Entahlah, lelah bahkan terlalu lelah. Akankah terus seperti ini?
Hay pembuat kejahatan, enyahlah. Itulah yang disemogakan, namun dalam realita itu bukan yang diingini. Jaga dirimu baik-baik, seseorang berkata demikian. Karena banyak percakapan yang menjadi drama demi drama tak kunjung usai.
Kenapa memilih menikah jika tak bisa bertanggung jawab? Kenapa harus memilih untuk melahirkan banyak keturunan. Banyak yang tidak ingin didengar, dilihat dan dirasakan dari benang kusut yang terjadi.
Jaga dirimu baik-baik terkadang hanya kamuflase, karena dasar kecemasan dalam pikiran yang terutama. Bukankah sedari awal tak bisa memilih lahir di keadaan yang seperti apa. Bahkan ada di lingkaran pembuat kejahatan, juga tak pernah bisa memilih.
Sudah terlalu banyak kejadian yang tak bisa dipilih dan tak bisa berhenti, karena bagaimanapun ada lingkaran masa lalu yang terjadi sampai masa kini. Malam ini, seseorang itu tidak tahu bisa menjaga diri baik-baik saja atau tidak.
Menggigil bukan karena hujan tapi karena percakapan yang tak perlu terdengar tapi sudah terdengar, merasa paling benar dan mengintimidasi yang lain dengan sadar dan dahsyat. Kenapa tidak berpaling dari keegoan, kenapa dan kenapa?
Jaga dirimu baik-baik, ini seperti ada di kesialan dan kenangan membekas yang tak pernah pudar. Yang akhirnya berujung kalah. Lantas, bagaimana bisa menjaga diri baik-baik? Seseorang yang berharap diri baik-baik saja, seperti berada dan tersesat dalam pohon bunga yang rindang dan ternyata itu hanya keinginan semu, karena sepertinya itu takkan pernah ada. Terlalu toxic dan bajingan serta pembuat kejahatan yang tidak pernah usai dan tidak pernah padam bersama dengan kesendirian seseorang itu.
***
Rantauprapat, 30 September 2025
Lusy Mariana Pasaribu