Rabu, 29 September 2021

Yakni pada Hari Itu

@kulturtava
...
Dan hari ini saya melihat sesuatu bagaikan  kilatan petir, dan itu di tengah kemarau. Sejarah dahulu kembali terulang. Yakni pada hari itu, terbelenggu. Tempat yang harusnya menjadi penerimaan malah menjadi tempat yang paling menyedihkan. Ada perpisahan tanpa kata. 

Pagi hari ini tak seperti pagi yang seharusnya. Saya lelah. Terlalu banyak drama, kamuflase, kesombongan yang menjulang. Tak ada udara pagi yang berhembus dengan baik. Ingin memberontak tapi saya tidak berdaya. Beku oleh disabilitas fisik pun nurani. Entah siapa yang seharusnya dibela dan disalahkan.

Yakni pada hari itu, sudah terlalu banyak luka. Mau berapa dasawarsa lagi harus merasakan luka ini lagi. Kepada siapa saya harus berkeluh kesah? Apakah hujan sulit untuk benar-benar selesai di dunia saya? Sudah terlalu lelah berlari dari nyata hidup, sudah terlalu lelah juga membiarkan diri menjadi korban kebodohan.

Hey, kamu yang sedang saya perjuangkan. Tentang kamu yang saya namakan harapan. Akankah kamu akan mendekat? Berharap demikian. Sehingga sejarah yang dahulu, yakni pada hari itu bisa sedikit terlupa dan terabaikan. Lebih baik saya berjuang walau terbatas dari pada saya menyerah kalah karena takut. 

Kepala saya berat karena derita. Terlampau sakit. Saya tahu, tidak bisa saya menyalahkan kelahiran saya. Yakni pada hari itu, ketika saya ada di muka bumi. Entah itu karena cinta yang paling bahagia, entah tidak. Yang saya tahu, saya adalah keterbatasan yang membutuhkan ketidakterbatasan Tuhan. 

Pada buku dan halaman kehidupan.
Saya masih menanti kesadaran juga penerimaan diri yang benar-benar benar. Sungguh! 

Juga luka pada hari itu akan berguguran. Saya akan basah dalam pemeliharaan Tuhan. Basah oleh hujan berkat.

***
Rantauprapat, 29 September 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Kamis, 16 September 2021

Adalah Baik

@kulturtava
...

Untuk perempuan itu,

Lama tak bertemu dengan keyakinan, perempuan itu malah meloloskan diri dari kebenaran. Sulit berkata tidak untuk tidak. Digelayutberati kebimbangraguan. Pernah bukan berarti, akan ada tangis yang akan menjadi longgur jika ia tidak memutuskan untuk mengambil tikungan yang lain. 

Adalah baik bagi perempuan itu untuk berhenti. Berhenti diam-diam mencicipi dosa saat dosa itu merayu lagi. Berhenti berzinah dengan anggota tubuhnya, saat ia menyerahkan diri sendiri menjadi korban permainan hidup. Perempuan itu bodoh memang,  Hanya karena marah dan terluka pada kemalangan, ia malah jatuh kepada jejak lain yang salah. Hari ini ia seperti ini, besok ia seperti itu. 

Perempuan itu gila bukan
Mencintai cinta orang lain.
Bahkan diam-diam merasa bahagia jika sudah mendengar suara kendaraan bermotor cinta orang lain itu.
Yang lebih parah, perempuan itu tahu jika telepon genggam yang ia punya bergetar lebih dari sekali, pasti yang menghubungi adalah si cintanya orang lain. Karena ia tidak akan berani memberi kabar lebih dulu, sekalipun ia rindu.

Ah, karena sebenarnya perempuan itu tahu ia salah. Begitulah perempuan itu terjerat pada hasrat yang menggoda. Ia gagal memiliki the power of no. Lama sudah seperti itu. Bukankah itu menunjukkan bahwa itu bukan cinta. Hanya pelarian, lari dari kemalangan dan terjebak dalam kemalangan yang lebih dalam. Menimbulkan penyesalan yang tak termaafkaan.

Adalah baik bagi perempuan itu untuk benar-benar berhenti dan menyudahi kisah yang harusnya tak pernah dimulai. Kisah bersama jejak lain yang berbahaya. Selagi ia masih bernafas dan selama bumi masih ada, saat perempuan itu mencicipi dosa bukankah Tuhan masih memberi kesempatan untuk berbalik.

Karena jika kesempatan untuk berhenti sudah menjauh, itu sudah sangat mengerikan. Berbahaya. Dan benar, adalah baik untuk berhenti mencintai cinta orang lain selagi ada kesempatan dan itu pilihan yang harus dipilih. Apakah suatu hari nanti, perempuan itu tidak lagi bodoh?  Bukan-bukan, ia harus benar-benar berhenti dari kebodohan itu sekarang. Boom, karena hidup tidak semata-mata tentang perempuan itu. Sebenarnya ia lelah menjadi brengs*k.

***
Rantauprapat, 16 September 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Ini Tentang Kamu yang Saya Namakan Harapan

@kulturtava
...
Hari itu dan hari ini menjadi sebuah harapan yang saya semogakan. Ini tentang kamu yang saya namakan harapan, bahkan untuk tiga belas hari kedepan, tepatnya tanggal dua puluh tiga September, kamu akan menjadi hujan berkat untuk saya. Sungguh jantung saya berdegub kencang, apakah saya kamu akan menjadi bagian yang utuh dan menakjubkan.

Biarkan saya mengerjakan bagian saya, selebihnya saya percayakan pada Sang Maha Sempurna, pemilik hidup saya. 

Sungguh ingin menyingkirkan ketakutan yang ada. Karena ketakutan tidak menambah sehasta apa pun dalam hidup, saya ingat itu tapi sulit untuk tidak baper terhadap hal ini. Ingin merdeka bersama kamu, berharap saya ada pemeliharaan Tuhan untuk menggapai kamu. Apakah saya mampu percaya? Ya, saya mampu. Kamu akan ada di perjalanan dunia saya. Menjadi rutinitas yang memberikan nada-nada indah. Salah satu peran terbaik di hari-hari saya. 

Saya ingin menangis bahagia kali ini, jika kamu benar-benar menghampiri saya. Namun demikian, jika saya kamu gagal menjadi kita, saya tidak akan membiarkan patah hati yang kebablasan merajai diri saya. Mungkin kamu adalah harapan yang berujung pada kepedihan. 

Itu kemungkinan yang tidak saya inginkan. Karena ini tentang kamu yang saya namakan harapan dan kerinduan perihal kebahagiaan dan senyum dari banyak wajah. Benar-benar mau menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh dengan adanya kamu.

Berharap akan itu. 

***
Rantauprapat, 10 September 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Bukan, Aku Tidak!

@kulturtava
...
Tidak pernah sekalipun aku ingin seperti ini. Menuai apa yang tidak kutabur. Bukan pula, aku menuntut penerimaan lebih. Hidup seakan tak hidup. Baper yang kebablasan tidur dengan nyenyak di zona hatiku. Ingin menyingkirkan perasaan yang tidak layak ini tapi belum merdeka.

Bukan, aku tidak. Aku tidak pernah berharap berbeda dari yang lain. Nyatanya aku berbeda. Sudah berpuluh tahun membiasakan diri terhadap hal-hal ini, ah masih saja sulit. Tidak tahu harus marah kepada siapa, menyalahkan siapa. 

Bagaimna perasaanku hari ini? Yang ada, harus menahan diri dari kesukaran. Tak akan ada yang benar-benar memberikan penerimaan. Bukan, aku tidak! Bukan aku tidak bersyukur, masih bernafas hari ini. Saat hari menjadi murung, aku menjadi lupa bersyukur, aku ingin mati dan berada di entah. Keluhan yang hanya aku sendiri yang boleh tahu. 

Ini menjadi awal pekan yang panjang. Tadinya berharap ada cinta hari ini, lagi-lagi aku keliru. Ada yang berkata, mendung tak selamanya kelabu. Entah kapan mendung itu tak kelabu di musim duniaku! Sesegera mungkin, berharap akan itu! 

Aku tahu aku berbeda. 
Tetapi, aku masih perempuan dewasa yang ingin merasakan hal-hal baik yang perempuan dewasa lain rasakan.

Tak mau menjadi :
kering
layu, dan
merasakan kemarau hingga mati sia-sia.

Ini sketsa tentang kepatahan disertai dengan hujan. 

Bukan, aku tidak. Aku tidak ingin kepatahan ini menjadi kepahitan. Bukankah ini masih tentang pilihan. Aku memilih untuk menyepi dan berdamai dengan hiruk-pikuk cinta dan hidup. 

Apakah aku mampu percaya? 
Walau sulit, ya aku mampu. Ingin melepaskan kesesakan, mengakhiri patah hati di hari yang dingin ini. Memiliki cinta yang benar-benar benar. 

***
Rantauprapat, 13 September 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Rabu, 01 September 2021

Perempuan Itu Mau Menjadi Perempuan Dewasa yang Bertumbuh dengan Benar

@kulturtava
...
Bodoh. Perempuan itu bodoh, menyakiti cahaya yang seharusnya tidak ia sakiti. Ia tidak merdeka dari ekspektasi yang ia bangun, baper yang kebablasan merajai diri. Hilang dari pemeliharaan Tuhan.

Terlalu banyak pilu karena tidak berdamai dengan keadaan. Memilih menjadi malang. Sementara di persimpangan jalan, pelaku kejahatan pun pembunuh karakter itu malah tidak ambil perduli, lantas untuk apa menyerahkan diri menjadi korban permainan yang payah. Hu!

Di mana damai sejahtera? 
Perempuan itu tidak menemukannya 
Bahkan ia menyenangi kesendirian, kehilangan percakapan yang berenergi.

Seperti ada tertulis, jangan berikan mutiara pada bab*. Sungguh perempuan itu ingin, pelaku kejahatan itu mengalami itu, lagi-lagi ingin perempuan itu bukan inginnya Tuhan. Terbukti, karena cinta itu buta, pelaku kejahatan itu malah mendapatkan kebaikan yang tidak terduga dari perempuan yang ada di lingkaran hidup perempuan itu, walau sebenarnya itu sudah menumpahkan 'bara api' di atas kepala pelaku kejahatan itu. 

Andai pelaku kejahatan itu sadar. 
Bukankah itu salah satu ketidakadilan dari teka-teki zaman yang sempurna.

Perempuan itu marah. 
Menuntut. Padahal sesungguhnya ia tidak berhak untuk itu.  Dan malam tadi, perempuan itu tersentuh atas tekanan yang ia terima. Ia tidak mau mempertahankan gengsi yang ujungnya akan membuat ia membual.  Perempuan itu seolah telah berada di lorong terang. Lepaskan, karena kau yang akan sakit dan terluka jika menyimpan kebencian di hatimu. Lama sudah perkataan itu ia dengar, dan malam tadi perkataan itu benar-benar hidup. Dan ia memutuskan untuk melakukan itu, sulit pasti namun bukan tak bisa dilakukan. Pada Yang Maha Sempurna, ia menyampaikan kerinduan hatinya.

Perempuan itu tidak ingin membunuh Tuhan juga kesehatan perasaanya karena hal yang salah lagi sia-sia. Kesempatan kali ini, ia ingin benar-benar berhenti dari kebodohan dan kembali lagi merasakan pemeliharaan Tuhan dalam lorong terang yang bersinar. Perempuan itu mau menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh dengan benar.

Ya, perempuan itu aku. 

***
Rantauprapat, 23, 30-31 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Aku Rindu Kita

@kulturtava
...
Aku menyesal
Perihal kita yang sudah ku sia-siakan 
Aku mencintaimu tapi tak berani melangkah bersamamu, tak berani memperjuangkan cintamu

Kau pernah ingin merangkul dan seirama denganku, tapi aku terlalu takut terhadap diriku sendiri 

Kini, hanya kesendirian yang menjadi teman hidupku 
Aku seringkali hanya membiarkan diriku berpura-pura bahagia tanpamu
Seolah-olah aku baik-baik saja, tapi aku menipu diriku sendiri
Aku kalah
Aku hancur
Aku terpuruk 

Aku rindu kita
Rindu aroma dan perjamuan istimewa yang tercipta karena cintamu
Tapi, aku tak lagi berdaya menggapaimu

Ini adalah kesalahanku
Hanya hari-hari penuh kesunyian yang kupersembahkan pada diriku sendiri 
Pagi dan malamku tak lagi menjadi pagi dan malam yang dipenuhi kebahagiaan

Aku pun tak tahu, apakah aku akan kembali diberi kesempatan tuk mencintai dan dicintai
Ini sungguh hal yang menakutkan bagiku, aku takut seseorang sepertiku adalah seseorang yang akan selalu menuai cerita cinta yang penuh kesunyian di dalam hidup

***
Rantauprapat, 31 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu