Jumat, 15 Maret 2024

Balada Perempuan Itu

@kulturtava
***

Cuaca yang sedang menghampiri perempuan itu hujan deras pun akan disertai badai kencang. Ia kehilangan kepercayaan, rapuh. Ini bukan lagi tentang disabilitas, ini lebih dari itu.

Entah apa lagi yang harus perempuan itu lakukan?

Tersudut walau bukan karena taburan yang ia perbuat. Tak mampu bersuara, hanya menangis di dalam kamarnya yang sempit lagi pengap.

Lingkaran di mana perempuan itu berada, adalah dunia yang penuh dengan tipu.

Sisa hari ini terlalu panjang untuk dilewati, perempuan itu penuh dengan banyak ketakutan. Ia tak pernah ingin menjadi seperti ini, terlebih bukan sejak lahir menjadi anak berkebutuhan khusus. 

Kini, untuk berdiri apa lagi berlarian saja ia tidak lagi mampu. Ada banyak luka di perempuan itu, tapi tidak akan ada yang peduli. Tak ada yang pernah terasa mudah untuk ia. Boom, banyak ledekan, ledakan, kisah yang tidak pernah boleh keluar dari dirinya.

Bagaimana dengan esok hari? Hari yang seharusnya ia dirayakan, sepertinya semua hanya nol untuk perempuan itu. Ia kelaparan bahkan kehausan kasih juga penerimaan. Apakah akan ada cinta yang tersesat untuk ia di kemudian hari? Ah, entahlah.

Ia sudah terlalu lelah, namun untuk bercerita saja tak memiliki tempat untuk itu. Ini adalah balada perempuan itu, berharap esok ia akan baik-baik saja, setidaknya satu hari saja, hari di mana ia harus dirayakan.

***

Rantauprapat, 15 Maret 2024

Lusy Mariana Pasaribu 


Minggu, 10 Maret 2024

Ah, Entahlah

@kulturtava
***

Sungguh, akan menjadi kesusahan diri! Bersekutu dengan sesuatu yang asing, sekedar formalitas untuk apa?

D*mn. Borjong!

Berantakan yang diciptakan sendiri. Sebenar dan sejujurnya muak dengan semua ini. Perayaan yang membosankan. Bukan lagi kata-kata yang sekedar kata, ini lebih dari itu.

Kali ini bukan hanya gerimis tapi hujan deras yang disertai batu. Antara komedi dan tekanan hidup. Kanan dan kiri tersudutkan.

Ada kesedihan diam-diam yang nyata. Ini pun menjadi musim yang tidak akan terurai dengan baik. Ah, entahlah. Hanya keheningan yang ada, tidak ada kepedulian. 

Cerita duka masa lalu belum sembuh, kini akan ada luka baru. Siapa yang mampu merangkul, pertanyaan yang gak akan ada jawaban. Inilah duka yang harus dirasakan dan belajar untuk diterima. 

Yang mana di sebut rumah? Hanya ada tanah gersang. Boom, ledakan besar akan terjadi. Kepiting kecil yang malang. Kisah yang tak akan pernah selesai hingga ada perpisahan yang abadi.

***

Rantauprapat, 10 Maret 2024

Lusy Mariana Pasaribu