Sabtu, 29 Oktober 2022

Khianat, Khianat

@kulturtava
...
Tidak mudah melepas kebencian, selepas khianat nyata. Cinta yang pernah berbuah, diterlantarkan dan menjadi masalah. Harapan yang disemogakan pun hancur.

Khianat, khianat. Hidup sudah rumit, semakin sulit dengan kemalangan karena khianat. Tak ada daerah bahagia hari ini, mungkin setelah matahari terbenam barangkali.

Ada hujan di halaman hati, menyesakkan. Lesap dari kesadaran diri, buat luruh dan mengeluh. Mengeluarkan kata-kata pedas, tak mampu menggugurkan helai-helai kesedihan. Gagal memerdekakan hati dan pikiran. Bagaimana nafas seolah tidak terputus, batuk terus mengganggu buat derita. Ada yang berkata, jangan terlalu banyak pikiran. Tak kunjung berhasil dilakukan.

Di sebuah pagi waktu hujan, di selasa terakhir bulan ini, ada perut yang tidak diisi karena khianat. Hidup oh hidup, selalu penuh drama. Ini tentang kesadaran ditinggalkan pergi, khianat dan khianat terjadi. Tak lagi melihat diri sendiri dengan benar, menjadi asing seasing-asingnya. 

Pagi ini seperti malam yang penuh gelisah, banyak persembunyian. Hu. Khianat, khianat buat terhenti dari kepercayaan. Di suatu hari yang entah, masih ada kah pencerahan? 
Semoga. 

***
Rantauprapat, 25 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Catatan Perempuan Itu di Sabtu yang Basah

@kulturtava
...
Ini bukan tentang apa yang perempuan itu mau, ingin menjauh dari kebisingan. Berada di entah jauh lebih baik bagi perempuan itu tapi tak kuasa atas keinginan untuk merdeka. Tak ada rumah ramah yang memberi penerimaan, hanya kepalsuan yang nyata. Pagi ini perempuan itu kembali dalam perjalanan sedih. Penolakan dan dipersalahkan.

Ia marah pada keadaan, kenapa harus disabilitas? Membiarkan kehampaan dan kegelapan meraja. Lo ruhama di mesopotamia sepi dan sunyi. Tak ada tempat yang bisa dituju, tak ada tempat untuk pulang.

Perempuan itu seperti orang asing bagi dirinya sendiri.

Hari ini, ada patah hati di penghujung minggu, ada hujan air mata. Menjadi sabtu yang basah. Sikap yang di dapat perempuan itu buat luka terdampar di hati dan pikiran. Luka hari ini begitu sulit untuk dilupakan. Anj*ng saja tahu sikap berterima kasih tapi circle perempuan itu adalah kebalikan. 

Ini tentang catatan perempuan itu di sabtu yang basah. Menjadi korban kebodohan dan khianat menjadikan diri sebagai pelaku dan terdakwa kejahatan kelas berat. Hidup ini benar-benar tidak sopan pada perempuan itu. Ya, begitulah kenyataannya bahwa perempuan itu seperti gelembung dan kupu-kupu yang sayapnya patah di sabtu yang basah hari ini.

Sakit, kecewa, perempuan itu tidak pernah punya pilihan untuk memilih. Apa lagi yang akan terjadi selepas hari ini, haruskah tetap berpura-pura kuat dan baik-baik saja? Entahlah, Sejujurnya begitu sulit untuk mengenyahkan fakta yang sebenarnya.

***
Rantauprapat, 29 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 23 Oktober 2022

Yang Hilang dalam Cinta

@kulturtava
...
Berawal dari iseng, berakhir pada kepalsuan. Bermesraan dengan kata-kata manis yang sebenarnya tidak. 

Ketidakjujuran, hasrat yang menggoda. Ada gunung es kekerasan terhadap relasi, pagi ada di mana, malam ada di mana. Hati di mana, pikiran di mana, ada di entah tak pernah satu frekuensi. 

Entah sengaja atau tidak, membiarkan diri jatuh dan merayu. Yang hilang dalam cinta, membiarkan kepedihan berkuasa meraja. Kepedihan yang disengaja.

Mengabaikan nada-nada teguran yang bersenandung di hati dan pikiran. Tak mampu bertahan pada satu cinta, memberi ruang pada cinta yang lain.

Yang hilang dalam cinta, mencintai seseorang yang sudah tahu kesalahan,  berakhir tanpa pemenang. Kesia-siaan. 
Pada akhirnya, ada orang asing yang tahu kebusukan yang terjadi.

***
Rantauprapat, 23 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Ini Bukan tentang Apa yang Perempuan Itu Mau

SHUTTERSTOCK
...
Payah, perempuan itu tidak menjaga ketenangan. Tidak berhasil mengatasi overthingking, malah cemas berlebihan. Makin terbenam dalam kekalahan. Menuntut penerimaan tapi tidak pula memberi, mau dimanusiakan tapi tidak sebaliknya.

Selalu optimis melihat selumbar di mata orang yang tidak tepat di hati, mengabaikan balok di mata perempuan itu sendiri. Kata-kata yang tidak berenergi merajai, seolah hanya tersakiti. Masih belum berhenti bermain-main dengan waktu yang senggang. 

Ini bukan tentang apa yang perempuan itu mau, bukankah tidak ada hidup yang selalu baik-baik saja. Banyak persembunyian, ketidakhati-hatian bahkan ketidakadilan. 

Perempuan itu harus memilih, bagaimana cara untuk mengelola dan menyelamatkan diri sendiri. Jika selalu jatuh pada godaan dosa yang merayu lagi menarik, akan mematikan kehidupan perempuan itu. Perlu membumikan diri dengan kenyataan hidup. Tak semua hal yang perempuan itu mau, harapkan, dan butuhkan harus dan benar-benar menjadi dalam hidup. 

Hidup ini bukan tentang apa yang perempuan itu mau,. Mau tak mau , harud dan harus belajar menghapus buterfly effect "berbeda" dan selalu dimengerti. Perempuan itu tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa hidup penuh teka-teki dan bukan stand up comedy apa lagi candaan belaka. 

Tak boleh mati dan lesap bersama kecemasan yang berlebih. 

***
Rantauprapat, 20 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Selasa, 18 Oktober 2022

Lingkaran Kelam Bidadari Tanpa Sayap

@kulturtava
...
Tadinya kamu dijadikan bidadari tanpa sayap, memberikan ruang yang layak huni, penuh tawa dan tenang teduh. Pernah lama terharu akan kebaikan hati itu. Kini, bidadari tanpa sayap seperti kamu benar-benar berlayar pada kata entah. Mengecewakan.

Ternyata seperti ini yang menjadi realita. Ya, kamu adalah lingkaran kelam bidadari tanpa sayap. Memberi ekspektasi namun kini hadir dalam berbagai-bagai huruf-huruf mati hingga menghancurkan. Tak ada lagi kata-kata positif nan berenergi yang hadir. 

Kamu bidadari tanpa sayap seperti kacang yang lupa pada kulitnya, kini kamu lebih dominan untuk menjadi penghancur, pembunuhan karakter. Mengerikan. Tak ada lagi kontribusi baik yang dapat terbangun. Buat jiwa tak sehat dan tak tenang. Boom, kamu ledakan besar yang membawa luka. Sikap dan ucap yang bodo amat membuktikan bahwa kamu itu kehilangan yang tidak seharusnya disesali.

Sejak lingkaran kelam kamu sebagai bidadari tanpa sayap terbuka, lebih baik membisu dari pada bertengkar apa lagi lesap dari menjaga kesehatan perasaan. Harus berkompromi pada realita dan menerima kegagalan yang telah menjadikan kamu seorang bidadari tanpa sayap.

Terhadap hal-hal yang didengar dan dirasa dari kamu, belajar juga tak menjadi pembenci, walau demikian menyulitkan bukan berarti tidak bisa. Tak mau membasahi diri dalam budak nafsu amarah. Masih ada harapan baik yang harus dipelihara dan tidak boleh tersesat bersama lingkaran kelam bidadari tanpa sayap yang pernah dibiarkan menguasai hati dan pikiran.

***
Rantauprapat, 13-17 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Senin, 10 Oktober 2022

Suatu Pagi di Oktober yang Basah

@kulturtava
..
Suatu Pagi di Oktober yang Basah

Ada kesadaran yang bertamu di kepala, suatu pagi di oktober yang basah. Bukannya harus mampu memiliki pegangan hidup, bukan malah menjadi malang yang malang. Masih ada support system, Sang Maha masih percayakan sandaran yang tidak akan membiarkan goyah dan jatuh.

Pagi yang dingin hari yang di bulan kesepuluh, tidak mau membiarkan diri gagal terhadap dosa yang merayu. Keterbatasan, ketidakmampuan tidak lantas buat ketidakhati-hatian merajai. Untuk apa menuai bencana karena bermain kata-kata dan huruf-huruf mati.

Pernah lama alami gangguan kesehatan jiwa, dan parahnya hal itu terjadi atas nama cinta. Dalam diam dan persembunyian, membiarkan gaya hidup bebas. Menjadi pelaku kejahatan kelas berat, dengan dalih tidak pernah memiliki pendengar yang baik, sebenarnya itu dari ego yang melekat.

Bukankah hidup tidak melulu tentang senyuman, terkadang ada juga tangis. Tidak ada faedah dari memilih hati yang jahat. Bak limbah kehidupan, ada yang harus disingkirkan. Walau sulit, belajar menjadi diri yang menghidupi hidup dengan segala sesuatunya sesuai kadar. Memiliki rasa cukup. 

Ya, suatu pagi di oktober yang basah. Bersyukur masih diselamatkan dari hati dan pikiran yang tidak seharusnya. Ada distraksi yang menghampiri, ada prosa yang menulis bahagia dan rasa harap. Ciptakan nostalgia dan rekam jejak yang beraura positif untuk kesehatan jiwa.

Percaya, tak ada yang benar-benar tahu kehidupan. Pastikan saja diri mau belajar dan bersedia untuk memberi penerimaan terhadap hal-hal yang akan terjadi dan menjadi. Sebab, apa yang menjadi artikel pilihan dan artikel utama di ragamnya bunga kehidupan, diri sendiri yang menentukan. Berusahalah tegar dan tegap. 

***
Rantauprapat, 11 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Sabtu, 08 Oktober 2022

Menulis Kamu

@kulturtava
...
Kamu perempuan dewasa yang selalu ingin dimengerti, ingin didengar, tak pernah mau disalahkan. Kisah yang dahulu suram terjadi lagi atas ucapmu. Demi dia, kamu memberikan luka yang teramat hari ini. Menciptakan patah hati yang sulit dipulihkan. Dia yang barangkali bukan membuat kamu ada di hati.

Daun-daun berserakan buat layu. Hancur seketika. Lelah, ini kisah dan cerita yang sudah berpuluh tahun terjadi. Ada hujan deras yang kamu hadirkan. Memicu krisis damai sejahtera juga kemerosotan tenang teduh. Hari ini, dia dan kamu adalah kebencian yang tidak seharusnya bertahan di segala sesuatu yang ada. Karena itu menyusahkan. Petaka sudah terjadi.

Kemungkinan besar, hingga nafas tak tersisa, kamu akan menjadi apa yang dia mau. Ada neraka yang paling paripurna,  melululantakkan perasaan bahkan kedamaian kamu renggut. Kamu tidak pernah berhasil menjadi ratu keadilan, selalu berpihak pada dia. Entah bagaimana melewati badai hari ini, ke mana arah hidup menjadi? 

Hari kesembilan bulan kesepuluh, rawan bencana, harus waspada lebih. Sudah banyak prosa patah hati yang menulis kamu. Jejak sejarah yang pernah menghancurkan tak boleh, benar-benar tak boleh menguasai hati dan pikiran. Jujur, tak akan ada dimensi cinta hari ini. Hanya berharap mampu melewati deru prahara hari ini sebelum matahari terbenam. Tak ingin mendung di awal Oktober menjadi Oktober yang berakhir basah. 

Hingga mampu berpamitan dan mengucapkan selamat tinggal pada kemalangan ketika hari berganti. Di saat yang entah kapan, semoga ada keajaiban, ada prosa bahagia yang menulis kamu. 

***
Rantauprapat, 09 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Minggu, 02 Oktober 2022

Basah oleh Hujan dan Perempuan Itu

@kulturtava
...
Di bawah guyuran shower kamar mandi, perempuan itu merdeka menjadi diri sendiri. Hari ini tanpa menabur ia menuai bencana. Good bye tenang teduh.  Lebih condong pada hal yang bukan bagian utama, perempuan itu yang menanggung resiko.

Basah oleh hujan, hujan air mata. Ada sang perusak menghampiri. Ia tak bebas dari jeratan tebang pilih, tak menikmati damai sejahtera. Duka di tiga puluh empat tahun, masih terus belajar untuk pembiasaan terhadap penerimaan.

Letak bahagia perempuan itu di mana? Huft, ia harusnya bisa menafsirkan sendiri. Tak ada guna dari menciptakan tragedi untuk diri sendiri, ibarat prosa patah hati yang panjang kali lebar tapi hanya diabaikan karena tak pernah terbaca. 

Namun, begitulah perempuan itu hari ini. Gagal bertumbuh, dan akhirnya dikendalikan amarah. Dan perempuan itu pun berdarah, menyakiti diri sendiri. Mungkin bila nanti, patah hati dapat terkontrol ia akan kembali menjadi perempuan yang mampu menghidupi hidup dengan segala sesuatunya.
Entah kehadiran perempuan itu pernah dianggap sebagai hadiah atau tidak. Hanya ia yang berbeda, banyak air mata, banyak persembunyian bahkan penolakan.

Siapa yang harus disalahkan? 

Tak pernah ada yang benar-benar memahami, yang memberi hati untuk menerima keberadaan diri yang berbeda dan penuh disabilitas. 

Basah oleh hujan dan perempuan itu. Kisah hari ini. Ia bukan pemberi maaf yang baik tapi yang sebenarnya  ia pun tidak akan pernah menerima maaf atas keberadaan yang terjadi.

Well, perempuan itu hari ini adalah huruf-huruf mati yang terbuang. Seperti puing-puing yang usang, diri tanpa hati dan kepala.

***
Rantauprapat, 02 Oktober 2022
Lusy Mariana Pasaribu