku.

Mungkin benar, kau adalah seseorang yang menebarkan candumu pada hatiku. Hingga aku memutuskan untuk menunggu dan memberimu waktu.

Dalam penantian, akhirnya aku menemukanmu. Kau kembali walau tanpa penjelasan. Saat aku meminta penjelasan, kau mengaku butuh waktu dan ya, aku mempercayaimu. 

Setidaknya, kau sudah pulang menuju semestaku.

Kuharap kau tak lagi seperti ini, hatiku tak mau lagi kalah pada kehilangan. Yang pasti. Hadirmu, menggugurkan daun-daun kegelisahanku. 

Kau sudah menguasai ruang di hati dan pikiranku. Dan aku tahu, aku telah bersungguh-sungguh jatuh hati kepadamu. Kuingin, kau menetap di ruang hati dan pikiranku. 

Aku juga ingin. Kau tak lagi dingin,  membatu atau menghilang tanpa alasan.

***
Lusy Mariana Pasaribu 
[Rantau Prapat, 31.08.2020, 15:55]

Sabtu, 29 Agustus 2020

Puan yang Merayu

@Klipingsastra
...
Puan yang merayu, merayu rindu pada hasrat yang ingin dimiliki. Berharap akan titik temu pada kekasih yang membuat hatinya candu. Nyatanya pertemuan itu sulit untuk dilakukan, bahkan terkadang kesedihan-kesedihan menaungi lorong dari istana cintanya. 

Puan memilih menitipkan rasa rindunya pada bait-bait puisi yang ia tulis. Semua daun-daun cinta di halaman hatinya, ia tak ingin menyembunyikannya. Ia akan berbagi wujud nyata cintanya dalam puisi sederhana yang tertulis.

Lewat puisi. Puan yang merayu, bebas merdeka berekspresi tentang perasaannya. Tentang bagaimana puan mengeja rindu, ia belajar untuk memilih mengalah pada jarak.

Puan yang merayu, akan menciptakan sejarahnya sendiri. Merayu rindu akan waktu pun cinta kekasihnya diwakilkan pada diksi di dalam puisinya.

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 28 Agustus 2020

Dengan Bayangmu

@kulturtava
...
Lama kita tak bercengkerama. Tapi kemarin, entah ada angin apa di antara kita. Kita mulai memberi waktu untuk saling berbagi. Kita mulai melepas kecanggungan yang sempat terjadi.

Dan malam ini, sampailah obrolan kita pada kata "dengan bayangmu". Seketika ada tawa yang hadir di malamku. Seharusnya, kita tetap teman. Kita tak perlu terpuruk pada kisah lalu.

Perihalmu, kini aku menyadari bahwa aku tak perlu meninggalkan jejak-jejak kepatahan di hatiku. Saat waktu, mengizinkan kita kembali bercengkerama, itu adalah hal baik bagiku.

Sebelum beranjak tidur malam ini, aku sempatkan menulis puisi tentang obrolan kita. Obrolan kita tentang kata "dengan bayangmu" dan tentang kamu yang sudah berhenti mencandui sigaret tiga bulan ini.

Ah, sudahlah. Aku ingin menikmati malamku dengan bayangmu malam.

*sigaret = rokok

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 27 Agustus 2020

Jika Sekiranya Aku Berlebihan, Katakanlah!

@kulturtava
...
Bahwa kamu itu candu yang menyenangkan di hatiku. Aku tak akan mendustai kenyataan mengenai itu. Entah bagaimana aku selalu menyukai semua hal perihal dirimu.

Ini tentang perasaanku terhadap kamu, kamu itu bagian dari perjalanan hidup yang kusyukuri. Jika sekiranya aku terkadang berlebihan menanggapi kamu, katakanlah!

Aku akan berusaha untuk lebih memahami kamu. Di perpustakaan hatiku, aku tak ingin mencipta jarak yang bernama keegoisan.

Tentang kisah asmara dari cerita cinta kita, jika sekiranya aku sebagai perempuanmu berlebihan dalam bersikap, katakanlah! Agar aku tidak membuatmu terganggu. Jangan malah membiarkan aku terperangkap pada arah yang salah.

Jangan pernah lelah menghadapi aku. 


***
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 26 Agustus 2020

Jika Sekiranya Kamu Terganggu, Katakanlah!

@kulturtava
...
Bahwa kamu yang menjadi candu di hatiku, itu adalah benar adanya. Namun, canduku padamu bukan berarti aku harus mengintaimu. 

Aku sebagai perempuanmu, juga harus menjaga sikap yang sepatutnya terhadap dirimu. Bagaimana pun aroma cinta yang kamu suguhkan untuk diriku harus disertai keikhlasan dan pengertian.

Dan, jika sekiranya kamu terganggu atas apa yang kulakukan, katakanlah!
Percayalah, aku tak akan jatuh pada kata keegoisan.

Karena cinta bukan hanya tentang menerima kebahagiaan tapi seharusnya juga memberi kebahagiaan. Bahwa dalam hubungan asmara, bukan tentang siapa yang paling dominan, bukan pula untuk saling mengalahkan.

Ya. Jika sekiranya kamu terganggu, katakanlah. Aku pun akan demikian!

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 25 Agustus 2020

Di Mana Rasa Sayangmu?

@sasisutamto/wattpad.com
...
Kemarin, aku jatuh dan terjerembab dalam kesunyian. Aku ditinggal pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Katamu, aku adalah kekasih yang kau cintai, namun untuk sekedar bersama kau enggan.

Di mana rasa sayangmu? 
Rasa sayangmu yang seperti ini, sulit untuk kuterjemahkan.

Mungkin, ketertarikanmu padaku tak disertai kejujuran hati. Hingga dengan mudah hatimu ditumbuhi rumput-rumput liar keegoisan.

Kau mungkin tak tahu, kau telah menawarkan suasana hati yang gundah bagiku. Aku ragu, apakah kau benar-benar memiliki rasa sayang terhadap diriku? 

Entah kenapa, tapi aku sungguh berharap ada ketulusan hati darimu untukku. Walau sebentar, pahami dan mengertilah aku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 24 Agustus 2020

Narasi tentang Si Perempuan Puisi

@kulturtava
...
Ini kisah sang perempuan puisi

Ketika ia mengingat masa lalu, menjalani masa kini dan berharap akan masa depan. Ia memilih dan memutuskan untuk membawanya ke dalam jejak-jejak aksaranya.

Bersama ribuan kata yang akan memenuhi kisah dalam aksara puisinya, sang perempuan puisi berlarian untuk mendapatkan makna yang diinginkan hatinya.

Di dalam perpustakaan nalar dan hatinya, sang perempuan puisi akan melahirkan anak-anak puisinya. Entah mengapa, terkadang ia membiarkan dirinya terjebak dan bersembunyi di balik deretan aksara. 

Karena sebagian besar narasi si perempuan puisi ditulis untuk menyelamatkan kesehatan jiwanya. Dan, keistimewaan terbaik dari narasi tentang si perempuan puisi adalah kemerdekaan hati yang akan diterima olehnya.

***
Lusy Mariana Pasaribu
[Rantau Prapat, 24 Agustus 2020]

Minggu, 23 Agustus 2020

Bagaimana Kamu?

@kulturtava
...
Cintai dan milikilah aku, kekasih. Tanpa ragu. Akulah tulang rusukmu yang akan kamu ramu di dalam cintamu.

Kekasih, aku akan melengkapi bau kasur yang kamu tiduri dengan bauku. Sudah menjadi sebuah kewajiban bagimu, untuk memberikanku hak itu bukan.

Bagaimana kamu memperlakukan diriku, cintailah aku dengan cinta yang Tuhan berikan padamu. Karena aku pun demikian.

Karena dirimu dan diriku adalah kepunyaan Tuhan seutuhnya. Itu sudah diketahui olehku, olehmu dan semesta. 

Selanjutnya, aku berjanji. Akan kupercikkan wangi yang bertajuk kesetiaan pada rumah cinta kita. Dan menghiasi dengan jejak-jejak kita berdua. Kita akan saling memiliki arti dan saling mengandalkan satu dengan yang lain.

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 21 Agustus 2020

Dosen yang Beragama Kristen, Mengajar di Universitas Islam

Pixabay
...
16 Februari 2016 tepatnya hari Kamis, hari pertama saya masuk ke kampus dan menerima jadwal mata kuliah yang akan saya ampuh di semester genap.

Beberapa bulan sebelumnya, saya sudah memberikan surat lamaran kerja ke beberapa kampus yang ada di kota tempat saya tinggal. Surat lamaran kerja saya hanya bermodal SKTL (surat keterangan tanda lulus), karena kala itu saya belum di wisuda dari kampus tempat saya menempuh pendidikan Pascasarjana.

Akhirnya tiba di bulan Februari 2016, saya mendapatkan kabar baik. Salah satu kampus tempat saya melamar pekerjaan tadi, memberikan saya kesempatan untuk mengajar di sana. 

Dan kisah saya dimulai, kisah saya mengajar di Universitas Islam. Karena kampus yang menerima saya bekerja adalah Universitas Islam Labuhan Batu. 

Lantas, apakah menjadi masalah jika saya yang seorang Kristen mengajar di Universitas Islam? Seorang minoritas bekerja di lingkungan mayoritas. Mungkin benar akan menjadi masalah, jika saya sendirilah yang mempermasalahkannya. 

Tapi saya tidak melakukan hal itu. Saya bersyukur atas penerimaan yang saya terima dari teman-teman kerja saya. Saya pun memiliki keluarga baru, walau sebenarnya saya dan mereka (teman kerja) tak seirama mengenai keyakinan.

Mengenai pro kontra, pastilah saya mengalami hal itu. Bahkan dari orang terdekat, banyak yang meminta untuk tidak bekerja di Universitas itu. Tapi saya tidak melakukan hal itu, karena saya yakin bahwa saya tidak perlu mengislamkan diri untuk mengajar di Universitas Islam. Mata kuliah yang saya ajar pun, mata kuliah yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. 

Namun saya juga mengalami sedikit keganjilan. Namanya juga kampus Islam, setiap kegiatan atau program yang ada di kampus, pastilah dominannya beraroma islami. Dan saya tidak pernah mengikutinya sekali pun. Dan hal itu saya pahami dan terima dengan kesadaran.

Seperti jodoh yang tak akan ke mana dan sulit untuk dihindari dan akhirnya dipilih untuk menetap di hati. Demikian pula untuk saya, saya memilih untuk menikmati waktu dengan menyakini bahwa bekerja di Universitas Islam adalah pilihan yang tepat.

Seperti ragam warna yang terdapat dalam sebuah lukisan, lukisan itu tetap akan terlihat indah walau disusun dari banyak warna. Demikian pula perihal saya pribadi, saya dosen Kristen yang menikmati proses belajar mengajar di Universitas Islam. Minoritas dan mayoritas akan serasi di dalam perbedaan

Seperti pedoman yang ada pada bangsa kita, BHINEKA Tunggal Ika. Walaupun berbeda tetap satu. Seperti itu juga yang saya yakini. Walaupun saya berbeda, saya tetap bisa menempatkan diri untuk mengerjakan bagian saya di kampus sebagai pendidik. Dan tidak akan mengusik dan melewati batas apa pun selain perihal pendidikan

Salam perbedaan 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Kenapa Harus Basah oleh Hujan

Pixabay
...
Mungkin kau puing yang dicumbui angin liar, tapi kau bisa memilih untuk tidak disetubuhi oleh angin itu.

Kenapa harus basah oleh hujan, jika kau bisa menikmati hujan tanpa dibasahi hujan.

Bahagia tidak akan pernah pergi ke mana-mana bukan, jangan membunuh kebahagiaan itu dengan kebodohanmu terhadap angin liar dan basah hujan yang turun itu.

Ada kebenaran yang harus kau biarkan berujung pada keheningan. Karena itu bukan bagianmu, biarkan hatimu tidak mudah basah terhadap hujan. Terlebih hujan yang akan buatmu gelisah. 

Walau kau pernah dicumbui angin liar, hati-hati lah, agar kau tak terkurung oleh romantisme angin itu. 

Dan lain waktu, kau akan bisa menertawakan dirimu sendiri dan kebodohan hatimu yang tak seberapa sebenarnya.

Jadi, kenapa harus basah oleh hujan?

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 20 Agustus 2020

Lagi-Lagi Luka

Pixabay
...
Lagi-lagi yang kuingat darimu hanya luka. Padahal aku tahu, bahwa sebenarnya dirimu tidak berarti apa-apa di hidupku. Namun luka yang kau berikan menggiringku pada kesakitan dan menimbulkan badai di hatiku.

Kau membungkus dan menutupi dirimu dengan kata kelembutan, tapi bagiku itu adalah bagian dirimu yang tidak seutuhnya. Tabir kebenaranmu sudah terbuka, dan kau sudah terlempar jauh dari muatan hatiku.

Sungguh, aku sering kali harus berpura-pura ketika berhadapan denganmu. Karena luka dan kecewa masih saja menyusup di hati. Aku sungguh ingin melepaskan rasa luka ini dari pelataran hatiku. Lagi-lagi aku harus menulis puisi patah hati karenamu

Kini aku memutuskan, untuk tidak akan pernah lagi  terganggu terhadap apa-apa saja yang akan kau katakan perihal diriku. Aku akan diam pun membiarkanmu melakukan apa yang kau mau, itu hakmu. Aku tak ingin lagi terusik perihal dirimu.

***
Lusy Mariana Pasaribu 
[Rantauprapat, 27 Juli 2020, 21:30 WIB]

Dia Sudah Kuteguhkan di Dalam Hatiku

Pixabay
...
Dalam laut pahamku, aku sering tak sepaham dengannya. Dalam hatiku, aku sering memberontak terhadapnya. Di antara kenakalan yang kulakukan, dia selalu menitipkan doa untukku. Membawa harapan baik bagiku, agar hatiku dibukakan pencerahan

Akhirnya, aku datang dalam kesadaran. Kasih sayangnya yang benar ada untukku. Entah mengapa, aku sering lupa, bahwa dirinya sering menahan rasa sakit hanya untuk memberi kebahagiaan untukku. Dan saat aku merasa sakit, pasti dia juga merasa sakit.

Ya, selagi dia hidup aku akan menghormatinya. Aku tidak ingin penyesalan berada di hatiku atas sikapku yang tak benar terhadap dirinya.

Aku belajar pada dirinya,
Belajar tentang kesetiaan dalam mencintai Tuhan
Belajar tentang mencintai cinta yang Tuhan berikan dalam kehidupan

Dirinya sudah menghantarkan nilai hidup yang benar di semesta hidupku. Dan selagi aku hidup, aroma dirinya adalah makna kehidupan yang tak akan pernah kulupa.

Dirinya adalah Ibuku, ibu yang telah melahirkan aku dengan segala perjuangan. Dia sudah kuteguhkan di dalam hatiku.

***
Lusy Mariana Pasaribu
[Rantau Prapat, 20.08.20, 22:47]

Selasa, 18 Agustus 2020

Aku Ingin Kembali Berdoa

Pixabay
...
Aku tidak ingat berdoa, ketika hatiku kubiarkan tetap hitam. Aku malah berargumentasi dengan diriku sendiri, menyambut amarah yang menghampiri jiwaku.

Aku terlelap bersama kebodohan. Di balik dinding-dinding nestapa, aku menikmati sedih yang sesungguhnya tak pernah kunikmati. Entah apa yang terjadi padaku, aku mengalungkan kepalsuan hidup di duniaku.

Saat sayatan sembilu singgahi pintu hatiku, aku melepaskan diri dari untaian doa. Aku tercemari oleh pemikiranku yang tidak seharusnya.

Aku malah tidak ingat berdoa, dan itu adalah bukti kekalahanku. Aku telah melepas dan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. 

Aku melupakan harapanku, aku menjerit tatkala menyadari, hidupku hanya sementara.

 Ini bukan sekedar kesalahan biasa, ini kegilaan dan ketidakwarasan yang tidak boleh kubiarkan menguasai diriku.

Aku tidak ingin kegilaan ini menjadi prasasti yang akan membeku dalam sejarah hidupku, aku harus pulang ke arah yang benar.

Aku ingin kembali berdoa.
Aku memerlukan Tuhan. 

***
Lusy Mariana Pasaribu
[Rantau Prapat, 18.08.2020, 20:58]

Senin, 17 Agustus 2020

Katamu adalah Akhir Segalanya

@kulturtava
...
Hari ini, ratap seakan enggan pergi dari hatiku. Tak ada asa untukku, genggamanku kini telah terlepaskan. Aku ingin menyerah.

Penolakan diri bercengkerama hangat dengan jiwaku. Amarah menggoda hatiku. Aku mendengar apa yang kau ucapkan. Dan bagiku, sumpah serapah dan katamu adalah akhir segalanya.

Hatiku telah mati, tapi aku membiarkan hatiku pura-pura menyala untukmu. Aku tersandera dalam kegelisahan hati, aku tak bisa menerima kemerdekaan darimu.

Meskipun aku telah merajut cerita cinta di duniamu, tapi yang kuterima darimu adalah luka dan ketidakwarasan. Kau sudah menunjukkan arah yang berbeda dariku. 

Aku tak ingin menyimpan luka ini tapi aku tak bisa. Luka ini mungkin tak akan pernah sembuh, karena hari ini aku telah menguburkan hatiku untukmu.

Airmata membasahi hati dan jiwaku.

***
Rantau Prapat, 17.08.2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 16 Agustus 2020

Aku Lebih Memilih Sunyi

@kulturtava
...
Saat kekecewaan yang sama kembali berulang dan membentangkan rasanya dalam hatiku, membuka luka yang akan berfestival sepi dan berujung pada kesendirianku.

Kenapa? 

Di hari penting dalam hidupmu, aku harus menghabiskan hari dengan cerita dan sejarah yang dahulu lagi. Sejarah yang buat rasa kecewa menyelimuti jiwaku.

Di hari ketujuhbelas bulan delapan kali ini, aku pasti menggunakan topeng kepalsuan, untuk menyenangkan hatimu. Karena aku tahu, ketulusan tak akan berkolaborasi denganku.

Aku akan bersandiwara untuk tidak melukai hatimu. Entah mengapa, kau bisa lebih bahagia bersama mereka yang tak pernah menggangap keberadaanmu. Aku bingung memikirkan semua ini.

Aku tak bisa menerima perlakuanmu ini, menawarkan kebaikan yang akan berujung pada kesia-siaan. Hal ini membuatku marah dan menangis. 

Aku kecewa dan marah kepadamu, tapi aku tak bisa mengatakannya. Aku juga ingin memalingkan muka darimu, tapi aku tak berdaya.

Saat ornamen kehidupan mengizinkanku melihat skenario drama mereka, mereka yang tak pernah anggap kau ada. Aku lebih memilih sunyi menjadi teman.

Aku tak ingin bertemu, seakan aku mengotori udara yang kuhirup.

Andai kau tahu! 
Andai kau mengerti!

Atau kau pura-pura tak tahu dan pura-pura tak mengerti.

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 14 Agustus 2020

Pintu Cintamu

@kulturtava
...
Kamu,
Adalah awal kisahku mengenal romansa asmara
Di hatiku, aku menemukan titik kepercayaan untuk terikat pada hal yang bernama cinta

Kamu,
Sudah membuka pintu hatiku yang lama tak berpenghuni
Sentuhan cintamu, membawa unsur positif di hari-hariku

Di ruang hatiku, sudah ada kamu. Di ruang hatimu, sudah adakah aku? Aku berharap, ada aku di dalamnya
Aku akan mengunci pintu cintamu
Menghalaunya dari godaan cinta yang lain

Denganmu, aku mendapatkan asa untuk bahagia. Kamu, sudah menanam benih keyakinan itu di hatiku

Di balik pintu cintamu, biarlah selalu ada cinta yang terjaga untukku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 13 Agustus 2020

Aku Memilih Diam

@kulturtava
...
Ketika yang kau mau tertolak dan tidak terpenuhi, sorot matamu dipenuhi amarah. Aku memilih diam, menerima semua yang kau ucapkan

Aku memilih berhenti untuk mengusikmu, memilih menjadi kesepian daripada harus melihat sikapmu yang menuduhku

Jika kau bicara tentang pemberian, mungkin kau lupa dan tidak sadar bahwa aku yang lebih dulu menabur hal baik padamu. Tapi sudahlah, sebab kau sendiri menikmati balok yang terdapat di matamu

Aku berharap bisa membatu darimu, sungguh aku berharap. Mungkin aku hanya seseorang yang bisa berharap melakukan itu, tapi harapan belaka. Karena aku tak akan sanggup melakukan itu

Aku harus berdamai dengan keadaan hatiku, walau saat melihat pandangan matamu aku merasa terluka dan sakit

Aku memilih untuk bersikap baik-baik saja, walau aku tak tahu akan benar-benar bisakah memaafkanmu

Dan aku memilih mewartakan rasa gelisah yang kau berikan pada puisiku

***
Lusy Mariana Pasaribu 
[Rantauprapat, 14.08.2020, 04:41]

Semestaku Menjadi Lebih Indah

Wordpress.com
...
Ini tentang kamu, yang telah memasuki duniaku. Kamu yang membuat semestaku menjadi lebih indah. Bersamamu aku bisa memanen kebahagiaan. 

Kamu telah menjadi bagian dari sejarah hidupku. Kamu telah memutuskan untuk menetap di hatiku dan menerima keberadaanku seutuhnya. Aku bersyukur untuk itu

Aku juga akan memastikan untuk tidak menjerumuskan hatiku pada godaan cinta yang lain. Kamu adalah harapanku. Dan kuharap, saat kisah cinta kita diterjang badai, kita akan menghadapinya bersama. Membuktikan bahwa rasa cinta kita benar adanya.

Dan aku putuskan akan bersenandung tentangmu dalam puisiku, tentangmu yang telah membuat semestaku menjadi lebih indah. Kurasa, bukan hanya semestaku yang telah menjadi lebih indah, tapi semestamu pun juga demikian adanya.

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 12 Agustus 2020

Kita Memang Tak Mungkin

@kulturtava
...
Aku masih mengingatnya, kita pernah terjebak dalam hasrat untuk bersama. Mencurahkan rasa cinta yang bergelora di garis waktu.

Hingga kita menuai kebimbangan, kita melebur bersama keraguan. 

Kemudian kita memilih
Tentang cinta, kita adalah ketidakpastian. Dan kita memang tak mungkin untuk bersama, hilangkan rasa cinta yang terdapat dalam hati

Tidak, tidak ada yang bersalah atas tuaian yang kita terima perihal rasa cinta yang sudah terjalin, walaupun tuaian itu merupakan perpisahan kita 

Tentangku, tentangmu akan membeku dan tak lagi berirama dalam pangkuan cinta. Aku dan kau hanya menitip rasa yang akan menjadi kenangan di sejarah hidup kita masing-masing

Ternyata kita tercipta, bukan untuk saling melengkapi. Tapi kita tercipta untuk dipertemukan hanya sebagai persinggahan yang perlahan akan lenyap dari ruang-ruang hatiku 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 10 Agustus 2020

Cerita Perempuan Puisi

Pixabay
...
Perempuan itu adalah puisi, yang membiarkan bait-baitnya dikritik. Pada tumpukan rasa yang terjadi dalam hidupnya, perempuan itu menjatuhkan diri pada kumpulan-kumpulan aksaranya

Ia mencurahkan hatinya pada puisi yang telah ditanamnya. Saat realita perempuan itu memberi rasa kecewa, ia akan berlari pada puisi. Karena puisi telah lama membuatnya jatuh dalam cinta

Dalam hidupnya yang penuh haru biru, dan seringkali tak diacuhkan, hingga tangisan ada di dalam hatinya. Terkadang, perempuan itu tak tahu harus berbicara pada siapa tentang yang ia rasakan. Ia pun memutuskan untuk berbicara dengan puisi dan mencumbui waktunya dengan berpuisi

Puisi memiliki romantika asmara baginya, sebab rangkaian kata dalam puisinya mampu menyingkirkan deretan duri yang menusuk hatinya. Perempuan itu sangat mahir menyembunyikan rasa melalui puisi,  agar ia terlihat baik adanya 

Puisi adalah salah satu kenangan dan sejarah terindah di hidupnya

***
Rantauprapat, 10 Agustus 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 09 Agustus 2020

Puisi Humor, Bila Beberapa Mata Pelajaran Beromansa Asmara

freepik.com
...
Si Bahasa Indonesia, 
Aku mencintaimu kekasih, akan kuselimuti kau dengan kelima huruf vokalku. Duhai kekasih, kutiduri anggur di tubuhmu dengan kongjungsi yang kumiliki

Si Sejarah,
Aku mencintaimu kekasih, kunikmati kisah cintamu bersama puing-puing masa lalu. Duhai kekasih, bukankah bangunan kuno yang kupunya masih bisa memberikanmu gairah perihal romansa asmara

Si PKn, 
Aku mencintaimu kekasih, hatiku telah terisi penuh oleh pasal-pasal cintamu. Duhai kekasih, aku selalu ingin menerjemahkan setiap sila demi sila yang bertahta di kurikulum hatimu

Si Matematika,
Aku mencintaimu kekasih, kuberikan hati dan perasaanku padamu bersamaan deret aritmatika untuk memenuhi impianmu. Duhai kekasih, di balik kerumitan angka-angkaku yang aktual, aku masih mampu mencium wangi dan aroma tubuhmu

Si Biologi,
Aku mencintaimu kekasih, aku membiarkan diriku mabuk oleh zat dan partikel yang ada dalam kingdom hatimu. Duhai kekasih, kutikam keraguanmu terhadap diriku dengan atom cinta yang kumiliki 

Si Fisika,
Aku mencintaimu kekasih, koefisien dan tekanan cintamu padamu begitu amat besar. Duhai kekasih, arah vektor dan gaya gravitasimu menarikku pada frekuensi yang selaras dengan hukum cintamu

Si Agama, 
Aku mencintaimu kekasih, iman dan kepercayaanku memberiku keyakinan bahwa kau berhak untuk dimiliki. Duhai kekasih, aku ingin bercinta dengan cintamu dalam status yang benar dan aku rasa itu adalah hal yang indah

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 08 Agustus 2020

Kehilangan-kehilangan yang Kualami

Picsart.com
...
Dia menyakiti perasaanku lagi, aku kembali kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup. Dia membuatku muak

Kehilangan-kehilangan yang kualami ini, sungguh menyusahkan hatiku. Aku memeluk kecewa terhadap dirinya

Kenyataannya, dia telah merebut damai di dalam hatiku. Seandainya dia tak datang dalam hidupku, mungkin semuanya akan baik-baik saja

Dia telah menerbitkan suasana yang tak nyaman lagi dalam hidupku. Ada penyesalan yang kurasa, mengapa aku memaafkan dirinya saat dia melakukan kesalahan serta mengakibatkan kehilangan yang pertama di hidupku

Terhadap Kehilangan-kehilangan yang kualami, aku hanya bisa mempersembahkan pengampunan. Agar hatiku tak tersesat pada arah yang akan menenggelamkanku pada rasa amarah terus-menerus 

***
Lusy Mariana Pasaribu
[Rantauprapat, 06.08.2020]

Nama Kita

@kulturtava
...
Adalah namaku dan namamu yang akan kusemogakan untuk menjadi satu. Aku ingin mendekap nama kita di dalam doaku

Aku mensyukuri atas hadirnya cahaya cintamu di hatiku. Kau kekasihku yang kuharap akan tercatat di semestaku dan menjadi lelakiku seutuhnya

Dan aku ingin, kita berdua berbagi rasa manis dan rasa pahit yang dirasakan dalam hidup. Namaku, namamu, dan nama kita berdua biarlah melekat di perasan yang telah kita yakini

Namaku dilahirkan untuk menjadi pelengkap dari namamu, aku ingin nama kita berirama dalam harmoni asmara yang searah 

Aku perempuan yang memutuskan untuk bahagia karena telah menemukanmu, kau memperkenalkanku pada harapan perihal mencintai

Jika bicara tentang nama kita, itu bicara tentang harapan untuk bisa bersatu dalam cinta 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 07 Agustus 2020

Menerbitkan Buku Puisi, Salah Satu Cara Saya Menghargai Karya

Cover Buku Puisi Pertama dan Kedua Lusy Mariana Pasaribu
...
Saya suka menyebutkan diri saya sebagai perempuan puisi dan ada pula judul puisi yang saya tulis dengan kalimat itu "perempuan puisi". Saya perempuan puisi yang lahir di ibukota Indonesia tepatnya di kota tua, kota Jakarta.

Saya perempuan puisi yang sudah dua kali menerbitkan buku puisi, dan kedua buku puisi saya terbit melalui penerbit indie. Tentunya jika puisi kita ingin dibukukan dan diterbitkan melalui penerbit indie, kita harus mengeluarkan biaya yang cukup mengusik kantong. Tapi saya rasa itu tidak menjadi permasalahan ketika membicarakan karya kita sendiri dan karya kita pun akan memiliki ISBN dan akan ada di PERPUSNAS (perpustakaan nasional).

Kembali ke judul artikel
Menerbitkan buku puisi, salah satu cara saya menghargai karya

Saya sudah dua kali menerbitkan buku puisi, ini ceritanya :

Karena ketidakpenerimaan saya akan hiruk-pikuk perjalanan hidup yang saya alami, saya pernah memusnahkan semua puisi yang sudah saya tulis menjadi abu yang tak bersisa. Saya pun meninggalkan puisi selama 7 tahun. Hingga akhirnya saya kembali merasakan indahnya menulis puisi karena kehadiran seseorang. Dan tepat pada tanggal 01 Oktober 2018, kisah saya bersama puisi kembali dimulai. 

Berjalannya waktu, puisi yang sudah saya tulis per tanggal 01 Oktober hingga Desember 2018 akhirnya terkumpul. Tak ingin puisi yang sudah tertulis, akan terlupakan begitu saja. Saya pun berniat untuk membukukannya. Atas saran dan masukkan seorang teman, jadilah niat awal tadi terealisasi.

Buku puisi pertama saya akhirnya terbit. Buku puisi pertama saya berjudul "Aku dan Pencerahan" terbit melalui penerbit Guepedia.com pada bulan Desember 2018. Kenapa saya memilih judul itu, karena judul dalam buku puisi ini menggambarkan tentang kisah dan perjalanan saya yang mendapatkan pencerahan untuk kembali merasakan kenyamanan saat bercengkerama dengan aksara puisi.
Jumlah puisi yang ada di buku puisi pertama saya, hanya 60 puisi. Jujur ada kesenangan tersendiri dalam diri, ketika buku puisi ini terbit. Melalui buku puisi yang sudah ber-ISBN ini, saya menunjukkan pada diri sendiri bahwa saya berhasil bangkit dari keterpurukan dari masa-masa membenci puisi selama 7 tahun.

Walau setelah buku ini terbit, saya sungguh menyadari tentang banyaknya kekurangan yang melekat dalam isi buku puisi ini. Kosakata dan tata bahasa yang sangat berantakan. Namun sungguh saya tak menyesali buku puisi pertama saya, karena puisi-puisi yang terdapat dalam buku ini adalah jejak pertama saya bercengkrama dengan bait-bait aksara setelah kembali berpuisi. Saya pun hanya ingin meninggalkan jejak baik di semesta perjalanan hidup melalui buku puisi yang telah diterbitkan.

Saya pun terus belajar dan belajar. Belajar menulis puisi lebih baik dari sebelumnya. Belajar untuk menambah kosakata yang berwarna dalam bait-bait puisi saya. Beberapa hal yang saya lakukan di antaranya, saya membaca puisi orang lain dan membaca beragam karya fiksi lain, baik itu berupa cerpen atau novel.

Bicara soal keterjualan buku ini, saya tak menargetkan apa pun kala itu. Tapi sungguh saya bersyukur, ptofesi saya sebagai pengajar di universitas memberikan dampak baik untuk saya. Buku puisi pertama saya laku terjual beberapa puluh, yang membeli tak lain tak bukan adalah mahasiswa yang saya ajar. Entah mereka menyukai puisi atau hanya karena mereka tak enak hati terhadap saya. Apa pun itu, saya sangat mengapresiasi mereka. Selain mahasiswa saya, buku puisi pertama saya pun dibeli oleh teman-teman saya yang sering bergaul dengan saya. 

Buku puisi pertama saya pun menjadi vitamin dan nutrisi jiwa yang baik buat perjalanan saya. Ada gairah dan getaran hati yang lebih dalam diri untuk kembali menerbitkan buku puisi yang kedua. Tentunya dengan harapan, bahwa buku puisi yang kedua harus jauh lebih baik dari buku puisi yang pertama.

Dalam perjalanan di episode kehidupan saya. Dengan semangat, kesabaran dan tentunya kesabaran, setelah melewati pergantian tahun,  saya tetap menulis puisi dan puisi yang saya tulis, menurut saya pribadi jauh lebih baik dan berwarna. Saya memutuskan untuk menerbitkan buku puisi yang kedua. 

Maret 2020, buku puisi saya terbit. Ada alasan kenapa bulan Maret, buku puisi kedua saya terbit. Tak ada alasan lain, kecuali karena Maret adalah bulan lahir saya. Bulan lahir si perempuan puisi. Buku puisi kedua saya berjudul "Bersama Puisi, Aku Bahagia". Alasan saya memilih judul ini adalah, karena saya sendiri menyadari bahwa ada kebahagiaan dalam diri ketika saya menikmati waktu saat menulis puisi. Puisi yang terdapat dalam buku ini berjumlah 97. Dan untuk buku puisi kedua ini, saya memilih berganti penerbit. Penerbit indie yang saya pilih dan percaya untuk menerbitkan buku puisi kedua saya adalah Ellunar Publisher. 

Saya bisa menghias senyuman di wajah, dengan warna-warni puisi yang saya tulis dan terdapat dalam buku puisi kedua saya. Puisi-puisi saya tentunya adalah tulisan yang lahir dari nalar pun hati saya. Dan saya menulisnya untuk kebaikan semesta saya sendiri.

Bicara keterjualan buku puisi kedua saya, tak jauh berbeda dengan keterjualan pada buku puisi pertama. Yang membeli adalah mahasiswa yang saya ajar dan teman-teman dekat yang ada di pekarangan hidup saya. Saya mengatakan dengan sungguh, bahwa buku puisi pertama dan buku puisi kedua saya, sesungguhnya adalah jejak panjang dari perjalanan hidup saya. Jejak yang telah membahagiakan perasaan saya.

Dan jika Tuhan sang pemilik semesta, masih memberikan saya nafas dan kesempatan hidup lebih lama. Saya ingin bisa membahagiakan diri dan hati saya,  menulis hal yang menyenangkan dan tentunya saya sukai. Dan saya ingin kembali menerbitkan buku puisi yang ketiga. Bagi saya pribadi, menerbitkan buku puisi adalah salah satu cara saya menghargai karya

Salam literasi

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 05 Agustus 2020

Melupakan Kita

Pixabay
...
Aku akan belajar untuk melepaskan. Sulit pasti, tapi itu harus dilakukan. Realita tak bisa lagi dihindari, tanpamu sejarah hidupku pasti akan sangat berubah

Namun, aku tetap harus memilih. Memilihmu atau memilih kebahagiaan mereka. Di antara kita ada penolakan yang sangat amat besar. Kuputuskan bahwa kau adalah kebaikan yang pernah ada di sejarah masa laluku dan tak akan pernah bisa menjadi sejarah untuk masa depanku

Aku ingin melupakan kita, benar-benar melupa atau sengaja melupa. Apakah ini tepat bagiku? Entahlah. Tapi demi kebahagiaan mereka, aku rela kehilangan dirimu. Kebahagiaan mereka akan menjadi prioritas kebahagiaanku

Kau itu bagian dari sejarah masa lalu yang harus kubasuh dari jiwaku. Di keluasan samudera hatiku, kupastikan bahwa perihalmu hanya akan menjadi bagian dari kenangan di hidupku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Perihalmu Masih Saja Kembali ke dalam Kepalaku

Wattpad
...
Lima tahun lalu, dalam bulan yang ketiga, pada tanggal enam belas bulan itu, kesedihan meliputi aku

Aku menerima keputusan, keputusan perpisahan tentang kisah asmara kita. Walau sulit, aku belajar melepaskan. Seperti aku belajar mencintaimu kala itu. Kala aku menjalani kisah asmara denganmu, masih teringat jelas dalam diriku itu adalah kisah pertamaku berkomitmen dengan seseorang. Itu tujuh tahun lalu, dalam bulan yang keduabelas, pada tanggal tigabelas

Aku terluka, berduka bahkan juga membencimu, dan aku sudah berusaha membenahi luka dari perasaan duka juga benciku terhadap kepergianmu. Dengan sadar, aku menjatuhkan airmata. Airmataku adalah tanda, bahwa aku telah kehilanganmu untuk selamanya 

Waktu terus berganti, tidak ingat lagi itu pada tanggal, bulan dan tahun berapa, yang bisa kupastikan adalah aku sudah melepasmu dengan ikhlas 

Pada perjalanan hidup yang masih kulalui, bukan pernah aku sengaja mengingatmu, tapi memori tentangmu masih saja muncul di benakku. Aku ingin mendisiplin hatiku agar terbebas dari jendela kenanganmu, lagi-lagi aku gagal

Sampai saat ini pun, perihalmu masih saja kembali ke dalam kepalaku. Dan kepalaku belum juga siap amnesia terhadap dirimu sehingga masih saja mengizinknmu mengusik nalarku. Sudah terlalu banyak kenanganmu yang tercatat di sejarah hidupku 

Aku tahu, ternyata melepaskanmu jauh lebih mudah dari pada melupakanmu

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 03 Agustus 2020

Sang Pengarang

Pixabay
 ..
Aku menyukai kisahku berselimut kata, beranjak dari huruf yang satu kepada huruf yang lain. Aku juga suka berada dalam lahan imajinasi, berselancar mencari ramuan diksi yang kuinginkan

Di halaman aksara puisikuku, tumbuh banyak cerita yang membutuhkan asupan kata-kata. Dan seringkali yang tertulis dalam aksara puisiku adalah karena aku mengarangnya, berimajinasi di dalamnya

Kunyalahkan diksi di dalam karangan puisiku. Mengarang adalah hal yang menyenangkan perasaanku, karena mengarang tak membuatku kehilangan cahaya pada puisi-puisiku. Dengan mengarang, aku mendapatkan kebebasan dalam berpuisi

Akulah sang pengarang, pengarang puisi yang mencintai warnamu. Warnamu yang begitu indah. Mengarang puisi adalah bagian sejarah di hidupku. Sebab bagiku, puisi yang lahir karena hasil mengarang tidak menyatakan bahwa itu puisi yang bisu dan tak bermakna

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 02 Agustus 2020

Marahku Bukan Hanya Padanya tapi juga Padamu

Blitar TIMES/ Istimewa
...
Karenanya, aku harus menerima luka darimu. Kau begitu egois, demi dirinya yang sudah menyakitimu berkali-kali, kenapa tetap saja kau memberi hati padanya

Dia sudah pernah meracuni hatimu dengan perkataan yang beracun, aku marah kau diperlakukan seperti itu. Tapi lagi-lagi kau kembali padanya dan menghempaskan aku

Dengan sadar kau malah meracuni hatiku dengan virus amarah. Sungguh menyedihkan bukan, aku tak suka kau disakiti, tapi kau membiarkan dirimu disakiti olehnya. Kini marahku bukan hanya padanya tapi juga padamu

Hatimu sudah tumpul padanya, hingga menerima segala tingkah lakunya. Bahkan kau rela menyiksa hatiku demi dirinya, bukankah aku harusnya lebih penting dari dirinya. Kau yang mengatakan padaku, bahwa aku adalah bintang di hatimu

Aku patah hati, kehilangan cahaya dan berada dalam kegelapan karena perlakuanmu padanya. Aku ingin memberontak dan bersembunyi jauh darimu, tapi aku tak sanggup. Aku akan berprahara dengan hatiku sendiri, jika melakukan hal itu. Sebab aku tahu dan aku sadar bahwa kau adalah relasi pertamaku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 01 Agustus 2020

Cincin Darimu

Undanganpedia.com
...
Cincin darimu ini adalah pemberian yang manis bagiku. Cincin ini adalah salah satu kebaikan hatimu yang kembali kuterima. Pun menjadi pengingat untuk hatiku akan dirimu

Hari ini, lahan hatiku menuai hal yang indah karenamu. Tak kupungkiri, kau juga pernah menyakitkan hatiku atas sikapmu yang dahulu. Walau begitu, aku tak pernah mematikan rasaku untuk mempedulikanmu

Seiring berjalannya waktu, kau membuktikan ketulusanmu. Kau melumpuhkan ketakutan dan rasa sakitku, kini kau pun menjaga sikapmu

Pemberian cincin ini menghiasi cakrawala hatiku dengan kedamaian. Dalam diam, air mata sukacita berjatuhan di wajahku. Cincin ini menyegarkan jiwaku dengan senyuman yang membahagiakan

Cincin darimu ini meninggalkan jejak yang romantis bagiku. Kau juga menitipkan rasa kasih sayangmu untuk hatiku melalui pemberian cincin ini

***
Lusy Mariana Pasaribu