Jumat, 23 April 2021

Pada Segala Patah Hati, Aku Ingin Memiliki Penerimaan

@kulturtava
...
Bukan pernah aku sengaja mengingini mengalami kerumitan pun patah hati. Merasakan ratapan pun hari-hari yang aneh. Ya, begitulah hidup. Apa yang tak pernah diinginkan malah menjadi dan memiliki. Dan parahnya itu mengenai patah hati.

Ah. Selama bumi masih ada. Selama aku masih bernafas. Selalu ada luka dan patah hati. Aku pun tak ingin berlama-lama untuk menyangkal itu. Hari ini, terlebih dari sore hingga malam beberapa jam tadi, aku sulit memelihara diri dari kesukaran. Ada keterasingan yang terasa. Huruf-huruf mati seketika merasuk dalam jiwaku. Tak ada lagi cinta malam ini. Tak ada lagi kesediaan untuk dipahami. Tak ada lagi rindu. Entah mengapa, patah hati ini terjerembab pada jiwa dan pikiranku.

Menyebalkan memang. Patah hati karena lagi-lagi ada insinuasi yang kuterima. Begitu pedih. Sejarah yang dahulu kembali terulang. Ingin melepaskan diri. Ingin memberontak, tapi tak berdaya. Inilah ketidakpastian yang sempurna. Teka-teki zaman. Ketidakadilan hidup, penuh ilustrasi yang penuh kepalsuan. 

Namun aku tahu, jika terus berkutat pada patah hati, aku yang terluka. Aku paham, patah yang kurasakan ini, buatku menyadari bahwa aku terbatas dan membutuhkan ketidakterbatasan Sang Maha Sempurna di duniaku. Hingga pada segala patah hati, aku ingin memiliki penerimaan. Belajar menerima kenyataan untuk menerima segala patah hati, sekalipun itu berasal dari gandum yang ada di hatiku. Tidak seharusnya dan tidak benar, jika karena keterbatasanku, aku menuntut lebih atas penerimaan yang kubutuhkan.

Karena hanya aku sendiri yang bisa mengontrol segala rasa yang bergemuruh di jiwaku. Aku sendiri pula yang bisa menyelamatkan kesehatan perasaanku. Dan hanya aku yang bisa mengalahkan patah hati dan mengalami tenang teduh. Sungguh, aku benar-benar tak ingin memiliki perkelahian dengan diriku sendiri. Apa lagi mengalami rasa dari kata Lo Ruhama di Mesopotamia kehidupanku.

***
Lusy Mariana Pasaribu 
Rantauprapat, 23 April 2021

Minggu, 18 April 2021

Lagi, Perempuan Itu dan Sebuah Kisah tentang Kekalahan

@kulturtava
...
Ya, perempuan itu ada di sana. Di dalam rahasia yang tak ingin diketahui. Ada penyesalan yang tak termaafkaan. Saat ia tidak menerima penerimaan, saat ia tidak lagi memahami dirinya sendiri, entah kenapa ia jatuh pada godaan yang merayu. Menikmati waktu senggangnya bersama ratapan lagi hasrat yang bukan milik perempuan itu.

Ada relasi yang terjalin, namun tidak seharusnya terjalin.

Hingga malam kedelapan belas bulan keempat, perempuan itu terhempas. Ia lagi-lagi menerima kenyataan bahwa ia tidak pernah terpilih. Bodoh memang. Getaran kekecewaan segera tumbuh di hati perempuan itu. Ia sadar dari awal telah bermain-main dengan kemalangan. Salah dan keliru. Kalah-mengalah untuk hal yang tidak seharusnya.

Ini sebuah kisah tentang kekalahan perempuan itu. Bukan memelihara diri dari kesukaran, malah menjadi lalang pada gandum yang ia miliki. Perempuan itu menjadi pelaku sebuah kedzoliman, untuk mati di pekuburan sepi. Melarikan diri dari kesedihan yang menjalari dengan menikmati hasrat yang berbahaya, hanya semu. Kini, terjatuh dalam lubang kekalahan yang paling menyakitkan. Tersesat di hutan sendu. Ah, perempuan itu telah mengalami kekeringan hati.

Perempuan itu bersembunyi di balik kata lugu. Saat ini, ia dilingkupi ketakutan. Ia marah, kecewa, akan apa yang telah dilakukan. Begitu bodoh. Begitu picik. Menyia-nyiakan cinta demi cinta yang penuh kedurjanaan. Perempuan itu muak pada diri sendiri. Belindung atas nama kelemahan, namun pada kenyataannya, kelemahan itu adalah alat untuk menerima tingkah laku yang menjijikkan. Dan itu dengan sadar dinikmati. Lagi, perempuan itu menciptakan kisah tentang sebuah kekalahan. Hu, ia menagisi kebodohan diri sendiri. Menjadi seseorang yang terasing dan keparat. Payah.

Selepas malam ini, perempuan itu ingin pulang dan berbalik arah dari arah yang menyesatkan. Tidak lagi mencumbui apa lagi bersekutu dengan rentetan kemalangan. Sungguh, perempuan itu telah kalah dan benar-benar ingin mengalami metamorfosis ke dalam pemulihan yang benar.

***
Lusy Mariana Pasaribu 
Rantauprapat, 18 April 2021

Sabtu, 10 April 2021

Tuduhan Terselubung, Begitu Pedih

@kulturtava
...
Ada insinuasi yang kuterima darimu. Begitu pedih. Aku tak bisa menahan diri dari kesukaran yang kau berikan. Kembali aku pada hujan deras yang paling deras. Rekam jejak yang menyakitkan perasaanku ada hari ini. Sejarah yang dahulu kembali terulang. Yang kutuai adalah semak duri.

Tuduhan terselubung/insinuasi tentang pikiranku, buatku jatuh pada dosa yang merayu. Benci, marah, kecewa, sendiri. Ah, kenapa harus aku yang berbeda. Ini sebuah kisah tentang kekalahanku. Aku tidak baik-baik saja. Bahkan untuk memahami diriku sendiri, itu tak bisa kulakukan. Terlalu sakit atas apa yang kudengar.

Sudahlah, aku yang keliru. Aku yang selalu salah. Untuk apa bertahan dalam harapan. Harapan dipahami olehmu, diriku sendiri pun tak mampu memahami diriku. Aku benar-benar ingin beranjak, menjauh sejauh-jauhnya darimu. Walau aku tahu, itu akan menyulitkan. Namun sepertinya tak ada beda, kau tetap ada atau tidak,  aku tetap terluka. Tak terlihat dan terasing.

Lagi, aku harus kalah dengan kemalangan. Dingin sudah kembali menjalari relasi antara aku dan kau. Aku lelah. Butuh menepi dan berdiam diri. Beristirahat darimu. Tak ingin mata telanjangku basah oleh genangan air, namun aku gagal untuk itu. Ada patah hati yang menduduki jiwa dan pikiranku. 

Kubiarkan hasrat yang salah bertamu di hatiku. Jatuh pada ratapan yang seharusnya tidak kurasakan. Menikmati hujan yang bukan milikku. Aku tak lagi menjadi diriku. Entah sampai berapa lama lagi, aku harus menanggung duka luka ini. Sudah lama sekali, aku terpaksa untuk terbiasa mempersiapkan diri atas trauma psikis yang mau tak mau harus kualami. Jika sekiranya kesendirian ini tak pernah ada. Jika sekiranya keberterimaan sungguh ada. 

Disabilitas ini sungguh menyulitkanku. Begitu pedih, menyesakkan. Insinuasi yang kuterima adalah rekam jejak yang menyakitkan.
Andai kau tahu. 
Sungguh aku tak pernah ingin berbeda.
Tak ingin memiliki disabilitas.
Tak ingin patah atas yang terlihat dan terdengar olehku. 
Mungkin kau tak akan pernah tahu, karena mungkin sebenarnya aku tak pernah kau anggap ada. 

***
Rantauprapat, 10 April 2021
Lusy Mariana Pasaribu