Senin, 30 November 2020

Dua Puluh Dua Kata yang Tersisa

@kulturtava
...
Kamu katakan :
Dengarkan baik-baik,
Apa pun yang terjadi setelah ini,
Saya akan selalu mencintai kamu
Saya juga merindukanmu
Sangat banyak
Sampai saya merasa sakit
(22)

Dua puluh dua kata yang tersisa dari dirimu, tersusun mempesona dan menggugah hati saya. Terima kasih sudah mencintai dan merindukan saya dengan sangat banyak.

Perpisahan ialah temu tiada akhir, mungkin itu benar. Dan saya bahagia, pernah menikmati waktu dalam kebahagiaan bersama kamu. 

Saya dan kamu, pernah saling bertatap bintang di langit yang sama. Saya bertanya, akankah kita kembali melihat bintang di langit yang sama? Saat itu kamu hanya diam. Entah sejak kapan, sebagai kekasih hatimu, saya sudah menghambarkan diri terhadap keegoisan. Jadi saya tak menuntut kamu untuk menjawab. 

Saya melayangkan mata dan melihat, cinta dan harapan terhadap kamu tetap tinggal seperti padang terbuka di hatiku. Karena begitu banyak kisah yang terukir indah bersamamu.

Ya, itu kamu.
Ada warna kebahagiaan yang bersinar di matamu. Perih dan pedih yang saya rasakan, dapat tergantikan dengan senyuman. 

Saya bisa menari bersama penerimaan karena kamu. Dua puluh dua kata yang tersisa darimu, adalah sesuatu yang saya butuhkan. 

Kini, musim telah berganti dan kamu telah pergi. Bunga-bunga musim semi kita akan tetap mekar, saya akan tetap mengingat kamu. Saya akan tenang teduh di bawah rindang pohon cinta kita.

Tiada noda yang akan saya sematkan dalam dua puluh dua kata yang tersisa darimu. Kepercayaan cinta kamu tak akan saya buat berguguran.

Kamu dan dua puluh dua kata yang tersisa darimu tak akan pernah berkarat. Saya akan tetap mengingat kamu walau tanpa pertemuan dan tanpa tatapan yang pasti. 

Kita memang sudah berbeda, namun saya masih merasakan hal yang sama terhadap kamu.

Saya tahu, dan kamu juga tahu
Seperti kamu yang mencintai dan merindukan saya dengan sangat banyak, hingga kamu merasa sakit.
Saya juga mencintai dan merindukan kamu dengan sangat banyak, hingga merasa sakit dan terdampar dalam kehampaan. Karena saya tidak lagi bisa melihat kamu dengan nyata. 

Sampai saya lelap, kenangan kamu akan tetap berkerumun di kepala nalar dan hati saya. 

***
Rantauprapat, 30 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 29 November 2020

Bunga-bunga Musim Semi Kita Akan Mekar Lagi

@kulturtava
...
Kita pernah tertusuk duri di waktu yang berjarak. Musim kemarau yang berkepanjangan pun pernah merambah kisah asmara kita

Selagi cinta masih bertahan, aku percaya bunga-bunga musim semi kita akan mekar lagi. Aku berharap, kau akan benar-benar menjadi harapanku

Aku memang bersedia untuk bersetia pada waktu, aku percaya kau pun demikian. Bersedia untuk menanti kebersamaan. Dan perihal mencinta, sabar dalam penantian, adalah persembahan yang paling tepat untuk memaniskan kisah asmara kita

Begitulah kisah asmara kita, harus dirangkai dan diterjemahkan dengan pengertian

Padamu, yang mampu membuat bunga cinta tumbuh di ladang hatiku, aku selalu ingin berbagi warna-warni rasa tentang cinta yang kita pilih. 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 28 November 2020

Gara-Gara Diksi

@kulturtava
...
Diksi, diksi, dan diksi. Diksi mampu memberikan banyak warna di kisah hidupku. Diksi adalah sesuatu yang kubutuhkan dalam narasi puisiku

Gara-gara diksi aku dapat menikmati sepi dan keramaian. Gara-gara diksi aku bisa berbagi kegelisahan dan kebahagiaan di dalam puisiku

Diksi hadirkan huruf demi huruf dan menjadi kalimat yang utuh di aksarku. Aku juga suka bersentuhan dengan diksi

Biarlah, gara-gara aku bisa merdeka menulis puisi. Bagiki, diksiku ternyata melahirkan rasa nyaman juga bahagia di hatiku

Diksi-diksi yang berlarian dalam nalarku juga yang datang dalam aksaraku, buatku berjodoh pada arti yang memberi makna dalam haru biru perjalanan hidupku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 27 November 2020

Ruang Romansa Asmara

Pixabay
...
Ruang romansa asmara, akan kehilangan rasa, ketika penghuninya  kehabisan kepercayaan dalam cinta. Sebab salah satu cinta yang terdapat dalam ruang itu ditumbuhi ketidaksetiaan

Wahai para pecinta, jangan ciptakan ruang yang seperti itu. Harusnya ruang romansa asmara para pencinta, tidak diisi airmata luka karena pengkhianatan

Akan ada perih luka hati
Satu persatu, penghuni ruang itu akan pergi dan saling meninggalkan. Berubah menjadi asing. Akhirnya, yang terjadi adalah ruang romansa asmara itu menjadi kosong lagi hampa.

Tak ada yang tersisa, selain kehilangan 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Cerita Kita Sudah Selesai

Instagram.com/kulturtava
...
Cerita kita pernah melahirkan kisah cinta, kita juga pernah menerima banyak kebahagiaan. Semua berubah saat langit hatimu tak lagi tertuju ke arahku

Aku tenggelam dalam sayatan pilu, untukmu dinding hatiku telah retak dan tak akan pernah menjadi utuh. Bagiku, cerita kita sudah selesai

Aku sama sekali tidak butuh penjelasan dan penyesalanmu, aku pun tak akan mendengarkanmu lagi. Bukankah sudah seharusnya, hatimu terjaga untuk hatiku

Kau malah berperilaku menyimpang dari kata kesetiaan, mengabaikan perasaanku yang akan terluka. Aku menangis dan kehilangan harapan untuk bersamamu, tak akan kuijinkan hatiku untuk mencintaimu

Karena itu, aku bersedia untuk berpamitan dari hatimu dan aku melepasmu dengan ikhlas. Sebab cintaku tak lagi mampu memberikan kebahagiaan yang mungkin kau butuhkan

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Kukan Tenang Teduh

@kulturtava
...

Hari-hariku terlewati dengan buaian kekhawatiran. Biarkan diri tersisih dari ketenangan.

Tergoda dan terlena pada ketakutan yang menghantui. Ah, diri ini membiarkan irama kesedihan ada dalam hati. Hembuskan kelayuan dan damai sejahtera tak lagi bermekaran.

Aku membuat diriku sendiri kalah. Meruntuhkan keyakinan yang harus dipertahankan. Terhempas dalam hamparan semu. Aku tak mampu melawan ketakutanku. Dalam harap cemas, rindu dalam harap, aku mati. Mati di pekuburan sepi. Kemudian aku berpaling dan pergi dengan panas hati pada ratapan kosong. 

Kini, aku merindukan ketenangan. Berharap kembali merasakan hidupku yang penuh pengharapan.
Kukan tenang teduh. Berpadanan dengan kesempatan yang memberikan jejak warna yang sepatutnya.

Pada hari yang kedua puluh tujuh dalam bulan yang kesebelas, aku ingin keluar dan berbalik dari tingkah lakuku yang tidak semestinya. Memelihara keraguan yang tidak berdasar. Seharusnya aku tahu, keadaan yang seperti itu tidak ada artinya.

Dan aku akan merasa damai sejahtera. Kukan tenang teduh, aku harus kuatkan hati. Percaya dan percaya. Adakah pengharapan yang benar kumiliki. Yang tak pernah pupus.

Apakah benih kepercayaan yang utuh masih tinggal tersimpan dalam lumbung keyakinanku? Harusnya masih tertinggal. Hariku tak ada dalam hamparan semu yang gelap. 

Sejatinya memang, aku hanya manusia fana yang terbatas. Kukan tenang teduh dalam hidup jika memiliki hati nurani yang benar, dan tak menarik diriku pada pencurian yang penuh hasrat yang berbahaya.

Saat ketidakpastian yang sempurna dan yang tidak terpikirkan sebelumnya menyapu kulit hidupku, berharap kukan tenang teduh dalam menjalani sisa di musim hidupku.

***
Rantauprapat, 27 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 25 November 2020

Kita adalah Bagian dari Semesta

umma.id
...
Dalam warna kehidupan, kita adalah bagian dari semesta. Ada berlaksa cerita yang tercipta karena kita, dan ada makna yang terlihat bahkan tersembunyi dari cerita itu.

Kita yang memilih, mau melukiskan apa di dalam semesta kehidupan. Melukis kesuramankah atau keindahan, melukis kedamaiankah atau kebencian.

Pada riak-riak kehidupan yang terdapat dalam semesta, janganlah kita memperkosa makna hidup dengan selalu bersengketa dan berlawanan. Benar bahwa kita adalah warna dan cahaya yang berbeda, namun kita tetap bisa bersanding dalam harmoni perbedaan bukan. 

Karena kita adalah bagian dari semesta kehidupan, semesta hidup yang sudah pasti memberikan keberagaman rasa. Yang bisa kita lakukan adalah, menghargai, menghiasi, dan mewarnai keberagaman itu.

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Aku Butuh Kepercayaanmu

Lidia Wylangowska
...
Kesedihan menerpaku. Aku menangis,  buat butir-butir air mata berjatuhan di wajahku. Aku diikat amarah terhadapmu. Kau menuduhku menyimpan iri padamu

Kau merendahkanku dengan deretan kalimat yang menyakitkan perasaanku. Kau mendiamiku, merasa kalau aku mengkhianatimu. Kau yang tak realistis, terlalu takut kalau aku tak menepati janji kita. Hingga pandangan matamu terlihat begitu sendu dan patah hati

Hatiku rasanya tersesat dalam kabut, terkurung dalam barisan kata yang tak bermakna. Kau menyatukanku dengan alunan kekecewaan. Kuharap, kau akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak akan meninggalkanmu, dan tetap menghargai janji kita

Tetaplah di sisiku,  karena pada kelopaknya bunga beku aku akan menempatkan kejujuran untuk menjaga kepercayaanmu. Aku butuh kepercayaanmu, untuk bisa memenuhi janji kita

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 24 November 2020

Bintik dalam Semesta yang Luas

@kulturtava
...
Di sela-sela waktu yang kaku, aku berdiri menanti jawaban dari pertanyaanku. Ya, selasa keempat di bulan November, ada keraguan di dalam semestaku. Pukul 16:35 WIB, kesadaran menghampiri hatiku.

Hari ini, kesadaran malam ini. Biarlah aku menjalani kisah hidup dengan kanvas yang sepatutnya. Tidak berbuat kelaliman pada diriku sendiri.
 
Sejak bulan September lalu, aku terhimpit duka. Dengan sadar, aku sabdakan perih. Asaku tak lagi indah, butir air mata jatuh tanpa sebab jelas. Berada di gerbang pilu nan sedih. 

Aku hanya bintik dalam semesta yang luas. Bila aku harus beranjak pergi dan menjauh dari harap yang kuharapkan, kuikhlasan itu. Walau sulit, biarkan hatiku berdansa dengan penerimaan.

Tak ingin duduk di kegelapan, merasa dahaga dan sunyi sepi yang akan tertinggal di hatiku. Aku hanya bintik dalam semesta yang luas, yang berharap mampu kembali riap tumbuhnya.

Semoga!

***
Rantauprapat, 24 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 23 November 2020

Hak atas Sebuah Ingatan

@kulturtava
...
Layu dan semakin layu dirimu. Mata telanjangmu memandang warna-warna pekat yang memedihkan mata. Menggerutu dan mengumpat ketidakadilan yang menimpa keadaan hidupmu. 

Kau yang keliru, aku yang tersesat dalam sendu. Yang kau lakukan seharusnya bukan menjadi tanggung jawabku, nyatanya aku lebih terluka atas sikapmu. Memberiku hak yang aku tak mau mengembannya, hak atas sebuah ingatan. Ingatan tentang kehilangan yang kembali harus kuikhlaskan.

Aku harus terus belajar menggunakan kekang pada lidahku, sehingga aku tidak menuruti kehendak diriku untuk mengucapkan nada ratapan terhadap kehilanganku. Tak ingin memegahkan perkara-perkara yang besar karena hak atas sebuah ingatan yang kualami. 

Aku marah padamu, namun kemarahanku tak harus menodai roda kehidupanku. Tak ingin yang terpancar dari raut wajahku adalah air tawar dan air pahit. Aku harus menyapu bersih luka yang kau berikan, bagaimana pun ada ruang di hatiku untuk dirimu. 

Sungguh, terhadapmu aku akan berusaha memproses perasaanku. Tak mau dihalau seperti sekam yang tertiup. Yang kuharap darimu adalah tak lagi acuh tak acuh pada kesadaran yang harus kaumiliki. Hingga kau tak menerima murka yang bernyala-nyala. Pun tak mati tertikam pedang kecongkakan yang lama kau lakukan. 

Biarlah, hak atas sebuah ingatan yang kualami ini tidak berujung pada kesia-siaan. Dan aku akan kembali beria-ria dan lepas dari tempat yang tandus karena dirimu.

Sesungguhnya, aku sudah sangat lelah dan jemu. Belakangan aku seperti pohon anggur yang tidak riap lagi tumbuhnya. Terangkum oleh arus air kehilangan.

***
Rantauprapat, 23 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kita Pernah Bersama, dan Akhirnya Memilih Berpisah

@kulturtava
...
Kita pernah bersama, berbagi rasa bahagia, berbagi rasa cinta. Kebersamaan kita hampir dalam kurun waktu 3 tahun

Kisah asmara kita baik-baik saja kala itu, hingga kita tenggelam dalam kesibukan yang dirasa lebih prioritas daripada memikirkan perihal asmara. Kita tidak bisa mengatasi hal itu dan sama-sama menginginkan pun memutuskan, bahwa kita lebih baik berpisah 

Kita tak lagi menikmati pohon cinta yang pernah disirami dengan rasa yakin. Kita membiarkan perasaan cinta yang pernah menyala dalam hati meredup

Kita memilih untuk menjadi egois. Sebab jika terus tenggelam dalam kisah cinta tanpa memikirkan tentang prioritas lain, hal itu berbahaya untuk masa depan kita 

Kita saling meninggalkan dan akhirnya memilih berpisah. Aku yakin, jika rasa cinta kita masih tetap berkuasa dalam hati, kita mungkin akan bisa kembali bersama. Itu pun jika kita memilih untuk bersama

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 22 November 2020

Kemalangan yang Akan Menjarah

Medium.com
...
Berapa lama lagi, engkau berseru dan berteriak? Memandang kelaliman dan memperlihatkan kejahatan pada dirimu sendiri. Membuat dirimu terkepung ketidakadilan, seperti serigala engkau pada waktu malam. 

Engkau bersukaria atas perbuatan khianat yang engkau lakukan. Bukankah sebenarnya engkau telah menghunus pedang untuk dirimu sendiri. Tidak akan bertangguh, engkau sudah membeku, menjejaki semestamu, dan bersegera menuju pada sebuah ratapan.

Kebodohan telah menggigiti engkau. Celakalah engkau, sebab telah menggaruk bagi dirimu sendiri apa yang bukan bagian hidupmu. Ketakutan yang menghantui dan yang tidak perlu engkau takutkan, sudah menghantarkanmu pada malam dan kisah-kisah yang kaku. 

Kemalangan yang akan menjarah engkau. Dan engkau bersusah-susah karena kekhawatiranmu sendiri. Sampai kapan, engkau bersembunyi dan memberi dirimu kehampaan yang berujung amarah. 

Engkau sudah bersalah terhadap dirimu sendiri. Itu akan menjadi ingatan di dalam hatimu. Engkau telah berlelah untuk yang sia-sia. Hak atas sebuah ingatan yang akan memberikan nada ratapan. 

Sampai kapan, engkau titipkan kepedihan dan kemalangan di hidupmu. Terlena dalam dekapan mimpi. Selagi masih ada kesempatan, engkau harus melepaskan diri dari genggaman malepetaka! Dan engkau tidak akan terkurung dalam cela yang besar. Engkau tidak akan merebahkan diri ke dalam pembuangan yang penuh  luka yang teramat sulit tersembuhkan. 

Jangan lagi membaur pada hasrat yang menggoda hati dan akan membuat engkau mencicipi dosa. Jika itu yang engkau pertahankan, kemalangan yang akan menjarah dirimu terus-menerus.

***
Rantauprapat, 23 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 21 November 2020

Bersetia pada Waktu

@kulturtava
...
Aku mampu bersetia pada waktu, bersetia untuk menanti cintaku. Waktu yang kutunggu untuk berjumpa denganmu

Karena kau, 
Adalah bunga-bunga musim semiku yang bisa membuat hatiku mekar kembali

Hari ini, lusa, atau pun besok. Di sudut duniaku, aku bersedia untuk bersetia pada waktu. Bersetia untuk menjalaninya dengan penantian. Yang kuharap, waktu tidak akan membuat rasamu bisu dan tak lagi bersuara terhadap rasaku

Aku paham tentang waktu, 
Karena waktu tercipta untuk dijalani, waktu pun adalah tunggu yang menjadi harapan. Harapan untuk bisa kembali bersama dan aku akan terus melautkan diri pada lautan cintamu. Sungguh. 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 20 November 2020

Perempuan yang Ingin Pergi ke Suatu Tempat yang Disebut Penerimaan

@kulturtava
...
Realita hidup sudah menyalahkan lampu kesendirian untuk dirinya. Tak akan pernah ada yang menyapa dan menunggu untuknya. 

Bukan dia tak berdoa dan mendambakan. Dia juga memiliki tempat yang disebutnya pengharapan, namun yang menjadi bagian hidupnya tidak sama dengan bagian hidup dari banyak perempuan di sekitarnya.

Pernah, dia sebagai perempuan seutuhnya membenci dirinya sendiri, mengapa dia tidak bisa merasakan bahagia seperti bahagia perempuan pada umumnya. Walau demikian, perempuan itu tidak bisa protes bahkan mempersalahkan siapa pun.

Dalam pikirannya, berkecamuk banyak pertanyaan. Pertanyaan yang pasti sulit untuk dia terima jawabannya. Akhirnya. Dia tiba pada kesimpulan, bahwa koordinat tepat yang harus dia miliki adalah kesadaran hati.

Bukan berarti, kecemasan hilang seketika. Perempuan itu memilih mengatasi kecemasannya. Menyelamatkan diri dari paradigma kesendirian yang dia alami dengan terus berusaha membebaskan hatinya dari ketakutan yang sudah pernah membuat dirinya terperangkap.

Dia, perempuan yang ingin pergi ke suatu tempat yang disebut penerimaan. Karena dia tahu, hidupnya adalah penerimaan.

Perempuan itu sudah memutuskan, untuk berhenti berharap pada sesuatu yang tidak bisa dia miliki. Itu cara lain perempuan itu, mencintai dirinya sendiri.

Rantau Prapat, 15 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kemarahan yang Tertunduk

@kulturtava
...
Hari ini, tidak ada lengkungan indah di bibir perempuan itu karenamu. Dia kembali kesulitan untuk menerjemahkan tentang dirimu. Terlalu banyak janji yang kamu ingkari. Kamu menyalahkan bara di hati perempuan itu.

Lagi-lagi dirimu menggugurkan kepercayaannya terhadapmu.  Kosakata keraguan seakan paripurna terhadapmu. Perempuan itu tidak berdaya, ingin marah dan membidik dirimu dengan ucapan yang seharusnya kamu tuai. Kamu dengan mudahnya membodohi perempuan itu.

Ah, sayangnya kamu salah satu pemilik hati perempuan itu. Berulang-ulang kamu ingkari kasih tulus yang dia berikan untuk dirimu, berulang kali pula dia menahan diri terhadap dirimu. Terhadapmu, perempuan itu ingin menempuh jalan-jalan penerimaan. Secara sederhana, perempuan itu tunduk dalam cinta yang dia miliki untukmu. Kemarahan yang tertunduk menjadi milik hatinya terhadap kamu, kamu itu salah satu bunyi terindah di dalam dunianya.

Sesungguhnya, kamu itu cerita yang sudah seringkali membuat perempuan itu berada dalam semak belukar. Merasakan kelayuan dan tumpukan debu yang menyesakkan. Faktanya, perempuan itu tetap berharap, akan datang masanya kedegilan hatimu patah. Nuranimu kembali hidup.

Walau perempuan itu rela kehilangan, demi kebahagiaanmu. Perempuan itu mendoakan dirinya sendiri untuk tetap memiliki cinta dan penerimaan yang benar terhadap dirimu. Dia juga berdoa terhadapmu, agar kamu mengerti menghargai cinta dan kepercayaan yang sudah kamu terima. 

Ini sesungguhnya perkara hati. Perempuan itu tak ingin ego merajam hatimu terus-menerus. Walau kemarahan perempuan itu tertunduk terhadap kamu, sepatutnya kamu dan ke-akuan yang kamu miliki juga tertunduk malu. Sudahlah, jangan lagi mengurai dusta pada dirinya. Peliharalah kebenaran dan kesadaran di hatimu. 

Hingga kamu dan perempuan itu akan kembali tunduk dalam syukur dan menemukan arti rasa cinta karena saling memiliki. Secepatnya hati perempuan itu, tak lagi berselimut kabut nan sendu.

***
Rantauprapat, 20 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 19 November 2020

Cinta adalah Cinta Itu Sendiri

Pixabay
...
Kataku,
Cinta adalah cinta itu sendiri
Adakah seseorang yang tak ingin hidup dalam cinta? Aku rasa tidak

Seluruh kebahagiaan yang benar dan didapat seseorang, itu pasti karena cinta
Apakah cinta itu nyata? Ya, tanpa keraguan aku mengatakan bahwa cinta itu nyata

Ini bukan hanya tentang cinta antara hasrat pria dan wanita
Bukan pula tentang cinta yang beraroma romansa asmara
Ini tentang cinta yang terdapat dalam semesta kita masing-masing
Cintaku, cintamu, dan cinta kita

Cinta adalah cinta itu sendiri, pun seharusnya terdiri dari huruf-huruf yang menghadirkan kata bahagia. Dan jika cinta sudah memilih untuk masuk dan menetap dalam ruang hatiku, hatimu, dan hati kita, biarlah kita memberi label pada cinta itu dengan rasa bersyukur

Karena tanpa cinta,
Semestaku, semestamu, semesta kita akan terasa hampa

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 18 November 2020

Melepaskan Diri dari Aroma Jelaga

@kulturtava
...
Sumatera, sejak awal September 2020. Aku ingin melepaskan diri dari aroma jelaga yang membelenggu hatiku. Ketakutan akan sesuatu yang tak mendasar.

Sebelum ini, di saat tengah malam atau di saat pagi jelang siang, atau di saat siang jelang sore, bahkan di saat sore menuju malam, aku menjamu rasa angkuh yang bertubi-tubi. Angkuh bukan karena mampu, namun angkuh memikirkan ketakutan yang bukan bagian hidupku.

Aku rutin memikirkan ketakutanku, padahal aku tahu ketakutanku itu tidak menambah sehasta apa pun di hidupku. Membuat diriku mati di pekuburan sepi. Membiarkan kepayahan dan ketidakberdayaan jatuh merawat pemikiranku.  Menjadi perusak yang telah membinasakan carang-carang keyakinan yang aku miliki. 

Penuh gelisah, nyatanya masih berdiri sombong seakan mampu. Aku pernah tumbuh dengan penyerahan diri seutuh dan sepenuhnya, namun aku kalah saat aroma jelaga yang menguasai diriku. 

Senyuman seorang perempuan dewasa menyelamatkan jiwaku, di saat aku tersandung jatuh di waktu berjalan maju, perempuan itu berlari terburu-buru ke arahku, mengulurkan tangan agar hatiku tidak menjadi tawar dan gemetar akan kejatuhanku. 

Ketidakpastian yang sempurna mengambil alih keyakinan hatiku. Ketandusan, penandusan, dan penindasan terperangkap di halaman kurikulum duniaku dengan waktu yang lama.

Kini, saat kesadaran bertamu di kepalaku. Saat aku sungguh ingin melepaskan diri dari aroma jelaga, aku harus mengumpulkan segala kekuatan. Kekuatan untuk memperbaiki diri atas kesalahan dan ketakutan yang menghantui.

Aku, tak ingin lagi terkapar di bawah rindangnya ketidakpastian yang sempurna. Tak mau lunglai langkah asaku di dalam teka-teki zaman yang payah dan merumitkan ini. Aku tak ingin membeku bersama ketakutanku, aku benar-benar ingin melepaskan diri dari aroma jelaga yang membelenggu hatiku.

Sungguh.

***
Rantauprapat, 19 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Keikhlasan yang Sudah Mati

@kulturtava
...
Lalu bersungut-sungutlah perempuan itu, karena pahit rasanya tersesat dalam hamparan mimpi. Dia kompromi untuk melakukan apa yang tidak benar. Seperti berada di tepi air yang penuh duka. Penuh kehangatan amarah.

Sejauh ini, perempuan itu tidak sekali-kali membebaskan diri dari rasa bersalah. Melakukan disabilitas nurani seperti keikhlasan yang sudah mati dalam dunianya. Gemetar dan menjadi sunyi sepi waktu yang dia jalani. Perempuan itu mengalami waktu kesusahan. Seperti menyeberangkan diri sendiri ke dalam gelap. 

Dia sering menawarkan diri pada macam-macam lagu yang menghadirkan kenangan pilu. Saat hari menjadi gelap, perempuan itu menyimpan banyak rahasia yang akan menabur dan menuai tangisan. Kesengsaraan timbul berkali-kali pada dirinya, dia masih suka mengabaikan hal itu. Keikhlasan yang sudah mati terhadap kesadaran hidup adalah bagian hidup perempuan itu. Seakan telah dimakan habis jerami kering nalar perempuan itu.

Ah, entah sampai berapa lama lagi perempuan itu seperti itu? 

Aku berharap, dia tidak akan lenyap seperti duri yang berjalin-jalin. Tidak akan terbabat dan mati binasa dalam keadaan yang sia-sia. Biarlah perempuan itu dan saujanya tidak lagi merancang kejahatan dan sesuatu yang dursila. Mampu meredam konflik yang timbul dari dalam semestanya. Hingga berani memutuskan belenggu-belenggu yang merayu dan menggoda hatinya lagi. Tidak lagi menjadi perusak untuk dirinya sendiri.

Ini harapan yang sungguh untuk perempuan itu.

***
Rantauprapat, 18 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 17 November 2020

Bagimu Perempuan yang Sendirian

Pinterest.com/laurabeth
...
Saat semesta yang kau terima menyatakan bahwa kesendirian adalah bagian dari perjalanan hidupmu. Walau kesendirian adalah ketidakpastian yang sempurna, kau sering dilahap air mata. Bersimpuh membeku dalam harapan yang kosong. Terlalu takut terhadap kesendirian.

Celakalah kau.
Jika di kesendirianmu, kau selalu meratapi keadaan diri. Terbelenggu oleh rasa ketakutan.  

Sering tiada lagi kejujuran pada sengkarut waktumu yang mendidih, kandungan isi hatimu menjelma pada keangkuhan yang menjulang. Sebab keadaanmu seperti pengumpulan buah-buahan musim kemarau.

Kau mengincar dan menangkap nada-nada dengan jaringmu yang sepatutnya nada itu tidak kau tangkap. Kau rela memulai kegemparan untuk duniamu, seperti tumbuhan duri yang paling rahasia. Tak menjaga pintu hatimu, di kesendirianmu kau mengandalkan kebahagiaan yang penuh dusta. 

Anehnya, sekalipun kau tahu dirimu telah jatuh dan layu oleh angin timur. Bahkan menjadikan dirimu sendiri saksi dari ratapan yang sulit dipulihkan, kau merasakan sukacita akan hal itu. Kau itu perempuan yang telah diinjak-injak kesendirian seperti lumpur di jalan. Menjadikanmu mengalami kemerosotan akhlak. 

Bagimu perempuan yang sendirian, sudahilah semua itu, kesendirian tidak harus ditangisi. Jangan biarkan dirimu cekatan berbuat jahat. Mau berapa lama lagi, kau duduk dalam gelap dan memikul kemarahan. Membuat telingamu menjadi tuli dari suara yang  benar. Melemparkan pandangan matamu pada kisah malam yang kaku ke dalam tubir-tubir laut. Mau sampai kapan, kau berjalan dalam puting beliung dan badai.

Kau tak harus malu dan menutupi dirimu karena kesendirian. Kiranya, kau kembali menyayangi dirimu sendiri. Dan akan datang suatu hari untuk itu. Berharap, kau tak lagi terjerat pada cerita yang malang. Padamu perempuan yang sendirian, biarlah kau membuka pintu mulutmu terhadap hal-hal pun perkara yang bisa menjerat hatimu pada waktu kebodohan yang ingin berbaring dipangkuanmu! Sehingga kau tidak lagi merana dan layu sebab kesendirian yang kau alami.

Biarkan hatimu berdansa dengan keikhlasan dan penerimaan akan realita hidup.

***
Rantauprapat, 17 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 16 November 2020

Ingatan Memadu Rindu

@kulturtava
...
Aku banyak menyimpan kenangan, kenangan yang akan mencipta rindu

Bicara tentang rindu, aku bicara tentang kualitas perasaanku untukmu

Kala kita berjauhan, dan kebersamaan tak menjadi teman kita. Langit hatiku akan ditumbuhi jejak-jejak rindu terhadapmu

Aku pun akan menulis puisi tentangmu, menjumpai ingatan yang akan memadu rindu ke arahmu, yang akan buatku memamerkan senyum di wajahku

Ingatan memadu rindu, adalah keharusan yang kumiliki akan rasa cintaku pada rasa cintamu

Ketika angin kerinduan meniupkan rasanya dalam hatiku, aku menemukan kebahagiaan di relung hatiku. Aku masih bisa bercumbu dengan rasa rindu itu

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 15 November 2020

Mematahkan Ketakutan

@kulturtava
...
Dia pernah menari-nari bahagia sebab mendapatkan cahaya cinta. Menyemai janji untuk menjadi satu dan saling melengkapi.

Berapa tahun berlalu, banyak pertanyaan menyeruak di kepalanya. Mempertanyakan, apakah ini pilihan yang tepat untuk masa depan?

Keraguan yang ada di hati terlanjur mengendalikan, dia memutuskan menyudahi kisah cinta itu. Akhirnya, janji itu lepas dari hati. 

Dan kini, dia tidak lagi pernah mendapatkan cahaya cinta. Di hidupnya, terlalu banyak terdapat keraguan. Dia, perempuan rapuh yang sungguh dicekam ketakutan. Benar-benar salah membaca tentang cinta yang pernah didapatkan.

Pernah terbersit dalam dirinya, andai dia bisa kembali ke masa silam, dia hanya ingin menjadi perempuan yang mematahkan ketakutan. Meruntuhkan tembok keraguan yang ada di hati. 

Sungguh, dia menyadari bahwa itu andai yang tak mungkin. Menyadari bahwa hal itu bukan lagi untuk disesali. 

Walau romantisme cinta sudah beralih dari poros waktu yang dilalui. Sebagai perempuan yang pernah kehilangan, dia tidak ingin berhenti bernafas tanpa penerimaan diri.

Sepahit apa pun kenyataan hidup, penerimaan dirilah yang harus tetap dimiliki.

Meski dia ada pada tahap kesendirian sekarang ini, dia tidak ingin mempersulit hati dengan mengeluhkan keadaan hidupnya. Dia akan mematahkan ketakutan terhadap stigma negatif perihal kesendirian.

Kesendirian tetaplah kesendirian, bukan berarti tak ada bunga-bunga kebahagiaan yang akan bermekaran di hidupnya. Dan yang pasti, walau kesendirian ada padanya, dia tidak akan pernah malu dalam menjalani hidup.

***
Rantau Prapat, 14 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senada dengan Kamu

@kulturtava
...
Kamu yang kupilih sebagai kekasihku. Kamu yang telah menumbuhkan bunga-bunga cinta dalam taman hatiku. Dan kamu adalah seseorang yang kudoakan dalam hidup untuk menjadi kekasihku yang seutuhnya.

Aku ingin selalu senada dengan kamu, senada perihal kisah asmara kita. Tentang keinginan kita yang akan berakhir pada satu warna, yakni muara cinta yang sama. 

Kamu adalah kekasihku, dan mencintaimu adalah hal yang membuat semestaku menjadi lebih indah. Ya, kamu telah mewarnai semestaku dengan kebaikan dan kesungguhan hatimu. 

Senada dengan kamu, buat rasa bahagia akan tercipta di duniaku. Keyakinanku akan cintamu adalah keputusan hatiku. Biarlah cintaku berteduh di bawah cintamu.

Kamu adalah impian masa depanku.

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Tuhan, Aku, dan Hujan Air Mata Ibuku

Ilustrasi : jnanacrafts.com
...
Atas izin Tuhan, beberapa puluh tahun lalu aku ada dalam rahim seorang perempuan. Dan saat perempuan itu tahu ada tujuan mulia yang sedang diterima olehnya, perempuan itu berkomitmen dengan sungguh-sungguh, untuk memberi nutrisi yang benar.

Dan atas izin-Nya pula, perempuan itu melahirkan aku di bumi tercinta Indonesia. Mulai hari itu, Tuhan titipkan aku di sana, di penjagaan seorang perempuan yang kusebut ibuku. Aku tak akan memahami apa-apa, jika tanpa ketulusan dan pemberian yang ibuku berikan. Mulai dari ASI yang kunikmati dan kasih sayang di 1000 hari periode kehidupan emas pertamaku. Ibu adalah sekolah pertamaku dalam menjalani bingkai-bingkai perjalanan hidup.

Beberapa puluh tahun lalu, aku bayi perempuan yang diberkati memiliki seorang ibu seperti ibuku. Mengajariku bicara, hingga bisa memanggilnya ibu. Melatih kaki kecilku melangkah, hingga kaki kecilku sering melukai kesabarannya.

Denyut waktu telah berpuluh tahun berlalu, aku bukan bayi kecil ibuku lagi. Kini, aku telah tumbuh dewasa. Aku dan ibuku, sama-sama menjadi perempuan dewasa.

Namun tetap ada yang berbeda antara aku dan ibuku. Walau aku sudah menjadi perempuan dewasa, aku sering membiarkan diriku membuat gores luka dan amarah merajalela untuk hati ibuku. Hingga hujan air mata ibuku berkali-kali tumpah karena dosa yang merayu diriku. Melupakan perjuangannya yang asuhku mulai dari aku masih menjadi bayi rapuh yang belum bisa melakukan apa-apa.

Tapi, dia tetaplah dia. Seorang ibu yang meneduhkan hati untuk anak perempuannya. Kelancanganku tak lahirkan satupun amarah darinya, yang akan membuat nasibku malang. Dia ibuku yang memiliki penerimaan besar, tidak ada disabilitas nurani darinya. Tuhan tahu, ibu tak pernah menendangku dari perhiasan hatinya. 

Hingga, pada suatu malam di bulan ketiga di tahun 2019, aku mengalami sesuatu yang buruk. Aku takut tak bisa melewati hari itu, namun ibu melahirkan keyakinan hati untuk diriku. Ibu menjatuhkan banyak hujan air mata saat itu, mohon kasih karunia Tuhan memberiku kesempatan hidup. Ibu, berperan penting saat itu. Ibu pahlawanku. Dan akhirnya aku berhasil melewati malam itu. Aku pun hidup lebih lama, hidup ini hingga saat ini.

Ibuku adalah prasasti, tempatku menerima segala pelajaran hidup yang bermakna. Aku perempuan dewasa yang payah yang harus terus bertumbuh dan belajar dari cara ibuku berjuang dalam hidup.

Dan hingga kini, saat ketidakadilan hidup sedang bercumbu dengan aku dan ibu, ibu tetap tangguh sebagai perempuan. Tidak pernah layu apa lagi mengaduk ketakutan dalam hidupnya. Hidup memang penuh teka-teki dan keras, namun di pangkuan ibu ada damai sejahtera yang terasa. 

Tuhan, aku tahu aku berada di zaman yang sungguh begitu keras. Namun aku bisa menikmati bahagia bersama ibuku, karena ibuku adalah zaman yang sungguh bisa buatku terbaring dengan lelap disertai kepala penerimaan diri. Aku bisa bernapas lega melalui sosok ibuku. Tak terbantahkan lagi, aku mengagumi ibuk tanpa negosiasi. 

Ibuku adalah jendelaku. Dan darimu,  aku bisa melihat dunia yang bernama kehidupan. Tuhan, terima kasih buat setiap kebaikan yang ibuku berikan. Hujan air mata yang pernah jatuh dari bola mata ibuku akan menjadi pelajaran hidup untukku. 

Mencintai ibu adalah pelajaran yang harus kumiliki dan kulakukan selama aku hidup. Aku benar-benar berharap mampu menjadi perempuan yang tangguh seperti ibuku. Perempuan yang menjadi sekolah pertama untuk anakku kelak. Semoga Tuhan memberiku kesempatan itu. 

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 14 November 2020

Perempuan Itu Saksi terhadap Dirinya Sendiri

@kulturtava
...
Malam ini, perempuan itu ingin berjalan dengan tenteram. Sebab itu, dia membiarkan dirinya dilukai oleh seseorang perempuan yang tidak menyukai puisi. Dia bertindak dalam kemegahan kata penerimaan diri. 

Dan dia menjadi damai sejahtera. Perempuan itu saksi terhadap dirinya sendiri. Melepaskan diri dari dosa amarah yang merayunya lagi. Masuk ke daerah yang tidak lagi mengharap-harapkan perbuatan semu. Karena perempuan itu tidak mau kembali seperti singa di antara binatang-binatang hutan yang berjalan angkuh dengan menerkam sesuatu yang tidak seharusnya.

Perempuan itu berhasil membinasakan rayuan yang mengoda hatinya untuk mendapatkan ratapan. Dia mau mendengarkan suara hati yang bersuara padanya, hingga tidak membalas luka yang diterimanya dengan murka dan kehangatan amarah.

Ada sesuatu seperti embun dan seperti dirus hujan yang turun ke atas tumbuh-tumbuhan dalam nalar pun hatinya. Perempuan itu tidak mau kembali terangkum oleh arus air kehambaran, dia telah berperkara dengan keyakinan yang dia miliki. Dia berusaha untuk mempersembahkan warna yang seharusnya dalam sisa-sisa denyut waktu yang masih ada dalam hidupnya. 

Ingin mencintai apa yang sepatutnya dicintai. Ya, perempuan itu menjadi saksi terhadap dirinya sendiri. Dia menyaksikan dirinya mampu untuk tidak melakukan pelanggaran, dengan tidak mencicipi dosa yang merayu. 

Malam ini, perempuan itu dapat menyelamatkan kesehatan jiwanya dan tidak menanggung pencelaan karena takaran tipu yang menghampiri kepala malamnya. Semoga di malam-malam selanjutnya, perempuan itu mampu menjadi saksi yang benar terhadap dirinya sendiri. 

***
Rantauprapat, 14 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 12 November 2020

Dosa Itu Merayu Lagi

@kulturtava
...
Pernah dilacurkan berahi yang bergairah. Mencicipi bahkan mencumbunya dengan dahsyat. Membiarkan diri basah oleh hujan, hingga layu oleh angin timur. Ternoda sebab tak menerima kenyataan hidup. Menjadi jalang pada malam yang malang. Menenggelamkan diri dalam pusaran hasrat. Rapat terkunci bersama dusta.

Hingga pada hari itu di bulan November pada hari Kamis pertama, kesadaran membuka nalarmu. Cahaya terbit dari suara yang menjatuhkan gemanya untukmu, dan kamu menerima cahaya itu. Pada hari itu, kamu tidak lagi ingin mencelakakan dirimu sendiri terhadap kebinasaan. Kamu tidak membiarkan lagi disergap kesakitan seperti perempuan yang melahirkan.

Kamu tidak mau tertuduh lagi, kini mau kembali kepada pilihan yang seharusnya kamu pilih sejak lama. Kamu pun sudah dilepaskan dari pemandangan yang menarik mata,  karena kamu memilih itu. Kamu pun mengiring nada yang indah ke dalam cermin hidupmu.

Dan waktu terus berjalan, hasrat yang salah terus mengoda dan menebar wanginya. Dosa itu merayu lagi untuk dicicipi. Menyapa, meraih dan mengajak kamu untuk merenda dunia tanpa ragu. Dosa itu siap untuk kamu ramu, bagaimana pun dosa itu menawan hati.

Namun akhirnya, kamu sudah mampu meraih sesuatu yang benar. Tak lagi mau menjadi pelaku sebuah kedzoliman. Untuk apa dengan sengaja menciptakan ruang yang akan diisi airmata ratapan. Dan selagi masih ada kesempatan, kamu berusaha untuk melanjutkan hidupmu dengan memiliki rasa yang selayaknya. Agar harimu tidak menjadi hitam suram dan tidak menjadi hari tanpa penglihatan.

Ah, kamu sungguh tak ingin lagi mengupas kulit dari tubuhmu, saat dosa itu merayu lagi. Matamu tak akan lagi redup, dengan membiarkan dosa membeli waktumu. Dan kamu berharap mampu hadapi realita hidup untuk tidak lagi bergelayut manja pada hasrat yang keliru. Kamu tahu, semua adalah tentang kesempatan. Ingin dijalani dengan selayaknya atau ingin dihancurkanluluhkan.

Satu hal yang pasti, saat kematian itu tiba, kamu tidak ingin merasakan ratapan yang tidak bisa terpulihkan.

***
Rantauprapat, 13 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu

Rabu, 11 November 2020

Berjalan dengan Tenteram

@kulturtava
...
Sungguh, dalam semesta yang perempuan itu miliki, perempuan itu sering berjalan angkuh. Menginginkan ladang-ladang kedurjanaan untuk menjadi bagian dalam dirinya. Merancang malepetaka yang bisa dia nikmati. Dan hal itu adalah waktu yang mencelakakan baginya. 

Bagaimana pun, perempuan itu sadar telah dihancurkanluluhkan kehampaan. Kelayuan sudah menawan hatinya. Noda susah menimpa dirinya. Dia sering mereka-reka yang hampa dan kosong. Ratapan pun menjadi kepala barisan dalam perjalanannya. Dunia perempuan itu menjadi bukit yang berhutan.

Dan risalah perempuan itu berubah, pada hari itu saat tengah malam ada suara yang memperdengarkan suaranya dengan jelas. Ini waktu perhentian baginya. Dengan sungguh-sungguh perempuan itu ingin berbalik dari kenajisan yang sudah dia lakukan. Dia tidak ingin menerima dan mengalami kebinasaan yang tidak terpulihkan. 

Dengan sungguh-sungguh pula perempuan itu akan menghimpunkan sisa waktu yang masih dia miliki untuk manabur sesuatu yang benar kelakuannya. Hingga dia bisa kembali berjalan dengan tenteram. 

Tak ingin lagi perempuan itu mencintai kejahatan. Benar, dia pernah bahkan seringkali menyesatkan hatinya sendiri. Terbenam oleh kesuraman hidup. Tidak menerima kenyataan bahwa hidup penuh ketidakadilan.

Untuk menyembunyikan ketidakpenerimaan perempuan itu, dia merelakan diri mencicipi bahkan mengunyah dosa. Pada waktu senggang yang dia lalui, sering dirinya membengkokkan yang lurus. Ah, banyak kepayahan dan kelaliman yang perempuan itu timbun. 

Dan sudah selayaknya perempuan itu mengetahui keharusan yang benar. Menerima dengan sadar dan seutuhnya, suara yang dia dengarkan pada hari itu. Dan tidak akan datang malepetaka menimpa dia, tidak dibajak seperti ladang. Perempuan itu sungguh ingin berbenah, dan benar-benar berharap mampu menjadi perempuan yang tidak lagi payah di sisa waktu di perjalanan hidup yang masih dia miliki.

Dan saat kebahagiaan dan keadilan hidup menyembunyikan wajahnya terhadap perempuan itu, biarlah perempuan itu tidak menyayangi lagi waktu kebodohan. Dan tidak lagi terangkum oleh arus air kedegilan, dan penerimaan hidup bukan suatu hal yang menjadi kesenjangan bagi perempuan itu.

Namun perempuan itu tetap mampu berjalan dengan tenteram. 


***
Rantauprapat, 12 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 10 November 2020

Nama yang Tak Pernah Layu

@kulturtava
...
Ada nama yang tak pernah layu dari hatiku, terpatri dengan begitu indah. Doa dari si pemilik nama yang terpatri hatiku selalu memeluk erat-erat jiwaku. Ada bahagia yang berasal dari nama itu.

Terkadang, aku sering keliru. Sering aku menjauh dan tak memahami pemilik nama itu. Di dalam semestaku, aku sering mencengkram pemilik nama itu dengan rasa bersalah. Karena kehampaan, aku sering membiarkan diriku mengabaikan nurani terhadap pribadi yang memiliki nama itu. 

Sikapku yang sering keliru, tidak membuat pemilik nama yang terpatri dalam hatiku mengabaikanku. Aku ingat bagaimana cara pemilik nama itu memberiku kesadaran saat diriku terperangkap dalam halaman buku keraguan yang berarus ke arah ketakutan.

Aku benar-benar merasa diterima bersama nama itu di hidupku, dan pemilik nama itu adalah ayah dan ibuku. Ayah dan ibu yang berusaha menawarkan diri untuk menggenggam erat tanganku. Ayah dan ibu yang selalu menjadi pahlawan di sepanjang perjalanan hidupku.

Dan sudah seharusnya, aku selalu jatuh cinta dan mencintai pemilik nama itu. Karena mencintai pemilik nama itu adalah kewajiban bagiku. Pemilik nama itu adalah ciptaan Tuhan yang pertama kali ada di dalam semestaku. 

***
Rantauprapat, 10 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 09 November 2020

Kita Tersusun dari Dua Kata

@kulturtava
...
Aku utara, kau selatan. Dan kita adalah dua orang asing sebelumnya, yang tak saling mengenal dan mempedulikan

Kemudian, dalam proses kehidupan, kita yang merupakan dua orang asing saling bertemu. Lalu di perputaran waktu, kita sepakat saling bertukar kisah dan berbagi cerita. Kita sama-sama mengaduk musim hidup dengan sentuhan cinta 

Kita menikmati hidup dalam rasa bahagia, karena kita ibarat dua sisi kehidupan yang dilahirkan untuk saling melengkapi

Kita tersusun dari dua kata, kita itu ciptaan Tuhan yang saling mencintai. Biarlah rasa cinta yang bergelora dalam hati kita, tumbuh dengan subur

Dan ketika lautan cinta kita diterpa prahara, yang harus kita lakukan adalah miliki hati yang peduli dan saling mengisi. Hingga cahaya cinta kita, akan mampu menerangi lautan cinta yang telah terpilih dalam hati

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Terangkum oleh Arus Air

@kulturtava
...
Sering melemparkan diri ke tempat yang dalam, segala gelora kebodohan mengepung perempuan itu. Terusir dari kedalaman yang masuk akal. Pikiran binal yang melingkupi diri. Jiwa perempuan itu pun letih lesu karena sudah menikmati kesia-siaan.

Perempuan itu, telah terangkum oleh arus air kedegilan. Waktu senggang yang dia miliki dinodai dengan warna-warna yang tak wajar. Lumut lautan membelit kesadaran hatinya. Berada di hamparan pahit, dia memberi basah tubuhnya dengan rasa nyeri yang berduyun-duyun.

Nalar yang dimiliki perempuan itu terkadang mengalami jeda dari kebenaran, mengalami kebekuan. Pernah menjadi saksi sebuah kedzoliman, dia pun tersesat di dalam hal itu. Dengan sadar kembali menjadi pelaku sebuah kedzoliman. Dia disesaki oleh airmata yang berjatuhan dengan segala rasanya. 

Perempuan itu sering merelakan diri menikmati nyaman nan semu bersama waktu yang dititipi rahasia. Mengikat erat jiwanya dengan kehampaan. Entah kenapa, perempuan itu adalah bagian dari diriku. Aku juga terluka dan terdampar dalam kehampaan.

Aku sering terluka sebab perempuan itu. Dia yang terpeleset dan aku yang tergelincir, terkadang aku merasa malang diri, kenapa perempuan itu menjadi bagian dari hidupku. Entah sudah berapa banyak luka yang merintih-rintih kupunguti sebab perlakuan perempuan itu.

Bukan hanya perempuan itu yang terangkum oleh arus air kedegilan, aku pun secara tidak langsung telah terangkum oleh arus air, arus air hujan yang berujung badai.

Dan kini, aku pun sudah didekap ketakutan. Kerumunan nestapa sering terjadi padaku karena perempuan itu.

***
Rantauprapat, 09 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 08 November 2020

Hadirmu Mampu Menenangkan

@kulturtava
...
Bersediakah kau hadir, saat aku tersesat dalam persimpangan kerumitan. Saat aku dirundung kecemburuan, karena ketidakadilan hidup, bersediakah kau membawa hatiku pada ketenangan. Aku yakin, hadirmu mampu menenangkan jiwaku

Aku berharap, aku bisa hidup bersama kebaikan hatimu. Di bawah sinar cintamu, aku akan berteduh dengan nyaman. Bicara tentang dirimu, bicara tentang ciptaan Tuhan yang telah melengkapi setiap sel demi sel tubuhku

Wahai kekasihku. Bunga-bunga cinta yang tumbuh di hatiku karena hadirmu, itu membuat hatiku ingin menyusun rencana demi rencana perihal kisah asmara kita yang akan berwarna 

Aku berharap dan berdoa, agar cinta kita akan terus seirama dalam cahaya cinta yang Tuhan telah berikan untuk kita. Dan aku ingin beranda masa depanku adalah bersamamu

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 07 November 2020

Menari di Awan-awan

@kulturtava
...
Tak juga kutemukan rasa bahagia, bila dia tak merasa bahagia 

Dia milikku, dan yang menjadi harapanku adalah mewujudkan harapannya

Aku ingin dia menebar senyumannya dan menari di awan-awan kebahagiaan. Jika dia sudah seperti itu, rasa bahagia juga sudah tertuju ke arahku

Dia yang kubutuhkan untuk ada di sisiku. Bersama harapan yang kumiliki, aku berharap damai sejahtera selalu membungkus hatinya. Sebab dia adalah salah satu sukacitaku

Aku hanya ingin membahagiakan dia. Padahal sesungguhnya, dialah yang telah memberiku banyak kebahagiaan

Sebenarnya, aku dan dia adalah dua paragraf yang terdapat dalam satu halaman buku dan saling terikat

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Risalah dan Spektrum dengan Segala Rasanya

@kulturtava
...
Entah sampai kapan, hari demi hari yang rumit aku alami, sebab seorang perempuan dewasa yang payah merumitkan dirinya sendiri. Belakangan, risalah yang diciptakan perempuan itu, buat musim demi musim keadaan hidupku beriringgan dengan pikiran-pikiran yang kacau. 

Aku terjebak di antara kebenaran yang harus terungkap atau melakukan kompromi untuk kebaikan perempuan yang payah itu. Bukan, bukan, bukan demi kebaikan tapi demi memperlambat kebenarannya terungkap.

Perempuan itu yang merusak kepercayaan dengan menikmati waktu bersama kebodohan, tetapi aku yang dilempari ketakutan. Spektrum dengan segala rasanya, dan yang tak terkatakan olehku, menjadikanku berantakan. Mendekat ke arah sepi. Sesungguhnya, rasa sakit dan kepatahan hati yang kurasa.

Perempuan itu sudah kehabisan energi baik dalam diri. Seakan lupa diri dan tak tahu malu. Membatu dari ruang hidup yang seharusnya. Dan risalah perempuan itu sangat mempengaruhiku. Entah, perempuan itu akan menemukan kesadaran atau tidak. Sebenarnya aku ingin menyatakan kata-kata yang tidak pantas untuknya, namun aku tetap tidak bisa melakukan itu. 

Sekarang ini, aku tidak baik-baik saja karena perempuan itu. Aku begitu gelisah dan berduka. Perempuan itu telah mengingkari suara hati yang harus dia miliki, dia menabur badai, aku yang menuai kesalahannya kini. Perempuan itu juga pasti akan menuai badai yang dia ciptakan, di waktu yang entah kapan. 

Ah, kurasa aku mulai menjadi perempuan yang payah pula karena perempuan itu. Aku terkubur kabut, dan ini menjadi kisahku dengannya. Kebahagiaanku tak lagi paripurna. Keping-keping sepi nan layu berhadapan dengan spektrum pun lingkaran nyata duniaku. 

Sungguh dan sebenar-benarnya, aku berharap perempuan itu tidak selalu menjadi seseorang yang terasing dari kebenaran hidup. Semoga perempuan itu secepatnya kembali mekar oleh angin kesadaran. 

***
Rantauprapat, 07 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 06 November 2020

Kita Tidak Baik-baik Saja

@kulturtava
...
Hari ini, kita tidak baik-baik saja.
Tidak

Dan tidak tahu sampai kapan, kita akan seperti ini. Ya, situasi yang tidak baik-baik saja

Kepercayaanku terhadapmu, sudah pudar. Perihal janji-janji hati dalam komitmen cinta kita, aku sudah tidak lagi senada denganmu

Kau pandai menyembunyikan diri dari kebenaran. Lama sudah, kau menyimpan hati yang lain di dalam hatimu, ternyata cinta yang ada di hatimu, bukan hanya milikku

Aku sudah memilih untuk jatuh cinta padamu, aku juga sudah memilih menjalin komitmen denganmu, aku sudah berjanji untuk setia 

Aku sungguh ingin lari dan meninggalkanmu, tapi aku tak bisa melanggar janji yang sudah kubuat di hadapan Tuhan

Aku akan bertahan dan memberikan kesempatan padamu. Aku berharap kau mengerti, bahwa penting menghargai sebuah komitmen dan kau akan berbalik pada arah yang benar

Kau harus tahu,
Kita tidak boleh membiarkan komitmen cinta yang telah terjalin, menguap begitu saja


Karena itu,
Aku berharap, suatu hari kita akan kembali baik-baik saja

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Kisah tentang Aku dan Si Pria Timur

@kulturtava
 ...
Ini kisah tentang aku dan si pria timur. Pria timur yang kukenal ini telah meninggalkan kesan baik buat hatiku. Keberadaannya adalah kisah unik di dalam semestaku.

Darinya mengalir pemahaman dan semangat baru untukku. Begitu indah dan bahagia terasa di pelepah waktuku hingga senyum lebar menghiasi wajahku. 

Ada kekaguman dalam diriku terhadap si pria timur ini. Dirinya pembawa aura positif pada sepi di malamku beberapa waktu yang lalu. Ada tinta keyakinan yang dia sampaikan, bahwa aku dan aksaraku memiliki nilai tersendiri. Dan buat degub jantungku bergetar. 

Ada damai di hati, saat mengetahui keyakinan hatinya terhadap diriku. Seketika, ada nyanyian sukacita dalam diriku. Ah, kisahku dengan si pria timur akan menjadi kenangan yang baik pastinya.

Kuyakin, si pria timur adalah salah satu bentuk keindahan yang boleh kusaksikan. Dirinya itu memiliki nilai artistik yang memikat. Setidaknya hal itu kupahami saat aku mendapatkan kesadaran hati darinya. Dan aku perempuan Sumatera yang bersyukur bisa bercengkrama dengan si pria timur ini.

***
Rantauprapat, 06 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 05 November 2020

Perempuan Itu dan Kamis Pertama di Bulan November

@kulturtava
...
Lagi-lagi perempuan itu harus kehilangan demi kebahagiaan seseorang yang dia kasihi. Sebelum ini, untaian air mata sudah berkali-kali jatuh karena seseorang yang dia kasihi itu. Dia menyadari bahwa puncak dari penerimaan adalah pemberian.

Dan hari ini, Kamis pertama di bulan November akan kembali perempuan itu ingat sebagai hari kehilangan. Sesungguhnya, dia rela kehilangan demi kebahagiaan seseorang yang berarti di dalam hidupnya. Perempuan itu lebih memilih merasakan kepedihan, agar mampu menghapus jelaga kesedihan di mata seseorang yang ada di muatan hatinya. 

Tak ada kisah sedu terhadap kehilangan perempuan itu, yang terjadi adalah dia berusaha untuk menata hati dan pikirannya untuk berada di titik yang tepat. 

Bagi perempuan itu, seseorang itu lebih berarti dari kekasih yang dia miliki. Dia hanya berharap, seseorang yang dia kasihi itu akan melewati masa huru-hara yang diciptakannya sendiri. Tidak lagi mencumbui waktu kebodohannya dengan hal-hal yang unfaedah.

Karena sebenarnya, terkadang perempuan itu harus menahan diri untuk tidak mengalami kisah sendu atas sikap seseorang yang dia kasihi itu. Kekecewaan pun sering menyergap hatinya. Namun, perempuan itu tidak ingin merumitkan kehidupan dengan diam terhadap yang terjadi. Perempuan itu memilih kehilangan dan itu salah satu caranya menyatakan cinta yang dia punya.

Angin November di Kamis pertama mengajarkan perempuan itu tentang kerelaan. Lebih baik dia kehilangan dari pada seseorang yang dicintainya merasakan kegelisahan di halaman-halaman buku hidup yang dijalani.

Ah, kisah perempuan itu memberikan arti dan makna yang baik buatku. Aku mengenal perempuan dan seseorang yang dia kasihi itu. Aku benar-benar berharap, setelah ini, hari-hari dan sejarah hidup perempuan itu akan kembali memiliki hal yang menyenangkan dan berbalik dari kehilangannya.

Aku juga seorang perempuan dan aku mendoakan yang terbaik untuk perempuan itu.

***
Rantauprapat, 05 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 04 November 2020

Akhirnya Aku Menyerah Juga

unsplash.com
...
Hatiku pernah memberimu kesempatan, saat aku menyadari bahwa aku bukan satu-satunya di hatimu. Keindahan cintamu tak lagi utuh untuk jiwaku

Atas nama cinta, aku membiarkan diriku menahan luka yang kau berikan. Ternyata kesadaran hati bukan menjadi sifat hatimu, karena lapisan hatimu telah tertutup untuk berubah ke arah yang benar

Aku tak pernah membayangka, kau akan melukai hatiku lagi dengan cara yang sama. Aku menyesal pernah memberimu kesempatan. Ya, akhirnya aku menyerah juga untuk bersamamu

Aku tak akan menggapaimu lagi, aku telah lelah. Aku tak mampu lagi bertahan. Biarlah kau berpisah dari duniaku, sebab kau tak layak lagi berada di hatiku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Suatu Malam bersama Perempuan Itu

@kulturtava
...
Suatu malam bersama perempuan itu, tepatnya hari Rabu di minggu pertama bulan kesebelas, aku mendapati diriku kehilangan ketenangan sebab perlakuan perempuan itu. Tidak ada cinta malam ini, saujana yang terlihat beraroma hasrat yang keliru. Renjanaku seakan kosong terhadap perempuan itu.

Aku tak bisa menutupi wajah ketidaksenanganku, aku benar-benar merasa marah terhadap perempuan itu. Perempuan itu pernah menjadi seseorang yang kubanggakan, namun perlakuannya hari ini membuat isi kepalaku terikat pada sampah yang tak mudah kusingkirkan. 

Perempuan itu mengkhianati keyakinan diriku terhadap dirinya. Membasahi sanubariku dengan udara yang penuh debu. Tanpa ragu-ragu kelayuan menumbuhkan tunasnya di pelepah semestaku. Kini, ada jarak yang melebar antara aku dan perempuan itu. Kasih sayang yang pernah ada seakan lesap dari hatiku.

Aku jatuh pada derai air mata yang sulit kutahan. Paru-paruku sulit dihidupkan pada kata bahagia karena perempuan itu. Energiku digulung kehampaan.

Namun, aku berharap, di suatu malam berikutnya yang entah kapan, aku akan berproses untuk dapat menghanguskan keraguanku terhadap perempuan itu. Dan akan ada penerimaan utuh terhadap dirinya di tungku waktu yang kumiliki.

***
Rantauprapat, 04 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 03 November 2020

Duduk di Kegelapan

@kulturtava
...
Ucap dan pemandangan mata yang kau berikan mengusik helai demi helai kekuatan hatiku. Pelepah malamku tak lagi indah. Buatku duduk di kegelapan. Ruang duka yang menjadi temanku. Terdampar di titik sunyi. 

Dengan hati yang terluka, aku merengkuh pilu. Aku tak mengerti, kenapa kubiarkan dirimu mengambil peran terhadap perasaanku. 

Kutahu, malam ini aku kembali duduk di kegelapan karena perlakuanmu, bahkan aku terusir dari kedamaian hati. Kau menjadi tokoh antagonis yang menyulut api di hatiku. Seakan malam ini lambat berlalu. 

Namun, aku ingin melupa akan luka yang kau beri malam ini, benar-benar melupa. Jika tidak demikian, aku akan membawa kekosongan dan kehampaan saat bersamamu. Terhadapmu, aku tak ingin layu dan menjadi pohon anggur yang tak riap tumbuhnya. Kuharap, relasiku denganmu akan tetap baik. Dan bunga-bunga penerimaan untukmu akan kembali bermekaran.

Bagaimanapun, kau seseorang yang ada di muatan hatiku. Dan luka yang kau beri tak lebih besar dari rasa cinta yang kurasakan terhadap dirimu. Atas nama cinta yang kumiliki, aku akan berusaha untuk baik-baik saja, walaupun ada luka yang tercipta darimu.

***
Rantauprapat, 03 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 02 November 2020

Obat Terbaik adalah Waktu

@kulturtava
...

Dulu tetaplah dulu. Pernah sama-sama saling menginginkan. Tertuju pada perbincangan yang diharapkan. Perbincangan mengenai kita dan cinta. 

Cinta adalah satu kata yang indah, namun untuk menggapai cinta itu butuh perjuangan yang besar. Dan kita adalah kekalahan tentang itu. Dahan ranting romansa pohon cinta kita terlalu rapuh. Ada cacat dalam keyakinan kita, terlalu sering terjebak keangkuhan diri.

Kita melenakan diri pada keegoisan. Menyeret diri kita pada perpisahan, dan itu pun dengan paksa. Terkuras pada waktu kebodohan. Kita keliru, benar-benar keliru. Menyia-nyiakan cinta yang sudah terjalin hanya untuk cinta yang masih menjadi ketidakpastian yang sempurna. Kita terhempas karena memberi ruang pada cinta yang lain. Terlalu ragu untuk berbalik arah. Terdampar dalam susunan konsonan ketidakpercayaan. Padahal sesungguhnya, kita masih memiliki gelora gairah yang senada untuk romansa pohon cinta kita.

Kini, hanya waktu yang akan menjadi obat terbaik. Melupa dan mengikhlaskan, kita yang kemarin hanya bisa menjadi kenangan. Sungguh, tak ada yang perlu disesalkan. Karena perpisahan adalah pilihan kita. 

Ya, obat terbaik adalah waktu. Waktu yang harus dilalui bersama kesadaran hati. Hingga penerimaan tidak lagi menjadi keterasingan yang teramat jauh. Dan, dulu tetaplah dulu. Seperti kita yang dulu, yang tak akan bisa menjadi nyata. Hati dan logika kita tidak bisa bermusyawarah dengan baik.

***
Rantauprapat, 01 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 01 November 2020

Tanpa Air Mata Ratapan

@kulturtava
...

Ini tentang cinta, jarak, dan penghabisan. Terperangkap dalam hamparan mimpi, aku seperti jerami yang diterbangkan badai. Sudah layu oleh angin Timur. Aku mengingkari suara hatiku, hanya demi seseorang yang membuatku nyaman. 

Pernah aku jatuh terjerembab dalam romansa pohon cinta bersama seseorang. Cukup lama aku terbuai. Perlahan namun pasti, aku kedatangan aroma petrikor yang tidak biasa tentang dirinya. Aroma kebenaran yang menyakitkan, kebenaran yang menuruni kesadaran diri. Seseorang itu sudah dipastikan adalah cinta orang lain.

Bodohnya, aku sudah jatuh cinta pada kebohongan. Jatuh cinta pada cinta orang lain. Aku merintih dan duduk di kegelapan. Kini, aku hanya bisa mempercayai bahwa semua kata-kata yang terucap dari pria itu menjadi kata-kata yang tak bermakna. Seperti mimpi buruk yang harus kusudahi, kali ini tanpa airmata ratapan.

Aku lebih memilih sendiri dari pada bersama cinta orang lain. Tak lagi menutup diri dari jejak kebenaran, apa lagi melelehkan diri pada saujana semu yang berakhir redup. Aku berhenti menikmati romantisme dan tidak menjadi perundung pada hatiku dan hati orang lain.

Terhadap kisahku yang seperti mimpi buruk, aku berharap aku akan melupa tentang itu. Benar-benar melupa bukan hanya sengaja melupa.

Aku tak akan pernah lupa rasanya disakiti, aku pun tak akan memberi rasa sakit pada hati yang belum pernah kutahu pemiliknya dengan sengaja. Karena sepertinya ini adalah rasa cinta yang sebenarnya sama sekali tidak ada cinta yang dirasakan.

***
Rantauprapat, 01 November 2020
Lusy Mariana Pasaribu