Rasa sakit ini seperti jaringan kanker tersebar tanpa terdeteksi, sepertinya tidak ada yang pernah mau menjadi beban, seandainya juga tidak cacat tidak akan pernah mau begitu dibantu bahkan ke kamar mandi sekalipun/ urusan-urusan pribadi yang seharusnya orang lain tidak tahu.
Haruskah menyalakan? Keadaan kaki yang sulit bergerak atau jari-jari tangan yang tidak lagi lurus yang bahkan tidak lagi bisa menulis belakangan. Seandainya punya senyawa kimia yang meredakan, hahah. Akankah pada suatu hari bisa lebih bahagia? Kepada siapa harus berkeluh kesah? Tidak ada tempat rumah yang dituju/tidak ada tempat pulang.
Catatan siang ini, tidak ada seni yang bisa menenangkan. Semua kalah pada ucapan dan tatapan itu. Padahal sudah jelas ada kesenjangan keterbatasan, namun tidak ada kalah mengalah dan pengertian. Ternyata tidak semua niat baik dibalas dengan kebaikan.
Mau seberapa banyak lagi, apakah tidak cukup dengan rela kehilangan. Tidak ada juga yang mau membiarkan kotoran tercecer di mana-mana. Karena tidak berhak bertanya, kenapa harus aku yang seperti ini? Menuai tanpa menabur. Ternyata gandum yang layu sebelum ia masak, sekarang adalah aku.
Kesedihan siang ini adalah badai yang tidak pernah dikira akan datang. Tadinya berpikir benar-benar ada kaberterimaan. Haruskah semua tentang uang, betapa mengerikannya badai hari ini. Seperti jaringan kanker tersebar tanpa terdeteksi, seperti itulah rasa sakit yang dirasakan. Ada yang mengatakan, pelangi datang sehabis hujan, apakah terjadi dengan kejadian siang ini? tak ada yang tahu jawabnya.
Tidak ada romansa, tidak ada karena kemesraan, tetap harus sendiri dan tidak boleh berisik menebarkan rasa sakit jadi bercintalah dengan huruf-huruf yang menjadi teman karena ia tidak akan menjadi hakim yang memberi tuntutan dan mengotori isi kepala.
***
Rantauprapat, 13 Februari 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar