Minggu, 31 Agustus 2025

Adakah Bahasa Cinta yang Tersisa?

@Kulturtava
...

Hari ketiga puluh satu bulan kedelapan malam ini, parah bahkan benar-benar parah. Perkataan yang toxic. Jika benar-benar harus berakhir, lebih baik berakhir. Yang ada bualan, omong kosong. 

Adakah bahasa cinta yang tersisa? Sudah tidak ada dari puluhan tahun barangkali, kenapa harus memaksakan? Kemudian yang lain jadi korban. Di mana tanggung jawab yang harus ada? Fisik sudah mengalami disabilitas karena tidak ada tanggung jawab. Apakah nurani harus juga mengalami disabilitas?

Nyeri ulu hati juga tak ada bahagia yang tercipta. Kejadian yang sama terus berulang terus berulang sampai puluhan tahun. Tidak ada kabar baik yang ditunggu.  Karena kalau tidak dalam hari, dalam minggu, dalam bulan pasti saja ada ketoksikan yang terjadi. Terbukti, malam ini kejadian yang sama terulang. Jejak keburukan ada dalam rekam jejak malam ini.

Ada saja luka yang tertinggal. Lantas, sudahkah menjadi puas ketika akan sendiri. Ketika akan tinggal meninggal, seperti judul film yang ada. Adakah bahasa cinta yang tersisa? Jika benar-benar kematian akan terjadi. Ini merupakan kemarau panjang yang sepertinya tidak memiliki ujung. Inikah yang akan terus terlihat dan terasa? Benar-benar melelahkan, hanya mementingkan ego. Penuh dusta. 

Malam ini kembali berduka dan tidak ada yang berbelasungkawa. Duka sendirian dan tak ada bahasa cinta yang tersisa. Entah Seperti apa menghabiskan sisa malam ini, tapi lebih takut jika masih dipercayakan hari esok dan memulai pagi hari, pagi hari yang benar-benar pagi atau pagi hari yang akan menjadi seperti malam kelam? Entahlah.

***

Rantauprapat, 31 Agustus 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 11 Agustus 2025

Lagi, Seperti Dosa Berjalan

@Kulturtava 
...

Setelan sembilan hari di bulan ke delapan, tanpa ada cinta dan tenang teduh, ada kebaikan yang terlihat sebentar di hari ke sepuluh ternyata itu hanya tipu muslihat, pagi hari di hari ke sebelas, menjadi pagi kelam seperti malam yang tanpa hujung.

Lagi, seperti dosa berjalan hari ini. Hanya menuntut dan mau dimengerti, ini sejarah kematian, andai saja terjadi dan sang pemilik hidup mengizinkan benar-benar ada kematian dan nafas yang tidak ada, apakah itu benar-benar yang di mau? apakah itu sudah memuaskan hasrat dan jiwa

Inj bukan jalan yang benar karena ini bukan saling menguatkan tapi menjatuhkan. Saling memandang remeh dan merendahkan. Ini badai di hidup. Ingin keluar dari lingkungan toxic, tapi ini relasi pertama dan disabilitas yang mengganggu. Terlalu banyak resah dan dusta,  seperti dosa berjalan.

Antara mati dan hidup, selalu terkurung di kamar kecil yang sempit dan pengap. Mendengar dan melihat keributan demi keributan yang tak kunjung terselesaikan, barangkali sampai ada kematian yang benar-benar terjadi. Ini masih pagi tapi seperti malam yang benar-benar malam. Bahkan untuk melalui sepanjang hari ini pun tidak tahu dan tidak akan mampu untuk berpura-pura bodoh dan kuat.

Benar-benar berisik, sementara itu untuk melintasi riuh dan sepi dari keributan yang berisik, butuh energi yang benar-benar ekstra. Ini catatan hati yang menjadi pergumulan malam ini, eits keliru, maksudnya pagi ini.

Mungkin nanti, entah di jam yang kapan dan hari yang kapan, dan di cuaca yang bagaimana, akan lebih baik, entah karena keterpaksaan, entah karena kepura-puraan, entah karena kematian yang benar-benar terjadi, tapi semoga akan memang benar-benar akan lebih baik. Karena mendung tak selamanya kelabu.

Lelah tapi apa daya, akan terlihat apakah akan lebih baik atau tidak.  Apakah tetap seperti dosa berjalan atau tidak? Apa penerimaan dan cinta lebih dominan daripada penuntutan dan keegoan?

***

Rantauprapat, 11 Agustus 2025

Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 03 Agustus 2025

Seperti Dosa Berjalan

Freepik
...

Sungguh menginginkan seseorang itu menjadi halaman terakhir bagi perempuan otoriter yang harus dituruti. Seperti sampah yang tidak pernah tuntas dibuang, selalu didaur ulang dan didaur ulang tapi tidak pernah mau kompromi. 

Perempuan otoriter itu seperti dosa berjalan. Selalu menyalakan api perlawanan dan tak pernah kalah mengalah untuk kebaikan. Andai hidup ada tombol touch dan delete, aku memilih mendelete seseorang itu agar perempuan otoriter itu merasa lebih baik walau mungkin sebenarnya tidak.

Aku terbelenggu kehidupan gamang yang kaku, seperti dosa yang berjalan, aku dihantui oleh hari-hari yang seperti itu, tampilan yang skeptis. Bagaimana tidak, perempuan otoriter itu tergenggam ambisi pasti untuk selalu di-iakan. Hanya kabut duka yang terlihat. Aku berada di kegelapan yang gelap sekali.

Berdua tapi tak bersama. Berdua seperti dosa yang berjalan. Sampai beberapa waktu yang lalu aku masih berharap, ada damai sejahtera, ada tenang teduh. Tapi itu hanya harapan belaka karena yang terjadi adalah kehidupan yang lagi-lagi skeptis.

Ini bukan juga soal penerimaan. Ini lebih kepada dosa berjalan karena perempuan otoriter itu. Perempuan itu kalah karena seseorang yang dipilih. Menanam banyak perkara di hatinya dengan cemara demi cemara yang dibangun.

Dan aku, pada suatu hari, bisa merdeka pada hal yang belum merdeka. Dan tidak jatuh pada dosa berjalan yang nyata-nyata kulihat dan kudengar. Pun aku serta isi kepalaku tidak selalu berisik tentang ekspektasi-ekspektasi yang belum terjadi. Ini catatanku di hari ketiga bulan kedelapan tahun ini. 

***

Rantauprapat, 03 Agustus 2025

Lusy Mariana Pasaribu