Hei otak dan hati sialan, kenapa kamu sekali marah? Karena tindakan dan perkataan hal-hal kecil membuat terluka dengan mudah. Bukankah hidup tidak ada yang seperti jalan tol, lurus tanpa hambatan.
Tapi begitulah hidup, seringkali membiarkan kejadian demi kejadian menjadi gandum yang layu sebelum masak. Namun, tidak boleh terbawa perasaan untuk jatuh ke dalam hal-hal yang tidak seharusnya, jatuh pada dosa yang berharga.
Bukankah lebih banyak kebaikan yang terima daripada rasa sakit, ada hal-hal kecil yang harus dijaga untuk cinta tetap hidup. Bagaimana mungkin membiarkan sayap-sayap itu patah? cinta dari mereka adalah kekuatan, mereka tidak boleh dilupakan. Bagaimana mungkin membiarkan sayap-sayap itu patah? Karena otak kecil yang sering kali kalah, lebih baik merajalela di balik puisi bukan pada kenyataan. Tidak ada kebahagiaan ketika membiarkan diri digerogoti kenakalan karena terbawa perasaan yang naif.
Karena ketika sadar atau tidak sadar membiarkan sayap-sayap itu patah, akan ada sakit hati yang menjadi sebuah alasan untuk tidak memiliki rasa syukur. Lebih baik diam, ketika hati memang sakit. Berhenti jadi mainan perasaan yang tidak benar, kehidupan itu seni dan harmoni yang bisa dipilih menjadi seperti apa berjalan dan berujung.
Lantas, untuk apa memilih membiarkan sayap-sayap itu patah kalau masih bisa untuk tidak dikatakan.
***
Rantauprapat, 17 Februari 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar