Pura-pura siap kehilangan ternyata bullshit, lebih baik dari awal yang tidak pernah bersama. Terlalu meresahkan bersama manusia-manusia lemah lagi berisik apalagi bertingkah seperti bajingan. Ada susah tapi barangkali tidak ada tidak jauh lebih susah tapi kenapa begitu sudah melepaskan. Malah membiarkan tontonan demi tontonan atas keributan demi keributan. Aneh!
Lantas mau berapa lama lagi atau berapa banyak waktu lagi yang diperlukan untuk melihat tontonan ini. Sudah berpuluh tahun hampir mati karena tingkah konyol dari manusia-manusia ini. Seandainya bisa memilih tapi kehidupan ini bukan kita yang punya. Barangkali hidup memang selucu itu bukan, terlalu batuk tidak menghargai makna hidup.
Sesak dada ini, serpihan demi serpihan luka yang diberikan hanya bisa ditahan dan tak bisa bersuara, kenapa harus dikelilingi oleh manusia-manusia seperti ini. Apakah manusia-manusia seperti ini tidak bisa tenang teduh, mungkin juga damai yang diperlihatkan belakangan habis sekedar pura-pura karena berbicara tentang duit dan duit. Menjengkelkan.
Kenapa hidup harus selucu ini, mempermainkan dan memporak-porandakan hati. Tidak ada cinta, memaksakan bersama, memberikan banyak luka, barangkali kesialan memang harus terkurung dengan kamar sempit hampir dua puluh empat jam penuh, melihat dan mendengar segala kebodohan dan kebodohan yang terjadi. Hidup memang selucu itu bukan, teramat lucu hingga tertawa pun tidak bisa.
Ah, entahlah. Sungguh sudah lama berharap, lebih baik manusia-manusia seperti ini di bumi hanguskan tapi tidak tahu apakah yang diharapkan ini benar-benar akan terjadi cepat atau tidak sama sekali.
***
Rantauprapat, 06 Mei 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar