Hal-hal kecil yang dijaga untuk cinta tetap hidup ternyata juga menghianati. Tidak menjadi senyawa kimia alami yang meredakan, malah jadi boomerang. Sudah bau tanah, tapi masih menjadi sosok yang kurang perhatian, harus selalu dimengerti, bullshit.
Menuntut tanpa mau dituntut.
Kenapa repot-repot menyusahkan diri. Orang-orang itu saja tidak pernah menganggap ada dan menganggap penting. Ketika yang diharapkan menjadi tempat pulang dan menjadi senyawa kimia yang alami yang meredakan, menyatakan diri sama sekali tidak layak, anggap saja seperti angin, berhembus begitu saja, entah ke mana.
Hey perempuan, mau sampai kapan seperti itu. Minta saja kepada Tuhan supaya seseorang itu mati, dan tidak menjadi bahan kesusahan di hatimu. Begitu saja repot. Bukankah ada dan tidak ada seseorang itu, kau akan sama saja. Seharusnya kau lebih merdeka setelah seseorang itu tidak ada.
Gila bukan, ini kisah singa yang berkuasa dengan semut-semut yang selalu harus tunduk dan taat. Februari katanya bulan romantis, itu tidak berlaku untuk setiap orang barangkali. Karena Februari bisa saja sial, buktinya terjadi malam ini. Hujan sedang turun deras-derasnya ditambah umpatan, pandangan dan cara bicara yang tajam dari perempuan itu.
Senyawa kimia alami yang meredakan, itu hanya tinggal kata-kata. Bahkan air mata saja enggan jatuh malam ini. Antara rasa marah kepala puyeng, fobia masa lalu dan anomali terhadap perempuan itu.
***
Rantauprapat, 17 Februari 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar