Ada apa dengan malam ini? Terlalu hebat perempuan itu berkata, sudah ku jual-jualanmu! Seolah uang itu adalah untuk pribadi. Merasa lucu, lucu yang aneh. Perempuan itu berkata terlalu enak dan marah, karena suaminya direndahkan. Hello, suami seperti apa yang harusnya dibanggakan dia.
Nggak pernah mau dan tak pernah ingin dia kembali. Belum genap dua belas bulan dia kembali, terlalu banyak keributan, ego yang terlalu tinggi dan merasa dibutuhkan. Kenapa harus semua yang seperti ini? menuai, menuai dan menuai namun tidak pernah menabur, semua yang buruk dan menuai semua akibat itu. Ingin marah ingin mengumpat, perempuan itu tadi berkata , apakah semua harus mengerti, sepertinya tidak pernah ada yang mengerti karena tidak pernah ada di posisi yang seperti ini.
Punya kaki tapi tidak bisa digunakan punya tangan tapi tak bisa digunakan. Sekolah tinggi nan jauh tapi hanya jadi pajangan ijazah itu. Andai bisa melangkah, berdiri dan berjalan sudah lama memang tidak pernah ada lagi, hanya duduk tenang diatas kasur yang sungguh tidak membuat nyaman.
Perempuan itu hanya memikirkan perasaan suami, memuakkan. Ini adalah tragedi menuai tanpa menabur, ini adalah kelucuan yang aneh. Ini adalah pola yang berulang, adakah yang pernah mau seperti ini? Sendiri dan sendiri, semut yang menanggung banyak beban gajah. Ini juga adalah jejak dari kesalahan yang tertimbun, ini adalah kecacatan yang mau tak mau harus dijalani hingga mati.
Ucapan dan pemikiran perempuan itu tadi adalah sampah yang mau tak mau menjadi rekam jejak di perjalanan. Bagaimana nanti jaga jarak, memang seperti itu lebih baik daripada bicara sesukanya dan tidak punya etika. Selepas malam ini akan terlihat akan menjadi batas yang asing atau tidak.
Hari ini adalah, hari yang paripurna dengan kelucuan yang aneh. Hari kedua puluh bulan kedua, hari yang diisi dengan helaian kenangan yang buruk. Menjadi kata-kata yang tidak bermakna, entahlah. Terlalu takut, gagu dan gamang. Apa benar selalu mengerti karena sepertinya tidak pernah sama sekali, tapi ya sudahlah. Asu, toh juga bukan kita yang punya kehidupan ini. Ingin meminta mati tapi sadar masih banyak dosa, jika diizinkan mati akan seperti apa kehidupan selepas kematian? Terlalu rumit hidup atau mati.
***
Rantauprapat, 20 Februari 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar