Selasa, 26 April 2022

Perempuan Itu dan Ketidakhati-hatian

@kulturtava
...
Perempuan itu yang memulai, aku yang mengalami patah hati. Ada apa denganku? Terlalu bodoh atau terlalu melankolis. Lagi, perempuan itu mengulang masa lalu. Melakukan ketidakhati-hatian dengan sadar. Menjadi onak duri pada gandum yang menaungi.

Tak ada hujan apalagi petir, kenyataan yang perempuan itu bawa buatku lesap seketika dari kesadaran. Malam ini, kisah yang dahulu kembali terulang. Dejavu yang menyebabkan rasa sakit. Ah, mestinya ini tidak terjadi lagi. Sungguh tidak terpikir olehku, perempuan itu kembali dalam jerat rayuan keinginan-keinginan bodoh. Perempuan itu dan ketidakhati-hatian yang dilakukan adalah artikel utama di akhir Aprilku. Menyebalkan.

Ada kesedihan, luka, ketidakpercayaan yang terjadi sebab ketidakhati-hatian perempuan itu. Kenapa dan kenapa? Kenapa perempuan itu memilih jalan yang sesat? Pertanyaan yang mengusik kepalaku malam ini, mungkin juga malam-malam berikutnya yang entah sampai kapan. Pertanyaan yang tidak akan pernah memiliki penjelasan apa pun. Hu. 

Selepas yang terjadi malam ini, aku ingin memblack list perempuan itu dari hati. Benar-benar ingin. Entah ingin itu berhasil entah tidak. Yang pasti, aku memutuskan untuk tidak ikut lagi berkompromi dengan ketidakhati-hatian perempuan itu lagi.  Aku tidak mau kehilangan kewarasan sebab perempuan itu. 

***
Rantauprapat, 26 April 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 16 April 2022

Perempuan Itu dan Kisah Cinta yang Ganjil

@kulturtava
...
Ucapan anda hari ini memberi kesadaran. Anda dan perempuan itu berujung "Tak". Tidak lagi berteduh pada harapan akan anda. Ini bukan lagi tentang berjarak pada waktu yang tak satu waktu, lebih kepada undang-undang moral. 

Kini, perempuan itu harus mampu ikhlas. Tak layak untuk merdeka mencintai cinta orang lain. Anda memilih bahagia bersama yang lain. 

Kisah cinta yang ganjil antara anda dan perempuan itu telah sudah. Kebenarannya, satu hati, satu cinta, satu perempuan. Luka dan kesadaran ternyata mampu membuat hidup terasa hidup, perempuan itu hari ini mampu menertawakan diri sendiri. Cinta, rasa dari memori rumit. Perpisahan tak semenyakitkan itu, perempuan itu dan kisah cinta yang ganjil berakhir tanpa saling memusuhi. Tak lagi ada kebencian, tak lagi merasa paling benar. 

Jujur, sebelum hari ini, sebelum apa yang anda bukakan, perempuan itu masih berkali-kali berharap dijadikan rumah oleh anda. Selepas ucap dari anda, itu hanya harap yang tidak bisa lagi diharapkan. Entah kebetulan, entah tidak, hari ini pun tepat sebulan sesudah hari lahir  perempuan itu dan bulan ini, bulan dimana anda dilahirkan.

Perempuan itu akan menerima bahwa kisah cinta tak selalu indah, perlu penerimaan dan rasa maaf.  Anda hanyalah kenangan yang pernah menawarkan bahagia. Persinggahan sesaat. Seperti intermezo. Ah, begitulah cinta.

***
Rantauprapat, 16 April 2022
Lusy Mariana Pasaribu