Merindukan Hening yang Terlupa. Tak ada tangan yang tergenggam, terbakar oleh kecemasan yang disengaja. Banyak jalan yang hilang, tidak memilih kata-kata yang terucap. Tidak bisa membantah.
Bagaimana dapat membantah? Terlalu semena-mena, hanya memperbanyak luka. Tlah lama dibumihanguskan, seperti malam yang kehilangan rembulan, bumi yang menggigil. Terlalu berisik dengan ketakutan.
Seolah-olah tidak pernah ada, tidak pernah penting, padahal seharusnya menjadi yang dipertahankan, kini merindukan hening yang di bumihanguskan, menghembuskan nafas sudah terasa sulit.
Ah, kenapa harus terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Kenapa harus dicuri hening dan sengaja memberi keributan dalam diam dan tatapan. Membuat meraba-raba dalam diam di kegelapan yang tidak ada terangnya.
Apakah harus menjadi orang yang layu rapuh seperti kayu lapuk? Dan masih merindukan hening yang terlupa, pada suatu pagi dan pada suatu malam yang lain mencoba melepaskan walau sulit. Tidak mau seperti kain yang akan dimakan gegat!
Apalagi karena diri sendiri membiarkan jiwa berduka cita dan menjadi hina.
***
Rantauprapat, 01 Juni 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar