Selasa, 30 September 2025

Jaga Dirimu Baik-baik

Istock photo
...

Entahlah, lelah bahkan terlalu lelah. Akankah terus seperti ini? 

Hay pembuat kejahatan,  enyahlah. Itulah yang disemogakan, namun dalam realita itu bukan yang diingini. Jaga dirimu baik-baik, seseorang berkata demikian. Karena banyak percakapan yang menjadi drama demi drama tak kunjung usai.

Kenapa memilih menikah jika tak bisa bertanggung jawab? Kenapa harus memilih untuk melahirkan banyak keturunan. Banyak yang tidak ingin didengar, dilihat dan dirasakan dari benang kusut yang terjadi.

Jaga dirimu baik-baik terkadang hanya kamuflase, karena dasar kecemasan dalam pikiran yang terutama. Bukankah sedari awal tak bisa memilih lahir di keadaan yang seperti apa. Bahkan ada di lingkaran pembuat kejahatan, juga tak pernah bisa memilih.

Sudah terlalu banyak kejadian yang tak bisa dipilih dan tak bisa berhenti, karena bagaimanapun ada lingkaran masa lalu yang terjadi sampai masa kini. Malam ini, seseorang itu tidak tahu bisa menjaga diri baik-baik saja atau tidak.

Menggigil bukan karena hujan tapi karena percakapan yang tak perlu terdengar tapi sudah terdengar, merasa paling benar dan mengintimidasi yang lain dengan sadar dan dahsyat. Kenapa tidak berpaling dari keegoan, kenapa dan kenapa?

Jaga dirimu baik-baik,  ini seperti ada di kesialan dan kenangan membekas yang tak pernah pudar. Yang akhirnya berujung kalah. Lantas, bagaimana bisa menjaga diri baik-baik? Seseorang yang berharap diri baik-baik saja, seperti berada dan tersesat dalam pohon bunga yang rindang dan ternyata itu hanya keinginan semu, karena sepertinya itu takkan pernah ada. Terlalu toxic dan bajingan serta pembuat kejahatan yang tidak pernah usai dan tidak pernah padam bersama dengan kesendirian seseorang itu.

***

Rantauprapat, 30 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 20 September 2025

Kebekuan Rumah yang Terasa

Di buat oleh bantuan meta al 
...

Aduh, ternyata di balik rumah yang tak selalu indah, ada saja drama-drama yang terjadi. Hujan yang tiba-tiba deras membasahi bagian rumah dengan dahsyat. Membiarkan rumah itu hancur, membiarkan tamu tak diundang menguasai rumah. Banyak yang meredup dan menyimpan luka masing-masing. Kemungkinan terburuk dari rumah ternyata tidak bisa menjadi tempat pulang.

Banyak perkara dan keegoan sehingga rumah tak lagi menjadi tempat menyembuhkan dari kehilangan karena dari rumah tersebut adalah kehilangan yang pertama, rumah juga terkadang menjadi bagian pertama mengalami penjarahan mental. Ada juga rumah yang menjadi aroma penghapus kenangan, malah menyakiti. Dari awal yang ada wara-wiri keributan dan pertengkaran. Setiap anak tak pernah ingin rumah seperti itu, tak ada pula anak yang minta dilahirkan dalam rumah seperti itu, hanya kebekuan rumah yang terasa.

Bagaimana jika sampai mati ada di rumah yang seperti itu? Karena kelahiran tidak akan pernah bisa di reshuffle. Hanya terus belajar berdamai dengan segala keadaan, tunggu tak ingin berada dan mengulang kelahiran yang seperti ini. 

Tidak pernah menduga, sampai usia sekarang, hanya perang yang terasa dalam rumah, kalau tidak dalam satu hari dalam satu minggu atau dalam satu bulan ada saja catatan-catatan yang menjadi keributan dan keributan yang terus berulang, sungguh ingin melupakannya tapi takkan pernah lupa. Terlalu takutnya sampai tak pernah merasakan bahagia.

Ya, begitulah rumah yang tak selalu sempurna dan sialnya tak diisi dengan kesempurnaan. Lagi-lagi, lagi-lagi, hanya menangis dalam diam, keadaan yang seperti ini, di rumah yang seperti ini entah sampai kapan berada dan terjadi. Bolehkah berharap di suatu yang entah kapan, rumah yang tak sempurna ini ada kabar baik yang terjadi, kabar tenang teduh dan kabar kesejahteraan. Sungguh berharap demikian.

Karena barangkali rumah yang diisi dengan manusia-manusia lemah dan juga merasa lebih baik dengan keangkuhannya tak akan pernah berubah sampai mati. 

***

Rantauprapat, 20 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 19 September 2025

Bukankah Rumah Tak Selalu Sempurna

Dokumentasi pribadi dibuat oleh bantuan meta al
...

Rekam jejak dan ingatan masa lalu, tidak seharusnya menjadi akar pahit yang menjadi-jadi. Tidak harus menjadi acuan di masa kini. Ketika tidak ada cinta dan tidak ada rumah bahkan tidak ada jalan pulang, yang ternyata adalah perasaan yang sebenarnya tidak demikian, harusnya ada penerimaan bukan malah menuntut dan menuntut. 

Ada kesadaran, bukankah rumah tak selalu sempurna. 

Sudah berlaksa-laksa keangkuhan, kerumitan dan kapayahan serta kegagaguan serta doa-doa entah itu karena amarah atau itu karena ketulusan, selagi masih ada kesempatan, jangan terus menjadi bajingan dan merasa lebih baik. Jika kehilangan benar-benar datang, maka pertobatan dan penyesalan tiada guna.

Bukankah rumah tak selalu sempurna, tapi rumah itu harus diisi dengan kebaikan dan musim-musim yang indah. Bukan malah membiarkan musim itu atau rumah itu diisi dengan keangkuhan dan berada di ujung sunyi, jangan pula membiarkan rumah itu dirayu oleh dosa.

Sadar pula bahwasanya jangan ada kebekuan rumah dan membiarkan sekedar baik-baik saja. Jadikan rumah itu kenangan yang tak akan bisa dilupa. Rumah adalah tempat menghilangkan kesedihan, menikmati pahit dan laranya kehidupan itu adalah dalam rumah. Rumah yang diisi oleh manusia-manusia yang sudah Tuhan ijinkan sedari awal untuk bersama. 

Kepada rumah, musim, halaman yang seringkali diumpati, yang selalu disalahkan tentang sendu, air mata yang basah dan luka yang dibiarkan menganga, tetaplah menjadi rumah yang memberikan kehangatan dan meneduhkan hati yang risau, terkadang tidak tahu apa penyebab risaunya, pun yang basah oleh hujan. 

***

Rantauprapat, 19 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 17 September 2025

Kisah Malam Ini Menjadi Catatan yang Plot Twist

http://vocal.media
...

Tenang teduh terbunuh. Bentakan membunuh. Amarah lalu lalang dalam diri. Sebegitu tidak berharganya kah? Dan Haruskah selalu berkompromi, menerima setiap ucapan dan tindakan yang melukai?

Dengan sadar dan sengaja, mempersalahkan padahal melihat dan mendengar dengan jelas. Memberikan badai sesuka hati. Ternyata memang tidak pernah bisa dijadikan rumah, lebih baik dari awal tidak pernah kembali.

Kisah malam ini menjadi catatan, bahwasanya ada yang tidak bisa diubah oleh waktu. Yang dikira-kira ada, dianggap bisa berubah, ternyata tidak semudah itu walaupun sudah pernah pergi.

September ternyata tidak selalu menjadi September ceria, banyak kegamangan dan kekakuan yang beku. Barangkali lebih baik tidak bersama, karena ketika tidak bersama pun kala itu tidak ada masalah. Yang ada malah sekarang ketika kembali pulang dan bersama sering terjadi intimidasi.

Kisah malam ini menjadi catatan yang plot twist, menabur yang baik saja hasilnya belum tentu baik apalagi menabur yang tidak baik. Well, hidup yang penuh huru-hara. Terkadang perjalanan hidup barangkali perlu untuk ditertawakan.

Sebaiknya lebih lagi bisa menahan diri dan tidak lagi menjadi pahlawan terhadap keributan yang wara-wiri di kepala. Demikian!
***
Rantauprapat, 17 September 2025
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 16 September 2025

Catatan-catatan yang Menjadi Rekam Jejak Perempuan Itu

https://vocal.media
...

Perempuan itu menangis tanpa suara, percakapan sore ini terasa panas, walaupun di kamar kecil itu ada bunyi dari dinginnya ac. 

Tak pernah berharap apalagi bermimpi tentang kepura-puraan yang seperti ini. Seperti tidak ada teman, tapi bukan pula musuh. Terlalu gamang, hanya dijadikan bahan pelengkap.

Barangkali lebih baik tak pernah ada, tapi perempuan itu tak bisa memilih untuk dilahirkan bukan. Hidup bersama dengan kesendirian. Terlalu banyak catatan-catatan yang menjadi rekam jejak perempuan itu. Tapi kenapa hanya selalu salah dan salah yang ada.

Sebisa mungkin menjadi pelengkap dan penyembuh dari kebutuhan-kebutuhan yang terlihat. Namun siapa yang menjadi penyembuh bagi perempuan itu? Sudah sangat banyak yang ingin dihapus perempuan itu dalam perjalanan hidup. Dan sangat-sangat banyak yang ingin dihapus dan terhilang. 

Suatu hari, perempuan itu ingin merasa merdeka dan memiliki catatan-catatan yang menjadi rekam jejak dengan banyak warna yang manis dan tidak selalu tentang hitam dan hitam. Tidak pula tentang kesendirian, kepura-puraan, luka, lara dan air mata. 

Di sore yang entah kapan, masih di kamar kecil yang sama kah seperti sore ini? Masih dengan bunyi ac yang sama kah, hanya berharap keadaan tidak seperti sore ini. Perempuan itu ingin merasakan damai walau tetap masih sendirian. Dan bisa menulis catatan-catatan manis dalam rekam jejak kehidupan.

***

Rantauprapat, 16 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 14 September 2025

Antara Kesialan dan Kenangan Membekas

Kulturtava
...

Oh, kesialan macam apa ini, bulan kesembilan saja belum berlalu tapi kenangan membekas akan lisan liar terulang malam ini. Menyatu dengan kebencian yang menjadi akar pahit.

Antara kesialan dan kenangan membekas adalah mendung yang terulang. Berdarah-darah menerjemahkan kesejahteraan. Ah, siapa yang korban, siapa pula yang menginginkan kematian. Asu.

Andai kelahiran bisa di reshuffle, andai yang hanya menjadi keinginan bodoh, karena bagaimanapun kelahiran sudah terjadi. Ini adalah resah yang berulang tidak tahu sampai kapan. Hari keempat belas di bulan kesembilan malam ini, menjadi kesialan yang sudah ribuan kali berulang.

Ingin melangkah pergi tapi ini adalah jalan yang tak bisa dipilih, hanya menjalani sampai kematian memanggil. Ini merupakan jejak-jejak kelam yang terpatri dalam jiwa. Ini akibat jatuh cinta sendirian, lantas kenapa memilih untuk mencintai jika tidak siap terluka? Rasa luka yang menghujam dengan dalam. 

Ah, antara kesialan dan kenangan membekas, ada manusia-manusia bajingan dan manusia-manusia lemah yang hanya mementingkan ego dan kepuasan pribadi tanpa memikirkan efek samping yang terjadi.

Cinta yang mati tanpa kepedulian. Sandiwara yang berpura-pura. Kasih yang sudah menjadi asing. Hati yang telah menjadi hambar, dan harapan yang telah menjadi mati.

***

Rantauprapat, 14 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 10 September 2025

Malam Ini, Perbincangan yang Sial

@Kulturtava
...

Ah, keparat. Siapa yang menabur, siapa pula yang menuai. Hari kesepuluh bulan kesembilan malam ini, menghancurkan jiwa. Lisan yang terdengar sungguh menjarah mental. 

Perbincangan yang sial, tahu seperti ini ujungnya lebih baik menjadi asing. Ada di ujung krisis, amarah yang meluap. Menyudutkan dan mempersalahkan tanpa kebenaran seutuhnya. Lebih baik menjadi liar dan jatuh pada dosa yang merayu. 

Merelakan terbunuh dan tenggelam dalam kisah rumit. Ah, percakapan yang sial ternyata bisa jadi teman. Mencumbui malam dengan kegamangan yang tak berarti. Tak hendak pula merayu untuk menjadi yang baik, menelan setiap prasangka yang ada. Bosan menjadi tertuduh tapi tak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa bersandiwara dan berpura-pura. Ah, sial.

Ternyata menjadi hitam dan ada pemberontakan terkadang diperlukan. Melupakan sejenak segala lara. Malam ini tak ada kasih yang benar-benar kasih. Hanya tipu muslihat dan kemalangan yang ada. Air mata yang tumpah dan tertahan, dalam perbincangan yang sial malam ini.

Ah, entahlah.

***

Rantauprapat, 10 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 04 September 2025

Tenggelam dalam Kisah Rumit

Kulturtava
...

Bertanya pada diri, apakah ia racun sehingga ia diperlakukan lain? Tenggelam dalam kisah rumit, hampir setiap hari berdansa dengan keasingan.

Korban dari kekuasaan dan luka dari lisan yang terucap. September kali ini memang menjadi luka dan ingatan yang suram. Masih ada dua puluh enam hari lagi melalui bulan ini, apakah tetap menjadi suram atau bahkan lebih suram? Tak ada yang tahu jawabnya.

Benar-benar sudah tenggelam dalam kisah rumit, tak ada yang menjadi penawar luka dan kesepian. Yang ada mental semakin terjajah. Entah di mana hak sejahtera yang seharusnya?

Walaupun malam ini semua ucap dan percakapan menorehkan luka yang teramat, tetap tak mau sesal ada dalam diri, mencoba berdamai dan tak akan mengumpat, walaupun memilih tenggelam dalam kisah rumit.

Tak ingin menjadi daun yang kering dan hati yang beaura hitam. 

***

Rantauprapat, 04 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 01 September 2025

September Kali Ini adalah Ingatan yang Suram

@Kulturtava
...

Aib, martabat hancur. Hahhha, lucu bukan. Siapa yang menjadi tersangka, siapa yang menjadi korban. Juni dua tahun lalu, adalah kisah horor dan si bajingan. September dua tahun setelahnya adalah kisah yang kembali terulang. Jijik dan menjenuhkan. 

Horor mematikan itu terasa menyesakkan. Kenapa harus selalu seperti ini? Ini ibarat rindu yang tak boleh dirindukan. Seperti lumpur di jalan yang benar harus di hindari. Sepotong kebaikan pun tidak didapati. Harus memenuhi setiap kata yang terucap dan dimau. 

Ada penjarahan mental pagi ini, hanya demi keotoriteran. Kenapa harus miliki hati yang kosong? Ada hikayat permusuhan pagi ini. Tentang rumah yang bukan benar-benar rumah. Tentang bajingan yang benar-benar bajingan. Kepedulian telah mati. 

September kali ini adalah ingatan yang suram. Ini kisah dan cerita yang tak seharusnya pernah ada,  yang benar-benar dingin. Bajingan yang brengsek dan mematikan. Tak ada bahasa cinta yang tersisa.

***

Rantauprapat, 01 September 2025

Lusy Mariana Pasaribu