Sabtu, 30 Mei 2026

Ah, Kiranya Terkabul Keinginanku

Kulturtava 
 ...

Adakah masa depan sehingga aku harus bersabar terhadapmu? 

Melalaikan ucapan-ucapan yang semena dari mulutmu.

Bagaimana jikalau aku belum berdamai dengan diri sendiri, mengumpat terhadapmu. Menginginkan hal-hal yang membumihanguskan.

Ah, kiranya terkabul keinginanku.

Bisa saja aku berubah menyesal.


Malam tadi, aku tidak bisa melompat-lompat kegirangan sbab lisanmu. Malamku lunglai, runtuh, tidak baik-baik saja, apakah kekuatanku seperti kekuatan batu, sbab itu perkataanmu tergesa-gesa untuk menjatuhkanku.

Apakah kalimatku sudah menunjukkan kecurangan sehingga langit-langit mulutmu begitu melukai?


Ah, kiranya terkabul keinginanku.


Akankah kepadamu akan pula dijatuhkan malam-malam yang penuh kesusahan?

Aku masih berusaha untuk tidak dicekam gelisah hingga dapat mengistirahatkan bola mata telanjang ini. 

Dalam kesedihan hati, masih mencoba merayu Tuhan untuk memperoleh kekuatan untuk tidak mengeluh.


Sungguh, aku tahu, tidak boleh berkeras dan malah melakukan kesalahan dan ada di kegelapan, terhuyung-huyung dan gemetar dibalik keinginanku yang implusif.


***

Rantauprapat, 30 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 25 Mei 2026

Kebenaran yang Tak Berani untuk Disentuh

Pexels.com 
...

Langkah sunyi malam ini, terdiam dan tersadar. Mencoba merayu Tuhan untuk merasa tenang teduh. Ada kebenaran yang tak pernah berani untuk disentuh, mempertanyakan pertanyaan yang tak akan menemukan jawaban. Betapa miris ada di posisi saat ini. 

Sampai kapan cerita ini akan selesai. Ini kejujuran yang kasar tapi sungguh lama tidak tahan, pada siapa lagi berkata dan berkeluh kesah, jenuh harus selalu menjadi pohon anggur yang tidak riap tumbuhnya. Pulihlah pulih, hati yang tidak tenang teduh. Pada hari kedua puluh lima bulan kelima, ada godaan jahat yang ingin menjatuhkan, seperti pantomim iblis dan mengeluarkan taringnya dengan gerakan dan wajah menakutkan.

Ada kebenaran yang tak pernah berani untuk disentuh, kebenaran yang menyatakan bahwa, tidak semua membutuhkan jalan pulang dan tidak semua membutuhkan rumah. Padahal kenyataan ada di depan mata, ada tanggung jawab yang harus dipikul. bersama. Ada rasa tidak cukuplah atau rasanya itu bukan urusanku lah. Wow, boom. Ada ledakan yang sengaja dijatuhkan.

Ada jiwa yang lelah dan ada pertanyaan mengapa engkau lelah hai jiwaku, namun pertanyaan itu sulit untuk terjawab. Ada beban emosional yang sulit untuk dideskripsikan seperti bunga liar yang tidak tentu arah. Haruskah mengulang kesalahan yang sama.

Kenapa tidak bertaut dengan keindahan dalam kebersamaan, apa merasa lebih mampu dan lebih bisa? Ini lebih dari seperti saling diam namun sayang, ini adalah pembiaran yang jahat, seperti pantomim si iblis. Menciptakan sejarah yang sulit untuk terbaca, sejarah yang suram dan penuh kegelapan. Ini soal hati yang kehilangan tenang teduh karena banyak hati yang menggerogoti dan menjatuhkan, melakukan pembiaran untuk seorang diri, malam ini dan malam-malam selanjutnya masih merayu Tuhan untuk memperoleh kekuatan menjalani hidup, karena memang banyak kebenaran yang tidak pernah berani untuk disentuh.

***

Rantauprapat, 25 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 21 Mei 2026

Mengulang Kesalahan yang Sama

Kulturtava 
...

Perempuan itu masih di sini, menari-nari dalam diam dan kebodohan. Seolah berhasil melakukan pembunuhan dalam keangkuhan. Mengulang kesalahan yang sama, mau sampai kapan seperti itu. Menjadi pemegang kendali dalam rupiah dan tidak menganggap apa yang menjadi tanggung jawab tidak tanggung jawab perempuan itu.

Yang disangka-sangka dan dikira ketika perempuan itu datang membawa cahaya pengharapan, malam menjadi bara api di kegelapan.

Kenapa tidak memberikan damai malah tenggelam dan menari-nari dalam kehancuran, parahnya menjadi duka dan luka yang liar. Ingin menutup mata dan menutup telinga serta memejamkan mata untuk tidak melakukan percakapan dengan perempuan itu, tapi bagaimanapun juga banyak hal yang dipikirkan. Dan saat ini masih memilih jalan itu berpura-pura. Harus melatih diri untuk kecewa secukupnya terhadap perempuan itu.

Ketika yang diharap tidak menjadi air mata memperlihatkan fakta sebaliknya, apakah itu dinamika hidup? Ya, begitulah hidup. Namun tidak harus selalu menjatuhkan air mata kepada pembuat air mata yang akan masih tetap ada di dalam hidup. Pergilah dengan kesadaranmu. Entah mengapa, harus selalu bersinggungan dengan perempuan itu dan entah sampai kapan. Ketika perempuan itu masih melakukan kesalahan yang sama, masih terus belajar untuk kecewa secukupnya.

Terhadap perempuan itu, lebih baik menahan diri dan tidak bersuara karena jika bersuara pun yang ada malah menimbulkan rasa sakit dan itu masih terjadi sampai pagi ini. Apakah cinta akan tetap luruh terhadap perempuan itu, berharap tidak namun entahlah. Karena hati ini kadang tidak hati-hati. Sudah tahu akan diberikan badai tapi hati ini masih tidak terkontrol dan kadang kala sungguh menjengkelkan.

Bullshit untuk perempuan itu dan juga untuk hati ini yang kadang tidak hati-hati.

***

Rantauprapat, 21 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 20 Mei 2026

Lagi-lagi Perempuan Itu, Mencoba untuk Berpura

Foto pribadi 
...

Bulan belum berganti ke bulan yang baru, namun kisah dengan perempuan itu selalu bertambah ke memori yang gelap yang seram. Tidak ada rasa bahagia, sebaiknya memang menjauh dan menjadi asing seasing-asingnya. Patah hati mendengar dan melihat suara dan tingkah perempuan itu. Perempuan itu berkata "mamakmu" itu. Wow, kenapa ada keputusan kemarin untuk menerima perempuan itu kembali.

Bukankah jika perempuan itu tidak bisa menjadi berkat, setidaknya tidak menjadi batu sandungan. 

Perempuan itu pergi ke rumah luka namun pulang dengan masih membawa luka itu sudah seharusnya pergi kembali dengan luka-luka yang ada jangan lagi meninggalkan luka sehingga timbul bara api yang menjadi durhaka. Bagaimana mampu mencoba untuk berpura karena sudah terlalu sakit. Seharusnya tidak pernah membaca perempuan itu.

Sudah satu tahun kembali tapi yang ada hanya mengecap narasi sejarah dari kegagalan yang masih dipertahankan, lantas untuk apa kembali. Diberikan wadah untuk berubah ternyata tidak sama sekali, nggak mampu mencoba untuk berpura menghadapi segala drama perempuan itu. Karena yang lebih dulu berpura adalah perempuan itu dengan segala motivasi yang dipunya.

Lagi-lagi perempuan itu, satu tahun ke belakang hanya menerka-nerka hatimu, namun pagi tadi beberapa jam yang lalu hatimu tidak pernah berirama dengan hati yang sudah memberikan wadah untukmu berubah, yang ada hanya keterpaksaan dan kepentingan pribadimu. Semoga apa yang perempuan itu tabur tidak kembali dituai melalui keturunan yang sudah dimiliki.

Melalui cerita perempuan yang tidak penting itu, aku juga belajar untuk menahan diri dan menahan ucapan dan juga tidak mengumpat kepada seseorang yang harusnya tidak menerima itu. Dan setelah pagi ini, masih berulang kali dalam banyak tahun jika masih bernafas di muka bumi akan bertemu perempuan itu, aku akan merayu hati dan kewarasanku untuk melakukan percakapan dengan perempuan itu, di sela-sela jeda akan ketidaksanggupan dan kelelahan.

***

Rantauprapat, 20 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 16 Mei 2026

Dalam Diam di Kasih yang Terlupa

Pexels.com 
...

Sial, haruskah selalu sial. Karena hanya kata itu yang terpikir dalam keadaan yang seperti ini, *sial*. Sesak nafas dan sulit mengalami damai sejahtera. Dalam diam dikasih yang terlupa hanya ada keegoan dan amarah. 

Seseorang yang harus sesungguhnya menjadi tempat pulang dan menjadi rumah malah menjadi kesialan, merebut apa yang tidak seharusnya direbut, menghancurkan kemurnian dan kejiwaan. Jangan menangis seseorang berkata demikian tapi bagaimana mungkin tidak menangis diperlakukan tidak adil.

Luka lama bukan makin pudar tapi makin menganga. Dimanfaatkan, sempit sungguh tidak ikhlas untuk memaafkan barangkali terpaksa namun melupakan sama sekali tidak. Hari keenam belas bulan kelima, seperti mati dilumat kehancuran.

Dalam diam dikasih yang terlupa ingin rasanya menangis, merasa bersalah tapi harus menjadi batu untuk tidak menyesali apapun. Walau tidak ada bahagia di relung hati, bunga-bunga kebersamaan pun berlalu karena kebenaran siklus dalam kehidupan, sungguh menyakitkan.  Kejadian hari ini membuat kembali teringat akan serpihan dan sentuhan kenangan yang suram. 

Cahaya redup, Ini kisah seorang dari manusia-manusia lemah yang berakhir pada disabilitas dan harus mati karena cinta atau tanggung jawab. Karena demi memenuhi kecintaan dan kepuasan dari manusia-manusia lemah yang mau tak mau harus selalu dipenuhi, harus rela sendirian dan menjadi kisah-kisah yang seperti rumah tanpa jendela.

Haha, hancur dan payah sendirian. Dalam diam dikasih yang terluka dan juga terlupa. Entah terjadi apa tidak, Pada suatu hari akan terbebas dari cerita-cerita ini, cerita-cerita yang tidak penting, apakah akan bisa tenang teduh! Itu yang di semogakan barangkali.

***

Rantauprapat, 16 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 14 Mei 2026

Dunia Terbalik, Payah!

Pixabay.com.
...

Masa depan masih terlalu panjang, bersama manusia-manusia lemah yang ada seperti kematian mendekat. Perempuan yang angkuh dengan segala kebodohannya dan kemauan yang menuntut, laki-laki yang enggan bekerja dan merasa selalu harus dimengerti dan diperhatikan. 

Ini cerita yang tidak akan pernah selesai. Ingin melupakan namun sungguh itu mustahil, selama bumi masih ada, bumi masih ada berputar, tidak akan pernah bisa melupa yang ada pura-pura melupa.

Mengapa tenang teduh terasa sangat jauh.  Kenapa sepertinya hanya berpusat pada semua kemauan yang diingini perempuan itu? Sejujurnya muak dan letih.

Tidak ada sedikitpun di hati perempuan itu rasa saling memiliki. Sebaiknya mungkin kau tidak pernah kembali, seharus dan sepatunya namamu dan kehadiranmu adalah dilupakan. Kenapa malah yang seharusnya kau mengerti malah mengerti dirimu. Dunia terbalik, payah!

Hal-hal yang seharusnya kau berikan dan kau mengerti malah kau yang menerima kebaikan dari itu semua. Hey, perempuan itu lebih baik kau enyah. Kenapa harus mati karena tanggung jawab tapi kau malah bersenang-senang dan menikmati hidup dengan foya-foya. Suatu hari entah di hari yang kapan, akankah akan mendapatkan apa yang kau tabur? Seperti dunia terbalik yang sudah kau lakukan.

Siapa yang harus bersikap seperti tuan rumah malah merasa seperti tamu yang harus dilayani, belakangan hanya ada luka yang tersimpan di dalam memori. Kenapa akan berakhir menjadi pembicaraan yang buruk ketika melakukan percakapan dengan perempuan itu.

Bersama perempuan itu entah sampai kapan akan selesai. Seperti berada di musim yang kering seperti daun yang berterbangan tanpa arah, tidak berguna sama sekali.

***

Rantauprapat, 14 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 


Rabu, 13 Mei 2026

Perempuan Itu dan Keangkuhannya

Kulturtava
...

Benar memang terhadap perempuan itu sudah terbiasa kecewa, sampai hal yang di luar nalar juga sudah terbiasa kecewa. Tapi tetap saja jika dilakukan dengan sengaja itu sangat menyakitkan. Malam hari ini hari ketiga belas bulan kelima, menangis dalam diam karena tidak bisa menyelesaikan tanggung jawab. Sulit untuk menari-nari dalam sukacita dan kedamaian. Dengan perempuan itu belum merdeka sampai dengan malam ini. 

Ada yang mengatakan kecewa secukupnya sehingga tidak timbul rasa sakit yang berlebih, barangkali itu benar tapi untuk malam ini itu sudah di aplikasikan. Entah kepada siapa lagi harus bercerita,  apakah beban ini harus ditanggung seorang diri. Siapa yang akan merangkul kita, perempuan itu hanya sibuk, di bawah matahari segala masalah bertambah jadi rumit dan sukar, tidak ambil pusing.

Dari perempuan itu belajar banyak hal, ternyata tidak semua ibu membutuhkan ibu, kemudian belajar untuk mengakrabi duka dan kesenjangan ekonomi. Sudah menahan diri untuk tidak terlalu dekat tapi tetap saja gagal karena perempuan itu selalu berkata itu tanggung jawabmu. Miris bukan, Karena untuk berdiri dan berjalan saja sulit apalagi mengerjakan hal yang lain sehingga setiap apa yang perempuan itu katakan, sedapat mungkin diam dan berkompromi.

Apakah harus mati karena tanggung jawab atau malah mati karena cinta?

Kenapa harus ada di cerita perempuan itu dan keangkuhannya. Seandainya saja kehidupan bisa dipilih tidak pernah mau berelasi dengan seseorang seperti perempuan itu. Bukan hanya fisik yang terluka dan bukan hanya fisik yang disabilitas namun mental dan jiwa juga hampir menuju disabilitas karena perempuan itu. Seperti tidak semua pertanyaan ada jawabannya mungkin juga seperti itulah, kenapa bisa berelasi dengan perempuan itu tak ada jawabannya.

Ini kisah yang belum tuntas dan cerita yang tidak penting juga karena di dalam cerita ini adalah manusia-manusia lemah yang berisik yang barangkali juga akan mati karena cinta dan tanggung jawab, yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab seutuhnya, demikianlah hidup yang harus dijalani.

***

Rantauprapat, 13 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 10 Mei 2026

Cerita-cerita yang Tidak Penting

Pexels.com 
...

Jika memaksakan diri sepertinya terlalu melelahkan, namun untuk menahan diri pun hanya menyakiti diri sendiri. Apakah harus selalu berkorban dan berkompromi, menciptakan helaian kenangan yang tidak begitu baik. Ini adalah cerita-cerita yang tidak penting namun berisik. 

Ini seperti dosa yang merayu dalam cerita-cerita yang tidak penting, selaksa kenangan yang kehabisan energi dan kesadaran diri. Ternyata tidak ada kata saling, yang ada malah ego yang merajalela. Seperti kidung yang memberikan narasi patah hati. 

Kenapa tidak belajar dari drama-drama lalu, dan beberapa jam lalu adalah kebodohan yang seharusnya tidak terjadi, menjadi kata-kata yang sia-sia, tidak peduli dan hanya membiarkan menjadi angin berlalu. Kepada perempuan itu, kenapa engkau masih seperti itu. Kau adalah prosa yang menyakitkan, huruf-huruf yang mati, puisi yang tidak akan pernah selesai.

Kau seperti menyalakan bara, plot twistnya kau sudah menjadi ibu tapi malah bersikap seperti itu kepada seseorang yang kau panggil ibu. Barangkali cerita-cerita yang tidak penting ini adalah chapter yang tidak akan pernah selesai dan menjadi drama-drama yang gagu dalam hidup. Kepada perempuan itu, berbaliklah jika masih bisa. 

Hidup terlalu singkat untuk berakhir menjadi kolase yang berujung kalah pada padang ilalang penyesalan dan memilih tidur pada musium patah hati yang gagu dan batu.

***

Rantauprapat, 10 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 06 Mei 2026

Hidup Memang Selucu Itu Bukan

Foto pribadi 
...

Pura-pura siap kehilangan ternyata bullshit, lebih baik dari awal yang tidak pernah bersama. Terlalu meresahkan bersama manusia-manusia lemah lagi berisik apalagi bertingkah seperti bajingan.  Ada susah tapi barangkali tidak ada tidak jauh lebih susah tapi kenapa begitu sudah melepaskan. Malah membiarkan tontonan demi tontonan atas keributan demi keributan. Aneh!

Lantas mau berapa lama lagi atau berapa banyak waktu lagi yang diperlukan untuk melihat tontonan ini. Sudah berpuluh tahun hampir mati karena tingkah konyol dari manusia-manusia ini. Seandainya bisa memilih tapi kehidupan ini bukan kita yang punya. Barangkali hidup memang selucu itu bukan, terlalu batuk tidak menghargai makna hidup.

Sesak dada ini, serpihan demi serpihan luka yang diberikan hanya bisa ditahan dan tak bisa bersuara, kenapa harus dikelilingi oleh manusia-manusia seperti ini. Apakah manusia-manusia seperti ini tidak bisa tenang teduh, mungkin juga damai yang diperlihatkan belakangan habis sekedar pura-pura karena berbicara tentang duit dan duit. Menjengkelkan.

Kenapa hidup harus selucu ini, mempermainkan dan memporak-porandakan hati. Tidak ada cinta, memaksakan bersama, memberikan banyak luka, barangkali kesialan memang harus terkurung dengan kamar sempit hampir dua puluh empat jam penuh, melihat dan mendengar segala kebodohan dan kebodohan yang terjadi. Hidup memang selucu itu bukan, teramat lucu hingga tertawa pun tidak bisa.

Ah, entahlah. Sungguh sudah lama berharap, lebih baik manusia-manusia seperti ini di bumi hanguskan tapi tidak tahu apakah yang diharapkan ini benar-benar akan terjadi cepat atau tidak sama sekali. 

***

Rantauprapat, 06 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 04 Mei 2026

Perempuan yang Bersembunyi di Balik Kata-kata

Kulturtava 
...

Berapa lama dan banyak lagi pun waktu untuk menerima luka-luka yang engkau jaga, atas nama janji akan diterima, karena ada luka yang tak dimengerti karena tidak pernah mengalami luka itu. Terkadang, banyak hal-hal yang tidak perlu engkau rasakan pun akhirnya terasa juga padamu. 

Namun yang menyakitkan, engkau lebih banyak bercerita kepada orang lain. Membuka aib dan hal-hal yang tidak perlu kepada khalayak yang tidak perlu tahu sebenarnya. Bingung sebenarnya, bener memang engkau perempuan yang tidak menyerah pada kalah tapi engkau juga perempuan yang bersembunyi di balik kata-kata "itulah kekuranganku".

Pada kebenarannya, bukannya engkau adalah semua rumah, tempat pulang, harusnya begitu namun apakah karena luka-lukamu atau karena apa yang kau sembunyikan, entah ketakutanmu entah juga keangkuhan sebenarnya, rumah bukan menjadi rumah lagi. Dan kini kadang kala engkau menjadi perempuan yang tidak pernah terbaca.

Atas nama janji, akan tetap menghargai dan menerima, walau seringkali juga kepahitan yang diterima darimu. Perempuan yang bersembunyi di balik kata-kata, adalah seseorang yang takkan pernah terlupa dan tergantikan dan lebih kepada penerimaan, sebab serpihan-serpihan hati yang pernah engkau terima bahkan masih engkau terima belum terjangkau oleh akan pikiran. 

Dari bulan pertama hingga kedua belas sepanjang tahun, bukankah selayak dan sepatutnya tidak setiap hal harus diceritakan, karena akan banyak si pahit lidah yang menjadi bumerang dan batu sandungan, kepada perempuan yang masih sampai saat ini bersembunyi di balik kata-kata "inilah kekuranganku" lebih baik menahan diri dan tidak bercerita tentang hal-hal yang tidak perlu untuk dikonsumsi hingga menjadi artikel utama dan menjadi pergunjingan pun akhirnya menjadi luka-luka yang akan engkau jaga.

***

Rantauprapat, 04 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu 

Jumat, 01 Mei 2026

Perempuan yang Tidak Akan Pernah Terbaca

Unsplash 
...

Menangis, percaya atau tidak perempuan itu mengharapkan kedatangan. Ingin terlihat mandiri dan tangguh tapi karena nihil, di segala keterbatasan belakangan ini, barangkali butuh ekstra lebih untuk menerima perhatian. Perempuan yang tidak akan pernah terbaca, terkadang A terkadang B, melihat dan mendengar keluh kesah, seperti ada di persimpangan hati, menjadi sadar untuk menjaga jarak lebih baik.

Barangkali perempuan itu tidak bisa tidur atau tidak pernah benar-benar tidur, ia merasa terluka, dan berkata apa karena aku miskin, sesak dada mendengar itu. Karena masih aku ada kalian berharga, perempuan itu berkata. Seketika air mata ini mengalir, berharap masih ada kesempatan dan tidak memiliki penyesalan yang akan menghantui seumur hidup.

Perempuan itu adalah perempuan yang tidak akan pernah terbaca. Ia menyimpan cerita, cerita yang tidak seluruhnya diketahui. Luka-luka dan kegetiran hidup. Hari ini perempuan itu seperti ada di tempat angker, padahal seharusnya tidak demikian. Karena perempuan yang tidak terbaca itu adalah artikel pilihan dan seharusnya menjadi artikel utama yang diminati tapi pada kenyataannya itu bohong.

Lebih baik menjauh dan menahan diri.

Di perjalanan perempuan itu, masih belajar hidup dengan segala emosi, seni dan rasa sakit, perempuan yang tidak terbaca itu bukan karena tidak pantas menjadi artikel utama tapi karena banyak hal-hal yang tidak penting dan yang tak perlu menjerat perempuan itu. Dan semoga tidak ada penyesalan sebab beranggapan perempuan itu adalah bagian yang tidak penting.

Dan setelah ini, ingin melihat perempuan itu tersenyum di balik rasa sakit yang ia rasakan. Sebisa dan semampu mungkin, ingin perempuan itu dirayakan. Karena perempuan yang tidak terbaca itu adalah tempat pulang dan kampung halaman, selagi masih ada waktu dan kesempatan. Harus terus mencintai perempuan itu. Dan berusaha tidak lagi menyakiti. 

Ini adalah hujan Mei bagi perempuan itu, yang pasti dan terpenting segala hal tentang perempuan yang tidak terbaca itu adalah tidak pernah biasa-biasa saja. Perempuan yang tidak pernah terbaca itu adalah sebuah alasan untuk terus berjuang dan menikmati hidup dengan segala seni di dalamnya. 

***

Rantauprapat, 01 Mei 2026

Lusy Mariana Pasaribu