Rabu, 31 Desember 2025

Sejarah di Akhir Tahun

Kulturtava
...

Haha, aku berada di pohon bara raksasa. Membakar habis kewarasanku. Ah, sialan. Aku seperti ludah yang tidak berharga, camar cacat yang sendirian. Ini sejarah di akhir tahun, asu. Berada di kerumunan hujan, chapter end year but not new year. Konyol, syair dan prosa tentang hari, esok, lusa, tetap menyayangi ternyata hanya prosa, aku hanya merasa memiliki yang ternyata hanya rasa kosong. 

Kesejahteraan ku tidak pernah menjadi kesejahteraanmu, lantas dan bodohnya berjuang menguasai diri menunggu kabar baik tapi ternyata aku hanya mencari rumah dan rumah itu tidak pernah memberikan tempat untukku. Dekapan masa lalu dan aroma masa silam dengan bebasnya tumbuh sore hari ini menjadi sejarah di akhir tahun.

Benar-benar berisik dan tidak hidup. Menyakitkan. Aku yang kesepian, dan kesepian yang meniduri sepi. Mencoba melupa tapi tak akan pernah lupa, cacat dan harus sadar diri. Ini sejarah di akhir tahun, menjadi babak demi babak isi kepala dan hati serta perasaanku. Selalu menanam bara dan luka, tidak pernah kau berpikir dan merasa bagaimana di posisiku. 

Tidak ada kegembiraan yang menghampiri di antara akhir tahun dan beberapa jam menjelang awal tahun, aku dicekam ketakutan. Ada perundung yang selalu ingin didengar dan ingin membumihanguskan aku. Muram, tenggelam, namun tetap hidup dalam kematian. Jendela tertutup di akhir Desember menyampaikan rasa sakit dan bara yang terus-menerus. Dan gampangnya mencaci maki dan memberikan tatapan yang mematikan, sebentar kemudian minta maaf dan memberikan alasan yang klise.

Ini masa-masa yang selalu memberikan rasa sakit, bergumam ingin mati dan menjumpai Tuhan, tapi sadar tidak layak dengan segala keberdosaan. Air mata di akhir tahun menjadi teman, dan dengan rela menjadi pinokio juga merelakan diri ada di hutan-hutan mati demi tercapainya replika kebahagiaan walau dengan kepura-puraan.

***

Rantauprapat, 31 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kesendirian Memilih Jalan untuk Tidak Punah

Kulturtava 
...

Bagaimana kabar hati sepanjang tahun ini? Tentu saja banyak kepatahan bahkan lebih banyak kepatahan daripada sukacita, Kebahagiaan tidak lagi berdering. Apalagi kantong yang cukup, kenapa embel-embel anak paling tua harus selalu diutamakan sedangkan kesendirian tidak diperdulikan. 

Itulah manusia, sudah tahu tidak ada yang merayakan bersama dalam rangka kesusahan, duka apalagi kesuraman dalam hidup tapi tetap membiarkan diri jatuh dalam penyesalan yang berkabung. Kenapa lupa bahwa kesendirian juga bisa memiliki hari-hari yang bermakna. Kesendirian tidak harus memilih jalan untuk punah dan menjadi seongok baterai dari manusia-manusia lemah.

Bukankah seharusnya kesendirian tidak memilih jalan untuk punah. Karena hidup adalah perjalanan dan pertarungan yang tak akan pernah punah hingga kematian menjadi teman. Lantas kenapa membiarkan diri ada pada kemalangan yang berlarut.

Hidup adalah sepi dan setiap jiwa memiliki kesepiaannya sendiri.

Hidup adalah rekam jejak dan perjalanan yang memiliki kesusahannya sendiri.

Dan benar kesendirian tidak memilih jalan untuk punah. Kesendirian juga memiliki cinta, walau cinta tidak harus memiliki kekasih jiwa. Karena cinta itu mematikan, dan jatuh cinta lah untuk mampu menghadapi kehidupan yang mematikan. 

Di penghujung tahun ini, tiga puluh satu Desember pukul kosong kosong dini hari, jangan menjadi manusia-manusia bodoh di balik kata kesendirian, baik yang sendiri maupun tidak sendiri memiliki hari terakhirnya masing-masing. Lantas, Apakah harus memilih untuk punah atau bergandengan dengan doa pada sang maha untuk mampu menjalani hidup dengan segala keterbatasan. 

Kepada kesendirian yang memilih jalan untuk tidak punah, tenanglah jiwamu dan berjuanglah untuk bertarung dalam jejak-jejak kehidupan sehingga mampu menjadi pohon anggur yang riap tumbuhnya.

***

Rantauprapat, Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 


Selasa, 30 Desember 2025

Hari Ini, Esok, Lusa, Tetap Menyayangi

www.Peakpx.com
...
Ternyata untuk merawat cinta yang ada itu sulit, banyak beban harus diselesaikan. Ada luka yang sulit sekali untuk hilang, 
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berisik di kepala. Kenapa, kenapa dan kenapa harus aku? 

Ini catatan tentang aku yang tak pernah selesai, menjadi gagu pun menjadi gamang. Ini bukan perihal tidak ikhlas, dengan gampangnya seseorang mengatakan itu. Aku muak, marah, ada di fase yang selalu mengatakan iya iya dan iya tanpa berhak melakukan perlawanan. Pada suatu hari aku dilahirkan, tapi pada suatu hari yang lain aku seperti tidak pernah ada. Seperti rumah-rumah tanpa jendela, seperti itu juga aku, sesak dan terkurung dalam pengap. 

Sudah lebih dari tiga dasawarsa ada di bumi pertiwi Indonesia selama hampir empat dasawarsa hidup lebih sering mengalami patah hati yang panjang, selama itu juga mencoba untuk berdamai, untuk mengakhiri patah hati, namun tetap saja ada luka yang sengaja ditancapkan. Dan terkadang dengan bodohnya membiarkan diri jatuh pada hujan yang basah dan dosa yang merayu.

Ini ada kejujuran yang telanjang, barangkali tidak pernah ada ikatan yang benar-benar, karena bukankah tidak akan pernah bertepuk jika hanya sebelah tangan. Tapi tidak dapat dibohongi, ini adalah relasi pertama yang dimiliki. Ini adalah nyanyian kesendirian dari camar yang terabaikan. Kemungkinan terburuk, ya tetap diabaikan sampai maut memanggil.

Dari awal itu adalah tanggung jawab, baik kurang baik keadaan, aku harus tetap memiliki kewarasan dan sadar ada beban yang harus tetap dipikul. Aku adalah pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya, sejujurnya dan sebenarnya banyak nama-nama yang ingin ku hapus dari perjalanan hidup, tapi itu adalah kemungkinan yang tidak pernah akan terjadi. 

Karena dengan sadar juga aku tahu dan memberi peringatan di hati dan akal yang kadang-kadang liar ini, I LOVE THEM. Sebelum tahun baru dan beberapa bulan sebelum aku bertambah usia, aku akan mencoba kembali mengakhiri patah hati dan melepas bayang-bayang kebodohan yang kubiarkan ada padaku. 

Hari ini, esok, lusa, tetap menyayangi relasi pertamaku dalam hidup. Ini tentang rumah dan cerita-cerita rahasia yang memiliki plot twist di luar nalar. Aku menulis prosa malam ini untuk menjadi sejarah dalam hidup, bahwasanya aku mampu bertahan untuk kembali berdamai dan mencoba untuk tetap baik-baik saja. Melepas luka dan kesedihan, walau sulit tapi bukan tak mungkin itu berhasil.

Remember note, relasi pertama yang dimiliki. So, hari ini, esok, lusa, tetap menyayangi. Suatu hari, aku berharap bukan hanya menemukan tapi ditemukan dan dianggap ada agar terlihat walau aku terbatas dalam banyak hal. Aku ingin mampu tertawa gembira dengan ikhlas, memiliki ingatan manis yang berpendar di sela-sela dedaunan pohon anggur dan menjadi riap tumbuhnya.

***
Rantauprapat, 30 Desember 2025
Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 26 Desember 2025

Pada Suatu Sore

Foto pribadi 
...

Ah, boom, ada ledakan besar terjadi. Tanpa aba-aba, tanpa pemberitahuan, kembali lagi jatuh jatuh dan jatuh, kedua kaki tak mampu bertahan, tak mampu menopang tubuh untuk melangkah sekalipun, pada suatu sore di hari kedua puluh enam bulan kedua belas, ada kejujuran yang telanjang memberitahu tentang keberadaan diri, ternyata hanya manusia lemah yang benar-benar lemah.

Sakit, sendirian, dan lebih baik tidak pernah mencoba-coba untuk keluar dari kamar pengap yang kecil dan tidak memiliki ventilasi udara. Rasanya sesak, terlebih ketika menahan tangis yang harusnya keluar.

Terlalu mengerikan bukan, apalagi di hari kedua puluh tiga di bulan kedua belas juga, untuk pertama kali serasa ditolak dan baru mendapat perkataan yang mengatakan: seharusnya kategori orang yang cacat tidak berhak mendapat bagian, CACAT! Begitu tidak adilnya kah hidup. Siapakah pernah benar-benar berhak untuk menghakimi orang lain. 

Pada suatu sore yang entah kapan, Bolehkah benar-benar menikmati waktu dengan merasa dicintai dan diterima, tanpa kejatuhan dan kejatuhan yang memberi kesialan dalam hidup. Karena sepertinya tidak ada yang benar-benar atau terlalu peduli. Jadi tidak ada gunanya jika juga terlalu terbuka dengan segala kejujuran yang telanjang.

Hari kedua puluh enam, adalah segala kisah dengan rasa sakit. Adalah segala kisah dengan kesendirian, adalah segala kisah dengan irama kesedihan. Kejatuhan hari ini adalah kisah yang berulang-ulang terjadi, sudah biasa memang tapi masih saja sakit, ketika dibiarkan sendiri. Dan memang lebih baik saja terus-menerus berada di kamar yang lembab tanpa merasakan sinar matahari, daripada memberikan pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Kenapa, kenapa dan kenapa?

Sudah lebih dari satu dasawarsa, keadaan masih sama saja atau bahkan bisa dikatakan lebih parah. Ini adalah kisah yang berakhir pada kesendirian. Namun, bukankah kesendirian bisa memilih jalan untuk tidak punah, untuk tidak berakhir pada kata putus asa. 

Semoga, pada suatu sore yang entah kapan, sekalipun masih tetap menjadi manusia yang lemah dan segala kejatuhan, organ tubuh yang tidak mampu lagi untuk bertahan, tetaplah memiliki kewarasan dan memilih untuk tidak punah dengan segala kebodohan. Itu saja barangkali catatan untuk hari ini.

***

Rantauprapat, 26 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kejujuran yang Telanjang


Selamat merayakan kehilangan, kehilangan yang sudah lama mati. Ah, ini kisah yang disembunyikan. Banyak yang diam-diam ditinggalkan, banyak juga yang tak lagi sama. 

Ini perihal kejujuran yang telanjang, keserakahan dari manusia-manusia lemah. Pria tua yang tidak sadar diri akan umur dan tingkah laku yang liar, membumihanguskan arti dari ikatan. Memberikan sentuhan-sentuhan liar yang tidak sepantasnya. Tidak tahu kapan persisnya itu dimulai dan kapan benar-benar sudah berakhir tapi belum benar-benar selesai. Perempuan tua juga yang meluluh lantakkan perasaan, yang harusnya memberi kasih sayang dan rumah yang utuh. Malahan mengeluarkan kata-kata yang menenggelamkan dan kata-kata umpatan yang penuh kutuk.

Tak ada lagi harapan yang mengalir, yang ada hanya kesia-siaan dan mau tak mau menjalani hidup dengan segala kepura-puraan dan topeng. Hanya ada kekerasan yang menyamar sebagai kata cinta. Ini adalah kejujuran yang telanjang dari seseorang yang yang terluka sangat dalam. Tak pernah pula ingin membenci, hanya merajut kata-kata untuk mengeluarkan kejujuran telanjang.

Walaupun kejujuran yang telanjang ini tak pernah menjadi artikel utama karena selalu disembunyikan, setidaknya dengan huruf- huruf mati kejujuran ini bisa melegakkan perasaan. Dalam hidup tidak akan pernah menerima kalimat "sedia aku sebelum hujan", karena selalu saja salah apalagi menerima payung untuk tidak basah karena hujan. 

Kejujuran yang telanjang kali ini, sering kali harus dejavu dengan dosa yang sudah seringkali berisik di kepala, mau tidak mau harus berdamai walau sulit. Selamat merayakan kehilangan, Bodohnya, adakah yang merayakan Kehilangan itu, atau malah merasa biasa saja karena tidak pernah ada. Setelah abjad-abjad dari kejujuran yang telanjang ini finish, tidak tahu apakah benar-benar selesai atau malah kilas balik dari kisah liar itu kembali mengganggu di kepala dengan berisiknya. 

Ini catatan tentang kejujuran yang telanjang namun tidak pernah selesai, barangkali sampai ada kematian. Ini juga latihan untuk melupa tapi sepertinya takkan pernah lupa, karena merupakan sejarah yang benar-benar kejam.

***

Rantauprapat, 26 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 22 Desember 2025

Mencumbui Desember yang Basah

@Kulturtava
...

Bukan hanya melulu tentang luka, ini juga tentang kantong yang tidak lagi berdering. Tanggung jawab yang harus diselesaikan, hingga mengeluarkan yang tidak perlu dikeluarkan. Desember kali ini benar-benar basah, ini bukan akhir tapi terasa seperti akhir. 

Mau tak mau, harus mencumbui Desember yang basah dengan tetap memiliki kesadaran. Sangat-sangat sulit tapi bukan tidak mungkin terjadi, ini hanya sebuah catatan dari seseorang yang menyukai huruf-huruf mati menjadi teman.

Memakai dan melepaskan topeng adalah hal yang sering dilakukan pada Desember yang basah, menutupi jejak-jejak yang harus ditutupi, jatuh cinta lah untuk mampu mencumbui Desember yang basah dengan kewarasan dan penerimaan. Karena sebenarnya terlalu banyak ketidakjujuran, terlalu rumit untuk kata sederhana tapi begitulah hidup. 

Mengakhiri tahun ini tidak tahu apa yang harus dipatahkan dan tidak tahu pula apa yang harus ditumbuhkan, kesejahteraan orang lain, kenyamanan diri sendiri dan realita hidup, seperti gagu dan gamang antara batas hidup dan mati. Seandainya saja bisa memilih, seandainya saja bisa sehat sempurna, seandainya saja bisa bergerak dan melangkah, itu hanya andai-andai yang menjadi seandainya yang takkan pernah menjadi.

Desember penuh kebisingan, ingin menertawakan tapi itu terdengar seperti kejahatan yang bodoh, tragedi di balik kenyamanan. Ada sunyi dan senyap yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang memberikan kegelisahan. Bagaimana pun, ada yang hilang dan ada yang akan ditemukan. Mungkin Desember kali ini menjadi Desember yang basah, namun mungkin tidak di Desember yang berikutnya, barangkali demikian.

***

22 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 19 Desember 2025

Rekam Jejak dan Percakapan

Freepik
...

Ada yang menulis demikian, kadang merenung juga merasa, merasa kosong tapi hidup, kadang hampa tapi hidup harus terus berjalan, tapi yang tidak sefrekuensi dan seirama adalah yang menulis di atas tadi kembali menuliskan bagian terakhir yang berbunyi demikian: kadang kepikiran tapi terbawa perasaan sesaat. Itu sah-sah saja karena opini pribadi, tapi untuk perkara kali ini itu tidak benar. Ini bukan tentang hanya merasa tapi ini tentang rekam jejak dan percakapan yang memberi rasa sakit yang sangat-sangat sakit. 

Rasanya aneh memang berada di Desember yang basah tapi ini adalah pilihan lebih baik menjadi asing. Daripada mempertahankan cermin retak dan membiarkan satu ruangan menjadi tidak selamat.

Pada suatu hari di bulan Desember yang basah, kembali saja ada momen yang membuat jatuh pada kekalahan. Dari bola mata yang telanjang terlihat tidak ada sukacita. Di ambang penghujung Desember dan awalan Januari, apakah mampu benar-benar mengakhiri patah hati? Who know? Karena semua memiliki misteri topeng masing-masing.


Ada rekam jejak dan percakapan yang tak memiliki ujung. Seseorang berada di tengah kerumunan namun seseorang itu hanya berada di abjad-abjad yang abstrak, yang tidak pernah berkhianat. Ini tentang rekam jejak dan percakapan yang memberikan sorot mata redup. Sepanjang beberapa hari di Desember yang basah ini, dari jam ke jam berikutnya terasa sangat lama sekali untuk berganti.

Reka adegan kembali terulang terhadap kisah-kisah yang telah lama terpendam di hati seseorang itu. Begitu terasa sulit dengan hati, kembali berusaha untuk berdamai terhadap rekam jejak dan percakapan yang telah terjadi. 

***

19 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 18 Desember 2025

Ini Bukan Tentang Terlalu Banyak Merasa

Kulturtava
...

Rindu dan harapan yang takkan pernah, takkan pernah menjadi. Hanya tong kosong nyaring bunyinya, tak pernah benar-benar ada ritme yang menjaga kewarasan dan kesejahteraan yang ada malah menguasai mendominasi dengan segala otoriter. Lisan yang liar dengan segala abjad yang keluar dari mulut berbisa, setan, hantu, tapi karena tak pernah berpenghasilan harus selalu diam dan menerima dengan terpaksa. Menangis juga tidak ada guna.

Ini bukan tentang terlalu banyak merasa tapi adalah fakta yang seolah-olah tak pernah terjadi. Ini adalah kisah-kisah seperti rumah tanpa jendela. Sudah sangat lama tak pernah lagi bermimpi, karena hanya sendiri dan selalu sendiri diam dan tak pernah bergerak dari kamar yang pengap dan tak berjendela.

Bagaimana lagi mampu untuk menetapkan batasan kewarasan, sementara diri sendiri tak pernah bisa keluar dari ketoksikan yang mengikat dan terpaksa terikat. Lagi-lagi ini bukan tentang terlalu banyak merasa. Sudah terlalu banyak dosa yang dirayu hanya untuk merasa baik-baik saja tapi tetap gagal. Ini tentang camar yang sendiri.

Desember penuh dengan hujan, dan ternyata harus selalu basah. Tak ada suka duka tawa, yang ada marah dan menjadi rumput liar yang ditertawakan. Delapan belas desember penuh kebisingan dan rekam jejak yang berbahaya. 

Ternyata di Desember yang penuh luka bagi orang lain bisa menjadi bahan tertawaan bagi orang lain juga. Pelaku seolah-olah menjadi korban dan korban seolah-olah menjadi pelaku. Ini hidup dan bukan tentang terlalu banyak merasa. Ini tentang seseorang yang tidak akan pernah selesai, selama masih bernafas dan dunia masih ada.

Untuk melalui beberapa jam selepas malam ini saja harus mengingat bahwa cinta ternyata harus dinilai dengan angka-angka yang cukup besar. Itulah masa lalu seharusnya tidak pernah menjadi masa kini, kehidupan yang asu benar-benar asu. Rasa-rasanya dan barangkali kebenarannya, tak pernah benar-benar saling memiliki. Sebuah cara melupa sudah diusahakan tapi ini ternyata itu sia-sia selalu saja berisik di kepala.

Kemungkinan terburuk akan tetap merusak diri sendiri. Karena dari awal sudah kalah. Hidup tapi mati dan mati tapi hidup. Terlalu berharap, terlalu takut, terlalu sulit apalagi berjuang untuk keterbatasan, anehnya itulah hidup. Jadi ini adalah cerita dan kisah dari rekam jejak yang bukan hanya tentang terlalu banyak merasa.

***

18 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 17 Desember 2025

Berbau Hangus dan Keotoriteran

KOMPAS/SPY
...

Sial, tanpa aba-aba, ribut yang menggemparkan terjadi, heboh bahkan sangat-sangat heboh. Akibat dari menjadi pahlawan bagi semut di ujung jangkauan tapi boomerang bagi gajah di depan mata, miris bukan.

Mengabaikan peringatan, air mata demi tercapainya keotoriteran. Merasa hebat dan menang jika selalu didengar dan dituruti. Sampai-sampai keributan yang terjadi berbau hangus, apa yang dicari dengan lebih mementingkan semut yang ada di ujung jangkauan.

Mengabaikan wajah-wajah luka yang sendu. Bullshit jika pernah mengatakan kesejahteraanku adalah kesejahteraanmu. Yang benar adalah kehendakku harus dituruti demi kepuasan pribadi dan senyum merekah di bibir. 

Marah, tapi hanya bisa diam. Karena pada akhirnya harus selalu menurut dan menurut walaupun dengan terpaksa. Kesedihan dan kekecewaan makin dalam tapi hari terus berlanjut, mau tak mau harus berkompromi dan berpura-pura bahagia. Andai disabilitas ini tidak menjadi teman walaupun sudah berdamai tapi ini tetap saja membuat luka. Tidak lagi bisa menghilang dan pergi dengan bebas.

Apakah dalam hidup harus selalu memenuhi harapan orang lain sementara diri sendiri kepada siapa? Tak ada yang mendengar tak ada yang peduli. Barangkali sampai mati pun hingga berbau hangus harus tetap memenuhi kebutuhan orang lain demi tercapainya keotoriteran yang sempurna.

Mungkin sebaiknya, tak pernah ada dan tak pernah dilahirkan ke muka bumi jika hanya pada akhirnya akan berbau hangus dan memenuhi kehendak dan harapan dari keotoriteran orang lain.

Ah, Desember kali ini rasa-rasa terlalu penuh dengan kesialan. Harus selalu mencumbui Desember dengan dusta dan kepura-puraan, asu.

***

17 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 12 Desember 2025

Ada Kesialan yang Mengganggu

@Kulturtava.
...

Lagi, lagi, ada kejadian gila yang merusak mental dan pikiran. Sesuka hati berbicara, dengan gamblangnya mengatakan, kamu tinggal duduk aja dan bukan kamu yang mencari, mengindikasikan bahwa tidak boleh berkomentar dengan selalu berkompromi. Kesialan yang mengganggu sore ini.

Lantas, apa berhak untuk menyuruh ini dan itu? Bersyukur masih bisa jadi berkat bagi orang lain, terus yang jadi berkat bagi diri sendiri siapa? Ini seperti kengerian yang menjadi nyata, disabilitas sialan. 

Bukankah lebih baik bisa memberi makan kehidupan sendiri daripada duduk manis-manis di kamar yang pengap dan menjadi beban. Ada kesialan yang mengganggu pikiran juga jiwa pada hari kedua belas bulan kedua belas. Entah ada apa dengan hari ini? Karena bukan kali ini saja terjadi demikian.

Ini seperti kekerasan yang dianggap cinta, kekerasan mental. Kenapa tidak berani bersuara dan harus selalu berpura-pura? Tidak ada yang pernah mau seperti ini, siapa yang tidak menginginkan kaki yang sempurna untuk bisa berjalan dan melangkah bahkan keluar dari rumah yang tidak seharusnya menjadi rumah dengan segala ketoksikannya. Halah, muak.

Ada kesialan yang mengganggu, well begitulah hidup. Apakah kesialan yang mengganggu ini akan bertahan sampai akhir tahun dan menjelang awal tahun? Tak ada yang tahu jawabnya.

***

Rantauprapat, 12 Desember 2025

Lusy Mariana Pasaribu